Pages - Menu

Showing posts with label konstruksi. Show all posts
Showing posts with label konstruksi. Show all posts

Tuesday, January 21, 2025

Berkat PSN ... WIKA Berhasil Bukukan Penjualan 20,66 Triliun Di Bulan Desember 2024

 PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) berhasil membukukan kontrak baru Rp20,66 triliun hingga Desember 2024. Mayoritas kontrak baru tersebut berasal dari segmen infrastruktur dan gedung yang mencapai 42 persen.

Lalu, sektor industri penunjang konstruksi berkontribusi 32 persen, EPCC (engineering, procurement, construction, and commissioning) sebesar 20 persen, dan properti sebesar 6 persen.

Dikutip dari keterangan pers, Selasa (21/1), hingga akhir 2024, WIKA tengah mengerjakan 75 proyek konstruksi di seluruh Indonesia. Sebanyak 42 proyek di antaranya merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan 8 proyek di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.

Adapun beberapa proyek strategis nasional baru yang diraih WIKA di Desember 2024 antara lain proyek pembangunan Bendungan Tiga Dihaji Paket VI senilai Rp544 miliar dan pekerjaan lanjutan Bendungan Jragung senilai Rp187 miliar.

Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito (BW) menjelaskan seluruh proyek tersebut memiliki skema pembayaran bulanan dengan uang muka, sehingga memungkinkan perusahaan untuk beroperasi secara mandiri serta fokus pada pengelolaan kas yang lebih efisien.

Menurutnya, perolehan proyek-proyek strategis nasional baru tersebut juga turut meningkatkan optimisme dan peran strategis WIKA dalam mendukung Asta Cita pemerintah dan kontribusi WIKA untuk kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik.

"WIKA memiliki dua peran penting dalam mewujudkan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih baik. Sebagai agent of development pemerintah, WIKA melalui pembangunan proyek strategis nasional akan membawa Indonesia mencapai swasembada ekonomi, pangan dan energi," kata Budi Waskito.

"Sebagai Value Creation Company, WIKA melalui proyek EPCC hilirisasi dan industrialisasi akan menciptakan nilai tambah bagi produk dalam negeri," tambahnya.

Pembangunan Bendungan Tiga Dihaji Paket VI

Proyek pembangunan Bendungan Tiga Dihaji Paket VI merupakan bagian integral dari proyek besar untuk mengelola sumber daya air, mengurangi risiko banjir, serta mendukung pasokan air baku dan irigasi Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan.

Bendungan ini dirancang untuk mengendalikan banjir di daerah aliran sungai (DAS) Selabung dan DAS Komering, menyediakan air baku untuk 13 kecamatan, serta mengatur debit Sungai Komering untuk irigasi pertanian.

Selain itu, bendungan ini juga dilengkapi dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang menghasilkan 2x20 MW untuk memenuhi kebutuhan listrik lokal, dan mengurangi ketergantungan pada sumber listrik dari luar daerah. WIKA berkomitmen untuk menerapkan prinsip ESG (environment, social, governance) dalam setiap tahap pengerjaan proyek ini.

Langkah-langkah ramah lingkungan yang dilakukan antara lain penggunaan motor listrik, penerangan solar cell, penghijauan area yang terdampak, serta pengelolaan limbah dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Melalui upaya ini, WIKA mendukung pembangunan berkelanjutan melalui infrastruktur hijau.

"Kami percaya bahwa proyek Bendungan Tiga Dihaji tidak hanya akan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, tetapi juga menjadi contoh nyata dalam menerapkan solusi infrastruktur yang berkelanjutan dan berbasis teknologi ramah lingkungan. Ini sejalan dengan upaya WIKA dalam mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan," kata Budi Waskito.

Wednesday, December 11, 2024

Proyek Jalan Flyover Shangri-La Jakarta Pusat Telah Capai 90,14 Persen

  PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) mencatatkan progres signifikan pada Proyek Flyover Bridge Connecting Shangri-La Hotel & Shangri-La Residences di Jakarta Pusat. Adapun pengerjaan proyek ini telah mencapai progres signifikan sebesar 90,14% hingga November 2024.

