Monday, May 8, 2017

Daya Beli Berkurang, Industri Minuman Ringan Lesu

Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) mencatat pertumbuhan volume penjualan industri minuman ringan sepanjang kuartal I 2017 melambat empat persen apabila dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Daya beli masyarakat yang semakin melemah karena kenaikan upah yang minim disertai dengan kenaikan harga barang ditengarai menjadi biang keladinya.

Ketua Umum Asrim Triyono Prijosoesilo mengungkapkan, pertumbuhan industri minuman sangat bergantung pada daya beli masyarakat. Terlebih, elastisitas permintaan minuman ringan sangat tinggi. Dengan kata lain, pengeluaran masyarakat untuk minuman ringan turun drastis jika daya beli masyarakat kurang darah.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), di mana kontribusi konsumsi masyarakat terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 56,95 persen. Angka ini tercatat susut jika dibandingkan periode yang sama tahun kemarin sebesar 57,7 persen.

"Memang, pengeluaran masyarakat untuk minuman ringan hanya 1,8 persen-2 persen dari pengeluaran rumah tangga. Namun, begitu harga barang-barang naik, masyarakat langsung mengalihkan konsumsi yang tadinya untuk minuman ringan ke hal lain yang lebih penting. Kalau pertumbuhan konsumsi masyarakat jatuh, industri juga tertimpa," ujarnya, Senin (8/5).

Ia mengatakan, penurunan pertumbuhan ini merata di sub-sektor industri yang terdiri dari Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), minuman berkarbonasi, minuman teh dalam kemasan, dan minuman sari buah. Di antara semua sub-sektor tersebut, pelemahan utama terdapat di minuman berkarbonasi dengan pelemahan sebesar lebih dari 15 persen.

Meski demikian, minuman jenis isotonik dan berbahan susu dinilai masih mencatat pertumbuhan positif hingga 15 persen. "Pelemahan penjualan ini terjadi tak hanya di penjualan eceran biasa, namun juga ritel-ritel modern. Kami dapat laporan dari ritel bahwa terjadi penurunan permintaan juga," imbuh Triyono.

Selain karena daya beli, Triyono menuturkan, lesunya penjualan minuman ringan juga diakibatkan karena buruknya persepsi konsumen akan minuman ringan. Banyak sekali kampanye-kampanye negatif yang berseliweran sepanjang kuartal I kemarin. Ambil contoh, kampanye media sosial terkait penggunaan gula rafinasi yang berdampak obesitas. Selain itu, terdapat pula anggapan bahwa minumam kopi kemasan hanya menggunakan sedikit unsur kopi.

"Banyak isu-isu yang beredar dan perlu dikaji aspek ilmiahnya. Tentu saja, persepsi seperti ini sangat memengaruhi tingkah laku konsumen," jelasnya. Dengan demikian, ia masih khawatir, pertumbuhan industri hingga akhir tahun nanti akan melanjutkan tren penurunan dan sulit kembali ke angka pertumbuhan dua digit seperti tahun 2010 silam.

Sebagai informasi, pertumbuhan industri minuman ringan sempat memuncak pada 2009 dengan angka 15,44 persen. Lalu, angka itu menurun ke posisi 10,91 persen satu tahun setelahnya dan 9,56 persen pada 2011. Angkanya terus menciut hingga 7,5 persen pada akhir tahun lalu.

Makanya, ia meminta pemerintah agar tidak mengimplementasikan kebijakan yang berdampak buruk bagi konsumsi masyarakat, seperti wacana pengenaan cukai bagi minuman berpemanis. "Kami akan analisa kembali faktor apalagi yang menekan angka pertumbuhan ini. Karena pasti yang menyebabkan penurunan pertumbuhan ini multifaktor," pungkasnya

Ekonomi China Melambat, Sektor Pertambangan Kembali Terjun Bebas

Indeks sektor tambang turun tajam sepanjang pekan lalu hingga 7,3 persen ke level 1.417,505. Sebelumnya, indeks sektor tambang masih berada di level 1.529,120 atau menguat 0,12 persen.  Salah satu faktor yang menggerogoti sektor tambang adalah penurunan Purchasing Manager's Index (PMI) sektor manufaktur China pada April ke level 51,2 dibandingkan bulan sebelumnya, yakni 51,8.

