Friday, May 29, 2015

Indonesia Importir Terbesar Sereal Dunia

Impor sereal tahun ini diperkirakan bakal naik. Gaya hidup masyarakat kota yang mengkonsumsi makanan sereal mendorong permintaan akan sereal kian tinggi. Indonesia bahkan menjadi salah satu importir terbesar di Asia Timur. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memprediksi impor sereal Indonesia dalam dua tahun mendatang bakal mencapai 11,5 juta ton atau naik 3 persen dibandingkan volume impor tahun 2014. Tingginya volume impor sereal terjadi karena dua faktor. Pertama, gaya hidup masyarakat atas konsumsi makanan sehat. Kedua, penurunan produksi beras di tanah air.

Tidak hanya impor sereal yang naik. FAO juga memprediksi impor gandum Indonesia mencapai 7,5 juta ton. Meskipun angkanya sama, namun permintaan akan gandum bukan tidak mungkin akan naik. Sementara impor jagung juga bakal mencapai 3 juta ton pipil kering pada tahun ini.

Saat ini eksportir sereal terbesar di dunia adalah Argentina, Australia, Kanada, Uni Eropa, Kazakhstan, Rusia, Ukraina dan Amerika Serikat. Konsumsi makanan sereal diperkirakan akan meningkat seiring dengan populasi dunia. FAO memprediksi konsumsi sereal per kapita mencapai 153 kg per tahun. Sedangkan gandum sekitar 67 kg per tahun. Tahun ini, produksi sereal dunia diperkirakan mencapai 25 juta ton. Sementara ketersedian sereal dunia mencapai 31 juta ton.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Winny Dian Wibawa mengakui bahwa saat ini petani belum banyak yang memproduksi gandum. Sehingga sereal belum bisa diproduksi dalam negeri. "Mindset masyarakat Indonesia masih terpaku pada konsumsi beras. Kami juga kesulitan untuk mendorong petani memproduksi gandum. Kalaupun diproduksi oleh petani biasanya untuk konsumsi sehari-hari," kata Winny. Besarnya impor gandum yang dilakukan Indonesia membuat Australia sebagai pemasok utama permintaan gandum nasional "ketar-ketir". Pasalnya, hal itu membuat cadangan gandum yang dimiliki negeri Kanguru ini menipis.

Industri makanan Indonesia tercatat mengimpor 70.000 ton gandum Australia ton untuk pengiriman Agustus. Pabrik-pabrik terigu Indonesia membeli gandum Australian Standard White sekitar 350 dollar AS atau Rp 3,4 juta per ton, termasuk pengiriman (cost and freight/ C&F). Sementara itu, gandum jenis Australian Premium White diimpor seharga 354 dollar AS atau sekitar Rp 3,5 juta per ton C&F.

Namun pada saat yang bersamaan, stok gandum Australia mulai menipis. Sebagaimana dikutip dari laporan Wall Street Journal, Selasa (18/6/2013), pelemahan ini turut diakibatkan penurunan produksi dibarengi penguatan ekspor dan pertambahan permintaan domestik. Harga gandum akhirnya naik sebesar lebih dari 50 dollar AS atau sekitar Rp 494 ribu per ton di beberapa kawasan Australia dalam dua bulan terakhir. Padahal, gandum yang kini ditanam baru bisa mulai dipanen pada Oktober.

Diperkirakan, sebagian besar wilayah Australia akan kekurangan gandum pada Agustus. Stok gandum negara itu hanya akan mencapai dua juta hingga tiga juta ton pada musim panen Oktober. Sejauh ini, Indonesia menjadi salah satu importir gandum terbesar Australia. Dua pertiga pasokan gandum Indonesia berasal dari Australia. Sementara itu, Amerika Serikat memasok sekitar 10% dari total kebutuhan impor gandum Indonesia.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan Jumat lalu menyatakan pemerintah akan memantau sekaligus menguji coba pengiriman gandum Amerika. Pemerintah juga bakal melarang impor, bila ditemukan rekayasa genetika.

