Tuesday, July 27, 2021

Meski Terus Merugi ... Direktur Utama BPJS Kesehatan Berhasil Masuk Jajaran CEO Terbaik Versi Iconomics

 Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti, masuk sebagai jajaran CEO Terbaik menurut Iconomics. Ia dianggap berhasil membuat perusahaan bertahan di tengah lesunya ekonomi akibat pandemi Covid-19. Ali duduk sebagai CEO terbaik di kategori Employees' Choice in Health Social Insurance  yang diselenggarakan oleh Iconomics.

Ia menyebutkan prestasi ini menjadi motivasi bagi seluruh Duta BPJS Kesehatan agar terus mengedepankan integritas, profesional, pelayanan prima, dan efisiensi operasional dalam menyelenggarakan Program JKN-KIS yang berkualitas.

"Di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda, kami upayakan tetap memberikan pelayanan terbaik pada peserta dan stakeholders JKN-KIS," ucap Ghufron pada Selasa (27/7/2021). Ali menyebutkan selama ini BPJS Kesehatan berupaya maksimal membantu pemerintah menangani Covid-19. Dukungan BPJS Kesehatan itu antara lain menjalankan tugas khusus pencatatan, verifikasi penagihan, dan pelaporan klaim Covid-19 seluruh masyarakat Indonesia, baik yang sudah menjadi peserta JKN-KIS ataupun belum menjadi peserta JKN-KIS.

Seluruh klaim Covid-19 akan dibayarkan oleh Kementerian Kesehatan kepada fasilitas kesehatan.

BPJS Kesehatan juga mengembangkan screening Covid-19 harian peserta JKN-KIS melalui aplikasi Mobile JKN. Data ini digunakan sebagai sumber data peserta JKN-KIS yang memiliki kondisi komorbid dan disampaikan ke Pemerintah. Selain itu lembaganya juga menyediakan informasi pencatatan vaksinasi Covid-19 meliputi registrasi, screening, hingga dokumentasi pelaporan melalui aplikasi P-Care Vaksinasi.

Mereka juga turut membantu pemerintah daerah dalam penanganan Covid-19, yakni menyampaikan dashboard dalam melaksanakan monitoring dan evaluasi terkait program JKN dan pembayaran klaim Covid-19.

Sedang perihal layanan bagi peserta JKN-KIS, Ghufron menyebutkan mengalihkan layanan konvensional di kantor cabang dan kantor Kabupaten/Kota ke layanan digital (Pelayanan Administrasi melalui Whatsapp [PANDAWA], Mobile JKN, BPJS Kesehatan Care Center 1500 400, dan Chat Assistant JKN/Chika). Hal ini untuk mempermudah pelayanan.

"Adanya pengalihan layanan ini justru kian memudahkan masyarakat. Yang tadinya berniat pergi ke kantor BPJS Kesehatan, sekarang cukup lewat smartphone saja. Urusan administrasi JKN-KIS bisa diselesaikan tanpa perlu keluar rumah," tutur Ghufron.

Founder and CEO Iconomics, Bram S. Putro, mengungkap CEO atau pemimpin organisasi menjadi panutan dalam melakukan manuver inovatif. Pada kondisi pandemi ini kehebatan pemimpin diuji. Disrupsi kali ini, kata dia, melengkapi ujian disrupsi-disrupsi yang sebelumnya sudah melanda, seperti disrupsi digital, politik, dan lainnya, termasuk gebrakan inovatif dalam merespon Covid-19.

Ia menjelaskan, penilaian Indonesia Best CEO Awards 2021 - Employees' Choice dilakukan melalui survei online terhadap ribuan staf berbagai industri dan kategori, dengan total responden mendekati 10.000. Penilaian dilakukan melalui kuesioner online dan tanpa melakukan kuota geografis maupun jenjang jabatan. Responden diminta melakukan penilaian terhadap CEO institusinya dan diperkenankan melakukan penilaian terhadap CEO institusi lain dalam kategori industri/kegiatan sejenis.

"Indonesia Best CEO Awards 2021 - Employees' Choice hanya akan diberikan kepada satu CEO di kategori industri masing-masing. Dengan mempertimbangkan efisiensi eksekusi, maka hanya sekitar 200 CEO/institusi yang diikutsertakan ke dalam survei. Pemilihan kandidat CEO dan institusinya berdasarkan pilihan redaksi Iconomics. Indonesia Best CEO Awards 2021 - Employees' Choice diberikan kepada pemimpin instansi dengan skor tertinggi di kategori sub-industrinya," jelasnya.


Monday, July 26, 2021

Pengusaha Warteg Tolak Makan Hanya 20 Menit Saat PPKM Darurat

 Komunitas Warteg Indonesia (Kowantara) menolak kebijakan baru PPKM Level 4  yang berkaitan dengan izin makan di tempat (dine in) dengan durasi 20 menit bagi pengunjung. Sebab, kebijakan ini mereka nilai bisa membahayakan keselamatan pengusaha warung dan pengunjung. "Sementara ini kami menolak daripada membahayakan," ujar Ketua Kowantara Mukroni saat berdialog di CNN Indonesia TV, Senin (26/7).

Menurut Mukroni, potensi membahayakan bagi pengusaha warung berasal dari proses penyiapan yang tergesa-gesa. Sebab, waktu yang diberikan cuma 20 menit dari pengunjung memesan makan hingga menyelesaikan proses makannya.

"Misal beli pecel lele, itu kan harus digoreng dulu, buat sambel dulu. Apalagi kalau makan kepiting di kaki lima, ini butuh waktu cukup lama. Menurut kami, kalau dilarang dine in atau take away, mending dibebaskan saja, karena ini membahayakan. Kalau juru masak tergesa-gesa,  minyak bisa tumpah dan lainnya," jelasnya.

Tak hanya bagi pengelola, batas waktu makan 20 menit itu juga bisa membahayakan pengunjung. Batas waktu yang singkat bisa membuat mereka terburu-buru makan  yang bisa menyebabkan tersedak hingga tetap terkena penularan covid-19.

Ia mengaku tak tega bila pengunjung warteg yang merupakan pekerja paruh baya harus disuruh makan cepat-cepat. "Takut tersedak kalau ditargetkan 20 menit. Ini kalau ada apa-apa, siapa yang tanggung jawab? Ini mungkin bukan kena covid, tapi tersedak. Lagi pula kan covid tidak tunggu 20 menit," katanya.

Di sisi lain, Mukroni juga belum yakin bahwa kebijakan ini bisa mengembalikan kerugian akibat penurunan omzet yang selama ini diderita para pemilik warteg dan warung makan lainnya. Apalagi, penurunan omzet sudah mencapai 50 persen sampai 90 persen.

Ia memberi gambaran, omzet yang semula bisa mencapai Rp3 juta sampai Rp4 juta, kini turun hanya sekitar Rp300 ribu per hari. Kondisi ini terjadi sejak pandemi covid-19 mewabah hingga saat ini di era PPKM Level 4. "Bahkan banyak rekan-rekan kami yang harus mengundurkan diri dari usaha ini alias tutup dan kerugiannya juga lumayan, Mungkin ada 50 persen yang tutup, usahanya alami kebangkrutan," tuturnya.

Sementara beberapa pengusaha warteg dan warung makan lain yang tidak tutup bukan tanpa usaha. Mereka kini beralih menjajakan lauk dan sayur dari offline di toko menjadi online melalui aplikasi pengantaran dengan ojek online.

"Tapi ini kan juga tidak mudah karena prosesnya misal satu bulan untuk usahakan bisa pindah, bisa metamorfosis dari offline ke online. Tapi ini juga solusi sementara. Ada faktor daya beli dan orang kantor. Mereka kalau makan siang kan lewat online yang luas," terangnya.

Lebih lanjut, Mukroni menagih bantuan insentif dari pemerintah. Sebab, pemerintah kabarnya sudah memberi bantuan berupa Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM) kepada UMKM. Namun, ia mengaku banyak pengusaha warteg yang justru belum dapat bantuan ini.

"Ini yang kami pertanyakan karena kita ada komunitas se-Jabodetabek. Tapi mereka bilang kok saya tidak dapat? Padahal di media, triliunan dana yang digelontorkan pemerintah. Ini apa pendataannya langsung atau bagaimana agar pemerintah bisa tepat sasaran ke usaha yang terimbas pandemi. Karena banyak teman-teman yang masih belum dapatkan bantuan dari pemerintah," ungkapnya.

Sekretaris Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN) Raden Pardede menjawab soal penolakan dari asosiasi pengusaha warteg itu. Menurutnya, aturan ini sebenarnya boleh diartikan secara fleksibel, di mana perhitungan waktu 20 menit bukan dari waktu pengunjung memesan makan, melainkan sejak pengunjung duduk dan makanan siap.

"Menurut saya kalau sudah ada pelonggaran, dipakai saja, itu bisa dihitung 20 menit dari duduknya saja. Ini memang bukan kondisi ideal, harus ada penyesuaiannya, daripada sama sekali tutup, lebih berat lagi," kata Raden pada kesempatan yang sama.

Pasokan Logistik Bahan Pokok Ke Sumatera Terganggu Karena PPKM Darurat

 Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatra Utara memperkirakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa dan Bali sejak 3 Juli 2021 yang diperpanjang hingga 2 Agustus 2021 mengganggu distribusi pasokan komoditas bahan makanan di Sumatra. Pasalnya, sebagian besar pasokan bahan makanan untuk di Sumatra masih berasal dari Pulau Jawa.

"Misalnya saja bawang merah, sebagian besar pasokannya untuk provinsi di Sumatra (Sumut, Sumsel, Kepri, Bengkulu, Babel, Lampung) berasal dari pulau Jawa. Jadi potensi atas tidak beroperasinya transportasi akibat PPKM dapat menghambat distribusi," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatra Utara (Sumut), Soekowardojo, Senin (26/7).

Soekowardojo meyakini PPKM dapat mencegah loss pertumbuhan ekonomi yang lebih besar di akhir tahun 2021. Namun diperlukan penguatan upaya pengendalian inflasi dan respon TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) terhadap antisipasi dampak PPKM.

"Untuk persentase pasokan cabai merah berasal dari Jawa relatif tidak terlalu tinggi dikarenakan pasokan petani lokal yang mencukupi dan masuknya masa panen," jelasnya.

Soekowardojo menambahkan Medan menjadi salah satu kota di luar Jawa dan Bali yang menjalankan PPKM Level 4. Selama pelaksanaan PPKM di Medan, tambahnya, berdampak pada kenaikan harga bahan makanan. Namun kenaikan tersebut masih dalam batas wajar.

"Adapun kenaikan yang terjadi selama periode pelaksanaan PPKM masih dalam batas yang wajar. Stabilitas harga ini juga diperkuat dengan hasil survey aliran pasokan Bank Indonesia yang menunjukkan aliran pasokan pada pedagang besar di Kota Medan masih relatif stabil serta kecukupan stok di gudang Bulog untuk komoditas beras, minyak goreng, dan gula pasir," paparnya.

Pihaknya terus memantau keterjangkauan harga bahan makanan khususnya produksi lokal untuk cadangan pemenuhan pasokan. Soekowardojo menegaskan komunikasi yang efektif antar instansi terkait juga harus dilakukan untuk mencegah agar masyarakat tidak melakukan panic buying saat pelaksanaan PPKM Level 4.

"Kami terus melakukan pemantauan harian atas kelancaran distribusi di pintu-pintu  masuk provinsi selama PPKM. Saat ini perkembangan harga pangan strategis terpantau stabil. Secara umum tingkat harga masih berada pada range rerata harga 3 tahun terakhir," pungkasnya.


Startup Tanijoy Agriteknologi Nusantara Bawa Kabur Dana Investor

 PT Tanijoy Agriteknologi Nusantara, sebuah perusahaan investasi di sektor pertanian diduga membawa lari uang 400 investor senilai Rp 4 miliar. Kejadian ini viral di Twitter dari cerita salah satu akun yang juga pendana di Tanijoy. Menurut Ketua I Himpunan Lender Tanijoy, Fadhil, sudah banyak dialog antara pihak investor Tanijoy dengan Co-Founder & Chief Executive Officer, M. Nanda Putra. Namun hingga awal Juni 2021 pihak Tanijoy mulai susah dihubungi.