Setelah data PMI manufaktur di China tersebut terbit, pelaku pasar mulai berspekulasi terhadap pertumbuhan ekonomi China yang diperediksi melambat pada bulan ini. Apabila hal itu terjadi, maka akan memengaruhi tingkat permintaan batu bara dari China.

Pelaku pasar ikut merespons kondisi ini dengan melakukan aksi jual atau mengambil keuntungan (profit taking) pada beberapa saham emiten berbasis batu bara, seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

Jangan heran, harga saham tiga emiten itu terkulai lemas sepanjang pekan lalu. Bila dibandingkan, harga saham Adaro Energy terkoreksi cukup dalam hingga 9,3 persen. Diikuti oleh Bukit Asam yang melorot 6,88 persen, dan Indo Tambangraya melemah tipis 1,2 persen. "Penggunaan batu bara di China kan tertinggi, dan permintaan dari China juga masih yang tertinggi. Pasar khawatir permintaan turun jika ekonomi China melemah," ujar Direktur Investasi Saran Mandiri, Hans Kwee.

Selain itu, pernyataan pejabat The Federal Reserve (Fed) yang optimis dengan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) akan membaik memengaruhi penguatan dolar AS turut menjadi sentimen negatif bagi indeks sektor tambang. "Itu kan membuat dolar AS menguat, komoditas kan diperdagangkan dengan dollar AS. Kalau mata uangnya meningkat, maka harga komoditasnya (batu bara) akan turun," imbuh Hans.

Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra menyebutkan, harga batu bara pada perdagangan akhir pekan lalu sekitar US$75 per metrik ton hingga US$78 per metrik ton. Pelemahan harga komoditas batu bara ini juga mendorong sebagian pelaku pasar menjual asetnya di emiten batu bara. "Harga batu bara dibawah US$80 per metrik ton, itu agak negatif untuk emiten batu bara," tegas Aditya.

Dengan demikian, pelaku pasar melakukan perpindahan aset ke saham emiten lain yang dinilai lebih menguntungkan, misalnya ke sektor barang dan konsumsi memanfaatkan momentum jelang ramadan dan lebaran. "Ada perubahan portofolio investasi juga. Kebetulan jelang ramadan ini biasanya ada permintaan lebih untuk sektor barang dan konsumsi jadi penjualan meningkat," tutur dia.

Aditya berpendapat, sektor batu bara memang tidak memiliki sentimen positif sepanjang pekan lalu. Sehingga, pelaku pasar enggan melakukan aksi beli terhadap emiten batu bara. Kendati terperosok dalam, Hans menilai, pelemahan harga saham emiten batu bara hanya bersifat jangka pendek.

Terlebih lagi, janji Presiden AS Donald Trump yang akan meningkatkan penggunaan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik juga akan menjadi sentimen positif tambahan bagi sektor batu bara. "Jadi, ini bagus, saat ada kekhawatiran pertumbuhan ekonomi Tiongkok menurun," imbuh Hans.

Meski kemungkinan besar sektor batu bara tidak akan mencapai harga tertingginya di atas level US$100 metrik per ton seperti tahun lalu, tetapi harga batu bara akan menanjak dari posisi terakhir.  Bahkan, ia memberikan rekomendasi beli (buy) untuk emiten batu bara pada pekan ini. Menurutnya, pelaku pasar perlu memanfaatkan momentum pelemahan harga saham emiten batu bara untuk melakukan akumulasi beli.

"Direkomendasikan beli bila ada pelemahan harga saham," katanya.

