Tuesday, April 22, 2014

Integritas BCA Diragukan Investor

Penetapan status tersangka terhadap Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo dalam kaitan dengan pembayaran pajak PT Bank Central Asia Tbk memberi dampak buruk kepada saham emiten tersebut. Dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia kemarin, nilai saham emiten berkode BBCA itu turun 125 poin (1,12 persen) menjadi Rp 11.050 per lembar.

Penurunan tersebut bertolak belakang dengan kenaikan harga saham emiten bank berkapitalisasi besar, seperti PT Bank BRI Tbk yang naik 150 poin (1,49 persen) menjadi Rp 10.200 dan PT Bank Mandiri Tbk yang naik 25 poin (0,25 persen) menjadi Rp 9.850. Saham BCA yang berpindah tangan sebanyak 226.074 lot atau jauh di atas rata-rata tiga bulan sebanyak 168.966 lot.

Analis dari PT Recapital Securities, Agustini Hamid, memperkirakan, terungkapnya kasus pajak BCA bakal menggerus kepercayaan pelaku pasar atas emiten bank. Jadi, tak mengherankan jika pelaku pasar mengurangi kepemilikan saham pada bank itu. “Publik mulai mencemaskan integritas dan manajemen risiko yang dimiliki BCA,” ujarnya, Selasa, 22 April 2014.

Dia mengimbuhkan, sebelum muncul kejelasan informasi kepada publik, saham BCA diperkirakan masih akan terus melanjutkan koreksi. Persepsi yang sedang memburuk menjadi faktor utama yang membuat pelaku pasar meninggalkan sementara BCA. “Fraudadalah hal yang tak bisa ditoleransi investor saham,” kata Agustini.

Meski demikian, Agustini mengatakan, kasus ini bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi harga saham BCA. Menurut dia, kecemasan terhadap rilis kinerja kuartal pertama 2014 membuat sektor saham perbankan kurang diminati dalam jangka pendek. Ancaman perlambatan pertumbuhan kinerja perbankan membuat prospek emiten perbankan tahun ini rendah.

Analis dari BNI Securities, Thendra Chrisnanda, juga memandang efek negatif penangkapan Hadi Poernomo terhadap harga saham BCA hanya sementara. Alasannya, saham-saham perbankan, termasuk BCA, selalu menjadi primadona pelaku pasar. “Likuiditas dan kapitalisasi pasar yang besar membuat sektor saham perbankan selalu menarik,” kata dia.

Airport Tax Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta Naik

PT Angkasa Pura II berancang-ancang menaikkan airport tax atau passenger service charge (PSC). Kenaikan hanya berlaku untuk penumpang di terminal tigaBandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. "Airport taxBandara Soekarno-Hatta untuk terminal tiga kami usulkan naik setelah pembangunannya selesai," kata Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri S. Sunoko di Bandara Sultan Thaha, Jambi, Selasa, 22 April 2014.

Saat ini, perluasan terminal tiga Bandara Soekarno-Hatta telah mencapai 25 persen. Proyek ini ditargetkan rampung pada pertengahan tahun depan.

AP II memang berencana menaikkan biaya servis penumpang untuk tiap bandara yang telah diperbaikinya. "Setelah pelayanan ditingkatkan, kami mengusulkan kenaikannya. Jadicost against revenue."

Selain mengusulkan kenaikan pajak bandara di terminal tiga Soekarno-Hatta, Tri menyatakan, AP II juga berencana menaikkan biaya servis Bandara Sultan Thaha, Jambi. Sebab, pembangunan terminal baru bandara itu yang menghabiskan dana Rp 400 miliar akan diresmikan pada 1 November 2014, dan mulai beroperasi pada awal 2015.

Tri menyebutkan saat ini biaya servis penumpang di Bandara Sultan Thaha adalah Rp 25 ribu. Rencananya, kenaikan akan diusulkan hingga menjadi Rp 60 ribu. Selain itu, AP II kini juga telah mengajukan proposal kenaikan biaya servis penumpang bandara di Kuala Namu (Deli Serdang), Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru), dan Raja Haji Fisabilillah (Tanjung Pinang).

