Tuesday, May 31, 2016

Laba Pertamina 2015 Anjlok 40%

PT Pertamina (Persero) membukukan pendapatan sebesar US$41,76 miliar sepanjang tahun lalu, anjlok 40,34 persen dibandingkan dengan perolehan 2015 yang mencapai US$70 miliar. Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan, harga minyak yang melemah sepanjang tahun lalu menjadi faktor yang memukul pendapatan perusahaan hampir separuhnya pada 2015. Ia mengatakan, harga minyak sepanjang tahun lalu menurun 60,38 persen, dari US$ 106 per barel menjadi US$ 42 per barel.

"Memang tahun ini penurunan harga minyak dunia tak terelakkan, dan itu juga berdampak ke Pertamina," jelas Dwi, Selasa (31/5). Meski pendapatan menurun tajam, Dwi menyatakan perseroan masih membukukan laba sebesar US$ 1,42 miliar pada tahun lalu. Laba tersebut turun 1,82 persen dibandingkan perolehan periode sebelumnya US$1,45 miliar.

Menurut Dwi, perolehan laba tersebut tak terlepas dari upaya perseroan melakukan penghematan anggaran. Pada tahun lalu, perusahaan berhasil melakukan efisiensi sebesar US$608,41 juta yang bersumber dari renegosiasi kontrak konstruksi (Engineering Procurement Construction/EPC) hingga penurunan volume penyusutan minyak akibat distribusi (losses).

Berdasarkan catatan Pertamina, penghematan yang dialkukan dari renegosiasi kontrak sebesar US$ 87,66 juta, sedangkan efisiensi kebocoran (losses) distribusi sebesar US$255 juta. Selain itu, perusahaan juga melakukan sentralisasi pembelian material yang bisa menghemat US$2,24 juta.

Atas dasar itu, Pertamina membukukan margin pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar 12,28 persen atau meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 8,2 persen.  "Banyak upaya efisiensi yang kami lakukan dari segi losses, distribusi, dan sebagainya sehingga kami bisa ciptakan margin EBITDA terbaik dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir," ujarnya.

Dengan penurunan laba yang tipis, Dwi mengatakan kinerja Pertamina tahun lalu setidaknya lebih baik dibandingkan perusahaan minyak lain. Dia mencontohkan ExxonMobil yang labanya anjlok 50 persen, Petronas menyusut 64 persen, serta Chevron yang profitnya ambruk 76 persen.

Melengkapi ucapan Dwi, Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengatakan, lini bisnis hulu menyumbang 60 persen laba perusahaan, sedangkan sisanya yang 40 persen merupakan kontribusi dari bisnis hilir. Atas alasan itu, ia mengaku tak heran jika pelemahan harga minyak mentah sangat mempengaruhi kinerja perusahaan.

Kendati demikian, Arif menuturkan, laba perusahaan dalam denominasi rupiah ternyata meningkat 10 persen, dari Rp17,18 triliun pada 2014 menjadi Rp19,02 triliun pad atahun lalu. Hal ini terjadi berkat depresiasi rupiah terhadap dolar AS yang lebih besar dibanding penurunan laba perseroan.

"Berbagai perusahaan migas dunia turunnya 40 hingga 60 persen, tapi tahun ini kami hanya turun 1 persen dalam denominasi dolar. Memang sejak Maret hingga September kami merugi, namun akibat penurunan MOPS kami bisa untung," jelasnya. Sepanjang sembilan bulan pertama tahun lalu, Pertamina mencatat laba bersih sebesar US$ 914 juta atau menurun dibandingkan periode tahun sebelumnya sebesar US$ 1,73 miliar.

PT Kalbe Farma Tbk Bagi Deviden Sebesar Rp 891 Miliar

PT Kalbe Farma Tbk akan membagikan dividen sebesar Rp891 miliar ke pemegang saham atau 44,5 persen dari perolehan laba tahun lalu yang sebesar Rp2 triliun. Dengan demikian, rata-rata dividennya sebesar Rp19 per saham.  Secara nominal, jumlah total dividen yang dibagikan perseroan ke pemegang saham pada tahun ini sama dengan perolehan tahun lalu, yang juga sebesar Rp481 miliar atau setara dengan Rp19 per saham.

Rencana pembagian dividen tersebut telah disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Kalbe Farma pada hari ini, Selasa (31/5) yang dihelat di Gedung Bintang Toedjoe, Pulomas, Jakarta.