Aditya juga memberikan rekomendasi beli pada sektor barang dan konsumsi, khususnya PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Artinya, indeks sektor konsumsi dan barang berpeluang melanjutkan penguatannya pada pekan ini. Sekadar informasi, indeks sektor barang dan konsumsi menjadi primadona pada perdagangan pasar modal sepanjang pekan lalu dengan penguatan 2,05 persen ke level 2.483,574.

"Harga saham Ramayana Lestari, Indofood CBP, dan Unilever Indonesia naik pekan lalu dan akan terus naik pekan ini," pungkasnya.

Laba Industri Multifinance Kuartal I 2017 Jeblok Karena Kredit Macet

Laba industri perusahaan pembiayaan (multifinance) tumbuh tipis 1,3 persen secara tahunan pada kuartal I 2017. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat laba bersih multifinance hingga akhir Maret 2017 sebesar Rp3,10 triliun dari periode yang sama tahun lalu, yaitu Rp3,06 triliun.

Raihan ini boleh dibilang menurun dibandingkan akhir Maret tahun lalu, dimana labanya melonjak 12,89 persen dari sebelumnya Rp2,71 triliun. Jika dirinci, perlambatan pertumbuhan laba diakibatkan oleh peningkatan beban yang melampaui kenaikan pendapatan.

Tercatat, sepanjang tiga bulan pertama tahun lalu, beban industri pembiayaan naik 6,78 persen menjadi Rp19,04 triliun. Peningkatan beban dipicu oleh membengkaknya beban operasional akibat kenaikan beban depresiasi 13,94 persen, beban tenaga kerja 12,94 persen, termasuk beban bunga 1,87 persen.

Sementara, pendapatan industri sepanjang Januari-Maret 2017 hanya mencapai Rp23,66 triliun atau tumbuh 7,5 persen dari capaian periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp22,01 triliun.  Adapun, kontributor pendapatan terbesar berasal dari pendapatan bunga, imbal jasa atau bagi hasil pembiayaan multiguna yang mencapai Rp12,75 triliun.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pembiayaan Indonesia (APPI) Jodjana Jody mengungkapkan, perusahaan pembiayaan masih mendapatkan tekanan dari tingginya rasio pembiayaan bermasalah (nonperforming financing/NPF). Jodjana merinci, NPF tahun lalu mencapai 3,2 persen atau naik dua kali lipat dari 2015 yang hanya 1,51 persen. Kenaikan tersebut akibat perekonomian yang belum membaik. 

Di sisi lain, banyak debitur yang memaksakan kredit karena tertarik dengan paket produk pembiayaan dengan uang muka (DP) rendah. "Jika ekonomi tumbuh pesat, mungkin tekanan NPF bisa dikurangi," kata Jodjana. Buruknya kualitas pembiayaan, sambung dia, mengakibatkan banyak pelaku industri yang merekrut tambahan tenaga penagihan (collection). Konsekuensinya, biaya pelatihan juga naik untuk menjamin kualitas tenaga penagihan tersebut.

Tak ayal, terjadi kenaikan beban tenaga kerja selama tiga bulan pertama tahun ini menjadi Rp Rp4,22 triliun. Khusus untuk Group Astra Credit Companies (ACC Group), Jodjana selaku Direktur Utama ACC menjelaskan, pembiayaan yang digelontorkannya sepanjang kuartal I cenderung datar (flat) dari sisi unit dengan pertumbuhan hanya 0,3 persen.

Kendati demikian, secara nilai, pembiayaannya tercatat naik 15 persen, yaitu dari Rp6,3 triliun pada kuartal I 2016 menjadi sebesar Rp7,3 triliun pada periode yang sama tahun ini. Pertumbuhan ditopang oleh tambahan bisnis pembiayaan modal kerja. "Ke depan, kami akan tetap memperhatikan kualitas booking (pembiayaan), mengingat NPF industri masih tinggi," terang dia.

Industri Perbankan Tumbuh Paling Pesat Dengan Setoran Pajak Tembus Rp 50 Triliun

D irektorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat kenaikan setoran pajak dari sektor industri jasa keuangan, termasuk asuransi pada empat bulan pertama tahun ini. Per 27 April 2017, DJP membukukan industri jasa keuangan dan asuransi menyumbang Rp50,76 triliun atau berkontribusi sekitar 16,19 persen terhadap penerimaan pajak.

