Monday, November 24, 2014

Terganjal Konsesi Exxon ... Pembangunan Waduk Jambo Aye Aceh Terkendala

Pembangunan Jatigede di Sumedang, Jawa Barat dinilai sebagai awal serangkaian pembangunan infrastruktur air di Tanah Air. Setelah Waduk Jatigede, pemerintah menargetkan akan menangani pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Waduk Jambo Aye di Aceh. Hal ini disampaikan oleh Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Mudjiadi di Jakarta, Senin (24/11/2014).

"Ada (waduk berkapasitas besar) di Jambo Aye, Aceh. (Kapasitasnya) 1,4 miliar kubik. Besar itu di Aceh," tutur Mudjiadi.

Menurut Mudjiadi, hampir mustahil membangun infrastruktur sekaliber Jatigede di kawasan lain di Pulau Jawa. Namun, kesempatan pembangunan di luar Pulau Jawa masih sangat terbuka. Sebagai perbandingan, Waduk Jatigede yang tengah dinanti penyelesaiannya memiliki ukuran 980 x 160 m3.

Selain untuk mengairi sawah seluas 90.000 hektar, waduk ini juga memasok air baku sebanyak 3.500 liter per detik. Meski prospeknya baik, namun Mudjiadi belum berani menjanjikan pembangunannya. Menurutnya, ada banyak hal yang menjadi pertimbangan teknis dalam membangun PLTA.

"Lagi studi karena di situ (kawasan Jambo Aye) ada juga masalah sosial. Di situ juga masuk konsesi Exxon. Kita kihat konsesinya masih jalan tidak, ada juga hutan lindung. Masih perlu studi lah di sana," pungkasnya.

Pemerintah kembali membahas penuntasan masalah sosial proyek Waduk Jatigede, di Sumedang, Jawa Barat. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (MenPU-Pera), Basuki Hadimuljono mengatakan, secara prinsip semua pihak terkait sudah sepakat mengenai area yang harus ditutup, dan tinggal menunggu Peraturan Presiden (Prespres).

“Kalau Perpresnya saya kira enggak masalah. BPKP sudah opini ke Kejagung. Jadi semua sudah clear. Jadi, ini cuma memastikan Pak Menko saja karena semua dipanggil, Kejagung juga,” kata Basuki kepada wartawan, Kamis (20/11/2014).

Saat ini konstruksi fisik Waduk Jatigede sudah mencapai 99,4 persen. Jika Perpres soal penanggulanan masalah sosial diteken, dia optimistis, Jatigede bisa diairi pada Desember tahun ini.

Asal tahu saja, pemerintah sebelumnya menargetkan Jatigede bisa diairi pada September 2014 lalu. Namun, lantaran Perpres-nya belum diteken oleh Presiden kala itu, maka pengairan pun molor. “Mudah-mudahan bisa Desember (diairi). Ya Perpresnya harus cepat. Karena kalau lewat musim hujan, sayang airnya,” ucap Basuki.

Waduk dengan volume 980x106 meter kubik itu akan dimanfaatkan untuk irigasi seluas 90.000 hektar (Ha), dan untuk air baku 3.500 liter per detik, dengan target layanan Kabupaten Cirebon dan Indramayu.

Selain itu, pemanfaatan Waduk Jatigede juga untuk PLTA berkapasitas 110megawatt, dan untuk pengendalian banjir seluas 14.000 Ha.

Cadangan Air Indonesia dan Konsumsinya Sama Sama Besar

Konsumsi air dan energi terus meningkat, seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia. Padahal, pertumbuhan jumlah air dan produksi energi tidak secepat pertumbuhan konsumsinya.

Mantan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, mengklaim, saat dia menjabat sebagai menteri, pemerintah sudah menaruh perhatian khusus pada pembangunan infrastuktur. Pembangunan tersebut diharapkan akan berujung pada berbagai perbaikan, termasuk peningkatan pasokan air dan energi yang sangat dibutuhkan masyarakat.

"Saya gembira Pak Presiden berencana, paling tidak 25 waduk dan irigasi diperbaiki," ujar Djoko dalam sambutannya di acara Indonesia Water Learning Week, Hotel Sultan Jakarta, Senin (24/11/2014).

