Sunday, April 26, 2015

Saham Grup Salim dan Astra Sangat Direkomendasikan Sedangkan Grup Bakrie Mulai Dihindari

Tak dipungkiri, kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) banyak ditopang saham yang tergabung dalam konglomerasi bisnis. Kinerja konglomerasi bisnis yang membaik sepanjang tahun 2014 diharapkan bisa mengerek sejumlah saham yang berada di naungannya, dalam jangka panjang. Grup bisnis yang banyak bergelut di sektor defensif dan memiliki diversifikasi bisnis dari hulu hingga hilir, dijagokan para analis.

Sebagai contoh, bisnis Grup Salim yang banyak bergerak di bisnis sektor barang konsumsi diperkirakan masih punya prospek bagus. Dalam beberapa tahun terakhir, Grup Salim banyak menambah aset lewat sejumlah akuisisi.

Tahun ini pun Salim masih memiliki beberapa target ekspansi bisnis yang berpotensi mengerek kinerjanya. Hasilnya, mulai kelihatan. Tahun 2014, holding usaha Grup Salim, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) membukukan penjualan bersih Rp 63,59 triliun naik 14,3 persen ketimbang penjualan 2013.

Pencapaian itu mengerek laba bersihnya menjadi Rp 3,89 triliun, tumbuh 55,2 persen dari 2013. Memang, tahun lalu Indofood banyak mendapat tekanan dari kenaikan beban harga bahan baku. Namun, emiten ini bisa menyiasatinya dengan mengerek harga jual produk dan menjaga efisiensi. Hal ini membuat bisnis Indofood membaik. Bahkan, kinerja keuangan emiten sektor perkebunan Grup Salim juga tetap tumbuh di tengah tekanan harga komoditas.

Analis Phintraco Securities Setiawan Effendi memprediksikan, dalam jangka panjang bisnis Indofood akan terdorong oleh pulihnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dan kenaikan daya beli masyarakat. "Sektor bisnis Indofood juga defensif," kata dia, kemarin.

Hans Kwee, Vice-President Investment Quant Kapital Investama menilai, grup yang memiliki diversifikasi bisnis dari sektor hulu ke hilir juga tergolong kebal gejolak ekonomi. Pasalnya, dengan memiliki bisnis komplit, beban tinggi bisa lebih ditekan sehingga margin laba tetap terjaga.

Dia mencontohkan, Grup Salim memiliki bisnis perkebunan dari hulu ke hilir, sehingga dampak negatif jatuhnya harga komoditas menjadi lebih minimal. Grup bisnis yang punya sebaran bisnis defensif adalah Grup Astra. Menurut Hans, meski bisnis Astra melambat, mereka memiliki bisnis dari hulu sampai hilir, sehingga lebih mudah memulihkan kinerjanya.

Hans yakin, kontribusi pendapatan dari otomotif bisa dikurangi dan disubstitusi oleh sektor bisnis lain seperti infrastruktur yang punya prospek bisnis bagus. Sebagai contoh, bisnis alat berat Grup Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR), pulih cepat. Laba bersih naik 11 persen menjadi Rp 5,4 triliun pada tahun lalu. Kenaikan laba bersih juga terjadi di sektor agribisnis. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencetak laba Rp 2,5 triliun, naik 39 persen year-on-year (yoy).

"Saham emiten Grup Salim dan Astra juga likuid sehingga menarik untuk jangka panjang," ujar Setiawan, yang merekomendasikanbuy on weakness ASII.

Kinerja saham Grup Lippo juga menggeliat. Taktik finansial Lippo dengan jual beli aset seringkali dimanfaatkan trader untuk mengalap cuan jangka pendek. Beberapa tahun terakhir, pertumbuhan saham Grup Lippo juga cukup pesat. Lihat saham PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) yang sudah melompat ke Rp 13.450 ketimbang harga IPO di Rp 9.000 pada akhir 2013. SILO menjadi denyut nadi baru Grup Lippo yang semula mengandalkan bisnis properti.

Setiawan juga menyukai bisnis ritel Grup Lippo yang tumbuh stabil. Misalnya, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) yang labanya naik 24,52 persen menjadi Rp 554,01 miliar di 2014. Sementara David Nathanael Sutyanto, analis First Asia Capital menyukai saham SILO, LPKR, dan MLPL.

Tapi, Hans menilai, saham Grup Lippo seringkali disetir sentimen sesaat. Itu sebabnya, dia mengingatkan investor perlu berhati-hati jika ingin masuk saham grup ini. Selain Grup Lippo, David juga melihat prospek positif saham Grup Sinarmas. Dalam dua tahun ke depan, Grup Sinarmas bisa mengejar konglomerasi bisnis lain lantaran saat ini sedang fokus melakukan investasi pengembangan teknologinya.

