Tuesday, June 28, 2016

Tax Amnesty UMKM Dengan Kekayaan 10 Milyar Terkena Tarif Tebusan 0,5% dan 2%

Panitia Kerja (Panja) Rancangan Undang-Undang Pengampunan Pajak menyepakati dua skema tarif tebusan amnesti pajak bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, yakni 0,5 persen dan 2 persen dari nilai aset. Besaran tarif itu menyesuaikan dengan nilai aset dari UMKM.

Dalam rapat kerja Komisi XI DPR yang baru saja digelar, DPR dan pemerintah menyepakati dua skema tarif dan dua kriteria UMKM, dengan pendapatan kurang dari Rp4,8 miliar per tahun, berdasarkan aset terkait dengan Rancangan Undang-Undang Pengampunan Pajak.  Kategori pertama, UMKM dengan nilai aset kurang dari Rp10 miliar bisa mengajukan permohonan amnesti pajak, dengan syarat membayar uang tebusan sebesar 0,5 persen dari total aset yang dilaporkan.

Tarifnya menjadi lebih besar, yakni 2 persen, bagi pelaku UMKM yang memiliki aset lebih dari Rp10 miliar.  "Tarif tebusan aset UMKM itu selama masa berlakunya UU (Tax Amnesty) ini," tutur Supriyatno, Ketua Panja RUU Tax Amnesty sekaligus anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Gerindra, Senin(27/6).

Menurutnya, tarif tebusan bagi UMKM itu lebih rendah jika dibandingkan dengan tarif normal yang dikenakan bagi para pengemplang pajak,baik yang hanya mendeklarasikan harta maupun yang merepatriasi asetnya. Kesepakatan tarif tersebut dibuat guna membantu UMKM yang ingin memanfaatkan tax amnesty. "Kita kan membantu UMKM supaya UMKM yang kesulitan bisa repatriasi aset," ujarnya.

Sebelumnya, Tim Perumus RUU Pengampunan Pajak menyepakati tarif tebusan secara berjenjang, menyesuaikan dengan periode pengajuan permohonan amnesti pajak. Untuk wajib pajak yang hanya melaporkan kekayaannya (deklarasi) dikenakan tarif 4 persen untuk periode pelaporan tiga bulan pertama. Tarifnya naik menjadi 6 persen untuk kuartal kedua dan menjadi 10 persen jika permohonan diajukan pada tiga bulan terakhir.

Lalu bagi pemohon tax amnesty yang melakukan deklarasi sekaligus repatriasi aset, Tim Perumus menyepakati tarif sebesar 2 persen untuk masa pengajuan di kuartal pertama. Tarifnya naik masing-masing menjadi 3 persen dan 5 persen untuk periode pengajuan tax amnesty kuartal II dan III. Lembaga kajian kebijakan Para Syndicate menyatakan kebijakan tax amnesty atau pengampunan pajak harus menjadi kerangka kepentingan nasional yang lebih besar, yakni membangun reformasi perpajakan.

"Harus ada kerangka kepentingan nasional yang lebih besar untuk membangun reformasi perpajakan, dan membangun sistem Undang-undang perpajakan yang berkeadilan dan memiliki kepastian hukum," ujar Ari Nurcahyo, Direktur Eksekutif PARA Syndicate, Minggu (19/6).

Menurut Ari, pihaknya tidak pro maupun kontra, sejauh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dapat melaksanakan dan menjamin terkait kebijakan tax amnesty tersebut. "Karena apakah presiden bisa menerapkan sistem blusukan dalam pelaksanaan tax amnesty nantinya, ketika pembangunan infrastruktur, seperti pelabuhan dan jalan tol presiden bisa melakukan blusukan untuk memastikan apakah prosesnya berjalan sesuai dengan arahan dan pentahapan," tuturnya.

Ia juga mengajak semua pihak bersama-sama mengkritisi kebijakan tax amnesty yang diharapkan bukan menjadi ajang pemutihan pajak dan juga bukan membuka potensi terhadap skandal keuangan. "Karena, kami berharap ke depan pembangunan masih bisa berjalan dan kita masih tetap mencintai demokrasi yang sudah dibangun susah payah yang bertujuan mensejahterakan rakyat," ucap Ari.

