Wednesday, March 22, 2017

Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) Raup Untung Rp. 4 Triliun Tahun 2016

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melaporkan kinerja sepanjang 2016. Di tengah harga minyak yang masih mengalami penurunan signifikan serta nilai tukar rupiah yang berfluktuasi, PGN membukukan laba bersih Rp 4 triliun.

"Kami melakukan berbagai upaya yang diperlukan sehingga mampu mencetak laba di tengah kondisi perekonomian yang sedang mengalami perlambatan," kata Sekretaris Perusahaan PGN, Heri Yusup, dalam keterangan tertulis, Jumat (17/3/2017).

Sepanjang 2016, PGN membukukan pendapatan bersih sebesar US$ 2.935 juta. Sedangkan Laba operasi di 2016 sebesar US$ 444 juta, adapun EBITDA di tahun 2016 sebesar US$ 807 juta. Sementara laba bersih sebesar US$ 304 juta atau Rp 4,04 triliun (kurs rata-rata 2016 sebesar Rp 13.308/US$).

Selama periode Januari-Desember 2016, PGN menyalurkan gas bumi sebesar 1.599 million standard cubic feet per day (MMSCFD), naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1.591 MMSCFD. Rinciannya, sepanjang 2016 volume gas distribusi sebesar 803 MMSCFD, naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 802 MMSCFD dan volume transmisi atau pengangkutan gas bumi sebesar 796 MMSCFD, naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 789 MMSCFD

Heri mengatakan, sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan perekonomian nasional, PGN optimistis kinerja perusahaan juga akan semakin baik. Meskipun kondisi perekonomian mengalami perlambatan, PGN tetap mengembangkan infrastruktur gas bumi untuk memperluas pemanfaatan gas bumi bagi masyarakat.

"PGN akan semakin agresif membangun infrastruktur gas bumi nasional untuk meningkatkan pemanfaatan produksi gas nasional," ungkap Heri. Di 2016, infrastruktur pipa gas PGN bertambah sepanjang lebih dari 252 km dan saat ini mencapai lebih dari 7.278 km atau setara dengan 80% pipa gas bumi hilir nasional.

Dari infrastruktur gas bumi tersebut, PGN menyalurkan gas bumi ke lebih dari 165.392 pelanggan rumah tangga; 1.929 pelanggan sektor UMKM, mal, hotel, rumah sakit, restoran, hingga rumah makan; serta 1.652 industri manufaktur berskala besar dan pembangkit listrik.

Sejumlah proyek yang telah diselesaikan PGN dengan tepat waktu seperti proyek pipa gas Kalisogo-Waru, Jawa Timur sepanjang 30 km. Kemudian PGN juga menyelesaikan proyek di ruas Jetis-Ploso di wilayah Mojokerto sampai Jombang sepanjang 27 km. Juga proyek ruas Kejayan-Purwosari di Pasuruan sepanjang 15 km.

Selain di Jawa Timur, PGN juga menyelesaikan proyek infrastruktur pipa gas bumi sepanjang 18,3 km di Batam. Proyek pipa gas yang berada di kawasan bisnis Batam ini akan menyalurkan gas bumi ke wilayah Nagoya, Lubuk Baja, dan Jodoh di Batam.

PGN saat ini sedang mengerjakan proyek pipa distribusi gas Muara Karang-Muara Bekasi sepanjang 42 km, serta beberapa pengembangan jaringan infrastruktur gas lainnya seperti di Jawa Barat sepanjang 43 km dan di Surabaya sepanjang 23 km. Dalam waktu dekat PGN juga akan menyalurkan gas bumi ke beberapa rumah susun di DKI Jakarta.

"PGN terus berkomitmen membangun dan memperluas infrastruktur gas nasional, walau di tengah kondisi ekonomi yang belum membaik dan turunnya harga minyak mentah dunia," tutup Heri.

Garuda Cetak Laba Rp 124 Milyar Tahun 2016

Maskapai nasional PT Garuda Indonesia (persero) Tbk, berikut anak perusahaannya, mencatatkan laba bersih sebesar US$ 9,36 juta atau setara Rp 124,5 miliar (kurs Rp13.300/US$) sepanjang tahun 2016. Hingga akhir tahun, grup usaha mengangkut 35 juta penumpang baik Garuda Indonesia dan Citilink Indonesia.