Jangka pendek, David menilai kinerja Grup Sinarmas berat. Pasalnya, grup ini masih bergantung pada BSDE. Penjualan emiten properti ini kurang memuaskan. "Namun, BSDE masih tumbuh karena memiliki recurring income bagus," kata dia.

Di sisi lain, Setiawan masih memilih menghindari saham Grup Bakrie karena rentan jatuh jika ada kabar negatif soal restrukturisasi utangnya. Meski PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), perusahaan investasi milik Grup Bakrie, mulai mencatat laba, saham-saham lainnya masih rentan. Sebagai catatan, tahun lalu BNBR mencetak laba bersih Rp 152,9 miliar. Padahal tahun sebelumnya membukukan rugi Rp 12,73 triliun

Grup Sinar Mas Mulai Membeli Aset Aset Grup Bakrie

Gencarnya aksi Grup Sinar Mas mengincar aset Grup Bakrie mencuatkan banyak tanya. Salah satunya adalah dugaan adanya motif tersembunyi atas aksi Grup Sinarmas yang terus menadah aset-aset Grup Bakrie. Kabar yang beredar di kalangan pebisnis menyebut, kedekatan Franky Oesman Widjaja, salah satu putra mahkota taipan Eka Tjipta Widjaja dengan Nirwan Bakrie disebut-sebut menjadi alasan. Sinarmas mencoba membangunkan bisnis Bakrie Grup yang tengah surut.

Sayang, Nirwan yang selama ini disebut-sebut sebagai otak bisnis dalam Grup Bakrie tak bisa dikonfirmasi. Tapi, jawaban datang dari Managing Director Grup Sinar Mas Soeherman Gandi Sulistiyanto. Dia menyangkal kabar tersebut. "Tidak ada hubungannya, kecuali pertimbangan bisnis," tandas Gandi, panggilan karibnya.

Biro Risetmencatat, aksi Sinarmas mengoleksi aset Bakrie sudah dimulai sejak tahun 2013. Kala itu, Sinar Mas melalui PT Bumi Serpong Damai Tbk membeli 3 hektare (ha) lahan di superblok Rasuna Epicentrum Jakarta milik PT Bakrieland Development Tbk.  Sinarmas mengeluarkan dana investasi sebesar Rp 868,93 miliar untuk mendanai aksi korporasi itu. Rencananya, Sinarmas akan mendirikan apartemen di lahan tersebut.

Tak puas sampai disitu. Pada tahun 2014, Sinarmas kembali mengambil alih mal Epicentrum Walk yang berada di Rasuna Epicentrum. Nilai investasi atas aksi korporasi itu Rp 297 miliar. Melalui anak usaha lain yang bergerak di bisnis perkebunan, yakni Golden Agri Resources Ltd, perusahaan ini menadah dua aset lahan sawit seluas 16.000 hektare milik PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk senilai 178 juta dollar AS.

Pada akhir tahun 2014 lalu, PT Smarfren Telecom, perusahaan telekomunikasi yang dimiliki Sinarmas juga telah merangsek masuk ke Bakrie Telecom, dengan kerjasama pemakaian jaringan. Sinarmas juga agresif memborong saham Grup MNC yang mengempit aset eks Bakrie. Belum lama ini, lewat Argyle Street Management Limited (ASML) Sinarmas membeli 5 persen saham PT MNC Land Tbk (KPIG). Dan, portofolio MNC Land adalah lahan eks Bakrie antara Lido Resort, jalan ton dan Bali Nirwana Resort.

Yang terakhir, konglomerasi yang dibangun taipan Eka Tjipta itu ingin menguasai PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), salah satu tentakel bisnis Bakrie di pertambangan batubara. Lewat ASML, Sinarmas menawar 100 persen saham Asia Resource Minerals Plc (ARMS), induk usaha BRAU. Saat ini, ASML mengempit 11,1 juta, setara 4,65 persen saham ARMS yang tercatat di Bursa Efek London.

Adapun, pengendali saham ARMS adalah Samin Tan yang menguasai 47,6 persen saham ARMS, yaitu 23,8 persen melalui PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) dan 23,8 persen melalui Ravenwood. ASML menawar saham ARMS seharga 41 pence per saham. Perusahaan ini juga berjanji menyuntikkan dana segar 150 juta dollar AS ke ARMS sebagai salah satu alternatif restrukturisasi utangnya. Asal tahu saja, BRAU memiliki utang senilai 950 juta dollar AS yang jatuh tempo tahun ini dan tahun 2017.