Vidjongtius, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Kalbe Farma melalui siaran pers menjelaskan, alasan perseroan membagikan dividen tunai sebesar Rp 891 miliar adalah bukti komitmen perusahaan membagikan imbal hasil yang optimal kepada pemegang saham. Sesuai dengan peraturan pasar modal, lanjut Vidjongtius, pembayaran dividen akan dilakukan paling lambat 30 hari setelah pengumuman hasil RUPST.

Berdasarkan catatan perusahaan, laba bersih Kalbe Farma pada tahun lalu turun 3 persen dibandingkan dengan pencapaian tahun 2014 yang sebesar Rp2,06 triliun. Ketidakstabilan nilai tukar rupiah dituding perseroan sebagai biang keladi dari anjlok bisnis farmasi. Padahal dari sisi penjualan, Kalbe Farma mengalami kenaikan 3 persen dengan meraup penjualan bersih sebesar Rp17,88 triliun.

Dalam tiga bulan pertama tahun ini, Kalbe Farma mengklaim meraup laba bersih sebesar Rp563,23 miliar atau tumbuh 6,5 persen dibandingkan dnegan periode yang sama tahun lalu Rp528,65 miliar. Peningkatan kinerja itu ditopang oleh penjualan yang tumbuh 7,13 persen menjadi senilai Rp4,55 triliun.

Berdasarkan kinerja kuartal I 2016, Vidjongtius mengatakan perusahaan optimistis akan mencapai kinerja yang lebih baik pada tahun ini meski dihadapkan pada kondisi ekonomi yang cukup menantang.  Sejalan dengan pengembangan bisnis, Ia mengungkapkan, perseroan akan meningkatkan kapasitas di berbagai lini usaha. Rencana ekspansi ini yang juga menjadi pertimbangan para pemegang saham dalam menetapkan besaran dividen yang akan dibagikan.

“Ke depannya, perseroan akan berupaya mempertahankan kebijakan untuk membagikan dividen sekitar 40-50 persen dari laba bersih, dengan mempertimbangkan kondisi keuangan dan rencana pengembangan,” katanya

Monday, May 30, 2016

Kredit Bermasalah Industri Multifinance Naik Karena Ekonomi

Industri perusahaan pembiayaan (multifinance) terpantau lesu. Perlambatan ekonomi memaksa masyarakat mengetatkan ikan pinggang. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), secara total marketpenjualan mobil hingga Maret 2016 tercatat 93.990 unit. Sedangkan pada Maret 2015, total market penjualan mobil tercatat 99.410 unit.

Selain perlambatan ekonomi, adakah faktor lain yang membuat penjualan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat menjadi lesu? Benarkah, maraknya transportasi berbasis online seperti Gojek, Grab, dan Uber, membuat orang malas membeli kendaraan karena sudah ada kemudahan layanan bertransportasi? "Nggak juga, ada Gojek, Grab sama Uber malah justru mereka (pengemudi/driver) beli (kendaraan) baru," kata Direktur Utama Mandiri Tunas Finance, Ignatius Susatyo Wijoyo.

Meskipun marak transportasi online, Ignatius menyebutkan, pihaknya belum merasakan dampak yang signifikan. "Belum (berpengaruh). (Permintaan) passenger car (mobil pribadi) masih bagus, seperti Mobilio, Avanza, Sedan, HRV, New Innova, Fortuner, Datsun," ucap dia.

Kemungkinan lain adalah adanya larangan sepeda motor melintas dijalan protokol yang sangat berdampak signifikan terhadap ekonomi. Hingga Maret 2016, Mandiri Tunas Finance menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 4,9 triliun, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,6 triliun.

Dihubungi terpisah, Ketua Asosiasi Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Sugiharto mengungkapkan, menjamurnya bisnis transportasi berbasis online tidak lantas menggerus permintaan masyarakat akan kendaraan bermotor. Transportasi online tidak bisa serta-merta mengganti fungsi kendaraan pribadi. Masyarakat akan selalu butuh untuk memiliki kendaraan pribadi.

"Sementara tidak ada (pengaruh terkait transportasi online). Transportasi online itu kan hanya kebutuhan sewaktu-waktu, tidak setiap saat, itu tidak bisa menggantikan kendaraan pribadi, itu kan hanya memudahkan transportasi umum saja, tidak menggantikan secara pribadi," jelas dia.

Industri perusahaan pembiayaan (multifinance) saat ini tengah lesu. Perlambatan ekonomi tak bisa dihindari. Hal tersebut berimbas pada meningkatnya kredit bermasalah di perusahaan pembiayaan atau Non Performing Finance (NPF).