"Seperti kita ketahui tren pertumbuhan industri penerbangan di dunia khususnya Asia Pasifik mengalami tekanan sejak lima tahun terakhir, mulai dari perlambatan ekonomi global hingga mempengaruhi daya beli masyarakat, namun Garuda Indonesia grup masih tetap bisa mempertahankan kinerja positifnya," kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Arif Wibowo, Rabu (22/3/2017).

Melalui strategi bisnis jangka panjang "Sky Beyond", Garuda Indonesia group mampu mempertahankan profitabilitas perusahaan melalui berbagai kebijakan, mulai dari program efisiensi perusahaan yang proporsional, konsolidasi kapasitas produksi, hingga penguatan lini servis dan operasional perusahaan. Selain itu, perusahaan juga terus bertumbuh secara ekspansif dengan menjaga margin yang positif dan mencatat total pendapatan konsolidasi sebesar 3,86 miliar dolar AS.

Menghadapi persaingan kompetitif industri penerbangan dunia di tahun 2017 ini, Garuda Indonesia akan memperkuat sejumlah sektor komersial dan niaga dengan melakukan akselerasi pengembangan layanan berbasis IT dengan melakukan optimalisasi program customer loyalty hingga memperkuat platform perangkat e-commerce sehingga perusahaan dapat menghadirkan seamless service kepada seluruh pengguna jasa.

Sepanjang tahun 2016, frekuensi penerbangan Garuda Indonesia juga meningkat 9,89% menjadi 274.969 penerbangan dari total 249,974 penerbangan tahun 2015. Peningkatan frekuensi penerbangan tersebut sejalan dengan upaya perusahaan melakukan ekspansi jaringan penerbangan baik domestik maupun internasional.

"Tahun 2016 merupakan tahun investasi bagi perusahaan, mengingat pada tahun ini kami memaksimalkan utilisasi pesawat-pesawat wide body untuk ekspansi kapasitas rute-rute internasional di middle haul hingga long haul.Ke depannya kami proyeksikan siklus restrukturisasi armada ini akan kembali dilakukan pada 2019 mendatang," ujar Arif.

Mengenai perkembangan bisnis kargo, Garuda Indonesia berhasil meningkatkan jumlah angkutan kargo menjadi 415,824 ton kargo, atau meningkat 18,22% dari tahun 2015 yang mencapai 351,724 ton. Secara keseluruhan jumlah pendapatan pasar kargo pada 2016 tercatat 219,15 juta dolar AS, atau meningkat 16,65% dibandingkan tahun 2015 sebesar 187,87 juta dolar AS.

"Pertumbuhan pasar kargo Garuda Indonesia dilakukan melalui optimalisasi ruang kargo, yakni dengan memaksimalkan komoditas yang memiliki imbal hasil tinggi, termasuk membangun sinergi dengan sektor industri logistik lainnya dalam memaksimalkan jangkauan dan layanan produk kargo udara Garuda hingga menjangkau aspek layanan door to door. Ke depannya kami juga akan memperbesar kapasitas bisnis kargo melalui rute-rute penerbangan internasional yang kami layani," papar Arif.

Terkait situasi industri penerbangan di kawasan Asia-Pasifik yang tengah mengalami persaingan yang ketat dan mempengaruhi penerbangan domestik maupun internasional, posisi Garuda Indonesia pada saat ini mencatatkan market share sebesar 41,71% di pasar domestik dan 26,93% untuk market share pasar internasional.

Sementara itu, Garuda Indonesia Group juga berhasil mencatatkan peningkatan sekor pendapatan lainnya yang terdiri dari komponen ancillary revenue, pendapatan sektor strategic business unit (SBU), hingga sektor subsidiaries lainnya dengan capaian sebesar 392 juta dolar AS meningkat 13,7% dibandingkan tahun 2015 lalu sebesar 344,6 juta dolar AS.

Kinerja operasional Garuda Indonesia dalam hal tingkat ketepatan waktu penerbangan (OTP – On Time Performance) pada 2016 mencapai 89,51% atau naik dari tahun sebelumnya 88% yang diperoleh ditengah tantangan pengembangan infrastruktur operasional penerbangan seperti migrasi pelayanan penerbangan domestik ke Terminal 3 yang baru di Bandara Soekarno-Hatta hingga faktor cuaca yang bersifat force majeur.