Harga Shell Super Beroktan 92 Naik Ikuti Kenaikan Harga Minyak Dunia

Dua hari lalu harga bahan bakar minyak dengan kandungan oktan 92 milik Shell, yakni Super, sudah naik menjadi Rp 9.100 per liter, dari harga sebelumnya Rp 8.950 per liter. Lantas, kapan harga Pertamax -BBM Pertamina dengan kandungan oktan sama- dinaikkan? "Kita berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama kita bisa melakukan penyesuaian," kata VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Wianda Pusponegoro, Jakarta, Jumat (29/5/2015).

Wianda menyebut, penyesuaian harga Pertamax dilakukan karena produk ini mengacu pada Harga Indeks Pasar, kendati harga minyak dunia hanya merambat naik tak signifikan. Selain karena mengikuti Harga Indeks Pasar, tekanan nilai tukar mata uang juga menjadi salah satu pertimbangan. "Harga minyak naik tapi merambat, jadi memang tidak signifikan. Tapi ini kan produk, ada harga indeks pasar yang diacu," ucap Wianda.

Wianda mengaku, tadinya Pertamina berencana mengajukan kenaikan harga BBM non-subsidi ini pekan lalu, namun urung. "Intinya kita sudah berkomunikasi. Tapi tanggal pastinya nanti kita masukkan ke website," imbuh Wianda. Kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax diakui Wianda tidak memerlukan konsultasi ke parlemen. "Bahkan mereka malah sempat bertanya kenapa waktu itu sempat harus ditunda penyesuaian. Karena (parlemen) sudah sangat paham bahwa non-subsidi adalah domainnya Pertamina," jelas Wianda.

Perusahaan minyak bumi asal Belanda, Shell, mengumumkan sudah mencapai kata sepakat untuk membeli perusahaan eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) BG Group. Menurut warta laman Bloomberg.com, Shell mesti merogoh kocek hingga 47 miliar poundsterling atau setara dengan 70 miliar dollar AS.

Secara rinci, para pemegang saham BG akan menerima 3,84 poundsterling per lembar saham tunai. Jumlah itu masih ditambah dengan 0,4454 saham Shell B yang setara dengan 13,5 poundsterling saham BG berdasarkan 90 hari volume perdagangan sham pada 7 April 2015. Kombinasi tersebut bakal membuat para pemegang saham BG punya 19 persen saham di kombinasi grup.

Menurut bos Shell, Jorma Ollila, pembelian ini bakal membuat perusahaannya makin kompetitif di bisnis migas. Sementara, CEO BG Helge Lund mengatakan kombinasi dua perusahaan itu bakal membuat kemajuan di bidang eksplorasi migas, proses pencairan gas berikut pengapalannya. BG Group adalah perusahaan migas ketiga terbesar di Inggris. Perusahaan itu berdiri sejak 1997. Perusahaan itu merupakan satu dari dua pemecahan British Gas. Satu perusahaan pecahan lagi adalah Centrica.

Dengan pemecahan itu, BG Group berkonsentrasi pada eksplorasi dan produksi migas. Sementara, Centrica berfokus pada bisnis ritel migas. Saat ini, BG Group mempekerjakan 5.200 karyawan di 24 negara dan wilayah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil menyambut positif rencana PT Pertamina (Persero) untuk merilis produk bahan bakar minyak (BBM) baru, pertalite, yang rencananya akan dipasarkan mulai Mei 2015 mendatang.

"Pertalite itu bahan bakar yang diperkenalkan Pertamina untuk menjadi saingan pertamax, atau saingan Super produksi Shell sehingga masyarakat boleh memilih," kata Sofyan ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (17/4/2015). Sofyan mengatakan, jika kandungan oktan produk baru itu lebih tinggi dari premium atau RON 88, artinya bahan bakar tersebut memiliki kemampuan pembakaran lebih baik sehingga lebih hemat energi. "Kalau hemat energi, itu bagus buat lingkungan," kata Sofyan.

Sebelumnya, Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, Pertamina akan meluncurkan bahan bakar bensin jenis baru dengan kisaran angka oktan antara 88 dan 92 pada bulan depan. "Kami akan mengeluarkan produk bensin baru dengan RON 90 pada bulan depan di Jakarta, Surabaya, Semarang, dan kota besar lainnya di Jawa," kata dia di Jakarta, Kamis (16/4/2015).

