Tuesday, September 19, 2017

Industri Retail Banyak Tumbang, Pemerintah Sebut Ekonomi Retail Tumbuh

Sejumlah perusahaan ritel, seperti Matahari, mulai menutup sebagian tokonya. Bahkan perusahaan ritel 7-eleven (sevel) menutup seluruh tokonya di Indonesia. Banyak yang menilai hal itu diakibatkan karena daya beli masyarakat yang tengah lesu. Lantas, apakah hal itu juga berdampak terhadap industri jasa pengiriman barang?

Direktur Komersial PT Citra Van Titipan Kilat (TIKI), Rocky Nagoya, mengungkapkan bila benar daya beli masyarakat tengah mengalami kelesuan maka industri pengiriman barang pasti terkena dampaknya. Namun demikian, Rocky mengaku saat ini kondisi jasa pengiriman barang masih dalam keadaan yang baik.

"More or less pasti ada dampaknya kalau ada daya beli menurun. Karena kalau orang enggak ada duit, dia tidak akan membeli sesuatu. Tapi secara umum saya lihat kalau kurir masih baik-baik saja, demand masih bagus. Karena kita kurirnya, bukan pedagangnya," katanya Rocky di kawasan Jakarta, Selasa (19/9/2017).

Rocky menjelaskan, saat ini transaksi pengiriman barang masih berjalan lancar. Artinya tidak ada penurunan dari sisi permintaan. Hal itu kata Rocky, lantaran bisnis e-commerce atau toko online juga ikut menyumbang transaksi pengiriman barang. "(Transaksk e-commerce) sekitar 30%an. Jadi bisa dibilang 70% konvensional, lalu 30%nya itu dari e-commerce. Tapi sekali lagi memang itu perlu data lebih lanjut, itu memang susah membedakan kalau dia bukan company," katanya.

Menurutnya, saat ini industri e-commerce terus mengalami perkembangan. Oleh sebab itu, industri jasa pengiriman barang tak mengalami dampak dari tutupnya sejumlah toko ritel, atau permasalahan daya beli. "Saya perkirakan pertumbuhan e-commerce di Indonesia ini masih sangat berkembang. Jadi kita nanti tentu mentargetkan diri kita untuk menjadikan perusahaan-perusahaan ini sebagai pilihan utama di masa datang.

"Kalau daya belinya memang e-commerce ini hanya masalah supply dan demand. Jadi ketika ada supply, demand ada, itu bagus. Jadi kalau e-commerce, seperti TIKI ini kita hanya sebagai orang tengah, dimana ketika perusahaan barang ada supply kita akan kirim. Kalau daya beli turun, e-commerce lebih konsen bukan ke daya belinya. Tapi barangnya ada atau tidak," tukasnya

Masalah daya beli lesu bukan isapan jempol. Contohnya terjadi di Pasar Tanah Abang, Jakarta.

Abdul Wahid, seorang supplier alias pemasok sweater ke Tanah Abang mengeluh sudah setahun terakhir permintaan turun. Padahal biasanya pedagang langganan Abdul di Tanah Abang rutin memesan sweater. "Biasanya permintaan itu mengalir. Kalau kita beres, kirim. Tapi sekarang ada istilah tahan dulu Mas, barang masih penuh," ujar Abdul.

Sebelumnya Abdul bisa memasok 5.000 potong sweater per bulan ke Tanah Abang, tapi setahun terakhir pasokannya enggak sampai 1.000 potong. Selain itu, biasanya pedagang langganannya di Tanah Abang langsung membayar setiap ada pengiriman, tapi sekarang justru bon menumpuk. Pedagang belum bisa bayar gara-gara barang dagangannya belum laku.

Alhasil, Abdul kekurangan dana segar untuk menjalankan bisnisnya. Selama ini Abdul mengandalkan uang hasil pembayaran pedagang Tanah untuk memutar roda bisnisnya, termasuk membayar gaji karyawan. Kini dia harus memangkas karyawan dari yang sebelumnya 15 orang menjadi 8 orang. Dari 8 orang itu, ada kalanya dia terpaksa memulangkan sebagian karena tak bisa membayar gaji mereka.

Omzet dagangannya juga turun, dari sebelumnya bisa mencapai Rp 300 juta sebulan, menjadi kurang lebih Rp 50 juta sebulan. "Omzet turun, dapat Rp 50 juta sebulan saja termasuk beruntung," katanya. Bahkan, dalam seminggu terakhir Abdul belum menerima pesanan sweater dari Tanah Abang. "Minggu ini saya belum kirim, pening juga, sedih banget," kata Abdul.

Dia berharap, pemerintah memperhatikan masalah lesunya daya beli ini, khususnya di Pasar Tanah Abang. Sehingga, rantai suplai dan permintaan di Pasar Tanah Abang bisa kembali normal seperti sebelumnya. Sejumlah pusat perbelanjaan modern seperti Ramayana, Hypermart, hingga Matahari banyak menutup gerai ritelnya masing-masing. Hal itu dinilai tidak selaras dengan kondisi makro ekonomi Indonesia yang terus tumbuh.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani, menilai fenomena tutupnya sejumlah gerai pusat perbelanjaan modern tak sejalan dengan kondisi pertumbuhan ekonomi RI.

"Jadi memang ini agak anomali antara data makro dengan mikronya. Kan memang sebetulnya data makronya bagus-bagus saja, ekonomi masih tumbuh walaupun tidak seperti yang direncanakan, tapi tetap tumbuh, lalu dari segi cadangan devisa naik, penurunan suku bunga. Jadi Makronya cukup baik, tapi kenapa mikronya jadi jelek begini? Harusnya kalau makronya bagus, mikronya bagus," kata Hariyadi.

Hariyadi menjelaskan, salah satu penyebabnya masalah tersebut terjadi ialah dari sisi tenaga kerja formal yang mengalami penyusutan. Sehingga daya beli masyarakat di sektor formal tidak terdistribusi secara merata. "Ini terjadi penyusutan tenaga kerja formal, ini signifikan. Jadi orang yang memiliki pekerjaan dengan penghasilan aman kan di pekerja formal, nah selama ini kebijakan kita mengganggu kebijakan formal," kata Hariyadi.

"Sehingga daya beli masyarakat tidak terdistribusi secara merata. Kalau pekerja formal mereka masih punya uang, mereka enggak ada masalah dengan daya beli, tapi perkaranya jumlahnya semakin kecil, nah pekerja non formal itu yang semakin besar," jelas dia.

Dihubungi terpisah Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Rosan Roeslani, menambahkan lesunya industri ritel modern disebabkan oleh tingkat kepercayaan masyarakat dalam melakukan pembelian. Rosan menilai, masyarakat saat ini masih menahan diri untuk berbelanja.

"Ada beberapa hal, salah satunya, bukannya orang enggak punya duit, tapi memang orang enggak spending saja. Duit ada, tapi saya lihat karena psikologis, faktor kepercayaan. Karena pertama, duit di bank meningkat, dana pihak ketiga makin meningkat. Tapi (masyarakat) menahan untuk melakukan pembelian dan misalnya dulu pembelian sekaligus banyak, kalau dulu untuk sebulan, mungkin sekarang untuk seminggu ada beberapa hari, jadi kalau saya melihatnya masalah confident," terangnya.

Industri ritel modern seperti pusat perbelanjaan mulai banyak yang menutup gerainya. Di sisi lain, bisnis belanja online tengah merangkak naik ditandai banyak bermunculannya toko online atau e-commerce di Indonesia. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Rosan Roeslani, mengatakan pesatnya perkembangan toko online memang menjadi salah satu penyebab industri ritel modern menjadi gulung tikar. Namun itu bukanlah faktor utamanya. Sebab, kata Rosan, tren belanja online masih di bawah angka 1% dibanding belanja ritel modern.

