Friday, August 28, 2015

Riak Penurunan Ekonomi China Yang Dirasakan Oleh Ekonomi Dunia

Ekonomi China tengah melambat. Sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, perlambatan di China jadi masalah untuk dunia. Muncul kekhawatiran, perlambatan ekonomi China meluas ke sejumlah negara dan banyak perusahaan di dunia. Dilansir dari CNN, Jumat (28/8/2015), perlambatan ekonomi China akan menular ke perekonomian negara Amerika Latin. Perusahaan-perusahaan di Eropa menghadapi ancaman penurunan penjualan. Bahkan beberapa negara berkembang di Asia tertekan mata uangnya.

Tak hanya itu, perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat (AS) juga terkena dampaknya. China merupakan pasar besar untuk sejumlah negara di dunia. Contoh saja Chili, yang ekonominya cukup kuat beberapa tahun terakhir, namun saat ini ekspornya turun hampir 25% karena perlambatan ekonomi China.

Selain Chili, Brasil, Indonesia, dan Jepang juga memiliki hubungan dagang yang erat dengan China. Jadi negara-negara ini pasti ekspornya terpengaruh nila ekonomi China melambat. Berkurangnya jumlah pembelian barang atau komoditas, membuat harga komoditas juga turun. Chili tahun ini memprediksi ekonominya hanya rumbuh 1,8%. Sementara sejak 2010-2013, ekonomi China tumbuh rata-rata 4%.

Tak hanya negara, perusahaan-perusahaan seperti Ford, BMW, dan Volkswagen juga akan menurun penjualannya karena perlambatan China. Barang-barang bermerek seperti Prada, dan Coach juga akan mengalami hal yang sama.

Kemudian, perusahaan baja asal Australia, Bluescope Steel juga menyatakan satu pabriknya kana tutup karena penurunan permintaan dari China, dan rendahnya harga komoditas. Ini bisa membuat 5.000 karyawan kehilangan pekerjaannya. Apple dan Microsoft, sebagai perusahaan teknologi besar juga akan berpengaruh penjualannya. Penjualan Apple di China menurun sepanjang tahun ini, demikian juga dengan Microsoft.

Karena itu, saat China dengan sengaja mendevaluasi atau melemahkan mata uang yuan, sektor keuangan dunia langsung guncang. Para investor mengambil langkah aman menarik uangnya di pasar keuangan. Ini membuat bursa saham dunia berjatuhan. Namun saat ini sudah mulai normal, terutama pasca pemangkasan suku bunga acuan yang dilakukan oleh bank sentral di China, untuk mendorong perekonomiannya.

Indosat Bukukan Rugi Bersih Rp 733 Miliar dan Rp. 1 Triluin Rugi Selisih Kurs di Semester I 2015

Operator seluler, PT Indosat Tbk (ISAT) mengalami rugi bersih Rp 733,8 miliar sepanjang semester I-2015. Menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang rugi sebesar Rp 1,117 triliun. Kinerja Indosat yang berhasil menekan kerugian ini ditopang pertumbuhan pendapatan perseroan sebanyak 8,7%. Sepanjang semester I-2015, Indosat berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 12,62 triliun, naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 11,613 triliun.

Selain itu, anak usaha perusahaan asal Qatar, Ooredoo ini juga menderita kerugian kurs akibat pelemahan rupiah sebesar Rp 996,5 miliar selama semester pertama. Division Head Investor Communication Indosat Andromeda Tristanto mengatakan, pendapatan dari seluler masih jadi penyumbang terbesar Indosat dengan kontribusi 81%. Disusul pendapatan dari layanan data tetap sebanyak 15%, dan telepon tetap sebesar 4%.

"Selain kenaikan pendapatan, total utang Indosat juga naik sebesar 30,9% dibanding periode yang sama tahun lalu dari Rp 21,6 triliun menjadi Rp 28,28 triliun," jelas Andromeda ditemui di Penang Bistro, Jakarta Pusat. Kenaikan utang, kata Andromeda, terjadi karena perusahaan mengambil kebijakan penarikan fasilitas pinjaman baru untuk persiapan percepatan pelunasan obligasi dalam dolar dan menggantinya ke utang rupiah.