Ia mengatakan, bensin jenis baru dengan nama pertalite itu merupakan produk transisi sebelum penghapusan premium berangka oktan 88. "Harganya tentu akan lebih mahal ketimbang premium," kata dia. Bambang belum mau membocorkan harga ataupun nama bensin produk baru tersebut. Namun, harganya kemungkinan berkisar antara premium di Rp 7.400 per liter hingga pertamax yang berharga Rp 8.600 per liter.

Jika benar harganya antara Rp 7.400 dan Rp 8.600 per liter, pertalite tentu lebih kompetitif dari Super. Untuk diketahui, harga bensin Super yang dijual Shell dibanderol Rp 8.700 per liter.

Thursday, May 28, 2015

Tas dan Produk Elektronik Dicoret dari Daftar Pajak Barang Mewah PPnBM

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan akan segera merevisi daftar barang yang masuk kategori barang mewah dengan menghapus tiga jenis barang konsumsi dalam daftar tersebut. Ketiganya adalah furnitur mebel, elektronik, dan tas. Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menilai pembebasan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) bagi ketiga jenis barang tersebut dianggap tidak akan berpengaruh besar terhadap penerimaan negara tahun ini. Bambang justru berharap pembebasan pajak tiga barang itu bisa meningkatkan konsumsi masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang lesu.

"Kami ingin menghapus PPnBM untuk barang-barang konsumsi seperti furnitur atau mebel, barang elektronik dan aksesori, diantaranya tas dan lainnya," kata Bambang usai Rapat Kerja Risiko Fiskal dengan Badan Anggaran di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (28/5) malam.

Bambang beralasan, selama ini penerimaan pajak dari PPnBM atas tiga barang tersebut sangat kecil atau tidak sebanding dengan upaya pengumpulan pajak yang membutuhkan ongkos lebih mahal.

"Contohnya televisi masih dianggap barang mewah sampai saat ini. Padahal sekarang sudah dari televisi gemuk sampai macam-macam. Jadi produk non otomotif, non kapal dibebaskan pajak barang mewahnya untuk merangsang stimulus konsumsi di masyarakat," jelasnya.

Sedangkan untuk produk otomotif yang dikategorikan barang mewah, diakui Bambang tetap akan dikenakan PPnBM karena potensi penerimaannya yang cukup besar.  "Kebijakan ini sudah kami diskusikan langsung dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia serta Kamar Dagang dan Industri Indonesia untuk menghapus PPnBM barang-barang tersebut," katanya.

Dengan menerapkan kebijakan tersebut Bambang mengakui negara akan kehilangan pendapatan sekitar Rp 1 triliun. "Potensi penerimaan yang hilang sampai Rp 1 triliun. Barangnya sedikit, tapi biaya mengumpulkannya lebih mahal dari penerimaannya," katanya.

Mantan Wakil Menteri Keuangan itu mengungkapkan, pemerintah sedang menuntaskan revisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) atas pembebasan pajak barang mewah tersebut. "Kalau PMK-nya minggu depan keluar, kami akan sampaikan," kata Bambang.

Kejar Penjualan 3,5 Juta Pasang Sepatu Sepanjang Lebaran ... Sepatu Bata Tbk Siapkan Belanja Modal US$ 5 Juta

Produsen sepatu PT Sepatu Bata Tbk (Bata) membidik penjualan sepatu sebanyak 3,5 juta pasang untuk musim lebaran tahun ini atau meningkat sekitar 25 persen dari penjualan perseroan pada periode yang sama tahun lalu 2,8 juta pasang. Jumlah tersebut diharapkan dapat berkontribusi besar pada upaya pencapaian target penjualan tahun ini yang diharapkan bisa menembus 12 juta pasang.

“Agresif sekali memang (target) tapi kami yakin dapat mencapainya karena kami menyediakan produk yang berkualitas tinggi dengan harga yang sangat terjangkau untuk masyarakat,” kata Direktur Utama Bata Indonesia Carlos Garces ketika ditemui di Pabrik Bata, Purwakarta, Kamis (28/5).