Sementara itu, rata-rata tingkat keterisian penumpang sepanjang tahun 2016 tercatat sebesar 73,1% sedangkan Citilink sebesar 76,8%.

Sejalan dengan program pengembangan jaringan yang berkelanjutan, selama tahun 2016 ini Garuda Indonesia membuka sejumlah destinasi penerbangan baru seperti Madinah, Mumbai, dan beberapa destinasi domestik lainnya seperti Sintang, Silangit, Nabire dan Maumere. Hingga akhir tahun 2016 Garuda Indonesia melayani penerbangan dari dan menuju 19 destinasi internasional dan 64 destinasi domestik.

Selama tahun 2016, Garuda Indonesia Group juga melakukan penambahan kapasitas penerbangan sebagai bagian dari program pengembangan revitalisasi armada dengan mendatangkan 17 pesawat, yaitu terdiri dari empat pesawat ATR 72-600, empat pesawat A330-300, satu pesawat B777-300ER, dan delapan pesawat A330-200. Dengan demikian, hingga akhir tahun 2016, Garuda Indonesia Group mengoperasikan sebanyak 196 pesawat dengan rata-rata usia pesawat mencapai 4,6 tahun.

Hermes Raup Laba Rp 15 Triliun Tahun 2016

Meski terkenal dengan tasnya yang mahal, namun bukan berarti penjualan Hermes turun. Pada tahun lalu, penjualan tas Hermes menembus rekor, atau mencapai 5,2 miliar euro atau sekitar Rp 74 triliun.

Hasil penjualan ini membuat laba bersih Hermes pada tahun lalu menembus 1 miliar euro untuk pertama kali dalam sejarah. Angka laba bersih Hermes di 2016 mencapai 1,1 miliar euro atau sekitar Rp 15 triliun lebih. Laba bersih ini naik 13% dibandingkan periode tahun sebelumnya.

"Rekor baru tercapai, yang membuktikan solidnya performa Hermes tahun lalu," kata Chief Executive Officer (CEO) Hermes, Axel Dumas, dilansir dari AFP, Kamis (23/3/2017). Penjualan tas-tas mewah Hermes tetap laku keras. Perusahaan ini juga terus berinvestasi membangun pabrik pembuatan tas yang permintaannya makin meningkat, khususnya yang terbuat dari kulit.

"Perkembangan kami didorong oleh peningkatan produksi, dari 3 pabrik baru kami," kata Dumas. Selain tas, penjualan parfum Hermes juga tumbuh 9% tahun lalu. Sementara penjualan pakaian stagnan, dan jam tangan turun tipis 3%.

Lewat hasil ini, Hermes mengumumkan pembayaran dividen 3,75 euro per lembar, naik dari tahun sebelumnya 3,35 euro per lembar

Toko Ritel Offline Juga Keluhan Harga Murah Toko Online

Keberadaan toko online di Indonesia bak jamur di musim hujan. Hanya saja, kehadirannya sejak awal sudah salah konsep. Hal tersebut diungkap Sekretaris Jenderal Himpunan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (Hippindo) Haryanto Pratantara. Menurutnya, prinsip awal toko online adalah memberikan kemudahan kepada konsumen dalam berbelanja, bukan menawarkan barang yang lebih murah seperti yang terjadi di Indonesia.

"Prinsip toko online menjadi salah karena lebih mengedepankan murah. Padahal harusnya kemudahan dan kepraktisan," kata Haryanto ketika ditemui usai pengenalan GoToMalls.com di Jakarta, Selasa (21/3/2017). Imbas salah prinsip ini membuat iklim persaingan menjadi tidak sehat. Banyak toko offline makin tergerus dengan adanya toko online.

"Membuat toko offline cukup sulit dengan berbagai persyaratan dan izin segala macam, sementara online tidak perlu. Belum lagi soal pajak," jelas Haryanto. Kondisi ini diperparah dengan kesiapan pemerintah. Haryanto menilai pemerintah Indonesia lamban mengantisipasi perkembangan bisnis digital yang begitu pesat.