Capaian tersebut lebih tinggi jika dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu, yaitu sebesar Rp42,99 triliun atau meningkat 3,1 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Direktur Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan Pajak Yon Arsal mengungkapkan, kontributor terbesar penerimaan pajak dari sektor jasa keuangan dan asuransi berasal dari pembayaran pajak penghasilan (PPh) Pasal 25/29 badan atas profit yang diperoleh sepanjang tahun lalu.

"Artinya, profit bank-bank tahun lalu besar, sehingga membayar PPh 25/29 badannya besar," ujarnya. Padahal, tahun lalu, bank-bank melakukan upaya konsolidasi keuangan. Namun demikian, industri perbankan sukses mengerek perolehan labanya.

PT Bank Central Asia Tbk, misalnya, memperoleh laba bersih sebesar Rp20,6 triliun pada 2016 lalu atau naik 14,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 9,3 persen. Selanjutnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mencetak pertumbuhan laba hingga 25,1 persen menjadi Rp11,34 triliun atau melesat dari realisasi tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 15,9 persen.

Kemudian, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memperoleh laba sebesar Rp25,8 triliun. Kendati demikian, pertumbuhan laba tersebut melambat dari 2015 silam yang tumbuh empat persen menjadi Rp25,2 triliun. Secara umum, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba bank umum tahun lalu tumbuh sebesar 1,8 persen menjadi Rp106,54 triliun. Meskipun kenaikannya tipis, kinerja tersebut bisa dibilang membaik. Pasalnya, sepanjang 2015, laba industri bank umum justru menciut 6,7 persen dari Rp112,16 triliun menjadi hanya Rp104,63 triliun.

Sektor Informal Serap Angkatan Kerja Terbanyak

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2017 sebanyak 5,33 juta orang atau turun 0,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 5,5 juta orang.

Penurunan jumlah pengangguran ini sejalan dengan peningkatan angkatan kerja di Februari 2017 yang meningkat 4,87 persen menjadi 131,55 juta orang dari semula 125,44 juta orang pada Agustus 2016. Apabila dibandingkan dengan Februari 2016, jumlah angkatan kerja meningkat 3,04 persen, dari sebelumnya 127,67 juta orang.

Penurunan jumlah pengangguran dan meningkatnya angkatan kerja terjadi lantaran geliat lapangan kerja di sektor informal (bekerja kurang dari 8 jam per hari dan tidak tetap) meningkat. Pada saat yang sama, jumlah pekerja di sektor formal justru menurun 0,75 persen.

"Pada Februari 2017, pekerja informal sebesar 58,35 persen. Jadi, sebagian besar pekerja terserap di sektor informal, sedangkan sektor formal hanya 41,65 persen," ujarnya, Jumat (5/5).  Secara rinci, jumlah pekerja di sektor informal mencapai 72,67 juta orang. Sedangkan, di sektor formal, jumlah pekerjanya turun dari 50,21 juta orang menjadi 51,87 juta orang pada Februari 2017.

Disinyalir, penurunan pekerja di sektor formal lantaran banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan perusahaan. Hanya saja, gelombang PHK terkompensasi dengan peningkatan lapangan kerja di sektor informal.

"Bisa saja PHK meningkat, tapi daya serap sektor ekonomi juga meningkat. PHK terjadi di sektor formal, tapi daya serap sektor informal tadi terlihat meningkat tajam. Jadi, angka pengangguran otomatis terdorong untuk turun," terang dia. Lebih lanjut ia menjelaskan, penyerapan jumlah pekerja yang lebih tinggi di sektor informal banyak masuk ke sektor perdagangan dan jasa kemasyarakatan, di mana sektor ini mengalami pertumbuhan jumlah pekerja 0,83 persen dan 0,39 persen. Diikuti industri 0,19 persen serta listrik, gas, dan air 0,04 persen.