Optimistisme Garces pun didukung dengan musim lebaran tahun ini yang bertepatan dengan awal masuk tahun ajaran baru. Diharapkan, periode tersebut dapat mendongkrak penjualan lini sepatu sekolah yang ditargetkan menembus 1 juta pasang tahun ini. Untuk menghadapi musim tersebut, Bata siap menyediakan sebanyak 100 pilihan model alas kaki yang berasal dari merek utama yang dipegang oleh perusahaan seperti Bata, North Star, Power, BFirst, Bubblegumers, Marie Claire dan Weinbrenner.

Menurut Garces, tahun ini industri sepatu mengalami tren penurunan. Kendati demikian, penjualan sepatu Bata masih menunjukkan peningkatan. Salah satu penyebabnya adalah target pasar Bata yang sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Deputy II Retail Director Bata Budi Harta menyebutkan permintaan masyarakat menengah ke bawah cenderung stabil dan tahan terhadap gejolak perekonomian. Tak heran, tahun lalu Bata membuka 60 gerai baru di pinggir kota yang menyasar segmen pasar tersebut. Sehingga total gerai yang dimiliki Bata mencapai 550 gerai.

“Dengan situasi perekonomian yang ada mereka (masyarakat menengah ke bawah) lebih tahan dan stabil sehingga kurang lebih 60 gerai kita buka kemarin (di pinggir kota),” kata Budi dalam kesempatan yang sama. Sebagai informasi, sepatu Bata mencapai lebih dari 11 juta pasang atau tumbuh sekitar 2 persen dari tahun sebelumnya. Khusus untuk lini retail, penjualannya mencapai 10,5 juta.

Sekitar 11 persen dari total produksi perusahaan dialokasikan untuk pasar ekspor ke berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Kenya, Peru, Zambia, Afrika Selatan, Zimbabwe, Uganda, Yordania, Lebanon, Peru, Bolivia, Chile Kolombia, dan Meksiko. Garces berharap ke depannya produksi Bata yang dialokasikan untuk ekspor mencapai 15 hingga 20 persen.

“Sekarang persentase ekspor 11 persen dari total produksi tapi kami ingin di tahun-tahun berikutnya dapat mencapai 15 hingga 20 persen,” tutur Garces. Selain Garces melihat ada potensi permintaan dari luar negeri, kapasitas produksi pabrik Bata di Indonesia juga sangat besar. Per harinya, kapasitas produksi pabrik yang ramah lingkungan tersebut mencapai 25 ribu pasang alas kaki. Sementara itu, realisasi produksi pabrik masih ada di kisaran 15 – 20 ribu per hari.

Produsen sepatu PT Sepatu Bata Tbk (Bata) mengalokasikan sekitar US$ 5 juta atau setara dengan Rp 66 miliar untuk belanja modal (capital expenditure) tahun ini. Keinginan perusahaan untuk tetap tumbuh di tengah lesunya industri sepatu dalam negeri menjadi alasan perusahaan tetap melakukan ekspansi.

“Tahun ini belanja modal kami sekitar US$ 5 juta,” tutur Direktur Utama Bata Indonesia Carlos Garces ketika ditemui di Pabrik Bata, Purwakarta, Kamis (28/5). Garces menyebutkan dana tersebut akan digunakan untuk membuka gerai Bata baru, perbaikan dan renovasi gerai yang sudah ada, membeli mesin-mesin baru untuk memproduksi sepatu yang lebih baik kualitasnya, serta investasi untuk perbaikan sumber daya manusia.

“Kami juga melakukan investasi untuk training pegawai. Kami mengirim pegawai kami ke berbagai negara untuk meningkatkan keahlian mereka. Setiap kuartal kami mengirimkan empat orang ke luar negeri seperti Chile dan Singapura untuk pelatihan selama tiga hingga enam bulan,” kata Garces.

Sementara sumber dananya, lanjut Garces, berasal dari internal perusahaan yaitu keuntungan yang disisihkan. Hingga akhir Mei, perusahaan diperkirakan telah menggunakan sekitar 25 persen dari total alokasi belanja modal tahun ini. “Kebanyakan dialokasikan untuk membuka gerai baru," ujarnya. Sebagai informasi, tahun lalu omzet Bata mencapai Rp 1,3 triliun yang diharapkan tahun ini dapat tumbuh di kisaran 8–10 persen.