Direktur Utama Mandiri Tunas Finance (MTF) Ignatius Susatyo Wijoyo menyebutkan, pihaknya mencatatkan angka kredit bermasalah secara gross (NPF gross) per Maret 2016 naik menjadi 1,1% dibandingkan periode yang sama tahu sebelumnya sebesar 1,05%. Sementara untuk NPF nett stagnan di angka 0,7%.

"NPF gross Maret 1,1%, naik dari 1,05% periode yang sama tahun lalu, kalau NPF nett 0,7%, angkanya hampir sama," sebut dia. Meski demikian, pihaknya masih mencatatkan kenaikan penyaluran pembiayaan. Hingga Maret 2016, Mandiri Tunas Finance menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 4,9 triliun, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,6 triliun.

Sepanjang tahun ini, perusahaan pembiayaan yang khusus menyalurkan pembiayaan di kendaraan roda empat ini menargetkan bisa meraup pembiayaan sebesar Rp 18 triliun di tahun ini, lebih lebih dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 17 triliun.

"Kita di Maret 2015 pembiayaan Rp 3,6 triliun. Kalau 2016 Januari-Maret itu Rp 4,9 triliun, jadi naik Rp 1,3 triliun. Tahun ini optimistis bisa Rp 18 triliun, tahun lalu Rp 17 triliun," ujarnya. Rata-rata, kata dia, besaran bunga yang dipatok MTF untuk pembiayaan mobil sebesar 3,55% dalam setahun.

"Pembiayaan, bunga setahun rata-rata 3,55%. Kalau kredit di MTF tenor 6 bulan 0%," katanya. Perlambatan ekonomi berimbas pada lesunya industri perusahaan pembiayaan (multifinance) saat ini. Pembiayaan kendaraan roda dua maupun roda empat masih menurun tahun ini.

"Karena industri otomotif menurun, untuk pembelian mobil baru berdasarkan data Gaikindo, di Maret turun 5%, April 3%. Roda dua juga sama (turun)," ujar Dirut Mandiri Tunas Finance, Ignatius Susatyo Wijoyo. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), secara total penjualan mobil di Maret 2016 tercatat 93.990 unit. Di April 2016 tercatat 84.686 unit.

Sedangkan pada Maret 2015, total market penjualan mobil tercatat 99.410 unit. Pada April 2015 tercatat 81.600 unit. Ignatius menyebutkan, meskipun secara industri pembiayaan tengah lesu, namun Mandiri Tunas Finance (MTF) masih bisa mencatatkan kinerja positif. Hingga Maret 2016, Mandiri Tunas Finance menyalurkan pembiayaan Rp 4,9 triliun, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,6 triliun.

"Naik karena ada perubahan segmen, ke passenger car, ada kenaikan di penjualan New Innova, Fortuner, HRV, Datsun, yang turun picked up. Pembiayaan kita kan 80% passenger car, jadi kinerja tetap positif," terang dia. Ignatitus mengatakan, saat ini industri pembiayaan tengah lesu dan diperkirakan pertumbuhannya tidak akan agresif tahun ini.

Dia memperkirakan, industri pembiayaan masih akan seret pertumbuhannya. "Makanya kita banyakin event, gelar pameran di seluruh Indonesia, ada di Bandung, Lampung, Makassar, Palembang. Melakukan promosi-promosi untuk menarik pembeli, seperti kalau misalkan kredit mobil di MTF 6 bulan itu bunga 0%, ada juga promo beli mobil gratis bahan bakar non subsidi," imbuhnya.

3 Perusahaan Paling Besar Di Dunia Kini Berasal Dari China

China masih menjadi rumah bagi perusahaan terbesar di dunia. Dari 2.000 perusahaan terbesar di dunia, 3 besarnya berasal dari China. Peringkat yang dibuat oleh Forbes itu berisi 2.000 perusahaan dari 63 negara. Jumlah pendapatan dari 2.000 perusahaan ini adalah US$ 35 triliun, laba US$ 2,4 triliun, aset US$ 162 triliun, dan nilai pasar US$ 44 triliun.

Berikut 5 besar perusahaan terbesar di dunia berdasarkan omzet, laba, aset, dan kapitalisasi pasar, seperti dilansir dari Forbes, Selasa (31/5/2016).

1. Industrial & Commercial Bank of China Ltd (ICBC)
Bank ini didirikan pada 1984. Dalam data Forbes, bank ini memiliki nilai kapitalisasi pasar US$ 198 miliar. Jumlah karyawan bank ini mencapai US$ 466.346 orang, dengan omzet US$ 171,08 miliar, atau sekitar Rp 2.326 triliun. Sejumlah bisnis yang dijalankan bank ini adalah Corporate Banking, Personal Banking, Treasury, dan banyak lagi.