Namun, niat ASML tersebut bisa jadi tak mulus karena Nathaniel Rothschild juga berambisi menguasai saham mayoritas ARMS. Saat ini Rothschild menggenggam 17,5 persen saham ARMS. Masa keemasan saham Grup Bakrie di pasar modal Indonesia tinggal kenangan. Kapitalisasi pasar emiten Grup Bakrie kian menciut seiring kejatuhan harga saham kelompok usaha tersebut. Kepercayaan investor luntur lantaran beragam restrukturisasi utang Bakrie tak kunjung rampung.

Kapitalisasi Grup Bakrie tahun ini merosot tajam ketimbang masa kejayaannya pada tahun 2010-2011. Pada 2010, kapitalisasi 9 emiten Grup Bakrie Rp 113,27 triliun atau 3,5 persen dari kapitalisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Lalu, pada 2011, total kapitalisasi 10 emiten Grup Bakrie Rp 108,18 triliun (3 persen kapitalisasi BEI). Ini menjadikan saham Bakrie terus menempati daftar emiten terlikuid, LQ 45. Kini, tak satu pun saham Bakrie masuk indeks terencer itu.

Kini, kapitalisasi Bakrie Rp 39,89 triliun, cuma 0,77 persen dari total kapitalisasi BEI senilai Rp 5.179 triliun. Kejatuhan harga saham itu bersamaan dengan terkoyaknya finansial emiten Bakrie. Tengok saja, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengajukan proteksi dari kemungkinan tuntutan pailit para kreditor. Permohonan diajukan ke Pengadilan Kepailitan di Manhattan, AS, oleh anak usaha BUMI, Bumi Investment Pte Ltd. Permohonan itu sebulan setelah Bumi Investment gagal membayar bunga obligasi Oktober 2014.

Pada 2008, harga BUMI sempat ke puncak tertinggi di Rp 8.550 per saham. Namun, Jumat (5/12/2014), harga BUMI longsor 99 persen ke Rp 78 per saham. Beberapa harga saham Grup Bakrie, seperti UNSP, BNBR, BTEL, dan ELTY, anteng di angka gocap rupiah per saham. Kondisi terkini Grup Bakrie masuk radar Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK siap memantau koreksi nilai saham maupun penyebabnya. "Kalau ada indikasi pelanggaran tentu perlu pengawasan khusus," papar Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida, Sabtu (7/12/2014).

Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menilai, proteksi kepailitan hanya memberi napas tambahan ke BUMI, tetapi tak memperbaiki fundamental keuangan. Hingga tadi malam, manajemen BUMI belum bisa dimintai konfirmasinya. Direktur Utama BUMI Saptari Hudaya dan Direktur BUMI Dilleep Srivastava tak merespons panggilan telepon dan pesan singkat

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono memastikan aset PT Minarak Lapindo Jaya, yang dijaminkan sebagai ganti rugi warga terdampak lumpur, akan menjadi milik negara jika Abu Rizal Bakrie tidak bisa melunasi dalam waktu empat tahun. Menurut Basuki, seluruh aset yang dijaminkan Minarak Lapindo kepada pemerintah berupa tanah yang masuk dalam peta terdampak. Luasnya sekitar 420 hektar dengan nilai aset pasca-audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebesar Rp 2,7 triliun.

"Sebelum kami bayar kepada rakyat sebesar Rp 767 miliar itu, kami tahan dulu sertifikat dan surat-surat tanah yang dibayar Rp 2,7 triliun itu, sampai empat tahun. Kalau empat tahun Pak Bakrie tidak bisa bayar, kami akan sita (aset)," ujar Basuki ditemui di sela-sela Peluncuran Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015, di Jakarta, Selasa (24/3/2015).

Saat ini, surat-surat tanah yang dijaminkan belum di tangan pemerintah. Sebab, tim untuk percepatan penyelesaian lumpur Lapindo belum dibentuk. Pembentukan tim menunggu penandatanganan keputusan Presiden. Basuki menegaskan, sejauh ini belum ada pernyataan kesanggupan dari pihak Minarak Lapindo terkait aset-aset yang dijaminkan. "Belum, wong belum ada yang ngomong. Nanti kalau sudah ada timnya, baru kita ngomong," ucap Basuki.

Nantinya, setelah dibentuk, tim akan membahas pula soal mekanisme pembayaran ganti rugi, apakah melalui perbankan atau tidak. Sementara itu, dia memastikan, jika aset yang dijaminkan tidak dibayar, maka hal itu akan menjadi milik negara.  "Yang harus ditebus Bakrie Rp 767 miliar. Itu belum termasuk fasilitas sosial karena ada pondok pesantren di situ. Minggu ini, (nilai ganti rugi) pondok pesantren dan delapan keluarga (tambahan) akan dihitung," kata Basuki.