Djoko menyampaikan bahwa masalah utama yang dihadapi adalah pola hidup masyarakat cederung boros dalam penggunan air dan energi. Selain itu, penyebaran pasokan air juga tidak merata.

Di satu daerah, pasokan air "dipaksa" untuk mencukupi kebutuhan masyarakat yang berlebihan, namun di daerah lain ketersediaan air begitu minim. "Cadangan air kita nomor lima terbesar di dunia. Sayang, airnya tidak merata, di Jawa dengan NTT berbeda. Ini tantangan para ahli."

Penyebaran yang tidak merata juga terjadi lantaran pembangunan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan air dan energi tidak mudah. Pembangunannya tidak semata membutuhkan biaya, namun juga perbagai pertimbangan lain. Djoko mengatakan, pembangunan fasilitas ini harus sinkron dengan Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Sementara itu, Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Mudjiadi menjelaskan bahwa ada hal teknis lain. Pembuatan bendungan harus melihat topografi wilayah di sekitarnya.

"Untuk menentukan dam (waduk) harus lihat ada cekungan atau tidak. Geologinya bagus atau tidak, kita lihat juga apakah sudah banyak penduduk atau tidak. Kalau di situ sudah berkembang kan masalah sosialnya juga tinggi."

Lebih dari dua ratus bendungan tersebut lebih dari cukup untuk menunjang target penyediaan 35.000 mega watt listrik yang ditargetkan pemerintah.

PT Krakatau Steel Diminta Berperan Aktif Untuk Kurangi Ketergantungan Impor

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) meminta Kementerian Perindustrian mendukung PT Krakatau Steel menyediakan bahan baku untuk industri otomotif. Pasalnya, saat ini, Indonesia memiliki ketergantungan bahan baku komponen otomotif dari negara lain.

"Kami sampaikan kami mohon dukungannya saat ini industri otomotif ini komponennya hampir 95 persen bahan bakunya impor," ujar Ketua Gaikindo Sudirman MR di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (22/11/2014).

Dia menjelaskan, dengan dukungan kepada industri baja nasional, maka diharapkan produksi baja akan meningkat dan mampu mencukupi kebutuhan nasional.

Lebih lanjut, kata Sudirman, jika kebutuhan baja nasional mampu dipenuhi, maka dia yakin ketergantungan Indonesia terhadap barang baku komponen otomotif akan berkurang. Selain itu, pengembangan industri baja nasional juga akan sangat bermanfaat bagi industri otomotif nasional. Pasalnya menurut Sudirman, industri otomotif tidak akan pusing dengan fluktuasi harga baja internasional.

"Kami mendukung sekali bahwa lokalisasi Krakatau Steel itu, jadi kami sangat mendukung sekali kalau itu bisa terealisasi jadi ketergantungan kepada bahan baku luar negeri akan berkurang," kata Sudirman.

Bank Indonesia Keluarkan Uang Bersambung

Bank Indonesia (BI) mulai Senin (24/11/2014) menerbikan uang rupiah khusus dalam bentuk uang bersambung atau tidak terpotong (uncut banknotes) pecahan Rp 100.000 tahun emisi 2014. Ada dua jenis uang khusus yang ditawarkan BI, yaitu isi dua lembar dan empat lembar.

Masyarakat umum dan para kolektor yang berminat bisa memperoleh uang khusus ini di seluruh Kantor BI. Dalam edaran resmi bertanggal 24 November 2014, BI menyatakan bahwa masyarakat bisa datang langsung ke loket kas kantor BI seluruh Indonesia mulai pukul 09.00 sampai 11.30 waktu setempat.

Peminat yang berniat membeli uang khusus wajib mengisi formulir yang telah disediakan dan membayar sejumlah uang. Berikut ini rinciannya. Uncut banknotes untuk lembaran berisi dua lembar dijual dengan harga (setelah pajak) Rp530.000. Sementara, untuk lembaran isi empat lembar dibaderol dengan hra Rp1.060.000 (setelah pajak).

Pembayaran harus dilakukan secara tunai dan pembeli wajib membawa identitas diri. Selain itu, BI juga mengingatkan masyarakat yang ingin memiliki uang rupiah khusus untuk bergegas. Pasalnya, BI hanya menyediakan uang tersebut dalam jumlah terbatas.