Pemerintah memperkirakan, wajib pajak yang mendaftar kebijakan pengampunan pajak akan mendeklarasikan asetnya di luar negeri hingga Rp4.000 triliun, dengan kemungkinan dana repatriasi yang masuk mencapai kisaran Rp1.000 triliun dan uang tebusan untuk penerimaan pajak Rp160 triliun.

Menurut rencana, kebijakan pengampunan pajak akan dilaksanakan pada 1 Juli 2016, seusai pembahasan RUU Pengampunan Pajak, yang saat ini berada dalam tahapan rapat panitia kerja (Panja) pemerintah dengan DPR RI. Selain itu, pemerintah menempatkan tarif uang tebusan dalam "tax amnesty" menjadi dua tahap dikarenakan perkiraan jangka waktu hanya dari Juli hingga akhir Desember 2016.

Untuk tiga bulan pertama tarif dua persen untuk repatriasi dan empat persen untuk deklarasi. Sedangkan, tiga bulan berikutnya tarif tiga persen untuk repatriasi dan enam persen untuk deklarasi

Daftar 30 Bank Sentral Yang Waswas Setelah Brexit

Bank Indonesia dan 29 bank sentral lain berkomitmen menjaga kelancaran dan kestabilan pasar keuangan dunia pasca referendum di Britania Raya yang menuntut Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit).  "Tiga puluh gubernur bank sentral di dunia menyatakan siap menjaga kelancaran dan kestabilan pasar keuangan pasca referendum di Inggris," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi (BI) Tirta Segara melalui keterangan resmi BI, senin (27/6).

Komitmen tersebut lahir pada pertemuan ekonomi global (Global Economic Meeting), yang merupakan rangkaian pertemuan tahunan Bank for International Settlement (BIS) di Basel, Swiss, Minggu (26/6).

Dalam pertemuan BIS tersebut, Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo menyoroti dampak hasil referendum Inggris terhadap perekonomian. Ia menegaskan, BI akan terus mencermati potensi risiko yang mungkin muncul terhadap perekonomian Indonesia dan telah mempersiapkan langkah-langkah antisipatif yang diperlukan.

"Selain itu, Bank Indonesia juga terus mempererat kerjasama dengan Pemerintah, OJK, dan LPS, maupun dengan otoritas bank sentral negara lain untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional," ujar Tirta mengutip pernyataan Gubernur BI.  Selain itu, lanjutnya, para pimpinan bank sentral juga menyampaikan dukungannya terhadap langkah-langkah antisipatif yang telah disiapkan oleh Bank Sentral Inggris (Bank of England).

"Para gubernur bank sentral juga menyatakan komitmen untuk senantiasa memonitor perkembangan kelancaran dan stabilitas pasar keuangan serta mempererat kerjasama antar bank sentral untuk memastikan kelancaran dan stabilitas pasar keuangan tetap terjaga," jelas Tirta.

Pakuwon Jati Raup Penjualan Rp1 Triliun Hingga Mei 2016

PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) meraih prapenjualan (marketing sales) sekitar Rp 1 triliun hingga Mei 2016. Angka tersebut setara 32,25 persen dari targetmarketing sales hingga akhir tahun sebesar Rp3,1 triliun.

Ivy Wong, Direktur Pengembangan Bisnis Pakuwon Jati mengatakan, hunian vertikal atau proyek highrise menjadi penyumbang kontribusi pemasaran tertinggi, yaitu 60 persen. Adapun, rumah tapak atau landed house berkontribusi sebesar 40 persen. Ivy memprediksi Pakuwon Jati mampu meraih marketing sales sebesar Rp 1,2 triliun pada semester I 2016 ini.

Saat ini, katanya, Pakuwon Jati tengah mengembangkan perkantoran di Superblok Kota Kasablanka, Jakarta dan Superblok Tunjungan City, Surabaya. Selain itu, perseroan juga sedang mengembangangkan kondominium di Pakuwon City township, Surabaya Timur.

Menurut Ivy Wong, perseroan akan menjual kondominium tersebut sekitar Rp 400 juta - Rp 600 juta per unit. Saat ini, Pakuwon Jati sengaja memilih segmen kelas menengah sebagai konsumennya. "Karena kami di Pakuwon City sudah jadi dan mungkin di sana kalau tanah sendiri saja sudah mahal ya, sudah Rp 12 juta - Rp 15 juta per meter. Kami lenih konsentrasi untuk middle class untuk poyek highrise," terangnya, Senin (27/6).