Menurutnya, penyebab utama dari lesunya industri ritel modern disebabkan oleh tingkat kepercayaan masyarakat dalam melakukan pembelian. Rosan menilai, masyarakat saat ini masih menahan diri untuk berbelanja, walau pun mereka memiliki dana yang cukup. "Ada beberapa hal, salah satunya, bukannya orang enggak punya duit, tapi memang orang enggak spending saja. Duit ada, tapi saya lihat karena psikologis, faktor kepercayaan. Karena pertama duit di bank meningkat, dana pihak ketiga semakin meningkat," terangnya.

"Tapi (masyarakat) menahan untuk melakukan pembelian dan misalnya dulu pembelian sekaligus banyak, kalau dulu untuk sebulan, mungkin sekarang untuk seminggu ada beberapa hari, jadi kalau saya melihatnya masalah confident," kata Rosan.

Dihubungi terpisah, Ketua Umun Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani, menyebut permasalahan utama lesunya ritel modern adalah karena persoalan tenaga kerja. Dia mengatakan, saat ini kondisi tenaga kerja formal yang mengalami penyusutan. Sehingga daya beli masyarakat di sektor formal tidak terdistribusi secara merata.

"Ini terjadi penyusutan tenaga kerja formal, ini signifikan. Jadi orang yang memiliki pekerjaan dengan penghasilan aman kan di pekerja formal, nah selama ini kebijakan kita mengganggu kebijakan formal," kata Hariyadi.

"Sehingga daya beli masyarakat tidak terdistribusi secara merata. Kalau pekerja formal mereka masih punya uang, mereka enggak ada masalah dengan daya beli, tapi perkaranya jumlahnya semakin kecil, nah pekerja non formal itu yang semakin besar. Sehingga mereka punya daya beli itu menjadi turun," jelas dia.

Sejumlah perusahaan ritel, seperti Matahari, mulai menutup sebagian tokonya. Bahkan perusahaan ritel 7-eleven (sevel) menutup seluruh tokonya di Indonesia. Di sisi lain bisnis toko online atau e-commerce tengah mengalami perkembangan di Indonesia. Menanggapi hal itu Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, menyatakan saat ini kondisi toko online serta offline tak mengalami masalah. Bisnis keduanya sama-sama masih tumbuh.

"Ya (e-commerce) sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tetapi offline juga meningkat, yang online juga meningkat," kata Enggar di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (18/9/2017). Menurutnya, perkembangan bisnis online tak berdampak negatif terhadap kondisi pasar binis offline atau toko ritel. Sebab, kata Enggar, kinerja keuangan dari perusahaan ritel masih dalam keadaan yang positif.

"Lihat saja dia dari yang sudah public listing company, bagaimana kinerjanya, bagaimana rugi labanya, bagaimana dia revenue peningkatannya, year on year-nya lebih baik. Ada satu yang turun karena melakukan efisiensi, tapi laba bersihnya meningkat. Jadi kalau kita lihat dari sisi itu, tidak ada soal," tukasnya.

Menurutnya, tutupnya sejumlah gerai toko ritel hanya dikarenakan adanya efisiensi. Hal itu pun dinilai wajar olehnya, sebab dalam berdagang kondisi pasar kerap mengalami perubahan. "Dalam dagang itu tidak statis, tidak bisa statis dia berdagang. Misalnya di tempat situ sepi, di tempat lain buka. Yang buka itu yang ramai, jadi yang sepi itu tutup," tutur Enggar.

Sektor ritel dalam negeri tengah goyah. Sejumlah toko tutup di tahun ini, dan terakhir adalah tutupnya dua gerai PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) di Pasaraya Blok M dan Manggarai.

Bahkan ada perusahaan rutel yang kolaps, seperti 7-eleven (sevel).

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengaku tengah melakukan kajian mengenai hal ini. Pasalnya, menurutnya jika dilihat dari data-data perpajakan yang ada, kegiatan ekonomi masyarakat Indonesia justru menunjukkan pertumbuhan positif.

"Kita terus melakukan observasi. Kalau dari sisi data-data dari perpajakan kita, menunjukkan adanya kegiatan ekonomi yang positif, bahkan pertumbuhannya lebih baik," kata Sri Mulyani, saat ditemui di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (18/9/2017).

"Namun kalau fakta, adanya perubahan dari para retailer, entah itu dari sisi presence (kehadiran secara fisik) versus kegiatan-kegiatan retailer yang lain, ya kita akan lihat saja di mana letaknya. Apakah ini menunjukkan perubahan dari pola masyarakat berkonsumsi dan lain-lain," tambahnya. Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Sarman Situmorang, menuturkan ada 4 ha yang menyebabkan tutupnya toko ritel di Jakarta.

Pertama soal daya beli masyarakat. Menurut Sarman, ada penurunan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, yang asal usulnya bersumber dari ketidakstabilan perekonomian nasional. Ekonomi hanya mampu tumbuh sekitar 5%.

Kedua adalah soal persaingan antar pusat perbelanjaan yang semakin ketat. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan kawasan properti di wilayah baru.

Ketiga, banyaknya barang-barang atau produk asing yang sejenis, baik secara legal maupun ilegal. Harga yang lebih murah menjadi pilihan bagi konsumen.

Keempat, pasar e-commerce. Berdasarkan data yang didapatkan oleh Sarma baru sekitar 29% atau sekitar 26,3 juta jiwa masyarakat yang menjadi konsumen dalam pasar tersebut (pernah belanja online). Artinya memang belum dianggap sebagai penyebab atas fenomena sekarang, namun harus tetap diantisipasi ke depannya.

Matahari Tutup Dua Gerai Karena Lesunya Ekonomi Retail

Kabar lesunya sektor ritel di Indonesia ramai dibicarakan sejak pertengahan tahun ini. Tandanya adalah, kosongnya toko-toko di Glodok yang dulu dikenal sebagai pusat elektronik. Terakhir, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) menutup 2 gerainya di Pasaraya Blok M dan Manggarai.

PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) akan menutup dua gerainya di kawasan Pasaraya Blok M dan Manggarai pada akhir September ini. Sekretaris Perusahaan Miranti Hadisusilo mengatakan, keputusan ini diambil karena perusahaan menganggap dua gerai tersebut tidak memberikan kontribusi pendapatan signifikan.

"Ditutup karena mall yang sepi sehingga mengakibatkan kinerja kedua gerai tersebut tidak sesuai target manajemen," kata Miranti. Ia menyebut, tutupnya dua gerai itu akan menjadi penutupan pertama yang dilakukan perusahaan tahun ini. Saat ini, perusahaan masih mengoperasikan kedua gerai tersebut dan memberikan diskon hingga 75 persen kepada konsumen guna menghabiskan stok barang.

Kendati ada penutupan gerai, Miranti menegaskan, pihaknya masih optimis dengan kinerja perusahaan dan daya beli masyarakat hingga akhir tahun ini. Terbukti, Matahari Department Store akan menambah tiga gerai baru sampai Desember 2017 nanti. "Kami akan buka satu sampai tiga gerai lagi sampai akhir tahun, satu di Jawa dan dua di luar Jawa. Jadi kami masih optimis," katanya.