"Mengingat jumlah yang diterbitkan terbatas, maka pelayanan akan diberikan berdasarkan prinsip 'pesanan lebih awal akan dilayani lebih dulu' atau first come first serve berdasarkan sistem antrian," ujar pernyataan resmi BI.

Sebagai catatan, BI menyatakan bahwa penjualan uang rupiah khusus bersambung ini merupakan bagian dari program pengembangan numismatika (pengumpulan mata uang). Pengembangan ini disebutkan dalam PBI Nomor 16/14/PBI/2014 tentang Pengeluaran dan Peredaran Uang Rupiah Khusus Pecahan 100.000 Tahun Emisi 2014 dalam Bentuk Uang Rupiah Kertas Bersambung.

Bank Central Asia Kerjasama Dengan Public Bank Berhad Untuk Hadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

Seiring dengan akan diimplementasikannya Masyarakat Ekonomi ASEAN, sejumlah bank asal Malaysia ingin memperkuat jaringannya ke Indonesia. Salah satunya adalah kerja sama antara bank asal Malaysia, Public Bank Berhad, dan Bank Central Asia (BCA) melalui penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU)

Dalam pernyataan tersebut juga disebutkan bahwa kerja sama dilaksanakan sebagai persiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Penandatanganan MoU tersebut dilakukan oleh Direktur BCA Dhalia M Ariotedjo dan Senior Chief Operating Officer Public Bank Berhad Dato’ Chang Kat Kiam.

"Penandatanganan nota kesepahaman ini sebagai persiapan AEC (ASEAN Economy Community) tahun 2015 dan tentunya sejalan dengan komitmen BCA yang senantiasa berupaya untuk terus meningkatkan produk dan layanan yang diberikan kepada nasabahnya. Kita tentunya berharap bisa saling berbagi pengetahuan dan pengalaman yang akan memperkaya kemampuan kedua belah pihak,” ujar Dhalia.

Menurut dia, kerja sama yang baru dijalin ini tidak hanya menguntungkan satu pihak. Kedua pihak yang menjalin kerja sama bisa saling mendukung dan saling mempelajari keunggulan masing-masing, khususnya dalam kaitan kesiapan perbankan menghadapi pasar bebas di kemudian hari.

"Nota kesepahaman ini mencakup berbagai area kerja sama dalam bidang layanan keuangan dan perbankan lintas negara, antara laincustomer referral, financing facilities, termasuk syndicated loan,trade settlements, remittance clearance services, dan area-area bisnis lainnya," tuturnya.

Selepas meneken MoU, BCA dan Public Bank Berhad akan kembali mengadakan pertemuan untuk merumuskan bentuk kerja sama secara teknis.

Sebagai catatan, Public Bank Berhad Malaysia merupakan grup perbankan ketiga terbesar di Malaysia. Bank ini memiliki jaringan 259 kantor cabang di Malaysia. Bank tersebut juga memiliki 126 cabang di luar negeri, mulai dari Hongkong, Tiongkok, Kamboja, Vietnam, Laos, dan Sri Lanka.

Sementara itu, BCA memiliki 1.074 cabang dengan 13 juta rekening nasabah dan 15.254 ATM. Selama sembilan bulan pertama 2014, BCA telah membukukan laba bersih sebesar Rp 12,2 triliun atau meningkat 17,7 persen YoY dari Rp 10,4 triliun.

Crown Group Targetkan Laba Rp 3,5 Triliun

Crown International Holdings, perusahaan properti asal Australia, menargetkan pembelian apartemen mencapai Rp 3,5 triliun. Chief Executive Officer (CEO) Crown Group Iwan Sunito mengatakan pembelian apartemen Crown Group dari negara Asia terus tumbuh. Keuntungan dari pembelian tersebut Rp 2,5 Triliun. "50-60 persen pembeli berasal India, Indonesia, 30 persen sisanya dari Australia, Taiwan dan China," ujar dia saat menggelar jumpa pers Media Luncheon pendirian kantor perwakilan Crown di Restaurant grand Hyatt Hotel Jakarta Jalan MH Thamrin.