Untuk proyek kondominium tersebut, lanjutnya, perseroan akan membuat 850 unit pada tahun pertama. Perseroan sengaja tidak membuat banyak unit pada tahun pertama, karena kondominium ini dibuat eksklusif. "Tahun pertama mungkin 850 unit, sengaja karena lebih eksklusif. Kami akan launching beberapa tahap," jelasnya.

Rencananya, tiga pengembangan pembangunan tersebut dapat launching pada kuartal III atau IV tahun ini. Ivy menargetkan proyek baru tersebut dapat membantu perseroan meraih marketing sales Rp 700 miliar - Rp 900 miliar.

Sebagai informasi, Pakuwon Jati mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 2,5 triliun sepanjang tahun 2016. Hingga maret 2016, capex tersebut sudah terserap 852 miliar

Friday, June 24, 2016

Rugi Bakrie Telecom Meroket Jadi Rp 8,64 Triliun

PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) baru saja melaporkan kinerja keuangannya sepanjang 2015. Perseroan mengalami tahun yang buruk karena mencatatkan rugi bersih sebesar Rp8,64 triliun, melonjak 201,15 persen dari rugi bersih di tahun 2014 sebesar Rp2,86 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan Bakrie Telecom pada Jumat (24/6), perusahaan yang terakhir dikenal dengan produk aplikasi Esia Talk ini mencatatkan penurunan pendapatan mencapai 65,94 persen menjadi Rp401,62 miliar pada 2015, dari Rp1,18 triliun di tahun sebelumnya.

Amblasnya pendapatan tersebut masih ditimpa dengan melonjaknya beban usaha perusahaan. Sepanjang 2015, Bakrie Telecom menanggung beban usaha sebesar Rp4,23 triliun, meloncat 99,38 persen dari Rp2,12 triliun pada 2014. Pos beban usaha yang meroket paling tinggi berasal dari beban penyusutan yang naik 202,36 persen menjadi Rp3,34 triliun pada 2015, dari Rp1,1 triliun di tahun sebelumnya.

Besarnya total beban usaha yang harus ditanggung tersebut, membuat kinerja keuangan Bakrie Telecom hancur. Perseroan harus menelan peningkatan rugi usaha hingga 305,69 persen menjadi Rp3,83 triliun, dari Rp944,97 miliar. Sudah jatuh tertimpa tangga. Setelah mencatatkan peningkatan rugi usaha, perseroan harus menanggung beban lain-lain bersih mencapai Rp4,67 triliun pada 2015, melompat 255,93 persen dari Rp1,31 triliun di tahun 2014.

Adapun pos beban lain-lain terbesar berasal dari beban sisa masa sewa yang mencapai Rp1,66 triliun pada 2015. Padahal beban tersebut tidak ada di tahun 2014. Selain itu, terdapat lonjakan dalam pos rugi penurunan nilai aset mencapai 272,51 persen menjadi Rp1,44 triliun, dari Rp388,57 miliar.

Dari sisi aset, per 31 Desember 2015 perseroan mencatatkan nilai Rp2,41 triliun, turun dari Rp7,58 triliun pada akhir tahun 2014. Padahal, liabilitas atau kewajiban perseroan tercatat mencapai Rp14,92 triliun di tahun 2015, naik dari Rp11,46 triliun pada 2014.

Bakrie Telecom terpaksa bermanuver untuk menerbitkan obligasi wajib konversi senilai total Rp7,6 triliun demi membayar utang perseroan yang menumpuk hingga Rp11,6 triliun. Nantinya kreditur memperoleh obligasi yang ditukar dengan saham tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Wakil Presiden Direktur Bakrie Telecom Taufan Rotorasiko mengatakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) perusahaan telah setuju dengan rencana obligasi wajib konversi tersebut.

Ia juga menjelaskan, pemegang saham telah setuju untuk memberikan harga saham konversi di angka Rp200 per lembar. Padahal, harga saham BTEL pada saat ini masih tersungkur di level Rp50 per lembar. “Jadi kami memberikan harga saham ke kreditur agar manajemen memperoleh insentif juga. Kalau Rp50 harganya, enggak ada insentif. Di harga Rp200 kami dapat insentif untuk berkembang,” ujarnya, Kamis (28/4).

