Friday, June 24, 2016

Rugi Bakrie Telecom Meroket Jadi Rp 8,64 Triliun

PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) baru saja melaporkan kinerja keuangannya sepanjang 2015. Perseroan mengalami tahun yang buruk karena mencatatkan rugi bersih sebesar Rp8,64 triliun, melonjak 201,15 persen dari rugi bersih di tahun 2014 sebesar Rp2,86 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan Bakrie Telecom pada Jumat (24/6), perusahaan yang terakhir dikenal dengan produk aplikasi Esia Talk ini mencatatkan penurunan pendapatan mencapai 65,94 persen menjadi Rp401,62 miliar pada 2015, dari Rp1,18 triliun di tahun sebelumnya.

Amblasnya pendapatan tersebut masih ditimpa dengan melonjaknya beban usaha perusahaan. Sepanjang 2015, Bakrie Telecom menanggung beban usaha sebesar Rp4,23 triliun, meloncat 99,38 persen dari Rp2,12 triliun pada 2014. Pos beban usaha yang meroket paling tinggi berasal dari beban penyusutan yang naik 202,36 persen menjadi Rp3,34 triliun pada 2015, dari Rp1,1 triliun di tahun sebelumnya.

Besarnya total beban usaha yang harus ditanggung tersebut, membuat kinerja keuangan Bakrie Telecom hancur. Perseroan harus menelan peningkatan rugi usaha hingga 305,69 persen menjadi Rp3,83 triliun, dari Rp944,97 miliar. Sudah jatuh tertimpa tangga. Setelah mencatatkan peningkatan rugi usaha, perseroan harus menanggung beban lain-lain bersih mencapai Rp4,67 triliun pada 2015, melompat 255,93 persen dari Rp1,31 triliun di tahun 2014.

Adapun pos beban lain-lain terbesar berasal dari beban sisa masa sewa yang mencapai Rp1,66 triliun pada 2015. Padahal beban tersebut tidak ada di tahun 2014. Selain itu, terdapat lonjakan dalam pos rugi penurunan nilai aset mencapai 272,51 persen menjadi Rp1,44 triliun, dari Rp388,57 miliar.

Dari sisi aset, per 31 Desember 2015 perseroan mencatatkan nilai Rp2,41 triliun, turun dari Rp7,58 triliun pada akhir tahun 2014. Padahal, liabilitas atau kewajiban perseroan tercatat mencapai Rp14,92 triliun di tahun 2015, naik dari Rp11,46 triliun pada 2014.

Bakrie Telecom terpaksa bermanuver untuk menerbitkan obligasi wajib konversi senilai total Rp7,6 triliun demi membayar utang perseroan yang menumpuk hingga Rp11,6 triliun. Nantinya kreditur memperoleh obligasi yang ditukar dengan saham tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Wakil Presiden Direktur Bakrie Telecom Taufan Rotorasiko mengatakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) perusahaan telah setuju dengan rencana obligasi wajib konversi tersebut.

Ia juga menjelaskan, pemegang saham telah setuju untuk memberikan harga saham konversi di angka Rp200 per lembar. Padahal, harga saham BTEL pada saat ini masih tersungkur di level Rp50 per lembar. “Jadi kami memberikan harga saham ke kreditur agar manajemen memperoleh insentif juga. Kalau Rp50 harganya, enggak ada insentif. Di harga Rp200 kami dapat insentif untuk berkembang,” ujarnya, Kamis (28/4).

BI Ramal Inflasi Ramadan Hanya Sentuh 0,56 Persen

Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi Juni 2016 atau sepanjang Ramadan akan berada di level 0,56 persen. Angka ini meningkat tipis dari realisasi periode yang sama tahun lalu, 0,54 persen. “Di minggu ke-3, hasil survei BI memperkirakan inflasi Juni ini ada di kisaran 0,56 persen. Tentu kami nanti masih akan lihat karena kan masih ada sepuluh hari lagi menjelang lebaran,” tutur Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo, Jumat (24/6).

Sebelumnya, pada minggu ke-2 lalu, BI memproyeksikan tingkat inflasi bulan Juni ada di level 0,61 persen. Agus mengungkapkan, pemicu inflasi yang perlu diwaspadai masih berasal dari bahan pangan (volatile food) terutama daging ayam dan telur ayam. Kementerian Perdagangan mencatat, rata-rata harga daging ayam nasional ada di level Rp31.980 per kilogram (kg) dan telur ayam ada di level Rp23.810 per kg. “Tetapi ada tiga (harga bahan pangan) yang juga perlu diperhatikan, yaitu harga beras, gula, dan harga cabai,” ujar mantan Menteri Keuangan ini.

Sementara, harga bawang merah yang sempat melonjak beberapa waktu lalu telah mengalami deflasi. Center of Reform on Economics (CORE) memprediksi terjadinya peningkatan inflasi dalam dua bulan ke depan seiring dengan meningkatnya permintaan selama puasa dan menjelang lebaran.
Mohammad Faisal, Direktur Riset CORE Indonesia menurutkan, terhitung sejak 10 juni 2016 hingga lebaran akan terjadi inflasi sekitar 0,59 persen, sedikit meningkat dibandingkan dengan masa puasa tahun lalu yang sebesar 0,5 persen. Prediksi tersebut merupakan hasil riset CORE Indonesia mengenai perkembangan harga-harga barang dan jasa.