"Bahkan sejak kontak terakhir awal Juni lalu jadi sulit untuk di kontak. Sepertinya sudah mulai menghindar," ujar dia Salah satu investor Tanijoy bernama Yohanes bercerita sejak 2019 sampai sekarang kerugian yang dialaminya mencapai Rp 142 juta dari total 15 proyek. Dia mengatakan sudah ada beberapa proyek yang selesai tetapi sudah satu tahun lebih dana tidak cair.

"Apakah benar uang saya dipakai di proyek tani yang tertera di laporan project? Atau jangan-jangan uang saya diputar untuk bisnis Tanijoy lainnya? Saya harap uang saya dapat kembali dan Tanijoy dapat bertanggung jawab," lanjutnya.

Berikut kronologi dugaan raibnya dana 400 investor Tanijoy:

4 September 2020

Diadakan virtual meeting antara investor dan pihak Tanijoy dengan topik Penarikan Dana Terhambat. Kala itu Tanijoy mengaku mengalami masalah besar, padahal proyek diakui oleh Nanda selaku CEO sudah selesai. Katanya dana hasil proyek masih ada di petani dan belum dikembalikan sepenuhnya kepada Tanijoy. Keterlambatan ini disebutnya sudah terjadi sejak PSBB dimulai, adanya kendala soal komunikasi dengan petani, karena adanya pembatasan pemerintah tersebut. Saat ditanya oleh salah satu lender, kapan keterlambatan itu akan selesai, Nanda menjawab akan diurutkan berdasarkan waktu para pendana menarik dana atau seusisesuai antreannya. "Untuk penyelesaian ini akan bergantung pada kecepatan collection di petani. Collection ini sudah dilakukan selama dua bulan, hal ini butuh waktu bisa mendapatkan pencairan dana," kata Nanda

20 Januari 2021

Tanijoy mengeluarkan surat pernyataan dan pengakuan dari Nanda selaku CEO. Dalam surat itu tertera pengakuan bahwa sejak awal Desember 2020 hingga ditulisnya surat pernyataan tersebut pada 20 Januari 2021, pihaknya sadar belum bisa memenuhi tanggung jawabnya. Hal ini soal pencairan dana soal proyek yang sebelumnya diumumkan sudah selesai. Nanda dalam surat tersebut mengatakan seharusnya Desember 2020 pencairan bisa jalankan sesuai jadwal. Namun proses tersebut tersendat karena proses collection terhambat. Penyebabnya karena mitra yang tidak kooperatif menyelesaikan kewajibannya. "Kami berkomitmen untuk lebih responsif dalam berkomunikasi dengan Anda semua melalui kanal informasi resmi (email support@tanijoy.id). Kami sangat menyadari bahwa kepercayaan pendanaan sangat mahal dan kami gagal menjaganya. Tapi di tengah kesulitan ini kami sangat bersyukur bahwa Tanijoy masih diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya," ujar Nanda.

15 April 2020

Nanda memberikan surat pernyataan kembali ke pendana atau investor Tanijoy, terkait masalah yang masih dihadapi yakni pencairan dana. Dalam surat ini Nanda menyampaikan permohonan maaf karena sulit dihubungi oleh pihak pendana. Nanda mengaku bahwa perusahaannya tengah melakukan restrukturisasi yang berdampak pada pengurangan karyawan, sehingga hanya dua orang karyawan yang tersisa. Kemudian Nanda juga mengaku tengah mengalami kesulitan dana karena pendanaan hanya dari platform fee saja dan dalam satu tahun terakhir tidak ada proyek. "Tanijoy mengalami kesulitan keuangan. Pendapatan utama Tanijoy saat ini adalah perdagangan komoditas pertanian dengan berperan sebagai perantara," kata dia.

7 Mei 2021

Founder Tanijoy mengadakan sebuah virtual meeting dengan 72 orang pendana (lender) dengan topik Klarifikasi dan Komunikasi Kesepakatan Tanijoy dan Lender. Dalam meeting ini Nanda mengungkapkan permohonan maafnya kepada pendana karena kurangnya respons dari pihak Tanijoy.

Dalam kesempatan itu dia mengumumkan proyek yang sudah selesai senilai Rp 19 miliar dari 756 petani, dari total tersebut sebanyak Rp 14 miliar disebut telah diselesaikan, sisa Rp 5 miliar masih menjadi outstanding dan Rp 3,9 miliar menjadi withdrawal yang terhambat. Selain itu diumumkan juga proyek yang belum selesai karena beberapa masalah, pertama gagal panen atau rugi, petani yang kurang responsif, dan SDM Tanijoy yang terbatas.

Pihaknya pun mengatakan akan melakukan mediasi dalam masalah ini, antara pendana, Tanijoy, dan petani, biaya dalam mediasi ini katanya akan ditanggung oleh Tanijoy, kecuali biaya penyelesaian hukum. Dalam melakukan mediasi pihaknya akan memfasilitasi penasihat hukum.

18-26 Juli 2021

Investor menduga Tanijoy telah membawa lari uang Rp 4 miliar milik investornya karena tidak ada kejelasan atas pencairan proyek yang sudah selesai. Pendana juga menduga laporan proyek selama 2020-2021 dimanipulasi, hingga projek yang disebutkan merupakan projek fiktif. Hal-hal tersebut dirilis dalam siaran pers di bawah naungan Himpunan Lender Tanijoy. Ketua I Himpunan Lender Tanijoy, Fadhil, mengatakan sudah banyak dialog antara pihak investor Tanijoy dengan Co-Founder & Chief Executive Officer, M. Nanda Putra. Tetapi hingga awal Juni 2021 lalu pihak Tanijoy disebut mulai susah dihubungi.

"Bahkan sejak kontak terakhir awal Juni lalu jadi sulit untuk dikontak. Sepertinya sudah mulai menghindar," ujar dia Laporan soal dugaan raibnya 400 investor Tanijoy juga viral d Twitter yang bercerita bahwa dirinya curiga bahwa Tanijoy merupakan platform investasi bodong karena banyak review yang dia lihat di Google dan Instagram Tanijoy.

Media sosial diramaikan dengan kabar startup Tanijoy yang diduga membawa kabur uang investor Rp 4 miliar. Namun, hingga kini pihak Tanijoy juga tak memberikan keterangan. Berdasarkan informasi yang dihimpun detikcom, Tanijoy bersama PT Berdikari (Persero) pernah meneken nota kesepahaman pada tahun lalu. Nota kesepahaman tersebut terkait potensi kerja sama di bidang peternakan dan perdagangan hasil peternakan. Group Head Corporate Secretary PT Berdikari (Persero), Dheni Kamavina mengatakan nota kesepahaman dengan Tanijoy yang diteken tahun lalu belum ada tindak lanjut lebih jauh.

"Terkait MOU kami dengan Tanijoy memang baru sebatas MOU, belum ada tindak lanjut dari MOU tersebut, sehingga belum ada kerja sama yang kami laksanakan dengan pihak Tanijoy," katanya. Dheni menjelaskan bahwa nota kesepahaman dengan Tanijoy tidak termasuk pengelolaan investasi, yakni hanya sebatas potensi kerja sama di bidang peternakan dan perdagangan. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa nota kesepahaman tersebut sudah lewat dari jangka waktu yang ditentukan. Hingga kini, belum ada kerja sama yang terjadi antara Berdikari dengan Tanijoy.

"Nota kesepahaman tersebut juga telah berakhir 6 bulan sejak penandatanganan karena belum ada kerja sama yang direalisasikan dalam jangka waktu tersebut dan tidak diperpanjang," ujarnya. Pihak detikcom sudah menghubungi Co Founder & CEO Tanijoy Muhammad Nanda Putra dan pihak Tanijoy lainnya melalui pesan WhatsApp dan telepon, tetapi belum ada respons.

Thursday, July 22, 2021

PHK Massal Sulit Dihindari Walau PPKM Darurat Turun Ke Level 3

Pemerintah berencana membuka kembali pusat perbelanjaan atau mal pada 26 Juli 2021, jika penyebaran kasus covid-19 di Indonesia menurun atau PPKM level 4 bisa turun ke level 3. Aturan baru Kementerian Dalam Negeri menyebut mal boleh buka dengan kapasitas 25 persen dan dibatasi sampai pukul 17.00 WIB.

Harapannya, kegiatan masyarakat dan ekonomi bisa kembali berjalan. Sayangnya, pengusaha mal yang tergabung dalam Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) tidak begitu yakin pelonggaran ini bisa memulihkan kinerja mal dan sektor ritel dengan cepat. Sebab, kondisi sulit karena kebijakan buka tutup mal sudah terlanjur terjadi berlarut-larut di lebih dari 1,5 tahun terakhir. Hal ini membuat dana cadangan pengusaha mal sudah terkuras habis.

Bahkan, harapan mereka untuk bangkit pada tahun ini pun sirna dengan kebijakan PPKM Mikro yang mendadak berubah menjadi PPKM Darurat di lebih dari 2 minggu terakhir. "Pengorbanan selama satu tahun lebih, sudah hampir dua tahun ini membuat perusahaan menjadi sangat sulit. Akhir tahun lalu, ada berita pusat perbelanjaan dijual atau tutup usahanya karena kondisi sudah tidak mampu lagi," ungkap Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja, Rabu (21/7).

Kondisi ini membuat APPBI memprediksi 84 ribu pekerja atau 30 persen dari sekitar 280 ribu pegawai mal di seluruh Indonesia dirumahkan atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada tahun ini. Jumlah ini belum termasuk pegawai dari pihak penyewa toko atau ritel, sehingga potensi PHK-nya bisa lebih besar.

Atas beratnya beban para pengelola mal, penyewa toko, hingga pegawai, asosiasi meminta pemerintah memberi sejumlah insentif. Misalnya, pelonggaran tarif listrik, pembebasan pajak dan retribusi, hingga pengurangan biaya sewa untuk pengelola mal dan penyewa toko. Sementara untuk karyawan mal, asosiasi ingin ada program subsidi gaji sekitar 50 persen. Dengan demikian, pembayaran gaji setengahnya dari pengelola dan toko, separuh lainnya dari negara.

"Subsidi ini tidak perlu diberikan kepada pusat perbelanjaan tapi langsung diberikan kepada pekerja melalui mekanisme BPJS Ketenagakerjaan atau mekanisme lainnya," ucapnya. Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mendengar keluhan ini, sehingga pemerintah menyiapkan BLT Subsidi Gaji kepada pekerja formal di sektor non-esensial dan non-kritikal di wilayah penerapan PPKM Level 4.  Rencananya, pemerintah akan memberi BLT sebesar Rp1 juta per penerima untuk 8 juta pekerja dengan gaji di bawah Rp3,5 juta per bulan.

Masalahnya, belum ada pernyataan spesifik bahwa BLT Subsidi Gaji ini juga bisa dinikmati oleh para pegawai mal. Sebab, menurut pernyataan sementara Ida, rencananya BLT Subsidi Gaji diberikan ke sektor industri, barang konsumsi, barang jasa terkecuali jasa pendidikan dan kesehatan, transportasi, aneka industri, properti, dan real estate.

"Respons kami terhadap penurunan aktivitas masyarakat yang berdampak terhadap ekonomi dan daya beli buruh, serta guna mendukung bisnis dan buruh selama pandemi dan PPKM, maka kami mengusulkan memberi subsidi upah kepada para pekerja yang terdampak," kata Ida.

Bersamaan dengan kebijakan BLT Subsidi Gaji yang belum jelas ini, Ekonom Indef Nailul Huda mengaku ragu bila pelonggaran PPKM bisa meredam ancaman PHK 84 ribu karyawan mal di Indonesia. Ia juga masih tak yakin bahwa kasus covid-19 bisa dikendalikan dalam waktu cepat dan pelonggaran PPKM bisa dilakukan.