Kepala Divisi Corporate Secretary WSBP Fandy Dewanto menyampaikan proyek ini merupakan bagian penting dari upaya pengembangan infrastruktur di kawasan Shangri-La.

WSBP dipercaya untuk membangun jembatan layang yang menjadi penghubung antara Shangri La Hotel dan Shangri-La Residences dengan panjang jalan 90 meter, kecepatan rencana 30 km/jam, serta lebar lajur 3 meter dengan konfigurasi dua lajur.

"Proyek yang dimulai pada Januari 2024 dengan target penyelesaian pada Januari 2025. Dengan progres yang sudah dikerjakan hingga saat ini WSBP optimis dapat menyelesaikan tepat waktu dan tentu dengan tetap menjaga kualitas pekerjaan konstruksi untuk pelanggan kami," ujar Fandy dalam keterangan tertulis.

Hingga saat ini, Fandy mengatakan berbagai pekerjaan utama telah diselesaikan, termasuk pemasangan Bored Pile sebanyak 47 titik, Pile Cap sebanyak 16 buah, Ground Beam sebanyak 7 buah, Kolom sebanyak 26 buah, Beam dengan total volume 208 m³, serta PT Beam (in situ girder) sebanyak 2 buah.

Dengan sistem operasi tertutup dan konstruksi perkerasan berupa composit pavement, proyek ini juga dilengkapi satu unit jembatan yang telah direncanakan secara matang.

Adapun mobilisasi produk yang dilakukan meliputi pengiriman beton menggunakan Truck Mixer, besi dengan Truck Trailer, solar menggunakan truk tangki, serta material alam dengan Dump Truck.

Fandy pun memastikan setiap tahap pengerjaan dilakukan dengan dukungan sumber daya manusia yang andal dan teknologi konstruksi terkini untuk menjaga kualitas dan efisiensi.

Pasalnya, lanjut Fandy, proyek ini tidak hanya memberikan manfaat langsung berupa konektivitas di kawasan Shangri-La, tetapi juga membuka peluang kontrak baru bagi WSBP di masa depan. Salah satu peluang yang diantisipasi adalah pekerjaan Boundary Wall pada sisi utara dan selatan Shangri-La Residences yang rencananya akan dilaksanakan pada tahun 2025.

"Keberhasilan proyek ini menjadi bukti nyata dari kemampuan WSBP dalam mengelola proyek konstruksi yang kompleks dan strategis dari pihak swasta. Proyek ini juga menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat portofolio bisnis WSBP sebagai One Stop Solution di industri beton," tambah Fandy.

Fandy menambah, WSBP terus berupaya menyelesaikan proyek ini tepat waktu dengan tetap menerapkan Tata Kelola Perusahaan yang Baik dan pengelolaan manajemen risiko yang terintegrasi.

WSBP pun berharap dapat terus dipercaya untuk mengerjakan proyek-proyek infrastruktur lainnya, baik dari sektor pemerintah maupun swasta, di dalam dan luar negeri.

Friday, November 15, 2024

7 BUMN Konstruksi Akan Segera Dimerger Karena Selalu Rugi

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan merger tujuh BUMN karya menjadi tiga akan dimulai dengan penggabungan PT Waskita Karya (Persero) Tbk dengan PT Hutama Karya (Persero).

"Kita mulai dulu dengan Waskita jadi anaknya HK (Hutama Karya). Itu dulu aja. Ini modelnya bukan merger tapi dijadikan atas dan bawah gitu," katanya di kantor Kementerian BUMN, Jakarta

Pria yang akrab disapa Tiko itu mengatakan saat ini kondisi Hutama Karya sehat, sehingga diharapkan bisa mendukung Waskita.

"Dengan HK di atas (Waskita) otomatis HK bisa men-support dari sisi cash flow. Sehingga nanti harapannya Waskita bisa mendapatkan cash flow dan project secara lebih berkesinambungan dari project-project yang ada di HK," katanya.

Menteri BUMN Erick Thohir akan melebur BUMN karya menjadi tinggal beberapa saja. BUMN Karya yang dilebur di antaranya PT Waskita Karya Tbk dengan PT Hutama Karya (HK), PT Nindya Karya dengan PT Brantas Abipraya dan PT Adhi Karya Tbk, dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dengan PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP).