"Dari sini kami mengasumsikan kalau di bulan Juli, inflasi bulanan kita akan meningkat ke 1 persen," papar Faisal dalam diskusi bersama Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Selasa (14/6).

Menurutnya, asumsi ini berdasarkan angka inflasi bulanan pada Juli 2015 yang hampir mencapai 1 persen sehingga inflasi bulkan depan sangat kemungkinan besar menembus 1 persen. "Ini dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan dan kenaikan harga makanan dan minuman jadi yang diperkirakan berada di atas 1 persen," ujar Faisal.

Bahkan, lanjutnya, inflasi pangan di Indonesia pada Mei 2016 menempati urutan pertama jika dibandingkan dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim lainnya, yang rata-rata 7,8 persen. Di tempat kedua, ialah Turki dengan inflasi pangan sebesar 2,5 persen dan Pakistan 0,6 persen di tempat ketiga.

Faisal menyatakan faktor pendorong peningkatan harga bahan pangan lokal dipicu dari dua sisi, yakni berdasarkan permintaan dan penawaran. Dari sisi penawaran dipicu oleh perbedaan pasokan terhadap permintaan, adanya ketidaklancaran distribusi antar daerah, serta adanya permainan harga oleh spekulan, kasus kartel, dan lainnya.

Sedangkan dari sisi permintaan, lanjutnya, dipicu oleh faktor peningkatan pendapatan jelang pemberian tunjangan hari raya (THR) kalangan pekerja. Faktor lainnya, dipaparkan Faisal, ketidaksesuaian data ketersediaan bahan pangan yang dimiliki oleh Kementerian/Lembaga (K/L), serta langkah-langkah stabilisasi harga yang kurang efektif.

Peningkatan inflasi, menurut Faisal, dapat diatasi dengan melakukan perlindungan terhadap komoditas pangan strategis hingga penyusunan peraturan pelaksana sebagai realisasi dari Undang Undang Perdagangan Nomor 7 Tahun 2014 yang mewajibkan pemerintah menjamin pasokan dan harga barang kebutuhan pokok.

"Sebagai contoh, kita bisa melihat bagaimana negara tetangga melakukan perlindungan terhadap harga dan stok pangan mereka, misalnya Malaysia dan Jepang. Untuk UU, nantinya diharapkan UU ini dapat mengatur pasokan, harga, hingga distribusi bahan pangan ke masyrakat," tutup Faisal. Untuk itu, ia mengingatkan agar pemerintah menjaga akurasi data pangan, dan memperkuat peran Perum Bulog, serta membenahi dan meningkatkan pengawasan jalur distribusi.

Pound Sterling Anjlok ke Level Terendah Sejak 1985

Pound sterling anjlok ke level terendah sejak 1985 dibarengi dengan menukiknya harga saham berjangka Inggris setelah mayoritas warga Britania memilih untuk meninggalkan Uni Eropa. Aksi jual obligasi juga meningkat tajam dan mendongkrak biaya pinjaman Pemerintah Inggris.

Reuters melansir, nilai tukar pound sterling anjlok hampir 10 persen dalam enam jam terakhir, yang merupakan kejatuhan terdalam sepanjang sejarah Inggris. Tepatnya sejak rezim nilai tukar mengambang bebas diperkenalkan pada awal 1970-an.

Depresisi kurs saat ini dinilai lebih parah dibandingkan dengan tragedi 'Black Wednesday' pada September 1992, ketika miliarder George Soros melakukan aksi jual pound sterling besar-besaran sehingga melumpuhkan pertahanan Bank Sentral Inggris (BOE). "Ini seperti kembali dari masa depan, kita seperti kembali ke era 1985," kata Nick Parsons, Wakil Kepala Strategi Mata Uang Global di NAB.

Pound sterling tercatat jatuh kelevel US$1,33, yang merupakan level terendah terhadap dolar sejak September 1985. Sementara terhadap Euro, pound sterling melemah 6 persen dan terhadap yen terdepresiasi 15 persen. Sementara itu, harga saham berjangka turun 7 persen di Bursa London

"Pound sterling sudah anjlok 10 persen dalam enam jam. Itu sangat luar biasa, dan referendum Inggris telah menciptakan krisis di Eropa," kata Nick.  Kinerja perbankan langsung menjadi sorotan menyusul anjloknya saham HSBC dan Standard Chartered sebesar 10 persen.

Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi bertenor 10 tahun yang diterbitkan pemerintah Inggris melonjak menjadi 1,57 persen dari posisi penutupan perdagangan Kamis yang berkisar 1,38 persen.
"Ini luar biasa. Shock mungkin bukan kata yang terlalu kuat untuk menggambarkan kejadian ini," kata John Wraith, Kepala UK Tarif Strategi, UBS Investment Bank.