Meskipun mengalokasikan belanja modal yang cukup besar, perusahaan mencatatkan penurunan laba cukup tajam pada kuartal I tahun ini menjadi Rp 585,8 juta. Laba tersebut anjlok sekitar 95,6 persen dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 13,3 miliar. Deputy II Retail Director Budi Harta menyebutkan penyebabnya adalah nilai tukar rupiah yang terus melemah selama periode tersebut mengingat Bata masih mengimpor sekitar 30 persen komponen bahan baku.

"Nilai tukar (rupiah) yang melemah penyebab penurunan laba karena kita masih ada bahan baku yang impor," kata Budi. Berdasarkan laporan keuangan perseroan, beban perseroan memang menunjukkan peningkatan selama periode tersebut. Tercatat, beban pokok penjualan naik dari Rp 112,6 miliar pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 124,3 miliar.

Sementara itu, beban usaha juga meningkat menjadi Rp 85,1 miliar dari Rp 73,30 miliar dari periode yang sama tahun lalu. Selanjutnya, beban keuangan naik dari Rp 1 miliar pada kuartal 1 2014 menjadi Rp1,5 miliar. Kendati demikian, penjualan pokok Bata pada periode yang sama masih mencatatkan peningkatan tipis dari Rp 206,5 miliar pada tiga bulan pertama tahun lalu menjadi Rp 213,2 miliar.

Raup Rp 1 Triliun dari IPO, Pengembang Deltamas Langsung Borong Tanah di Bekasi

PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) meraup dana Rp 1,01 triliun lewat penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO). Dananya akan digunakan untuk ekspansi usaha. Sebanyak 60% dana hasil IPO atau sekitar Rp 600 miliar akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan properti di Deltamas, 30% atau Rp 300 miliar dipakai untuk membeli lahan di Bekasi dan 10% sisanya untuk modal kerja.

"Dukungan dan sambutan baik telah diberikan pasar modal Indonesia hingga kami dapat melakukan pencatatan saham di BEI merupakan bukti kepercayaan yang diberikan pada perusahaan," kata Presiden Direktur Puradelta Lestari Teky Mailoa, di Gedung BEI, Jumat (29/5/2015).

Perusahaan Grup Sinarmas ini melepas 4.8 miliar lembar atau setara 10% saham ke publik. Komposisi pemegang saham pasca IPO adalah 22,5% dipegang Sojits Corp, 2,47% Jermina Limited, 1,16% PT Sumber Arus Mulia, 41,37% AFP International Capital, dan 22,50% Fame Bridge Investment.

Pengembang Kota Deltamas ini merupakan emiten ke-5 atau ke-511 di tahun ini. Penjamin emisi dalam aksi korporasi ini adalah PT Sinarmas Sekuritas, PT Macquarie Capital Sekurities, dan PT CSLA Indonesia.

PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) naik 7,1% ke Rp 225 per lembar di perdagangan perdananya dari harga sebelumnya saat penawaran umum Rp 210 per lembar. "Harga saham yang ditetapkan Rp 210 per lembarnya diharapkan akan mendapat respons positif dari investor di hari perdagangan perdana," kata Presiden Direktur Puradelta Lestari Teky Mailoa di Gedung BEI, Jumat (29/5/2015).

Sahamnya sempat menyentuh titik tertinggi di Rp 231 per lembar pagi ini. Dalam setengah jam perdagangan, sahanya sudah diperdagangkan dengan nilai Rp 200 miliar. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi dalam aksi korporasi ini adalah PT Sinarmas Sekuritas, PT Macquarie Capital Securities Indonesia dan PT CLSA Indonesia.

Dia menyebutkan, perolehan dana IPO akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan properti investasi sebesar 60%, sekitar 30% untuk pembebasan lahan, dan sisanya 10% digunakan untuk modal kerja. Pengembang Kota Deltamas ini mengembangkan total lahan (gross) seluas 3.049 hektar yang terdiri dari 47% lahan industri, 25% lahan komersial, dan 28% lahan perumahan.