Peleburan perusahaan merupakan opsi penyehatan bisnis BUMN di bidang konstruksi. Erick menjelaskan pemegang saham mulai mengklasifikasi ketujuh perusahaan menjadi tiga kelompok dengan tujuan agar bisa fokus pada tugas masing-masing.

Misalnya, Hutama Karya dan Waskita Karya akan fokus pada pembangunan atau pengembangan jalan tol, jalan non-tol, hingga pemukiman komersial (residential commercial).

Sedangkan WIKA dan PTPP fokus pada bisnis pembangunan pelabuhan laut (seaport), bandara, hunian atau perumahan, dan engineering procurement construction (EPC).

"WIKA dan PTPP tidak masuk ke tol road, tapi dia fokus ke seaport dan airport. Tapi tetap ke residential karena masuk ke aset yang tertinggal sebelumnya," lanjut Erick.

Erick pun menambahkan PTPP akan menjadi holding atau induk perusahaan untuk penggabungan bersama WIKA.

Sementara, Adhi Karya dan Nindya Karya difokuskan pada pembangunan rel dan beberapa lini konstruksi lainnya.

Tuesday, November 5, 2024

Daftar BUMN Yang Terus Menerus Rugi dan Akan Ditutup

 Menteri BUMN Erick Thohir mengungkap ada tujuh perusahaan pelat merah yang ternyata masih merugi sampai saat ini.

"Dari 47 BUMN, sekarang 40 BUMN itu sehat, 85 persen. Ada 7 (BUMN rugi) yang memang kita harus benar-benar kerja keras untuk beberapa tahun ke depan," ungkapnya dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta Pusat, Senin (4/11).

BUMN rugi yang pertama adalah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Sang menteri menyebut BUMN ini sebenarnya sudah direstrukturisasi pada 2019, tetapi mengalami musibah kebakaran pabrik utama baru-baru ini.

Kedua, PT Bio Farma (Persero). Perusahaan pelat merah di bidang kesehatan ini merugi imbas banyaknya penugasan pembelian vaksin saat pandemi covid-19 serta kasus fraud di anak usaha, yakni Indofarma.

Ketiga, Erick menyebut PT Wijaya Karya (Persero) Tbk alias WIKA. Erick menegaskan masih berupaya merestrukturisasi BUMN Karya ini, termasuk yang menyangkut WIKA Realty.

Keempat, Waskita Karya yang merugi buntut penurunan jumlah kontrak dan tingginya beban keuangan. Erick mengaku sudah menempuh langkah restrukturisasi untuk BUMN Karya ini.

"Waskita Karya kemarin alhamdulillah sudah tanda tangan restrukturisasi senilai Rp26 triliun dengan 21 kreditur. Wijaya Karya dan Waskita Karya ini kita sedang menunggu surat persetujuan dari bapak menteri PU bagaimana kita bisa konsolidasi dari 7 karya menjadi 3 karya. Sehingga, lebih sehat lagi kondisi (BUMN) karya-karya ini," tuturnya.

Kelima, ada PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Ia mengatakan progres penyehatan BUMN ini berlangsung baik dan hanya tinggal menunggu proses likuidasi.

Keenam, Perum Pembangunan Perumahan Nasional alias Perumnas yang ternyata belum untung. Erick mengaku sudah duduk bersama internal Kementerian BUMN untuk mengubah model bisnis Perumnas di masa mendatang.

"Tidak lagi landed house, tetapi juga mesti bertingkat. Karena dari komposisi lahan di Indonesia ini memang 70 persen laut dan 30 persen tanah. Dengan jumlah penduduk kita yang akan tembus 315 juta, ya tidak mungkin progres perumahan ini terus membangun yang landed house. Artinya, tidak cukup tanahnya," kata Erick.

Sedangkan BUMN merugi yang ketujuh adalah Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI). Ia menceritakan bahwa masa lalu PNRI mendapatkan mandat untuk mencetak seluruh surat-surat negara.

Sementara itu, sekarang PNRI kalah saing dengan pasar yang ada. Erick menegaskan Kementerian BUMN bakal merestrukturisasi PNRI.