Dengan demikian, perusahaan akan memiliki delapan gerai baru jika rencana itu terealisasi. Pasalnya, manajemen telah membuka lima gerai yang berada di Jawa dan Sumatera pada awal tahun ini. Seperti diketahui, penutupan gerai ritel baru-baru ini juga terjadi pada supermarket milik PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS). Ramayana Lestari menutup beberapa gerai supermarketnya karena merugi. Perusahaan memutuskan untuk merenovasi gerai supermarket tersebut menjadi department store.

Adapun, Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menyebut, pertumbuhan industri ritel memang menurun pada paruh pertama tahun ini. 

Aprindo mencatat, ritel hanya tumbuh 3,8 persen, jauh di bawah pertumbuhan pada semester pertama tahun lalu yang mencapai 10,25 persen. 

 Pasca kabar penutupan gerai Matahari di dua tempat sekaligus, saham PT Matahari Department Store Tbk malah melonjak hingga 475 poin atau 4,88 persen pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat (15/9).

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham emiten berkode LPPF itu tercatat berada di level Rp10.200 atau naik dari perdagangan hari sebelumnya Rp9.725, setelah seharian bergerak di rentang cukup lebar yakni Rp9.900-Rp10.250. Volume perdagangan saham entitas grup Lippo itu tercatat sebesar 6,62 juta lembar saham. Adapun, imbal hasil (return) dalam kurun setahun tercatat minus hingga 43,32 persen.

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Miranti Hadisusilo mengatakan akan menutup dua gerainya di kawasan Pasaraya Blok M dan Manggarai pada akhir September ini. keputusan ini diambil karena perusahaan menganggap dua gerai tersebut tidak memberikan kontribusi pendapatan signifikan.

"Ditutup karena mall yang sepi sehingga mengakibatkan kinerja kedua gerai tersebut tidak sesuai target manajemen," kata Miranti. Ia menyebut, tutupnya dua gerai itu akan menjadi penutupan pertama yang dilakukan perusahaan tahun ini. Saat ini, perusahaan masih mengoperasikan kedua gerai tersebut dan memberikan diskon hingga 75 persen kepada konsumen guna menghabiskan stok barang.

Kendati ada penutupan gerai, Miranti menegaskan, pihaknya masih optimis dengan kinerja perusahaan dan daya beli masyarakat hingga akhir tahun ini. Terbukti, Matahari Department Store akan menambah tiga gerai baru sampai Desember 2017 nanti. "Kami akan buka satu sampai tiga gerai lagi sampai akhir tahun, satu di Jawa dan dua di luar Jawa. Jadi kami masih optimis," katanya.

Ada apa dengan ekonomi Indonesia?

Tahun ini sejumlah gerai ritel banyak yang tutup dan bahkan ada perusahaan yang kolaps seperti 7-Eleven (Sevel). Banyak yang menyebut, penutupan toko ritel ini sebagai dampak berkembangnya toko online, yang mengubah pola belanja masyarakat. "Saya sepakat, belanja online memang berkembang pesat. Tapi salah kaprah jika dianggap bahwa anjloknya ritel tahun ini karena pesatnya belanja online," ujar Ekonom Dradjad Wibowo, dalam keterangan tertulis, Sabtu (16/9/2017).

Dradjad menjelaskan? Di Amerika Serikat (AS) yang menjadi kiblat belanja online dunia saja, penjualan ritel tetap bagus. Pada 2016 misalnya, belanja e-commerce di AS tumbuh 15,6%, lebih tinggi dari pertumbuhan 2015 yang 14,6%. Pangsa pasar e-commerce terhadap penjualan ritel di luar otomotif dan bahan bakar minyak juga meningkat pesat dari 9,5% (2014), 10,5% (2015) dan 11,7% (2016).

Pesatnya belanja online tersebut sama sekali tidak merusak penjualan ritel. Pada 2016 penjualan ritel AS tumbuh 3,3%, angka yang tinggi bagi AS. Di 2017 ini pertumbuhannya cenderung berkisar 3,5-4,0%. Mengingat sekitar 2/3 dari perekonomian AS tergantung pada belanja konsumsi rumah tangga, kinerja ritel di atas berperan krusial terhadap kuatnya pertumbuhan ekonomi AS.

Di Inggris pun fenomenanya mirip. Meskipun diwarnai kegaduhan referendum Brexit 23 Juni 2016, penjualan ritel Inggris tetap tumbuh tinggi (untuk ukuran Inggris), yaitu 2%, sama dengan 2015. Tahun ini, karena ketidakpastian negosiasi Brexit, pertumbuhan tersebut mungkin turun ke 1,6%. Lantas, berapa pertumbuhan penjualan online di Inggris tahun 2016? Hampir 16%!

Indonesia memang mencatat pertumbuhan belanja online tertinggi di dunia, rata-rata sekitar 37% per tahun sejak 2013. Tapi ini karena pangsa belanja online di Indonesia masih sangat kecil. Pada 2016, pangsa tersebut baru sekitar 2,2% dari penjualan ritel.

Fakta-fakta di atas membuktikan, perkembangan pesat belanja online tidak otomatis merusak penjualan ritel. Di AS dan Inggris, penjualan ritel tumbuh kira-kira setara dengan laju pertumbuhan ekonominya. Data Indonesia memberi gambaran yang mengkhawatirkan. Di 2015, penjualan ritel tumbuh 8%, jauh di atas pertumbuhan ekonomi sebesar 4,88%.

Pada 2016, penjualan ritel tumbuh 9%, lagi-lagi jauh di atas pertumbuhan ekonomi yang 5,02%. Semester I-2017 ini, data AC Nielsen menyebut penjualan ritel hanya tumbuh 3,7%. Ini di bawah pertumbuhan ekonomi yang mungkin 5% lebih. "Jadi, sumber masalahnya bukan pada belanja online, tapi ada faktor lain yang lebih fundamental," kata Dradjad, yang juga Lektor Kepala Perbanas Institute ini.

Dradjad menduga, konsumen kelas menengah atas memang menahan belanjanya tahun ini. Ia sering mendengar tentang hal ini dari konsumen yang juga pelaku usaha menengah atas di Jakarta. Mereka tidak nyaman dan menunggu, bagaimana pemerintah akan merealisasikan ancaman yang menakutkan mereka terkait amnesti pajak, kartu kredit dan dibukanya rekening bank.

"Ini baru satu dugaan. Mungkin saja ada faktor lain, seperti pelemahan penjualan di beberapa sektor," tutur Dradjad. Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Sarman Simanjorang, menuturkan ada 4 hektar yang menyebabkan tutupnya toko ritel di Jakarta.

Pertama soal daya beli masyarakat. Menurut Sarman ada penurunan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, yang asal usulnya bersumber dari ketidakstabilan perekonomian nasional. Ekonomi hanya mampu tumbuh sekitar 5%. (UMR yang tidak tumbuh banyak)

Kedua adalah soal persaingan antar pusat perbelanjaan yang semakin ketat. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan kawasan properti di wilayah baru.

Ketiga, banyaknya barang-barang atau produk asing yang sejenis, baik secara legal maupun ilegal. Harga yang lebih murah menjadi pilihan bagi konsumen.

Keempat, pasar e-commerce. Berdasarkan data yang didapatkan oleh Sarman baru sekitar 29% atau sekitar 26,3 juta jiwa masyarakat yang menjadi konsumen dalam pasar tersebut. Artinya memang belum dianggap sebagai penyebab atas fenomena sekarang, namun harus tetap diantisipasi ke depannya

Sunday, August 27, 2017

Ramayana Tutup 8 Gerai Karena Merugi

Rencana PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk menutup delapan gerainya, esok hari, Senin (28/8) bukan tanpa alasan. Unit bisnis supermarket jaringan ritel pemilik merek Ramayana, Robinson, serta Cahaya, disebut-sebut merugi. Menilik laporan keuangan perseroan, perolehan laba bersihnya mencapai Rp368,77 miliar per Juni 2017. Realisasi ini tercatat tumbuh 45,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu Rp254,05 miliar.

