Pages - Menu

Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Sunday, April 20, 2025

Daftar Gaji Dosen Swasta Di Indonesia

 Dosen swasta merupakan tenaga pendidik di perguruan tinggi swasta (PTS). Selain mengajar, dosen bertugas melakukan penelitian dan pengembangan karya ilmiah, melakukan pengabdian kepada masyarakat, hingga mengisi jabatan di universitas.

Menjadi dosen pun tidaklah mudah karena harus memiliki kualifikasi dan kompetensi tertentu. Dengan keahlian dan banyaknya tugas, kira-kira berapa gaji dosen swasta 2025?

Gaji Pokok Dosen Swasta 2025

Gaji dosen swasta 2025 di Indonesia berkisar Rp 5.000.000 - 8.000.000 per bulan, merujuk situs pencari kerja. Meski begitu, nominal ini sebaiknya tidak dijadikan acuan karena upah dosen PTS umumnya tergantung kebijakan pihak kampus yang menaunginya.

Gaji dosen PTS juga harus tunduk pada peraturan perundang-undangan bidang ketenagakerjaan. Bila mengacu Undang-Undang (UU) Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, gaji dosen swasta setidaknya sebesar upah minimum provinsi (UMP) atau upah minimum kabupaten/kota (UMK) wilayah dosen bekerja.

Mengutip arsip detikcom, besaran gaji dosen swasta juga dapat ditentukan berdasarkan sejumlah faktor meliputi status dosen, masa kerja, beban kerja, hingga perjanjian kerja dengan pihak kampus.

Sayangnya, masih banyak dosen PTS yang menerima gaji di bawah upah minimum. Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 44 Tahun 2024 tentang Profesi, Karier, dan Penghasilan Dosen, yang sebelumnya sempat diterbitkan Kemendikbudristek dianggap sebagai angin segar terutama bagi kesejahteraan dosen swasta.

Berdasarkan Permen tersebut, gaji dosen PTS mengikuti peraturan ketenagakerjaan. Kampus yang melanggar ketentuan ini akan dikenai sanksi. Sejumlah tunjangan dosen yang melekat turut dibahas di dalamnya, antara lain tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan tunjangan kehormatan.

Namun implementasi Permendikbudristek Nomor 44 Tahun 2024 yang ditetapkan 10 September 2024 dan diundangkan pada 18 September 2024 itu ditunda. Dilansir pemberitaan detikEdu, Kemdiktisaintek sedang melakukan reviu dan evaluasi terhadap Permen tersebut.

Tunjangan Dosen Swasta 2025

Selain gaji pokok, dosen swasta juga mendapatkan tunjangan berdasarkan PP Nomor 41 Tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru dan Dosen, Tunjangan Khusus Guru dan Dosen, Serta Tunjangan Kehormatan Profesor.

Dosen PTS yang menduduki jabatan fungsional dosen akan memperoleh tunjangan profesi sesuai dengan kesetaraan tingkat, masa kerja, dan kualifikasi akademik yang berlaku bagi dosen PNS. Tunjangan diberikan terhitung bulan Januari tahun berikutnya setelah dosen yang bersangkutan mendapat sertifikat pendidik yang telah diberi nomor registrasi dosen dari departemen terkait.

Tunjangan khusus juga bisa diberikan jika dosen swasta ditugaskan oleh pemerintah pusat atau daerah untuk ditempatkan di daerah khusus. Apabila dosen memiliki jabatan akademik profesor dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan maka dapat diberi tunjangan kehormatan setiap bulannya.


Thursday, November 21, 2024

Kantin Sekolah Akan Kena Retribusi Demi Genjot APBD

 Pemerintah Daerah DKI Jakarta akan mengenakan retribusi kepada pengelola kantin di sekolahan.

Wacana mengemuka setelah Wakil Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Sutikno mengatakan  keberadaan kantin sekolah di sebuah sekolah yang menerapkan tarif sewa lapak sebesar Rp5juta per tahun.

"Kantin di SMA 32 di daerah Cipulir, ada sekitar 14 kantin. Tetapi setiap tahunnya membayar Rp5 juta, berarti sudah Rp70 juta di satu sekolah," ujar Sutikno seperti dikutip dari keterangan resminya

Oleh karena itu, ia meminta Dinas Pendidikan (Disdik) mendata seluruh kantin yang terdapat di dalam sekolah.

Menurut dia, untuk menggali potensi pendapatan daerah dari retribusi membutuhkan kejelian SKPD. Terutama setelah APBD DKI sebagian besar habis yaitu 60 persen untuk membayar gaji PNS dan bukan untuk pembangunan

"Sekolah didata kantinnya. Ini bisa menjadi pemasukan retribusi. Harus teliti, harus jeli ada potensi uang masuk," ucap Sutikno.

Untuk itu, Sutikno berharap, Dinas Pendidikan mengkaji dan usulan sebagai bahan membuat payung hukum mengatur tentang penetapan tarif retribusi kantin sekolah.

"Sudah kita sampaikan ke inspektorat agar ada payung hukumnya. Biar sama-sama tidak melanggar aturan dan sesuai ketentuan, sehingga pendapatan retribusi bisa naik," tutur Sutikno.

Di kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Purwosusilo menjelaskan kini terdapat sekitar 1.788 kantin tersebar di seluruh sekolah negeri.

Sebanyak 1.305 di sekolah dasar (SD), 293 di sekolah menengah pertama (SMP), 117 di sekolah menengah atas (SMA), dan 73 di sekolah menengah kejuruan (SMK).

Purwosusilo sepakat akan menyiapkan rancangan payung hukum untuk mengoptimalkan potensi pendapatan retribusi daerah dari seluruh kantin sekolah.

"Memang perlu regulasi memayungi pemanfaatan aset kantin sekolah. Nanti akan kita koordinasikan ke BPAD," tukas Purwosusilo.

Friday, October 11, 2024

Dengan IQ Rerata 80 ... Indonesia Optimis Bisa Jadi Negara Superpower

 Konsep Abad Asia tak henti-hentinya digaungkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) belakangan ini. Kali ini orang nomor satu di Indonesia itu memamerkan konsep tersebut di depan para bos-bos perusahaan di Indonesia dalam gelaran Kompas 100 CEO Forum.

Kemajuan ekonomi, budaya, dan politik bakal bergeser ke Benua Asia dari negara-negara barat di abad ini. Itu lah intisari dari Abad Asia yang digaungkan Jokowi.

Nah di tengah Abad Asia, Jokowi memaparkan Indonesia bakal menjadi negara maju yang besar bersama dengan China dan India. Tiga negara ini digadang-gadang bakal menjadi kekuatan ekonomi baru bagi dunia.

"Kita masuk Abad Asia, Abad Asia kita berada di dalamnya dan diperkirakan ada 3 negara jadi kekuatan ekonomi baru. China, India, dan Indonesia. Kita masuk di sana! Tapi hati-hati tidak gampang untuk menuju ke situ," ungkap Jokowi dalam acara yang disiarkan langsung dari IKN Kalimantan Timur

Untuk bisa jadi kekuatan ekonomi baru, Jokowi bilang tantangan Indonesia memang tidak mudah. Lantas apa yang bisa dilakukan Indonesia, khususnya di tengah transisi kepemimpinan menuju pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka?

Jokowi mengatakan Indonesia harus terus mempercepat pertumbuhan ekonominya. Dia pun menyinggung soal target pertumbuhan ekonomi 8% yang seringkali dipaparkan presiden terpilih Prabowo Subianto, hal ini diyakininya harus bisa tercapai bila Indonesia mau memanfaatkan Abad Asia untuk jadi kekuatan baru.

Bila Prabowo berhasil mencapai target tersebut, maka pendapatan per kapita masyarakat di Indonesia bisa melonjak ke level US$ 8.000-12.000 per tahun. Target besarnya sendiri di 2045, pendapatan per kapita Indonesia bisa menyentuh US$ 23.000 lebih per tahun.

"Kalau kita mau ngebut apalagi ada target presiden terpilih Prabowo Subianto menuju growth 8%, lima tahun ke depan diperkirakan pendapatan per kapita kita bisa di atas US$ 8.000, lima tahun berikutnya berada di angka US$ 11.000-12.000," papar Jokowi.

Jokowi sendiri memiliki keyakinan Prabowo Subianto yang akan memimpin Indonesia mulai akhir bulan ini dapat menggapai cita-cita tersebut. Yang perlu dimiliki Prabowo adalah keberanian memutuskan dan perhitungan rencana dengan rinci lengkap dengan data-data pendukung.

"Saya meyakini Jenderal Purnawirawan TNI Prabowo Subianto mampu membawa kita semua menuju ke angka yang kita sampaikan tadi," tegas Jokowi.

Saturday, September 14, 2024

Sumber Daya Manusia Yang Baik Jadi Kunci Sukses Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

 - Inovasi teknologi dan pengembangan sumber daya manusia tidak hanya mendorong pengembangan dalam negeri. Namun, juga mendorong peluang investasi yang berdampak pada jangka panjang.

Pemerintah melalui Kementerian PPN/Bappenas menyatakan berkomitmen mendorong partisipasi seluruh pemangku kepentingan dan swasta untuk menghadirkan berbagai inovasi di berbagai bidang, meliputi lingkungan, pendidikan, kesehatan, energi, teknologi, hingga manufaktur jelang World Expo 2025 Osaka.

Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian PPN/Bappenas, Vivi Yulaswati menegaskan kolaborasi pemerintah dan swasta ini menjadi kunci untuk memperkuat citra Indonesia sebagai yang terdepan dalam inovasi berkelanjutan dan mampu bersaing secara global.

"Dukungan para mitra strategis, baik dalam bentuk finansial maupun inovasi teknologi dan pengembangan sumber daya manusia, tidak hanya akan mendongkrak pengembangan dalam negeri, tetapi juga membuka peluang investasi dan memberikan dampak positif jangka panjang," jelas Vivi dalam keterangan tertulis.

Mengusung tema Thriving in Harmony: Nature, Culture, Future, Paviliun Indonesia akan menampilkan berbagai inisiatif keberlanjutan, seperti teknologi hijau dan energi terbarukan, pengembangan smart city, infrastruktur berkelanjutan, serta kemajuan di industri kreatif.

Bidang teknologi hijau dan energi terbarukan akan mengedepankan solusi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menurunkan jejak karbon, seperti panel surya, turbin angin, dan sistem bioenergi, serta sistem manajemen limbah dan pengolahan air limbah yang efisien sebagai upaya melestarikan sumber daya alam dan meningkatkan kualitas lingkungan.