Friday, September 13, 2024

Bangun Rumah Akan Kena Pajak 2,4 Persen Tahun 2025

  Pajak Pertambahan Nilai (PPN) membangun rumah sendiri atau tanpa kontraktor bakal naik dari saat ini sebesar 2,2 persen menjadi 2,4 persen mulai tahun depan.

Kenaikan PPN membangun rumah sendiri ini sejalan dengan rencana kenaikan PPN secara umum dari 11 persen menjadi 12 persen mulai 2025 sejalan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP).

"Tarif PPN sebesar 12 persen yang mulai berlaku paling lambat pada 1 Januari 2025," tulis Pasal 7 UU HPP.

Adapun tarif PPN membangun rumah sendiri saat ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 61 Tahun 2022 tentang PPN atas Kegiatan Membangun Sendiri.

Dalam beleid itu, besaran tarif pajak apabila membangun rumah sendiri ditetapkan sebesar 20 persen dari PPN secara umum. Artinya, apabila PPN naik menjadi 12 persen di 2025, maka tarif pajak membangun rumah sendiri jadi 2,4 persen.

"Besaran tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan hasil perkalian 20 persen dengan tarif Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai dikalikan dengan dasar pengenaan pajak," tulis beleid tersebut.

Kegiatan membangun yang dimaksud dalam aturan ini, termasuk perluasan bangunan lama, bukan hanya yang baru. Namun, tak semua dikenakan PPN, hanya yang memenuhi syarat saja, yakni:

1. Konstruksi utamanya terdiri dari kayu, beton, pasangan batu bata atau bahan sejenis, dan/atau baja;

2. Diperuntukkan bagi tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha; dan

3. Luas bangunan yang dibangun paling sedikit 200 meter persegi.

Dengan demikian, bagi masyarakat yang ingin membangun sendiri tapi luasnya di bawa 200 meter persegi, tak perlu khawatir karena tak akan dikenakan PPN.


Monday, February 27, 2017

Laba Astra Internasional Tbk Naik Jadi Rp. 15,2 Triliun Tahun 2016

PT Astra Internasional Tbk (ASII) mencatat pertumbuhan laba 5% di 2016 menjadi Rp 15,2 triliun. Laba ini naik meski omzet turun tipis. Pendapatan bersih konsolidasian Grup turun 2% menjadi Rp 181,1 triliun pada tahun 2016, seiring dengan penurunan pendapatan di segmen alat berat dan pertambangan, serta penurunan kontribusi pendapatan dari Toyota sales operation setelah implementasi model distribusi dua tingkat (two-tiered) yang berlaku efektif sejak awal tahun lalu.

"Kinerja bisnis Grup Astra sepanjang tahun 2016 cukup memuaskan dengan peningkatan kinerja yang stabil di beberapa lini bisnis. Prospek tahun 2017 tampaknya cukup positif dengan perbaikan kondisi ekonomi dan kenaikan harga batu bara," kata Presiden Direktur Astra, Prijono Sugiarto,

Laba Grup Astra masih bisa naik berkat peningkatan kontribusi dari segmen otomotif, alat berat dan pertambangan, agribisnis serta infrastruktur dan logistik. Sebagian peningkatan kontribusi tersebut diimbangi oleh penurunan kontribusi dari segmen jasa keuangan, teknologi informasi dan properti.

Nilai aset bersih per saham tercatat sebesar Rp 2.765 pada 31 Desember 2016, meningkat 10% dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2015. Nilai kas bersih, di luar Grup Jasa Keuangan, mencapai Rp 6,2 triliun pada akhir tahun 2016, dibandingkan nilai kas bersih pada akhir tahun 2015 sebesar Rp 1 triliun. Anak perusahaan Grup Jasa Keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp 47,7 triliun, dibandingkan dengan Rp 44,6 triliun pada akhir tahun 2015.

Dividen final Rp 113 per saham (Buku 2015: Rp 113 per saham) akan diusulkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada April 2017.  Usulan dividen final tersebut bersama dengan dividen interim Rp 55 per saham (Buku 2015: Rp 64 per saham) membuat dividen total pada tahun 2016 menjadi Rp168 per saham (Buku 2015: Rp 177 per saham), yang mencerminkan rasio dividen (payout ratio) sebesar 45% (2015: 50%, atau 45% bila tidak memperhitungkan dampak penurunan nilai properti pertambangan).