"Seperti ramai-ramai soal aturan transportasi online. Ini karena pemerintah terlambat mengantisipasi, sehingga aturan mainnya belum disiapkan tapi bisnisnya sudah makin besar," ujar Haryanto. Ia pun berharap pemerintah ngebut mengatur bisnis digital. Agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

"Kalo semua itu sudah diatur dengan baik, medan perangnya dibuat seimbang, maka masing-masing akan berkembang sesuai keunggulannya masing-masing," pungkas Haryanto. Hadirnya toko online membuat persaingan bisnis ritel makin sengit. Karenanya, toko konvensional harus menyiapkan strategi agar tidak tergerus di era digital, apa saja?

Seketaris Jenderal Himpunan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (Hippindo) Haryanto Pratantara mengatakan, kehadiran toko online tidak dapat dibendung karena semua itu mengikuti perkembangan teknologi yang pesat. "Toko konvensional tidak bisa berdiam diri. Mereka harus berbenah agar tetap bertahan," kata Haryanto saat berbincang usai acara pengenalan GoToMalls.com di Jakarta, Selasa (21/3/2017).

Adapun caranya adalah dengan membuat toko online juga. Tapi fungsinya bukan sebagai pengganti, melainkan melengkapi toko fisik yang sudah ada. Toko online untuk memberikan kemudahan informasi dan kemudahan pengiriman. Sementara toko offline untuk menghadirkan pengalaman secara langsung.

"Jika konsumen datang ke toko, barang yang dicari tidak ada, bisa diarahkan ke online. Sehingga konsumen punya pilihan dan kemudahan," ujarnya. Dia menyarankan, pemilik ritel bisa membuat toko online sendiri atau bisa bergabung dengan pihak ketiga seperti GoToMalls.com. Dari platform semacam GoToMalls, pemilik toko bisa menitipkan informasi mengenai promo. Dengan demikian, orang tertarik untuk datang ke toko konvensional.

"Ketika mereka datang pastilah tidak hanya melihat barang promo saja. Konsumen pasti melihat barang lainnya. Tinggal staf toko berupaya menginformasikan produk atau promo lain," tutur Haryanto. Karena itu, dirinya menilai staf toko kini punya peran yang amat besar bagi kelangsungan toko. Maka, disarankan untuk mencari staf toko yang kompeten.

"Kalo dulu staf toko hanya bertugas ngambil barang yang dibeli. Kini mereka bertugas menyampaikan berbagai informasi sehingga diharapkan konsumen membeli produk lain selain yang dipromokan," pungkas Haryanto

Kenaikan Harga Saham Emiten Taksi Konvensional Dengan Adanya Tarif Batas Atas dan Bawah Taksi Online

Awal April nanti, masyarakat tidak bisa menikmati lagi tarif murah layanan taksi berbasis online. Pasalnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan memberlakukan 11 poin yang direvisi dalam Peraturan Menteri (Permen) 32 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek.

Dalam Permen tersebut, tarif taksi online akan memiliki tarif batas atas dan batas bawah. Sehingga, selisih tarif antara taksi online dan konvensional tidak akan berbeda banyak. Akibatnya, bisnis transportasi taksi bisa lebih kompetitif dibandingkan sebelumnya. Namun, beleid yang diteken Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi ini tidak membuat harga saham PT Blue Bird Tbk (BIRD) dan PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) naik signfikan. Bahkan, saham Express Transindo mengalami penurunan sejak awal Maret hingga hari ini sebesar 1,19 persen.

Berdasarkan pantauan pada awal Maret harga saham Express Transindo berada di level Rp168 per saham, sedangkan hari ini harga sahamnya ditutup di level Rp166 per saham. Namun, Blue Bird masih beruntung karena mengalami kenaikan tipis sebesar 4,98 persen bila dilihat sejak awal Maret hingga hari ini. Secara rinci, harga saham Blue Bird pada awal bulan masih Rp3.810 per saham dan hari ini berada di level Rp4 ribu per saham.

Bima Setiaji, Analis NH Korindo Securities menjelaskan, saham Blue Bird sendiri sudah naik terlalu tinggi sejak Februari. Pelaku pasar sudah lebih dahulu melakukan akumulasi beli dalam merespons rencana Kemenhub yang akan memberlakukan tarif atas dan tarif bawah pada taksi online. Memang, jika dilihat sejak pada awal Februari harga saham Blue Bird masih berada di level Rp2.900 per saham. Kemudian, harga saham terus tumbuh ke level Rp3.990 pada akhir Februari.