Sementara itu, smart city akan menampilkan model kota pintar yang mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi, seperti sistem transportasi cerdas, manajemen lalu lintas berbasis data, dan jaringan energi pintar. Platform digital untuk mempermudah akses informasi dan layanan publik, termasuk kesehatan, pendidikan, dan administrasi juga akan dipamerkan di Paviliun Indonesia.

Selain itu, desain dan konstruksi bangunan ramah lingkungan yang mengutamakan prinsip berkelanjutan yang meliputi penggunaan bahan bangunan daur ulang dan teknik konstruksi yang efisien energi, serta sistem transportasi berkelanjutan seperti kendaraan listrik yang mengurangi emisi karbon akan mewakili pameran infrastruktur berkelanjutan.

Kemajuan di industri kreatif akan terlihat dari sentuhan kontemporer dan teknologi modern di Paviliun Indonesia dan didukung melalui pameran interaktif dengan pengunjung yang ingin mengeksplorasi keunikan dan kekayaan budaya Indonesia.

"World Expo 2025 Osaka merupakan kesempatan penting untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia siap menghadapi masa depan yang inklusif dan berkelanjutan. Kehadiran inisiatif hasil sinergi antara pemerintah dan sektor swasta akan menjadi cerminan dari kekuatan dan potensi besar yang kita miliki," jelas Vivi.

Saturday, August 29, 2020

5 Cara Beli Rumah Murah Kemudian Menikah di Tengah Pandemi Corona

 Pandemi virus corona telah mengubah gaya hidup serta cara masyarakat beraktivitas. Istilah work from home (WFH) pun kian lumrah di telinga.

Bagi sebagian pekerja, pandemi corona mengharuskan segalanya dikerjakan dari rumah. Tak jarang, kamar sepetak harus dialihfungsikan menjadi kantor, ruang rapat, dan tempat beristirahat.

Tak ayal, banyak pekerja yang mulai melirik tempat tinggal baru yang lebih luas dan mulai meninggalkan perumahan di pusat kota. Namun, apa saja yang harus diperhatikan sebelum memutuskan membeli hunian baru?

Berikut adalah tip untuk mendapatkan deal hunian terbaik di engah pandemi corona.

1. Cek Kesehatan Keuangan

Hal pertama yang harus dilakukan calon pembeli properti ialah membedah kemampuan finansialnya. Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning Lusiana Darmawan menyebut idealnya total cicilan KPR dan utang lainnya tak melebihi 35 persen dari pendapatan. Oleh karena itu, penting untuk mengecek rasio-rasio utama keuangan.

Jika rasio pendapatan berbanding beban tak sesuai, sebaiknya tahan pembelian hunia. Apalagi, di tengah pandemi covid-19.

2. Tentukan Fungsi Hunian

Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute (JPI) Wendy Haryanto menekankan sebelum melakukan pembelian, tentukan lebih dulu fungsi dari hunian Anda. Apakah akan dijadikan tempat tinggal permanen, atau akan disewakan nantinya.

Sebab, dengan mengetahui fungsi hunian, Anda dapat membuat keputusan yang tepat soal lokasi.

"Penting juga untuk mengetahui apakah yang akan dibeli ini akan dihuni langsung atau hanya akan disewakan nantinya. Karena akan beda jenis yang dicari," ungkap Wendy.

Contoh sederhana, jika hunian bertujuan untuk disewakan, maka Anda harus memperhatikan jarak hunian yang dipilih dari pusat kota. Sebab, perumahan atau apartemen yang berada di jantung kota akan lebih mudah menggaet peminat.

Belum lagi soal infrastruktur dan konektivitas transportasi. Jika fasilitas penunjang tak dimiliki, pembelian mungkin tak cocok dilakukan.

Tapi, jika hunian diambil untuk keperluan pribadi, maka masalah lokasi, infrastruktur, dan fasilitas penunjang lainnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan pribadi. Untuk mereka yang bekerja dari rumah dan tak suka hiruk pikuk kota disarankan untuk membeli di daerah suburban.

Selain lebih murah, kualitas hidup pun bisa jadi jauh lebih tinggi.

3. Cek Fasilitas yang Disediakan

Setiap calon pembeli tentu ingin mendapatkan harga dan kualitas hunian terbaik. Maka, jangan terburu-buru memutuskan selama belum melakukan survei yang memadai.

Jangan hanya tergiur dengan harga murah hunian yang ditawarkan. Kalau tak dilengkapi dengan fasilitas yang dibutuhkan, bisa jadi dompet Anda jebol untuk membayar pengeluaran rutin.

Misal saja, untuk pekerja yang mengandalkan transportasi umum, tanyakan fasilitas transportasi yang tersedia kepada pengembang. Perumahan yang paling ideal adalah yang terintegrasi secara sempurna dengan transportasi massal dengan konsep TOD. Salah satunya adalah perumahan Modernland Cilejit yang berada dikawasan Serpong. Tak semua hunian menyediakan semua fasilitas yang diinginkan, namun pastikan fasilitas pokok yang dibutuhkan dapat terpenuhi. Apalagi untuk hunian murah yang jauh dari pusat kota.

"Penting untuk diperhatikan, karena ini biasanya agak jauh dari pusat ekonomi, supaya para penghuni mendapatkan opsi untuk dapat beraktivitas di dalam area itu, security, lahan hijau atau taman, fasilitas publik seperti area komersil yang disediakan," kata Wendy.

4. Pilih Pengembang Bereputasi Baik

Secara prinsip, setiap unit hunian memiliki prinsip yang sama, pastikan developer (pengembang) properti yang dipilih memiliki rekam jejak yang bagus.

Karena, reputasi pengembang biasanya bergerak searah dengan kualitas hunian yang ditawarkan. Mereka yang memiliki reputasi baik akan berusaha untuk menjaga nama baiknya. Ini termasuk soal menyelesaikan proyek dan mempertahankan misi serta visi perusahaan.

Lusi menyebut, reputasi pengembang dapat dicek secara daring di situs web PUPR 

5. Teliti Ketentuan Pembelian

Jangan tergiur dengan iklan bombastis dan rayuan pengembang. Jika tak teliti, bisa jadi calon pembeli malah gigit jari. Sebelum membubuhkan tanda tangan, pastikan Anda menanyakan segala pertanyaan teknis dan teliti setiap klausal pembelian. Jangan sampai ada yang terlewat.

Ini termasuk soal bunga cicilan. Kerap kali, pengembang tak merinci segala beban yang harus ditanggung pembeli. Soal bunga cicilan, menurut Wendy sulit untuk mematok persentase angka pantas, namun cicilan bunga seharusnya tak terlalu memberatkan. Jika terlalu besar, bisa jadi yang dibayarkan kemahalan.

Lusi memperingatkan untuk meneliti panjar (down payment/DP) yang ditawarkan. Jangan terlena dengan diskon awal pembayaran karena sering kali pengembang memberikan keringanan cicilan untuk 1-2 tahun pertama.

Selanjutnya Anda dikenakan biaya aslinya yang bisa jadi tak seimbang dengan kemampuan finansial Anda.

"DP rendah artinya cicilan per bulan akan lebih besar. Lalu promo bayar bunga saja 2 tahun pertama, artinya setelah itu akan dihadapkan dengan cicilan bunga dan pokok," katanya.

Karenanya, mintalah bank untuk membuat simulasi KPR setelah masa promo berlaku atau setelah bunga menjadi normal untuk memastikan pendapatan masih mencukupi untuk bayar cicilan.

Pastikan memilih lembaga pembiayaan/penyedia dana pinjaman yang terpercaya jika mengajukan KPR. Pelajari semua syarat yang harus dipenuhi. Perhatikan ketentuan bunga, seperti fixed rate hingga berapa lama pembayaran, acuan suku bunga floating, penalti untuk pelunasan lebih awal, dan ketentuan teknis lainnya.


Tuesday, April 26, 2016

Tenaga Kerja Indonesia 50 Persen Lulusan SMU Kebawah

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan P. Roeslani menandatangani Memo Kesepahaman Bersama dengan Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri terkait Percepatan Peningkatan Kompetensi Tenaga Kerja Melalui Pengembangan Program Pelatihan Terpadu di Kementerian Ketenagakerjaan pada Selasa (26/4).

Hal ini dilakukan karena kondisi tenaga kerja Indonesia yang hampir setengahnya merupakan lulusan SMU ke bawah. Menurut Hanif, pada 2015 jumlah tenaga kerja sebanyak 122,38 juta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 50,8 juta hanya lulusan sekolah dasar (SD) ke bawah, sedangkan 20,7 juta nya merupakan lulusan sekolah menengah pertama (SMP), dan 19,8 juta lulusan sekolah menengah umum (SMU).

Maka dari itu, nota kesepahaman ini merupakan usaha pemerintah untuk meningkatkan kemitraan antara pemerintah dan pelaku usaha untuk meningkatkan kapabilitas dan daya saing pekerja Indonesia. Dengan adanya kerjasama yang terbentuk antara Kadin dan Kementrian Ketenagakerjaan ini, diharapkan tenaga kerja Indonesia dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan pasar tenaga kerja di dalam dan luar negeri.

"Iya ini kerja sama yang nantinya akan melahirkan pelatihan kerja, pemagangan, dan sertifikasi profesinya," ujar Hanif di Jakarta, Selasa (26/4). Kerjasama ini juga mencakup penyelenggaraan pelatihan berbasis kompetensi bagi tenaga kerja Indonesia, penyelenggaraan pelatihan skill up grading bagi para instruktur di Balai Latihan Kerja (BLK) di bawah Kementrian Ketenagakerjaan, dan peningkatan kapasitas sarana dan prasarana pelatihan terpadu.

Untuk diketahui, melalui pemagangan atau program magang ini pemerintah akan mengirim 200 tenaga kerja ke perusahaan-perusahaan.  Pemerintah, menurut Hanif, menargetkan mampu bekerjasama dengan 2 ribu perusahaan dan dapat mengirim 100 tenaga kerja untuk setiap perusahaan selama satu tahun.