Dari sisi pelanggan, Indosat berhasil menambah sebanyak 13,6 juta langganan baru atau tumbuh sebesar 24,7%. Jumlah pelanggan Indosat hingga akhir semester satu tercatat sebanyak 68,5 juta pelanggan. Sementara, total menara BTS (base tranceiver station) juga bertambah menjadi 42.969 dari tahun lalu di periode yang sama sebanyak 34.556 tower.

Akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), PT Indosat Tbk (ISAT) mencatatkan kerugian selisih kurs sebesar Rp 996,5 miliar sepanjang semester I-2015. Agar kerugian kurs tidak semakin membengkak pada bulan-bulan selanjutnya, operator seluler itu menarik pinjaman baru (refinancing) guna membayar utang obligasi perusahaan yang berdenominasi dolar AS. Selain itu, perusahaan juga mulai mengalihkan utangnya ke rupiah.

"Makanya ada peningkatan utang sebesar Rp 5 triliun dari bulan Maret hingga Juni. Sementara khusus dari utang dalam dolar AS ada kenaikan utang sebesar US$ 280 juta. Dari sebelumnya sebesar US$ 890 juta di Maret, jadi US$ 1,17 miliar pada Juli," jelas Division Head Investor Communication Indosat Andromeda Tristanto ditemui di Penang Bistro, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2015).

Penarikan utang baru pada Juli tersebut, menurut Andromeda, dilakukan untuk melunasi sebagian utang obligasi dalam bentuk dolar AS yang sebenarnya jatuh tempo pada tahun 2020. Hal itu dilakukan dengan mempercepat pelunasan obligasi pada Juli tahun ini lewat call option agar tidak semakin menambah rugi kurs.

"Setelah pelunasan dipercepat untuk utang dalam US dolar pada Juli, jumlah utang Indosat dalam dolar AS turun menjadi US$ 676 juta di Juli dari bulan sebelumnya sebesar US$ 1,17 miliar. Di sisi lain utang dalam rupiah naik dari Rp 12,82 triliun menjadi Rp 14,34 triliun di bulan yang sama," ujar Andromeda.

Selama Agustus, kata Andromeda, anak usaha Ooredoo ini juga berupaya memperkecil utang dolarnya dan terus mencari pinjaman baru dalam kurs rupiah. "Agustus utang dolar kita turun lagi dari US$ 676 juta di Juli menjadi US$ 515 juta per 15 Agustus. Untuk rupiah kita tambah dari sebelumnya Rp 14,34 triliun jadi Rp 15,34 triliun di bulan yang sama," tuturnya.

Pemerintah Impor 22.000 Sapi Indukan Senilai Rp. 1 Triliun Untuk Dibagikan ke Peternak

Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan ada 22.000 ekor sapi indukan tahun ini. Sapi indukan yang diimpor Kementan ini merupakan bagian dari pengadaan 30.000 ekor sapi indukan dari APBN-P 2015. Proses pengadaannya melalui proses lelang mengundang para importir. Dalam APBN-P 2015, Kementan menyiapkan anggaran sebesar Rp 1 triliun untuk pengadaan 30.000 ekor sapi indukan dan 1.200 ekor sapi bibit. Pengadaan ini dilakukan untuk meningkatkan populasi sapi di dalam negeri sehingga suatu saat Indonesia bisa swasembada dan tidak perlu lagi mengimpor sapi lagi.

Bagian dari rencana ini, sebanyak 11.000 ekor sapi indukan dijadwalkan tiba pada akhir Agustus ini. Namun, keterlambatan proses lelang dan administrasi membuat kedatangan sapi indukan tertunda. Diharapkan 11.000 ekor sapi indukan yang dibeli dari Australia bisa tiba pada bulan September.