BI Ramal Inflasi Ramadan Hanya Sentuh 0,56 Persen

Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi Juni 2016 atau sepanjang Ramadan akan berada di level 0,56 persen. Angka ini meningkat tipis dari realisasi periode yang sama tahun lalu, 0,54 persen. “Di minggu ke-3, hasil survei BI memperkirakan inflasi Juni ini ada di kisaran 0,56 persen. Tentu kami nanti masih akan lihat karena kan masih ada sepuluh hari lagi menjelang lebaran,” tutur Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo, Jumat (24/6).

Sebelumnya, pada minggu ke-2 lalu, BI memproyeksikan tingkat inflasi bulan Juni ada di level 0,61 persen. Agus mengungkapkan, pemicu inflasi yang perlu diwaspadai masih berasal dari bahan pangan (volatile food) terutama daging ayam dan telur ayam. Kementerian Perdagangan mencatat, rata-rata harga daging ayam nasional ada di level Rp31.980 per kilogram (kg) dan telur ayam ada di level Rp23.810 per kg. “Tetapi ada tiga (harga bahan pangan) yang juga perlu diperhatikan, yaitu harga beras, gula, dan harga cabai,” ujar mantan Menteri Keuangan ini.

Sementara, harga bawang merah yang sempat melonjak beberapa waktu lalu telah mengalami deflasi. Center of Reform on Economics (CORE) memprediksi terjadinya peningkatan inflasi dalam dua bulan ke depan seiring dengan meningkatnya permintaan selama puasa dan menjelang lebaran.
Mohammad Faisal, Direktur Riset CORE Indonesia menurutkan, terhitung sejak 10 juni 2016 hingga lebaran akan terjadi inflasi sekitar 0,59 persen, sedikit meningkat dibandingkan dengan masa puasa tahun lalu yang sebesar 0,5 persen. Prediksi tersebut merupakan hasil riset CORE Indonesia mengenai perkembangan harga-harga barang dan jasa.

"Dari sini kami mengasumsikan kalau di bulan Juli, inflasi bulanan kita akan meningkat ke 1 persen," papar Faisal dalam diskusi bersama Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Selasa (14/6).

Menurutnya, asumsi ini berdasarkan angka inflasi bulanan pada Juli 2015 yang hampir mencapai 1 persen sehingga inflasi bulkan depan sangat kemungkinan besar menembus 1 persen. "Ini dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan dan kenaikan harga makanan dan minuman jadi yang diperkirakan berada di atas 1 persen," ujar Faisal.

Bahkan, lanjutnya, inflasi pangan di Indonesia pada Mei 2016 menempati urutan pertama jika dibandingkan dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim lainnya, yang rata-rata 7,8 persen. Di tempat kedua, ialah Turki dengan inflasi pangan sebesar 2,5 persen dan Pakistan 0,6 persen di tempat ketiga.

Faisal menyatakan faktor pendorong peningkatan harga bahan pangan lokal dipicu dari dua sisi, yakni berdasarkan permintaan dan penawaran. Dari sisi penawaran dipicu oleh perbedaan pasokan terhadap permintaan, adanya ketidaklancaran distribusi antar daerah, serta adanya permainan harga oleh spekulan, kasus kartel, dan lainnya.

Sedangkan dari sisi permintaan, lanjutnya, dipicu oleh faktor peningkatan pendapatan jelang pemberian tunjangan hari raya (THR) kalangan pekerja. Faktor lainnya, dipaparkan Faisal, ketidaksesuaian data ketersediaan bahan pangan yang dimiliki oleh Kementerian/Lembaga (K/L), serta langkah-langkah stabilisasi harga yang kurang efektif.

Peningkatan inflasi, menurut Faisal, dapat diatasi dengan melakukan perlindungan terhadap komoditas pangan strategis hingga penyusunan peraturan pelaksana sebagai realisasi dari Undang Undang Perdagangan Nomor 7 Tahun 2014 yang mewajibkan pemerintah menjamin pasokan dan harga barang kebutuhan pokok.

"Sebagai contoh, kita bisa melihat bagaimana negara tetangga melakukan perlindungan terhadap harga dan stok pangan mereka, misalnya Malaysia dan Jepang. Untuk UU, nantinya diharapkan UU ini dapat mengatur pasokan, harga, hingga distribusi bahan pangan ke masyrakat," tutup Faisal. Untuk itu, ia mengingatkan agar pemerintah menjaga akurasi data pangan, dan memperkuat peran Perum Bulog, serta membenahi dan meningkatkan pengawasan jalur distribusi.

