Pages - Menu

Showing posts with label AC Nielsen. Show all posts
Showing posts with label AC Nielsen. Show all posts

Thursday, February 18, 2021

Okupansi Mall Jakarta Hanya Sebesar 82,9 Persen Meski Sewa Turun

 Konsultan properti Knight Frank Indonesia mencatat tingkat hunian atau okupansi rata-rata pusat perbelanjaan di Jakarta sepanjang semester II 2020 sebesar 82,9 persen. Angka ini turun 4,5 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Kendati okupansi menurun, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat menuturkan okupansi pusat perbelanjaan grade A dan premium grade A tetap tinggi masing-masing 86 persen dan 91,4 persen.

"Dari analisis kami, tingkat okupansi seluruh unit yang ada di pusat perbelanjaan di Jakarta dengan kelas premium grade A dan grade A memiliki tingkat okupansi cukup tinggi, di atas rata-rata," katanya dalam paparan Jakarta Property Highlights 2020, dikutip dari Antara, Kamis (18/2).

Okupansi yang melemah diikuti oleh harga sewa yang cenderung turun, tidak hanya di premium grade A dan grade A tapi juga kelas di bawahnya.

Syarifah memprediksi tren penurunan okupansi dan harga sewa akan berlanjut pada 2021.

"Penurunan okupansi dan harga sewa kami prediksi akan berlanjut hingga 2021. Kemungkinan akan mulai meningkat seiring dengan kesuksesan vaksinasi dan program pemulihan ekonomi yang berjalan," katanya.

Di tengah koreksi yang terjadi, diperkirakan pada 2021 hingga 2022 akan masuk 16 proyek pusat perbelanjaan baru. Meski sebelumnya, tujuh proyek sempat menunda kehadirannya di 2020.

Berdasarkan dinamika pasar yang dicatat oleh Knight Frank Indonesia, inovasi dari pusat perbelanjaan dari pengembang terkemuka masih mampu menggerakkan minat masyarakat untuk menghibur diri sejenak dengan pergi ke mal, meski dengan durasi yang tidak seperti sebelum pandemi.

Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip mengatakan pusat perbelanjaan dengan konsep dan inovasi yang memberikan penyegaran masih menjadi pilihan masyarakat untuk berinteraksi di perkotaan, terutama ritel yang memiliki akses lokasi yang relatif dekat dengan permukiman.

Selain itu inovasi kanal penjualan dan pemasaran dalam bentuk pemanfaatan omni channel (online dan off-line) menjadi salah satu solusi bertahan untuk menarik minat konsumen berbelanja di tengah pandemi.

Friday, November 10, 2017

AC Nielsen : Penyebab Lesunya Industri Retail Bukan Lapak Online

Lebaran biasanya menjadi momentum industri ritel untuk mengeruk pendapatan seiring lonjakan penjualan dan konsumsi masyarakat yang biasanya terjadi. Namun, penjualan lebaran tahun ini membuat industri ritel harus geleng-geleng kepala.

Hasil survei Nielsen terkat kinerja industri ritel menunjukkan pertumbuhan penjualan sepanjang lebaran tahun ini dibanding lebaran tahun lalu (year on year/yoy) hanya mencapai 5 persen. Pertumbuhan tersebut paling rendah dalam lima tahun terakhir. Padahal, pada momentum Lebaran 2012, pertumbuhan penjualan ritel bahkan sempat tumbuh mencapai 38,7 persen (yoy).

"Lebaran tahun ini tumbuhnya paling rendah, biasanya kami mengukur penjualan 12 minggu (sebelum dan sesudah hari raya). Penyebabnya, selain daya beli kelompok menengah bawah yang melemah, juga karena masyarakat semakin selektif dalam berbelanja," ujar Managing Director Nielsen Indonesia Agus Nurudin.

Survei Nielsen juga menyebut, industri barang konsumsi kemasan (Fast Moving Consumer Good/FMCG) sepanjang tahun ini (year to date) hanya tumbuh 2,7 persen. Padahal rata-rata pertumbuhan industri tersebut mencapai 11 persen dalam lima tahun terakhir.

"Tahun lalu sebenarnya sudah mulai terlihat melambat dan hanya tumbuh 7,7 persen (yoy). Tahun ini, lebih melambat lagi, hingga September hanya tumbuh 2,7 persen," ungkap dia.  Pertumbuhan industri ritel secara keseluruhan pada September 2017 bahkan menurut catatan Nielsen hanya tumbuh 3,8 persen di banding bulan sebelumnya (month to month/mtm).Pertumbuhan tersebut jauh berada dibawah rata-rata pertumbuhan ritel yang biasanya mencapai 10-11 persen.

Berdasarkan catatan, pertumbuhan ritel modern pada bulan September masih lebih baik, yakni mencapai 5,1 persen (mtm). Sementara pertumbuhan ritel konvensional, hanya tumbuh 2,8 persen (mtm).

Nielsen pun menenggarai, salah satu penyebab perlambatan pertumbuhan ritel adalah daya beli masyarakat menengah terhadap produk-produk tersebut yang tergerus. Padahal, kelompok tersebut memegang porsi paling besar konsumsi barang tersebut di tanah air.  "Gaji mereka tidak turun, karena kan UMP (Upah Minimum Provinsi/UMP) terus naik. Tapi mungkin gaji riil dan pendapatan seperti lembur, komisi, dan lainnya berkurang, sedangkan biaya hidup meningkat," ungkap dia.

Agus menjelaskan pengeluaran biaya pendidikan oleh kelompok masyarakat menengah ke bawah mencatatkan peningkatan paling tinggi pada tahun ini yang mencapai 57 persen. Biaya pendidikan tersebut menurut dia, tak hanya sebatas biaya sekolah, tetapi juga biaya les dan buku. "Biaya sekolah mungkin tidak naik tinggi, bahkan sekolah negeri di Jakarta gratis. Tapi saat ini, bukan hanya kelompok menengah ke atas yang banyak memberikan les pada anaknya, menengah ke bawah juga," jelas dia.

Selain itu, peningkatan signifikan juga terjadi untuk biaya listrik dan makanan segar. Hal ini membuat kelompok masyarakat tersebut mengurangi konsumsi produk kemasan dan menahan pembelian secara impulsif. Akibatnya, konsumsi masyarakat pada mie instan, susu, kopi, dan produk makanan lainnya mengalami penurunan. Penjualan mie instan hingga September secara volume tercatat turun 4,4 persen, susu turun 0,2 persen, dan kopi turun 1,5 persen.