"Nah untuk pelatihan kerjanya kita akan mendorong perusahaan-perusahaan juga membantu membuka pelatihan nah nanti kita dorong untuk sertifikasi profesi," ujar Hanif. Namun pemerintah berjanji tidak akan memberatkan perusahaan dengan adanya program ini. Nantinya akan dilihat kemampuan perusahaan satu per satu. "Kita juga tidak akan menyulitkan perusahaan, nanti dilihat perusahaannya seperti apa dan kemampuannya bagaimana," jelasnya

Wednesday, December 23, 2015

67% Angkatan Kerja Indonesia Lulusan SD dan SMP

Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri menyebut daya saing tenaga kerja asal Indonesia masih rendah. Salah satu penyebab utamanya adalah tingkat pendidikan. "Daya saing tenaga kerja kita jadi persoalan besar. Ada 114 juta orang sekarang yang bekerja dari data BPS (Badan Pusat Statistik) Agustus lalu, sementara jumlah pengangguran terbuka ada 7,4 juta orang," kata Hanif di saat meresmikan data center di kantor Kemenaker, Jakarta, Rabu (23/12/2015).

Hanif menjelaskan, dari total angkatan tersebut, sebanyak 47% merupakan angkatan kerja lulusan Sekolah Dasar (SD), dan 20% merupakan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). "Angkatan kerja kita tingkat pendidikan SD 47%, dan SMP 20%. Artinya sebanyak hampir 70% itu lulusan SD dan SMP. Padahal angkatan kerja itu bahan baku kita buat saingan di ASEAN. Dengan bahan baku seperti itu, bagaimana mau bersaing?," kata Hanif.

Untuk mengatasi pekerjaan rumah tersebut, lanjutnya, kementeriannya akan memperbanyak program pendidikan informal yang menekankan keterampilan agar bisa bersaing secara global, khusus dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Kalau pendidikan formal butuh waktu sangat lama. Di ASEAN kita peringkat 4, di dunia kita malah turun peringkat dari 134 jadi 137. ASEAN itu sudah jadi pasar tunggal yang mensyaratkan memiliki kemampuan dan kompetisi. Makanya, kita perbanyak pendidikan informal," tutupnya. Selama 6 tahun memimpin PT Pelabuhan II (Persero), RJ. Lino dikenal memiliki program pengembangan sumber daya manusia di sektor kepelabuhan. Hingga saat ini, Lino telah menyekolahkan 170-an karyawan Pelindo II dan anak usaha untuk mengambil program Master (S2) dan Doktoral (S3) ke kampus ternama di dunia.

"Sudah 170 orang dikirim berlajar S2 dan S3 di luar negri oleh Pak Lino," Kata Direktur Keuangan Pelindo II, Orias Petrus Moedak. Orias menilai mantan atasannya itu sangat peduli terhadap pengembangan sumber daya manusia. Lino ingin mempersiapkan karyawan muda dan potensial untuk menjadi pemimpin. Lino juga merekrut profesional dalam dan luar negeri untuk memimpin di induk dan anak perusahaan.

"Beliau kasih peluang kepada yang muda untuk memimpin. Beliau memang peduli terhadap pengembangan SDM," sebutnya. Terhadap karyawan, Lino sangat terbuka untuk berdiskusi dan menerima ide. Bila tak sependapat dengan Lino, mantan atasannya itu bisa menerima asalkan ada alasan yang kuat. "Beliau senang kerja sangat cepat. Kalau bilang nggak bisa, harus disertai alasan yang jelas. Kita bisa argumen dengan Pak Lino tapi harus ada alasan yang kuat," tambahnya.

Menteri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri mengatakan bukan hanya Indonesia saja yang bisa mengalami kesenjangan, tetapi dunia ketenagakerjaan juga. Menurut Hanif, saat ini banyak yang merasa was-was oleh masalah kesenjangan ekonomi di Indonesia yang cukup tinggi mencapai 0.4 persen.

Namun, kata dia, salah satu dari kesenjangan yang serius dan perlu diwaspadai adalah kesenjangan di lingkungan ketenagakerjaan. "Di kita (sektor ketenagakerjaan) masih ada kesenjangan. Bentuk kesenjangannya yaitu kesenjangan antara sektor informal dan sektor formal, antara tenaga kerja yang tua dan muda. Atau kesenjangan antara tenaga kerja di desa dan kota. Atau juga upah di sektor tertentu dan sektor lain," rinci Hanif di kantor Kementrian Ketenagakerjaan Rabu (23/12/2015).

Dia mengatakan, masalah kesenjangan ketenagakerjaan selama ini selalu dianggap sebagai isu pinggiran dan tidak menjadi perhatian khusus banyak pihak. Padahal, kata dia, menjelang Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) masalah ketenagakerjaan akan menjadi faktor yang penting untuk meningkatkan daya saing. Kata dia, Di kondisi pasar global saat ini, setiap negara dituntut untuk memliki kemampuan dalam berkompetisi di setiap bidang. "Sedangkan daya saing kita sedang menurun. Di ASEAN memang berada di urutan ke-4, namun di dunia daya saing kita menurun dari urutan 134 ke 137," ujar dia. "Ini jadi tantangan besar. Selain dari tantangan kualitas tenaga kerja yang rendah. Dari 122 juta total tenaga kerja, 47 persen lulusan SD dan 20 persen itu SMP. Maka sudah bukan saatnya untuk tidak melihat masalah ketenagakerjaan sebagai isu pinggiran," pungkas Hanif.

Sunday, July 19, 2015

Penjualan Alat Tulis Naik Tajam Saat Liburan Sekolah

Pasar Pagi Asemka di Jakarta Barat menjadi destinasi favorit bagi masyarakat yang ingin mencari barang-barang dengan harga miring termasuk keperluan sekolah seperti tas sekolah. Libur Lebaran tahun ini bersamaan dengan masa pelajar libur sekolah, dampaknya kios-kios pedagang tas ramai dipadati pembeli. Pantauan pada Senin, (19/7/2015) di Pasar Asemka terlihat kios-kios para penjual tas sekolah tidak ada satu pun sepi pembeli. Para orang tua membawa serta anak-anaknya memanfaatkan waktu libur untuk membeli tas sekolah. Usai libur lebaran nanti, berakhir pula libur sekolah dan pekan depan pelajar sudah kembali ke sekolah. Pembeli mengaku mencari keperluan sekolah di Asemka karena harganya lebih murah.

"Saya baru pernah beli tas di sini. Katanya lebih murah. Saya cari yang murah beli dua sekalian buat anak saya yang kembar perempuan kelas 2 SD," ujar Nung, pembeli di salah satu kios tas pasar Asemka.  Ibu dua anak ini mengaku pengeluaran pasca Lebaran diprioritaskan untuk memenuhi keperluan sekolah anaknya. "Perlunya buat anak sekolah kayak tas sama sepatu, kalau mainan ngga beli dulu," tutur Nung.

Ramainya penjualan keperluan sekolah pada libur lebaran sekaligus libur anak sekolah ini diungkapkan oleh para penjual tas, misalnya Buce. Kiosnya menawarkan beragam tas sekolah dengan harga mulai dari Rp 35.000 hingga Rp 200.000 per buah. "Alhamdulillah dari hari biasa naik 40%. Setelah lebaran jualannya ramai terus. Masih bakal terus ramai sampai anak sampai libur anak sekolah selesai tanggal 27 Juli nanti," ungkap Buce di kiosnya. Meski penjualan naik dari hari biasa, Buce mengaku omzetnya turun dibandingkan tahun lalu.

"Lebih ramai jualan tahun kemarin. Padahal sama-sama pas puasa libur lebaran juga, cuma tahun lalu pembeli udah ramai sejak masih bulan puasa, omzet bisa naik 60-70% dari hari biasa," tambahnya. Pasar Pagi Asemka Jakarta Pusat menjadi tujuan masyarakat yang mencari barang-barang seperti mainan anak, keperluan sekolah, aksesoris wanita hingga aksesoris handphone dengan harga murah.
Meski masih banyak toko yang belum mulai berjualan pasca Lebaran, pengunjung sudah ramai berbelanja di pasar Asemka. Meski ramai pengunjung, para penjualan mainan nampak tidak puas dengan hasil jualannya pada libur lebaran musim ini. Pasar yang bisa dibilang surga mainan murah ini.

"Ya begini saja jualannya," keluh Asep, seorang penjual mainan yang sudah berdagang di Asemka sejak 2009 lalu. Hal senada dituturkan pedagang mainan lain yang tidak mau disebutkan namanya. "Pengunjung rame, tapi ini barengan anak sekolah, mungkin milih beli perlengkapan sekolah," ujarnya.

Pantauan di pasar Asemka, kios-kios mainan kini kalah jumlah ketimbang kios alat tulis dan keperluan sekolah seperti tas dan sepatu. Antara kios perlengkapan sekolah dengan mainan pun banyak yang bersebelahan. Beberapa pembeli menuturkan lebih memprioritaskan pengeluaran usai lebaran untuk memenuhi keperluan sekolah anak.  Nung, seorang pembeli, memilih membelikan sepasang tas untuk kedua putri kembarnya yang duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. "Mainan nggak dulu lah, mending buat beli tas sama sepatu sekolah, apalagi belinya harus masing-masing dua buah," ujar Nung.

Senada dengan Nung, pengunjung Asemka lainnya yaitu Filzah, memilih membelikan kedua putrinya buku tulis, kotak pensil dan alat tulis lainnya. "Seminggu lagi masuk sekolah, saya kasih pengertian ke anak supaya mementingkan beli yang bermanfaat seperti keperluan sekolah ketimbang mainan," katanya. Libur lebaran tahun ini bersamaan dengan masa libur semester pelajar sekolah. Pasca lebaran, orang tua memanfaatkan waktu libur untuk nengajak serta anak-anaknya membeli perlengkapan sekolah. Pelajar sekolah dasar hingga menengah atas mulai bersiap kembali ke sekolah pekan depan.

"Libur lebaran ini deket-deket pas anak masuk sekolah. Jadi rame pada beli alat tulis," ungkap Leni, penjual alat tulis. Leni mengakui, meski omzetnya sedikit turun dari tahun lalu, Ia masih bisa merasakan untuk ketimbang hari-hari biasa. "Omzet turun dari tahun lalu, tapi masih ramai. Hari biasa malah memble. Hari-hari ini lumayan naik 20% pendapatannya dari hari biasa," ungkap Leni.

Beberapa keperluan sekolah yang paling laku diborong di kiosnya yaitu buku tulis, pulpen, pensil dan kotak pensil. Terpantau pembeli terus mengalir di kiosnya. Ia mengaku tidak akan naik-naikkan harga meski pengunjung ramai.  "Nawar boleh, saya kasih kurang Rp 1.000 aja, nggak saya naik-naikin," jelasnya.  Leni yang juga menjual stationary seperti jam dinding, lampu tidur, mug dan pernak-pernik lainnya mengaku, selain alat tulis dagangannya sepi. Menurut Leni, pembeli lebih mengutamakan keperluan sekolah untuk putra-putrinya. Seperti dituturkan salah seorang pembeli yaitu Filza.