"(Tertunda) Karena masih pada proses pelelangan, ada proses administrasi untuk perizinan mengangkut sapinya dari Australia ke sini, tapi semua on the track, kemungkinan September sudah bisa datang, kira-kira 11.000 ekor akan masuk," kata Muladno. Meski baru 22.000 ekor sapi saja yang sudah terkontrak, pihaknya yakin dapat mendatangkan 30.000 ekor sapi indukan sampai akhir tahun ini. Nantinya, sapi indukan impor tersebut akan disalurkan ke provinsi-provinsi yang membutuhkan. Sapi-sapi tersebut rencananya dibagikan ke kelompok-kelompok ternak yang sudah biasa mengembangbiakan bibit.

"(Sapi indukan) Akan dibagikan ke banyak provinsi, ke kelompok-kelompok. Untuk verifikasinya kita sudah terjunkan juga sampling, di sana sudah siap atau belum infrastrukturnya," ujarnya.

Selain itu, ada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPDT) juga akan menerima sapi indukan yang diimpor Kementan. UPTD akan diminta mengembangbiakan sapi-sapi indukan itu dan anak-anak sapi yang dihasilkan akan disumbangkan ke kelompok-kelompok ternak yang berada di bawah pendampingan UPTD.

Sebelumnya Bulog sudah mendapatkan penugasan dari pemerintah untuk mengimpor sapi siap potong sebanyak 50.000 ekor untuk 2015. Bulog juga mendapatkan alokasi impor daging beku sebanyak 10.000 ton. Selain itu, pemerintah berencana menerbitkan izin impor sapi bakalan 200.000-300.000 ekor sapi untuk alokasi triwulan IV-2015, untuk kebutuhan triwulan I-2016.

Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya menggenjot impor sapi indukan untuk meningkatkan populasi sapi di dalam negeri. Tanpa impor sapi indukan, swasembada daging sapi sulit tercapai.  Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Muladno Bashar menuturkan bahwa dirinya telah menyampaikan kepada Menko Perekonomian Darmin Nasution agar pemerintah sebisa mungkin mendorong impor sapi indukan. Tahun depan diusulkan ada 500.000 ekor impor sapi indukan, sedangkan tahun ini 30.000 ekor dalam proses pengadaan.

"Kemarin waktu rapat di Kemenko saya sudah katakan ke Menko Pak Darmin (Nasution), kalau mau mempercepat swasembada harus dipercepat juga diperbanyak impor sapi indukannya. Makin banyak, makin cepat juga swasembada," kata Muladno kepada wartawan di Kementerian Pertanian, Jakarta, . Ia membeberkan, tahun depan pemerintah berencana mengimpor sapi indukan hingga 500.000 ekor. Rencana ini dibuat oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk menuju swasembada daging sapi.  "Impor sapi indukan, banyaknya sampai dengan 500.000 menurut hitung-hitungan Bappenas tahun depan," ujarnya.

Muladno menjelaskan, perhitungan tersebut dibuat Bappenas berdasarkan kenyataan di lapangan bahwa banyak sapi betina produktif yang dipotong. Akibatnya terjadi depopulasi sapi dalam beberapa tahun terakhir. Untuk mengembalikan populasi sapi paling tidak pada tingkat populasi yang sama dengan tahun 2011, yakni 14 juta ekor sapi, dibutuhkan sapi indukan sampai 500.000 ekor. "Sekarang ini banyak betina produktif dipotong, untuk bisa kembalikan ke populasi yang nyaman lagi itu menurut Bappenas kira-kira butuh 500.000 ekor," paparnya.

Impor sapi indukan hingga 500.000 ekor tersebut kemungkinan besar akan dilakukan oleh pemerintah melalui Perum Bulog. Sapi indukan yang diimpor direncanakan akan dititipkan di feedloter milik swasta. Sebab, PT Berdikari, BUMN yang bergerak di bidang peternakan, tak memiliki kandang yang cukup besar untuk menampung hingga 500.000 ekor. Sedangkan tahun ini, pengadaan sapi indukan sebanyak 30.000 ekor melibatkan importir swasta.