Kendati mendulang untung, pendapatan penjualan emiten dengan kode RALS ini cuma meningkat 9,79 persen. Yakni, dari Rp3,15 triliun pada semester I 2016 menjadi sebesar Rp3,46 triliun pada periode yang sama tahun ini. Yang patut menjadi perhatian, aset dan liabilitas perseroan tumbuh beriringan sebesar Rp5,82 triliun atau naik 25,3 persen. Utang pihak ketiga dan utang pajak paling membebani kewajiban perseroan.

Sumber menyebut, manajemen terpaksa menyetop operasional delapan gerai divisi supermarket karena merugi. Namun demikian, unit bisnis ini cuma bagian kecil dari kalau dibandingkan dengan unit department store. Rata-rata pekerja di gerai supermarket sekitar tiga orang hingga 21 orang, bergantung skala usaha masing-masing toko. Itu pun, manajemen tak terlalu khawatir, mengingat gerai supermarket yang ditutup akan dialihkan ke unit bisnis fesyen.

Sekretaris Perusahaan Ramayana Setiadi Surya mengatakan, seluruh gerai yang ditutup merupakan bisnis supermarket. "Namun, tidak sepenuhnya ditutup, karena beralih fungsi menjadi department store. Tokonya tetap ada," ujarnya. Sebelumnya, ia menyebutkan, penutupan tidak bersifat permanen. Perseroan berencana melakukan renovasi, sehingga perlu untuk menghentikan operasional dalam satu hingga dua bulan ke depan.

Dalam selebaran yang beredar, Ramayana disebutkan akan menutup delapan gerainya. Yakni, gerai di Banjarmasin, Bulukumba, Gresik, Bogor, Pontianak, sertta Sabang. Sementara, dua gerai lainnya di Surabaya sudah ditutup lebih dulu. "Mohon untuk barang-barang returan dan administrasi diselesaikan sebelum tanggal 27 Agustus 2017 (hari ini) dan semua PO di-cancel (dibatalkan) atau tidak dikirim ke toko tersebut," imbuh Subekti Rudianto, Chief MD M8A - Toiletris Ramayana, dalam selebaran yang beredar.

Masa Pemulihan Industri Ritel
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menuturkan, perlambatan pertumbuhan bisnis ritel sudah terjadi dua tahun terakhir. Omzet pelaku usaha ritel bahkan melorot. "Tetapi, tidak semata-mata karena daya beli. Kami menyadari, peritel butuh rekonsiliasi untuk memenangkan persaingan, misalnya dengan merelokasi toko, renovasi. Pintar-pintar inovasi," terang dia.

Justru, ia menilai, tahun ini merupakan tahun recovery (pemulihan) bagi industri ritel. Pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang relatif terjaga mendukung iklim usaha kondusif, termasuk stimulus fiskal dan moneter, seperti penurunan bunga acuan dari Bank Indonesia. "Kalau bunga acuan turun, 3-4 bulan ke depan bank akan menyesuaikan. Kredit usaha semakin murah, ini dorongan yang sangat kami butuhkan. Kami harapkan, ada dorongan-dorongannya menyusul," pungkasnya.

Industri ritel nasional agaknya ‘batuk-batuk’ di era pertumbuhan ekonomi moderat sekarang ini. Lihatlah sederet kasus peritel, seperti Hypermart yang sibuk berunding memohon kelonggaran bayar dengan pemasoknya, Ramayana yang menutup delapan gerainya, hingga yang paling parah, yaitu 7-Eleven menyetop seluruh operasionalnya.

Banyak ekonom kemudian menunjuk daya beli sebagai biang kerok. Memang, kalau ditelisik, tren daya beli masyarakat melemah dalam tiga tahun terakhir. Indikatornya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat. Data kuartalan Badan Pusat Statistik (BPS) melansir dari 5,59 persen pada kuartal kedua 2014 lalu, menjadi 4,95 persen periode yang sama tahun ini.

Harap maklum, Ekonom Universitas Indonesia Rhenald Kasali mengatakan, ekonomi negara-negara di dunia juga melambat. Ambil contoh, riteler kelas kakap di Amerika Serikat, seperti Macy’s, Kohl’s, Walmart, dan Sears yang menutup ratusan toko mereka karena merugi tahun lalu.

Permasalahannya, apa daya beli jadi satu-satunya alasan riteler meradang?

Rhenald menampik hal itu. Kewajiban bayar Hypermat kepada pemasok yang tertunggak dan penutupan delapan gerai Ramayana, menurutnya, cuma sebagian kecil.  “Toh, tidak ada gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran,” ujarnya.

Pertumbuhan ekonomi kuartal kedua pun boleh dibilang masih bagus, yakni 5,01 persen. Lalu, inflasi relatif terjaga di kisaran 3,88 persen per Juli 2017. Nah, kemudian ‘batuk-batuk’ peritel ini, apa saja penyebabnya? Rhenald menilai, pergeseran penduduk dari kota-kota besar ke pinggiran, perubahan pola belanja masyarakat dari sebelumnya toko fisik (offline) ke toko online, perkembangan teknologi, termasuk peningkatan kelas ekonomi di masyarakat.

Di Jakarta, misalnya, penduduk yang bergeser ke pinggiran tidak lagi membanjiri pertokoan seperti Mangga Dua, Tanah Abang, atau Glodok. Melainkan berbelanja online. Selain karena alasan efisien, harga yang ditawarkan toko online pun lebih bersaing. Teknologi juga telah memudahkan kebutuhan hidup orang banyak. Jangankan untuk belanja grosir, platform transportasi daring bahkan memungkinkan orang untuk memanggil tukang pijat ke rumah, tukang bersih-bersih rumah, atau antar-jemput barang.

Hal ini juga dibenarkan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey. Perlambatan pertumbuhan bisnis ritel diakuinya memang terjadi. Sehingga, banyak dari kalangan peritel yang mengalami penurunan omzet. “Tetapi, tidak semata-mata karena daya beli. Kami menyadari, peritel butuh rekonsiliasi untuk memenangkan persaingan, misalnya dengan merelokasi toko, renovasi, pintar-pintar inovasi lah,” terang dia.

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk sepertinya melihat peluang itu. Makanya, manajemen santai saja dengan rencana perseroan menutup delapan gerainya di beberapa kota pada 28 Agustus nanti. Setiadi Surya, Sekretaris Perusahaan Ramayana mengungkapkan, penutupan tidak bersifat permanen. Melainkan, untuk kebutuhan renovasi dalam satu-dua bulan ke depan. Lagipula, penutupan khusus divisi supermarket.

Ibarat kata, berbenah. Ya, perseroan tengah melakukan pembaruan sejumlah gerai, sekaligus berhitung untung-rugi dan luas gerai. Penutupan dilakukan terhadap gerai supermarket yang dianggap tidak terlalu menguntungkan. “Misalnya, untuk Ramayana di Lampung, luas gerai supermarketnya kami kecilkan. Sementara, Ramayana di Pondok Gede, hanya gerai supermarketnya kami tutup, tetapi toko fesyen tetap ada,” imbuh Setiadi.

Perputaran Roda Ekonomi
Rhenald menegaskan, fenomena riteler gulung tikar belum terjadi di Indonesia. Tidak dalam waktu dekat. Namun, yang patut diperhatikan, perubahan pola belanja masyarakat memang mengarah dari toko offline ke toko online.

Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa belanja online masyarakat mencapai Rp75 triliun di sepanjang tahun lalu. Jika dibagi secara rata-rata pengguna internet yang berbelanja online sebanyak 24,73 juta orang, maka setiap orang belanja uang mereka hanya sebesar Rp 8.200 per hari ke transaksi online dunia maya.

Alasan lain, bejibunnya jumlah wirausaha muda yang tersebar di platform marketplace, seperti Tokopedia, Bukalapak, OLX, Blibli dan Elevania. Wirausaha-wirausaha muda ini disebut-sebut baru muncul beberapa tahun belakangan. "Akhirnya, terjadinya peningkatan kelas ekonomi di masyarakat. Yang biasanya naik motor, mulai menyentuh mobil Low Cost Green Car yang harganya terjangkau. Mereka juga mulai liburan ke luar negeri. Roda ekonomi berputar, pengusaha tua mungkin tak merasakan ini, karena ini giliran wirausaha muda," tutur Rhenald.

Jangan heran, jika Tokopedia misalnya, mampu mencetak penjualan Rp1 triliun per bulan di tahun lalu. Atau Blibli yang sukses meraup pertumbuhan penjualan hingga 200 persen pada momentum ramadan dan lebaran Juni lalu, serta OLX yang kebanjiran hingga 580 ribu calon pembeli mobil bekas dan 550 ribu calon pembeli motor bekas di situsnya.

Supermarket Robinson di Plaza Jambu Dua, Bogor masih terlihat beroperasi meski tengah diterpa isu penutupan. Adapun, supermarket yang merupakan unit usaha dari PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk terlihat tengah direnovasi. Dari pantauan, supermarket itu mengalami perubahan tata letak menjadi lebih sempit dan padat. Renovasi pun dilakukan di tengah supermarket, di mana beberapa pekerja tengah mengelas beberapa benda.

Selain itu, di dekat eskalator, terdapat sebuah papan penanda yang menunjukkan bahwa sedang ada renovasi di gerai tersebut. Seorang penjaga toko yang enggan disebutkan namanya ini menyebut, renovasi telah dilakukan selama beberapa hari. Sayang, ia tak mengetahui kapan renovasi selesai dan apa tujuan renovasi tersebut.

Yang pasti, ia beserta rekan-rekannya masih akan tetap bekerja keesokan harinya dan belum ada informasi soal perumahan sementara akibat renovasi ini. "Masih tetap kerja seperti biasa. Sampai sejauh ini belum ada pengumuman apa-apa," ujarnya. Di samping itu, petugas toko lainnya yang juga tak mau disebut namanya menuturkan, sampai saat ini pihak pengelola toko juga belum memberitahu sampai kapan renovasi itu selesai.

Selain itu, ia pun masih belum tahu apakah ada indikasi penutupan gerai di pusat perbelanjaan tersebut. "Belum tahu (kalau ada info penutupan gerai), karena kami masih bekerja secara normal," paparnya. Sebagai informasi, gerai Supermarket Robinson di Bogor merupakan satu dari enam gerai yang rencananya akan ditutup pada tanggal 29 Agustus 2017 mendatang.

Dalam selebaran yang diterima, manajemen perusahaan menyebut bahwa lima gerai supermarket yang akan ditutup berada di Banjarmasin dengan kode toko R030, Bulukumba R115, Gresik R098, Pontianak R057, dan Sabang R008.

Sekretaris Perusahaan Ramayana Setiadi Surya mengatakan, penutupan dalam surat itu dilakukan untuk merenovasi atau pembaharuan gerai. Sehingga, perusahaan harus menutup gerai tersebut dalam waktu 1-2 bulan. Saat ini, dua gerai di Bogor telah memulai proses renovasi. Sementara enam lainnya menyusul pada akhir bulan Agustus. Sebelum proses renovasi dimulai, proses pengiriman barang dari supplier harus dihentikan terlebih dahulu.

"Ada yang diperbesar, diperkecil. Intinya dipersiapkan selama renovasi ditutup," ungkapnya.

Wednesday, August 23, 2017

Antrean Panjang Diskon 90 Persen Nike Dengan Kartu Kredit ... Bukti Daya Beli Masih Kekar

Iming-iming potongan harga agaknya sukses menggugah minat belanja masyarakat. Tengok saja, antrean mengular di perhelatan Nike Bazaar di pusat perbelanjaan Grand Indonesia yang digelar sejak 21 Agustus hingga 27 Agustus 2017 mendatang. Antrean berjubel dan mengular ternyata tak menyurutkan minat pemburu diskon memadati bazaar Nike di Mall Grand Indonesia. Padahal pada hari pertama bazaar 21 Agustus, sempat terjadi kericuhan akibat berjubelnya pembeli yang merubuhkan rak produk Nike yang ditawarkan.

Seribuan orang ke sana tiap hari hendak membeli sepatu dan perlengkapan merk Nike, karena sedang ada bazar yang digelar dari sampai 27 Agustus 2017 yang menawarkan diskon sampai 90 persen. Namun sepadankah harga diskon yang sampai 200 ribuan dari harga awal 2 jutaan itu dengan usaha antre dan desak-desakan demi mendapatkan sepatu?

Untuk mecari tahu  menyambangi langsung Grand Indonesia. Benar saja, di lantai 5 Grand Indonesia tepatnya di Exhibition Hall banyak orang yang mengantre untuk masuk. Lokasi itu dikelilingi tali-tali pembatas dan pintu masuknya dijaga petugas keamanan. Saat mencoba masuk, salah satu penjaga mengatakan bahwa setiap pengunjung harus terlebih dahulu ke lantai 3A area parkir untuk mendapatkan cap.

Sementara itu, Andike mengaku kaget saat mengetahui dirinya harus mengantre untuk mendapat cap. Sebenarnya ia kemarin sudah bertandang ke mal demi bazaar, tapi apa daya, antrean yang membludak membuat ia harus mengurungkan niat.  "Penasaran, harga Rp2 juta-an jadi Rp800 ribu. Kapan lagi dapat sepatu murah. Diskonnya sampai 90 persen, tapi buat yang pakai kartu kredit," katanya.

Bahkan, pihak penyelenggara, salah satu distributor Nike Air Indonesia mengaku, terperanjat kaget melihat antusiasme masyarakat yang rela antre berjam-jam demi mendapatkan produk sepatu asal Amerika Serikat (AS) tersebut. Kondisi ini berlawanan dengan tren konsumen yang dianggap sedang 'puasa' belanja.

"Kami tidak menyangka pengunjung bakal seramai itu. Begitu kami melihat animo pengunjung seperti itu, sekarang kami atur (sistem kunjungannya)," tutur sumber yang enggan disebutkan namanya, Rabu (23/8). Selama acara berlangsung, penyelenggara menawarkan sekitar 27 ribu produk. Sebagian besar produk adalah sepatu olah raga. Kemudian, kaus, topi, serta perlengkapan olah raga lainnya.

Potongan harga tertinggi yang ditawarkan mencapai 90 persen dari harga normal. Pengunjung bisa mendapatkan diskon tambahan apabila berbelanja dengan kartu kredit besutan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.  "Kisaran harga setelah diskon, paling murah Rp399 ribu dan paling mahal kami ada Rp1,9 juta," katanya.

Berdasarkan pantauan, pengunjung yang ingin masuk ke area bazaar harus mendapatkan stempel terlebih dahulu. Setelah masuk, pengunjung diberikan waktu selama kurang lebih setengah jam untuk memilih produk dan membayar. Bagi pengunjung yang sudah keluar dari area bazaar tidak diperkenankan masuk lagi.