Sementara itu, kelompok masyarakat menengah ke atas masih memperlihatkan daya beli yang solid. Hal ini terlihat dari hasil survei Nielsen terkait industri Food and Beverage yang secara keseluruhan tumbuh 38 persen sepanjang tahun ini. Bisnis restoran tumbuh 34 persen, bisnis makanan cepat saji tumbuh 41 persen, gerai makanan lainnya sebesar 28 persen.

Survei Nielsen juga menunjukkan perlambatan pertumbuhan FMCG di tahun ini bukan semata-mata dipengaruhi langsung oleh bertumbuhnya e-commerce di Indonesia. Pasalnya, penjualan FMCG melalui e-commerce hanya mencapai 1 persen dibandingkan dengan penjualan offlinesecara tota

Thursday, May 19, 2016

AC Nielsen : Strategi dan Cara Memilih Segmen Iklan TV Agar Program Marketing Berhasil

AC Nielsen, lembaga pemeringkat rating program di media massa, mengungkapkan bahwa rating (jumlah pemirsa/penonton) yang tinggi di suatu program televisi bukan satu-satunya pertimbangan bagi perusahaan untuk memasang iklan di program tersebut.

Pertimbangan utama perusahaan saat memasang iklan adalah kesesuaian latar belakang pemirsa dengan target konsumen mereka. Tentu percuma memasang iklan di program yang rating-nya tinggi tapi penontonnya tak butuh produk yang diiklankan.

"Para pengiklan sudah punya segmen tersendiri di mana dia harus beriklan. Rating bukan satu-satunya dan bukan yang utama untuk pertimbangan, yang lebih penting adalah cocok atau tidak dengan target konsumen," kata Executive Director Media Nielsen Indonesia, Hellen Katherina, dalam diskusi di WTC Sudirman, Jakarta, Selasa (17/5/2016).

Dia menyontohkan, Traveloka.com mengalokasikan sebagian besar belanja iklannya di program berita dan hiburan. Sebab, penonton berita dan hiburan adalah penduduk kelas menengah berusia muda yang sering bepergian keluar kota dan akrab dengan internet.

"Traveloka kebanyakan iklan di news dan entertainment, karena targetnya pengguna internet yang suka jalan-jalan. Orang-orang yang seperti itu biasanya muda, usia 15-29 tahun, male, middle class. Kecocokan antara consumer profile dan audience profile sangat penting, bukan hanya rating," paparnya.

Lalu TOP Coffee, saat meluncurkan produknya memilih beriklan di program Top News di Metro TV yang rating-nya tidak begitu besar. Sebab, penonton Top News adalah masyarakat kelas menengah atas, TOP Coffee ingin memperlihatkan bahwa produknya tidak murahan. "Walaupun harganya relatif murah, dia tidak mau terlihat murahan," ucap Hellen.

Contoh lainnya, Mie Sedap menghabiskan separuh budget iklannya di program berita. Alasannya sederhana, pesaingnya sudah banyak memasang iklan di acara hiburan, maka Mie Sedap mengambil segmen yang lain.

"Mie Sedap hampir separuhnya di program berita. Kita bisa baca strategi marketingnya di sini. Kompetitornya dia, Indomie, kebanyakan iklan di sinetron dan entertainment. Kalau dia di situ juga, dia tabrakan. Mie Sedap juga ingin brand-nya diasosiasikan dengan yang lebih berkelas," Hellen menjelaskan.

Riset AC Nielsen : Total Belanja Iklan Kuartal I 2016 Senilai Rp. 24,2 Triliun

AC Nielsen Indonesia mengungkapkan, belanja iklan di televisi mengalami pertumbuhan 33 persen di triwulan I atau Januari-Maret 2016 menjadi Rp 24,2 triliun. Sebagai pembanding, pada triwulan I tahun 2015 belanja iklan di TV mencapai Rp 18,1 triliun.

Executive Director Media Nielsen Indonesia, Hellen Katherina, mengatakan bahwa pertumbuhan iklan di TV didorong oleh ekpekstasi perekonomian yang membaik.

"Kita percaya memang confidence ekonomi kembali growing semakin besar. Kalau tahun lalu bensin naik, budget pemerintah nggak keluar sehingga perputaran uang tidak biasanya," kata Hellen usai diskusi di Gedung WTC Sudirman, Jakarta, Selasa (17/5/2016).

"Sebagian iklan ditayangkan pada jam tayang utama atau prime time (pukul 18.00-22.00) dengan nilai sebesar Rp 6,4 triliun," dia menambahkan.

Dari belanja iklan sebesar Rp 24,2 triliun selama 3 bulan pertama ini, paling besar adalah
  • Iklan rokok yang mencapai Rp 1,8 triliun. 
  • Iklan perawatan rambut Rp 1,2 triliun, 
  • Kopi dan teh Rp 1,1 triliun, 
  • Makanan dan mie instan Rp 1,0 triliun.
  • Iklan untuk perawatan wajah Rp 1,0 triliun, 
  • Snack dan biskuit Rp 991,8 miliar, 
  • Susu pertumbuhan Rp 951 miliar, 
  • Pembersih pakaian dan softener Rp 880,9 miliar, 
  • Online service Rp 763,3 miliar. 
  • Peralatan dan servis komunikasi mencapai Rp 739,8 miliar.

Riset AC Nielsen : 10 Produk Perusahaan Dengan Belanja Iklan Paling Besar Di Kuartal I 2016

AC Nielsen Indonesia mengungkapkan, belanja iklan di televisi (TV) mengalami pertumbuhan 33 persen di triwulan I atau Januari-Maret 2016, menjadi Rp 24,2 triliun. Sebagai pembanding, pada kuartal I tahun 2015 belanja iklan di TV adalah Rp 18,1 triliun.

Dari belanja iklan sebesar Rp 24,2 triliun selama 3 bulan pertama ini, paling besar adalah iklan rokok yang mencapai Rp 1,8 triliun. Kemudian disusul iklan perawatan rambut Rp 1,2 triliun, kopi dan teh Rp 1,1 triliun, makanan dan mie instan Rp 1,0 triliun.

Selain itu, belanja iklan untuk perawatan wajah Rp 1,0 triliun, snack dan biskuit Rp 991,8 miliar, susu pertumbuhan Rp 951 miliar, pembersih pakaian dan softener Rp 880,9 miliar, online service Rp 763,3 miliar. Peralatan dan servis komunikasi mencapai Rp 739,8 miliar.