"Testing kita saja masih sangat rendah, bahkan tidak ada 500 ribu per hari, mencapai 200 ribu pun tidak. Jadi, bagaimana kita dapat kasus positif atau negatif jika testing kita rendah?" kata Huda . Menurutnya, pelonggaran PPKM dalam waktu dekat sulit diwujudkan. Sementara jika pemerintah tetap memberi pelonggaran aturan PPKM dan membuka mal, tapi kasus masih meningkat, maka masyarakat tetap enggan pergi ke mal.

"Akibatnya 84 ribu pekerja tidak akan bisa diselamatkan. Jika memang kasus turun, boleh jadi ada sebagian dari 84 ribu karyawan yang terselamatkan dari PHK," tutur Huda. Tapi yang terselamatkan pun belum tentu banyak. Sebab, operasional mal pun masih terbatas di era pelonggaran PPKM nanti, yaitu hanya boleh buka untuk kapasitas 25 persen dan sampai pukul 17.00 WIB saja.

"Maka, kebijakan paling baik adalah menyelesaikan pandemi," imbuhnya.

Lebih lanjut Huda menuturkan sudah saatnya pemerintah memberi kebijakan nyata bagi pengelola mal, penyewa toko, dan pegawai mal. Misalnya, membebaskan pungutan pajak selama masa PPKM seperti ini. Bantuan sosial (bansos) juga mutlak diberikan kepada karyawan mal karena mereka kehilangan sumber penghasilan.

Sependapat dengan Huda, Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara juga melihat pemberian subsidi upah perlu segera dilakukan pemerintah kepada karyawan mal. Hal ini dianggap sebagai kebijakan konkret yang paling ampuh untuk mencegah PHK massal di sektor ini.

Kebijakan ini dinilai lebih ampuh ketimbang memberi pelonggaran PPKM dengan membuka mal di tengah lonjakan kasus covid-19 yang belum terkendali seperti saat ini. Di sisi lain, Bhima ragu bila mal dibuka lalu masyarakat menengah dan menengah atas mau 'nongkrong' lagi di mal.

"Kelas menengah dan atas yang paling sensitif terhadap masalah kesehatan, sehingga PPKM yang tidak maksimal justru akan berdampak terhadap penurunan kepercayaan kelas menengah dan atas untuk berbelanja di mal. Solusi terbaik adalah fokus dulu pada penanganan pandemi," ucap Bhima.

Nah, sembari fokus pada penanganan covid-19, menurutnya, lebih baik pemerintah menggelontorkan subsidi upah kepada karyawan mal untuk mencegah PHK massal. Apalagi, ancaman PHK dari sektor ini cukup tinggi, mencapai 84 ribu orang. "Subsidi upahnya bisa Rp5 juta untuk tiga bulan, jadi per bulan dikasih rata-rata Rp1,5 juta," terangnya.

Selain memastikan pemberian subsidi, Bhima minta pemerintah juga membenahi sistem pendataannya. Jangan sampai ada karyawan mal yang tidak dapat subsidi, padahal memenuhi kriteria hanya karena dia tidak terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Tak ketinggalan, Bhima juga menilai pemerintah perlu memberi insentif bagi penyewa toko dalam bentuk subsidi biaya sewa. Hal ini untuk memastikan setiap tingkatan pelaku di sektor ini benar-benar mendapat 'uluran tangan' dari pemerintah. "Bentuk subsidinya bisa 40 persen dari biaya sewa bulanan sampai Agustus ke depan misalnya," pungkasnya. 




Tuesday, July 20, 2021

Daftar Bisnis UKM Yang Boleh Buka JIKA PPKM Darurat Dilonggarkan

 Presiden RI Joko Widodo (Jokowi)  memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat guna menekan lonjakan kasus virus corona (Covid-19). Sejatinya, pelaksanaan PPKM Darurat Jawa Bali sebelumnya ditetapkan digelar 3-20 Juli 2021.

"Jika tren kasus terus mengalami penurunan, maka tanggal 26 Juli 2021, pemerintah akan melakukan pembukaan bertahap," ujar Jokowi dalam keterangan pers yang disiarkan lewat Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (20/7) malam.

Dalam pengumuman tersebut, Jokowi menyatakan pemerintah memantau, mencoba memahami dinamika di lapangan, serta mendengar suara-suara masyarakat terdampak PPKM. Oleh karena itu pada perpanjangan PPKM yang rencananya akan dibuka bertahap itu, Jokowi pun mengumumkan reklaksasi untuk dunia usaha, terutama UMKM.

Jokowi menuturkan saat relaksasi diterapkan, pasar tradisional yang menjual kebutuhan pokok diizinkan buka setiap hari sampai pukul 20.00 dengan kapasitas pengunjung 50 persen dan protokol kesehatan ketat.

Dia juga menuturkan pasar tradisional selain yang menjual sembako diizinkan buka sampai pukul 15.00 dengan kapasitas pengunjung serupa dan juga prokes ketat sesuai dengan pengaturan pemerintah daerah masing-masing.

"Pedagang kaki lima, toko kelontong, agen/outlet voucher, pangkas rambut, laundry, pedagang asongan, bengkel kecil, cucian kendaraan, dan usaha kecil lain yang sejenis, diizinkan buka dengan protokol kesehatan ketat sampai dengan pukul 21.00 yang pengaturan teknisnya diatur oleh Pemerintah Daerah," papar Jokowi.

Jokowi kemudian memaparkan untuk warung makan, pedagang kaki lima, kapak jajanan dan sejenisnya yang memiliki tempat usaha di ruang terbuka diizinkan buka dengan protokol kesehatan ketat sampai pukul 21.00. Para pembeli juga memiliki maksimum waktu makan yakni selama 30 menit.

Jokowi mengatakan kegiatan lain pada sektor esensial dan kritikal, baik di pemerintahan maupun swasta, serta terkait dengan protokol perjalana akan dijelaskan secara terpisah. "Saya minta kita semua bisa bekerjasama dan bahu membahu untuk melaksanakan PPKM ini, dengan harapan kasus akan segera turun dan tekanan kepada rumah sakit juga menurun," ucap Jokowi.

Pemerintah lalu menerapkan PPKM Darurat di Jawa dan Bali guna menekan lonjakan kasus virus corona. Selama penerapan PPKM Darurat dari 3 Juli lalu, lonjakan kasus masih terus terjadi. Meski kemudian sempat menurun pada akhir pekan lalu, hari ini, Selasa (20/7) kembali terlihat grafik menanjak kasus baru Covid di Indonesia.

Sejak grafik kenaikan lonjakan harian positif hingga puncak pada 14 Juli lalu sebanyak 56 ribu lebih, angka tambahan kasus baru terus menurun hingga Senin (19/7) lonjakan harian Covid di RI adalah 34.257 orang.

Kemudian pada hari ini, Selasa (20/7), yang juga bertepatan dengan Hari Raya Idul adha angka tersebut bertambah lagi meski masih di kisaran 30 ribuan yakni 38.325 kasus baru. Tambahan 38 ribu lebih kasus baru itu menyebabkan total akumulatif kasus Covid di Indonesia sejak 2 Maret 2020 menjadi 2.950.058 orang.

Dari angka kumulatif itu sebanyak 2.323.666 orang sembuh (bertambah 29.791) dan 76.200 meninggal (bertambah 1.280).

Alhasil, kasus aktif positif baik yang isolasi mandiri maupun dirawat ada 550.192 pasien, atau bertambah 7.254 orang dari sehari sebelumnya. Untuk suspek yang tercatat di nusantara ada 267.333 orang.


Potret Buram Ekonomi Indonesia Karena Tidak Ada Road Map Holistik Penanganan Pandemi COVID 19

Presiden Jokowi memperpanjang PPKM Darurat hingga 25 Juli 2021. Selanjutnya, pembukaan PPKM Darurat akan dilakukan secara bertahap mulai 26 Juli, dengan catatan kasus covid-19 menurun. "Jika tren kasus terus menurun, maka 26 Juli 2021, pemerintah akan melakukan pembukaan bertahap," ujar Jokowi melalui Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (20/7).

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov mengatakan perpanjangan PPKM Darurat selama lima hari, dari yang seharusnya berakhir 20 Juli menjadi 25 Juli, sebagai bentuk keragu-raguan pemerintah dalam menurunkan kasus covid-19.

Ia pun sangsi kasus covid-19 bisa turun dalam waktu kurang dari sepekan. Sebab, sekalipun angka kasus menurun, itu hanya angka semu mengingat jumlah testing spesimen ikut berkurang. Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, jumlah orang yang dites pada Senin (19/7) kemarin, terendah dalam sepekan.

Sebanyak 127.461 orang dites menggunakan PCR, TCM, dan antigen pada awal pekan. Satu hari sebelumnya, jumlah orang dites mencapai 138.046 orang. Lalu pada Sabtu (17/7) jumlah tes mencapai 188.551 orang. "Jadi, seolah ada penurunan kasus. Padahal, karena testingnya menurun. Justru itu berbahaya. Dalam jangka pendek terlihat semu, seolah situasinya membaik, nanti PPKM darurat dilonggarkan. Sehingga, nanti ke depan tiba-tiba bisa melonjak lagi karena situasinya tidak konsisten dikendalikan," ujarnya pada Rabu (21/7).

Berkaca dari pengalaman selama ini, ia menyarankan sebaiknya pemerintah fokus pada penurunan angka tambahan kasus secara nyata, buka angka semu. Langkah pengetatan juga diambil negara tetangga, yang mengalami lonjakan kasus, seperti Malaysia, yang sudah menjalani lockdown lebih dari satu bulan. Pasalnya, kondisi yang seolah membaik justru akan membahayakan baik sistem kesehatan maupun ekonomi. "Ini membuktikan pemerintah memang sangat sulit untuk mengambil sikap yang jelas, untuk memprioritaskan kesehatan, dengan pertimbangan utamanya karena faktor ekonomi," imbuh dia.

"Padahal, dengan mengulur waktu satu minggu ini belum menjamin penurunan kasus covid-19. Kemudian, juga belum menjamin ekonomi kita dalam seminggu ke depan bisa pulih kembali kalau kasusnya belum bisa diturunkan," lanjutnya. Jika pemerintah ingin menyelamatkan kesehatan dan ekonomi sekaligus, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet usul agar penyaluran bantuan sosial (bansos) dipercepat. Saat ini, dia menilai penyaluran bansos ke daerah kurang maksimal.

"Saya kira, kita harus jujur, banyak masyarakat yang tidak bisa. Artinya, tidak cukup kuat dalam menahan beban ketika PPKM Darurat berlangsung hampir satu bulan, karena di sisi lain bantuan pemerintah belum optimal. Secara penyaluran juga terhambat," katanya. Ia menduga penyaluran terhambat karena kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Meskipun, sebetulnya, dana bansos PPKM Darurat sudah dialokasikan oleh Kementerian Keuangan.

"Kalau tahun lalu, oke, masih bisa diterima karena bansos (pandemi) hal baru. Tapi, tahun ini seharusnya sudah jauh lebih matang untuk realisasi belanjanya. Makanya, proses komunikasi antara pemerintah pusat dan daerah harus intens," jelasnya.

Adapun, pada perpanjangan PPKM darurat ini, pemerintah menambah alokasi bansos menjadi Rp55,21 triliun dari sebelumnya Rp39 triliun. Namun itu pun, Yusuf mengungkapkan nilai bansos masih bisa naik menjadi dua hingga tiga kali lipat. Pertimbangannya, ekonomi tidak serta merta pulih usai PPKM Darurat, sehingga masyarakat terdampak masih butuh bantalan. Pertimbangan lainnya, sasaran penerima bantuan perlu diperluas tidak hanya masyarakat tidak mampu dalam DTKS, tetapi juga masyarakat rentan dan hampir miskin.

Pasalnya, ia memperkirakan jumlah masyarakat rentan dan hampir miskin bertambah. Kondisi ini berangkat dari data penduduk miskin BPS pada Maret 2021 meningkat 0,36 persen dari sebelumnya 26,42 juta pada Maret 2020 menjadi 27,54 juta pada Maret 2021.