2. China Construction Bank
Bank yang didirikan pada 1954 ini memiliki nilai kapitalisasi pasar sebesar US$ 162,8 miliar. Jumlah karyawan yang dimiliki bank ini 369.183 orang, dengan omzet US$ 146,82 miliar. Adapun bisnis yang dilakukan bank ini adalah corporate banking, personal banking, treasury, dan lainnya. Bank ini memiliki banyak cabang di luar negeri.

3. Agricultural Bank of China
Bank ini didirikan pada 1951, dan memiliki nilai kapitalisasi pasar US$ 152,7 miliar. Jumlah karyawan yang dimiliki oleh bank ini adalah 503.082 orang, dengan omzet US$ 131,89 miliar. Meski namanya Agricultural Bank of China, namun bank ini tidak fokus untuk pertanian. Sektor bisnis bank ini banyak, seperti Corporate Banking, Treasury, Personal Banking, dan lainnya.

4. Berkshire Hathway
Perusahaan investasi ini didirikan oleh orang salah satu orang terkaya di dunia, yaitu Warren Buffett pada 1955. Berkshire memiliki kapitalisasi pasar US$ 360,1 miliar, dengan omzet US$ 210,82 miliar.  Jumlah pegawai yang dimiliki perusahaan ini adalah 331.000 orang. Beragam saham perusahaan besar dunia dimiliki oleh perusahaan ini.

5. JPMorgan Chase
Bank terbesar di Amerika Serikat (AS) ini didirikan pada 1968 dan berkedudukan di New York. Kapitalisasi pasar JPMorgan Chase adalah US$ 234,2 miliar, dengan omzet US$ 99,88 miliar. Jumlah pegawai yang dimiliki oleh perusahaan ini adalah 234.598 orang.

Orang Paling Muda dan Terkaya Di Indonesia Dengan Harta Senilai Rp. 42,4 Triliun

Ciliandra Fangiono, Direktur Eksekutif sekaligus Chief Operations Officer (COO) First Resources, perusahaan yang mengoperasikan perkebunan sawit seluas 190.000 hektare dan 12 pabrik minyak sawit ini, masih tercatat sebagai miliuner paling muda dalam jajaran 50 orang terkaya versi Forbes.

Seperti dikutip dari Forbes, Selasa (8/12/2015), kekayaan pengusaha sawit berusia 39 tahun ini ditaksir mencapai US$ 3,1 miliar atau setara Rp 42,4 triliun dengan kurs Rp 13.700.

Ciliandra Fangiono, untuk pertama kalinya masuk dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes pada 2009. Selama enam tahun, belum ada triliuner yang lebih muda dari usianya bisa mengungguli kekayaannya.

Saat Ciliandra pertama kali masuk jajaran 40 orang terkaya di Indonesia, kekayaannya ditaksir sebesar US$ 710 juta.  Ciliandra menjalankan bisnis tersebut bersama saudara laki—lakinya yaitu Sigih dan ayahnya bernama Martias sejak 23 tahun lalu.

Bisnis keluarga pebisnis sawit ini dimulai dari ayahnya, Martias, pendiri First Resources Martias telah melepaskan keterlibatannya di perusahaan tersebut sejak tahun 2003.

First Resources berencana menginvestasikan dana US$ 130 juta untuk perawatan kebun sawit dan peningkatan kapasitas pabrik penyulingan minyak sawit. Luas kebun sawit First Resources, perusahaan yang didirikan oleh ayahnya telah berkurang dari tahun 2009 tercatat seluas 247.000 hektar, tahun ini menjadi 170.000 hektare.

First Resources memiliki anak perusahaan bernama PT Ciliandra Perkasa yang berfokus pada penanaman dan panen kelapa sawit. Perusahaan utamanya, Pertama Resources menangani pasca panen meliputi produksi minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit untuk dijual ke pasar ekspor dan domestik.

6 Perusahaan Indonesia Yang Masuk Dalam Daftar 2.000 Perusahaan Terbesar Dunia

Ada 6 perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar 2.000 perusahaan publik terbesar di dunia. Perusahaan yang masuk ke daftar ini adalah perusahaan yang tercatat di pasar modal. Dari 6 perusahaan tersebut, 4 perusahaan merupakan perbankan. Dan dari jumlah itu, sebanyak 3 bank berstatus BUMN.