"Kami mengusulkan kemarin yang mengimpor negara, uangnya pakai APBN, kemungkinan melalui Bulog. Sapinya nanti diwajibkan untuk dipelihara di feedloter swasta, kalau BUMN nanti nggak cukup tempatnya," ungkap Muladno. Namun, pemerintah masih menghitung lagi berapa sapi indukan yang mampu diimpor tahun depan. Pasalnya, anggaran pemerintah terbatas.

"Pak (Menko Perekonomian) Darmin Nasution bilang kalau 500.000 ekor nggak mungkin itu, kebanyakan. Duitnya dari mana, berapa pasnya, nah itu belum dirapatkan. Nanti realisasinya berapa kan tergantung duitnya," katanya.

Cara Mendapatkan Indukan Sapi Ternak Gratis Dari Pemerintah Melalui Skema Plasma

Bisnis mengembangbiakan sapi indukan masih kurang menarik bagi pelaku usaha swasta, karena biaya pemelihaannya yang tinggi. Sapi indukan harus dipelihara selama kurang lebih 3 tahun untuk dapat menghasilkan sapi bibit.  Lamanya waktu pemeliharaan tentu membuat modal yang dikeluarkan tak bisa kembali dalam waktu cepat. Biaya untuk pakan, kandang, vaksin, dan berbagai perawatan lainnya juga tinggi. Untuk itu, pemerintah akan memberikan insentif pembagian sapi indukan kepada peternak yang berminat dengan skema kerjasama.

"Bisnis sapi indukan lama (pengembalian modalnya), 3 tahun kemudian baru bisa menghasilkan sapi yang bisa dipotong," ujar Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Muladno Bashar, saat ditemui di Kantornya, Jakarta,. Pihak swasta yang berminat masuk ke bisnis sapi indukan, pemerintah berencana mengimpor sebanyak-banyaknya sapi indukan dengan dana dari APBN. Namun, untuk pemeliharaannya, pemerintah akan menggandeng feedloter swasta. Tahun ini ada alokasi impor 30.000 sapi indukan dan tahun depan 500.000 ekor.

"Dititipin saja sapinya pemerintah di situ (kandang feedloter swasta), nanti (anak sapi) jantannya diambil (feedloter) suruh jual. Kalau hasilnya (anak sapi) betina diberikan ke peternak kecil," paparnya. Biaya pemeliharaan dan risiko jika sapi indukan mati ditanggung oleh feedloter swasta. Namun, pemerintah juga memberikan insentif kepada feedloter. Jika sapi indukan melahirkan sapi jantan, feedloter boleh memilikinya. Sedangkan jika yang dilahirkan adalah sapi betina tidak boleh disembelih, tapi diberikan pada peternak plasma.

"Dia (feedloter swasta) dapat anakan pejantannya. Betinanya untuk peternak rakyat," ucapnya. Selain itu, feedloter swasta yang memelihara sapi indukan milik pemerintah akan diberi jatah impor sapi bakalan. Semakin banyak sapi indukan yang dipelihara, semakin banyak izin impor yang bisa didapat.

"Kalau memelihara 1 sapi indukan bisa impor 4-5 sapi bakalan, kan fair itu. Yang banyak (memelihara indukan) dapatnya banyak (izin impor sapi bakalan). Dengan kerja sama seperti itu, swasembada bisa terwujud," cetusnya. Muladno mengaku telah membicarakan skema kerjasama ini dengan pihak swasta. Menurutnya, pihak swasta cukup tertarik dengan skema kerjasama ini.

Pihaknya pun akan segera menyiapkan payung hukum untuk kerjasama kemitraan pemeliharaan sapi indukan ini dengan swasta. "Mereka (feedloter swasta) prinsipnya mau. Perlu ada aturan lagi, oke itu ide bagus tinggal tindak lanjuti dengan peraturan," katanya.

Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan anggaran sebesar Rp 1 triliun untuk pengadaan 30.000 ekor sapi indukan dan 1.200 ekor sapi bibit. Pengadaan ini dilakukan untuk meningkatkan populasi sapi di dalam negeri, sehingga suatu saat Indonesia bisa swasembada dan tidak perlu lagi mengimpor sapi lagi.