Di Kuala Namu, biaya servis penumpang diusulkan naik dari Rp 35 ribu menjadi Rp 75 ribu secara bertahap. Sedangkan di Bandara Sultan Syarif Kasim II dan Raja Haji Fisabilillah akan dinaikkan dari Rp 30 ribu dan Rp 20 ribu menjadi Rp 60 ribu.

Harga Saham Bank BCA Anjlok Karena Kasus Korupsi Mantan Dirjen Pajak Hadi Purnomo

Harga saham Bank Central Asia (BBCA) turun 150 poin (1,3 persen) dalam penutupan sesi pertama perdagangan di Bursa Efek Indonesia hari ini, Selasa, 22 April 2014.

Harga saham BCA tercatat diperdagangkan pada level Rp 11.025 per lembar saham. Saham BCA bahkan menempati urutan keempat saham emiten yang paling banyak dijual oleh investor asing, dengan nilai transaksi sebesar Rp 36 miliar.

Analis PT BNI Securities, Thendra Chrisnanda, membenarkan bahwa penangkapan Hadi Poernomo dalam soal kasus keberatan pajak BCA berdampak negatif bagi saham bank ini. Kasus yang dinilai dapat merusak integritas bisnis perbankan tersebut kemudian mengurangi kepercayaan pelaku pasar atas kinerja BCA. “Memang ada pengaruh dari kasus penangkapan Hadi Poernomo,” katanya.

Namun demikian, Thendra yakin sentimen ini hanya bersifat jangka pendek. Pasalnya, saham-saham sektor perbankan memang selalu menjadi sektor saham yang banyak diminati pelaku pasar. “Likuiditas dan kapitalisasinya yang besar membuat sektor perbankan selalu menarik.”

Ketika harga saham BCA turun, harga saham Bank Mandiri juga terkoreksi 75 poin (0,8 persen) menjadi Rp 9.750 per lembar saham. Saham BTN juga susut 15 poin (1,1 persen) ke level Rp 1.305 per lembar saham. Hanya saham Bank Rakyat Indonesia yang stabil bertahan pada level Rp 10.050 per lembar saham.

Menurut Thendra, dinamika pergerakan saham perbankan memang terpengaruh perkiraan melambatnya kinerja perbankan pada kuartal pertama 2014. Pergerakan suku bunga agresif yang mencapai level 7,5 persen juga diyakini menekan kinerja laba sektor perbankan. “Secara umum, saham sektor perbankan memang terpengaruh outlook negatif pertumbuhan pada tahun ini,” katanya.

PT XL Axiata Tbk Bagi Bagi Deviden Senilai 1,03 Triliun

Perusahaan PT XL Axiata Tbk, hari ini menyetujui untuk membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya sebesar Rp 1,03 triliun. Jumlah itu setara 30 persen dari laba bersih tahun buku 2013.

Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi, mengatakan, pembagian dividen disesuaikan dengan jadwal yang sudah ditetapkan. "Nilainya setara dengan Rp 64 per saham. Adapun sisanya masuk sebagai laba ditahan dan cadangan perusahaan," katanya, usai Rapat Umum Pemegang Saham di Hotel Manhattan, Jakarta, Selasa, 22 April 2014.

Selain menyepakati pembagian dividen, dalam RUPS tersebut para pemegang saham juga menyetujui pergantian susunan direksi dan komisaris, di antaranya menerima pengunduran diri Joy Wahyudi dan Nicanor Santiago selaku anggota direksi perseroan. Pengunduran diri juga dilakukan oleh James Carl Grinwis Maclaurin dari jabatannya sebagai anggota dewan komisaris.

Rapat pun kemudian menunjuk Chari TVT sebagai anggota dewan komisaris serta Pradeep Srivastava anggota direksi. Selain itu, Ongki Kurniawan ditetapkan sebagai Direktur Independen.