Analisa Kualitas Hutang dan Infrastruktur Indonesia

HSBC menilai ketergantungan negara-negara berkembang di Asia terhadap utang meningkat enam tahun terakhir, tak terkecuali Indonesia. Kendati demikian, rasio utang Indonesia terhadap PDB Asia merupakan yang terendah dibandingkan negara lainnya di kawasan. HSBC mencatat rasio utang tertinggi di kawasan adalah Singapura, diikuti Jepang, Hong Kong dan Tiongkok. Sementara Indonesia berada di urutan terbawah bersama Filipina dan India.

Frederic Neumann, Managing Director & Co-Head of Asian Economic Research, meskipun jumlah utang meningkat, tingkat investasi di indonesia juga mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menjadi pertimbangan HSBC memberikan prediksi positif terhadap masa depan ekonomi Indonesia.

"Namun, HSBC memandang perlunya pembangunan infrastruktur sebagai propritas utama di Indonesia," tuturnya di Hotel Mulia, Selasa (26/5). Menurutnya, indeks kualitas infrastruktur di Indonesia berada di peringkat kedua terendah dibandingkan negara lainnya. Kualitas infrastruktur Indonesia kalah jika dibandingkan dengan Sri Langka, Malaysia, India, dan Thailand. Indonesia hanya unggul dari Filipina di kawasan Asia.

"Negara-negara macan Asia seperti Singapura dan Korea Selatan masih menempati posisi tertinggi dari sisi kualitas infrastruktur," katanya. Neumann menambahkan pelemahan ekonomi Tiongkok belakangan ini membawa pengaruh kuat terhadap melesunya ekonomi negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melandai ke 4,71 persen pada kuartal I 2015.

HSBC menilai bonus demografi akan menjadi salah satu kekuatan Indonesia di mata investor dalam mengembangkan bisnisnya di Tanah Air. Mendekati 2030, HSBC memperkirakan jumlah penduduk berusia produktif di Indonesia akan lebih tinggi dibandingkan Tiongkok, Korea selatan, Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan Thailand.

"Untuk mengoptimalkan bonus demografi, Indonesia masih harus mengatasi tantangan jumlah sumber daya manusia yang telah mengecap pendidikan perguruan tinggi," tutur Neumann.  Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Bambang P. S. Brodjonegoro memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 akan berkisar 5,8-6,2 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari outlook tahun ini 5.7 persen.

"Pertumbuhan tersebut akan lebih bertumpu pada faktor-faktor dalam negeri, seperti investasi khususnya infrastruktur dan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah," tuturnya. Sementara untuk laju inflasi, Bambang optimistis pemerintah mampu menjaga di kisaran 4 persen plus minus 1 persen pada tahun depan. Hal ini mempertimbangkam pula rata-rata nilai tukar yang diprediksi sekitar Rp 12.800 - Rp 13.200 per dolar AS.

Menteri Keuangan dan Bank Indonesia Ramai Ramai Revisi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Menteri Keuangan Bambang P.S Brodjonegoro memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini mencapai 5,4 persen hingga akhir tahun. Angka ini lebih rendah dari target yang dicanangkan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2015, yaitu 5,7 persen. "Kita hanya mencoba realistis setelah melihat realisasi kuartal I kemarin," ujar Bambang dalam penyampaian Rancangan Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) 2016 di depan Anggota Badan Anggaran DPR, Jakarta, Kamis (28/5).

Menurutnya kondisi perekonomian global yang masih melemah serta kondisi negara mitra dagang Indonesia seperti Tiongkok, Jepang dan Eropa yang masih melesu, sehingga pertumbuhan ekonomi global diprediksi hanya tumbuh 3,4 persen."Negara-negara tersebut juga melakukan koreksi terhadap pertumbuhan ekonomi nya," kata Bambang.

Berbeda dengan Pemerintah, bank sentral negara, Bank Indonesia (BI), kembali memberikan koreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya akan mencapai level 5,1 persen. Angka ini tentunya lebih rendah dibanding prakiraan pemerintah 5,4 persen."Namun angka ini lebih baik dibanding tahun sebelumnya," kata Gubernur BI, Agus Martowardojo dalam Rapat Kerja Badan Anggaran DPR.