Sementara dari Amerika Serikat, yield obligasi AS turun tajam menyusul aksi pengalihan investasi ke aset-aset lindung nilai (safe-haven) seperti emas dan yen Jepang.  Semua bank-bank internasional dan besar di Inggris di London, termasuk Citi, Deutsche Bank, JPMorgan, Goldman Sachs dan Barclays langsung membuka layanan via telpon pada malam hari.

Perbankan telah memperingatkan nasabahnya akan volatilitas perdagangan yang dapat menyebabkan kesenjangan besar dari sisi harga. Para pelaku pasar masih menunggu intervensi dari bank sentral atau kementerian keuangan guna menstabilkan pasar uang.

Imbas Brexit, Rupiah dan IHSG Kompak Terjun Bebas

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak melemah menyusul perhitungan suara sementara dari referendum Britania Raya yang memenangkan kubu pendukung Brexit.  Reuters mencatat, IHSG sejauh ini anjlok 1,33 persen ke level 4,809.28, sedangkan rupiah terkoreksi 1,6 persen menjadi Rp13.375 per dolar AS.

Koreksi negatif juga terjadi di seluruh bursa saham Asia. indeks saham Nikkei di Jepang anjlok 8,21 persen, sedangkan indeks Hang Seng di Hong Kong turun 4,7 persen.  Indeks saham utama Australia, ASX tercatat melemah 2,85 persen, menyusul kemudian ideks KOSPI di korea terjerembab 4,51 persen.  Sementara di Singpura, indeks saham Straits Times minus 2,58 persen.

Aldian Taloputro, Analis Mandiri Sekuritas mengatakan, efek dari Brexit akan sangat terasa di pasar keuangan. Pasalnya, pelaku pasar sangat menanti langkah selanjutnya dari Pemerintah Inggris jika hasil referendum memenangkan kubu pendukung Brexit.  "Yang paling terpengaruh adalah pasar uang karena menimbulkan risk aversion (ketakutan) baru," ujarnya .

Selain berdampak ke internal Inggris, kata Aldian, Brexit juga menimbulkan risiko baru bagi perekonomian Uni Eropa. Sebab, jika Inggris berhasil keluar dari Uni Eropa, maka dapat memicu negara-negara lain di kawasan Benua Biru menggelar referendum serupa.  "Namun yang paling terpukul adalah Poundsterling, jatuhnya paling dalam," tuturnya.  Sementara ke Indonesia, Aldian meyakini dampak Brexit tidak akan terlalu besar. Meski IHSG dan Rupiah mengalami koreksi, tetapi ia memperkirakan fenomena ini tidak akan berlangsung alma.

"untuk hari ini mungkin masih akan terkena sentimen negatif ya," kata Aldian.  Menurutnya, hubungan dagang Indonesia dengan Inggris sangat kecil, yakni hanya sekitar 1 persen dari total nilai ekspor dan impor Indonesia. Namun ke Uni Eropa, lanjutnya, skala dagangnya cukup lumayan, yakni sekitar 10 persen dari nilai ekspor dan impor secara keseluruhan.

Keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) membuat pelaku pasar khawatir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) amblas di sesi I perdagangan pada akhir pekan ini, bersamaan dengan jebloknya bursa saham regional Asia. Seperti dilansir BBC, kubu pihak yang memilih untuk keluar dari Uni Eropa telah memenangkan referendum. Hingga pukul 12.00 WIB, 16,99 juta warga Inggris memilih untuk keluar, menang dari 15,81 juta orang yang memilih untuk tetap menjadi bagian dari Uni Eropa.

Hal tersebut nyatanya membuat pelaku pasar saham dunia khawatir, khususnya indeks bursa kawasan Asia, yang telah memulai perdagangannya. Indeks Nikkei 225 Jepang terpantau amblas 8,32 persen, indeks Hang Seng Hong Kong terjun 4,78 persen, dan indeks Kospi Korea turun 3,47 persen.

Dari dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan jeblok 2,28 persen ke level 4.763 pada sesi I perdagangan Jumat (24/6), dari level 4.874 di penutupan sebelumnya. Data RTI Infokom mencatat, sebanyak 250 saham melemah, 53 saham tidak bergerak, dan hanya 42 saham yang menguat.

Nilai transaksi perdagangan sepanjang sesi I mencapai Rp2,83 triliun dengan volume sebanyak 3,63 miliar lembar saham dan frekuensi 147.210 kali. Adapun pemodal asing mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp34,3 miliar di pasar reguler. Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, kenyataan hasil referendum mengejutkan pelaku pasar. Menurutnya, kendati secara fundamental Indonesia tidak terpengaruh, tetapi secara sentimen pasti akan terkena imbas.

“Secara fundamental memang enggak berpengaruh. Tapi kalau bursa global rontok, tetap saja IHSG bakalan kena juga,” katanya. Pada pagi ini, lanjutnya pemodal asing sebenarnya tetap dalam posisi beli, dengan intensitas kurang lebih sama dengan kemarin. Akan tetapi, kata Satrio, pasar ketakutan akan issue Brexit dan membuat IHSG melanjutkan tren turun yang kemarin sudah muncul.