Ia menjelaskan, tahun ini Crown Gruop membangun tiga apartemen di Sidney, Australia. Apartemen itu adalah Top Ryde City Living, Viking Crown Waterloo, dan Viking By Crown yang selesai. "Harga apartemen tersebut berkisar Rp 5-8 miliar per unit," ucapnya.

Berkaitan dengan dibangunnya apartemen itu, Crown Group sengaja melakukan kunjungan selama 10 hari di Indonesia untuk menawarkan properti di Sidney untuk para pembeli Indonesia di Surabaya, Medan, dan Jakarta. Selain itu ia juga berencana membuka kantor dan showroom di Indonesia dalam waktu dekat. "Properti residensial di Sidney adalah pilihan yang bijaksana bagi investor yang ingin melihat laba yang tinggi atas investasi mereka. Permintaaan apartemen perumahan di Sidney jauh melebihi pasokan sehingga menarik bagi pembeli di luar negeri,"tutur dia.

Head of Indonesia Sales Crown Group Nugroho Soesanto mengatakan tiga proyek itu akan menjadi perhatian. Misalnya, Viking By Crown yang merupakan apartemen senilai Rp 3 Triliun menetapkan standar baru dalam desain dan kualitas di Sydney. V By Crown menampilkan sekitar 500 unit apartemen mewah dan bergaya resor dengan fasilitas lengkap seperti kolam renang, fasilitas senam, dan fasilitas konferensi.

Adapun Top Ryde City Living merupakan apartemen mewah yang terdiri dari lima tower. Sedangkan Viking By Crown merupakan apartemen dengan sembilan lantai dan berlokasi sekitar 5 kilometer dari pusat Sidney. Adapun Viking Crown Waterloo memiliki 27 lantai yang canggih dan terletak dipusat bisnis Parramatta."Segmen kita adalah level high class. Makanya kami optimistis target penjualan mencapai Rp 3,5 triliun,katanya.

Kepala Eksekutif Crown International Holding Group Iwan Sunito mengatakan membangun properti di Indonesia lebih sulit ketimbang di Australia. Sebab, kata dia, membebaskan tanah untuk membangun properti di Indonesia lebih susah. "Belum ada aturan yang jelas dan banyak sengketa," kata dia di Grand Hyatt, Senin, 24 November 2014.
Menurut Iwan, rumitnya masalah lahan menyebabkan investor takut untuk masuk dalam bisnis properti di Indonesia. Masalah yang lebih menakutkan, kata Iwan, adalah permainan hukum. Dia mengatakan kepemilikan lahan di Indonesia bisa dipermasalahkan meski pengadilan sudah memastikan status hukumnya. "Ada juga yang sengaja dipermasalahkan biar tidak bebas," ujarnya.

Iwan mengatakan masalah semacam itu tidak ditemukan di Australia. Selain proses hukum yang jelas, pengurusan kepemilikan tanah dan pembangunan properti berjalan transparan. Begitu juga dengan beban biaya perizinan yang mudah diketahui nilainya.

Kendati demikian, Iwan mengakui potensi bisnis properti di Indonesia masih terbuka lebar. Dengan pertumbuhan kelas menengah yang signifikan, bisnis properti masih bisa menarik investor. Iwan yang sukses berbisnis properti di Australia kini menggandeng perusahaan properti nasional untuk membangun apartemen seluas 10 hektare. "Lokasinya satu jam dari Jakarta," kata Iwan.

Kepala Divisi Pemasaran dan Penjualan Crown International Holding Group Indonesia, Michael Ginarto, mengatakan minat warga negara Indonesia (WNI) untuk membeli properti residensial di Australia sangat tinggi. Sebagai gambaran, transaksi WNI mencapai 30 persen dari nilai penjualan apartemen Crown Group pada 2012 yang mencapai Rp 2,5 triliun. "Selain tempat tinggal, mereka menjadikan properti di Australia sebagai alat investasi," kata dia dalam diskusi di Menteng Jakarta Pusat, Selasa 28 Mei 2013.

Crown International adalah salah satu pengembang properti asal Australia yang gencar mengincar konsumen di Indonesia. Menurut Michael rata-rata konsumen asal Indonesia membeli apartemen untuk anaknya yang bersekolah di negeri kanguru itu. Kota-kota yang menjadi pilihan diantaranya Melbourne dan Sydney.