"Jadi, kenaikannya sudah sangat pesat untuk Blue Bird, sebelum berita ini semakin mencuat pelaku pasar sudah banyak melakukan aksi beli. Ini sudah price in, jadi sekarang tidak begitu naik banyak lagi," ucap Bima. Sementara, untuk saham Express Transindo sendiri tidak mengalami perubahan yang besar, bahkan harga sahamnya sepanjang Februari tahun ini bergerak stagnan, di mana harga saham perusahaan pada awal dan akhir tahun Februari sama di level Rp173 per saham.

Artinya, ada perlakuan yang berbeda dari pelaku pasar dalam merespons pemberlakuan tarif atas dan bawah untuk taksi online ini. Bima berpendapat, pelaku pasar masih pesimis dengan kinerja Express Transindo karena memang keuangan perusahaan yang masih rugi pada kuartal III tahun lalu.

"Untuk Express Transindo pelaku pasar masih menunggu laporan keuangan tahunanannya, pasar lebih pesimis dengan Express Transindo," tambah Bima. Meski pergerakan saham Blue Bird terbilang lebih positif dibandingkan Express Transinso, sebenarnya saham Express Transindo terbilang jauh lebih liquid. Untuk hari ini saja, harga penawaran beli atau bid tertinggi saham Express Transindo sebesar Rp165 per saham sebanyak 100 lot. Sementara, harga penawaran jual atau offer-nya yakni Rp167 per saham sebanyak 673 lot.

Bila dibandingkan dengan saham Blue Bird, harga bid tertingginya yakni, Rp3.970 per saham sebanyak satu lot dan harga offer Rp4.000 per saham sebanyak 2.074. "Siklus hariannya untuk Blue Bird sebenarnya tapi kurang menarik. Jika dibandingkan dengan PT PP Tbk (PTPP) yang harga sahamnya tidak jauh beda tapi jumlah penawaran beli dan jualnya bisa puluhan ribu," papar Bima.

Namun, dari sisi keuangannya sendiri, Bima optimis kinerja keuangan Blue Bird bisa positif atau mencatatkan pertumbuhan laba bersih pada 2017 ini. Sementara, untuk Express Transindo diprediksi masih akan negatif atau mencatatkan rugi bersih karena adanya pengurangan armada oleh Express Transindo.

"Kemudian juga dari kerja sama Blue Bird dan Go-Car lebih menguntungkan daripada kerja sama Express Transindo dengan Uber. Selisih tarifnya sedikit kalau Blue Bird jadi tidak merugikan," terangnya.  Sebelumnya, analis Bahana Sekuritas Gregorius Gary menyebut, kerja sama yang dilakukan Blue Bird dengan Go-Car lebih rasional karena subsidi yang diberikan antara 20 persen-50 persen dari tarif normal Rp4.459 per kilometer (km). Sementara, uber memberikan tarif Rp4.032 per km dengan diskon 70 persen.

“Memang kalau kita lihat sekilas seolah-olah pihak Gojek rugi karena memberikan subsidi kepada Blue Bird sebab tarif yang dibayarkan penumpang sebesar tarif yg ada di aplikasi Go-Car, sedangkan untuk kekurangan tarif normal yang diberlakukan taksi Blue Bird Akan dibayarkan pihak Gojek. Namun ternyata angkanya tidak sebesar yang kami perkirakan sebelumnya,” kata Gregorius dalam risetnya belum lama ini.

Melalui kerja sama ini, Bahana Sekuritas memprediksi, pendapatan Blue Bird bisa tumbuh hingga Rp5,3 triliun pada tahun ini dan Rp4,85 triliun pada akhir tahun 2016. Di sisi lain, Bima menilai, kenaikan laba bersih Blue Bird dan Express Transindo tidak akan begitu signfikan perubahannya karena jumlah penumpang taksi saat ini tidak bertambah, sementara jumlah armada taksi terus bertambah dengan adanya taksi online.

Harga saham emiten taksi PT Express Transindo Utama Tbk berhasil tembus ke level Rp200 per saham pada perdagangan hari ini, Senin (19/12), setelah mengumumkan rencana kolaborasi perseroan pada pilot program dengan platform teknologi yang menghubungkan pengemudi dengan penumpang Uber.