"Ke mainan emang saya kasih pengertian supaya dikurangi, beli sesuatu yg lebih manfaat kaya perlengkapan sekolah. Minggu depan juga udah masuk sekolah," tutur Filza.

Monday, November 17, 2014

Rencana Kompensasi Tidak Langsung Presiden Jokowi Atas Kenaikan Harga BBM Bersubsidi

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Andrinof Chaniago, menyebutkan beberapa rencana pemerintah terkait pengalihan subsidi bahan bakar minyak (BBM) alias kenaikan harga BBM ini. "Akan dialihkan untuk perbaikan dan pembangunan irigasi. Targetnya dalam dua tahun kita sudah bisa swasembada beras," ujar Andrinof, setelah pengumuman kenaikan harga BBM yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Senin (17/11/2014).

Selain itu, lanjut Andrinof, pengalihan subsidi itu akan dialihkan untuk biaya pembangunan pembangkit listrik, pembiayaan program kelautan, serta pembangunan jalan baru. "(Untuk program) prioritas kepentingan masyarakat, yang membuat masyarakat lebih produktif."

Beberapa saat sebelumnya, Presiden mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi. Premium, dari harga sebelumnya Rp 6.500 per liter, naik menjadi Rp 8.500 per liter. Adapun solar, dari semula Rp 5.500 per liter, naik menjadi Rp 7.500 per liter. Kenaikan harga ini berlaku mulai Selasa (18/11/2014) pukul 00.00 WIB.

Jokowi juga mengumumkan, tiga "kartu sakti", yang lebih dulu diluncurkan, merupakan "kompensasi" bagi kenaikan harga BBM yang dia sebut sebagai pengalihan subsidi ke sektor produktif ini. Tiga kartu itu adalah Kartu Keluarga Sejahtera, Kartu Indonesia Sehat, dan Kartu Indonesia Pinta

Presiden Joko Widodo mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, Senin (17/11/2014) malam. Berikut ini adalah kompensasi yang diberikan atas kenaikan harga itu.

"Untuk rakyat tidak mampu, disiapkan perlindungan sosial berupa paket Kartu Keluarga Sejahtera, Kartu Indonesia Sehat, dan Kartu Indonesia Pintar," ujar Jokowi, dalam konferensi pers di Istana Negara, Senin malam. Menurut Presiden, ketiga kartu itu akan segera dapat digunakan untuk menjaga daya beli dan sekaligus meningkatkan ekonomi produktif.

Jokowi tak menampik bakal ada pendapat setuju dan tidak setuju atas kebijakan ini. "Pemerintah menghargai masukan-masukan," kata dia sembari menyebut kenaikan harga BBM ini merupakan kebijakan pengalihan subsidi untuk sektor produktif.  Namun, Jokowi menegaskan, keputusan ini merupakan jalan untuk "menghadirkan" anggaran belanja yang lebih bermanfaat bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Dalam pengumumannya itu, Jokowi menyebutkan, harga premium yang semula Rp 6.500 per liter naik menjadi Rp 8.500. Adapun solar, harga semula Rp 5.500 naik menjadi Rp 7.500 per liter.

Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil masih menutup rapat waktu pengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Dia hanya menyebutkan, dalam sidang kabinet paripurna yang dipimpin Presiden Joko Widodo pada Senin (17/11/2014) siang tadi, semua menteri telah berbicara dan sejumlah angka kenaikan harga BBM sudah disampaikan ke Jokowi.

“Semua menteri bicara, semua angka dikeluarkan, semua pertimbangan dibahas. Ini masalah kronis dan harus dibahas komprehensif, nanti pengumuman akan diumumkan pada waktunya,” kata Sofyan usai sidang kabinet paripurna dengan Presiden Joko Widodo di Kantor Presiden, Senin (17/11/2014).

Sofyan menjelaskan Presiden Jokowi meminta semua menteri untuk menyiapkan data. Namun, Sofyan tidak menjelaskan secara spesifik data yang dimaksud itu. Dia hanya menyebutkan bahwa data tersebut sudah harus siap pada saat pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM. “Intinya kami akan mengalihkan subsidi yang tidak produktif ini akan dialihkan ke yang produktif,” ujar dia.

Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto menuturkan, bahwa Presiden Joko Widodo sudah menyerahkan pembahasan BBM bersubsidi ini kepada Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil. Jokowi meminta Sofyan bersama 12 menteri lainnya untuk berkoordinasi soal kenaikan harga BBM bersubsidi.

“Tergantung Menko Perekonomian, apa keputusannya. Kalau nggak salah tadi koordinasinya dilakukan di tingkat 12 menteri, 2 menko yaitu Menko PMK dan Menko Perekonomuab serta serta 10 menteri lainnya segera diminta melakukan rapat korrdinasi membahas pengalihan subsidi BBM,” ucap Andi.

Sebelumnya, Jokowi berulang kali menyiratkan perlunya pengalihan subsidi BBM yang dinilai terlalu membenani negara. Dia menilai subsidi tersebut lebih baik dialihkan ke sektor yang lebih produktif seperti infrastruktur.

Jokowi juga sudah mengeluarkan tiga kartu sakti sebagai bagian dari perlindungan sosial yakni Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Keluarga Sejahtera. Wakil Presiden Jusuf Kalla sempat mengatakan bahwa kenaikan harga BBM sudah pasti akan dilakukan pemerintah.

Namun, terkait waktunya, JK hanya menyebutkan pada bulan November 2014. JK sempat mengutarakan pemerintah masih mengkalkulasi ulang kenaikan harga BBM itu karena adanya harga minyak dunia yang turun menjadi sekitar 80 US dollar per barrel.

Wednesday, October 29, 2014

PT Semen Indonesia Tbk Masuk Forber dan Buat Universitas

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk meresmikan pendirian Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) yang berlokasi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Surat Keputusan ijin prinsip pendirian UISI diberikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Djoko Santoso kepada Direktur Utama Semen Indonesia, Dwi Soetjipto, di Jakarta, Ahad, 19 Oktober 2014.

Melalui keterangan tertulis, Senin, 20 Oktober 2014, Dwi mengatakan UISI merupakan pengembangan dari kampus Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Semen Indonesia (STIMSI). Pendirian perguruan tinggi tersebut dilakukan melalui Semen Gresik Foundation (SGF), sebuah lembaga nonprofit yang dibentuk perseroan untuk mengelola sejumlah kegiatan di bidang pendidikan, lingkungan, sosial, dan pelayanan kesehatan. Sebelumnya, SGF mengelola lembaga pendidikan mulai tingkat PAUD, SD, SMP, hingga SMA dan SMK.

Dwi mengatakan, UISI akan menerima mahasiswa baru pada tahun 2015. UISI memiliki tiga fakultas dengan 10 program studi (prodi), yaitu Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang memiliki tiga prodi yakni Manajemen, Akuntansi serta Ekonomi Syariah. Kemudian Fakultas Teknologi Industri dan Agribisnis yang memiliki empat program studi yaitu Teknik Kimia, Teknik Logistik, Manajemen Rekayasa serta Teknologi Industri Pertanian. Sementara Fakultas Teknologi Informasi dan Desain Kreatif memiliki tiga program studi yaitu Teknik Informatika, Sistem Informasi, serta Desain Komunikasi Visual.

Kehadiran UISI, kata Dwi, diharapkan dapat mencetak sumber daya manusia yang unggul di bidang manajemen. Dengan menghimpun, mengonsolidasikan, dan mendayagunakan mereka, Semen Indonesia kelak bisa menghasilkan energi ilmu pengetahuan yang berkontribusi besar bagi bangsa dan negara. "UISI akan kami desain menjadi pusat unggulan pengembangan bisnis, mulai dari aspek konsep, teori sampai praktik bisnis," ujarnya.

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk tersebut kembali masuk dalam Forbes Global 2000, daftar 2.000 perusahaan publik berkinerja terbaik di seluruh dunia. DaftarThe World's Biggest Companies ini dipublikasikan secara tahunan sejak 2004 oleh Forbes, media ekonomi terkemuka berbasis di Amerika Serikat.

Ini sekaligus membuktikan kiprah perseroan diakui dan memenuhi ekspektasi publik internasional,” ujar Dwi Soetjipto, Direktur Utama Semen Indonesia, dalam acara Forum Kepemimpinan BUMN yang diselenggarakan Forbes di Jakarta, Kamis 3 Oktober 2013.

Selain Semen Indonesia, daftar Forbes Global 2000 tahun ini juga memasukkan delapan perusahaan asal Indonesia lainnya, antara lain PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Bank Mandiri Tbk. Peringkat Semen Indonesia dalam daftar Forbes Global 2.000 naik dari 1.674 pada 2012 menjadi 1.425 pada 2013 atau meningkat 249 poin. Peningkatan tersebut tercatat sebagai yang terbesar dibanding delapan perusahaan Indonesia lainnya yang masuk daftar Forbes Global 2000.

Penilaian Forbes Global 2000 didasarkan pada empat indikator kinerja keuangan, yaitu penjualan, laba, aset, dan nilai pasar (market value). Forbes Global 2000 menjadi salah satu rujukan bagi para pelaku bisnis dan investor untuk mengetahui kinerja sebuah perusahaan publik yang terdaftar di bursa saham di berbagai negara di dunia.

Tahun ini, perusahaan-perusahaan dari 63 negara masuk dalam Forbes Global 2000, meningkat dibandingkan saat penilaian ini kali pertama dilakukan pada 2004 di mana ketika itu hanya ada 2000 perusahaan dari 51 negara.

Dalam daftar Forbes Global 2000 tahun ini, jumlah pendapatan dari perusahaan-perusahaan yang masuk peringkat mencapai US$ 38 triliun, laba US$ 2,43 triliun, aset US$ 159 triliun, dan nilai pasar US$ 39 triliun. Total jumlah pekerja yang masuk dalam perusahaan di daftar Forbes Global 2000 mencapai Rp 87 juta.

Dwi menuturkan, masuk dalam Forbes Global 2000 merupakan kebanggaan tersendiri bagi perseroan. Dengan masuk daftar 2000 perusahaan sedunia berkinerja terbaik, perseroan dianggap sejajar dengan perusahaan besar dunia lainnya. ”Langkah kami go global dengan mengakuisisi Thang Long Cement Vietnam semakin menempatkan perseroan di posisi terhormat dalam peta dan pergaulan bisnis internasional,” kata Dwi.