Sapi indukan yang diimpor tersebut akan disalurkan ke provinsi-provinsi yang membutuhkan dan dibagikan ke kelompok-kelompok ternak yang sudah biasa mengembangbiakan sapi bibit. Agar sapi indukan tersebut tak diselewengkan, Kementan menyiapkan program 'Kemitraan Mulia 52'.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Muladno Bashar menjelaskan, bahwa Kemitraan Mulia 52 adalah kerjasama antara peternak yang mendapat sapi indukan dari pemerintah dengan 'pemodal'. Siapa saja boleh menjadi pemodal asalkan mampu membayar Rp 600.000/bulan selama 52 bulan.

"Ada 'Kemitraan Mulia 52', kerja sama antara peternak yang dapat sapi indukan dengan siapa saja yang mau bermitra," kata Muladno kepada wartawan di Kantornya, Jakarta, Jumat (28/8/2015).

Peternak yang ikut dalam Kemitraan Mulia 52 ini harus anggota dari Sentra Peternak Rakyat (SPR). Kandang untuk sapi indukan akan dibangun oleh pemerintah. "Yang ikut kemitraan itu harus SPR (Sentra Peternakan Rakyat), berarti fasilitas (untuk sapi indukan) tadi difasilitasi pemerintah," ucapnya.

Dia menjelaskan, selama 52 bulan pemodal memberikan uang sebesar Rp 600.000 kepada peternak. Dari Rp 600.000 itu, Rp 400.000 untuk biaya pemeliharaan 2 ekor sapi indukan, dan Rp 200.000 untuk asuransi ternak, tambahan gizi, dan sebagainya. "Selama 52 bulan, pemodal atau mitra memberikan uang kepada peternak rata-rata per bulan Rp 600.000 sebagai tambahan agar tidak jual (sapi) indukan, harus 2 ekor yang dipelihara," ujarnya.

Ketika sapi indukan melahirkan anak sapi, hasilnya dibagi secara proporsional untuk peternak dan pemodal. Dengan adanya berbagai keuntungan dan insentif untuk peternak, diharapkan peternak tak menjual atau menyembelih sapi indukan. "Nanti hasilnya dibagi secara proporsional antara peternak dan pemodal, sehingga dengan demikian sapinya tidak pernah hilang," katanya.

Dari skema kemitraan ini, menurut perhitungan Muladno, peternak dan pemodal bisa mendapatkan keuntungan hingga 1,5 kali dari modal yang dikeluarkannya. "Itu untungnya setara 3x bunga deposito, peternak dapat 1,5 kali dari bunga peternak. Selama 4 tahun, (sapi indukan) 4 kali beranak," ucap Muladno.

Agar sapi indukan terawat dengan baik dan dapat melahirkan sampai 4 kali, para peternak akan didampingi oleh ahli-ahli peternakan dari perguruan tinggi. "Pengetahuan teknologi harus diberikan orang kampus, sehingga setiap tahun diharapkan (sapi indukan) beranak terus," pungkasnya.

BI Minta Masyarakat Tidak Panik Karena Dolar Tembus Rp. 14.000 Lagi

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo meminta masyarakat tidak khawatir berlebihan atas kondisi perekonomian di Tanah Air.  Pasalnya, di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat rencana Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) menaikkan tingkat suku bunga, fundamental ekonomi Indonesia disebutnya masih menunjukkan perkembangan positif.

“Masyarakat mohon tetap tenang, ekonomi kita mengarah ke yang lebih baik,” tutur Agus di Kantor Pusat BI, Jakarta, Jumat (28/8). Agus mencatat sepanjang tahun berjalan, level inflasi Indonesia masih terbilang terkendali. Inflasi Agustus 2015 diprediksi BI hanya akan berada di level 0,3 persen atau lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi Agustus selama lima tahun terakhir. Selanjutnya, defisit transaksi berjalan (current account deficit/ CAD) juga mengecil dari yang sebelumya di kisaran 4 persen PDB pada kuartal II 2014 menjadi di kisaran 2 persen PDB di periode yang sama tahun ini.