Siapa saja perusahaan Indonesia yang masuk daftar 2.000 perusahaan publik terbesar di dunia versi Forbes berdasarkan omzet, laba, aset, dan kapitalisasi pasar? Berikut daftarnya, seperti dilansir, Selasa (31/5/2016).

1. Bank Rakyat Indonesia (BRI)
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menjadi perusahaan publik terbesar di Indonesia. Bank yang didirikan pada 1895 ini, berada di posisi 429 dari 2.000 perusahaan publik terbesar dunia.
Bank yang saat ini dipimpin oleh Asmawi Syam ini, disebut memiliki nilai kapitalisasi pasar US$ 20,4 miliar. Omzet BRI dalam catatan Forbes adalah US$ 7,13 miliar, dengan jumlah pegawai 54.829 orang. Seperti diketahui, BRI merupakan bank yang fokusnya adalah di sektor pembiayaan UMKM.

2. Bank Mandiri
PT Bank Mandiri Tbk menduduki posisi nomor 2 perusahaan terbesar Indonesia versi Forbes. Dari 2.000 perusahaan publik terbesar dunia, Bank Mandiri menempati posisi nomor 462.  Berdiri pada 1998, perusahaan ini memiliki kapitalisasi pasar US$ 17,6 miliar, dengan omzet US$ 7,51 miliar. Jumlah pegawai Bank Mandiri adalah 36.737 orang. Bank yang dipimpin oleh Kartika Wiroatmodjo ini bergerak di bidang pelayanan jasa umum perbankan.

3. Bank Central Asia (BCA)
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) didirikan pada 1955. Dari 2.000 perusahaan publik terbesar dunia, BCA menempati posisi nomor 620. Nilai kapitalisasi pasar BCA adalah US$ 24,5 miliar, dengan omzet US$ 4,41 miliar. Jumlah pegawai bank ini adalah 24.814 orang. Bank yang dipimpin Jahja Setiaatmadja ini kuat di bisnis tabungan dan transaction banking.

4. Telekomunikasi Indonesia (Telkom)
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) didirikan pada 1884. BUMN telekomunikasi ini memiliki kapitalisasi pasar US$ 27,4 miliar. Telkom menduduki peringkat 659 dari 2.000 perusahaan publik terbesar dunia versi Forbes. Perusahaan yang dipimpin Alex Sinaga ini memiliki omzet US$ 7,84 miliar dengan jumlah pegawai tercatat 24.785 orang.

5. Bank Negara Indonesia (BNI)

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) didirikan pada 1946, dengan nilai kapitalisasi pasar US$ 6,9 miliar. Menurut catatan Forbes, bank ini mencatat omzet US$ 3,63 miliar, dengan jumlah pegawai US$ 26.875. Dari 2.000 perusahaan publik terbesar di dunia, BNI menempati posisi 1.063.

6. Gudang Garam
PT Gudang Garam Tbk berdiri sejak 1971. Saat ini nilai kapitalisasi pasar Gudang Garam adalah US$ 9,8 miliar.  Forbes mencatat, omzet perusahaan rokok ini adalah US$ 5,25 miliar, dengan jumlah pegawai mencapai 36,995 orang. Dari 2.000 perusahaan publik terbesar dunia, Gudang Garam menduduki posisi 1.387.

Pedagang Pasar Tolak Disebut Ambil Untung Besar

Seringkali para tengkulak dan pedagang dijadikan kambing hitam dari tingginya harga komoditas pangan.  Rantai pangan yang sedemikian kompleksnya jika akan dipangkas juga belum tentu dapat mengubah harga pangan di pasar.

"Kalau dibilang rantai pasok penyebab pertama tidak juga sebenarnya. Kalau pasokannya diatur sedemikian rupa, kemudian pasok titiknya menjadi pendek berarti kan mengurangi beban biaya. Tapi jika itu harus dilalui melewati kekuatan pasar yang luar biasa," jelas Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Ngadiran di Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta Selatan, Senin (30/5/2016).

Menurutnya, peran kartel di Indonesia saat ini cukup besar dalam mengatur harga pangan di pasar. Kartel menjadi aktor utama dalam tingginya harga komoditas pangan strategis di Indonesia. Hal ini lah yang akan menjadi fokus pemerintah dalam mengurangi peran kartel dalam mengendalikan harga pangan.

"Permasalahannya kekuatan pasar yang dibilang kartel itu. Sekarang pertanyaannya di Indonesia ini siapa yang tidak ada kartelnya? Nah ini yang dilakukan Pak Menteri ini akan mengurangi atau menggerus secara bertahap," kata Ngadiran.