Menurut Agus, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II diperkirakan akan mencapai 4,9 persen, kuartal III sebesar 5,3 persen, dan kuartal IV 5,4 persen. "Peningkatan kuartal kedua lebih didorong oleh konsumsi pemerintah dan investasi bangunan sejalan dengan pembangunan proyek infrastruktur," ujar Agus. Selain itu pertumbuhan ekspor juga diperkirakan akan tumbuh positif, meski memang akan tertahan karena lemahnya harga komoditas masih berlanjut. Untuk kuartal III dan IV, lanjut Agus juga akan didukung oleh keberlanjutan konsumsi dan investasi, realisasi fiskal pemerintah, dan juga relalisasi kredit perbankan.

"Peningkatan penyaluran kredit masyarakat diharapkan mampu mendorong konsumsi rumah tangga," kata Agus. Sementara untuk nilai tukar rupiah, BI memprediksi nilai tukar ruoiah terhadap dolar AS akan berada di sekitaran Rp 13.000 - Rp 13.200, sementara untuk tahun depan BI memprediksi rupiah melemah di kisaran Rp 13.000 - Rp 13.400.

"Ini juga mengikuti komitmen pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang akan terus melakukan reformasi struktural," katanya. Bank Indonesia (BI) memilih konservatif dalam memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang. Apabila pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi 2016 di kisaran 5,8-6,2 persen, Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo justru pesimistis pertumbuhan ekonomi nasional bisa menembus angka 6 persen.

"Kalau pemerintah sekarang akan mengajukan (pertumbuhan ekonomi) untuk 2016 di range 5,8-6,2 persen, mungkin kami melihat masih belum sampai melewati 6 persen. Jadi masih ada di tengah 5 persen sampai 6 persen," kata Agus di Gedung BI, Rabu (20/5). Dalam meramalkan ekonomi Indonesia di masa depan, Agus Martowardojo punya sejumlah pertimbangan, antara lain kondisi pasar komoditas global yang kemungkinan masih akan lesu.

Kendati demikian, Agus meyakini kondisi ekonomi Indonesia pada tahun depan akan lebih baik dari pada tahun ini. Ia berharap peran besar pemerintah dalam membelanjakan anggaran dan investasi bisa mengerek pertumbuhan ekonomi dalam negeri. "Jadi, kita harapkan tahun 2016 akan ada perbaikan di ekonomi global dan nanti tentu harga komoditi bisa lebih baik," kata Agus.

Akan tetapi, Agus mengatakan prediksi bank sentral tersebut tersebut sewaktu-waktu bisa direvisi. Ia mengatakan BI akan lebih rinci dalam memberikan penjelasan pandangan perekonomian secara keseluruhan jika memang sudah waktunya dibutuhkan. "Tetapi nanti tentu saat pembahasan pertemuan awal antara pemerintah dengan DPR dimana BI juga akan diundang kami akan menyampaikan lebih detail terkait dengan forecast 2016," katanya.
Untuk tahun ini, BI masih berpegang pada proyeksi pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4-5,8 persen, meski kecenderungannya mendekati batas bawah. Namun, Agus mengatakan bank sentral akan mengevaluasi kembali proyeksi tersebut dan kemungkinan prognosa terbaru akan dirilis pada paruh kedua.  Kami mungkin akan merevisi (proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia) pada semester II. Sekarang masih di 5,4-5,8 persen, bisa ke bawah," ujarnya di tempat yang sama, Selasa (19/5).

Pada kesempatan tersebut, Agus menyoroti kualitas belanja pemerintah yang masih rendah pada kuartal I 2015. Rendahnya penyerapan anggaran pemerintah, kata Agus, disebabkan oleh perubahan nomenkatur dan daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) sejumlah kementerian/lembaga (K/L) yang belum mendapatkan persetujuan DPR pada periode tersebut.

"Tapi di semester II, yang dicanangkan pemerintah untuk infrastruktur, termasuk upaya untuk merealisasi anggaran akan berdampak kepada pertumbuhan ekonomi semester II. Sampai triwulan II pun belanja negara masih agak pelan, tapi semester II kita harapkan lebih baik," tuturnya.