Direktur Operasional Express Group Benny Setiawan mengatakan, pilot program tersebut terkait integrasi ride sharing dan program pembiayaan kendaraan di Jakarta. Dengan begitu, mitra pengemudi taksi Express nantinya dapat menggunakan aplikasi Uber untuk menerima pemesanan perjalanan UberX.

"Sebagai salah satu perusahaan taksi terbesar di Indonesia, kami terus mengeksplor cara-cara baru untuk menciptakan nilai bagi para stakeholder (pemegang kepentingan) kami. Melalui kolaborasi bersama Uber, kami harap, pengemudi kami mendapat manfaat dari teknologi ride sharing yang memberikan fleksibilitas dan peluang ekonomi yang lebih," ujarnya, Senin (19/12).

Selanjutnya, melalui kolaborasi ini, emiten berkode TAXI ini juga akan mengembangkan pilihan kendaraan yang baru, di mana para mitra pengemudi dapat mencicil kendaraan dari Express Group tanpa menggunakan atribut taksi.  "Inisiatif ini akan menjadi salah satu dari berbagai penawaran yang tersedia dalam program vehicle solution uber," jelas Benny.

Kolaborasi ini mendapatkan perhatian pelaku pasar hingga harga sahamnya ditutup naik sebesar 34,64 persen atau 53 poin ke level Rp206 per saham. Sementara, harga saham perseroan ini dibuka pada harga Rp160 per saham, dan bergerak dalam rentang harga Rp158-206 per saham.

Menurut analis Recapital Securities Kiswoyo Adi Joe, pelaku pasar mengharapkan kinerja yang membaik dari adanya kolaborasi tersebut. Meski belum tentu dapat mendongkrak kinerja perusahaan tahun depan, tetapi setidaknya ada harapan untuk perbaikan kinerja emiten taksi yang telah melemah belakangan ini.

"Kan taksi Express ini supirnya pada keluar ya. Nah, diharapkan dengan kolaborasi ini supir jadi balik lagi, tapi belum tentu membaik kinerjanya masih lihat dulu," ungkap Kiswoyo. Selain itu, Uber sendiri memiliki produk yang lebih murah bernama Uberpool yang lebih menarik bagi masyarakat karena harganya yang lebih murah. Sehingga, ia belum dapat memprediksi apakah kolaborasi ini bakal membuat fundamental perusahaan taksi membaik.

"Nanti bakal tercerminnya kan baru tiga atau enam bulan lagi, bisnis online ini susah diprediksi," paparnya. Sekadar informasi, Express tercatat menderita rugi sebesar Rp81,8 miliar. Perolehan tersebut berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu yang mampu meraih laba bersih sebesar Rp11,07 miliar. Kondisi ini dipicu oleh penurunan pendapatan 28,95 persen menjadi Rp512,57 miliar dari sebelumnya Rp721,4 miliar.

Analisa Bisnis Tarif Murah Taksi Online

Inovasi, efisiensi dan kreativitas perusahaan taksi online ternyata merupakan salah satu bentuk persaingan tidak sehat dalam bisnis dan pemerintah mengambil langkah memproteksi perusahaan taksi yang kurang inovasi, efisiensi dan kreativitas. Ekonomi biaya tinggipun mulai menghantui industri transportasi darat setelah sebelumnya diberlakukan pada transportasi udara.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bakal mulai mengatur tarif taksi online untuk mengikuti batas atas dan batas bawah pada tanggal 1 April 2017 nanti. Aturan itu pun banyak menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat. Ada yang setuju, banyak juga yang tidak.

Masyarakat menilai, aturan tersebut akan membuat tarif taksi online yang selama ini dinilai murah bakal menjadi mahal. Ngomong-ngomong soal tarif, kenapa taksi online selama ini bisa lebih murah dibanding taksi konvensional?

Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati mengatakan, murahnya tarif taksi online disebabkan dari kreativitas dari pengelola dalam menjalankan bisnisnya. "Mengapa tarif taksi online rendah atau dianggap lebih murah? Ya karena mereka berinovasi. Jadi, penghasilan mereka yang di online, misalnya bisa ditutup dari iklan, dari operator komunikasi, atau mana-mana, nah itu bagian dari kreativitas si pengusaha," kata Enny.