Ditemui di tempat yang sama, Chief Financial Officer XL, Mohammed Adlan mengatakan, perseroan akan meminjam dana sekitar Rp 1,7 triliun pada semester kedua tahun ini. Dana itu rencananya akan digunakan untuk melakukan pembiayaan kembali atau refinancing sebesar US$ 500 juta kepada induk usaha mereka yaitu Axiata Grup Berhad.

Dana US$ 500 juta dengan tenor tiga tahun tersebut digunakan untuk menambah biayaakusisi terhadap 95 persen saham Axis yang bernilai US$ 865 juta. "Untuk refinancing ini kami masih melakukan penjajakan dengan beberapa bank," kata Adlan.

Pengusaha Properti Tolak Akuisisi BTN Oleh Bank Mandiri

Pengusaha perumahan di Jawa Barat resah atas rencana pemerintah mengakuisi PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk oleh PT Bank Mandiri Tbk. Mereka juga menolak rencana pemerintah untuk menggabungkan kedua bank pelat merah tersebut.

"Kami para pengusaha yang akan kena dampaknya," kata Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha, Asosiasi Pengembang Perumahan Seluruh Indonesia (Apersi) Jawa Barat, Yusuf Supriadi, di Garut, Selasa, 22 April 2014.

Menurut dia, akuisi itu akan berdampak terhadap menurunnya penjualan perumahan murah. Alasannya, Bank Mandiri belum memiliki pengalaman dalam mengelola program rumah murah dari Kementerian Perumahan Rakyat. Karena itu, kebutuhan rumah murah masih dikelola oleh BTN.

Selain itu, bila BTN menjadi anak usaha Bank Mandiri, fungsi-fungsi sosial BTN dalam pengadaan rumah dengan bunga kredit terjangkau akan terdegradasi. Sebab, acuannya akan disesuaikan dengan target komersial perusahaan yang baru.

Tak hanya itu, segmen pasar kedua bank ini juga cukup berbeda. BTN merupakan bank retail dan fokus terhadap pembiayaan rumah untuk rakyat, sedangkan Bank Mandiri melayani kebutuhan korporat. "Bila kebijakan ini dilakukan, sistem perumahan murah akan berubah karena portofolionya akan mengikuti Mandiri," ujar Yusuf.

Menurut dia, pengusaha dan masyarakat sudah merasa nyaman dalam pengajuan kredit rumah. Begitu juga dalam proses pencairan dana cukup mudah dan tidak berbelit-belit. Dia mencontohkan proses pengajuan rumah bersubsidi di BTN hanya memerlukan waktu selama satu pekan. "Kalau dengan Mandiri bisa lebih dari satu minggu. Apalagi mereka hanya main di perumahan komersil," ujarnya.

Kronologi Kasus Korupsi Permohonan Keberatan Pajak Menurut Bank BCA Yang Melibatkan Hadi Purnomo

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan mantan Dirjen Pajak Hadi Poernomo sebagai tersangka kasus korupsi permohonan keberatan pajak PT Bank Central Asia Tbk (BCA). BCA langsung bereaksi dengan mengadakan konferensi pers terkait dugaan kasus permohonan keberatan pajak. Bank yang mayoritas sahamnya dimiliki Grup Djarum ini pun menegaskan telah mengikuti prosedur pajak sebagaimana mestinya. Berikut kronologi perpajakan BCA tahun fiskal 1999 yang dipaparkan perseroan.

Pada tahun 1998, BCA mengalami kerugian fiskal sebesar Rp 29,2 triliun yang merupakan akibat dari krisis ekonomi yang melanda Tanah Air. Berdasarkan undang-undang yang berlaku, kerugian tersebut dapat dikompensasikan dengan penghasilan alias tax loss carry forward mulai tahun pajak berikutnya hingga 5 tahun.

"Selanjutnya, sejak tahun 1999, BCA sudah mulai membukukan laba, di mana laba fiskal tahun 1999 tercatat sebagai Rp 174 miliar," kata Sekretaris Perusahaan BCA Inge Setiawati di Menara BCA, Selasa (22/4/2014).