Pound Sterling Anjlok ke Level Terendah Sejak 1985

Pound sterling anjlok ke level terendah sejak 1985 dibarengi dengan menukiknya harga saham berjangka Inggris setelah mayoritas warga Britania memilih untuk meninggalkan Uni Eropa. Aksi jual obligasi juga meningkat tajam dan mendongkrak biaya pinjaman Pemerintah Inggris.

Reuters melansir, nilai tukar pound sterling anjlok hampir 10 persen dalam enam jam terakhir, yang merupakan kejatuhan terdalam sepanjang sejarah Inggris. Tepatnya sejak rezim nilai tukar mengambang bebas diperkenalkan pada awal 1970-an.

Depresisi kurs saat ini dinilai lebih parah dibandingkan dengan tragedi 'Black Wednesday' pada September 1992, ketika miliarder George Soros melakukan aksi jual pound sterling besar-besaran sehingga melumpuhkan pertahanan Bank Sentral Inggris (BOE). "Ini seperti kembali dari masa depan, kita seperti kembali ke era 1985," kata Nick Parsons, Wakil Kepala Strategi Mata Uang Global di NAB.

Pound sterling tercatat jatuh kelevel US$1,33, yang merupakan level terendah terhadap dolar sejak September 1985. Sementara terhadap Euro, pound sterling melemah 6 persen dan terhadap yen terdepresiasi 15 persen. Sementara itu, harga saham berjangka turun 7 persen di Bursa London

"Pound sterling sudah anjlok 10 persen dalam enam jam. Itu sangat luar biasa, dan referendum Inggris telah menciptakan krisis di Eropa," kata Nick.  Kinerja perbankan langsung menjadi sorotan menyusul anjloknya saham HSBC dan Standard Chartered sebesar 10 persen.

Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi bertenor 10 tahun yang diterbitkan pemerintah Inggris melonjak menjadi 1,57 persen dari posisi penutupan perdagangan Kamis yang berkisar 1,38 persen.
"Ini luar biasa. Shock mungkin bukan kata yang terlalu kuat untuk menggambarkan kejadian ini," kata John Wraith, Kepala UK Tarif Strategi, UBS Investment Bank.

Sementara dari Amerika Serikat, yield obligasi AS turun tajam menyusul aksi pengalihan investasi ke aset-aset lindung nilai (safe-haven) seperti emas dan yen Jepang.  Semua bank-bank internasional dan besar di Inggris di London, termasuk Citi, Deutsche Bank, JPMorgan, Goldman Sachs dan Barclays langsung membuka layanan via telpon pada malam hari.

Perbankan telah memperingatkan nasabahnya akan volatilitas perdagangan yang dapat menyebabkan kesenjangan besar dari sisi harga. Para pelaku pasar masih menunggu intervensi dari bank sentral atau kementerian keuangan guna menstabilkan pasar uang.

Imbas Brexit, Rupiah dan IHSG Kompak Terjun Bebas

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak melemah menyusul perhitungan suara sementara dari referendum Britania Raya yang memenangkan kubu pendukung Brexit.  Reuters mencatat, IHSG sejauh ini anjlok 1,33 persen ke level 4,809.28, sedangkan rupiah terkoreksi 1,6 persen menjadi Rp13.375 per dolar AS.

Koreksi negatif juga terjadi di seluruh bursa saham Asia. indeks saham Nikkei di Jepang anjlok 8,21 persen, sedangkan indeks Hang Seng di Hong Kong turun 4,7 persen.  Indeks saham utama Australia, ASX tercatat melemah 2,85 persen, menyusul kemudian ideks KOSPI di korea terjerembab 4,51 persen.  Sementara di Singpura, indeks saham Straits Times minus 2,58 persen.

Aldian Taloputro, Analis Mandiri Sekuritas mengatakan, efek dari Brexit akan sangat terasa di pasar keuangan. Pasalnya, pelaku pasar sangat menanti langkah selanjutnya dari Pemerintah Inggris jika hasil referendum memenangkan kubu pendukung Brexit.  "Yang paling terpengaruh adalah pasar uang karena menimbulkan risk aversion (ketakutan) baru," ujarnya .