Penyelenggara juga memberlakukan sistem buka tutup dalam memasukkan pengunjung ke area bazaar. Hal ini dilakukan agar kondisi tidak terlalu padat di dalam area bazaar. Yoyok Bagoes (28), salah satu pengunjung bazaar mengaku, tergiur dengan diskon yang ditawarkan. Informasi tersebut diperolehnya dari pesan viral melalui aplikasi Whatsapp. Karenanya, pria yang sehari-hari bekerja sebagai teknisi IT ini rela mengantre dari pukul 10 pagi, ketika mal dibuka, hingga pukul 15 WIB.

"Sebenarnya, saya ingin cari sepatu bola, tetapi tidak ada. Akhirnya, saya beli kaus, celana, dan kaus kaki. Memang murah sih," terang dia. Menurut Yoyok, acara diskon barang bermerek perlu lebih sering dilakukan untuk menarik minat belanja masyarakat. Selain itu, penyelenggaraan acara juga perlu disebar di berbagai tempat.

"Kalau bisa disebar acaranya,tidak hanya di satu tempat. Kalau seperti ini, kasihan yang bawa anak-anak," imbuhnya. Cerita berbeda datang dari Mei (23). Ia lebih memilih untuk menitipkan uang kepada teman dibandingkan harus mengantre. Ia mengaku, tertarik dengan Nike Bazaar. Sebagai anak kuliah, ia merasa harus lebih pintar dalam mengatur keuangan. Salah satu cara, menyiasati uang jajan yang terbatas dengan mengejar diskon.

"Harga asli Nike Air kan lumayan mahal. Di acara ini, harganya lumayan turun," ucapnya.

Sebelumnya, Survei Nielsen melansir, Indonesia menjadi negara paling optimis ketiga di dunia, setelah Filipina dan India. Hal ini tercermin dari meningkatnya Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) di Indonesia, yakni dari 120 poin persentase pada akhir tahun lalu menjadi 121 pada kuartal kedua tahun ini. Sayangnya, persepsi konsumen akan keinginan berbelanja melorot dari 59 ke 57 poin.

Menurut Nielsen, Tingkat Keyakinan Konsumen (TKK) global menunjukkan tren peningkatan, seiring dengan terus tumbuhnya optimisme di banyak negara. TKK ini dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni persepsi konsumen akan prospek lapangan kerja, kondisi keuangan pribadi, termasuk keinginan berbelanja. Semuanya dinilai dalam 12 bulan ke depan.

Ricuhnya bazaar Nike di Grand Indonesia, Jakarta memang sangat disayangkan. Karena tak sabar, para pemburu diskon pun akhirnya menjebol pintu toko.  Kekacauan ini membuat pihak penyelenggara bazaar sepatu ini akhirnya melakukan serangkaian antisipasi soal antrean agar tak terjadi kericuhan.  Demi ketertiban acara bazaar, pihak penyelenggara bazaar sepatu memberlakukan sistem buka-tutup antrean serta pemberian cap pada pengunjung bazaar.

Salah satu staf operasional bazaar, Chims mengatakan sistem cap ini mulai diberlakukan hari ini.  "Hari pertama berjalan normal, kemudian hari kedua ada dorong-dorongan gitu. Baru hari ketiga ada sistem stempel," katanya, di area parkir mal Grand Indonesia, Rabu (23/8).

Selain itu mereka juga melakukan serangkaian antisipasi dengan memperpanjang dan melancarkan alur antrean.  Berdasar pengamatan, ratusan orang rela mengantre di area parkir mobil lantai 5 di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat ini.  Di area parkir ini, mereka mengantre demi mendapat stempel agar dapat mengakses bazaar Nike.

“Hari ini kita sudah berlakukan sistem antrean yang lebih kondusif, jadi (antrean) dimulai dari parkiran jadi orang tidak dorong-dorongan,” kata Dinia, Public Relation Grand Indonesia. Sebelumnya, antrean dimulai dari lantai lima mal tersebut.

Pada Rabu (23/8), Chims menambahkan, jam buka area bazaar kemungkinan hanya sampai pukul 21.00 walau operasional mal hingga pukul 22.00.  "Ini untuk antisipasi sih, takutnya di dalam masih banyak pengunjung, makanya cuma sampai jam 21.00," ucapnya. Dari pengamatan, pengunjung harus mengantre untuk mendapat cap di area parkir mobil lantai 5. Tak tanggung-tanggung, antrean begitu panjang dan mengular di area parkir.

Sejumlah petugas keamanan mal disiagakan untuk menjaga ketertiban antrean.

Terkait pengamanan, public relation Grand Indonesia, Dinia mengungkapkan bahwa petugas keamanan di bazaar ini merupakan gabungan dari petugas keamanan pihak penyelenggara dan juga mal.  Salah satu staf keamanan yang enggan disebutkan namanya menuturkan, antrean sudah ada sejak pukul 06.00 WIB.

Salah satu pengunjung bazaar, Christian Okta mengatakan, dirinya sudah antre sejak pukul 09.00 WIB. Ia rela mengantre demi mendapat sepatu berlabel prestisius dengan harga ‘merakyat’.  "Lagi cari sepatu buat kuliah. Minat sih sama merek lain, tapi ini mumpung diskon sampai 90 persen. Ya mahasiswa, cari yang murah," ujar mahasiswa yang berdomisili di Cipete, Jakarta Selatan ini.

Monday, August 21, 2017

MA Cabut Aturan Pemerintah Tentang Transportasi Taksi Online

Dinilai tidak mendukung demokrasi ekonomi kerakyatan, pengusaha mikro serta ekonomi yang kompetitif yang mengedepankan asas kekeluargaan maka Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek dicabut Mahkamah Agung (MA). Majelis menilai peraturan itu bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi.

MA mencabut 14 pasal dalam Permenhub tersebut. Putusan itu diketok oleh hakim agung Supandi, hakim agung Is Sudaryono, dan hakim agung Hary Djatmiko. Berikut 4 pertimbangan majelis sebagaimana dikutip dari website MA, Selasa (22/8/2017):

1. Angkutan sewa khusus berbasis aplikasi online merupakan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dalam moda transportasi yang menawarkan pelayanan yang lebih baik, jaminan keamanan perjalanan dengan harga yang relatif murah dan tepat waktu.

2. Fakta menunjukkan kehadiran angkutan sewa khusus telah berhasil mengubah bentuk pasar dari monopoli ke persaingan pasar yang kompetitif, dengan memanfaatkan keunggulan pada sisi teknologi untuk bermitra dengan masyarakat pengusaha mikro dan kecil dengan konsep sharing economy yang saling menguntungkan dengan mengedepankan asas kekeluargaan sebagaimana amanat Pasal 33 ayat (1) UUD 1945.

3. Penyusunan regulasi di bidang transportasi berbasis teknologi dan informasi seharusnya didasarkan pada asas musyawarah mufakat yang melibatkan seluruh stakeholder di bidang jasa transportasi sehingga secara bersama dapat menumbuh-kembangkan usaha ekonomi mikro, kecil dan menengah, tanpa meninggalkan asas kekeluargaan.

4. Dalam permohonan keberatan hak uji materiil ini, Mahkamah Agung menilai objek permohonan bertentangan dengan peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi, sebagai berikut:

a. bertentangan dengan Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 dan Pasal 7 UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Karena tidak menumbuhkan dan mengembangkan usaha dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan dan prinsip pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah.

b. bertentangan dengan Pasal 183 ayat (2) UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Jalan Raya, karena penentuan tarif dilakukan berdasarkan tarif batas atas dan batas bawah, atas usulan dari Gubernur/Kepala Badan yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri, dan bukan didasarkan pada kesepakatan antara pengguna jasa (konsumen) dengan perusahaan angkutan sewa khusus.