"Hitungan sederhana saya, sebenarnya jumlahnya (bansos) dikalikan dua atau tiga, kalau misal dimungkinkan, ditambah menjadi Rp100 triliun- Rp150 triliun," tandasnya. Abra juga sepakat bansos perlu diperluas hingga ke pekerja informal. Apalagi, kondisi sudah darurat, pemerintah harus secara proaktif membuka kanal buat masyarakat yang terdampak mendapatkan akses bantuan.

"Sekarang masyarakat pasif, mereka hanya terima bantuan kalau datanya masuk, itu juga ada lag waktu, sedangkan mereka butuhnya harian," ucapnya. Perpanjangan PPKM Darurat membuat pengusaha menagih kompensasi dan bantuan kepada pemerintah. Khususnya, pengusaha hotel dan restoran yang terimbas PPKM darurat.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menyayangkan bahwa Jokowi tidak menyinggung sama sekali kompensasi kepada pengusaha hotel dan restoran selama perpanjangan PPKM darurat. Padahal, hampir sebulan lamanya para pengusaha tidak mengantongi pendapatan.

Ia berharap pemerintah bisa membantu meringankan pengusaha hotel dan restoran dengan memberikan pelonggaran pajak dan retribusi daerah, biaya listrik, kewajiban perbankan, subsidi gaji pegawai, tarif sewa, dan sebagainya. Sebab, meskipun tidak beroperasi, pengusaha tetap harus membayar semua biaya tersebut.

"Kami berharap mendengar ada satu kompensasi dari pemerintah khususnya pajak daerah, kok tidak ada sama sekali. Yang dikasih relaksasi oleh pemerintah itu cuma di jaring safety nett, masyarakat saja kan, justru sektor yang penting tidak ada," ujar Maulana. Berbeda dengan tahun lalu, kemampuan keuangan pengusaha tahun ini sudah habis karena mereka telah bertahan selama satu tahun lebih. Risiko terburuk jika uluran tangan pemerintah tidak kunjung datang adalah banyak hotel dan restoran gulung tikar.

"Risiko terburuk ya pasti tutup permanen. Karena dalam kondisi ini kan pengusaha punya permasalahan  masing-masing, tapi secara umum permasalahan mereka sama," tuturnya. Meski mengaku keputusan itu sangat berat, ia memastikan pengusaha hotel dan restoran tetap akan mengikuti aturan pemerintah selama perpanjangan PPKM darurat. Bahkan, ia mengklaim selama ini hotel dan restoran sudah menjalankan protokol kesehatan ketat, meskipun selalu terkena imbas penutupan.

"Bagaimana pun kalau di sektor kami, di hotel dan restoran, kan tidak sama dengan sektor non-formal lainnya yang bisa melawan kebijakan pemerintah, mau tidak mau mereka akan nurut (aturan PPKM darurat)," tegasnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terpaksa harus mengoreksi asumsi makro ekonomi di awal paruh kedua 2021. Ekonomi yang tadinya bisa tumbuh 5%, diperkirakan hanya mampu di level 3%. Hal ini tak lepas dari ledakan kasus covid-19, dipicu penyebaran varian delta yang katanya lebih ganas dan semakin kendornya protokol kesehatan oleh masyarakat.

Capaian perekonomian pada paruh pertama sebetulnya cukup gemilang. Kuartal I memang masih kontraksi, namun seiring peningkatan mobilitas masyarakat, ekonomi kuartal II diperkirakan tumbuh sampai 7-8%. Indeks kepercayaan konsumen meningkat hingga indeks produksi manufaktur bahkan mencapai level tertinggi sepanjang sejarah. "Kemudian kita melihat munculnya varian delta dari virus corona yang begitu dominan," ujar Sri Mulyani dalam CNBC Indonesia Economic Update dengan Tema "Kebangkitan Ekonomi Indonesia" pekan lalu. Pemerintah akhirnya mengambil kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat dengan tujuan mengurangi 50% mobilitas masyarakat sehingga penyebaran covid bisa teredam.

Lebih dari seminggu kebijakan berjalan mobilitas memang turun tapi kasus covid tidak berhenti. Bahkan terus menembus rekor, seperti kemarin mencapai 40 ribu kasus positif dalam sehari. Begitu juga dengan yang meninggal dunia, sempat menembus 1.000 orang per hari.

"Hal ini yang mungkin perlu untuk kita di satu sisi memiliki alasan untuk memiliki harapan bahwa tahun 2021 tetap merupakan tahun pemulihan, namun kita tidak lengah dan tetap waspada. Seperti yang tadi juga disampaikan varian Covid-19 yang terus berubah dan ini menimbulkan ancaman," paparnya.

Atas kondisi tersebut, Sri Mulyani menyiapkan skenario moderat hingga berat. Diawali dengan PPKM Darurat dengan skenario moderat dan berat berjalan sampai dengan 4-6 minggu. Dengan skenario tersebut maka implikasi ke tingkat konsumsi masyarakat akan melambat. Pemulihan ekonomi akan tertahan, pertumbuhan ekonomi kuartal III diprediksi melambat ke 4,0 - 5,4% yoy dan kuartal IV 4,6 - 5,9%.

Pemerintah harus mengoptimalkan belanja agar ekonomi tidak kembali melemah seperti tahun sebelumnya. Di samping tetap mendorong pertumbuhan ekspor dan investasi. Bila tidak ada tekanan lagi, maka ekonomi sampai akhir tahun diproyeksikan di level 3,7-4,5%. Sri Mulyani mengakui skenario yang lebih berat tentu bisa saja terjadi. Hanya saja berdasarkan data terkini, skenario tersebut yang dimungkinkan terjadi.

"Jadi, (yang dibuat pemerintah) skenario moderat dan berat. Belum memasukkan skenario yang lebih berat," kata Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR. Fitch, dalam laporan yang dirilis 9 Juli 2021 memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,4% dari sebelumnya 5,1%. Proyeksi ini belum menyertakan kondisi di mana PPKM Darurat diperpanjang.

Dijelaskan, kebijakan tersebut tentu akan memukul perekonomian karena menurunkan mobilitas penduduk. Konsumsi rumah tangga yang pada paruh pertama 2021 sudah membaik dipastikan kembali tertekan.

Hal lain yang turut menjadi perhatian serius adalah vaksinasi yang masih lambat. Kini sudah berjalan sekitar 1 juta vaksin per hari. Bila ingin mencapai kekebalan komunal tentu vaksinasi digenjot mencapai 5 juta vaksin per hari.

Selanjutnya adalah kapasitas rumah sakit yang terbatas. Pada beberapa daerah situasi ketersediaan tenmpat tidur dan ruangan perawatan pasien covid sudah memasuki masa kritis. Pemerintah juga harus memperhatikan kondisi fiskal. Pada 2023 mendatang, pemerintah tidak lagi memiliki keistimewaan defisit fiskal di atas 3% dari PDB. Kecuali pemerintah berencana mengeluarkan peraturan pengganti undang-undang yang baru untuk perpanjangan.

Agar kembali ke 3%, pemerintah perlu menurunkan defisit secara gradual. Kini defisit anggaran dipatok 5,7%. Di sisi lain, ekonomi harus dipastikan pulih. Sehingga apabila defisit turun dan belanja harus lebih kecil, maka perekonomian tidak terpengaruh signifikan. S&P Global Ratings merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 2,3 pada 2021%. Padahal sebelumnya S&P optimistis ekonomi tanah air bisa mencapai 3,4 - 4,4%.

Demikianlah diungkapkan Vishrut Rana, Economist Asia-Pacific dalam webinar, akhir pekan lalu. Menurutnya ini tidak lepas dari lonjakan penyebaran kasus covid-19 dalam beberapa waktu terakhir yang lebih parah dari tahun sebelumnya. Atas kondisi itu pemerintah implementasikan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat. Ekonomi pun menjadi tertekan karena semakin berkurangnya mobilitas penduduk yang diperkirakan S&P sampai dengan 30% untuk implementasi selama sebulan.

Moodys menilai pemulihan ekonomi nasional terhambat cukup signifikan akibat ledakan kasus covid-19 sejak sebulan terakhir. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini diperkirakan hanya 4,5%. "Kami memperkirakan PDB secara rill, pertumbuhan 4,5%," tulis Moodys dalam laporannya.

Dibandingkan dengan tahun lalu memang ada kenaikan cukup signifikan. Namun tetap lebih rendah dari perkiraan tahun ini yang sebesar 5%. Tekanan terbesar, menurut Moodys adalah di konsumsi rumah tangga. Lonjakan covid direspons dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat yang bertujuan untuk mengurangi mobilitas masyarakat.

Dari sisi sektoral, maka ritel, transportasi, hotel hingga restoran akan terpukul lagi. Sementara diketahui, sektor ini belum sepenuhnya pulih sejak hantaman covid dimulai pada tahun lalu. Moodys juga meminta pemerintah memperhatikan lebih serius sebab risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) bisa jadi menjadi lebih masif.

Persoalan ini akan membuat kondisi fiskal semakin berat. Moodys memperkirakan defisit anggaran semakin lebar menuju 6,1% PDB atau di atas perkiraan pemerintah yang sebesar 5,7% PDB. Moodys sebelumnya memberikan peringkat BAA2 Stabil untuk Indonesia. Tantangan yang harus dihadapi ke depannya sangat berat. Maka dari itu pemerintah harus berhati-hati dalam mengambil kebijakan. Khususnya dalam pengelolaan fiskal, termasuk utang.

"Pemerintah telah berjanji akan kembali ke batas legal sebelumnya yaitu defisit fiskal 3,0% pada tahun 2023, strateginya terutama bergantung pada konsolidasi pengeluaran, yang kini semakin terancam karena langkah-langkah mitigasi yang diperkenalkan pada tahun 2020 tidak mungkin sepenuhnya terlepas," paparnya.


Monday, July 19, 2021

Agung Podomoro Harus Jual Aset Untuk Mampu Bertahan Ditengah Pandemi

 Lembaga pemeringkat kredit global, Moody's, menurunkan peringkat utang PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menjadi Caa1 dengan outlook negatif. Outlook negatif mencerminkan ekspektasi pelemahan likuiditas perseroan karena bergantung pada penjualan aset dan pendanaan eksternal untuk memenuhi kebutuhan kasnya.

"Peringkat dengan outlook negatif mencerminkan risiko pembiayaan kembali (refinancing) Agung Podomoro Land yang tinggi selama 12-18 bulan ke depan," terang Moody's dalam risetnya dikutip Senin (19/7). Penurunan rating utang disebabkan oleh sejumlah tantangan yang dihadapi perseroan ke depannya. Agung Podomoro Land ditargetkan bisa menyelesaikan penjualan lahan industri dan kepemilikan sisa sahamnya di Central Park Mall pada tahun ini. Namun, Moody's memprediksi ketidakpastian terkait penyelesaian target itu tepat waktu mengingat pemerintah menerapkan PPKM darurat akibat lonjakan kasus covid-19.

"Kami memperkirakan pendapatan Agung Podomoro Land dari investasi properti investasi tidak berubah pada 2021. Pendapatan dari bisnis pengembangan diprediksi turun signifikan jika penjualan aset tersebut tidak dilakukan meskipun telah meluncurkan perumahan Podomoro Tenjo secara inden. Akibatnya metrik kredit perseroan melemah selama 12-18 bulan ke depan," papar Moody's.

Sepanjang semester I 2021, penjualan inti perseroan meningkat signifikan menjadi Rp1 triliun. Dengan capaian itu, Moody's memperkirakan penjualan sepanjang tahun Agung Podomoro Land bisa mencapai Rp1,6 triliun, atau masih di bawah target yakni Rp2 triliun-Rp2,5 triliun.

Namun, Moody's menyatakan posisi kredit perseroan tetap melemah jika penjualan aset tidak dilakukan, meskipun penjualan produk mereka mencapai Rp1 triliun di paruh 2021 ini. "Pemasaran inti meningkat secara signifikan di semester I 2021, tetapi metrik kredit akan melemah jika penjualan aset tidak dilakukan," katanya.