Laba bersih Grup Otomotif meningkat 23% menjadi Rp 9,2 triliun, sebagian besar disebabkan suksesnya peluncuran model baru, sehingga turut berdampak positif terhadap marjin laba. Penjualan mobil Astra tumbuh 16% menjadi 591.000 unit, lebih tinggi dari kenaikan penjualan mobil secara nasional yang tumbuh 5% menjadi 1,1 juta unit, sehingga pangsa pasar Astra meningkat dari 50% menjadi 56%. Grup telah meluncurkan 14 model baru dan sembilan model revamped sepanjang tahun 2016.

Penjualan sepeda motor PT Astra Honda Motor (AHM) menurun 2% menjadi 4,4 juta unit, lebih rendah dari penurunan penjualan sepeda motor nasional yang turun sebesar 8% menjadi 5,9 juta unit.  Hal ini menyebabkan pangsa pasar Astra meningkat dari 69% menjadi 74%, dengan dukungan peluncuran tujuh model baru dan delapan model revamped sepanjang tahun 2016.

Laba bersih Astra Otoparts, bisnis komponen Grup, tumbuh 31% menjadi Rp 418 miliar, yang disebabkan oleh kenaikan pendapatan di segmen pasar pabrikan otomotif (Original Equipment Manufacturer/OEM) dan segmen after market, serta peningkatan kontribusi laba bersih dari perusahaan asosiasi.

Laba bersih Grup Jasa Keuangan menurun 78% menjadi Rp 789 miliar pada tahun 2016. Kenaikan kontribusi PT Federal International Finance (FIF), PT Toyota Astra Financial Services (TAF) dan PT Asuransi Astra Buana (Asuransi Astra), diimbangi oleh penurunan kontribusi dari sektor bisnis jasa keuangan lainnya, terutama Bank Permata yang meningkatkan pencadangan atas kredit bermasalahnya secara signifikan, terutama di segmen komersial.

Sektor bisnis pembiayaan konsumen menunjukkan kenaikan total pembiayaan sebesar 21% menjadi Rp 74 triliun, termasuk pembiayaan melalui joint bank financing without recourse. PT Astra Sedaya Finance (ASF) yang fokus pada pembiayaan roda empat mencatat penurunan laba bersih sebesar 4% menjadi Rp 934 miliar akibat menurunnya jumlah unit pembiayaan mobil bekas, sementara pembiayaan roda empat lainnya, yakni TAF mencatat peningkatan laba bersih sebesar 15% menjadi Rp 351 miliar.

FIF yang fokus pada pembiayaan roda dua mencatat kenaikan laba bersih sebesar 20% menjadi Rp1,8 triliun, karena diversifikasi produk pembiayaan. Total pembiayaan yang dikucurkan oleh Grup pembiayaan alat berat meningkat 20% menjadi Rp 4,7 triliun. PT Surya Artha Nusantara Finance (SANF), yang memiliki spesialisasi di pembiayaan alat berat kelas kecil dan menengah, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 26% menjadi Rp 81 miliar.

Bank Permata, yang 44,6% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, mencatat kerugian bersih sebesar Rp 6,5 triliun pada tahun 2016 dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp 247 miliar pada tahun 2015.
Kerugian ini disebabkan oleh kenaikan signifikan jumlah pencadangan atas kredit bermasalah menjadi sebesar Rp12,3 triliun, yang mencerminkan kenaikan rasio gross non-performing loan (NPL) dari 2,7% pada akhir tahun 2015 menjadi 8,8% pada akhir tahun 2016, sementara itu rasio net NPL meningkat dari 1,4% menjadi 2,2%.

Untuk memperkuat struktur permodalannya, rights issue sebesar Rp 3 triliun diharapkan rampung pada paruh pertama 2017, di mana Rp1,5 triliun telah diterima sebagai capital advance dari kedua pemegang saham utama, Astra dan Standard Chartered Bank. Ditambah dengan Rp 5,5 triliun yang diperoleh dari rights issue bulan Juni 2016, maka Bank Permata akan memperoleh tambahan modal sebesar Rp 8,5 triliun.