“Sejauh ini ada level support di 4.789. Akan tetapi konsolidasi sampai 4.740-4.750 sebenarnya masih terlihat normal,” jelasnya. Satrio menjelaskan, jika pasar bereaksi negatif terhadap Brexit, maka aksi jual karena panic (panic selling) sepertinya akan terjadi di awal sesi 2, dan pada perdagangan besok pagi di bursa global. Menurutnya, pasar hanya bisa ditenangkan ketika sudah ada pernyataan yang menenangkan dari Pemerintah Inggris.

“Satu hal yang saya tanamkan adalah, sentimen Brexit ini hanya sentimen bukan fundamental. Kalau sentimen itu nanti berarti rebound-nya cepat. Problemnya, memang bottom-nya [level dasar] dekat? Memang bottom-nya di mana? Itu yang akan kita lihat dalam beberapa hari mendatang,” ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menganggap langkah keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa merupakan histeria yang sering terjadi dalam kegiatan pasar dunia. "Market kan begitu, selalu ada histerianya, ada reaksi berlebih yang sebenarnya tidak mudah dimengerti, ya, ini termasuk histeria itu," ungkap Darmin, Jumat (24/6). Ia mencontohkan Indonesia, meski sudah terbiasa menghadapi krisis tetapi tetap terpukul ketika terjadi gonjang-ganjing di pasar global. Kendati demikian, Indonesia tetap bisa mencari solusi dan keluar dengans elamat.

"Dulu saat suku bunga Amerika makin tinggi, juga gonjang-ganjing. Padahal, tidak jadi, tapi kita sudah dibuat babak belur dengan hal ini," ujar Darmin mencontohkan. Demikian halnya dengan Brexit, kata Darmin, sekalipun dampaknya terasa hingga ke Indonesia tetapi diyakini tidak akan terlalu lama. Sebab, episentrum dari permasalahan ini berada jauh di Britania Raya, sehingga yang akan sangat terganggu adalah perdagangan Inggris dengan negara-negara di Eropa.

Menurutnya, selama ini Inggris dikenal sebagai negara industri yang kuat dan memiliki banyak hubungan perdagangan dengan negara-negara di Eropa, seperti halnya Perancis. Sehingga hubungan perdagangan Inggris dan Uni Eropa akan bergejolak jika Inggris positif melangkah keluar atau Brexit.  Namun, Darmin memastikan, hubungan dagang Indonesia dengan Inggris tetap bisa berjalan secara personal.

"Kita sedang negosiasi, bersama Kemendag, dengan Uni Eropa. Kalau Inggris keluar, ya berarti Inggris tidak ikut. Jadi kalau ada hubungan dengan Inggris, ya, kita bisa langsung ke Inggrisnya," tutup Darmin. Tak jauh berbeda dengan Darmin, pengamat ekonomi Yanuar Rizky mengatakan Indonesia harus terbiasa dengan permainan isu yang silih berganti mewarnai pasar keuangan dunia.

“Pasar keuangan akan menghasilkan jika dia bergerak. Nah, untuk bergerak ini ada batasnya kalau secara teknikal, kalau ingin ada penggerak jadi dibutuhkan isu. Ini sudah umum dan Indonesia harus bisa mengatasi dampak dari isu pergerakan pasar dunia,” jelas Yanuar. Ia menyadari bahwa Brexit akan berdampak pula pada perekonomian Indonesia. Sebab, uang beredar di pasar modal Indonesia dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral di negara maju sehingga apapun yang terjadi di pasar keuangan global akan memberi dampak, misalnya gejolak nilai tukar.

“Kalau ada gejolak ke nilai tukar tentu akan mempengaruhi harga. Jadi kita dihadapkan bukan hanya pada permasalahan fiskal juga permasalahan harga,” tutur Yanuar. Menurutnya, dampak ini dapat lebih buruk karena Indonesia tengah memiliki permasalahan cash flow dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Oleh karena itu, Indonesia harus terbiasa dengan isu yang menggerakkan pasar dunia dan memiliki kebijakan yang dapat segera mengatasinya.

Namun, Yanuar menekankan, keluarnya Inggris dari Uni Eropa hanya akan merugikan Inggris dan berpotensi menyebabkan banyak permasalahan seperti ketika krisis keuangan 2008 yang bermula dari New York.  “Kalau keluar saya rasa pasar keuangan Inggris akan menyempit karena selama ini kerap ditopang dengan hubungan perdagangan antarnegara Eropa,” tutup Yanuar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah terimbas keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). Indeks turun sebesar 39,74 poin (0,81 persen) ke level 4.834 setelah bergerak di antara 4.754-4.884 pada Jumat (24/6).

Sementara di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah melemah 143 poin (1,08 persen) ke Rp13.391 per dolar AS, setelah bergerak di kisaran Rp13.218-Rp13.530. Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, kenyataan hasil referendum mengejutkan pelaku pasar. Menurutnya, kendati secara fundamental Indonesia tidak terpengaruh, tetapi secara sentimen pasti akan terkena imbas.