Selain penjualan aset dan saham, metrik kredit Agung Podomoro Land berpotensi melemah apabila kinerja operasional seluruh ritel dan hotel tetap lesu sepanjang 2021, serta pemulihan ke level sebelum pandemi tidak terjadi hingga 2023.

Moody's mencatat perusahaan pengembang memiliki delapan mal, dua gerai ritel, satu tower perkantoran, dan delapan hotel di seluruh Indonesia per 31 Maret 2021. Semua properti itu menyumbang 23 persen atau Rp963 miliar dari total pendapatannya per kuartal I 2021.

Sayangnya, Moody's meramal kinerja properti perseroan tersebut masih lesu sepanjang 2021. Karenanya, Moody's memprediksi pendapatan perseroan tahun ini tidak jauh beranjak dari posisi tahun lalu. "Kami memperkirakan kinerja operasional mal dan hotel tetap lemah sepanjang 2021, dan pemulihan ke tingkat pra-pandemi tidak mungkin terjadi hingga 2023," imbuh Moody's.

Selain itu, prospek kredit perseroan memburuk lantaran dibayangi ketidakpastian pada proyek reklamasi di Teluk Jakarta. Pada 6 September 2018, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencabut izin 13 reklamasi dari 17 pulau di Teluk Jakarta.

Sementara, reklamasi pulau G yang juga dikenal sebagai Kota Pluit, dibiarkan terus berlanjut selama perseroan menyerahkan 5 persen dari total hak reklamasi tanah kepada PT Jakarta Propertindo untuk kepentingan umum. Meski mengantongi izin, perseroan menghentikan proses reklamasi pada tanah seluas 161 hektar (ha) itu pada Mei 2016 lalu karena terkena sanksi administratif.

"APL sudah mulai menjual unit hunian di Kota Pluit sebelum semua proyek reklamasi di Teluk Jakarta dihentikan sementara pada Mei 2016 karena sanksi administratif," imbuh Moody's.

Pada perdagangan pagi ini, saham perseroan dengan kode APLN itu tercatat dibuka stagnan pada posisi Rp126 per saham. Namun, setelah satu jam perdagangan dibuka, sahamnya turun 0,79 persen menjadi Rp125 per saham. Dalam sepekan, saham APLN mengalami koreksi cukup tajam yakni 5,3 persen dan turun 33,51 persen sejak awal tahun (ytd).

Sekretaris Perusahaan Agung Podomoro Land Justini Omas untuk meminta tanggapan mengenai catatan Moody's tersebut. Namun, yang bersangkutan belum menjawab.


Monday, July 12, 2021

Penanganan Pandemi Membuat Pengusaha Kolaps dan Gelombang PHK

 Ada pengusaha yang harus menjual aset-aset mereka untuk bertahan di tengah pandemi. Di sektor transportasi banyak armada dijual oleh pemiliknya, di sektor hotel banyak pengusaha menjual hotel-hotelnya. Selain itu kini banyak juga aset perkantoran mulai dijual khususnya di DKI Jakarta.

Ada juga pengusaha yang menjual aset berharga seperti rumah termasuk mereka yang tinggal di kawasan elite DKI Jakarta. Akibat pandemi berkepanjangan banyak kalangan atas juga butuh uang (BU).

"Latar belakang kalangan atas mulai mau melepas properti di kawasan elite misalnya karena usahanya nggak maju, jadi mau bayar kewajiban utang di bank yang lainnya. Kemudian ada juga yang sudah memasuki usia pensiun," kata Ketua DPC AREBI Jakarta Utara Jopie Hori kepada CNBC Indonesia.

Fenomena ini menyebabkan pasar properti bekas makin limbung. Adanya tren penawaran ini makin banyak, sehingga berdampak pada suplai yang tinggi dan imbasnya harga turun. "Penurunan harga di kawasan Kelapa Gading, Sunter, Muara Karang, Pluit, Pantai Indah Kapuk (PIK) yaitu kisaran 10% sampai 15% atau maksimal di 20%. Ada yang jual murah sampai 20% penurunan tapi tidak menjadi patokan harga secara keseluruhan. Ketika properti tersebut dijual sangat murah, karena rumah warisan yang mau dibagi kepada saudara yang lain," sebut Jopie.

Selain di Jakarta Utara, kondisi serupa juga terjadi di wilayah lainnya semisal Jakarta Selatan. Beberapa pemilik rumah menjual karena adanya desakan untuk membagi hasil penjualan untuk warisan, dan faktor lainnya.

"Sama ya seputar warisan, kemudian untuk biaya berobat, ada juga yang harus melunasi kredit karena properti dalam jaminan atau agunan, aset diam tidak menghasilkan atau karena butuh cash saja," jelas Ketua DPC AREBI Jakarta Selatan AREBI Jakarta Selatan Andria Dian Palupi.

Country Manager Rumah dot com Marine Novita menjelaskan kenaikan pasokan rumah di area Menteng dan Pondok Indah sudah terjadi sejak Q3-2020. Saat memasuki tahun 2021 masih terjadi kenaikan suplai tapi tidak setinggi pada semester kedua 2020. "Banyak pemilik rumah memang ingin menjual rumah di kedua daerah itu sejak Q3-2020, namun sampai sekarang belum terjual. Harga juga semakin turun dari periode itu," jelasnya dalam keterangan resmi, Senin (12/7/2021).

Marine menjelaskan, penurunan harga disebabkan naiknya suplai pada Q3-2020. Walaupun harga sempat bertahan di Q4 lantas turun lagi di Q1-2021. Lalu penurunan harga berlanjut drastis pada Q2-2021 di kawasan Menteng. Sedangkan di kawasan Pondok Indah harga tetap bertahan.

Jika dibandingkan dengan kenaikan dan penurunan indeks harga pada Q1 menurut data Rumah dotcom Indonesia Property Market Index Q2 2021, wilayah-wilayah di DKI Jakarta mengalami penurunan secara merata di kisaran 0,44% per kuartal.

Wilayah dengan penurunan harga terbesar adalah Jakarta Pusat, yang turun sebesar 1,52% (quarter-to-quarter) pada kuartal pertama 2021. Sementara itu, Jakarta Selatan turun sebesar 1,19% (quarter-to-quarter). Artinya Menurut Marine, tingkat penurunan harga di area Menteng dan Pondok Indah masih lebih rendah dibanding tingkat penurunan secara umum di wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

 Masa pandemi yang sudah 1,5 tahun membuat pengusaha makin terpuruk, sampai jual harta-bendanya untuk bertahan. Mereka menjual aset-aset yang masih tersisa untuk kewajiban pada bank hingga karyawan.

Rumah menjadi salah satu jenis properti yang banyak dijual pada masa pandemi Covid-19. Namun, banyak dari pemilik aset yang memasukkan jenis properti lain ke pasaran untuk dijual oleh para orang kaya yang kena dampak pandemi. "Selain hunian atau rumah tapak, jenis properti yang banyak dijual di saat pandemi seperti saat ini adalah apartemen, gudang, hingga eks pabrik," kata Ketua DPC AREBI Jakarta Timur Lia Kristianti kepada CNBC Indonesia.

Namun, selain aset-aset itu, ada juga properti yang dijual seperti tanah hingga lahan kavling. Biasanya para penjual sedang butuh uang, untuk menutup kebutuhan kewajiban pada bank hingga pekerja. "Selain rumah tapak, yang banyak dijual di saat pandemi seperti saat ini adalah tanah, kavling dan kios," kata Ketua AREBI Jakarta Barat Tommy Tanuwidjaja.

Saat pandemi banyak pengusaha yang harus menjual aset untuk bertahan di masa pandemi, salah satunya di sektor otobus. Sudah banyak pengusaha bus yang menjual aset untuk bertahan supaya bisa beroperasi. Kondisi ini dibenarkan oleh Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia, Kurnia Lesani, banyak pengusaha bus, yang menjual aset untuk bertahan terutama operator bus pariwisata. "Benar, terutama operator bus yang tidak dalam trayek atau bus pariwisata," katanya, kepada CNBC Indonesia.

Pemilik dari PO Sumber Alam, Anthony Steven Hambali, juga membenarkan banyak pengusaha bus yang menjual aset untuk bertahan di masa pandemi. Terlihat dari banyaknya penawaran aset bus di media sosial hingga toko belanja online. Bahkan perusahaannya juga sudah melakukan hal serupa dari tahun 2020 lalu. "Itu ada 50 unit yang sudah kita jual. Dan itu kita jual dengan harga rongsok atau tidak ada nilai fungsi, besi kiloan itu," jelasnya.

Anthony menjelaskan permasalahan sampai saat ini adalah sudah banyak perusahaan otobus yang tidak bisa membayar kewajiban kepada leasing, bahkan kepada karoseri. Pemberian restrukturisasi keuangan perusahaan bus tahun lalu hanya menghilangkan bunga yang dibayarkan. Sementara pembayaran cicilan pokok terus berlanjut. Masalahnya pengusaha sudah banyak yang tidak mampu membayar itu.

"Saya juga masih ada kendaraan yang nyangkut di karoseri tidak bisa diambil kendala dana. Situasinya sekarang kita sudah harus jual aset untuk pertahankan cash flow," jelasnya.

Adanya pandemi ditambah pengetatan mobilisasi masyarakat PPKM Darurat membuat okupansi bus hanya berkisar 20% tiap keberangkatan bus. Selain perusahaan bus memberangkatkan penumpang dalam kondisi rugi, karena biaya operasi tidak terbayar dari jumlah penumpang.

"Kita jual aset ya karena supaya bisa subsidi angkutan yang jalan. Banyak yang jalan tapi kondisi rugi. Kita harus punya cash untuk tutup itu. Sementara kalau kita tidak berangkat penumpang akan pindah ke kompetitor," katanya, sambil menjelaskan saat ini hanya mengoperasikan bus 15 unit dari 100 unit total armada.


Bank Digital BCA Akan Segera IPO

 PT BCA Tbk menyatakan bakal melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) anak usahanya, yakni PT Bank Digital BCA. Rencananya, bank digital perusahaan akan melantai dalam 1-2 tahun ke depan. "Kami sampaikan benar perseroan memiliki rencana pengembangan bisnis atas entitas anak perseroan, yaitu PT Bank Digital BCA untuk jangka panjang, termasuk potensi untuk melakukan IPO," ujar Sekretaris Perusahaan Raymon Yonarto lewat surat keterangan kepada BEI, dikutip Selasa (13/7). 

Meskipun sudah direncanakan akan melantai dalam waktu tersebut, namun Raymon menyebut rencana disesuaikan dengan dinamika pasar dan perkembangan ekonomi di masa mendatang. 

Mulai Hari Ini Dalam menjalankan operasional perbankan dan sebagai bagian dari anggota BEI, BCA menegaskan akan mengikuti ketentuan UU perbankan RI dengan berkoorinasi dengan regulator perbankan dan otoritas terkait. 

Sebelumnya, BCA telah meluncurkan aplikasi bank digitalnya yang bernama blu pada Jumat (2/7) di Google Play Store. Blu memberikan bebas biaya administrasi bagi pengguna yang akan mendaftar. Begitu juga dengan biaya transfer, gratis. "Bebas biaya admin dan transfer atau top up Gopay dengan kuota 20 kali per bulan selama dua bulan pertama sejak bulan pembukaan rekening," tulis blu dalam aplikasinya. 

Di aplikasi blu, ada beberapa fitur yang bisa didapat pengguna, misalnya bluSaving. Fitur ini bisa membuat pengguna mengatur perencanaan keuangannya, seperti pengeluaran untuk makan, transportasi, hingga tabungan pendidikan misalnya. "Bisa bikin 10 tabungan dalam satu rekening, nabung gak pusing".


Sunday, July 11, 2021

Hotman Paris Hutapea Ingin Tax Amnesty Jilid 2 Segera Diwujudkan

 Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea ikut angkat bicara terkait wacana pemerintah mengeluarkan program pengampunan pajak alias tax amnesty jilid II. Dia meminta agar diumumkan segera terkait rencana itu. Hotman Paris mengatakan pemerintah Indonesia memerlukan dana untuk menangani dampak pandemi COVID-19 yang masih berlangsung ini. Dengan potensi tambahan penerimaan dari tax amnesty jilid II, bisa membantu keuangan negara.