Minat konsumen, kata Michael, semakin tinggi setelah pemerintah negara bagian memberi insentif. Pemerintah New South Wales misalnya, memberi bonus sebesar AUS$ 5 ribu untuk setiap unit properti yang dibeli konsumen asing. Namun uang muka sebesar 10 persen langsung masuk kas pemerintah, tidak melalui pengembang. "Karena aman, properti di Australia pun diminati investor," ujarnya.

Crown International menyasar pasar kelas atas dengan rata-rata harga property Rp 3-30 miliar. Michael mengatakan investor asal Indonesia rata-rata membeli rumah atau apartemen seharga Rp 7 miliar. Nilai transaksinya pun cukup tinggi. "Mereka membayar secara tunai dan membeli lebih dari satu unit."

Kepala Eksekutif Crown Group, Iwan Sunito, enargetkan pembelian apartemen pada 2013 mencapai Rp 3,5 Triliun. Dari jumlah itu, 60 persen pembeli berasal India dan Indonesia, selebihnya dari Australia, Taiwan dan Cina.

Profile Iwan Sunito Yang Mampu Menjual Properti Senilai 350 Milyar Dalam 1 Jam

Proyek apartemen Sydney by Crown yang digarap oleh taipan properti berdarah Indonesia, Iwan Sunito, laris diserbu konsumen dalam waktu satu jam. Penjualan yang dilakukan di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, pada Senin, 24 November 2014, itu membukukan angka penjualan hingga Rp 300 miliar. "Dalam waktu satu jam, penjualan di Indonesia laku seratus persen," kata Iwan, Senin, 24 November 2014.

Dia menjual 25 unit apartemen Sydney by Crown untuk pangsa pasar Jakarta. Unit-unit tersebut ditawarkan dengan harga Rp 900 juta-Rp 20 miliar. Menurut Iwan, larisnya penjualan disebabkan oleh membaiknya kondisi ekonomi indonesia. Selain itu, investor mau mendiversifikasi modalnya karena melihat Australia yang ekonominya stabil dan sebagai alternatif tempat pendidikan untuk masa depan. "Lokasinya di pusat jantung kota dan itu memikat selera orang Indonesia membeli properti," katanya.

Dia menuturkan penjualan tersebut adalah rekor yang melampaui ekspektasi perusahaan. "Ini sebetulnya target mereka dalam satu tahun, tapi sudah ludes dalam sejam," katanya.

Country Manager Crown Group Michael Ginarto mengatakan Sydney by Crown juga dipasarkan ke Surabaya dan Bali dengan target masing-masing kurang dari 20 unit. Untuk pasar Australia, stok yang tersisa hanya empat unit. "Hampir habis untuk di Australia," katanya. Dia yakin apartemen senilai Rp 2,5 triliun itu akan terserap habis di Indonesia.

Pengusaha properti Australia berdarah Indonesia, Iwan Sunito kewalahan melayani tingginya permintaan apartemen oleh konsumen asal Indonesia. Dalam penjualan apartemen Sydney by Crown, Senin 24 November 2014, sebanyak 25 unit apartemen yang ditawarkan Iwan laris terjual dalam waktu satu jam.

Saking larisnya, Iwan harus mengambil stok apartemen di Sydney yang semula akan ditawarkan untuk pasar Singapura. Unit yang dijual itu dibanderol dari harga Rp 900 juta hingga Rp 20 miliar.

Iwan Sunito adalah pendiri Crown International Holdings, perusahaan properti asal Australia. Beberapa waktu lalu, Iwan mengatakan bahwa pembelian apartemen Crown Group dari negara Asia terus tumbuh. "Sekitar 50-60 persen pembeli berasal India, Indonesia, 30 persen sisanya dari Australia, Taiwan dan China," ujarnya.

Adapun apartemen Sydney by Crown terletak di kawasan waterfront baru Sydney di Barangaroo. Apartemen ini dirancang oleh arsitek internasional ternama, Koichi Takada, dan dipilih dari puluhan desain kelas dunia dalam sebuah kompetisi desain internasional.