AC Nielsen mencatat ada 10 produk dengan anggaran iklan terbesar selama Januari-Maret 2016 ini. Berikut daftarnya dari data AC Nielsen:
  • Dunhill Rp 420,4 miliar
  • Indomie Rp 272,1 miliar
  • Djarum Super Mild Rp 200,2 miliar
  • Gudang Garam Signature Tp 176,6 miliar
  • TOP Kopi Susu Rp 173 miliar
  • Kementerian Kesehatan RI Rp 164,9 miliar
  • SGM Eksplor 1 Plus Rp 159,2 miliar
  • Dji Sam Soe 234 Magnum Blue Rp 152,2 miliar
  • Telkomsel Internet Broadband Rp 151 miliar
  • Tokopedia Rp 147,8 miliar

Survei Nielsen : Konsumen Khawatir Kondisi Ekonomi Indonesia

Kondisi ekonomi menjadi kekhawatiran utama konsumen di Indonesia. Dari konsumen online yang disurvei Nielsen di kuartal I-2016 lalu, ada 40% konsumen yang menyatakan ekonomi adalah kekhawatiran utama mereka.Jumlah ini menurun tipis, dari kuartal IV-2015, di mana ada 42% konsumen online yang menyatakan kondisi ekonomi jadi kekhawatiran utama.

Selain ekonomi, yang menjadi kekhawatiran konsumen Indonesia di kuartal I-2016 ini adalah, Keseimbangan Antara Hidup/Pekerjaan (18%), Kesehatan (15%), kekhawatiran akan Kejahatan (17%), dan kekhawatiran akan Kenaikan Harga Pangan (13%).

"Kenaikan harga bahan makanan dan pangan di awal tahun ini dirasakan cukup berat bagi konsumen, Kebijakan penurunan harga BBM memang dapat mengurangi ongkos transportasi, namun pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengontrol harga bahan makanan, terutama menjelang bulan puasa di kuartal kedua nanti," ujar Managing Director, Nielsen Indonesia, Agus Nurudin, dalam keterangannya, Kamis (19/5/2016).

Nielsen mengatakan, secara umum konsumen Indonesia optimistis keadaan ekonomi akan membaik dalam satu tahun ke depan. Temuan Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions yang dirilis oleh Nielsen menunjukkan, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia di kuartalI-2016 meningkat menjadi 117, dibandingkan dengan 115 pada kuartal keempat tahun lalu.

Tiga indikator Keyakinan Konsumen pada konsumen online Indonesia meningkat, menunjukkan tingkat optimisme yang membaik. Dalam hal prospek lapangan pekerjaan dalam 12 bulan ke depan, 67% konsumen menyatakan optimistis, relatif stabil dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang 66%.

Optimisme konsumen mengenai kondisi keuangan pribadi dalam 12 bulan ke depan meningkat 5 persentase poin (pp) dari 77% di kuartal IV-2015 menjadi 87% di kuartal pertama tahun ini.  Sementara itu, lebih dari setengah konsumen (52%) menyatakan mereka memiliki niat untuk berbelanja barang yang mereka inginkan atau butuhkan dalam satu tahun ke depan, meningkat 7 pp dibandingkan dengan kuartal IV-2015 (45%).

Persepsi konsumen online Indonesia mengenai keadaan resesi ekonomi juga mengalami perbaikan di kuartal I-2016. Dibandingkan dengan kuartal IV-2015 yang 69%, hanya 58% konsumen yang menyatakan Indonesia berada dalam keadaan resesi ekonomi, menurun 11 pp. Sejalan dengan itu, 47% konsumen menyatakan yakin bahwa resesi ekonomi akan berakhir dalam satu tahun ke depan, meningkat dari kuartal sebelumnya yang sebesar 43%.

"Membuka tahun ini, pemerintah mengumumkan kebijakan untuk menurunkan harga BBM dan itu mendorong berkurangnya kekhawatiran konsumen sehingga keyakinan konsumen pun meningkat," tutur Agus.  "Seperti kita ketahui, harga BBM berpengaruh sangat besar terhadap keyakinan konsumen akan kondisi ekonomi. Kebijakan pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM dengan kondisi yang ada dari berbagai variabel seperti harga minyak dunia, nilai kurs rupiah, ekonomi nasional dan lainnya yang akhirnya menghasilkan keputusan untuk menurunkan harga BBM disambut baik oleh konsumen dan itu berdampak pada peningkatan optimisme konsumen di berbagai hal," ujar Agus.

Secara global, Indonesia masih bersinar menjadi salah satu dari tiga negara paling optimistis, bersama dengan India (IKK 134) dan Filipina (119). Pada survei online yang dilaksanakan pada 1-23 Maret ini, keyakinan konsumen meningkat di 33% negara (20 dari 61 negara) yang diukur. Angka tersebut turun cukup jauh dari kuartal IV-2015 yang sebesar 43%.

Wilayah Timur Tengah yang memiliki banyak negara penghasil minyak juga menunjukkan tren penurunan tingkat keyakinan konsumen seperti di Uni Emirat Arab dan dan Arab Saudi, di mana meskipun masih di atas standar optimisme dengan IKK 104, namun masing-masing turun 4 pp dan 2 pp dari kuartal sebelumnya.

Sementara itu, pada 10 negara teroptimistis di dunia terdapat enam negara dari wilayah Asia Pasifik. Selain Indonesia, India dan Filipina; Vietnam berada di posisi kelima dengan IKK 109, kemudian Cina posisi keenam dengan IKK 105 dan Thailand urutan ke 8 juga dengan IKK 105.

Thursday, October 8, 2015

Riset Nielsen : 80 Persen Konsumen Indonesia Percaya Iklan TV

Perusahaan informasi dan riset, Nielsen baru mengadakan survei global terhahdap 30 ribu responden online dari 60 negara, termasuk Indonesia menyangkut kepercayaan konsumen terhadap iklan. Hasilnya, delapan dari 10 konsumen di Tanah air masih percaya pada iklan di televisi.

Bukan hanya di Indonesia, Nielsen juga mencatat tren yang sama masih berlaku di negara lain di Asia Tenggara. Di Thailand misalnya, 78 persen masih percaya pada iklan televisi. Begitu jugadi Filipina (75 persen), Vietnam (69 persen), Singapura (64 persen), dan Malaysia (63 persen) konsumen mengindikasikan kepercayaan mereka pada iklan televisi. Hampir semuanya berada di atas rata-rata global yakni 63 persen. Selain itu, 70 persen konsumen Asia Tenggara masih mempercayai iklan di majalah dan 69 persen masih mempercayai iklan di koran.