Monday, September 8, 2014

PT Paramount Enterprise International Bangun Univesitas Di Gading Serpong

PT Paramount Enterprise International, melalui Yayasan Dharma Paramitra, mendirikan Universitas Matana. Pengembang di kawasan Gading Serpong, Tangerang, itu menyiapkan investasi Rp 100 miliar untuk pendirian perguruan tinggi tersebut.

Presiden Direktur Paramount Enterprise International yang juga Ketua Yayasan Dharma Paramitra, Ervan Adi Nugroho, mengatakan bahwa pemberlakukan pasar bebas Asean atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada tahun depan membuat persaingan sumber daya manusia semakin ketat. Di sisi lain, kebutuhan terhadap sumber daya manusia berkualitas juga semakin besar.

"Sebagai korporasi kami merasa ikut bertanggungjawab untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dengan mendirikan Universitas Matana. Saat ini SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk pendirian universitas tersebut sudah keluar dan sudah kami terima,” kata Ervan di Jakarta, Senin (8/9/2014).

Menurut dia, kehadiran Universitas Matana semakin menambah potensi bagi wilayah Gading Serpong. Sebelumnya, di daerah ini terdapat Universitas Multimedia Nusantara dan Surya Universitas. Ervan mengatakan, Paramount juga akan menyalurkan mahasiswa dengan kemampuan terbaiknya untuk mengisi kebutuhan sumber daya di perusahaan properti tersebut.

Sementara itu, Rektor Universitas Matana, Johannes Pradjitno, menjelaskan bahwa universitas ini akan mengembangkan 10 program studi, diantaranya manajamen bisnis, desain komunikasi visual, perhotelan, arsitektur, dan multimedia. Selain mengedepankan ilmu pengetahuan dan teknologi, menurut Johannes, pihaknya juga akan memadukan pendidikan norma dan enterpreneurship di Universitas Matana.

"Selain akademik, kami juga kedepankan jiwa enterpreneur sejak semester pertama agar mahasiswa punya daya saing global," katanya.

Lewat materi pendidikan bertaraf internasional dan kerjasama dengan pusat pendidikan internasional seperti Korea Selatan, Johannes mengharapkan perguruan tinggi tersebut dapat menjadi salah satu pusat pendidikan pilihan di Indonesia. Dengan begitu, pelajar Indonesa tidak perlu menempuh pendidikan di negeri tetangga seperti Singapura, Malaysia, atau Australia.

Selain Universitas Matana, Ervan mengatakan, ke depan Paramount juga akan mengembangkan sekitar lima fasilitas pendidikan lain secara terpadu di atas lahan sekitar 100 hektare yang sedang dipersiapkan.

Wednesday, August 20, 2014

Biaya Mengurus Anak Dari Lahir Hingga Tamat Kuliah Sekarang Sebesar 2,5 Milyar Rupiah

Anda sedang menanti kehadiran anak dan segera jadi orang tua? Siap-siap saja untuk mengeluarkan uang sebesar Rp 2,5 miliar untuk mengurus anak dari lahir hingga masuk kuliah.

Hal tersebut diketahui dari hasil survei yang dilakukan Departemen Pertanian Amerika Serikat (AS) yang dikutip CNN, Kamis (21/8/2014). Biaya yang dibutuhkan untuk mengurus anak yang lahir tahun lalu sampai berumur 18 nanti adalah US$ 245.000 atau sekitar Rp 2,5 miliar dan ini belum termasuk biaya kuliah.

Estimasi biaya ini naik sekitar 2% dibandingkan perhitungan tahun lalu. Namun estimasi ini tergantung dari wilayah tempat tinggal dan gaya hidup sehari-sehari.

Bagi keluarga menengah ke atas estimasi biayanya menjadi lebih tinggi lagi, mencapai sekitar US$ 455.000 (Rp 4,5 miliar) untuk mengurus anak dari lahir sampai berumur 18 tahun. Sementara keluarga menengah ke bawah 'hanya' butuh US$ 145.500 (Rp 1,4 miliar).

Penghitungan survei dilakukan terhadap biaya sehari-hari, ongkos transportasi, pakaian, biaya kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Sayangnya survei ini tidak menghitung biaya masuk kuliah yang sebenarnya tiap tahun naik tinggi.

Survei ini menunjukkan bahwa sebagai penanggung jawab, orang tua harus berusaha lebih keras lagi supaya kehidupan si anak terjamin dengan baik.

Biaya terbesar dalam survei ini ternyata biaya sewa pembantu atau ongkos penitipan anak. Biaya pembantu ini diperkirakan bisa setara dengan harga rumah. Naiknya tarif transportasi dan harga makanan juga membuat biaya mengurus anak menjadi bengkak.

Saturday, July 26, 2014

Kisah Dokter Yang Jadi Pengusaha Sukses Karena Membuka Rumah Sunat

Banyak pakar wirausaha bilang, definisi pengusaha tidak berhenti pada orang yang punya suatu usaha atau bisnis. Wirausaha merupakan jiwa yang dimiliki orang yang jeli melihat peluang usaha dan memanfaatkannya untuk membantu memudahkan hidup banyak orang. Berangkat dari definisi inilah, Mahdian Nur Nasution yang berprofesi sebagai dokter, sejatinya, juga seorang wirausahawan.

Tidak pernah terlintas di benak Mahdian bahwa usaha yang ia dirikan pada tahun 2007 bisa membawa namanya sebagai dokter yang paling dicari untuk urusan khitan, khususnya di Jabodetabek. Dengan latar belakang dokter bedah saraf, Mahdian menganggap kegiatan menyunat sebagai keahlian.

Pria kelahiran Medan, 19 April 1976, ini akrab dengan dunia menyunat sejak 1997. Ketika kuliah kedokteran di Universitas Indonesia, Mahdian sering mengikuti kegiatan sosial. Salah satu bentuk kegiatan itu ialah sunatan massal.  Berawal dari kegiatan itulah, dia sering dicari orang untuk menyunat. “Walau masih kuliah, saya jadi sering dipanggil untuk menyunat, dan ini berlanjut hingga saya mengambil spesialis bedah di UI,” ujarnya.

Mahdian pernah kebanjiran pasien ketika musim liburan sekolah. Ratusan orang minta Mahdian datang ke rumah dan menyunat anak laki-laki mereka. Mahdian sampai harus cuti kerja supaya bisa melayani panggilan menyunat. Lantas, dia berinisiatif untuk membangun ruang khusus bagi pasien sunat, karena tak lagi bisa memenuhi permintaan untuk datang ke rumah pasien. Mahdian pun menyewa satu ruangan di lantai dua rumah milik temannya di daerah Matraman, Jakarta Timur. Ia juga membeli peralatan seperti tempat tidur, alat sunat, hingga meja dokter sebagai pelengkap.

Di Matraman itulah Mahdian merintis Rumah Sunatan. Saat mendirikan Rumah Sunatan pada 2007, dia merogoh modal tak sampai Rp 10 juta.  Walaupun mengambil pendidikan dokter, Mahdian mengaku memang selalu berniat jadi pengusaha. Mahdian meyakini profesi dokter memiliki batasan tenaga dan usia. Jadi ia merintis usaha sendiri, supaya tak hanya mengandalkan profesinya.

Dalam waktu singkat, orang-orang mengenal Mahdian sebagai dokter sunat. Maklum, dia mengembangkan metode baru, smart klamp. Boleh dibilang, dokter spesialis bedah saraf di RS Mitra Keluarga, Bekasi, ini merupakan pelopor teknik tersebut di Indonesia.

Cara menyunat ini diperolehnya dari seorang rekan seprofesinya di Malaysia, saat bertemu pada 2004. Smart klamp merupakan alat khitan sekali pakai. Dengan alat ini, menyunat tak lagi menyertakan proses menjahit atau perban alat kelamin. Risiko pada pasien pun berkurang dan bisa langsung beraktivitas setelah disunat.  Smart klamp kian melambungkan nama Mahdian sebagai dokter sunat. Pasiennya semakin bertambah. Bahkan kliniknya di Matraman tak lagi cukup menampung pasien. Kemudian, ia menutup tempat itu dan membuka klinik baru di Cipinang dan Bintaro pada 2008.

Usahanya pun terus berkembang. Kini, Mahdian punya 18 cabang Rumah Sunatan di Jabodetabek. Tiap cabang menerima sekitar 20 pasien pada bulan biasa. Jumlah ini meningkat saat musim liburan, jadi 700 hingga 1.000 pasien per cabang dalam sebulan. Dari usaha khitan, ayah dari enam orang anak ini bisa mengantongi omzet sekitar Rp 500 juta saban bulan.

Ubah citra seram
Sejak awal menyunat, Mahdian membawa misi tersendiri. Ia ingin mengubah citra mengenai sunat. Sebagian besar orang yang pernah disunat pasti menganggap sunat sebagai pengalaman mengerikan. Bayangan akan sebagian kulit yang dipotong menimbulkan anggapan sunat sebagai sesuatu yang menyeramkan.

Mahdian ingin mengubah anggapan itu. Makanya, sejak membuka klinik pertamanya, dia memilih nama Rumah Sunatan. “Saya ingin pasien merasa senyaman mungkin, jadi saya memilih kata rumah, bukan klinik,” jelas dia. Desain Rumah Sunatan pun jauh dari kesan menakutkan bagi anak-anak. Mahdian membuat ruangan khusus tempat bermain. Di situ, anak-anak bisa menunggu sambil bermain game atau menonton televisi.

Mahdian tak hanya mengandalkan teknologi. Para dokter dan karyawan pun dilatih untuk berkomunikasi efektif dengan anak-anak. Secara psikologis, anak-anak membayangkan sunat sebagai sesuatu yang menakutkan. Tugas dokter dan karyawan Rumah Sunatan untuk menghilangkan ketakutan itu. “Memang sudah ada mainan dan gadget, tapi komunikasi dari dokter dan karyawan pun harus mendukung,” tuturnya.

Keunggulan itu yang membuat Mahdian dengan percaya diri menyebut Rumah Sunatan sebagai salah satu pemimpin pasar di usaha khitan. Posisi itu ditambah lagi dengan jam terbang menyunat Mahdian yang sudah belasan tahun.