Presiden Jokowi Putuskan Untuk Terbitkan Surat Hutang Senilai Rp. 10 Triliun

Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) menutup April 2015 dengan rencana menerbitkan surat utang negara (SUN) senilai Rp 10 triliun. Empat SUN yang akan dilelang pekan depan yaitu Seri SPN12160204 (reopening), FR0069 (reopening) dan FR0071 (reopening), dan FR0067 (reopening).

Keterangan resmi dari Kementerian Keuangan selaku instansi yang menerbitkan SUN, lelang tersebut akan dilakukan pada Selasa (28/4). Pengumuman hasil lelang akan dilakukan pada hari yang sama, sementara penyelesaian kewajiban pemenang atau setelmen akan dilakukan Kamis (30/4).

“Lelang ini bersifat terbuka (open auction) dengan metode harga beragam (multiple price) yang akan dilakukan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia,” bunyi keterangan tersebut, dikutip Minggu (26/4). Secara rinci, SUN seri SPN12160204 akan jatuh tempo pada 4 Februari 2016, pembayaran bunganya akan dilakukan secara diskonto. Seri FR0069 akan jatuh tempo pada 15 April 2019, menawarkan tingkat bunga tetap (fixed rate) sebesar 7,875 persen.

Sementara, seri FR0071 yang akan jatuh tempo pada 15 Maret 2029 dan seri FR0067 yang akan jatuh tempo pada 15 Februari 2044 masing-masing menawarkan tingkat bunga tetap sebesar 9 persen dan 8,75 persen. Sebagai informasi, realisasi penarikan utang dari pasar obligasi negara selama kuartal I 2015 sebesar Rp 144,39 triliun atau 48,5 persen dari yang ditargetkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP).

Melonjaknya penarikan utang nasional dalam tiga bulan terakhir ditanggapi santai oleh Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro. Menurutnya, hal itu wajar mengingat pemerintah sengaja menggenjot pembiayaan APBNP 2015 di awal tahun (front loading strategy). "Karena memang kami melakukan strategi front loading," kata Bambang di sela acara World Economic Forum (WEF) di Hotel Shangrila, Jakarta, Selasa (21/4).

Sementara itu, Bank Indonesia baru saja melaporkan lonjakan utang luar negeri per Februari 2015 sebesar 9,4 persen menjadi US$ 298,9 miliar jika dibandingkan dengan posisi Februari 2014.  Kendati realisasi belanja negara masih rendah, kata Bambang, front loading strategy tetap diperlukan guna mengantisipasi pengetatan likuiditas global akibat rencana Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuan.

Sepinya minat investor membuat pemerintah gagal mencapai target raupan hasil penerbitan Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (14/4) lalu. Dari target indikatif mencapai Rp 10,01 triliun, pemerintah tercatat hanya mampu menyerap Rp 8,66 triliun saja. Berdasarkan keterangan tertulis yang dikutip dari situs resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan, pada Rabu (15/4), pemerintah melaksanakan lelang surat utang negara (SUN) hari ini untuk seri SPN12160107 (reopening), FR0069 (reopening) dan FR0071 (reopening) melalui sistem lelang Bank Indonesia.

Total penawaran yang masuk mencapai Rp 10,014 triliun,” tulis pihak DJPPR. Pihak DJPPR menjelaskan, SUN seri SPN12160107 yang akan jatuh tempo 7 Januari 2016 diserap Rp 1,75 triliun dengan yield rata-rata tertimbang 5,9 persen . Adapun jumlah penawaran yang masuk mencapai Rp 1,95 triliun. Sementara seri FR0069 yang jatuh tempo 15 April 2019 dimenangkan Rp 3,10 triliun dari jumlah penawaran yang masuk Rp 3,42 triliun. Seri ini diserap dengan yield rata-rata tertimbang 7,24 persen dan kupon 7,8 persen. Sedangkan yield tertinggi yang dimenangkan sebesar 7,29 persen.

Lebih lanjut, Seri FR0071 yang akan jatuh tempo 15 Maret 2029 diserap Rp 3,81 triliun dari jumlah penawaran yang masuk Rp 4,64 triliun . Seri ini menetapkan yield rata-rata tertimbang 7,50 persen dengan yield tertinggi dimenangkan 7,54 persen dan tingkat kupon 9 persen.