Sementara, Enny melanjutkan, tarif taksi konvensional mahal karena dinilai kurang mengikuti perkembangan pasar. Contohnya di era digitalisasi saat ini. Enny menilai, masih banyak taksi konvensional yang kurang memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini. Seharusnya, kata Enny, taksi konvensional mengikuti alur taksi online yang banyak memiliki inovasi.

"Mestinya yang tradisional itu yang mengikuti. Dan pasti arahnya itu akan ke sana. Jadi bagaimana pun, kebiasaan masyarakat sudah sangat aware terhadap teknologi. Kalau dibiarkan dengan mekanisme pasar, yang tradisional atau yang terbelakang itu akan tersingkir (bila tidak berinovasi). Karena nanti yang menang adalah yang memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat," tutur Enny.

Aturan baru tarif taksi online berdasarkan skema batas atas dan batas bawah bakal berlaku 1 April 2017. Pemberlakuan tarif baru itu dinilai bisa merugikan masyarakat, sebab dari yang sebelumnya relatif murah, tarif taksi online nanti bakal tak jauh beda dengan taksi biasa.

Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati menilai, seharusnya pemerintah perlu memperhatikan berbagai aspek sebelum menurunkan aturan tersebut. Sebab, Enny menilai, dalam membuat aturan tarif itu pemerintah terlalu terburu-buru.

"Karena pemerintah setiap mengeluarkan kebijakan, hanya responsif saja, jadi siapa yang memberikan tekanan, tanpa adanya satu kajian yang komprehensif, sehingga pemerintah enggak punya kesiapan, jadi regulasinya instan, hanya tergantung besaran demonya," kata Enny. Seharusnya, kata Enny, pemerintah perlu melihat dampak dari pemberlakuan aturan tarif taksi online. Jangan hanya melihat dari satu sisi saja.

"Misalnya, bagaimana pengaturan ini dampaknya ke penggunaan kendaraan pribadi? Terus konsumennya bagaimana? Itu harus dipikirkan semua. Tidak hanya memikirkan satu sisi, ketika ada taksi konvensional menurun omzetnya lalu mereka demo, baru (pemerintah) bikin aturan," kata Enny.

Ia pun menilai, bahwa aturan tarif ini tidak perlu dilakukan. Sebab tidak akan berdampak positif kepada siapa pun nantinya, justru hanya merugikan masyarakat pengguna jasa. "(Aturan Tarif) Tidak perlu, karena secara filososi enggak ada penyebab yang diperlukan aturan itu. Kalau diberlakukan malah justru merugikan konsumen. Fungsinya regulator itu, dia harus hadir di mana yang harus diatur, mana yang tidak perlu diatur," tuturnya

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bakal memberlakukan aturan tarif baru kepada taksi online. Aturannya ialah, tarif taksi online bakal mengikuti skema batas atas dan batas bawah. Menurut Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, berlakunya aturan tersebut bisa membuat pengguna jasa taksi online kembali menggunakan kendaraan pribadi.

Sebab, penggunaan tarif batas bawah nantinya ditakurkan bakal sulit dijangkau oleh konsumen. Sehingga, konsumen bakap lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibanding merogoh kocek besar untuk transportasi. "Kalau memang enggak efisien pasti begitu (masyarakat pakai kendaraan pribadi). Misalnya tarif batas bawah ini diberlakukan, batas bawahnya terus menyebabkan transportasi mahal kembali. Itu masyarakat tidak akan beralih ke mobil pribadi," ungkap Enny .

Enny pun mengatakan, bahwa seharusnya pemerintah perlu memikirkan lebih dalam sebelum menerapkan aturan tarif taksi online ini, akan berdampak nantinya. Terutama kepada konsumen. "Misalnya, bagaimana pengaturan ini dampaknya ke penggunaan kendaraan pribadi? Terus konsumennya bagaimana? Itu harus dipikirkan semua. Tidak hanya memikirkan satu sisi," kata Enny

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bakal menyesuaikan tarif taksi online dengan cara penetapan tarif batas atas dan batas bawah. Aturan baru pemerintah mulai berlaku pada 1 April 2017. Ketua Penelitian dan Pengembangan (litbang) Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ, Leksmono Suryo Putranto mengatakan, kebijakan ini telah melalui pertimbangan matang yang dilakukan oleh tim di Kementerian Perhubungan.