Seolah tak takut akan menciptakan pesaing baru, Mahdian juga rajin memberi pelatihan metode smart klamp pada dokter lain. Sejauh ini, Mahdian sudah mengadakan pelatihan di 15 kota untuk berbagi metode sunat teranyar ini. Untuk memenangkan persaingan, Mahdian fokus pada pelayanan. Lantaran bergerak di bidang jasa, pelayanan harus jadi perhatian utama. “Prinsip saya, selalu berikan yang terbaik pada pasien maupun keluarga pasien,” tandasnya.

Pasalnya, pada dasarnya, manusia ingin menerima pelayanan terbaik. Tak heran jika orang rela membayar tarif lebih mahal demi mendapatkan pelayanan sunat terbaik di Rumah Sunatan. Mahdian selalu menyarankan pada karyawannya untuk profesional dalam bekerja sehingga tidak perlu pelit.

Dia memastikan Rumah Sunatan memberi obat bius terbaik, alat smart klamp yang terbaik. Tak lupa, Mahdian juga memberi goodie bag sebagai hadiah pada pasien yang sudah berani disunat di tempatnya.


Dari rumah sunat ke rumah wasir
Tujuh tahun sudah berlalu sejak Mahdian Nur Nasution merintis Rumah Sunatan. Suami dari Dewi Sulastiningsih ini mengaku, perjalanan bisnisnya tergolong lancar. Ia belum pernah menemui kesulitan signifikan. “Secara grafik, bisnis sunatan ini selalu naik, tak pernah turun. Meski pernah ada satu atau dua pasien yang komplain,” ujar Mahdian.

Dua puluh tahun mendatang, Mahdian bermimpi Rumah Sunatan jadi pemimpin pasar untuk layanan sunat di Indonesia. Karena masih banyak daerah di Indonesia yang belum memiliki pusat khitan, Mahdian pun menargetkan Rumah Sunatan punya ratusan cabang di 2034.

Untuk mencapai target itu, Mahdian menawarkan peluang waralaba. Padahal, dulu ia sempat enggan mewaralabakan Rumah Sunatan. Ia takut waralaba membuka celah menurunkan kualitas pelayanan.

Namun, tahun ini, Mahdian hanya akan menambah maksimal 10 mitra untuk jaga kualitas pelayanan. “Karena ini jasa medis, semua harus bagus terutama pelatihan untuk dokter hingga dia mahir. Kalau ada kesalahan akan berdampak pada nama baik kami,” tegasnya.  Mahdian juga punya lini bisnis baru yang diberi nama Rumah Wasir. Dia bilang, usaha ini masih dalam tahap percobaan dan baru buka di Jalan Jatiasih Raya, Bekasi.

Mahdian bercerita, Rumah Wasir didirikan karena ia mendapat informasi mengenai teknologi menyembuhkan wasir. Selama ini, penderita wasir malu dan takut berobat karena harus dioperasi. Namun, dunia medis sudah mengenal teknologi biological electrical impedance automeasurement (BEIM). “Kami berharap bisa jadi pelopor juga untuk teknologi yang sudah sering dipakai di luar negeri,” kata dia.

Tak lupa, Mahdian berbagi kunci kesuksesannya, yakni fokus dan inovasi. Ia mengenal banyak pengusaha yang bosan di tengah jalan lantas tidak fokus dalam bisnisnya. Berkat fokus jadi dokter sunat, Mahdian menuai kesuksesan. Namun, fokus saja tidak cukup karena harus ada inovasi agar masyarakat tertarik.

Sunday, July 20, 2014

Anomali : Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tidak Dibarengi Penyerapan Tenaga Kerja

Kepala Ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan, menyayangkan pertumbuhan ekonomi belum bisa menurunkan tingkat pengangguran secara signifikan. Salah satunya karena investasi di dalam negeri masih lebih banyak yang berorientasi pada industri padat modal.

“Dengan kondisi ini, maka industri yang ada tidak menyerap tenaga kerja dengan sempurna,” ujar Fauzi ketika dihubungi, Selasa, 6 Mei 2014. Apalagi, kebijakan menaikkan Upah Minimum Provinsi tidak disertai dengan bertambahnya produktivitas buruh. Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan hingga Februari lalu sebanyak 7,15 juta orang dari 125,3 juta angkatan kerja di Indonesia masih menganggur. Jumlah pengangguran itu memang menurun dibanding Agustus 2013 yang tercatat sebanyak 7,41 juta orang.

“Pada Februari 2014 jumlah tingkat pengangguran terbuka sebanyak 7,20 orang. Jumlah penduduk yang bekerja 118,17 juta orang, meningkat dibandingkan Februari 2013 sebanyak 116,4 juta orang,” kata Kepala BPS, Suryamin, dalam konferensi pers di kantornya, Senin lalu.

Berdasarkan struktur lapangan pekerjaan, BPS mencatat tidak terjadi perubahan. Sektor pertanian, perdagangan, jasa kemasyarakatan dan industri masih menjadi penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja. Penyerapa tenaga kerja masih didominasi pekerja berpendidikan rendah (SMP kebawah) 76,4 juta orang atau 64,63 persen. Sementara pekerja berpendidikan tinggi (Diploma dan Universitas) hanya sekitar 12 juta orang.

Sedikitnya 12.900 warga Kota Serang, Provinsi Banten, menganggur. Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Serang Syafaat mengatakan data tersebut berdasarkan jumlah pembuatan kartu kuning di Disnakertrans sampai triwulan pertama 2014. Jumlah ini mengasumsikan pembuat kartu kuning sebagai orang yang belum memiliki pekerjaan. "Jumlah pembuat kartu kuning mencapai 11.000 orang. Di triwulan pertama tahun ini, ada 1.900 orang lagi yang membuat kartu kuning," katanya, Rabu, 7 Mei 2014.

Menurut Syafaat, jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah hingga 100 persen setelah kelulusan siswa SLTA nanti. "Faktornya banyak. Di antaranya daya tampung tenaga kerja yang tidak sesuai dengan lowongan. SDM juga berpengaruh karena perusahaan tentu hanya menampung tenaga kerja yang sesuai kebutuhan mereka," kata Syafaat.

Syafaat mengatakan pihaknya terus berupaya mengatasi masalah pengangguran di Kota Serang. Salah satunya melalui kegiatan job fair atau pameran bursa tenaga kerja, pelatihan keterampilan dan wirausaha bagi pengangguran di Kota Serang. "Tugas kami membuat para lulusan bisa bekerja. Oleh karena itu, kami beri mereka pelatihan," katanya.

Menurut dia, seluruh pengangguran di Kota Serang dapat mendaftarkan diri untuk mengikuti pelatihan, meliputi kursus menjahit, kursus komputer, serta wirausaha ternak kambing. "Jadi, selain memberi pelatihan, kami juga memberi alat, seperti mesin jahit. Sedangkan untuk wirausaha kami beri kambing," ujar Syafaat.

Untuk diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik Nasional (BPSN) tentang Tenaga Kerja pada Februari 2012, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Banten di atas DKI Jakarta, yaitu mencapai 10,74 persen. Sedangkan untuk TPT DKI Jakarta hanya mencapai 10,72 persen dari jumlah penduduk DKI Jakarta.

Dari data BPS Provinsi Banten, jumlah angkatan kerja di Banten pada Februari 2012 bertambah 233.963 orang. Pada Februari 2011 angkatan kerja di Banten mencapai 5.164.681 orang, tetapi pada Februari 2012 menjadi 5.398.644 orang.

Saturday, July 5, 2014

Perusahaan Jepang Paling Berminat Pekerjakan Sarjana Lulusan Indonesia

Kantor Karier (Career Office) Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) di Beppu, Jepang, menempatkan para pelajar Indonesia sebagai pelajar paling diincar perusahaan-perusahaan multinasional Jepang. Kemampuan bahasa Jepang dan Inggris para pelajar Indonesia dinilai sangat baik, sebaik kemampuan studi di bidang masing-masing.

Berdasarkan data Career Office Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Jepang, tahun 2013, menunjukkan bahwa job placement rate untuk anak-anak Indonesia pada 2012 mencapai angka 100 persen, sementara pada 2013 lalu turun sedikit hanya 96,7 persen. Pada 2013, sebanyak 73 persen dari total pelajar asal Indonesia di APU pun tercatat paling aktif mencari pekerjaan.

"Jadi, persentase anak Indonesia yang mendapatkan pekerjaan di Jepang itu 65 persen, yang bekerja di Indonesia 17 persen, sedangkan sisanya yang 17,5 persen itu di negara lain atau melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi," kata Masako Posselius, Manager Career Office Ritsumeikan APU, di kantornya di Kampus APU, akhir Juni lalu.

Masih berdasarkan data Career Office APU, pada 2013 lalu, tercatat sebanyak 355 perusahaan Jepang mendatangi APU untuk menggelar rekrutmen tenaga kerja bagi mereka yang baru lulus. Kunjungan dan rekrutmen yang disebut dengan "On Campus Recruiting" itu kerap dijadikan kesempatan bagi para mahasiswa Ritsumeikan APU, khususnya mahasiswa tingkat III dan IV, untuk mulai merancang job hunting.

"Karena pada saat itu para mahasiswa hanya mulai fokus pada akhir masa studinya dan serius dengan aktivitas riset mereka untuk menyelesaikan studi. Sejauh ini, para alumnus dan perusahaan selalu puas dengan capaian anak-anak Indonesia yang mereka rekrut," kata Masako.

Menanggapi hal itu, alumnus Ritsumeikan APU, Ahmad Hadi Royani atau Royan, mengakui bahwa pengalaman berkomunikasi dengan mahasiswa dari berbagai negara di "kampus internasional" Ritsumeikan APU merupakan pengalaman sangat berharga. Dia sepakat bahwa karena bergaul itulah dia menjadi orang yang sangat percaya diri ketika masuk ke dunia kerja di Jepang.

"Pertama dari kemampuan bahasanya, orang Indonesia itu lebih unggul. Kedua, sebagai orang Indonesia, saya dianggap bisa masuk ke budaya orang-orang Jepang itu. Ketiga, kemampuan berkomunikasi orang-orang Indonesia sangat baik, mungkin bisa dibilang sangat luwes. Kita dianggap lebih mengerti perbedaan," ujar Royan, Sales dan Marketing Consultant di Michael Page International Japan, di Tokyo.

Royan mengakui, semasa kuliah, pencapaian prestasi akademiknya terbilang biasa saja. Namun, dia termasuk anak yang aktif berorganisasi, menjadi volunter untuk bermacam kegiatan kampus, dan kerja sambilan. Dari situlah keluwesan bergaul, kemampuan berkomunikasi, dan kefasihan berbahasa terasah secara alami.