Hal ini juga tergambar dari jenis pekerjaan menurut status pekerjaan utama, yakni kelompok pekerja keluarga meningkat 0,84 persen, kelompok berusaha sendiri 0,65 persen dan kelompok berusaha dibantu buruh tidak tetap 0,66 persen.  "Pekerja keluarga meningkat cukup tajam dari 13,83 persen ke 14,58 persen. Jadi, di sini ada peningkatan status pekerja keluarga selama setahun ke belakang," imbuh Ketjuk, sapaan akrab Suhariyanto.

Sementara, untuk sektor lain justru mengalami penurunan, misalnya sektor konstruksi turun 0,99 persen, transportasi 0,17 persen, keuangan 0,1 persen, dan pertambangan 0,15 persen.

Minimnya Kenaikan Gaji Sebabkan Ekonomi Hanya Tumbuh 5,01 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, rata-rata upah buruh/karyawan/pegawai dalam waktu satu bulan per Februari 2017 sebesar Rp 2,70 juta. Hal tersebut diungkapkan Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantornya, Jakarta, Jumat (5/5/2017). "Rata-rata upah buruh sebulan pada Februari 2017 sebesar Rp 2,70 juta," kata Kecuk.

Untuk rata-rata upah buruh tertinggi berada pada sektor listrik, gas dan air yang per bulannya sebesar Rp 4,43 juta. Sedangkan yang paling rendah didapatkan buruh sektor pertanian dengan besaran Rp 1,75 juta.

"Lalu rata-rata upah tertinggi itu di sektor listrik, gas dan air, dan paling rendah dis ektor pertanian dengan Rp 1,75 juta," jelas Kecuk. Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, lanjut Kecuk, hampir di seluruh sektor jenis kelamin laki-laki masih mendapatkan upah yang paling besar dibandingkan dengan perempuan.

Dia mencontohkan, seperti pada sektor pertanian. Upah yang diterima laki-laki sebesar Rp 1,93 juta per bulan, upah yang diterima perempuan setiap bulannya sebesar Rp 1,14 juta "Secara rata-rata upah buruh laki-laki lebih tinggi dibandingkan rata-rata upah buruh perempuan yaitu Rp 2,95 juta per bulan, dan perempuan Rp 2,27 juta," tutupnya.

Ekonomi tumbuh cukup tinggi selama kuartal I-2017 (Januari-Maret), yaitu sebesar 5,01%. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama, akan tetapi bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ada perlambatan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa konsumsi rumah tangga kuartal I-2016 adalah 4,97%. Sementara sekarang hanya 4,93%. Ini menandakan bahwa orang Indonesia makin irit belanja.

Penyebab utama ternyata berasal dari gaji yang naik tidak sebesar periode sebelumnya. Tergambar dari periode 2016 ada kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 12,43%, sementara untuk periode sekarang hanya 9,15%. "Pendapatan, kita juga kena di situ, memang kuartal I kita tak terlalu banyak perubahan, karena UMP nggak begitu banyak naik," ungkap Deputi Bidang Neraca Analisis Statistik, Sri Soelistyowati di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Jumat (5/5/2017).

Masih terkait gaji, hal lain yang cukup signifikan membuat konsumsi rumah tangga melambat adalah tidak adanya kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) akibat perubahan skema oleh pemerintah. Andilnya untuk sekarang tidak mencapai level 1%. "PNS itu kan nggak ada kenaikan gaji, sementara tahun lalu ada, lebih dari 5%," ujarnya.

Kemudian juga ada penurunan upah riil buruh tani. Adanya panen raya membuat harga gabah turun, upah riil buruh tani akhirnya terkontraksi 0,53%, nilai tukar petani juga sama terkontraksi 1,60%. "Jadi efeknya cukup besar untuk konsumsi," tandasnya.

Program Gemar Menabung Berhasil Sebabkan Ekonomi Indonesia Melambat

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2017 mencapai 5,01%. Angka tersebut ditopang oleh sisi pengeluaran, salah satunya konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,93%.  Namun, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal I-2017 tersebut tidak setinggi periode yang sama di tahun sebelumnya, yakni 4,97%.