“Perkembangan format online tidak mengikis kepercayaan pada saluran berbayar tradisional (offline). TV masih memberikan jangkauan tertinggi yang tidak dapat ditiru, yang dapat mencapai hingga hingga 85-90 persen.” kata Craig Johnson, Managing Director, Marketing Effectiveness and Reach Portfolio, Nielsen Southeast Asia, North Asia and Pacific melalui siaran persnya, Senin, 5 Oktober 2015.

Sementara itu, meski belum setinggi media konvensional, media online juga mulai meraih kepercayaan konsumen. Di antara iklan online berbayar, iklan-iklan yang tersedia di mesin pencari (search engine) meraih kredibilitas tertinggi, di mana hampir enam dari 10 atau 57 persen konsumen Asia Tenggara mengindikasikan bahwa mereka mempercayai saluran ini. Thailand meraih skor kepercayaan tertinggi (63 persen, naik tujuh poin) diikuti oleh Indonesia (61 persen, meningkat empat poin), Filipina (56 persen, tidak berubah), Vietnam (55 persen, naik 11 poin), Malaysia (46 persen, turun enam poin), dan Singapura (46 persen, turun satu poin).

Bagaimanapun, kepercayaan tertinggi konsumen Asia Tenggara adalah pada informasi dari mulut ke mulut dari orang yang dikenalnya. Nielsen mencatat, 88 persen konsumen akan membeli barang yang direkomendasikan oleh kerabatnya.

“Tak diragukan lagi, rekomendasi Word-of-Mouth dari orang yang dikenal dan dipercaya adalah cara terbaik untuk mempromosikan produk Anda kepada konsumen, khususnya ketika dikombinasikan dengan kekuatan dari iklan televisi dan digital.” kata Johnson.

Televisi, majalah, dan koran masih termasuk dalam media iklan berbayar yang paling dipercaya di Asia Tenggara. Hampir delapan dari 10 konsumen di Indonesia (79%), Thailand (78%), Filipina (75%), Vietnam (69%), Singapura (64%), dan Malaysia (63%) mengindikasikan kepercayaan mereka pada iklan televisi. Semuanya berada di atas atau konsisten dengan rata-rata global (63%). Tujuhpuluh persen konsumen Asia Tenggara masih mempercayai iklan di majalah dan 69% masih mempercayai iklan di koran. Demikian hasil Survei Nielsen.

Survei Global Nielsen mengenai Kepercayaan Terhadap Iklan mensurvei 30.000 responden online di 60 negara untuk mengukur sentimen konsumen terhadap 19 bentuk media iklan berbayar (paid), media iklan yang diperoleh secara gratis (earned) dan media iklan yang dimiliki oleh pemilik merek (owned). Hasil survei ini mengidentifikasi format iklan yang paling diingat oleh konsumen dan format iklan apa yang memiliki potensi untuk bertumbuh.

“Perkembangan format online tidak mengikis kepercayaan pada saluran berbayar tradisional (offline). TV masih memberikan jangkauan tertinggi yang tidak dapat ditiru, yang dapat mencapai hingga hingga 85-90%.” kata Craig Johnson, Managing Director, Marketing Effectiveness and Reach Portfolio, Nielsen Southeast Asia, North Asia and Pacific dalam rilisnya.

Meskipun iklan digital dapat menyajikan keuntungan yang besar seperti kampanye yang terfokus, lanjut dia, dapat disesuaikan untuk di dalam pesawat (in-flight) dan dapat disesuaikan dengan pilihan kreatif lainnya, beralih sepenuhnya dari TV ke digital merupakan langkah yang sangat berani untuk para pemasar. Perpaduan antara media offline dan online dapat menghasilkan ROI terbaik.

Di antara iklan online berbayar, iklan-iklan yang tersedia di mesin pencari (search engine) meraih kredibilitas tertinggi, dimana hampir enam dari 10 atau 57% konsumen mengindikasikan bahwa mereka mempercayai saluran ini. Thailand meraih skor kepercayaan tertinggi (63%, naik tujuh poin) diikuti oleh Indonesia (61%, meningkat empat poin), Filipina (56%, tidak berubah), Vietnam (55%, naik 11 poin), Malaysia (46%, turun enam poin), dan Singapura (46%, turun satu poin).

Kredibiltas iklan di jaringan sosial dan iklan video online meraih skor kepercayaan masing-masing 53% dan 52%. Enam dari 10 konsumen Thailand (60%) mengatakan bahwa mereka mempercayai iklan yang disampaikan melalui jaringan sosial, seperti halnya konsumen Filipina (59%), Indonesia (54%), Vietnam (48%), Malaysia (47%) dan Singapura (44%).

Kepercayaan pada iklan video online meningkat di empat dari enam negara di Asia Tenggara, dengan tertinggi di Filipina dan Thailand dengan skor 56% (keduanya naik lima poin); Vietnam (+11 poin) dan Indonesia (tidak berubah dari tahun 2013) keduanya di angka 52%, Singapura 47% (naik 4 poin), dan Malaysia 41% (turun 9 poin).

Sementara itu, kurang dari setengah dari konsumen di wilayah ini mempercayai iklan online banner (47%) dan iklan mobile (45%), keduanya melebihi rata-rata global yang masing-masing sebesar 42% dan 43%. Tingkat kepercayaan konsumen Asia Tenggara pada iklan melalui sms adalah sebesar 35%, satu poin lebih rendah daripada rata-rata global.

Wednesday, August 5, 2015

Nielsen : Konsumen Percaya Indonesia Sudah Dalam Resesi Ekonomi dan Mulai Kurangi Konsumsi

Pelemahan ekonomi, selain menurunkan indeks keyakinan konsumen di Indonesia, juga mempengaruhi kebiasaan dalam membelanjakan uang dengan menunda pembelian produk tertentu selama kuartal II/2015.

Managing Director Nielsen Indonesia Agus Nurudin mengatakan sebanyak 63% konsumen online berpendapat saat ini Indonesia berada dalam kondisi resesi. Akibatnya 81% konsumen memilih untuk mengubah kebiasaan berbelanja demi menghemat pengeluaran.

“Dua pos pengeluaran yang paling banyak dikurangi adalah pembelian barang teknologi alias gadget seperti telepon genggam atau komputer yang dipilih 50% konsumen, serta pakaian baru yang dipilih 48% konsumen,” ujarnya di Jakarta, baru-baru ini.

Selain produk teknologi dan elektronik, sebanyak 46% konsumen juga memilih mengerem pengeluaran untuk pos belanja hiburan di luar rumah seperti ke bioskop. Menyusul di urutan berikutnya yakni 40% konsumen menghemat pos pengeluaran untuk liburan, serta pemakaian gas dan listrik yang dipilih 36% konsumen.