“Kami juga melihat neraca perdagangan yang surplus terus dari Januari sampai Juli, itu bagus,” kata Agus. Agus tidak menyangkal nilai tukar rupiah masih tertekan, meskipun pada penutupan perdagangan kemarin sempat ditutup menguat 1,01 persen atau 143 poin ke level Rp 13.990 per dolar AS. “Kalau kita ikuti nilai tukar rupiah, kan nilai tukar rupiah sampai 27 Agustus itu year to date terdepresiasi 12,9 persen. Itu dari 1 Januari sampai 27 Agustus. Kalau tahun sebelumnya (depresiasi rupiah terhadap dolar) satu tahun kan 1,8 persen,” kata Agus.

Namun demikian, Agus menekankan, apabila dibandingkan negara-negara lain depresiasi nilai tukar rupiah masih tergolong rendah. Disebutkannya, depresiasi nilai tukar mata uang Brazil (year to date) terhadap dolar mencapai 33 persen, sedangkan Turki 24 persen, Malaysia 21 persen, dan Afrika Selatan 13 persen.

“Itu artinya mata uang Indonesia dibandingkan dengan mata uang negara-negara itu kita menguat, tetapi kalau rupiah kita dibandingkan dengan dolar kita melemah ke 13 persen,” kata Agus. ak hanya nilai tukar, pasar modal domestik pun juga tertekan. Karena masih tingginya ketidakpastian di pasar, investor cenderung memilih berinvestasi di negara-negara maju seperti Amerika, yang dipercaya memiliki risiko lebih rendah dibandingkan negara berkembang.

“Memang di pasar modal masih ada tekanan karena terjadi capital outflow. Kita juga perhatikan sebetulnya dana dari asing yang masuk ke Indonesia tahun ini masih bagus karena masih masuk kira-kira year to date itu Rp 45 triliun. Tapi kalau setahun yang lalu di periode yang sama kan masuk Rp 150 triliun jadi memang masuknya dana berkurang,” kata Agus.

Meski demikian, Agus yakin pasar akan kembali melirik pasar negara berkembang setelah The Fed memberikan kepastian kenaikan tingkat suku bunga acuannya pada rapat The Federal Open Market Committee (FOMC) September mendatang.

Yang perlu diperhatikan, lanjut Agus, kinerja ekonomi Negeri Paman Sam pada kuartal II tahun ini di luar perkiraan. Dari yang tadinya diperkirakan hanya akan tumbuh 2,7 persen ternyata tumbuh 3,2 persen. Kemudian tingkat pengangguran juga turun dari yang tadinya 277 ribu menjadi 271 ribu didukung oleh kinerja korporasi yang positif.

Selain itu, Agus juga menanggapi positif kebijakan pemerintah China menurunkan tingkat suku bunga dan mendevaluasi nilai tukarnya beberapa waktu. Hal itu memberikan harapan bahwa akan ada perbaikan perekonomian China yang melemah beberapa waktu terakhir. “Nanti ini akan merupakan dorongan bagi perbaikan ekonomi di Indonesia juga karena ekonomi Indonesia banyak terkait dengan ekonomi dunia termasuk dengan ekonomi China,” kata Agus.

Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) sempat menyentuh level Rp 14.000/US$ beberapa hari lalu. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengimbau masyarakat tetap tenang karena pemerintah sedang bekerja menghadapi kondisi ekonomi agar membaik.

Ditemui usai menghadiri peresmian pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Jok‎owi menyampaikan bahwa pemerintah sudah memiliki instrumen kebijakan yang bisa digunakan untuk menghalau dampak tekanan ekonomi tersebut.

"Yang paling penting kita tetap tenang menghadapi setiap masalah. Sudah ada instrumen yang dikeluarkan BI (Bank Indonesia). Banyak juga instrumen yang diatasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Ada kebijakan fiskal oleh pemerintah," kata Jokowi, di Batang, Jawa Tengah, Jumat (28/8/2015). Ia mengatakan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan karena sebenarnya yang mengalami tekanan bukanlah hanya Indonesia. Bahkan banyak negara lain yang juga mengalaminya.