“Secara fundamental memang enggak berpengaruh. Tapi kalau bursa global rontok, tetap saja IHSG bakalan kena juga,” katanya. Pada pagi ini, lanjutnya pemodal asing sebenarnya tetap dalam posisi beli, dengan intensitas kurang lebih sama dengan kemarin. Akan tetapi, kata Satrio, pasar ketakutan akan issue Brexit dan membuat IHSG melanjutkan tren turun yang kemarin sudah muncul.

“Sejauh ini ada level support di 4.789. Akan tetapi konsolidasi sampai 4.740-4.750 sebenarnya masih terlihat normal,” jelasnya. Aldian Taloputro, Ekonom Mandiri Sekuritas mengatakan, efek dari Brexit akan sangat terasa di pasar keuangan. Pasalnya, pelaku pasar sangat menanti langkah selanjutnya dari Pemerintah Inggris.  "Yang paling terpengaruh adalah pasar uang karena menimbulkan risk aversion (ketakutan) baru," ujarnya.

RTI Infokom mencatat, investor membukukan transaksi sebesar Rp 6,41 triliun dengan volume 7,59 miliar lembar saham. Di pasar reguler, investor asing membukukan transaksi jual bersih (net sell) Rp 23,5 miliar. Sebanyak 61 saham naik, 228 saham turun, dan 83 saham tidak bergerak. Sementara sembilan dari 10 indeks sektoral melemah. Pelemahan terbesar dialami oleh sektor aneka industri yang melemah sebesar 3,25 persen.

Dari Asia, mayoritas indeks saham bergerak melemah. Kondisi itu ditunjukkan oleh indeks Nikkei225 di Jepang yang turun sebesar 7,92 persen, indeks Kospi di Korsel turun sebesar 3,09 persen, dan indeks Hang Seng di Hong Kong turun sebesar 2,92 persen. Sore ini, mayoritas indeks saham di Eropa bergerak melemah sejak dibuka tadi siang. Indeks FTSE100 di Inggris turun 4,45 persen, indeks DAX di Jerman turun 5,91 persen, dan indeks CAC di Perancis turun 6,90 persen

Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS disebabkan pelaku pasar memindahkan dananya ke negara yang diyakini aman (flight to quality), akibat keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). “Kami melihat ini adalah sesuatu yang wajar karena memang ada suatu flight to quality,” tutur Gubernur BI Agus DW Martowardojo saat ditemui di kantor BI, Jumat (24/6).

Hingga kemarin, kata Agus, nilai tukar rupiah masih berada di level Rp13.260 per dolar AS, dan secara tahun berjalan telah menguat 4 persen. Tetapi hari ini, Reuters mencatat rupiah sempat menyentuh level Rp13.425 per dolar AS. Sebagai informasi, kubu pendukung Brexit memenangkan hasil referendum dengan meraup 51,9 persen suara.

Hasil referendum yang memenangkan kubu pendukung Brexit, tidak hanya menekan rupiah tetapi juga sejumlah mata uang negara lain. Pound sterling, hari ini di pasar keuangan tertekan di kisaran 10 hingga 11 persen. Pelemahan itu, kata Agus, terendah selama 30 tahun terakhir. “Euro juga melemah, tetapi pelemahannya sekitar satu hingga dua persen,” ujarnya. Menurut Agus, saat ini pasar dalam kondisi risk off di mana pelaku pasar cenderung menghindari risiko, kemudian menarik dananya dan menaruhnya di negara yang dinilai aman. Berdasarkan pengamatannya, negara yang diminati pelaku pasar ada Amerika Serikat dan Jepang.

“Banyak mata uang yang tertekan tetapi kita lihat dolar AS dan yen ada penguatan. Itu menunjukkan bahwa mereka (AS dan Jepang) menjadi tempat yang diminati pada saat situasi risk off ini,” kata Mantan Menteri Keuangan ini. Lebih lanjut, Agus meyakini pelemahan rupiah hanya akan terjadi sementara. Hal itu didukung oleh perekonomian Indonesia yang disebutkan tengah dalam kondisi prima dengan tingkat inflasi yang terjaga.

“Selain itu, hubungan perdagangan antara Indonesia dan Inggris tidak terlalu besar dari sisi ekspor dan impor meskipun dampak keuangannya ada dalam bentuk aliran dana (keluar) tadi,” ujarnya.

Agus mengingatkan, hasil referendum Brexit tidak bisa langsung mengakibatkan Inggris keluar dari Uni Eropa. Ia menjelaskan, setelah referendum, Inggris harus membuat pernyataan resmi kepada Uni Eropa untuk keluar. Hal itu akan diikuti proses negosiasi yang membutuhkan waktu setidaknya dua tahun. Selanjutnya, Agus menegaskan BI akan selalu berada di pasar untuk menjaga kestabilan rupiah sehingga Brexit tidak berdampak buruk terhadap perekonomian Indonesia.