Survei untuk mengukur keyakinan konsumen, kekhawatiran utama dan keinginan belanja yang dirilis Nielsen Indonesia ini dilakukan pada 11-29 Mei lalu terhadap 523 konsumen online. Hasilnya menunjukkan selama kuartal II/2015 indeks kepercayaan konsumen Indonesia berada pada posisi 120. Skor ini turun 3 poin dibandingkan kuartal I/2015 yang mencapai 123 poin.

NIELSEN: Indeks Keyakinan Konsumen Semester I 2015 Semakin Menurun

Tingkat keyakinan konsumen Indonesia mengenai prospek lapangan kerja di Tanah Air, kondisi keuangan mereka dan belanja, menurun sebagai imbas dari pelemahan ekonomi .

Berdasarkan hasil survei Nielsen Indonesia terhadap 523 konsumen online, selama kuartal II/2015 indeks kepercayaan konsumen Indonesia berada pada posisi 120. Skor ini turun 3 poin dibandingkan kuartal I/2015 yang mencapai 123 poin.

Menurut Managing Director Nielsen Indonesia, Agus Nurudin, penurunan skor IKK sebesar 3 poin ini menyebabkan Indonesia menempati posisi ketiga di dunia setelah India dan Filipina, masing-masing dengan skor 131 dan 122 poin.

“Ini merefleksikan kepercayaan konsumen bahwa kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu baik. Tetapi kita masih berada di posisi 3 besar dunia karena faktor fundamental ekonomi yang masih lebih bagus dibanding 2008,” katanya di Jakarta, Rabu (29/7/2015). Angka 120 poin adalah capaian terendah jika sepanjang 2013. Capaian ini juga pernah terjadi pada kuartal III /2013 dan kuartal IV 2014.

Dia menjelaskan, menurunnya indeks keyakinan konsumen tersebut dipicu sejumlah faktor antara lain optimism akan prospek lapangan kerja ke depan. Pasalnya di beberapa sektor industri sudah mulai terjadi pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan sebagai imbas dari perekonomian global.

“Contoh yang perlu dimonitor yakni bidang mining industry karena dampak harga minyak dunia, batubara dan energy yang murah sekarang mulai terjadi PHK. Kondisi ini dikhawatirkan konsumen bisa berdampak ke sektor lainnya seperti garmen,” katanya.

Faktor kedua, yakni optimisme terhadap kondisi keuangan pribadi dalam satu tahun ke depan. Hanya 80% konsumen yang yakin dalam 12 bulan ke depan keuangan pribadinya akan baik-baik saja. Angka ini menurun dari kuartal sebelumnya yang mencapai 84%.

Faktor ketiga, kebanyakan konsumen menahan diri untuk menghabiskan uangnya. Hal ini terlihat dalam beberapa sektor industri seperti otomotif yang kinerjanya dilaporkan menurun. “Ini perlu diperhatikan karena efek dominonya banyak termasuk ke perusahaan makanan dan consumen. Jika spending turun, perekonomian dan GDP juga akan rendah,” terangnya.

Masalah perekonomian, lanjutnya, masih menjadi kekhawatiran utama konsumen Indonesia. Bahkan, tingkat kekhawatirannya meningkat menjadi 37% dari kuartal I sebesar 33%. Selain keadaan perekonomian, kekhawatiran konsumen lainnya adalah nasalah kesehatan, keseimbangan lapangan pekerjaan.

Rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM pada Mei juga tak luput membuat IKK menjadi menurun. Kekhawatiran akan kenaikan harga ini dialami oleh 17% konsumen. “Satu-satunya yang menurun adalah kekhawatiran mengenai kejahatan, yang menurun cukup signifikan dari 23% di kuartal I menjadi 15% di kuartal II,” jelasnya.

Thursday, May 21, 2015

AC Nielsen : Kepuasan Konsumen Indonesia Tertinggi Kedua Di Dunia

Perusahaan riset Nielsen menyampaikan hasil penelitiannya tentang indeks kepuasan konsumen atau consumer confidence index Indonesia pada kuartal I-2015. Dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, keyakinan konsumen Indonesia menguat dan tetap di posisi kedua teratas secara global.

"Skor indeks 123 di kuartal I-2015, naik 3 poin persentase (pp) dibanding dengan kuartal sebelumnya," kata Managing Director Nielsen Indonesia Agus Nurudin dalam konferensi pers di kantor Nielsen, Mayapada Tower, Jl Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2015). Sementara untuk posisi teratas saat ini masih diduduki India. Survei ini, kata Agus, juga mengungkapkan bahwa 5 dari 6 negara di Asia Tenggara mencatat indeks keyakinan 100 pp ke atas. Tingkat keyakinan konsumen di atas dan di bawah 100 mengindikasikan derjat optimisme dan pesimisme.

"Dari wilayah Asia Tenggara, meskipun turun 5 pp, Filipina berada di tempat kedua setelah Indonesia dengan skor 115," terang Agus. Sedangkan Vietnam justru mencatat kenaikan tertinggi sebesar 6 pp sehingga menjadi 112 poin. Sementara Singapura stabil dengan skor 100. "India masih menjadi negara paling optimis dengan skor 130, naik 1 pp dari kuartal sebelummya," tuturnya.

Survei ini dilaksanakan melalui akses internet pada 23 Februari-13 Maret 2015 dengan lebih dari 30.000 kepuasan konsumen online. Konsumen tersebut tersebar di 60 negara di seluruh Asia-Pasifik, Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Utara.

Margin of error sebesar 0,6 persen dengan menggunakan standar pelaporan minimal 60 persen penetrasi internet, atau 10 miliar populasi online untuk survei inklusi.Melambatnya ekonomi Indonesia menjadi kekhawatiran utama konsumen. Kondisi tersebut telah terjadi sejak kuartal IV-2014 dan masih berlanjut hingga kuartal I-2015..

Hal ini diungkap dalam survei yang dilaksanakan oleh perusahaan penyedia informasi dan riset, Nielsen Holdings. Riset tersebut dilakukan secara online dalam kurun waktu antara 23 Februari-13 Maret 2015. "Lebih dari sepertiga konsumen Indonesia (33%) menyebut keadaan ekonomi sebagai kekhawatiran terbesar mereka dalam 6 bulan ke depan," kata Managing Director Nielsen Indonesia Agus Nurudin dalam konferensi pers di kantor Nielsen, Mayapada Tower, Jl Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2015).