"Secara langsung kita memang tidak dididik menjadi seperti itu karena semuanya berjalan alami ketika menuntut ilmu dan bergiat di kampus. Lingkungan kampus membuat kita seperti itu. Jadi, kalau ke sini cuma belajar, enggak akan dapat apa-apa," ujar Royan.

Track yang benar
Berdasarkan survei Carrier Office Ritsumeikan APU pada 2013 lalu, spesifikasi kebutuhan sumber daya manusia yang diinginkan perusahaan-perusahaan internasional Jepang tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan teknis (skill) dan potensi akademik. Lebih dari itu, beberapa variabel non-teknis (non-skill) sangat mereka butuhkan dari para sarjana lulusan perguruan tinggi

"Kepemimpinan, kemampuan menemukan masalah, kemampuan mengeksekusi rencana, memberi inspirasi orang di sekitarnya, suka belajar dan memperbaiki diri, serta punya semangat kerja sama yang tinggi. Kriteria itulah yang utama," kata Dahlan Nariman, Vice Dean of Admission-Associate Professor Ritsumeikan Asia Pacific University (APU).

"Untuk akademik rata-rata GPA atau IPK anak Indonesia itu 3,00. Sementara itu, yang dianggap paling menonjol dari anak-anak Indonesia itu khususnya dari sisi non-akademik. Para mahasiswa Indonesia dinilai paling kreatif untuk urusan non-akademik dan selalu unggul dibanding anak lain," kata Dahlan.

Melihat kenyataan itu, Director Ritsumeikan Tokyo Office, Shiota Kuninari, mengaku sebelumnya tidak pernah terbayangkan bahwa lulusan Indonesia di APU akan seperti saat ini. Pada masa awal berdiri tahun 2000, banyak orang memandang sebelah mata pada APU dengan konsepnya yang dikenal dengan "konsep 50". Kini, ketika industri Jepang maju dan sangat membutuhkan SDM asing, salah satunya dari Indonesia, ia merasa APU sudah berada di trackyang benar.

"Saya yakin bahwa APU sudah dijadikan model untuk internasionalisasi pendidikan tinggi di Jepang sehingga pemerintah pun kini mendukung banyak perguruan tinggi di sini untuk go international. Jepang agak terlambat dari segi persaingan global di bidang pendidikan, saya akui itu," ujar Shiota.

Ucapan jujur Shiota itu ternyata diperkuat oleh pernyataan alumnus Ritsumeikan APU lainnya, Taufan Hadi Pandusegoro. Semasa kuliah, Taufan mengaku dirinya tergolong mahasiswa "tukang main". Istilah "tukang main" adalah mahasiswa yang rajin berorganisasi atau melakukan bermacam kegiatan kampus dan biasa saja dalam prestasi akademik.

"Orang Jepang mengakui bahwa anak-anak Indonesia itu sosok yang rajin, stigma itulah yang sering muncul. Padahal, sejak kuliah kita memang sudah terbiasa bekerja, punya inisiatif ketika ada sebuah masalah di keorganisasian. Jadi, kita memang sudah terbiasa, dan ketika masuk ke dunia kerja, itu bukan masalah lagi," kata Taufan, Production Planner di Fujitsu Ltd di Kawasaki, Jepang.

Taufan menuturkan bahwa sebetulnya banyak perusahaan di Jepang yang secara budaya perusahaan belum terhitung sebagai perusahaan global. Bisa dikatakan, perusahaan-perusahaan itu masih dalam tingkat menuju global, meskipun termasuk perusahaan berskala besar.

"Orang Jepang itu kalau mau melakukan sesuatu yang baru sangat lama berpikirnya, itu karakter mereka. Itulah sebabnya, banyak perusahaan Jepang memilih merekrut lulusan asing atau mahasiswa internasional seperti anak Indonesia untuk bekerja di perusahaan mereka, ketimbang lulusan Jepang. Kita diharapkan bisa mengubah budaya kerja di perusahaan mereka. Jadi, banyak kesempatan terbuka luas untuk anak-anak Indonesia yang ingin berkarya," kata Taufan.

Kantor karir (career office) Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Beppu, Jepang, menempatkan para pelajar Indonesia sebagai pelajar paling diincar perusahaan-perusahaan multinasional Jepang. Kemampuan bahasa Jepang dan Inggris para pelajar Indonesia dinilai sangat baik, sebaik kemampuan studi di bidangnya masing-masing.

Demikian dipaparkan Masako Posselius, Manager Career Office Ritsumeikan APU, di kantornya di Kampus APU, Kamis (19/6/2014). Masako, yang juga menjabat Global Career Development Facilitator (Japan), bahkan menegaskan bahwa lulusan Indonesia banyak dicari karena dianggap sangat kreatif, selain punya passion dan kemampuan bahasa lebih baik dibandingkan pelajar asal Asia Tenggara lainnya.

"Terutama untuk bahasa Jepang. Anak-anak Indonesia banyak dicari untuk mengisi banyak posisi manajer eksekutif. Mereka dinilai kreatif sehingga kerap dipercaya mampu membawa visi dan misi perusahaan," ujar Masako.

Berdasarkan data Career Office APU tahun 2013, job placement rate untuk anak-anak Indonesia pada 2012 lalu mencapai angka 100 persen, sementara pada 2012 lalu turun sedikit, hanya 96,7 persen. Masako mengatakan, pada 2013 lalu, 73 persen dari total pelajar asal Indonesia di APU pun tercatat paling aktif mencari pekerjaan.

"Jadi, persentase anak Indonesia yang mendapatkan pekerjaan di Jepang itu 65 persen, yang bekerja di Indonesia 17 persen, sedangkan sisanya yang 17,5 persen itu di negara lain atau melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi," kata Masako.

Mesih berdasarkan data Career Office APU, pada 2013 lalu tercatat sebanyak 355 perusahaan Jepang mendatangi APU untuk menggelar rekrutmen tenaga kerja first graduate. Kunjungan dan rekrutmen yang disebut dengan "On Campus Recruiting" itu kerap dijadikan kesempatan bagi para mahasiswa Ritsumeikan APU, khususnya mahasiswa tingkat 3 dan 4, untuk mulai merancangjob hunting.

"Karena pada saat itu para mahasiswa hanya mulai fokus pada akhir masa studinya dan serius dengan aktivitas riset mereka untuk menyelesaikan studi. Sejauh ini, para alumni dan perusahaan selalu puas dengan capaian anak-anak Indonesia yang mereka rekrut," kata Masako.

Non-akademik
Di Ritsumeikan APU, jumlah mahasiswa Indonesia yang mencapai 217 orang, menduduki posisi keempat dari 5.480 total mahasiswa internasional yang menimba ilmu di perguruan tinggi itu. Berdasarkan data Mei 2014, dengan total 202 mahasiswa tingkat sarjana (S-1) dan 14 mahasiswa pascasarjana (S-2), serta 1 mahasiswa non-gelar, jumlah mahasiswa Indonesia secara berurutan berada di bawah China (572 mahasiswa), Korea (513 mahasiswa), serta Vietnam (336 mahasiswa).

Namun demikian, menurut Dahlan Nariman, Vice Dean of Admission-Associate Professor Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), secara kualitas anak-anak Indonesia tidak kalah dibandingkan para mahasiswa asal ketiga negara di atasnya. Selama 5 tahun terakhir, lanjut dia, kemampuan akademik dan non-akademik anak-anak Indonesia justeru dianggap lebih baik.

"Untuk akademik rata-rata GPA atau IPK anak Indonesia itu 3,00. Sementara yang dianggap paling menonjol dari anak-anak Indonesia itu khususnya dari sisi non-akademik. Para mahasiswa Indonesia dinilai paling kreatif untuk urusan non-akademik dan selalu unggul dibanding anak lain," ujar Dahlan.

Dahlan mengatakan, berdasarkan survei Carrier Office Ritsumeikan APU pada 2013 lalu spesifikasi kebutuhan sumber daya manusia yang diinginkan perusahaan-perusahaan internasional Jepang tidak hanya menitik beratkan pada kemampuan teknis (skil) dan potensi akademik. Lebih dari itu, beberapa variabel non-teknis (non-skil) sangat mereka butuhkan dari para sarjana lulusan perguruan tinggi.

"Kepemimpinan, kemampuan menemukan masalah, kemampuan mengeksekusi rencana, memberi inspirasi orang di sekitarnya, suka belajar dan memperbaiki diri, serta punya semangat kerjasama yang tinggi. Kriteria itulah yang utama," kata Dahlan.

Di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), jumlah mahasiswa Indonesia sebanyak 217 orang menduduki posisi keempat dari 5.480 total mahasiswa internasional yang menimba ilmu di perguruan tinggi itu. Berdasarkan data Mei 2014, dengan total 202 mahasiswa tingkat sarjana (S-1) dan 14 mahasiswa pascasarjana (S-2), serta 1 mahasiswa non-gelar, jumlah mahasiswa Indonesia secara berurutan berada di bawah China (572 mahasiswa), Korea (513 mahasiswa), serta Vietnam (336 mahasiswa).

Namun demikian, menurut Dahlan Nariman, Vice Dean of Admission-Associate Professor Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), secara kualitas anak-anak Indonesia tidak kalah dibandingkan para mahasiswa asal ketiga negara di atasnya. Selama 5 tahun terakhir, lanjut dia, kemampuan akademik dan non-akademik anak-anak Indonesia justeru dianggap lebih baik.

"Untuk akademik rata-rata GPA atau IPK anak Indonesia itu 3,00. Sementara yang dianggap paling menonjol dari anak-anak Indonesia itu khususnya dari sisi non-akademik. Para mahasiswa Indonesia dinilai paling kreatif untuk urusan non-akademik dan selalu unggul dibanding anak lain," ujar Dahlan di kantornya di Beppu, Jepang, Kamis (19/6/2014).

Dahlan mengatakan, berdasarkan survei Carrier Office Ritsumeikan APU pada 2013 lalu spesifikasi kebutuhan sumber daya manusia yang diinginkan perusahaan-perusahaan internasional Jepang tidak hanya menitik beratkan pada kemampuan teknis (skil) dan potensi akademik. Lebih dari itu, beberapa variabel non-teknis (non-skil) sangat mereka butuhkan dari para sarjana lulusan perguruan tinggi.