Thursday, June 23, 2016

Rp. 600 Milyar Per Tahun Berputar Di Labuan Bajo Di Sektor Pariwisata

Potensi pengembangan Labuan Bajo sebagai salah destinasi wisata nasional diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Menurut Tenaga Ahli Bidang Regional Planning Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Bambang Susantono, mengatakan potensi tersebut bisa dilihat dari perputaran uang di kawasan tersebut yang masuk dari sektor pariwisata.

"Kami sudah membuat akumulasi ternyata uang yang bergerak saat ini Rp 600 miliar per tahun. Pantesan lebih 15 hotel baik (hotel berbintang) sudah ada di sana, hotel dan resort," kata dia dalam diskusi di Kantor Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman, Jakarta, Kamis (23/6/2016).

Perputaran uang tersebut bersumber dari belanja yang dilakukan para wisatawan selama berlibur di Labuan Bajo. Dari data yang dimilikinya, seorang wisatawan bisa melakukan belanja antara Rp 1,5 juta-Rp 2,5 juta sehari dengan lama waktu menetap sekitar 3-5 hari. "Saat ini wisatawan mancanegara (wisman) Labuan Bajo mencapai 91 ribu per tahun. Tinggal dikalikan saja kalau mereka tinggal 3-5 hari. Seharinya belanja Rp 1,5 juta- Rp 2,5 juta. Itu besar sekali," tutur dia.

Dengan sejumlah pengembangan yang tengah dilakukan Pemerintah saat ini, diharapkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo bisa meningkat sehingga bisa memberikan kontribusi lebih besar pada perekonomian di kawasan tersebut. "Pemerintah akan mengembangkan kawasan tersebut dengan target 500 ribu wisman per tahun pada tahun 2019," pungkas dia.

Dengan pengembangan yang dilakukan, jumlah kunjungan wisman ke Labuan Bajo bisa meningkat hingga 500 ribu wisatawan pada 2019 nanti. Dengan meningkatnya jumlah wisman yang berkunjung, diharapkan perputaran uang di kawasan tersebut akan meningkat sehingga berimbas positif pada perekonomian setempat.

"Akumulasi kemungkinan pendapatannya bisa di atas Rp 20 triliun - Rp 60 triliun per tahun. Jadi Labuan Bajo itu bukan ecek-ecek," kata Bambang. Labuan Bajo menyimpan potensi wisata yang tergolong banyak. Wisatawan bisa memperoleh paket perjalan wisata beragam cukup dengan mengunjungi satu destinasi saja.

"Dari mulai wisata di komodo, orang-orang melihat komodo sehari, diving bisa 4 sampai 9 hari, kemudian menikmati pemandangan alam, kekayaan budayanya dan lainnya," jelas dia. Untuk mencapai target tersebut, Kemenko Maritim saat ini tengah mengkoordinasikan pembangunan infrastruktur yang dilakukan sejumlah kementerian berbeda.

Dari mulai pembangunan jalan dan Jembatan hingga saran prasarana lingkungan pariwisata oleh Kementerian PU dan Perumahan Rakyat. Belum lagi Kementerian Perhubungan dalam pengembangan infrastruktur pelabuhan, terminal dan bandara sebagai penunjang yang meningkatkan akses wisman ke lokasi tersebut.

"Juga kementerian pariwisata dalam melakukan promosi. Sehingga semua bisa maksimal," pungkas dia. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah menyelesaikan renovasi dan pengembangan Bandara Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bandara yang semula bernama Bandara Mutiara II ini, kini memiliki kapasitas yang lebih besar dan fasilitas lebih modern.Terminal baru Bandara Komodo dibangun mulai tahun 2012 dan selesai di 2015, mengambil wujud menyerupai binatang khas Indonesia "Komodo" dengan luas 9.687 meter persegi sehingga bisa menampung penumpang hingga sebanyak 553 orang penumpang.

Fasilitas yang bisa dijumpai di terminal baru Bandara Komodo dari mulai fitur keamanan seperti x-ray, gerbang pendeteksi logam, fasilitas pengambilan bagasi yang lebih modern.Terminal baru ini juga dilengkapi dengan apron atau tempat parkir pesawat seluas 225 meter x 100 meter, Stop Way 60 meter x 30 meter, navigasi NDB, DVOR, PAPI, AFL.Berkaca tahun 2014 saja, terminal lama Bandara Komodo hanya bisa menampung penumpang sekitar 220 orang saja. Kini kapasitasnya bisa menampung 553 orang penumpang.

Pengembangan masih akan dilanjutkan berupa perpanjangan landasan pacu menjadi 2.500 meter. Harapannya agar bisa didarati dengan pesawat yang berukuran lebih besar, sekelas Boeing 737-800 NG.

Saat ini, landasan pacu Bandara Komodo hanya sepanjang 2.150 meter dengan pesawat terbesar yang bisa mendarat adalah jenis ATR 72-600 yakni pesawat penumpang baling-baling bermesin turboprop dengan kapasitas penumpang maksimal 78 orang. Saat ini, maskapai yang beroperasi di Bandara Komodo adalah Wings Air dan Garuda Indonesia dengan ATR 72. Selain itu, mulai hari ini Sriwijaya Air juga melayani rute Denpasar-Labuan Bajo dengan pesawat Boeing 737 classic.