"Prinsipnya, apa yang dilakukan Kementerian Perhubungan terkait penyesuaian batas bawah dan batas atas ini adalah agar tidak ada persaingan tidak sehat," tutur dia. Penetapan batas bawah, sambung dia, dimaksudkan agar industri yang baru ini tidak membunuh industri yang lama. "Tidak saling predator," sambung dia.

Sementara, batas atas tarif taksi online juga perlu diatur, karena menurutnya, bila tarif terlalu tinggi ketika permintaan juga tinggi, dikhawatirkan masyarakat akan dirugikan. "Jadi itu pertimbangan pemerintah mengapa batas bawah dan batas atas (taksi online) perlu diatur," tandas dia.

Cara Mengelola Keuangan Setelah Pemerintah Terapkan Aturan Tarif Taksi Online

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah merevisi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 32 Tahun 2016. Salah satu poin dalam beleid tersebut juga akan mengatur batas atas dan bawah tarif taksi online.

Jika aturan tersebut benar akan direalisasikan, maka tarif taksi online akan meningkat. Tentu hal itu akan membebani para pengguna taksi online. Menurut Perencana Keuangan MoneyNLove Planning & Consulting Freddy Pieloor kenaikan tarif taksi online akan merusak manajemen keuangan bagi pengguna taksi online.

"Pastinya akan merusak keseimbangan. Alokasi untuk transportasi itu cukup penting. Kalau meningkat dan mengorbankan pos alokasi lain akan merusak," tuturnya. Freddy menjelaskan, untuk manajemen keuangan pribadi yang ideal, pos pengeluaran yang paling utama adalah sosial, kedua pos untuk membayar utang, ketiga asuransi, keempat masa dengan, kelima transportasi dan terakhir pos untuk hiburan.

"Jadi pos untuk transportasi cukup penting, karena itu untuk bekerja juga untuk mencari pemasukan," imbuhnya. Menurut Freddy porsi pengeluaran untuk transportasi yang ideal sekitar 5-10%. Jika pos pengeluaran trasnportasi membengkak maka harus mengorbankan pos pengeluaran lainnya.

Rencana pengaturan tarif taksi online tentunya menjadi kabar yang tak sedap di kuping bagi para pengguna taksi online. Sebab selama ini mereka kadung nyaman menggunakan taksi online yang tarifnya jauh lebih murah dari taksi biasa. Kini, mereka terpaksa harus mengeluarkan uang lebih jika ingin tetap menggunakan jasa taksi online. Lalu bagaiman cara menyikapinya agar dompet tidak jebol?

Perencana Keuangan MoneyNLove Planning & Consulting Freddy Pieloor menjelaskan, idealnya pos pengeluaran untuk transportasi harian sebesar 5-10% dari total pendapatan sebulan. Jika kenaikan tarif taksi online masih sesuai dengan persentase tersebut berarti dompet Anda masih aman.

"Alokasi biaya tinggal dilihat, katakanlah sudah nyaman menggunakan taksi online. Kalau masih ada anggaran yang kita miliki untuk dapat menikmatinya ya bagus," tuturnya. Namun jika ternyata melebihi persentase tersebut Freddy menyarankan agar menyiapkan strategi. Pertama sikapi dengan mengatur intensitas penggunaan taksi online dengan angkutan umum lainnya.

"Jadi jangan setiap hari naik taksi online. Bisa dikombinasi, mungkin hari ini naik taksi online besok naik angkutan umum. Atau waktu hujan naik taksi online, kalau tidak ujan naik angkutan umum. Atau cari teman yang seperjanan," imbuhnya. Jika tetap ingin naik taksi online setiap saat sesuai kebiasaan, Freddy menyarankan agar mengorbankan pos pengeluaran yang tidak penting, seperti biaya hiburan misalnya biaya sekedar kongkow dengan teman-teman.

"Alokasi itu bisa dikurangi, karena transportasi ini cukup penting karena untuk mencari nafkah," tambahnya. Freddy menjelaskan, untuk manajemen keuangan pribadi yang ideal, pos pengeluaran yang paling utama adalah sosial, kedua pos untuk membayar utang, ketiga asuransi, keempat masa dengan, kelima transportasi dan terkahir pos untuk hiburan.

"Tapi sesungguhnya tidak ada angka yang pasti untuk pos transportasi, tergantung jarak rumah, ketersediaan angkutan umum. Jadi tergantung," tandasnya