"Segera umumkan tax amnesty jilid II agar negara dapat uang, negara perlu uang untuk mengatasi pandemi ini," kata Hotman Paris dikutip dari Instagram resminya, Minggu (11/7/2021). Hotman Paris heran mengapa wacana tax amnesty jilid II lama diputuskan. Dia berharap program itu dapat segera disetujui oleh DPR RI. "Kenapa begitu lama, padahal Bapak Presiden sudah mengirim surat ke DPR ini sudah hampir sebulan berlalu tapi belum ada kabar nih. Mohon segera tax amnesty jilid II segera di-goalkan," tuturnya.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo pernah mengatakan bahwa pemerintah tidak akan melakukan program tax amnesty seperti pada 2016. Saat ini yang sedang dirancang adalah program peningkatan kepatuhan sukarela.

"Terkait wacana tax amnesty, kami sampaikan sesungguhnya kali ini bukanlah tax amnesty sebagaimana tahun 2016. Yang kali ini dirancang adalah program peningkatan kepatuhan sukarela dengan tarif pajak normal, menghapuskan sanksi," ungkap Yustinus dalam webinar Narasi Institute, Jumat (11/6/2021).

Yustinus mengatakan tidak akan ada program tax amnesty berjilid-jilid yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan. Yustinus pun yakin hanya wajib pajak yang betul-betul jujur yang akan mengikuti program baru ini.

"Maka kami yakini hanya wajib pajak yang betul-betul patuh dan jujur yang mau ikut. Itu yang kita dorong. Jadi ini bukan jilid-jilidan," kata Yustinus. Meski begitu, diakui program ini dirancang untuk menuntaskan program tax amnesty sebelumnya. Dia menegaskan tidak akan ada tarif rendah macam tax amnesty lagi. "Ini adalah upaya menindaklanjuti apa yang belum tuntas supaya tuntas di program ini. Supaya nggak cederai, karena tarifnya tinggi nggak seperti tax amnesty waktu itu," papar Yustinus.

Wacana Tax Amnesty kembali mencuat ke permukaan tahun ini. Padahal, normalnya program pengampunan pajak ini dilakukan sekali dalam jangka waktu yang lama, di mana program ini terakhir kali dijalankan pada medio 2016-2017 lalu.

Ekonom Senior Indef Faisal Basri mengungkapkan ada 'orang kuat' di balik wacana ini. Beberapa pihak dinilainya mendorong Tax Amnesty jilid II dilangsungkan. Secara blak-blakan, Faisal Basri mengatakan, Menko Perekonomian dan pengusaha dari Kadin Indonesia jadi pihak yang ingin program pengampunan pajak ini digulirkan kembali.

Dia menyatakan, sejak Tax Amnesty pertama berjalan di medio 2016-2017 yang lalu ada beberapa 'orang kaya' yang cuek dan tidak ikut mendaftar. Setelah program itu selesai, orang-orang ini baru sadar bila di kemudian hari Dirjen Pajak Kementerian Keuangan bisa mengejar harta mereka lagi yang tidak dilaporkan.

"Kan Tax Amnesty 2016-2017 itu sudah selesai, nah si kaya ini ada yang cuek dengan Tax Amnesty, dia nggak ikut. Sekarang baru sadar bisa diburu buru sama Dirjen Pajak karena dendanya 300% kan, Bisa miskin mereka. Bisa tinggal 10% kekayaan mereka itu nyisa," ungkap Faisal Basri dalam diskusi Indef secara virtual, dikutip Minggu (10/7/2021).

Faisal mengatakan, orang-orang itu lah yang mendorong adanya Tax Amnesty jilid II. Secara pribadi, Faisal menolak wacana tersebut. Menurutnya, pemerintah harus lebih berani menerapkan hukum tanpa pandang bulu. Selama ini, kata dia, usulan Tax Amnesty jilid II tak pernah diusulkan dari kubu Kementerian Keuangan. Bahkan, sejauh pemantauannya, isu tersebut juga tak pernah masuk dalam RUU Reformasi Perpajakan.

Seperti diketahui, Airlangga Hartanto saat ini menduduki kursi Menko Perekonomian yang juga merangkap sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Airlangga disebut menjadi 'orang kuat' yang menggiring usulan Tax Amnesty masuk dalam RUU reformasi perpajakan. "Saya sih respect dalam konteks ini, kalau Tax Amnesty itu bukan dari Kemenkeu, tidak ada dari draf RUU KUP Kemenkeu. Tapi ini diminta dimasukkan oleh yang namanya Airlangga Hartarto. Dia yang merupakan Ketua Umum Golkar selain itu menjadi Menko Perekonomian," papar Faisal Basri.

Faisal mengatakan, Airlangga juga didukung para pengusaha dari Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia. "Rencana ini didorong juga oleh Kadin Indonesia. Jadi masih ada perusahaan dan pengusaha bandel yang merasa di-backup," katanya.

Mereka yang jadi 'orang kuat' di balik Tax Amnesty jilid II ini, menurut Faisal Basri sedang kejar tayang agar program itu dilakukan kembali. Karena bisa saja, bila kepemimpinan berganti setelah Pemilu 2024 perjuangan Tax Amnesty akan makin sulit. "Nanti kalau tidak ada lagi mereka dukung Jokowi, dan Jokowi habis masa jabatannya mereka diburu lagi nih. Makanya mereka perjuangkan Tax Amnesty jilid II," ungkap Faisal.

Lebih jauh Faisal juga menyebutkan, para pihak di balik Tax Amnesty jilid II juga kemungkinan disebut menjadi pencetus gagasan presiden tiga periode yang sedang hangat diperbincangkan. Hal itu dilakukan untuk mengamankan posisi pemerintah saat ini. "Atau bisa juga mereka memperjuangkan agar pak Jokowi jadi Presiden lagi, agar mereka aman lagi. Makanya muncul lagi lah gagasan 3 periode itu, semua oligarki itu semua, yang pajaknya nilep," ungkapnya.

Sejak wacana program Tax Amnesty kembali bergulir Mei lalu, tiba-tiba dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama pemerintah, hal itu membuat Faisal curiga. Menurutnya, ada 'orang kuat' di balik rencana itu. "Ini karena pemerintah takut memburu pembayar pajak yang nakal. Jadi kan harusnya pemerintah menegakkan aturan, memburu pembayar pajak yang tidak benar dan tidak ikut tax amnesty, kenakan denda 100- 200%," ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia TV, dikutip Kamis (27/5/2021).

"Tapi sangat boleh jadi orang-orang itu orang-orang kuat. Nah oleh karena itu diberikan jalan," tegasnya.

Faisal menuding orang-orang tersebut berada dalam lingkaran terdekat Presiden Joko Widodo (Jokowi), bisa jadi politikus maupun pengusaha, sehingga sulit bagi petugas pajak untuk mengejar hak dari negara. "Orang kuat itu ada di dalam pusaran terdalam politik. mereka dekat dengan inti kekuasaan, dan mereka punya pengaruh politik yang besar," terang Faisal.

Saturday, July 10, 2021

Airlangga Sentil Pengusaha Yang Lakukan PHK

 Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyentil sejumlah pengusaha yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada pekerja-nya selama PPKM Darurat. Menurut Airlangga, kebijakan itu tidak tepat. Sebab pengetatan yang dilakukan pemerintah melalui PPKM Darurat hanya berlangsung kurang dari sebulan. 

"Kami ingatkan kepada pengusaha bahwa PPKM ini baru berlangsung dalam 2 minggu. Tanggal 3 Juli sampai tanggal 20. Sehingga, kalau melakukan PHK dalam 2 minggu ini menurut saya bukan sesuatu yang sesuai," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Jumat (9/7). 

Terlebih, menurut Airlangga, pemerintah tak melakukan lockdown total dan masih memperbolehkan sektor-sektor tertentu tetap beroperasi, baik secara terbatas maupun secara penuh, dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Dalam peratuan PPKM Darurat hanya sektor esensial dan krital yang boleh beroperasi sedangkan yang lain harus dari rumah alias tidak boleh kekantor dan penyekatan dijalan agar karyawan tidak bepergian terutama yang tidak bekerja sektor essensial dan kritial.

 "Sektor esensial dapat beroperasi, tentu sektor-sektor lain kami lihat secara kasus per kasus. Kalau ada yang lakukan PHK hanya karena PPPKM Darurat, menurut pemerintah ini bukan sesuatu hal yang pada tempatnya," imbuhnya. Airlangga juga memastikan bakal terus memantau sektor-sektor terdampak dan mencari solusi agar tidak terjadi PHK. Menurutnya, pemerintah juga telah memberikan banyak fasilitas untuk meringankan beban pengusaha. 

"(Bantuan) dari segi perbankan dan juga terkait usaha kecil dan menengah, dan memberikan subsidi bunga, misalnya 3 persen. Sehingga, tentu kalau ada kasus PHK harus dilihat kasus per kasus. Tidak digeneralisir," jelasnya. Di luar itu, pemerintah juga bakal menambah bantuan kepada masyarakat terdampak pandemi covid-19 dalam bentuk beras sebanyak 10 kg. 

"Ini diberikan kepada 20 juta masyarakat, di mana 10 juta merupakan penerimaan program keluarga harapan (PKH) dan 10 juta penerima bantuan sosial tunai (BST). Nah ini sedang difinalisasi dan didorong untuk dilaksanakan melalui Perum Bulog," tandasnya.


Friday, July 9, 2021

Memahami Akal Sehat Pembuat Rancangan Undang Undang Ketentuan Umum Perpajakan

 Beberapa minggu sejak pertama kali digulirkan oleh media, Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketentuan Umum Perpajakan) KUP yang dicanangkan oleh Pemerintah masih saja hangat diperbincangkan, baik secara mikro oleh ibu-ibu rumah tangga, oleh praktisi perpajakan, maupun dalam diskusi serius para pakar.

RUU KUP menyebutkan bahwa latar belakangnya adalah bahwa untuk pemulihan ekonomi diperlukan strategi peningkatan penerimaan pajak. Poin peningkatan penerimaan pajak ini tercermin di banyak sekali pasal yang, katakanlah, sapu bersih dan hajar saja untuk memperluas basis pemajakan.

Sejak tahun 1983 kita terbiasa pada kalimat indah pada Undang-Undang (UU) Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bahwa barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan rakyat banyak tidak kena pajak. Pada penjelasannya tertulis bahwa barang itu meliputi beras, gabah, jagung, sagu, kedelai, garam, daging, telur, susu, buah, sayur. Ini jelas, yang dimaksud adalah barang non elastis yang berapa pun harganya rakyat harus membeli karena harus makan.

Narasi dari pemerintah saat ini adalah bahwa terdapat ketidakadilan penerapan PPN dengan adanya barang tidak kena pajak itu. Contohnya daging wagyu yang harganya sekilo Rp 1,8 juta yang dinikmati hanya oleh golongan kaya juga turut tidak dikenai PPN karena bentuknya adalah daging.

Mari kita bedah kembali narasi di atas. Syarat yang harus dipenuhi untuk tidak dikenai PPN adalah kebutuhan pokok, diperlukan rakyat banyak, berupa daging. Lantas kenapa wagyu jadi tidak dikenai PPN? Saya juga cukup heran (baca: tidak habis pikir) ada orang yang kebutuhan pokoknya wagyu.

Bilapun undang-undang dipandang tidak cukup jelas memberi "baju" pada wagyu, bukankah tinggal memperjelasnya dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK)? Atau kalaupun tarifnya terlalu rendah karena masih 10%, ada jalan di Pajak Penjualan Barang Mewah.

Coba bayangkan apa yang dirasakan rakyat kecil yang mendengar kata "wagyu" saja baru kali ini. Berbarengan dengan keluarnya kata "wagyu" itu harga barang akan naik semua. Memang katanya akan ada pengkategorian lagi dari segi jenis, mutu, harga, maupun sasaran. Namun highlight-nya adalah pada dari tidak kena menjadi kena PPN.