Jokowi memastikan pemerintah akan selalu hadir di tengah masyarakat untuk memastikan berbagai dampak dari pelemahan rupiah ini tidak dirasakan terlalu dalam oleh masyarakat. "Kita harus mengerti, semua negara mengalami ini. Jadi kita harus kejar-kejaran dengan regulasi yang membantu, dan deregulasi yang menghambat. Kita terus menerus melakukan itu dan tak akan berhenti," katanya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution sempat menyindir kalangan investor yang berlebihan merespons gejolak ekonomi di luar negeri berupa langkah Pemerintah China yang melemahkan matau uang Yuannya. Sore ini, dolar ditutup Rp 13.999, atau sedikit menguat dari posisi penutupan kemarin Rp 13.980.

Indonesia Kembali Ekspor Telur Ayam Setelah 10 Tahun Hiatus

Kementerian Pertanian mengungkapkan bahwa Japfa Comfeed, perusahaan peternakan ayam, akan mengekspor 100.000 butir Hatching Eggs (HE) Parent Stock atau telur tetas induk ayam senilai Rp 2,72 miliar ke Myanmar. Pengiriman akan dilakukan dalam 3 tahap sampai akhir tahun, pengapalan pertama dilakukan pada 8 September 2015.

Ekspor telur tetas ayam induk ini merupakan yang pertama semenjak Indonesia terserang Aviant Influenza (AI) alias flu burung pada 2004 lalu. Japfa Comfeed telah menandatangani kontrak ekspor ke Myanmar hingga 2017. "Ini merupakan kegiatan bisnis yang dilakukan Japfa Comfeed dengan mitra bisnisnya di Myanmar," kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Kementan, Muladno Bashar, saat konferensi pers di Kementan, Jakarta, Jumat (28/8/2015).

Muladno menuturkan, ekspor telur tetas ke Myanmar ini cukup berliku prosesnya, perlu penyesuaian regulasi-regulasi diantara kedua negara. Pemerintah, dalam hal ini Kementan, ikut memfasilitasi hingga akhirnya tercapai kesepakatan pengiriman telur tetas ke Myanmar.

"Ini inisiatif swasta, pemerintah memfasilitasi kegiatan tersebut," ucapnya. Pemerintah Myanmar datang ke Indonesia pada 1 Juli 2015 lalu untuk mempelajari langsung sistem manajemen penanggulangan flu burung di Indonesia.  Delegasi yang dipimpin Deputy Minister of Livestock and Rural Development Myanmar, Aunt Myatt Oo, mengakui keberhasilan Indonesia dalam menangani flu burung dan akhirnya membolehkan telur tetas ayam Indonesia masuk ke negaranya

"Sebelumnya ada aturan di Myanmar yang melarang impor HE dari negara yang belum bebas Aviant Influenza (AI). Tapi kita jelaskan bahwa Indonesia berhasil mengatasi AI walau dgn vaksin. Mereka menerima, akhirnya aturan di sana direvisi sehingga Myanmar mau menerima HE dari Indonesia," Muladno menuturkan.

Ke depan, pihaknya akan mendorong lebih banyak perusahaan Indonesia yang mengekspor unggas. Pemerintah akan membantu dari sisi regulasi.  "Regulasi-regulasi yang menghambat, meningkatkan biaya, menyulitkan hubungan kerjasama antar negara kita permudah. Kami bertekat memudahkan semuanya sepanjang itu memberikan manfaat kepada masyarakat," katanya.

Sebagai informasi, potensi produksi DOC Final Stok ayam pedaging Indonesia tahun ini mencapai 3,3 miliar ekor. Sedangkan kebutuhan DOC Final Stokk di dalam negeri hanya 2,44 miliar ekor.  Melimpahnya surplus ayam di dalam negeri ini membuat peternak ayam di dalam negeri merugi dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, pemerintah berupaya mendorong ekspor ayam untuk menyeimbangkan suplai dan kebutuhan di dalam negeri.