Menteri Perekonomian Darmin Nasution sendiri mengaku heran kenapa konsumsi tak bisa tumbuh lebih tinggi lagi. Padahal harga komoditas yang membaik, harusnya bisa memacu penambahan penghasilan yang membawa orang lebih banyak berbelanja.

"Saya sendiri, justru yang namanya konsumsi rumah tangga (yang tinggi), makanya saya tadinya prediksi 5,1% kan. Karena setelah membaiknya harga karet, sawit, mestinya penghasilan naik. Tapi ya ternyata survei BPS tidak tergambar dalam konsumsi," kata Darmin ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (5/5/2017). "Ya enggak tahu hubungannya apa dengan APBN, atau apa. Atau memang dari kalangan ritel ada informasi bahwa konsumsi rumah tangga itu melemah. Tadinya bisa 5-5,1% sekarang dia 4,9%-an. Jadi memang agak sedikit melambat," tambahnya.

Meski demikian, Darmin mengaku cukup optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun nanti bisa melampaui target yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017, yakni sebesar 5,1%.  Dengan membaiknya harga komoditas dan tumbuh baiknya sektor pertanian, menurut dia menjadi awal yang positif ekonomi masih bisa tumbuh lebih baik lagi hingga akhir tahun. Termasuk dorongan dari realisasi belanja pemerintah.

"Jadi yang agak rendah tapi masih tumbuh itu memang pengeluaran pemerintah. Kalau yang lain masih oke. Tapi bagi saya ini perkembangan bagus. Pertumbuhan tahun ini sih akan di atas APBN. Kayaknya ini harusnya 5,2% sampai 5,4%," pungkasnya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2017 mencapai 5,01%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di 2016 yang sebesar 4,92%. Angka tersebut ditopang oleh sisi pengeluaran, salah satunya konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,93%.

Namun, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal I-2017 tersebut tidak setinggi periode yang sama di tahun sebelumnya, yakni 4,97%. "Konsumsi rumah tangga lebih rendah dibanding kuartal I-2016 adalah 4,97%. Karena penjualan ritel 4,2% di kuartal I melambat untuk kelompok makanan, minuman, tembakau dan alat rumah tangga," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Kecuk Suhariyanto, dalam konferensi pers di Kantornya, Jakarta, Jumat (5/5/2017).

Mengapa pengeluaran konsumsi rumah tangga kuartal I-2017 melambat?

Dorongan pendapatan kelas menengah dan bawah mengalami perlambatan, seperti Upah Minimum Provinsi (UMP) tumbuh hanya 9,15% dari tahun sebelumnya yang tumbuh 12,43%. Begitu juga panen raya untuk harga gabah turun, begitu juga upah riil buruh tani terkontraksi 0,53%, nilai tukar petani juga sama terkontraksi 1,60%.

Dari posisi pinjaman konsumsi, untuk kredit konsumsi dari perbankan juga melambat di kuartal I-2017 menjadi 8,75%. Begitu juga dengan pembiayaan multiguna yang terkontraksi negatif 9,07%. Selanjutnya, di sektor posisi tabungan untuk tabungan rumah tangga mengalami penguatan dari 4,27% di kuartal I-2016 menjadi 9,14% di kuartal I-2017.

Untuk konsumsi barang mewah kelas atas juga mengalami perlambatan. Dilihat dari pembelian barang mewah yang terkontraksi 21,39% dari yang sebelumnya berada di level 8,80%. Begitu juga dengan pembelian mobil dengan CC di atas 1.500 cc yang mengalami perlambatan 3,77% dari kuartal I-2016 yang tumbuh 14,76%.

"Dorongan pendapatan kelas menengah dan bawah serta konsumsi barang mewah kelas atas yang terindikasi melambat, menyebabkan konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2017 tumbuh melambat dibandingkan triwulan I-2016," tutupnya