"Total nominal yang dimenangkan dari ketiga seri tersebut adalah Rp 8.660.000.000.000," tulis keterangan tersebut. Untuk diketahui, lelang ini bersifat terbuka (open auction) dengan metode harga beragam (multiple price) yang akan dilakukan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Sebelumnya, pemerintah menyatakan bahwa nantinya, hasil penjualan SUN ini akan digunakan untuk memenuhi sebagian target pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015.

Saham Group Kapan Lagi Dibeli Media Singapura

Raksasa media dari Singapura telah membeli 52 persen saham KLN Group, induk perusahaan media online KapanLagi Network. Situs kapanlagi.com dan media onlinemerdeka.com bernaung di bawah perusahaan ini. Seperti diberitakan Techinasia, kedua perusahaan menandatangani kerjasamanya di Jakarta, Jumat (24/4) kemarin. Tapi tak disebutkan berapa nilai pembelian saham tersebut.

Steve Christian, CEO KLN Group, sendiri tak bisa dihubungi. Tetapi kepada Channel NewsAsia, Steve Christian berkata bahwa penjualan 52 persen saham itu adalah terobosan dalam perjalanan KLN Group untuk menjadi pemimpin media digital di regional.

"Selama tiga tahun terakhir saya sudah menyaksikan KLN tumbuh dari salah satu usaha rintisan menjadi salah satu platform online top di Indonesia," katanya. "Sejak semula tujuan kami adalah menciptakan produk yang bagus dan berdampak pada audiens sampai ke luar pasar Indonesia dan ambisi ini membawa kami kepada aliansi dengan MediaCorp."

Disebutkan bahwa kehadiran MediaCorp diharapkan akan mengakselerasi posisi KLN Group di pasar digital Indonesia. Tujuan lainnya adalah menciptakan solusi kepada pengiklan untuk menjangkau konsumen di Indonesia.

Portal media kapanlagi.com dan Merdeka.com selama ini dikenal secara spesifik menargetkan kaum pria, perempuan, penyuka otomotif, pencari berita, dan penggemar sepakbola. Berdasarkan data dari KLN Group, konten video mereka sudah ditonton sebanyak 450 juta kali.

MediaCorp sendiri dikenal sebagai pemilik sejumlah media dan terjun juga ke industri hiburan, dan bisnis digital lainnya. Properti digitalnya antara lain Toggle, Channel NewsAsia, dan Cubinet, penerbit game yang berbasis di Kuala Lumpur.

Dalam program akuisisi 52 persen saham INI, MediaCorp berencana tak melakukan perubahan apapun dalam manajemen maupun operational KLN Group. MediaCorp sendiri mengatakan akuisisi sebagian saham itu adalah upaya mereka untuk memposisikan diri sebagai perusahaan yang mampu menyediakan konten beragam, inovatif, di lintas platform.

Daftar 12 Emiten BEI Yang Akan Rilis Obligasi Senilai Rp 23 Triliun

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan jumlah surat utang korporasi yang masuk dalam daftar rilis tahun ini hingga 20 April 2015 telah mencapai Rp 23,05 triliun. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk merupakan satu dari 12 emiten yang akan menarik pembiayaan terbesar, dengan target indikatif Rp 7 triliun.

Hoesen, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, menyatakan sudah ada 12 perusahaan yang akan menerbitkan obligasi pada tahun ini, dengan estimasi nilai pembiayaan mencapai Rp 23,05 triliun. Secara nilai, kata Hoesen, lebih besar dari periode yang sama tahun lalu. “Saya kurang ingat yang tahun lalu, tapi pokoknya lebih besar yang tahun ini,” ujarnya di Jakarta, Jumat (24/4).

Dari 12 perusahaan tersebut, Hoesen mencatat penerbitan obligasi oleh PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk merupakan yang terbesar, yakni mencapai Rp 7 triliun. Untuk itu, Telkom telah menunjuk sejumlah sekuritas sebagai penjamin emisi, yakni PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas , PT Mandiri Sekuritas, dan PT Trimegah Securities.

Mengekor di bawah Telkom adalah PT Federal International Finance (FIF), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, yang masing-masing menargetkan penerbitan obligasi sebesar Rp 3 triliun. Selanjutnya ada PT Adira Multi Finance Tbk, yang mengagendakan penerbitan dua seri surat utang, masing-masing sebesar Rp 2 triliun dan Rp 500 miliar. Di level penerbitan dengan nilai Rp 1 triliun, terdapat PT Modernland Realty Tbk dan PT Bank Bukopin Tbk.

Sementara untuk rencana penerbitan di bawah Rp 1 triliun terdapat PT Bank BNI Syariah dengan nilai Rp 750 miliar, PT Indomobil Finance Indonesia Rp 500 miliar, PT Mandala Multifinance Tbk. Rp 500 miliar dan PT Summarecon Agung Tbk. dua kali, masing-masing senilai Rp 150 miliar.