Ini belum kita membahas jasa-jasa yang dulunya tidak kena pajak menjadi kena. Perhatikan contoh jasa yang kena PPN berikut (urutan ke-9 akan membuat Anda tercengang!). Jasa dokter, pemadam kebakaran, pemakaman, jasa olah raga, jasa leasing, kartu kredit, asuransi, kegiatan keagamaan, konser kesenian, SPP, iklan layanan masyarakat, bus/kereta api, jasa outsourcing, menjadi kena PPN.

Sama dengan narasi barang kena pajak di atas, apa karena ada sekolah internasional, dokter bedah estetika, pemadam kebakaran (mahal?), olah raga golf, leasing mobil Ferrari, carter pesawat terbang pribadi, yang menyebabkan semua akhirnya ditarik menjadi jasa kena pajak?

Merusak Persepsi

Semua perubahan di atas bila untuk menciptakan keadilan menurut saya malah jauh panggang dari api. Bahkan wacana begini justru merusak persepsi masyarakat terhadap konsep keadilan pajak bagi rakyat kecil.

PPN adalah pajak atas objeknya. Beda lagi dengan Pajak Penghasilan yang merupakan pajak atas subjeknya. Atta Halilintar dengan saya tarif pajak penghasilannya jelas berbeda. Atta seharusnya sudah membayar pajak hampir sepertiga dari penghasilannya. Nah, kalau dia menyekolahkan anaknya ke pendidikan terbaik, masalahnya apa? Dia sudah membayar lunas Pajak Penghasilannya. Lantas kenapa juga karena anaknya dia sekolah mahal, anak saya jadi harus bayar PPN jasa pendidikan?

Saya dalam kapasitas sebagai sekrup sangat kecil sebagai wajib pajak yang juga staf pajak di sebuah perusahaan memang menunggu adanya perubahan arah perpajakan. Mungkin konkretnya dengan perubahan UU KUP. Bersama saya mungkin ada banyak juga pelaku pajak yang lain. Namun yang ditunggu bukan yang begini.

Saat ini yang menjadi kegusaran saya adalah warga negara yang menghindar dari kewajiban pajak dibiarkan saja. Justru warga negara yang sudah tertib menjalankan kewajiban perpajakan malah dikejar-kejar dengan segala macam teguran, imbauan, pemeriksaan.

Masalah lainnya adalah menjadi wajib pajak tertib itu susah! Mengisi laporan pajaknya sulit, membayarnya sulit, melaporkannya sulit. Peraturan yang ada juga cenderung tumpang-tindih. Mengenai peraturan yang tumpang-tindih itu berpotensi juga menyebabkan perselisihan pajak. Pernah dengar pemeriksaan pajak? Jangan keder, jangan sedih, jangan heran kalau menghadapi pemeriksaan. Di sini tidak ada kebenaran tunggal karena petugas pajak selalu benar.

Agak horornya adalah bahwa petugas pajak punya target berupa pemasukan ke negara yang harus mereka emban. Maka goal-nya adalah mencapai target itu dengan segera. Sedangkan hal kualitatif mengenai apakah sudah cukup adil cara mereka melakukan pengawasan dan pemeriksaan, malah tidak ada indikatornya.

Mengingat pajak adalah kewajiban warganya dalam pembiayaan negara, seharusnya semua wajib pajak membayar pajak. Yang menghindar, kejar! Yang belum masuk radar, masukkan! Ambil data dari mana pun yang bisa menjaring wajib pajak. Dengan begitu tanggung jawab mengisi kas negara dari pajak bisa ditanggung bersama.

Menunggu Kelanjutan

Seharusnya RUU KUP lebih fokus pada kerangka, konsep, aspek formal dalam memperluas basis pemajakan, memperbaiki regulasi, penyederhanaan, dan menciptakan rasa tenteram dalam pemenuhan kewajiban perpajakan. Bila dapat dipenuhi saya yakin juga akan meningkatkan kepatuhan sukarela dari wajib pajak dan otomatis akan meningkatkan penerimaan negara.

Bahwa pemerintah yang terdiri dari Menteri, Pejabat hingga Pegawai Negeri memilih memunculkan RUU KUP ini, yang highlight-nya adalah memperluas basis penerimaan pajak dengan menghapus barang dan jasa tidak kena pajak dan juga meningkatkan tarif, baiklah kita tunggu saja kelanjutannya.

Tahun 1983 kita ingat sebagai tonggak reformasi perpajakan. Dan baru tiga puluh delapan tahun kemudian reformasi besar terjadi lagi. Saat ini pembahasan di DPR sedang dilakukan. Suara sayup-sayup dari rakyat ini mungkin saja tidak terdengar, tapi bagaimanapun kita harus tetap bersuara, Semoga apapun hasilnya adalah kabar baik.

Wednesday, July 7, 2021

Kebijakan Tidak Jelas Saat Pandemi ... Indonesia Turun Kelas Jadi Negara Kelas Bawah

Bank Dunia (World Bank) menurunkan Indonesia dari kategori negara berpenghasilan menengah ke atas (upper middle income) pada 2019 menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah (lower middle income) pada 2020. 

Dari publikasi yang diperbarui setiap 1 Juli tersebut, Bank Dunia mencatat Pendapatan Nasional Bruto (GNI) Indonesia turun dari US$4.050 menjadi US$3.870. Penurunan status Indonesia lantaran dampak pandemi covid-19 yang memukul penghasilan masyarakat. Perhitungan yang dilakukan Bank Dunia mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar mata uang, dan pertumbuhan populasi yang dipengaruhi oleh GNI per kapita. 

Klasifikasi ini sebenarnya digunakan Bank Dunia secara internal sebagai salah satu pertimbangan suatu negara dalam mendapatkan fasilitas dari lembaga internasional itu. 

Namun, klasifikasi ini juga dirujuk secara luas oleh organisasi internasional lain. Dalam klasifikasi baru, Bank Dunia mengkategorikan negara berpenghasilan menengah ke bawah dengan rentang pendapatan US$1.046-US$4.095 dan kelompok penghasilan menengah ke atas US$4.096-US$12.695. Sebelumnya, klasifikasi penghasilan menengah ke bawah berada dalam rentang US$1.035-US$4.045 dan menengah ke atas sebesar US$4.046-US$12.535. 

"Indonesia, Mauritius, Rumania, dan Samoa sangat dekat dengan ambang klasifikasi pada 2019 dan mereka mengalami penurunan Atlas GNI per kapita karena covid-19 yang mengakibatkan klasifikasi lebih rendah pada 2020," jelas Bank Dunia lewat laporannya seperti dikutip, Rabu (7/7). Artinya, status negara berpenghasilan menengah ke atas hanya mampu dipegang Indonesia selama setahun. 

Pada tahun lalu, Bank Dunia menaikkan peringkat Indonesia dari negara pendapatan menengah menjadi negara berpenghasilan menengah ke atas. "Sebuah prestasi membanggakan. Kenaikan status diberikan berdasarkan penilaian Bank Dunia terkini. GNI per capita Indonesia 2019 naik menjadi US$4.050 dari posisi sebelumnya, yaitu US$3.840," terang Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Rahayu Puspasari kala itu.


Monday, July 5, 2021

PHK Kembali Bayangi Nasib Pekerja Hotel dan Restoran

  Pengusaha hotel dan restoran berpotensi merumahkan pekerja mereka di era PPKM Darurat Jawa-Bali. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan pemutusan hubungan kerja (PHK) akan terjadi bila kondisi 'besar pasak dari tiang' terus berlangsung. Besar pasak dari tiang yang dimaksud adalah tingginya biaya operasional yang harus dibayar pengusaha. Sementara di sisi lain, pendapatan menurun dampak pembatasan kegiatan bisnis hotel dan restoran.

"Semua ini (PPKM darurat) mengakibatkan operasional hotel dan restoran menurun yang dampaknya merumahkan karyawan dan bisa berakhir PHK," imbuh Ketua Perhimpunan Restoran dan Hotel Indonesia (PHRI) DKI Jakarta Sutrisno Iwanto dalam diskusi virtual, Senin (5/7).

Diketahui, sektor usaha restoran tidak diizinkan menerima pengunjung untuk makan dan minum di tempat (dine in). Operasional restoran terbatas pada layanan pesan antar (delivery) dan take away. Larangan yang tertuang dalam PPKM Darurat Jawa-Bali 3-20 Juli 2021 ini berlaku di seluruh restoran, kafe, lapak jajanan, baik yang berada di pusat perbelanjaan atau mal maupun yang berdiri sendiri (di luar mal).

Wakil Ketua Bidang Restoran PHRI DKI Jakarta Rully Rifai mengaku sangat berharap pada bantuan pemerintah. "Melihat aturan PPKM Darurat, restoran ya di-lockdown," ujarnya lirih. Masalahnya, pengusaha tetap terbebani dengan biaya sewa tempat, biaya gaji karyawan, biaya listrik, dan lain sebagainya. "Yang pasti, kami merumahkan karyawan. Seumpamanya berlanjut pun, (mungkin) akan ada PHK ya," jelasnya memperingatkan.

Sebab, menurut Rully, bisnis restoran tidak bisa bergantung hanya dari layanan pesan antar dan take away. Terlebih, pengusaha restoran harus bersaing dengan banyaknya usaha rumahan yang menjual makanan dan minuman secara online.

Untuk menghindari gelombang PHK besar-besaran di sektor hotel dan restoran, Iwan merekomendasikan sejumlah usul, mulai dari keringanan listrik hingga bantuan untuk pekerja yang terpaksa dirumahkan. Untuk keringanan biaya listrik, lanjut Iwan, pengusaha membutuhkan subsidi 30-50 persen. Kemudian, pengurangan biaya air dan tanah (sewa tempat).

Di bidang ketenagakerjaan, ia menyarankan pemerintah menerapkan aturan yang memberlakukan unpaid leave atau cuti tanpa bayaran, pekerja multi-tasking, dan pengalihan perjanjian tenaga kerja waktu tertentu menjadi tenaga kerja harian (casual).

"Lalu, subsidi gaji karyawan hotel dan restoran yang terdampak PPKM Darurat, termasuk bansos tunai (BLT) bagi karyawan yang dirumahkan," ungkap Iwan.

Insentif Pajak PPh Untuk Usaha Mikro Akan Dicabut

 Pemerintah akan mencabut insentif pajak penghasilan (PPh) final bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan omzet kurang dari Rp50 miliar. Rencana ini terealisasi jika Rancangan Undang-undang soal Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (RUU KUP) disahkan.

Diketahui, ketentuan mengenai insentif PPh final UMKM tertuang dalam Pasal 31E UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan (UU PPh).Klausul tersebut memberikan insentif kepada wajib pajak (WP) badan dalam negeri dengan pendapatan bruto maksimal Rp50 miliar setahun berupa pengurangan tarif sebesar 50 persen dari tarif normal.

Dengan ketentuan itu, tarif PPh badan sebesar 22 persen didiskon menjadi 11 persen bagi UMKM dengan penghasilan kurang dari Rp50 miliar. Kemudian, pada 2022, saat PPh badan turun menjadi 20 persen, maka UMKM hanya perlu membayar 10 persen. Namun, RUU KUP yang tengah dibahas pemerintah bersama dengan DPR berpotensi menghapus insentif PPh UMKM tersebut.

Direktur Jenderal Pajak Suryo Utomo membenarkan pemerintah akan mencabut insentif PPh final bagi UMKM beromzet kurang dari Rp50 miliar itu. "Penyesuaian memang betul dalam Pasal 31E," ungkapnya dalam rapat bersama Panja Komisi XI DPR, seperti dilansir Antara, Senin (5/7).

Alasannya, sambung dia, insentif diberikan saat penerapan tarif tunggal PPh badan sebesar 28 persen. Sedangkan pada 2022, tarif PPh badan akan turun menjadi 20 persen. "Sehingga, pengaturan tersebut tidak relevan lagi," jelasnya.