Yang mengejutkan, kata Agus, kriminalitas dan kesehatan ternyata cukup membuat para konsumen khawatir. Bahkan kriminalitas menempati posisi kedua teratas. "Kriminalitas berada di urutan kedua (23%) dan kesehatan di urutan kelima (14%)," ucapnya. "Tampaknya konsumen menganggap bahwa situasi ekonomi dalam 6 bulan terakhir menjadi lebih sulit dan memicu terjadinya peningkatan tindak kejahatan," tambahnya.

Namun ia yakin pemerintah akan mengambil langkah strategis untuk mengatasi hal ini. Agus optimis, kondisi semacam ini tak akan berlangsung lama."Kami percaya pemerintah akan mengambil langkah yang diperlukan untuk memulihkan keadaan ekonomi agar konsumen dapat kembali meraih rasa aman," tuturnya.

Tuesday, April 7, 2015

Pangsa Pasar dan Belanja Iklan TV Per Brand Di Indonesia

Stasiun televisi Grup MNC masih menguasai pasar iklan televisi di Indonesia. Konglomerasi yang dimiliki Hary Tanoesudibjo ini mempunyai stasiun televisi RCTI,MNC TV, dan Global TV. Pada kuartal I-2015 ini, dengan total belanja iklan hingga Rp 17 triliun, RCTI meraup total pendapatan kotor Rp 2,03 triliun. Di peringkat kedua, SCTV dengan pendapatan Rp 1,99 triliun, kemudian MNC TV Rp 1,59 triliun.

Demikian hasil riset AdsTensity yang dilakukan oleh PT Sigi Kaca Pariwara selama kuartal I terhadap iklan TV komersial (TVC) yang memakai frekuensi publik (terestrial). Direktur Sigi Kaca Pariwara Sapto Anggoro menyebutkan, dari sisi sebaran, tidak ada yang secara dominan menguasai pasar. Dari 13 stasiun televisi terestrial telah menghasilkan pendapatan kotor mencapai Rp 13,5 triliun.

"RCTI mendapat kue iklan sebesar 14,85 persen, tak beda jauh dengan SCTV sebesar 14,71 persen, sedangkan ketiga MNC TVmendapat porsi 11,69 persen. ANTV nomor empat dengan 11,09 persen, dan di nomor lima Indosiar 10,21 persen," sebutnya dalam siaran pers yang diterima.

Adapun untuk brand yang melakukan belanja (spending) terbesar, tercatat Sampoerna Mild dengan spending sekitar Rp 223,8 miliar, diikuti Pond’s Acne Clear Rp 192,8 miliar, Frisian Flag Rp 187,6 miliar, Mie Sedaap Rp 157,8 miliar, dan Dettol Rp 121,7 miliar.

Pebisnis televisi gratisan alias free to air(FTA) siap berebut pendapatan iklan tahun ini. Momentum lima tahun sekali yakni pemilihan umum (pemilu) tak disia-siakan oleh pebisnis penyiaran ini. Termasuk muka baru yaitu PT Net Mediatama Indonesia (Net TV).

Wishnutama, Chief Executive Officer Net TV Wishnutama menyatakan, pendapatan iklan dari kampanye politik ini sudah dirasakan saat pemilihan legislatif (pileg), April lalu. "Kami mengalami pertumbuhan iklan karena pesta demokrasi ini. Pada pileg lalu pertumbuhannya bisa 30 persen-35 persen dibanding bulan biasa. Kami yakin pada pilpres (pemilihan presiden) pun tumbuhnya sama," kata Wishnutama.

Secara keseluruhan, tahun ini Net TV berharap pendapatan iklannya bisa tumbuh di kisaran 30 persen. Nah, Wishnutama sudah menyiapkan tiga strategi untuk mendongkrak pendapatannya ini. Pertama, fokus membidik segmen kelas A, B juga C+ dan perempuan berusia middle up. Dengan mengusung temainformation and entertainment with value, Net TV siap melansir program baru selepas ulang tahun pertamanya pada 18 Mei nanti.

Seperti drama musikal, drama seri, serta komedi situasi (sitkom). "Kami ingin share terus tumbuh. Share kami rata-rata 1,8 (point), tapi untuk segmen kelas A mencapai 5 (point)," papar Wishnu. Berdasar data Nielsen tahun lalu, telah terjadi perbedaan share tertinggi hingga terendah. Pada 2001 perbedannya mencapai 28 (point). Namun pada 2013 lalu hanya beda 15 (point). Ini membuktikan persaingan di televisi non bayar semakin ketat.

Kedua, meningkatkan kualitas konten siaran in-house production(produksi sendiri) juga produksi buatan orang lain namun turut serta dalam pembuatannya. "Sekitar 80 persen konten kami merupakan in-house production," ucapnya. Ketiga, memakai teknologi digital berstandar high definition (HD). Artinya, Net TV sudah siap mengaplikasi teknologi digital sesuai arahan pemerintah. Di televisi berbayar seperti First Media dan Big TV, tayangan Net TV sudah berkualitas HD.

Sementara itu, PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) tahun ini menargetkan pendapatan iklan tumbuh 20 persen. Pasalnya, media milik Grup Bakrie ini juga menayangkan Piala Dunia (World Cup) 2014. Sekretaris Perusahaan VIVA Neil Tobing bilang pendapatan iklan biasanya naik pesat saat bulan Ramadhan. "Saat Ramadhan ini naiknya bisa 30 persen. Nah, apalagi kami punya World Cup, pendapatan iklan tahun ini pun bakal lebih tinggi dari industri," kata Neil.

Secara industri pertumbuhan iklan tahun ini diramal sekitar 15persen-18 persen. Menurut Neil, selain momen puasa dan piala dunia, pesta demokrasi juga menyumbang pertumbuhan iklan perseroan. "Dari pileg kemarin, iklan kami tumbuh sekitar 20 persen. Pilpres kemungkinan akan sama," ucapnya.

Mengutip laporan keuangan VIVA pada kuartal satu 2014, total pendapatannya mencapai Rp 396,48 miliar atau tumbuh 26,9 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 312,19 miliar. Dari jumlah tersebut, pendapatan dari iklan di periode yang sama sebesar Rp 396,13 miliar atau tumbuh 27 persen dari periode sebelumnya tahun lalu yang sebesar Rp 311,79 miliar.