“Banyaknya pendanaan melalui obligasi tersebut tampaknya karena banyaknya rencana ekspansi maupun restrukturisasi utang pada tahun ini,” ujar Hoesen. Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto mengatakan investor sebaiknya mempersiapkan diri dan mengantisipasi risiko yang mungkin timbul dari rencana Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga untuk yang pertama kalinya sejak 2006.

“Konsensus memproyeksikan kenaikan pertama yang terjadi pada pertemuan FOMC Juni 2015 dan mencapai 1 persen hingga akhir 2015. Dengan demikian yield treasury AS 10 tahun juga diproyeksikan meningkat menjadi 2,98 persen pada hingga akhir 2015,” jelasnya dalam riset, Kamis (23/4).

Dari dalam negeri, Handy mengatakan risiko utama muncul dari berlebihnya pasokan pada tahun ini dan tingginya arus modal (outflow) keluar jika rupiah melemah. Ketika rupiah melemah lebih dari Rp 12.750 dan Rp 13.100, kata Handy, memicu outflow sebesar Rp 25 triliun pada Desember 2014 dan Rp 15 triliun pada Maret 2015.

Sementara katalis positif datang dari prospek inflasi yang lebih rendah dan anggaran yang sehat, menyusul rencana pemerintah menerapkan skema subsidi tetap. Hal itu diyakini memberikan outlook positif bagi lembaga pemeringkat. Ditambah lagi Bank Indonesia memiliki kapasitas yang cukup besar untuk membeli obligasi pemerintah. “Jika tidak, obligasi korporasi masih merupakan investasi pendapatan tetap yang menarik karena premi risiko yang masih melebar,” jelas Handy.

Saturday, April 25, 2015

PT Pos Indonesia Targetkan Laba Senilai Rp. 5,6 Triliun

PT Pos Indonesia menargetkan pendapatan senilai Rp5,6 triliun pada 2015 dengan menggenjot bisnis kiriman paket dan filateli. "Penguatan di sektor bisnis kiriman paket dan filateli, terutama penjualan materei digenjot tahun ini. Target pendapatan sekitar Rp5,6 triliun, dan triwulan pertama sudah on the track," kata Direktur Utama PT Pos Indonesia Budi Setiawan di Bandung, Sabtu.

Ia menyebutkan, dengan target pendapatan Rp5,6 triliun artinya ada pertumbuhan sekitar 30 persen dibanding pendapatan tahun 2014.  Salah satu potensi besar pertumbuhan tahun 2015, kata Budi antara lain dari layana paket kiriman menyusul tingginya bisnis perdagangan online ata e-commerce yang pertumbuhan bisnis itu mencapai 40 persen.

Beberapa operator pasar online saat ini sudah menjalin kerja sama untuk penggunaan paket kiriman Pos Indonesia.  "Pertumbuhan bisnis e-commerce di Indonesia saat ini cukup sugnifikan, sekitar 40 persen, dan itu akan terus tumbuh. Pos Indonesia jadi partner pengiriman barangnya," kata Budi

Sedangkan pertumbuhan lain dari jasa pengiriman uang dan ritel, serta selebihnya dari pendapatan logistik dan layanan usaha lainnya.  Selain itu Pos Indonesia juga menggenjot pendapatan dari sektor filateli, salah satunya dari penjualan materei. Menurut Budi pihaknya telah melakukan pencetakan materei baru dengan sistem dan alat pengaman hologram yang sulit dipalsukan.

"Kami sudah mencetak materei dengan sistem pengaman mutakhir, diharapkan tahun ini penjualan divisi filateli dalam hal ini materei meningkat," katanya. Sama halnya untuk layanan logistik, menurut Budi pihaknya terus menggenjot dengan melakukan penyempurnaan pelayanan dan beberapa strategi pemasaran layanan logistik yang lebih optimal lagi.

Sementara itu tahun ini, Pos Indonesia akan merambah bisnis perhotelan. Sebanyak dua lokasi hotel sudah disiapkan dan sudah memiliki izin pembangunan hotel itu. "Izinnya sudah kita kantongi, pembangunanya tinggal membutuhkan waktu. Harusnya selesai 2015, namun tahun ini baru mulai dan akan tuntas 2016," katanya.