Analisa Pengaruh Brexit Keluarnya Inggris Dari Uni Eropa Pada Nilai Tukar Rupiah

Inggris sedang menggelar pemungutan suara untuk memutuskan tetap atau keluar dari Uni Eropa. Isu yang dikenal dengan sebutan Britain Exit (Brexit) ini sedang dipantau seluruh dunia. Jika Inggris akhirnya memutuskan keluar dari UE, kondisi tersebut dinilai tidak berdampak besar pada perekonomian Indonesia, maupun nilai tukar rupiah.

"Apabila Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa, dampak bagi perekonomian Indonesia tidak terlalu besar," kata Iswardi Lingga, educator trading, di Surabaya, Kamis (23/6/2016). Iswardi yang sehari-hari sebagai Head Office Educator di perusahaan pialang berjangka Monex ini menerangkan, isu Brexit juga tidak terlalu berdampak pada nilai kurs rupiah.

"Kalau (rupiah) melemah sepertinya (peluangnya) kecil. Justru kurs rupiah akan cenderung meningkat atau minimal stagnan," terangnya. Informasi yang dihimpun, head to head perdagangan antara Indonesia dengan negara-negara Uni Eropa pada Januari-April 2016 yakni, nilai impor mencapai US% 3,59 milliar.

Sedangkan ekspor non migas ke Uni Eropa mencapai US$ 4,62 milliar. Nilai tersebut sekitar 11,33% dari total ekspor non migas Indonesia seluruh negara di belahan dunia ini. Pria yang sudah bergelut belasan tahun sebagi educator trading ini mengajak trader menjadikan isu Brexit ini sebagai peluang. Namun, secara pribadi, ia menginginkan Inggris tetap di Uni Eropa dan tidak menimbulkan gejolak.

"Tapi sebagai trader, kita harus mampu melihat peluang sekecil apapun dari suatu peristiwa. Yang bisa dimainkan di sini adalah pertukaran nilai kurs," jelasnya. Esok hari, rupiah bisa saja menjadi perkasa terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Begitu juga dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berpotensi menguat. Namun, bisa juga berakhir sebaliknya.

Ini sangat bergantung dengan keputusan, apakah Inggris akan keluar atau tetap berada di Uni Eropa. Peristiwa ini disebut dengan Brexit atau Britain Exit. Ekonom Kenta Institut Eric Sugandi menjelaskan, peristiwa ini memberikan pengaruh terhadap Indonesia, lewat jalur keuangan internasional, yaitu melalui pergerakan dana asing di bursa saham, nilai tukar, dan pasar obligasi.

"Jika Inggris keluar dari Uni Eropa, kita akan alami fenomena super dolar karena US$ akan menguat tajam terhadap British Poundsterling (GBP), EUR, dan banyak mata uang lainnya (termasuk rupiah)," ungkapnya. "Jika Inggris stay di Uni Eropa, maka ada sentimen positif bagi mata uang poundsterling dan euro dan mata uang negara-negara lainnya (termasuk rupiah)," jelas Eric.

Penguatan mata uang tersebut, termasuk rupiah, karena adanya sentimen positif. Dalam persepsi investor, terjadinya Brexit akan menimbulkan kekacauan pasar finansial. "Kalau no Brexit reaksinya positif karena kekacauan pasar finansial di Eropa bisa terelakkan. Kalau ada Brexit, stock market dan mata uang UK dan EU bisa terpukul," paparnya.

Lana Soelistianingsih, Analis Samuel Sekuritas memperkirakan terjadinya Brexit, maka IHSG bisa jatuh cukup dalam dan kemudian bergerak stagnan di level rendah, yakni 4.500. Sedangkan dolar AS di level Rp 13.800. "Tapi ini hanya bersifat sementara, Jumat panik, kemudian pekan depan beberapa hari kemudian reboundlagi dan ya pergerakannya akan stagnan pada level rendah," imbuh Lana.

"Kalau tidak terjadi Brexit, maka rupiah akan menguat sedikit dari yang sekarang. IHSG juga berada dalam tren positif," terangnya.Brexit atau Britain Exit adalah sebuah peristiwa di mana Britania Raya menggelar pemungutan suara untuk memutuskan Inggris keluar dari Uni Eropa atau tidak. Sehari menjelang keputusan tersebut, kalangan investor ternyata cukup was-was.

"Saya kira iya karena kita cukup mewaspadai dan memperhatikan polling di sana," kata Lana Soelistianingsih, Analis Samuel Sekuritas. Sejauh ini, investor berada dalam prediksi yang positif, yang berarti tidak ada perubahan pada struktur Uni Eropa, walaupun cukup ramai menjadi perbincangan banyak pihak.

"Potensi Brexit itu di bawah, dibandingkan yang ingin itu terjadi," ujarnya. Kewaspadaan investor adalah bila ternyata tidak sesuai prediksi. Hal tersebut nantinya bisa menyebabkan kepanikan pada pasar keuangan, termasuk ke dalam negeri.