Adapun pada 2013, pendapatan VIVA mencapai Rp 1,67 triliun dengan pendapatan iklan sebesar Rp 1,55 triliun. Dengan membidik pertumbuhan 20 persen, artinya pendapatan iklan VIVA tahun ini ditarget bisa mencapai Rp 1,86 triliun. Tak hanya Net TV dan VIVA, penguasa pasar televisi gratisan, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) juga punya target ambisius untuk mengerek pendapatan iklan pada tahun ini. Perusahaan ini menargetkan kenaikan pendapatan iklan sekitar 16 persen sampai 20 persen ke posisi Rp 6,63 triliun hingga Rp 6,86 triliun sampai akhir tahun ini.

Jarod Suwahjo, Direktur Keuangan MNCN mengungkapkan, RCTI masih akan memegang porsi pendapatan iklan terbesar yaitu 50 persen, lalu MNC TV sekitar 25 persen, dan Global TV 12 persen.

Sampai kuartal satu 2014, MNCN membukukan kenaikan pendapatan sekitar 10 persen dari Rp 1,37 triliun ke posisi Rp 1,5 triliun. Pendapatan iklannya juga meningkat 12persen dari Rp 1,2 triliun menjadi Rp 1,34 triliun. "Saat ini, pangsa pasar iklan MNCN mencapai 40 persen, malah saat sedang ramai atau masa puncaknya pangsa pasar kami bisa menjadi 44 persen sampai 45 persen," kata Jarod.

Sekedar informasi, Ketua Umum Persatuan Periklanan Indonesia (P3I) Harris Thajeb menyebutkan, proyeksi belanja iklan tahun ini bisa mencapai Rp 144 triliun. Angka ini tumbuh 16,13 persen dari tahun lalu yang mencapai Rp 124 triliun. Pertumbuhan ini terdongkrak oleh dua momen, yakni ajang pemilu dan Piala Dunia 2014. Momen ini bisa berkontribusi 5 persen-6 persen dari total pendapatan iklan atau sekitar Rp 7 sampai Rp 8 triliun.

"Sampoerna dalam menempati posisi paling besar spending-nya dengan menggelontorkan dana di dua bulan terakhir (Februari–Maret) sebab bulan Januari hanya Rp 29 miliar atau sekitar 12 persen. Yang konsisten masuk 10 besar selama kuartal pertama ini brand Mie Sedaap dan Frisian Flag," tambahnya.

Sementara secara industri, personal care seperti perawatan tubuh dan rambut menduduki posisi teratas dengan belanja total mencapai Rp 2,6 triliun, kemudian household (FMCG jenis tisu, obat nyamuk, penyegar dll) Rp 1,01 triliun, dan industri otomotif Rp 441,5 miliar. Sapto menyebutkan, belanja iklan televisi berupa TVC di 13 stasiun televisi terestrial utama senilai Rp 13,5 triliun tersebut tidak termasuk stasiun televisi daerah dan digital. Ke-13 stasiun televisi utama tersebut selama ini merupakan penguasa sekitar 70 persen-80 persen pasar iklan televisi nasional. Secara total, belanja iklan TV pada kuartal I mencapai Rp 17 triliun. "Nilai tersebut relatif sama dengan belanja iklan seluruh TV pada kuartal pertama tahun 2014 lalu," ucapnya.

Adstensity melakukan perekaman semua iklan televisi di 13 stasiun utama (mainstream), yaitu RCTI, SCTV, Indosiar, MNC TV,TransTV, Trans7, Global TV, MetroTV, TVOne, ANTV, KompasTV,TV Net, dan TVRI. Dari seluruh iklan tersebut dicatat volumenya dan harganya sesuai dengan yang dipublikasikan (publish rate) sehingga nilai yang ada adalah bruto karena tidak diketahui diskon yang hanya terlibat antara brand dan pemilik stasiun televisi. Kecuali itu juga tidak termasuk iklan televisi dalam bentukrunning text, super imposse, atau blocking time (slot).

Menurut Sapto, AdsTensity merupakan aplikasi untuk membaca pergerakan iklan secara kuantitatif di semua stasiun televisi, baik di terestrial, digital, maupun streaming. Dalam pengembangan fase pertama masih dikenakan untuk free to air television stationutama di Indonesia. Sementara beberapa customer sudah melakukannya untuk stasiun televisi utama juga.

“Dengan demikian, para pemilik brand dalam berbelanja akan bisa mengukur ROI secara lebih bagus, dengan membandingkan nilai investasi dengan rating yang dihasilkan selama ini,” kata dia.

Tuesday, September 2, 2014

Konsumen Indonesia Makin Gila Belanja

Laporan terkini dari Nielsen Global Survey of Consumer Confidence and Spending menyatakan keinginan konsumen Indonesia untuk menabung pada kuartal II 2014 menurun dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun, keinginan untuk belanja tetap tinggi.

"Jika pada kuartal I-2014 sebanyak 71 persen konsumen menyatakan bahwa mereka menggunakan dana cadangan mereka setelah mencukupi biaya hidup untuk menabung, maka di kuartal II-2014 hanya 65 persen yang menyatakan hal yang sama," tulis Nielsen dalam laporannya, Selasa (2/9/2014).

Sementara itu, 38 persen konsumen menyatakan menggunakan dana cadangan mereka untuk berlibur. Adapun 31 persen lainnya menggunakan dana cadangan untuk berinvestasi saham atau reksadana dan 26 persen untuk produk teknologi baru.

"Sebesar 57 persen konsumen menyatakan bahwa waktu 1 tahun ke depan merupakan waktu yang Baik atau Sangat Baik untuk membeli barang-barang yang mereka inginkan atau butuhkan. Ini meningkat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yakni 53 persen," ungkap Nielsen.

Adapun kondisi ekonomi masih menjadi kekhawatiran utama bagi konsumen Indonesia, yakni sebanyak 34 persen. Secara mengejutkan, di kuartal II 2014 ini tingkat kekhawatiran konsumen akan keseimbangan antara hidup dan pekerjaan/work life balance meningkat tajam, yakni 20 persen dibandingkan 14 persen pada kuartal I-2014.

"Kekhawatiran akan stabilitas politik sedikit menurun (19 persen) dibandingkan dengan pada kuartal I-2014 (20 persen). Konsumen Indonesia juga mengkhawatirkan masalah kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan orangtua dan kriminalitas (15 persen), serta kenaikan bahan bakar minyak (12 persen) dan pemanasan global (10 persen)," papar Nielsen.

The Nielsen Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions mensurvei kepercayaan diri konsumen, kekhawatiran utama dan keinginan berbelanja pada lebih dari 30.000 responden dengan akses Internet di 60 negara. Indeks kepercayaan diri konsumen di atas dan di bawah angka standar 100 mengindikasikan tingkat optimisme dan pesimisme.