PT Pos Indonesia meluncurkan Sampul Peringatan ke-60 Konferensi Asia-Afrika (KAA). "Sampul peringatan ini tidak kalah pentingnya, hampir seperti perangko. Bentuknya amplop, ada perangkonya juga, kemudian bercap dan gambar sesuai dengan tema Konferensi Asia-Afrika," kata Manajer Filateli PT Pos Indonesia Tata Sugiarta saat dihubungi Tempo, Jumat, 24 April 2015.

Tata mengatakan, Sampul Peringatan ke-60 KAA sedianya akan ditandatangani langsung oleh Presiden RI Joko Widodo di sela perayaan peringatan KAA di Bandung hari ini, 24 April 2015. "Tapi karena acaranya padat, penandantanganan sampul hari pertama akan dijadwal ulang. Akhirnya karena sudah resmi diterbitkan hari ini, kami launching di Jalan Banda tadi oleh direktur utama," kata dia.

Menurut Tata, Sampul Peringatan KAA ke-60 itu hanya dicetak terbatas terdiri dari 4.000item. Sampul peringatan itu sudah resmi dijual di seluruh Kantor Pos dengan harga Rp 10 ribu. "Kemungkinan sekarang sudah habis. Tidak tahu kalau di Kantor Pos Bandung karena di sana masih belum menjual karena tutup," kata dia.

Tata mengatakan, sampul peringatan ini menjadi bahan buruan kolektor, terutama pengoleksi yang sudah memiliki semua benda pos seri KAA. Setiap perhelatan perayaan KAA, PT Pos rutin menerbitkan benda pos mulai dari prangko hingga sampul peringatan.

Dengan benda pos terakhir Sampul Peringatan ke-60 KAA, seluruhnya ada delapan seri benda pos yang sudah diterbitkan PT Pos Indonesia untuk mengenang peristiwa tersebut. "Setiap perayaan Konferensi Asia-Afrika, PT Pos menerbitkan perangko. Sejak 1955, lalu peringatan 10 tahun, KAA untuk mahasiwa, hingga terakhir (sebelum sampul peringatan ini) peringatan 50 tahun," kata Tata.

Tata mengatakan, PT Pos tidak bisa menerbitkan prangko untuk memperingati perayaan KAA ke-60. Salah satu sebabnya, prangko peringatan hanya boleh diterbitkan 25 tahun sekali. "Kemarin kami sudah menerbitkan untuk perayaan 50 tahun KAA. Kalau perangko itu ketentuannya harus kelipatan 25," kata dia.

Juru bicara PT Pos Indonesia, Abu Sofyan, mengatakan PT Pos rutin menerbitkan sampul peringatan untuk mencatatkan kejadian besar di Indonesia. "Biasanya diterbitkan untuk mengenang suatu event besar, misalnya peringatan kemerdekaan, serta seperti sekarang ini Konferensi Asia-Afrika," katanya.

Friday, April 24, 2015

Daftar Laba Bersih Bank Bank Nasional Tahun 2014

Empat bank penguasa industri perbankan nasional mampu mengantongi laba gemuk di tengah perlambatan kredit dan likuiditas ketat. Terbaru, Bank Central Asia (BCA) menutup musim rilis kinerja bank besar. Bank milik Grup Djarum ini mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 15,7 persen menjadi Rp 16,5 triliun di sepanjang tahun 2014. Mesin pertumbuhan laba BCA adalah pendapatan bunga bersih yang naik 21,2 persen menjadi Rp 32 triliun. Sementara, kredit BCA tumbuh 11 persen menjadi Rp 346,6 triliun.

"Pertumbuhan kredit tidak terlalu besar sejalan dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang rendah di level 0,6 persen," ujar Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, Kamis (5/3/2015). Diantara bank besar, predikat bank dengan pertumbuhan laba tertinggi tahun 2014 jatuh ke tangan Bank BNI. Bank pelat merah ini mencatat pertumbuhan laba sebesar 19,1 persen menjadi Rp 10,78 triliun. BNI mengulang prestasi tahun 2013 dengan kenaikan tertinggi atau sebesar 28,37 persen.

Di antara empat bank berstatus bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV, hanya Bank Mandiri yang meraih pertumbuhan labasingle digit. Tapi, secara aset konsolidasi, Bank Mandiri tetap menyabet status bank dengan aset terbesar. Begitupun juga BRI yang masih berhak menggondol status bank dengan pemasukan laba paling jumbo. Nasib enam bank papan atas lain kurang beruntung. Lima dari enam bank mencatatkan kemerosotan laba, yakni CIMB Niaga, Bank Danamon, Bank Internasional Indonesia (BII), Bank Tabungan Negara (BTN) dan Bank Permata.