Selain berdampak ke internal Inggris, kata Aldian, Brexit juga menimbulkan risiko baru bagi perekonomian Uni Eropa. Sebab, jika Inggris berhasil keluar dari Uni Eropa, maka dapat memicu negara-negara lain di kawasan Benua Biru menggelar referendum serupa.  "Namun yang paling terpukul adalah Poundsterling, jatuhnya paling dalam," tuturnya.  Sementara ke Indonesia, Aldian meyakini dampak Brexit tidak akan terlalu besar. Meski IHSG dan Rupiah mengalami koreksi, tetapi ia memperkirakan fenomena ini tidak akan berlangsung alma.

"untuk hari ini mungkin masih akan terkena sentimen negatif ya," kata Aldian.  Menurutnya, hubungan dagang Indonesia dengan Inggris sangat kecil, yakni hanya sekitar 1 persen dari total nilai ekspor dan impor Indonesia. Namun ke Uni Eropa, lanjutnya, skala dagangnya cukup lumayan, yakni sekitar 10 persen dari nilai ekspor dan impor secara keseluruhan.

Keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) membuat pelaku pasar khawatir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) amblas di sesi I perdagangan pada akhir pekan ini, bersamaan dengan jebloknya bursa saham regional Asia. Seperti dilansir BBC, kubu pihak yang memilih untuk keluar dari Uni Eropa telah memenangkan referendum. Hingga pukul 12.00 WIB, 16,99 juta warga Inggris memilih untuk keluar, menang dari 15,81 juta orang yang memilih untuk tetap menjadi bagian dari Uni Eropa.

Hal tersebut nyatanya membuat pelaku pasar saham dunia khawatir, khususnya indeks bursa kawasan Asia, yang telah memulai perdagangannya. Indeks Nikkei 225 Jepang terpantau amblas 8,32 persen, indeks Hang Seng Hong Kong terjun 4,78 persen, dan indeks Kospi Korea turun 3,47 persen.

Dari dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan jeblok 2,28 persen ke level 4.763 pada sesi I perdagangan Jumat (24/6), dari level 4.874 di penutupan sebelumnya. Data RTI Infokom mencatat, sebanyak 250 saham melemah, 53 saham tidak bergerak, dan hanya 42 saham yang menguat.

Nilai transaksi perdagangan sepanjang sesi I mencapai Rp2,83 triliun dengan volume sebanyak 3,63 miliar lembar saham dan frekuensi 147.210 kali. Adapun pemodal asing mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp34,3 miliar di pasar reguler. Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, kenyataan hasil referendum mengejutkan pelaku pasar. Menurutnya, kendati secara fundamental Indonesia tidak terpengaruh, tetapi secara sentimen pasti akan terkena imbas.

“Secara fundamental memang enggak berpengaruh. Tapi kalau bursa global rontok, tetap saja IHSG bakalan kena juga,” katanya. Pada pagi ini, lanjutnya pemodal asing sebenarnya tetap dalam posisi beli, dengan intensitas kurang lebih sama dengan kemarin. Akan tetapi, kata Satrio, pasar ketakutan akan issue Brexit dan membuat IHSG melanjutkan tren turun yang kemarin sudah muncul.

“Sejauh ini ada level support di 4.789. Akan tetapi konsolidasi sampai 4.740-4.750 sebenarnya masih terlihat normal,” jelasnya. Satrio menjelaskan, jika pasar bereaksi negatif terhadap Brexit, maka aksi jual karena panic (panic selling) sepertinya akan terjadi di awal sesi 2, dan pada perdagangan besok pagi di bursa global. Menurutnya, pasar hanya bisa ditenangkan ketika sudah ada pernyataan yang menenangkan dari Pemerintah Inggris.

“Satu hal yang saya tanamkan adalah, sentimen Brexit ini hanya sentimen bukan fundamental. Kalau sentimen itu nanti berarti rebound-nya cepat. Problemnya, memang bottom-nya [level dasar] dekat? Memang bottom-nya di mana? Itu yang akan kita lihat dalam beberapa hari mendatang,” ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menganggap langkah keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa merupakan histeria yang sering terjadi dalam kegiatan pasar dunia. "Market kan begitu, selalu ada histerianya, ada reaksi berlebih yang sebenarnya tidak mudah dimengerti, ya, ini termasuk histeria itu," ungkap Darmin, Jumat (24/6). Ia mencontohkan Indonesia, meski sudah terbiasa menghadapi krisis tetapi tetap terpukul ketika terjadi gonjang-ganjing di pasar global. Kendati demikian, Indonesia tetap bisa mencari solusi dan keluar dengans elamat.