Alasan lainnya, sudah ada implementasi tarif PPh final UMKM dengan omzet sampai Rp4,8 miliar sebesar 0,5 persen. Kemudian, alasan berikutnya ada kebutuhan untuk menyederhanakan struktur tarif PPh badan demi mewujudkan keadilan. Suryo melanjutkan dalam pengaturan Pasal 31E UU PPh saat ini, WP badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp50 miliar mendapatkan fasilitas pengurangan tarif 50 persen.

Namun, pengurangan tersebut dari tarif Pasal 17 atas bagian Penghasilan Kena Pajak (PKP) dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp4,8 miliar. "Karena itu, kami usulkan ketentuan pasal itu agar dihapuskan," tandasnya.

Saturday, July 3, 2021

Meski Terlambat Wakil Menkeu Suahasil Nazara Sebut Indonesia Harus Belajar Hidup Besama COVID-19

 Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menyebut Indonesia harus mulai mempertimbangkan kemungkinan hidup berdampingan dengan Covid-19 sebagai endemi setelah pandemi selama 1,5 tahun terakhir. "Pandemi telah mengubah kita semua dalam 1,5 tahun terakhir. Ini sebuah pola. Kita mungkin harus mulai memikirkan untuk hidup dengan endemi, bahwa virus ini akan bersama kita," katanya dalam Kongres Dunia ke-19 Asosiasi Ekonomi Internasional (IEA), Sabtu (3/7).

Endemik merupakan kehadiran penyakit atau infeksi secara terus menerus yang biasa terjadi dalam suatu wilayah geografis. Endemik biasanya bertahan hingga hitungan tahun, seperti cacar air atau malaria.

Suahasil menyatakan bahwa bila nantinya Covid-19 ditetapkan sebagai endemi di Indonesia, banyak pertanyaan yang menunggu untuk dipecahkan. Misalnya, langkah yang harus dilakukan dengan pengembangan infrastruktur, konektivitas, dan peran fleksibilitas fiskal untuk menopang ketahanan keuangan negara.

"Apa yang terjadi kalau virus ini akan selalu ada? Sejauh mana kebijakan fiskal dilakukan? Apa harus kita fleksibel setiap saat?" ujarnya. Ia mengatakan bahwa fiskal harus disiapkan dengan fleksibilitas tinggi dalam jangka pendek. Namun, disiplin fiskal harus dijaga untuk jangka menengah dan panjang demi keberlanjutan pembiayaan.

Saat ini, Kemenkeu menetapkan defisit APBN 2021 di kisaran 5,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) akibat penanganan pandemi Covid-19. Defisit fiskal ditargetkan dapat ditekan kembali di bawah 3 persen dalam waktu 3 tahun.

Selain soal penanganan pembiayaan, ia menyebut program vaksinasi juga harus menjadi pertimbangan. Pasalnya, keberhasilan vaksinasi bakal menjadi penentu perkembangan sektor keuangan. Meski yakin vaksin bakal tersedia untuk semua orang nantinya, Suahasil mempertanyakan kapan semua warga akan selesai divaksinasi. "Saya percaya jumlah vaksin akan mencukupi untuk semua, tapi kapan? Ini pertanyaannya. Semakin cepat vaksin tersedia untuk semua, semakin cepat juga pemulihan," katanya.

Sesa Susanti Dengan Furniture Bisa Mendunia Hingga Alaska

 Bukan kodrat seorang wanita bermain-main dengan peralatan kayu. Namun Sesa Susanti (36) lulusan S1 Sastra Inggris, justru berhasil mendapatkan keuntungan dari furnitur yang terbuat dari kayu hasil tangannya sendiri.

Sesa yang tinggal dan besar di daerah Tangerang ini menyadari banyak kayu-kayu dari pabrik yang tidak terpakai di daerahnya. Setelah menganggur selama 2 tahun, akhirnya pada bulan Desember 2016 ia menemukan ide untuk 'menyulap' kayu bekas tersebut. Dengan modal pinjaman uang Rp 300 ribu Sesa nekat membuat nakas, semacam meja untuk di samping tempat tidur. Setelah belajar secara otodidak, ia menjualnya di sosial media.

"Dengan modal Rp 300.000, saya waktu itu dapat keuntungan Rp 50 ribu. Kenapa saya mau dengan omset segitu, karena saya pikir, saya tidak punya skill, saya tidak punya background di kayu. Lalu saya coba upload di facebook, di sosial media Dan akhirnya ada yang suka, order, dan akhirnya berlanjut ke bisnis kecil-kecilan sampai sekarang," ujar Sesa dalam program Sosok.

Memulai hobinya di depan rumah, kini Sesa berhasil mempunyai workshop sendiri untuk mengolah kayu-kayunya. Ada dua lokasi, satu di Tangerang, dipegang oleh Sesa sendiri. Dan yang satu lagi di Balaraja, dipegang oleh karyawannya.

"Kalau yang di sini (Tangerang) sih sebenarnya lebih ke saya biasa kerja sendiri, tidak betah ada anak buah. Jadi lebih fokus ke saya untuk bikin inovasinya tuh lebih enak. Tidak mau ada gangguan," ujarnya. Nalaktak Kai, itulah nama yang diberikan Sesa pada usahanya. Nama ini berasal dari bahasa Sunda yang kurang lebih menggambarkan diri Sesa yang tidak bisa diam saat melihat kayu-kayu.

Pembeli produk Sesa tidak cuma berasal dari dalam negeri saja. Beberapa kali ada juga pesanan yang datang dari luar negeri. "Waktu itu dari Alaska, Italia, Jerman, tapi masih personal. Tidak dalam jumlah besar," bebernya. Tentu banyak cobaan yang dialami Sesa dalam menjalankan bisnis perabotan kayunya ini. Salah satunya adalah menghadapi cemoohan orang yang menganggap perempuan tidak cocok menjadi seorang pandai kayu.

"Kalau yang kontra itu biasanya karena saya perempuan. Karena biasanya tukang kayu itu di kita itu laki-laki yang mengerjakan. Sampai sekarang masih ada yang bully. Dan tentunya lebih banyak yang bullynya maaf, gendernya laki-laki. Mungkin karena aneh ya," ujar wanita berjilbab ini.

Dengan adanya pandemi COVID-19 ini usaha yang dijalani Sesa juga terkena dampaknya. Pesanan untuk keperluan furniture rumah tangga yang tadinya jadi mayoritas jadi bergeser ke properti untuk kantor.

Berkat pekerjaan yang terbilang penuh resiko, Sesa mendapat apresiasi dari Dinas Pemberdayaan Perempuan. Karena dinilai berani melakukan hal-hal yang terbilang berbahaya. Misal, memotong kayu menggunakan mesin potong, melakukan pembubutan, dan masih ada beberapa hal berbahaya lainnya.

"Selama menekuni pekerjaan ini, saya mendapat apresiasi dari Dinas Pemberdayaan Perempuan. Waktu itu masuk 10 besar, perempuan inspiratif untuk Kabupaten Tangerang. Mewakili Dinas Koperasi," kata Sesa sambil tersenyum.

Thursday, July 1, 2021

PHK Akan Jadi Jalan Keluar Darurat Saat PPKM Darurat

Pemerintah membatasi aktivitas lewat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKM Darurat) pada 3-20 Juli 2021. Kekhawatirannya, target pertumbuhan ekonomi 4,5 persen-5,3 persen pada tahun ini kandas karena kebijakan tersebut bakal menekan kegiatan ekonomi.

Kepala Departemen Ekonomi CSIS Yose Rizal Damuri mengungkapkan kebijakan PPKM darurat sudah pasti akan menekan permintaan atau daya beli masyarakat. Berkaca dari tahun lalu, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menekan Produk Domestik Bruto (PDB) RI kuartal II minus 5,32 persen secara tahunan (yoy). Pukulan paling telak dialami sektor transportasi dan pergudangan (-30,84 persen yoy) serta penyediaan akomodasi dan makan minum (-22,02 persen yoy).

Memang, kontraksi PDB kemungkinan besar tak akan sedalam tahun lalu karena faktor base effect 2020 yang sangat rendah. Namun, kondisinya justru bakal jauh lebih berat bagi pengusaha karena arus kas mereka sudah tergerus habis-habisan untuk bertahan di tengah pandemi selama hampir 1,5 tahun. Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan perhatian khusus kepada lapangan usaha yang paling terdampak PPKM darurat.Ini penting agar tidak ada gelombang baru pemutusan hubungan kerja (PHK).

Beberapa lapangan usaha yang terdampak itu di antaranya ritel dan restoran. Berdasarkan dokumen panduan PPKM Darurat yang dirilis Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, pusat perbelanjaan/mal dan pusat perdagangan akan ditutup, sementara restoran hanya bisa melayani pesan antar.

"Jadi, memang perlu ada insentif untuk sektor-sektor ini karena mereka bertahan saja sekarang kan sebenarnya sulit. Jangan kasih kredit baru buat ekspansi, beri keringanan saja seperti pajak, bukan cuma pusat, tapi juga daerah, seperti PBB," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (2/7).

Yose juga berpandangan pemerintah perlu menyiapkan stimulus baru bagi sektor manufaktur dalam berbagai bentuk, baik itu pinjaman berbunga rendah, penjaminan kredit hingga insentif pajak. Tujuannya, bukan agar mereka berekspansi, melainkan agar mereka tak melakukan PHK karyawan dan melakukan perekrutan kembali.

Terlebih untuk mengurangi risiko pandemi, pengusaha sektor manufaktur akan lebih memilih untuk menggunakan sedikit tenaga kerja dan menambah kapasitas mesin. "Kita perlu insentif untuk re-hiring. Jadi, memberikan bantuan kepada dunia usaha tujuannya bukan untuk menjalankan atau memperluas produksinya dengan memberikan pajak dan lain-lain, tapi untuk bisa hiring back," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan hal yang tak kalah penting untuk mencegah PHK selama penerapan PPKM Darurat adalah memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga. Sebab, meski restoran masih boleh dibuka dan aktivitas produksi industri kritikal diizinkan work from office 100 persen, mereka tetap tidak bisa bertahan jika tidak ada permintaan.

Tentu sejumlah industri masih bisa mengandalkan ekspor ketika pasar domestik lesu. Tetapi, saat ini permintaan masih terbatas kecuali untuk komoditas tertentu seperti batu bara dan kelapa sawit yang harganya sedang moncer.

Karena itu, peran anggaran pemerintah tetap harus menjadi andalan. "Pemerintah perlu mengintensifkan bansos dan stimulus terlebih untuk sektor-sektor paling terdampak seperti pariwisata, transportasi, ritel dan lain-lain," ungkapnya. Faisal juga meminta pemerintah agar tidak terlalu ambisius mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5 persen hingga 5,3 persen tahun ini. Yang paling penting, menurutnya, fokus pada penanganan pandemi covid-19 agar peningkatan kasus serupa tidak akan berulang di masa mendatang.

"Untuk tahun ini pertumbuhan ekonomi bisa tertekan lebih rendah dari 3 persen.Sebelumnya, kami prediksi 3-4 persen," imbuh Faisal. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Tauhid menyarankan penambahan stimulus fiskal dalam bentuk perluasan bantuan sosial tunai dan program padat karya tunai.

Anggarannya, dapat diperoleh dari realokasi belanja infrastruktur atau program kementerian, seperti work from Bali. "Masih banyak pos belanja yang sebenarnya tidak efektif, itu bisa dipangkas dan dialihkan ke program yang multiplier effect-nya lebih besar," jelasnya. Ia juga mendukung rencana pemerintah untuk memberikan bantuan subsidi tarif listrik serta memperpanjang kebijakan bantuan sosial.

Namun, ia memberikan catatan bahwa bantuan sosial harus dalam bentuk tunai dan bukan paket sembako seperti yang dilakukan sebelumnya. Di samping itu bantuan tunai juga perlu diperluas kepada kelompok masyarakat menengah bawah atau aspiring middle class.

Jika anggaran pemerintah tak cukup, program dengan anggaran besar namun tak memberikan dampak secara langsung terhadap perekonomian jangka pendek lebih harus diubah. Salah satunya adalah Kartu Prakerja. "Karena memang kurang tepat di masa seperti ini. Tujuan untuk peningkatan kompetensinya pun kurang tercapai," tandasnya.