Selanjutnya, berdasarkan pemeriksaan pajak tahun 2002, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak telah melakukan koreksi laba fiskal periode 1999 tersebut menjadi sebesar Rp 6,78 triliun. Di dalam nilai itu, ada koreksi terkait transaksi pengalihan aset, termasuk jaminan Rp 5,77 triliun yang dilakukan dengan proses jual beli dengan BPPN sesuai Perjanjian Jual Beli dan Penyerahan Piutang No SP-165/BPPN/0600.

"Hal ini dilakukan sejalan dengan instruksi Menteri Keuangan No 117/KMK.017/1999 dan Gubernur Bank Indonesia No 31/15/KEP/GBI tanggal 26 Maret 1998," ujar Inge. Transaksi pengalihan aset itu merupakan jual beli piutang, tetapi Ditjen Pajak menilai transaksi itu sebagai penghapusan piutang macet. Sehubungan dengan hal itu, tanggal 17 Juni 2003, BCA mengajukan keberatan kepada Ditjen Pajak atas koreksi pajak yang telah dilakukan.

Keberatan itu dinyatakan dalam SK No KEP-870/PJ.44/2004 tanggal 18 Juni 2004.

"Pada saat berakhirnya masa kompensasi kerugian pajak tahun 1998, masih terdapat sisa kompensasi yang belum digunakan sebesar Rp 7,81 triliun. Dengan demikian, seandainya keberatan BCA atas koreksi pajak senilai Rp 5,77 triliun tidak diterima Ditjen Pajak, masih terdapat sisa tax loss carry forward yang dapat dikompensasikan sebesar Rp 2,04 triliun. Sisa tax loss carry forward tersebut tidak bisa dipakai lagi atau hangus setelah tahun 2003," papar Inge.

Dengan demikian, Inge menegaskan, perseroan tidak melanggar undang-undang maupun peraturan perpajakan yang berlaku. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan akan menggeledah kantor pusat PT Bank Central Asia Tbk (BCA) untuk keperluan penyidikan. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengaku tidak keberatan dengan langkah KPK tersebut.

"Kami menghormati proses hukum di Indonesia. KPK punya wewenang mengumpulkan data. Kami tidak layak memberikan opini," kata Jahja di kantornya, Selasa (22/4/2014). Lebih lanjut, Jahja menegaskan BCA sebagai wajib pajak telah memenuhi kewajiban dan menjalankan hak melalui prosedur dan sesuai aturan.

"Kami memenuhi kewajiban dan menjalankan hak melalui prosedur dan tata cara pajak yang benar sesuai aturan perpajakan yang berlaku. BCA tidak melanggar undang-undang maupun aturan perpajakan," tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, KPK akan memeriksa saksi-saksi dari PT Bank Central Asia (BCA). Keterangan pihak BCA diperlukan untuk melengkapi berkas penyidikan kasus dugaan korupsi keberatan pajak BCA yang menjerat Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Hadi Poernomo saat menjabat Direktur Jenderal Pajak.

"BCA itu pasti akan kita periksa," kata Busyro di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta. Namun, Busyro belum dapat memastikan nama-nama dari BCA yang akan diperiksa sebagai saksi. Menanggapi hal itu, Jahja mengaku siap jika harus diperiksa KPK untuk keperluan penyidikan sebagai saksi. "Kalau memang harus dipanggil dan diperiksa ya kita siap," ujarnya.

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Fuad Rachmany, mengatakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah memantau kasus pemberian keringanan bagi PT Bank Central Asia (BCA) Tbk oleh Hadi Poernomo sejak lama. Menurut Fuad, KPK sejak dulu memegang semua data penyelidikannya. "Penyelidikan dilakukan KPK sudah lama, bahkan sebelum saya masuk di Direktorat," kata Fuad ketika ditemui di kantornya, Selasa, 22 April 2014.  Fuad enggan berkomentar lebih lanjut mengenai kasus tersebut. "Saya tak bisa ngomong dulu, nanti saja," kata dia.

KPK menetapkan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Hadi Poernomo sebagai tersangka berkaitan dengan jabatannya sebagai Direktur Jenderal Pajak periode 2002-2004. Hadi diduga mengubah keputusan sehingga merugikan negara Rp 375 miliar.