"Dulu saat suku bunga Amerika makin tinggi, juga gonjang-ganjing. Padahal, tidak jadi, tapi kita sudah dibuat babak belur dengan hal ini," ujar Darmin mencontohkan. Demikian halnya dengan Brexit, kata Darmin, sekalipun dampaknya terasa hingga ke Indonesia tetapi diyakini tidak akan terlalu lama. Sebab, episentrum dari permasalahan ini berada jauh di Britania Raya, sehingga yang akan sangat terganggu adalah perdagangan Inggris dengan negara-negara di Eropa.

Menurutnya, selama ini Inggris dikenal sebagai negara industri yang kuat dan memiliki banyak hubungan perdagangan dengan negara-negara di Eropa, seperti halnya Perancis. Sehingga hubungan perdagangan Inggris dan Uni Eropa akan bergejolak jika Inggris positif melangkah keluar atau Brexit.  Namun, Darmin memastikan, hubungan dagang Indonesia dengan Inggris tetap bisa berjalan secara personal.

"Kita sedang negosiasi, bersama Kemendag, dengan Uni Eropa. Kalau Inggris keluar, ya berarti Inggris tidak ikut. Jadi kalau ada hubungan dengan Inggris, ya, kita bisa langsung ke Inggrisnya," tutup Darmin. Tak jauh berbeda dengan Darmin, pengamat ekonomi Yanuar Rizky mengatakan Indonesia harus terbiasa dengan permainan isu yang silih berganti mewarnai pasar keuangan dunia.

“Pasar keuangan akan menghasilkan jika dia bergerak. Nah, untuk bergerak ini ada batasnya kalau secara teknikal, kalau ingin ada penggerak jadi dibutuhkan isu. Ini sudah umum dan Indonesia harus bisa mengatasi dampak dari isu pergerakan pasar dunia,” jelas Yanuar. Ia menyadari bahwa Brexit akan berdampak pula pada perekonomian Indonesia. Sebab, uang beredar di pasar modal Indonesia dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral di negara maju sehingga apapun yang terjadi di pasar keuangan global akan memberi dampak, misalnya gejolak nilai tukar.

“Kalau ada gejolak ke nilai tukar tentu akan mempengaruhi harga. Jadi kita dihadapkan bukan hanya pada permasalahan fiskal juga permasalahan harga,” tutur Yanuar. Menurutnya, dampak ini dapat lebih buruk karena Indonesia tengah memiliki permasalahan cash flow dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Oleh karena itu, Indonesia harus terbiasa dengan isu yang menggerakkan pasar dunia dan memiliki kebijakan yang dapat segera mengatasinya.

Namun, Yanuar menekankan, keluarnya Inggris dari Uni Eropa hanya akan merugikan Inggris dan berpotensi menyebabkan banyak permasalahan seperti ketika krisis keuangan 2008 yang bermula dari New York.  “Kalau keluar saya rasa pasar keuangan Inggris akan menyempit karena selama ini kerap ditopang dengan hubungan perdagangan antarnegara Eropa,” tutup Yanuar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah terimbas keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). Indeks turun sebesar 39,74 poin (0,81 persen) ke level 4.834 setelah bergerak di antara 4.754-4.884 pada Jumat (24/6).

Sementara di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah melemah 143 poin (1,08 persen) ke Rp13.391 per dolar AS, setelah bergerak di kisaran Rp13.218-Rp13.530. Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, kenyataan hasil referendum mengejutkan pelaku pasar. Menurutnya, kendati secara fundamental Indonesia tidak terpengaruh, tetapi secara sentimen pasti akan terkena imbas.

“Secara fundamental memang enggak berpengaruh. Tapi kalau bursa global rontok, tetap saja IHSG bakalan kena juga,” katanya. Pada pagi ini, lanjutnya pemodal asing sebenarnya tetap dalam posisi beli, dengan intensitas kurang lebih sama dengan kemarin. Akan tetapi, kata Satrio, pasar ketakutan akan issue Brexit dan membuat IHSG melanjutkan tren turun yang kemarin sudah muncul.