"Menyatakan pasal:

1. Pasal 5 ayat (1) huruf e.
2. Pasal 19 ayat (2) huruf f dan ayat (3) huruf e.
3. Pasal 20.
4. Pasal 21.
5. Pasal 27 huruf a.
6. Pasal 30 huruf b.
7. Pasal 35 ayat (9) huruf a angka 2 dan ayat (10) huruf a angka 3.
8. Pasal 36 ayat (4) (10) huruf a angka 3.
9.Pasal 43 ayat (3) huruf b angka 1 sub huruf b.
10. Pasal 44 ayat (10) huruf a angka 2 dan ayat (11) huruf a angka 2.
11. Pasal 51 ayat (3), huruf c.
12. Pasal 37 ayat (4) huruf c.
13. Pasal 38 ayat (9) huruf a angka 2
14. Pasal 66 ayat (4)

dalam Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 26 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum tidak dalam Trayek, tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat," putus majelis dalam sidang yang tidak dihadiri para pihak itu.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, Kementerian Perhubungan akan mengkaji putusan Mahkamah Agung (MA) yang memerintahkan sejumlah pasal dalam Peraturan Menteri Perhubunhan (Permenhub) Nomor 26/2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek dicabut.

Ia mengatakan, kementeriannya tidak bisa serta-merta mencabut pasal-pasal yang diperintahkan MA, karena langkah tersebut bisa mengganggu situasi kondusif saat ini. Kemenhub menerima putusan MA tersebut pada Agustus 2017 sehingga baru berlaku efektif pada 1 November 2017.

"Saya masih mempelajari keputusan MA, yang jelas sebagai kementerian apa yang diputuskan oleh MA tetap kami hormati. Namun demikian, karena ini berkaitan dengan masyarakat banyak, kami juga akan mencari jalan keluar agar tidak ada perusahaan yang dirugikan," ujarnya, Senin (21/6).

Ia mengimbau, masyarakat dan operator angkutan online untuk tidak terlalu resah karena efektif putusan MA itu masih tiga bulan. Ia menjelaskan, Kemenhub akan mengambil sikap terbaik yang dapat menjalankan keputusan MA, namun pelaksanaannya tidak menimbulkan gejolak di lapangan.

"Jadi, kami punya waktu untuk mencari jalan keluar," terang dia.

Kemenhub, sambungnya, akan melakukan konsultasi dengan pihak-pihak yang memiliki kompetensi, termasuk dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia terkait dengan putusan MA tersebut. "Kami masih punya waktu sampai 1 November 2017 untuk mengambil sikap yang terbaik. Di satu sisi, kami melaksanakan apa yang menjadi putusan MA. Tapi, pelaksaan putusannya juga tidak menimbulkan gejolak di lapangan," katanya.

Sebelumnya, dalam putusan Mahkamah Agung (MA) Nomor 37 P/HUM/2017 menyatakan bahwa pengemudi online menang di tingkat MA, di mana dalam ajuannya, angkutan sewa khusus berbasis aplikasi online disebut sebagai konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dalam moda transportasi yang menawarkan pelayanan yang lebih baik, jaminan keamanan dan perjalanan dengan harga yang relatif murah dan tepat waktu

Tuesday, August 8, 2017

YLKI Beberkan Modus Pengembang Apartemen

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyebut pelbagai keluhan terkait perumahan memiliki jenis yang beragam, di antaranya pada apartemen. Staf Pengaduan dan Hukum YLKI, Mustafa mengatakan berbagai keluhan itu ditemukan mulai dari proses penawaran, pembangunan, hingga pengelolaan.

Pengaduan soal pemasaran, kata Mustafa, terkait dengan janji-janji atau iklan di brosur yang tidak dipenuhi oleh pengembang. "Janji-janji yang enggak ditepati, jual mimpi, itu poin penting dari sisi penawaran," kata Mustafa. Salah satu contohnya, kata Mustafa adalah kasus komika Acho yang dijanjikan oleh pengembang adanya ruang terbuka hijau. Namun, lanjutnya, bukan ruang terbuka hijau yang didapatkan tetapi justru ruang terbuka beton.

"Hal-hal seperti itu sudah terjadi banyak, wanprestasi kemudian janji-janji enggak ditepati, jual mimpi, itu poin penting dalam sisi penawaran". Diketahui, kasus konsumen kembali mencuat usai komika Acho dijerat pasal pencemaran nama baik melalui Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Hal itu terkait dengan kritik yang disampaikanya melalui blog mengenai fasilitas di Apartemen Green Pramuka.

Terkait hal itu, YLKI juga menyatakan apa yang disampaikan oleh Acho tidak keliru. Lembaga itu justru mengecam kriminalisasi komika tersebut. Soal pembangunan, lanjut Mustafa, hal itu berkaitan dengan pembangunan yang tidak sesuai dengan waktu yang dijanjikan. Selain itu juga keterlambatan serah terima unit dari pengembang kepada konsumen.

Keterlambatan tersebut menurut Mustafa sangat merugikan konsumen. Hal ini karena pengembang tidak langsung memberikan kompensasi kepada konsumen. Kompensasi baru dibayarkan enam bulan dari tanggal keterlambatan. Aturan soal kompensasi tersebut, kata Mustafa sudah ada dalam perjanjian dan konsumen menjadi pihak yang dirugikan.

"Dalam perjanjian dibuat seperti itu, itu enggak seimbang, sangat enggak adil, enggak bisa dinego," ujarnya.

Data aduan YLKI menyebut setidaknya aduan tentang pembangunan ada 39,84 persen dari 123 aduan perumahan. Sementara itu, terkait dengan pengelolaan, Mustafa menyebut sering kali pengembang melalukan intervensi dalam pengelolaan, misalnya pengelolaan apartemen.

Data aduan YLKI menyebut ada 17,89 persen dari 123 aduan tentang pengelolaan yang diterima YLKI. Menurut Mustafa, dalam jangka waktu satu tahun setelah serah terima unit dan konsumen sudah mendapatkan bukti, misalnya sertifikat, harusnya dibentuk perhimpunan pemilik dan penghuni satuan rumah susun (P3SRS).

Fungsinya, melakukan musyawarah dan perundingan untuk menentukan pihak yang akan mengelola apartemen. Pengembang, kata Mustafa, sering kali melakukan intervensi dalam pembentukan P3SRS dengan berbagai modus. Misalnya dengan menghalang-halangi pembentukan P3SRS dengan alasan seluruh unit belum terjual. Modus lainnya, dengan menempatkan orang dalam P3SRS.

Daya Beli Masyarakat Bawah Sudah Habis

Perekonomian Indonesia yang sebesar 5,01% pada kuartal II-2017 belum menunjukkan terjadinya penguatan daya beli masyarakat, meskipun konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh tipis dari 4,94% menjadi 4,95%. Momen Lebaran di Juni tahun ini harusnya menjadi ajang masyarakat belanja lebih besar dari hari biasanya. Namun konsumsi masyarakat saat Lebaran ternyata tak sesuai harapan.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai, tumbuh tipisnya konsumsi rumah tangga karena daya beli masyarakat kelas bawah sudah benar-benar tidak ada, ditambah lagi masyarakat kelas menengah ke atas yang cenderung menahan konsumsinya, dan memilih menabung. Dan ini terjadi akibat kecilnya kenaikan UMR (yang dibatasi sedikit diatas inflasi) sehingga tidak ada meningkatkan daya beli secara signifikan serta membuat masyarakat takut membelanjakan uangnya.