DPK tumbuh tipis Penurunan laba terbesar dialami oleh BII. Pemicu penurunan laba BII tersebut sebagian besar bank adalah perlambatan kredit dan kenaikan beban bunga. Dari enam bank, hanya Bank Panin yang mempertahankan kenaikan laba. Ada juga BTN yang menggenjot aset ke posisi sembilan, menggeser posisi BII.

Yang juga menarik dicermati adalah musim berebut likuiditas yang terlihat nyata. Dana pihak ketiga (DPK) 10 bank besar hanya tumbuh tipis atau di bawah 10 persen. Misalnya saja DPK BCA yang hanya tumbuh 9,4 persen menjadi Rp 447,9 triliun sepanjang 2014

Laba 10 bank beraset besar di sepanjang 2014 mencapai Rp 82,13 triliun. Angka tersebut tumbuh 5,18 persen dibandingkan periode akhir 2013 yang mencapai Rp 78,09 triliun. Bank-bank beraset besar yang dimaksud adalah Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Central Asia (BCA), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank CIMB Niaga, Bank Danamon, Bank Permata, Bank Panin, Bank Tabungan Negara (BTN), dan Bank International Indonesia (BII).

Berdasarkan laporan keuangan bank-bank tersebut, bank milik pemerintah masih mendominasi perolehan laba. Di 2014, total laba yang dibukukan Mandiri, BRI, BNI dan BTN mencapai Rp 56 triliun atau naik 12,07 persen dari laba di 2013 yang mencapai Rp 49,97 triliun. Sementara, bank milik swasta hanya mencatat total laba Rp 26,13 triliun atau turun 7,06 persen dari perolehan laba di akhir 2013 yang sebesar Rp 28,12 triliun.

Dari kategori bank pelat merah, BRI masih menjadi bank dengan laba terbesar. Bank spesialis kredit mikro ini memperoleh laba Rp 24,2 triliun atau naik 14,35 persen dari Rp 21,16 triliun. Kemudian disusul Mandiri dengan catatan laba Rp 19,9 triliun atau naik 9,34 persen dari Rp 18,2 triliun.

Lalu BNI menjadi bank dengan pertumbuhan laba tertinggi dengan catatan 19,1 persen dari Rp 9,05 triliun menjadi Rp 10,78 triliun. Dan BTN menjadi satu-satunya bank milik pemerintah yang membukukan penurunan laba sebesar 28,59 persen dari Rp 1,56 triliun menjadi Rp 1,12 triliun.

Sementara itu, dari enam bank milik swasta, hanya dua bank saja yang mencatat pertumbuhan laba. Pertumbuhan laba paling tinggi adalah BCA dengan perolehan Rp 16,49 triliun atau naik 15,7 persen dari Rp 14,25 triliun. Bank lainnya adalah Bank Panin dengan pertumbuhan laba 4,42 persen dari Rp 2,26 triliun menjadi Rp 2,36 triliun.

Empat bank swasta lainnya mengalami penurunan laba. Tengok saja CIMB Niaga yang punya laba Rp 4,6 triliun di 2013 harus turun 49,13 persen menjadi Rp 2,34 triliun di akhir 2014. Kemudian, Bank Danamon yang labanya turun 36 persen dari Rp 4,04 triliun menjadi Rp 2,6 triliun. Lalu Bank Permata memiliki laba Rp 1,59 triliun atau turun dari Rp 1,72 triliun dan dan BII yang labanya anjlok 65 persen dari Rp 1,24 triliun menjadi Rp 752 miliar.

PT. Bank Negara Indonesia (BNI) menutup tahun 2014 dengan laba bersih Rp 10,8 triliun atau naik 19,1 persen dibanding tahun lalu. Hal ini disampaikan Dirut utama BNI Gatot M Suwondo di Wisma BNI, Jakarta, Kamis (29/1/2015). "Kami merasa bersyukur dan bangga atas pencapaian kinerja keuangan BNI ini yang mampu meraih laba bersih sebesar Rp 10,8 triliun," jelas Gatot.

Sementara itu untuk pendapatan bunga bersih di tahun 2014 naik 17,4 persen menjadi Rp 22,4 triliun. "Naik Rp 17,4 triliun dari Rp. 19,1 triliun menjadi Rp 22,4 triliun yang menunjukkan kualitas kinerja perkreditan BNI dan tetap menjaga net interest margin (NIM) di level 6,2 persen," kata Gatot.

Untuk pendapatan non bunga tahun 2014 naik 13,5 persen menjadi Rp 10,7 triliun. "Naik 13,5 persen karena didukung oleh kenaikan fee based income dari pengelolaan rekening, bisnis kartu, transaksi ATM, dan sumber pendapatan non-bunga lainnya," jelas Gatot.