“Sejauh ini ada level support di 4.789. Akan tetapi konsolidasi sampai 4.740-4.750 sebenarnya masih terlihat normal,” jelasnya. Aldian Taloputro, Ekonom Mandiri Sekuritas mengatakan, efek dari Brexit akan sangat terasa di pasar keuangan. Pasalnya, pelaku pasar sangat menanti langkah selanjutnya dari Pemerintah Inggris.  "Yang paling terpengaruh adalah pasar uang karena menimbulkan risk aversion (ketakutan) baru," ujarnya.

RTI Infokom mencatat, investor membukukan transaksi sebesar Rp 6,41 triliun dengan volume 7,59 miliar lembar saham. Di pasar reguler, investor asing membukukan transaksi jual bersih (net sell) Rp 23,5 miliar. Sebanyak 61 saham naik, 228 saham turun, dan 83 saham tidak bergerak. Sementara sembilan dari 10 indeks sektoral melemah. Pelemahan terbesar dialami oleh sektor aneka industri yang melemah sebesar 3,25 persen.

Dari Asia, mayoritas indeks saham bergerak melemah. Kondisi itu ditunjukkan oleh indeks Nikkei225 di Jepang yang turun sebesar 7,92 persen, indeks Kospi di Korsel turun sebesar 3,09 persen, dan indeks Hang Seng di Hong Kong turun sebesar 2,92 persen. Sore ini, mayoritas indeks saham di Eropa bergerak melemah sejak dibuka tadi siang. Indeks FTSE100 di Inggris turun 4,45 persen, indeks DAX di Jerman turun 5,91 persen, dan indeks CAC di Perancis turun 6,90 persen

Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS disebabkan pelaku pasar memindahkan dananya ke negara yang diyakini aman (flight to quality), akibat keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). “Kami melihat ini adalah sesuatu yang wajar karena memang ada suatu flight to quality,” tutur Gubernur BI Agus DW Martowardojo saat ditemui di kantor BI, Jumat (24/6).

Hingga kemarin, kata Agus, nilai tukar rupiah masih berada di level Rp13.260 per dolar AS, dan secara tahun berjalan telah menguat 4 persen. Tetapi hari ini, Reuters mencatat rupiah sempat menyentuh level Rp13.425 per dolar AS. Sebagai informasi, kubu pendukung Brexit memenangkan hasil referendum dengan meraup 51,9 persen suara.

Hasil referendum yang memenangkan kubu pendukung Brexit, tidak hanya menekan rupiah tetapi juga sejumlah mata uang negara lain. Pound sterling, hari ini di pasar keuangan tertekan di kisaran 10 hingga 11 persen. Pelemahan itu, kata Agus, terendah selama 30 tahun terakhir. “Euro juga melemah, tetapi pelemahannya sekitar satu hingga dua persen,” ujarnya. Menurut Agus, saat ini pasar dalam kondisi risk off di mana pelaku pasar cenderung menghindari risiko, kemudian menarik dananya dan menaruhnya di negara yang dinilai aman. Berdasarkan pengamatannya, negara yang diminati pelaku pasar ada Amerika Serikat dan Jepang.

“Banyak mata uang yang tertekan tetapi kita lihat dolar AS dan yen ada penguatan. Itu menunjukkan bahwa mereka (AS dan Jepang) menjadi tempat yang diminati pada saat situasi risk off ini,” kata Mantan Menteri Keuangan ini. Lebih lanjut, Agus meyakini pelemahan rupiah hanya akan terjadi sementara. Hal itu didukung oleh perekonomian Indonesia yang disebutkan tengah dalam kondisi prima dengan tingkat inflasi yang terjaga.

“Selain itu, hubungan perdagangan antara Indonesia dan Inggris tidak terlalu besar dari sisi ekspor dan impor meskipun dampak keuangannya ada dalam bentuk aliran dana (keluar) tadi,” ujarnya.

Agus mengingatkan, hasil referendum Brexit tidak bisa langsung mengakibatkan Inggris keluar dari Uni Eropa. Ia menjelaskan, setelah referendum, Inggris harus membuat pernyataan resmi kepada Uni Eropa untuk keluar. Hal itu akan diikuti proses negosiasi yang membutuhkan waktu setidaknya dua tahun. Selanjutnya, Agus menegaskan BI akan selalu berada di pasar untuk menjaga kestabilan rupiah sehingga Brexit tidak berdampak buruk terhadap perekonomian Indonesia.