Wednesday, June 11, 2014

Riset AC Nielsen Orang Indonesia Habiskan 2 Jam Per Hari untuk Smartphone

Nielsen Indonesia melansir temuan terbarunya bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu untuk menggunakan smartphone selama 140 menit sehari. "Selama 2 jam lebih itu, kegiatan yang dilakukan beragam. Kebanyakan untuk chatting dan browsing," kata Anil Anthony, Direktur Eksekutif Consumer Insights Nielsen Indonesia, di Jakarta, Rabu, 11 Juni 2014.

Dari total waktu tersebut, selama 37 menit digunakan untuk chatting, 27 menit untuk browsing, dan 23 menit untuk menggunakan utility apps seperti Playstore atau Appstore.

Kemudian, konsumen smartphone Indonesia juga menghabiskan waktu rata-rata 17 menit per hari untuk bermain game, 15 menit untuk aplikasi multimedia seperti musik dan kamera, dan 8 menit per hari dihabiskan untuk messaging dan 6 menit untuk telepon.

Applikasi email, office packages (word, excel, dan pdf), security, serta utak-atik phone features, masing-masing menghabiskan waktu hanya 1 menit per hari.

Masih di survei yang sama, Nielsen Indonesia juga mengatakan bahwa kebanyakan orang Indonesia menggunakan smartphone pada jam kerja yaitu pukul 08.00 hingga 16.00.

Wednesday, May 21, 2014

Riset AC Nielsen : Industri Media Cetak di Luar Jawa Lebih Prospektif

Hasil riset PT Nielsen Indonesia menunjukkan potensi industri media cetak di luar Pulau Jawa lebih besar dibanding di dalam Pulau Jawa. Hal tersebut ditunjukkan dengan tingginya konsumsi media cetak tersebut di luar Pulau Jawa.  "Jawa memang paling padat dan infrastrukturnya paling baik. Tapi potensinya lebih besar luar Jawa. Ini harus digarap betul," kata Managing Director Media Nielsen Indonesia Irawati Pratignyo di kantor Nielsen Indonesia, Mayapada Tower, Jakarta, Rabu, 21 Mei 2014.

Menurut hasil riset Nielsen sepanjang 2010-2014, tingkat konsumsi media cetak di lima kota besar luar Jawa, seperti Medan, Palembang, Denpasar, Makassar, dan Banjarmasin, lebih tinggi dibanding lima wilayah besar di Jawa.  Kelima wilayah besar di Jawa yang dimaksud meliputi Jakarta dengan wilayah megapolitannya, Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi); Surabaya dengan Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan); Bandung; Semarang; dan Yogyakarta yang berdekatan dengan Sleman dan Bantul.

Temuan selama empat tahun itu didapat dari pemantauan kepemirsaan televisi, pengukuran teknologi meter dengan GSM & GPRS, serta berbagai metode lainnya sesuai dengan jenis media. Survei dilakukan di sepuluh kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, dan Banjarmasin. Namun Nielsen menegaskan hasil survei tak mewakili populasi Indonesia.

Lebih jauh, Irawati menjelaskan, dalam temuan Nielsen itu, praktis hanya konsumsi media via Internet di Jawa yang lebih tinggi ketimbang wilayah luar Jawa. Konsumsi media via Internet di Jawa sebanyak 34 persen, sementara luar Jawa 32 persen. Selebihnya, konsumsi media via televisi, radio, koran, tabloid, dan majalah tercatat lebih tinggi di luar Jawa.

Tingginya pertumbuhan tingkat konsumsi media cetak di luar Jawa ini sejalan dengan data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan pertumbuhan penduduk di luar Jawa lebih tinggi dibanding Jawa. Besaran dan laju peningkatan produk domestik bruto (PDB) di luar Jawa juga lebih tinggi dibanding Jawa, dan akan bertahan hingga 2030. "Perkembangan di luar Jawa sangat luar biasa. Ini merupakan peluang luar biasa bagi para pelaku industri," kata Irawati.

Managing Director Media PT Nielsen Indonesia Irawati Pratignyo mengungkapkan penetrasi mediaonline di Pulau Jawa tumbuh tertinggi ketimbang di luar Pulau Jawa. “Penetrasi Internet di Jawa bertumbuh dari 17 persen pada 2010 menjadi 34 persen pada 2014,” ujarnya di kantor Nielsen Indonesia, Mayapada Tower, Jakarta, Rabu, 21 Mei 2014.

Sedangkan penetrasi media online di luar Jawa, dari 19 persen pada 2010 naik menjadi 32 persen pada 2014. Hal tersebut terlihat dari survei yang dilakukan Nielsen Indonesia sepanjang 2010-2014. Temuan selama empat tahun itu didapat dari pemantauan kepemirsaan televisi, pengukuran teknologi meter dengan GSM & GPRS, dan berbagai metode lainnya sesuai dengan jenis media. Survei dilakukan di sepuluh kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, dan Banjarmasin.

Berdasarkan riset survei Nielsen itu, penetrasi konsumsi korandi Jawa pada 2010 masih 15 persen, lalu turun menjadi 11 persen pada tahun 2014. Adapun konsumsi tabloid dan majalah turun lebih drastis ketimbang koran. Untuk penetrasi konsumsi tabloid turun dari 10 persen menjadi 6 persen, sementara penetrasi konsumsi majalah turun dari 8 persen menjadi 5 persen.

Adapun untuk luar Jawa, penetrasi koran mengalami peningkatan paling tinggi, yang masih 23 persen pada 2010 menjadi 26 persen pada 2014. Sedangkan penetrasi tabloid dan majalah masing-masing stagnan di angka 9 persen dan 5 persen.

Association Director Communications & Marketing The Nielsen Company Indonesia Miladinne I. Lubis mengungkapkan ada hipotesis awal yang bisa menjelaskan penurunan penetrasi konsumsi media cetak tersebut. "Hipotesis awal karena kota-kota besar Jawa mempunyai aktivitas bisnis yang padat dan beralih ke online. Sementara di luar Jawa justru banyak yang baca koran, mungkin karena infrastruktur mengakses online belum memadai," tuturnya.

Penurunan penetrasi konsumsi media cetak di Jawa juga sejalan dengan meningkatnya penetrasi media online di Jawa. Pertumbuhan konsumsi Internet melalui akses mobile di Jawa pada 2014 mencapai lima kali lipat dibanding 2010. Sedangkan pertumbuhan di luar Jawa hanya tiga kali lipat.