"Kepemimpinan, kemampuan menemukan masalah, kemampuan mengeksekusi rencana, memberi inspirasi orang di sekitarnya, suka belajar dan memperbaiki diri, serta punya semangat kerjasama yang tinggi. Kriteria itulah yang utama," kata Dahlan.

Lalu, bagaimana sebuah institusi pendidikan bisa mewujudkan kebutuhan-kebutuhan itu akhirnya dimiliki oleh SDM lulusannya? Dahlan mengatakan, bahwa perguruan tinggi harus sadar bahwa aset seseorang bertitel sarjana bukan saja terletak pada potensi akademiknya, namun juga soft skills yang dibangun secara bertahap dan bertujuan jelas.

"Di APU kami merancang career development program yang langsung diterapkan pada mahasiswa sejak tingkat pertama. Di tahun pertama mereka sudah kami latih untuk mengenal future goals mereka, diajak memulai perencanaan karir dan mengakumulasikan skil dan pengalaman yang dibutuhkan untuk menuju ke situ," ujar Dahlan.

Kesiapan bahasa Jepang atau Career Japanese juga sangat disiapkan APU pada anak-anak didiknya. Meskipun dual language,Inggris dan Jepang, para siswa secara khusus diberikan Career Japanese I, II, dan III untuk mempelajari etos kerja orang Jepang, menulis resume, teknik wawancara kerja, mengadaptasi lingkungan kerja internasional, dan sebagainya.

Di sisi lain, lanjut Dahlan, para mahasiswa juga diberi kesempatan mengikuti magang pada tahun kedua kuliah. Jika pada 2012 lalu ada 71 perusahaan internasional menjalin komitmen untuk menerima magang mahasiswa APU, pada 2013 sebanyak 67 perusahaan juga ikut mendukung program tersebut.

Sementara itu, dukungan bagi mahasiswa untuk mempraktikkan non-skil mereka juga sangat difasilitasi agar masing-masing mahasiswa aktif berorganisasi atau mengikuti kegiatan kemahasiswaan di kampus. Sejauh ini, anak-anak Indonesia paling terkenal kreatif pada kegiatan Indonesia Week atau pekan Indonesia yang dilaksanakan setiap setahun sekali di APU.

"Mereka belajar, tinggal, dan bergaul sehari-hari dengan anak-anak asing atau pelajar internasional dari beragam negara. Situasi itu kami ciptakan agar mereka siap menghadapi kultur global yang beragam," kata Dahlan.

"Kalau di tengah kota, kultur yang kami ciptakan tentu berbeda. Nah, kampus kami ada di atas bukit yang jauh dari keramaian sehingga membuat mereka terisolir dan memaksa mereka membuka diri satu sama lain. Di sini mereka saling belajar mengelola konflik, mengatur waktu, membuat rencana dan sebagainya. Leadership muncul, kemampuan mengeksekusi terbangun, dan sebagainya terkait non-skil mereka. Sekali lagi, non-skil," tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, Kantor karir (career office) Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Beppu, Jepang, menempatkan para pelajar Indonesia sebagai pelajar paling diincar perusahaan-perusahaan multinasional Jepang. Kemampuan bahasa Jepang dan Inggris para pelajar Indonesia dinilai sangat baik, sebaik kemampuan studi di bidangnya masing-masing

Thursday, June 19, 2014

62 Persen Tenaga Kerja Manufaktur Indonesia Lulusan SMP

Menteri Perindustrian, Mohammad Sulaeman Hidayat, menyatakan bahwa 62,6 persen tenaga kerja industri manufaktur pada 2013 adalah lulusan sekolah menengah pertama. Untuk meningkatkan kualitas SDM di dunia industri, Kementerian Perindustrian akan melakukan pelatihan dan pendidikan.  "Dari total 15,73 juta orang tenaga kerja di industri ini, 9,79 juta adalah lulusan SMP," kata dia saat memberi kata sambutan dalam peluncuran buku Tapak Pengembangan Industri Nasional di Jakarta, Kamis, 19 Juni 2014.

Namun, menurut Hidayat, secara keseluruhan jumlah tenaga kerja di sektor industri manufaktur terus mengalami peningkatan. Pada 2012, hanya 15,37 juta orang yang bekerja di industri tersebut, tapi naik menjadi 15,73 juta orang pada tahun berikutnya.

Ada berbagai langkah yang dilakukan Kementerian Perindustrian untuk meningkatkan kualitas SDM. Antara lain fasilitas diklat sistem 3 in 1 yaitu pelatihan, sertifikasi, dan penempatan, pelatihan kewirausahaan, serta pembangunan pusat pendidikan dan pelatihan industri di wilayah pusat pertumbuhan industri.

"Di sisa waktu pemerintahan ini, kami akan terus berupaya agar tenaga kerja Indonesia memiliki daya saing yang tinggi," kata Hidayat. Separuh tenaga kerja di Indonesia berpendidikan sekolah dasar dan di bawahnya. Tenaga kerja di Indonesia berjumlah 109 juta jiwa dan sebanyak 54,2 juta lulusan SD. "Jadi bayangkan rendahnya kualitas tenaga kerja kita," kata Staf Ahli Khusus Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, Sabtu, 15 September 2012. 

Dita mengatakan, tenaga kerja di Indonesia terserap ke tiga tempat, menjadi buruh migran, ke perusahaan, dan sektor informal. Tenaga yang masuk perusahaan atau pabrik mayoritas berpendidikan minimal SMA. Dita menduga, tenaga kerja yang berpendidikan SD atau SMP banyak yang menjadi TKI dan di sektor informal.

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) M. Jumhur Hidayat membenarkan ucapan Dita. Ia mengatakan banyak buruh migran yang minim pendidikan. "Minim pengalaman, tidak profesional," kata Jumhur. Mereka yang menjadi buruh migran adalah orang yang tidak terserap di dunia kerja karena tingkat pendidikan yang rendah.

Berdasarkan data Kemenakertrans pada 2011, 581.081 warga negara Indonesia bekerja ke luar negeri. Jumlah TKI formal yang ditempatkan ke luar negeri mencapai angka 264.756 orang atau 45,56 persen, sedangkan jumlah TKI informal ada sebanyak 316.325 orang atau 54,44 persen.

Adapun berdasarkan data BPS tahun 2011, ada 117 juta angkatan kerja yang terus yang ada di Indonesia. Ada 109 juta yang bekerja. Rinciannya, 41,5 juta tenaga kerja formal dan sisanya 68,2 persen tenaga kerja nonformal.

Monday, May 5, 2014

7,15 juta Penduduk Indonesia Menganggur

Badan Pusat Statistik melaporkan 7,15 juta orang dari 125,3 juta angkatan kerja di Indonesia masih menganggur. Jumlah pengangguran itu menurun dibanding Agustus 2013 yang tercatat 7,41 juta orang.

"Pada Februari 2014, jumlah tingkat pengangguran terbuka sebanyak 7,20 orang. Jumlah penduduk yang bekerja 118,17 juta orang, meningkat dibandingkan Februari 2013 sebanyak 116,4 juta orang," kata Kepala BPS Suryamin dalam konferensi pers di kantornya, Senin, 5 Mei 2014.

Meski jumlah pengangguran masih cukup tinggi, Suryamin mengatakan, jumlah penduduk bekerja hingga Februari 2014 bertambah 1,7 juta orang. "Jadi jumlah pengangguran berkurang sebanyak 50 ribu orang," kata Suryamin.

Menurut dia, dari total jumlah warga yang bekerja, sekitar 37 juta orang di antaranya bekerja tidak penuh (jam kerja kurang dari 35 jam per minggu). Sedangkan pekerja penuh mencapai 81,2 juta orang. Dalam setahun terakhir, pekerja paruh waktu meningkat sebanyak 320 ribu orang (0,87 persen). "Sementara setengah penganggur menurun 3,2 juta orang," Suryamin menuturkan.

Berdasarkan struktur lapangan pekerjaan, BPS mencatat tidak terjadi perubahan. Sektor pertanian, perdagangan, jasa kemasyarakatan, dan industri masih menjadi penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja. "Penyerapan tenaga kerja masih didominasi pekerja berpendidikan rendah (SMP ke bawah), yaitu 76,4 juta orang atau 64,63 persen. Sementara pekerja berpendidikan tinggi (diploma dan universitas) hanya sekitar 12 juta orang.

Jenis Tenaga Kerja Indonesia Yang Siap Hadapi Pasar Bebas

Meski Masyarakat Ekonomi ASEAN sudah di depan mata, namun baru tenaga kerja di sektor jasa pariwisata dan buruh kasar murah yang dianggap paling siap menghadapinya pada 2015. Hal ini berbeda dibandingkan dengan tenaga kerja jasa dari sektor lain, seperti jasa keinsiyuran, arsitektur, keperawatan, praktisi medis, akuntansi, dan tenaga kesehatan.

Berdasarkan data dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, saat ini tenaga kerja sektor pariwisata sudah mempunyai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), lembaga pendidikan, dan latihan serta Lembaga Sertifikasi Profesi.

"Sektor pariwista tak masalah jika sudah menandatanganimutual recognition agreement (MRA)," kata Sumarna Abdurahman Ketua Komite Tetap Sistem Sertifikasi Kompetensi SDM saat dihubungi. Sumarna justru mengkhawatirkan tenaga kerja di sektor medis dan akuntansi. Di sektor ini pemerintah sudah menandatangani MRA, padahal Indonesia belum memiliki lembaga-lembaga sertifikasi dan lembaga pendidikan yang memadai untuk bersaing dengan tenaga-tenaga tersebut. "Pemerintah terlalu besar kepala. Merasa sudah siap dengan tandatangani MRA. Padahal dalam negeri belum siap," kata Sumarna.

Untuk mengatasi ketidaksiapan tenaga kerja di sektor lain, pemerintah sebenarnya bisa mengeluarkan regulasi dalam negeri (domestic regulatory). Tujuannya untuk menghadang kehadiran tenaga kerja asing masuk Indonesia. "Misalnya, tenaga kerja yang masuk harus bisa Bahasa Indonesia. Sekarang, antisipasi semacam itu belum dibuat pemerintah," ujarnya.

Memasuki Masyarakat Ekonomi Asean 2015, negara-negara Asean sepakat membuka kesempatan tenaga-tenaga kerja masuk ke sesama negara anggota. Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, diperkirakan menjadi salah satu tujuan negara yang diminati tenaga kerja saing. Diperkirakan pada 2015, tenaga kerja Indonesia yang akan bekerja di luar negeri 1.518.687 orang, sedangkan Indonesia akan kedatangan tenaga kerja asing 158.485 orang.