Hadi disangkakan dengan Pasal 2 ayat (1) dan/atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. "Perbuatan melawan hukum yang dilakukan saudara HP yaitu penyalahgunaan wewenang dalam menerima seluruh permohonan keberatan BCA," kata Ketua KPK, Abraham Samad, kemarin.

Fuad mengatakan kasus ini tak akan mempengaruhi kinerja maupun target pendapatan Direktorat Jenderal Pajak. Sebab, kata dia, kasus itu sudah lama terjadi. Dia menyerahkan sepenuhnya masalah ini kepada KPK. Presiden Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja mengklaim perusahaannya telah memenuhi kewajiban sesuai dengan prosedur dan tata cara perpajakan yang benar. "BCA tidak melanggar undang-undang," katanya dalam konferensi pers, Selasa, 22 April 2014.

Ia mengungkapkan, BCA melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) pada 2000. Namun jika dilihat pada kasus tahun 1999, terdapat perbedaan pendapat antara Direktorat Jenderal Pajak dan BCA. Dan, menurut dia, BCA melaksanakan instruksi Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia ketika itu. "Saat itu, 92,8 persen saham BCA dimiliki pemerintah," ucap Jahja.

Berikut ini kronologi perpajakan untuk tahun fiskal 1999 menurut BCA.

1. Pada 1999, BCA mengalami kerugian fiskal Rp 29,2 triliun akibat krisis ekonomi di Indonesia. Berdasarkan undang-undang, BCA mengklaim kerugian itu dikompensasikan dengan penghasilan atau tax loss carry forward mulai tahun pajak berikutnya sampai lima tahun. Selanjutnya, sejak 1999 BCA mulai membukukan keuntungan dengan laba fiskal tahun 1999 sebesar Rp 174 miliar.

2. Berdasarkan pemeriksaan pajak pada 2002, Direktorat Jenderal Pajak sudah melakukan koreksi laba fiskal periode 1999 menjadi Rp 6,78 triliun. Di dalamnya ada koreksi transaksi pengalihan aset, termasuk jaminan sebesar Rp 5,77 triliun. Koreksi itu dilakukan melalui proses jual-beli dengan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan tercantum dalam Perjanjian Jual Beli serta Penyerahan Piutang Nomor SP-165/BPPN/0600.

Menurut BCA, langkah ini sejalan dengan Instruksi Menteri Keuangan Nomor 117/KMK.017/1999 dan Gubernur Bank Indonesia Nomor 31/15/KEP/GBI tanggal 26 Maret 1999.

3. Transaksi pengalihan aset merupakan jual-beli piutang. Namun, menurut BCA, Direktorat Jenderal Pajak menganggap transaksi ini sebagai penghapusan piutang macet. Pada 17 Juni 2003, BCA mengajukan keberatan kepada Direktorat Jenderal Pajak atas koreksi pajak yang telah dilakukan. Keberatan oleh BCA ini diterima Direktorat Jenderal Pajak dan dimuat dalam SK Nomor KEP-870/PJ.44/2004 tanggal 18 Juni 2004.

Jahja menjelaskan, masih terdapat sisa kompensasi yang belum digunakan senilai Rp 7,81 triliun saat masa kompensasi kerugian pajak tahun 1998 berakhir. Dengan demikian, ia melanjutkan, seandainya keberatan BCA terhadap koreksi pajak senilai Rp 5,77 triliun tidak diterima Direktorat Jenderal Pajak, masih terdapat sisa tax loss carry forward yang bisa dikompensasikan senilai Rp 2,04 triliun.

"Sisa tax loss carry forward tersebut tidak bisa dipakai lagi atau hangus setelah 2003," ujar Jahja.

Sunday, April 20, 2014

10 Produk Keuangan dan Investasi Terpenting

Cermat mengelola keuangan bukan cuma dengan menabung atau hemat dalam berbelanja. Ada hal lain yang perlu diperhatikan, yakni memanfaatkan produk jasa keuangan yang penting untuk melindungi Anda dan keluarga.