"Jangan sampai ada unexpected news. Kalau Brexit terjadi, maka pasar pada Jumat (besok) bisa panik," terang Lana. Hal senada juga diungkapkan Ekonom Kenta Institut Eric Sugandi. Investor masih memandang Brexit tidak akan terealisasi. "(Investor) lebih banyak ke tidak ada Brexit. Polling oleh banyak lembaga riset sebelum poll Brexit hari ini menunjukkan no Brexit masih unggul dari pada opsi Brexit," kata Eric.

Industri Busana Muslim Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif RI

Industri busana muslim (Muslim Fashion) ternyata menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan di bidang ekonomi kreatif selain bidang kuliner.

Oleh karena itu, guna memaksimalkan percepatan industri kreatif dan penyusunan roadmap industri kreatif di bidang busana muslim, Kelompok Kerja (Pokja) Industri Kreatif Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) bersama dengan Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, Kementerian Pariwisata dan Bekraf mengadakan kegiatan Focus Group Disscusion (FGD) mengenai industri busana muslim di Indonesia.

"Hal ini kita bahas, karena berdasarkan hasil pertemuan antara KEIN dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebulan sekali di luar rapat Kabinet, dan terakhir juga dalam rapat terbatas dengan beliau tentang presentasi pertumbuhan ekonomi Indonesia, ternyata salah satu sektor yang paling banyak meningkatkan pertumbuhan ekonomi terdapat di bidang industri kreatif," kata Ketua Pokja Industri Kreatif KEIN, Irfan Wahid dalam sambutannya di Kantor KEIN hari ini seperti dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (23/6/2016).

Menurut Irfan, atau yang sering dipanggil Ipang, ketika berbicara industri kreatif maka akan terdapat dua komponen terbesar yang ada di dalamnya, yaitu bidang kuliner (makanan) dan fashion (busana).  Namun, ternyata industri busana muslim inilah yang menyumbang sangat besar dalam pertumbuhan ekonomi Nasional.

"Kita sudah melihat, industri busana muslim memang sudah berjalan dengan sangat baik, tapi akan lebih baik lagi jika kita kerjakan bersama-sama dengan semua stakeholder (pemangku kebijakan) yang terkait," tegas putra dari KH. Sholahudin Wahid ini. Menurut Irfan, Jokowi juga telah menyetujui inisiasi KEIN untuk melakukan pertemuan dengan berbagai lintas kementerian untuk mendiskusikan tentang industri kreatif, khususnya industri busana muslim di Indonesia.

"Sebenarnya, kita juga punya bidang yang berpotensi besar yaitu industri berbasis halal. Namun sayangnya, potensi industri berbasis halal kita di dunia masih di urutan nomor sepuluh, sedangkan di urutan nomor satu adalah negara tetangga, yaitu Malaysia," ungkap Irfan. Terkait perihal busana muslim, Irfan mengakui bahwa Indonesia memiliki potensi luar biasa. Satu di antaranya, Indonesia merupakan satu dari lima besar negara anggota Organisasi Kerjasama negara Islam (OKI) sebagai pengekspor busana muslim terbesar selain Bangladesh, Turki, Maroko dan Pakistan.

"Desain dan kualitas produk busana muslim Indonesia juga diakui berdaya saing global, karena mengandung unsur budaya dari batik dan tenun. Namun Indonesia saat ini juga masih menjadi negara dengan peringkat kelima pengkonsumsi busana muslim tingkat dunia, selain peringkat tiga besar lainnya yaitu; Turki, Uni Emirat Arab, dan Nigeria," kata Irfan.

Ia juga menyebutkan, saat ini ada beberapa negara yang bersiap menguasai pasar busana muslim dunia, di antaranya; Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Malaysia, Amerika Serikat (AS), Italia, Thailand, Jepang, Italia, Inggris, dan Prancis, pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Euis Saedah mengatakan, terkait dengan rencana Indonesia menjadi kiblat busana muslim se-dunia tahun depan, maka perlu adanya sarana promosi yang juga besar.

"Untuk sarana promosi yang diperlukan adalah database dan katalog industri yang lengkap, dan saat ini sarana tersebut masih kurang. Padahal setiap kita melangkah tentunya harus memiliki angka atau data. Bagaimana kita akan percaya diri untuk menjadi kiblat busana muslim kalau kita tidak tahu posisi Indonesia ada di mana, sudah berapa jauh, apakah memang benar kalau Indonesia tertinggal, padahal belum tentu juga kita benar-benar tertinggal," ujar Euis.

Menurut Euis, pihaknya juga bakal memberikan fasilitas bagi pelaku industri busana muslim untuk ikutfashion show (pameran busana) baik di dalam negeri dan luar negeri."Terakhir kemarin kita sudah bantu fasilitasi mereka ke Turki, Maroko, dan Prancis," jelas Euis. Dalam kesempatan di akhir diskusi, semua peserta sepakat mengenai besarnya potensi Indonesia untuk menjadi kiblatnya industri busana muslim tingkat dunia.

"Ada potensi besar, itu kita semua sepakat. Apakah nanti perlu ada konferensi lanjutan untuk memetakanroadmap ini, itu yang akan dibicarakan lebih lanjut," kata Irfan.