BPS : Beras dan Ayam Menjadi Pendorong Inflasi Bulan Agustus

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat potensi kenaikan harga (inflasi) beras sepanjang Agustus 2015 di kisaran 1 hingga 1,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Ekspektasi angka inflasi beras bulanan (month-to-month) tersebut lebih tinggi dibanding Juli lalu yang bersender di angka 0,68 persen.

Kepala BPS Suryamin juga memprediksi bahwa kenaikan harga beras tetap akan menjadi salah satu penyumbang utama inflasi bulanan di bulan Agustus. Kendati demikian, ia mengatakan bahwa inflasi total secara bulanan bisa ditekan karena ditemukan deflasi pada tujuh dari 22 komoditas yang telah dihitung Indeks Harga Konsumen (IHK)nya.

"Beras memang naiknya tidak sampai di kisaran 3 persen, tapi tetap saja itu memberikan share ke angka inflasi bulanan secara total. Tapi nanti inflasi itu akan terdorong ke bawah setelah kami menemukan tujuh komoditas yang mengalami deflasi," ujar Suryamin ketika ditemui di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Kamis malam (27/8).

Ia mengatakan bahwa kenaikan harga beras kali ini tidak masuk dalam kategori mengkhawatirkan mengingat rata-rata inflasi komoditas telah dihitung berada di bawah 2 persen. Namun, ia mengatakan bahwa penghitungan IHK per komoditas ini belum selesai karena masih ada barang atau jasa yang belum dipantau.

"Selain itu, kami juga baru melakukan pemantauan di enam kota besar, sedangkan kota yang kami observasi IHK-nya ada 82 kota. Jadi semua angkanya masih bisa berubah, tapi kami harap angkanya tetap stabil hingga akhir bulan," jelas Suryamin. Sebagai informasi, kenaikan harga beras kadang menjadi salah satu komoditas yang memiliki kontribusi terbesar dalam penghitungan inflasi bulanan sepanjang tahun 2015. Contohnya pada bulan Maret 2015, terdapat kenaikan harga beras sebesar 2,24 persen dan merupakan kontribusi terbesar ketiga penyumbang inflasi bulanan dengan porsi sebesar 0,09 persen.

Namun ada kalanya harga beras juga berhasil menghambat laju inflasi bulanan pada tahun ini. Contohnya pada bulan April 2015, terjadi deflasi harga beras sebesar 4,82 persen dan memiliki bobot 0,82 persen pada perhitungan inflasi secara total yang disebabkan oleh meningkatnya pasokan beras secara nasional.

Bank Indonesia (BI) memprediksi tingkat inflasi Agustus 2015 ada di level 0,3 persen atau terendah untuk rata-rata lima tahun terakhir di periode yang sama. Angka itu lebih rendah dari Agustus 2014 yang mencapai 0,47 persen dan inflasi bulan lalu yang mencapai 0,93 persen.

“Inflasi di survei Minggu keempat kami itu ada di kisaran 0,3 persen,“ tutur Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo di Kantor Pusat BI, Jakarta, Jumat (28/8). Apabila hasil survey yang dilakukan BI terbukti benar, maka level inflasi tahun ke tahun (year on year/yoy) Agustus 2015 diperkirakan mencapai 7,08 persen. Atau lebih rendah dibandingkan inflasi Juli 2015 (yoy) yang berada di angka 7,26 persen.

“Jadi kalau dari 7,26 persen di bulan yang lalu terus turun menjadi 7,08 persen itu adalah satu pencapaian yang baik dan kita harapkan akan terus mengarah ke di bawah 4,5 persen di akhir 2015,” kata Agus. Diungkapkan Agus, komoditas yang memberikan tekanan pada inflasi adalah ayam ras, telur ayam ras, dan beras. Sedangkan deflasi terjadi pada jasa pengangkutan antar daerah dan bawang merah.

“Jadi tentu nanti kita akan melihat bahwa pemerintah akan memberikan perhatian kepada harga daging ayam, telur ayam, maupun beras, dan harga daging sapi,” ujarnya. Menurut Agus, laju inflasi yang rendah merupakan salah satu indikator fundamental ekonomi yang penting. “Jadi kita sambut baik kalau seandainya inflasi bisa 0,3 persen,” kata Agus