Di tengah musibah atau kondisi ekonomi yang serba susah, banyak layanan keuangan yang bisa dimanfaatkan. Sayang, di Indonesia, produk semacam ini belum bisa menembus semua kalangan, terutama masyarakat kelas menengah ke bawah. Ada kemungkinan hal ini disebabkan kurangnya edukasi mengenai jasa keuangan yang penting untuk kehidupan.

Menurut situs Money Talks News, ada 10 produk keuangan yang sangat penting dan bisa melindungi kehidupan Anda. Anda disarankan untuk memiliki satu di antaranya.

1. Akun bank
Layanan yang paling mendasar adalah akun terpusat yang mengatur dan memonitor kondisi keuangan Anda. Kartu prabayar mungkin sedang ngetren, tetapi Anda akan dikenai biaya bunga yang tinggi. Dengan memiliki akun bank, transaksi lebih mudah, uang lebih aman dan terjamin serta Anda bisa mendapatkan layanan lain seperti kredit atau berbagai bonus.

2. Kartu debit
Setelah punya akun bank, Anda perlu punya kartu debit. Di Indonesia, saat ini kartu anjungan tunai mandiri (ATM) sudah bisa dijadikan kartu debit untuk berbelanja di mana saja. Lebih baik jika kartu debit Anda juga bisa berfungsi sebagai kartu kredit, agar bisa memiliki dana sewaktu-waktu saat rekening menipis.

3. Akun bank cadangan/ tabungan darurat
Akun ini berfungsi sebagai penampungan dana darurat, semacam asuransi pribadi. Isi secara rutin dengan selisih dana sisa belanja. Lebih baik jika Anda punya target berapa dana yang harus ditabung setiap bulan. Menurut situs Money Talks News, ada 10 produk keuangan yang sangat penting dan bisa melindungi kehidupan Anda. Anda disarankan untuk memiliki satu di antaranya.

4. Asuransi Kesehatan
Anda mungkin berpikir bahwa sekarang masih sehat dan muda. Namun ingat, kondisi itu ak berlangsung selamanya. Toh, orang sehat dan muda pun tak terhindar dari kecelakaan atau musibah tertentu. Kecuali Anda orang kaya yang mampu membayar tagihan medis dengan mudah, tidak memiliki asuransi kesehatan adalah kebodohan.

5. Asuransi rumah
Jika rumah terbakar, maukah Anda tinggal di jalanan? Itu yang akan terjadi pada orang yang tidak mengasuransikan properti mereka. Dengan asuransi properti, Anda akan aman secara finansial meskipun rumah mengalami kerusakan. Namun, Anda juga perlu memperhatikan klausul penyedia asuransi, apakah mau membayar kerugian untuk rumah yang rusak karena banjir atau hal lain.

6. Asuransi kendaraan
Setelah rumah Anda, kendaraan adalah aset penting dalam sebuah keluarga. Jadi, asuransi untuk kendaraan tak kalah penting untuk dimiliki.

7. Asuransi kecacatan
Asuransi kecacatan akan menyediakan kebutuhan dana ketika Anda tidak bisa bekerja karena keterbatasan fisik. Klausul klaimnya bisa bervariasi antara satu perusahaan asuransi dengan yang lain, namun secara umum asuransi ini akan membayar 60 persen pendapatan Anda per bulan.

8. Asuransi Jiwa
Asuransi terakhir yang perlu Anda miliki adalah asuransi jiwa. Dananya bukan untuk Anda, tetapi untuk melindungi keuangan keluarga. Kecuali Anda bisa mewariskan uang tunai dalam jumlah besar, Anda disarankan memiliki asuransi jenis ini.

9. Dana Pensiun
Saat pensiun dari pekerjaan Anda perlu menyediakan dana untuk menkmati hari tua dengan tenang. Bagaimana pun, merencanakan masa depan tak hanya merencanakan waktu gemilang, tapi juga keamanan finansial pada masa tua.

10. Tabungan sekolah Anda
Jika tak punya anak, Anda dapat mengeliminasi layanan ini. Namun jika Anda punya anak, merencanakan tabungan untuk pendidikan sangat penting karena setiap tahun biayanya terus naik.