"Kelas menengah bawah itu enggak punya daya beli, sudah kering, jadi begini sebetulnya yang kelas menengah atas tentunya tidak masalah dengan daya beli, mereka karena masalah punya kepercayaan situasi seperti apa, itu yang membuat menjadi menahan belanja, sedangkan di bawah itu yang kemarin saya bilang sektor formalnya menyusut banget," kata Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani.

Penilaian Apindo soal pelemahan daya beli di kelas menengah ke bawah berdasarkan data laporan dari pelaku usaha ritel yang merupakan anggota Apindo. "Jadi saya bukan ingin berdebat, tapi saya ingin menyampaikan fakta saja, faktanya seperti ini, kalau saya lihat BPS ini mau menutup-nutupi padahal semua sudah tahu seperti ini, dan ini harus dicarikan solusi, tapi poinnya makin hari makin susah kita bisnis," jelas dia.

Lanjut Hariyadi, daya beli masyarakat yang lesu ini juga dampak dari langkah para pelaku usaha dalam menyesuaikan kondisi perekonomian nasional yang masih dibayang-bayangi ketidakpastian global, serta beberapa isu perpolitikan di dalam negeri yang dianggap memiliki risiko, bahkan penyesuaian dari kebijakan-kebijakan yang diterapkan pemerintah.

Dengan kondisi yang seperti ini, kata Hariyadi, maka pelaku usaha enggan mengucurkan dananya atau investasinya untuk meningkatkan produksi, justru sebaliknya produksi dikurangi bersamaan dengan pemangkasan tenaga kerja, dengan begitu maka penghasilan masyarakat mengalami penyusutan yang membuat daya beli melemah.

"Kita ini bisnis, manakala ditekan otomatis perusahaan akan survive, akhirnya kita potong-potong biaya, dengan kebijakan yang semakin menyulitkan itu membuat orang kepercayaannya tidak ada, kepercayaannya enggak ada dan melakukan perampingan, tidak ada ekspansi, ya bubarlah ekonomi ini," tambah dia.

Dia juga menganggap, fenomena lesunya daya beli masyarakat tidak ditanggapi dengan cermat oleh beberapa jajaran menteri kebinet kerja yang notabene berasal dari kalangan pengusaha. Seharusnya, pemerintah pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan pengusaha dapat bekerja sama dengan baik dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh Korea Selatan, Jepang, Taiwan, di mana pemerintah dan pengusahanya bersatu untuk memakmurkan negaranya.

Menteri-menteri ini banyak yang pengusaha, tapi entah bagaimana setelah jadi menteri kok kayak tutup mata, kami itu kadang-kadang puyeng juga sebenarnya bagaimana sih, kalau negara lain itukan antara si pemerintah dan pengusahanya kompak bener, kalau di sini itu enggak pengusaha, apalagi kaum pekerja sektor swasta dan informal itu dianggapnya sapi perah, ini yang terjadi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati angkat bicara soal pertumbuhan ekonomi 5,01% di kuartal II-2017 atau setara dengan kuartal sebelumnya. Menurut Sri Mulyani ada sisi baik sekaligus sisi yang perlu diperhatikan dengan sangat serius. "Pertumbuhan ekonomi kuartal II ada hal yang positif dan ada hal yang perlu kami perhatikan serius," ungkap Sri Mulyani di Hotel Hyatt, Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Dari sisi investasi yang tergambar dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh cukup bagus dengan capaian 5,35%. Kemudian ekspor sedikit melambat 3,36% dan impor 0,55%. Konsumsi pemerintah negatif 1,93% dan konsumsi rumah tangga hanya naik sedikit menjadi 4,95%. "Konsumsi rumah tangga 4,95% itu dekat sekali dengan 5%, kami di satu sisi harus lihat itu positif dan tetap hati-hati karena konsumsi rumah tangga itu berdampak paling besar dari sisi permintaan ke PDB," jelasnya.

Sri Mulyani menyadari adanya pengaruh inflasi yang lebih tingi dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya terhadap konsumsi rumah tangga. Khususnya untuk masyarakat dengan pendapatan kelas menengah ke bawah. "Kami perlu perhatikan sesuai inflasi yang terjadi memang lebih tinggi dibanding tahun lalu, maka itu menekan kuartal II," imbuhnya.

Kesalahan yang sempat terjadi adalah keterlambatan penyaluran bantuan sosial seperti rastra kepada masyarakat kelas bawah, akibat perubahan mekanisme dari tunai menjadi non tunai. "Eksekusinya memang agak terlambat tapi itu bisa meningkatkan kapasitas masyarakat terutama untuk kelas bawah untuk bisa mendapatkan momentum untuk meningkatkan konsumsinya," terang Sri Mulyani.

Segala kekurangan yang terjadi pada kuartal II akan segera diperbaiki oleh pemerintah. Termasuk memberikan keyakinan kepada kelompok menengah ke atas agar tetap belanja seperti biasanya. Target pemerintah 2017 ekonomi tumbuh 5,2%. "Di (kelompok) menengah kami harap growth itu bisa memberikan confident yang bisa meningkatkan keinginan untuk berinvestasi dan konsumsi," pungkasnya.

Menko Perekonomian, Darmin Nasution, mengakui adanya perlambatan daya beli masyarakat bila dibandingkan dengan kondisi dua tahun yang lalu. Sekarang, pada kuartal II-2017 daya beli yang tergambar dari konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,95%. "Dibanding dua tahun lalu mungkin sedikit melambat," ungkap Darmin, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Alasannya, kata Darmin yaitu perlambatan ekonomi secara global yang kemudian berimbas kepada situasi nasional. Salah satunya harga komoditas yang anjlok, sehingga memukul ekspor Indonesia yang selama ini bergantung pada batu bara dan Crude Palm Oil (CPO).

"Dua tahun lalu ekspor impor sedang merosot," imbuhnya.

Banyak masyarakat yang kemudian mengalami penurunan penghasilan akibat penurunan ekspor. Maka dari itu daya beli juga tidak bisa setinggi dulu, sekitar 2009 hingga 2012.  Kuartal I-2017 adalah titik terendah dari penurunan daya beli dengan realisasi pertumbuhan 4,94%. Periode sekarang kembali ada kenaikan meskipun tidak terlalu tinggi. Darmin tidak sepakat bila daya beli disebut melambat dibandingkan kuartal sebelumnya.

"Sedikit, tapi naik. Jadi jangan bilang melambat," kata Darmin.

Darmin memaparkan, Lebaran memberikan efek positif terhadap ekonomi nasional. Akan tetapi aktivitas belanja lebih banyak dilakukan masyarakat pasca Lebaran. Sehingga dalam hitungan Badan Pusat Statistik (BPS), belanja masuk ke kuartal III-2017. "Pas orang siap-siap mau lebaran di tahun ini, datanya dikumpulkan. Dia mau pulang kampung, dia mau ngapain, maka dia simpan dulu duitnya. Masa dia belanjakan pas dia mau pulang. Dia kan mau gaya juga di kampung," terangnya.

Maka dari itu ada kenaikan dana pihak ketiga (DPK) di perbankan. Analisa tersebut, kata Darmin, akan dijawab sempurna ketika penjualan ritel selama Juli 2017 diumumkan. "Jadi supaya persoalan itu clear, melambat atau tidak, sebagian sudah tergambar dari data PDB," tandasnya.