PT Asuransi Astra Buana, perusahaan asuransi kerugian Grup, mencatat sedikit kenaikan laba bersih menjadi Rp 923 miliar, terutama disebabkan oleh kenaikan pendapatan investasi. Selama tahun 2016, perusahaan asuransi jiwa patungan Grup, PT Astra Aviva Life, berhasil menambah lebih dari 158.000 nasabah asuransi jiwa perorangan dan 133.000 nasabah asuransi program kesejahteraan karyawan, sehingga pada akhir tahun 2016 jumlah nasabah perorangan dan nasabah melalui program kesejahteraan karyawan, masing- masing menjadi 228.000 dan 596.000 nasabah.

Kontribusi laba bersih Grup Alat Berat dan Pertambangan meningkat 30% menjadi Rp 3 triliun pada tahun 2016. Sebagian besar kegiatan bisnis di segmen ini terpengaruh secara negatif dari rendahnya harga batu bara hampir sepanjang tahun, meskipun terjadi perbaikan kondisi pada kuartal terakhir.

PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan kenaikan 30% laba bersih menjadi Rp 5 triliun karena adanya kerugian penurunan nilai properti pertambangan yang mempengaruhi hasil kinerja tahun 2015.  Tanpa memperhitungkan dampak dari hal tersebut, laba bersih sepanjang tahun 2016 menurun 22% dibandingkan tahun sebelumnya. UT mencatat penurunan pendapatan bisnis kontraktor penambangan, yang sebagian besar diakibatkan dari rendahnya harga batu bara hampir sepanjang tahun lalu serta kerugian selisih kurs dari aset berdenominasi dolar AS.

Pada segmen usaha mesin konstruksi, penjualan alat berat Komatsu meningkat 3% menjadi 2.181 unit, sementara pendapatan bersih dari suku cadang dan servis menurun. PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak perusahaan UT di bidang kontraktor penambangan baru bara, mencatat tingkat produksi yang tidak banyak berubah sebesar 109 juta ton serta penurunan kontrak pengupasan lapisan tanah (overburden removal) sebesar 8% menjadi 702 juta bank cubic metres.

Anak perusahaan UT di bidang pertambangan melaporkan peningkatan penjualan batu bara sebesar 48% menjadi 6,8 juta ton. PT Acset Indonusa Tbk, perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, melaporkan laba bersih sebesar Rp 68 miliar sepanjang tahun 2016, lebih tinggi 63% dibandingkan tahun 2015.

Acset mencatatkan penambahan kontrak baru senilai Rp 3,8 triliun sepanjang tahun 2016, dibandingkan dengan Rp 3,1 triliun pada tahun 2015. Untuk mendukung pertumbuhan bisnis, Acset menyelesaikan rights issue pada bulan Juni 2016 dan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 600 miliar.

Laba bersih dari Grup Agribisnis meningkat secara signifikan menjadi Rp1,6 triliun dari Rp 493 miliar. PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL), yang 79,7% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, melaporkan laba bersih sebesar Rp 2 triliun, meningkat dari Rp 619 miliar, yang disebabkan oleh kenaikan harga CPO serta keuntungan dari apresiasi rupiah akibat translasi kewajiban moneter dalam mata uang dolar AS.

Penjualan CPO menurun 3% menjadi 1,0 juta ton, walaupun harga rata-rata CPO meningkat 11% menjadi Rp7.768/kg. Penjualan olein menurun 22% menjadi 320.000 ton.  Untuk memperkuat posisi keuangannya, AAL telah merampungkan rights issue senilai Rp 4 triliun pada bulan Juni 2016. Laba bersih yang meningkat dari unit-unit bisnis Grup Infrastruktur dan Logistik mengakibatkan kenaikan laba bersih dari grup ini sebesar 35% menjadi Rp 263 miliar.

Ruas jalan tol Tangerang-Merak sepanjang 72km, yang dioperasikan oleh PT Marga Mandala Sakti (MMS), dimana 79,3% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatat peningkatan volume kendaraan sebesar 3% menjadi 48 juta kendaraan. Pembangunan konstruksi ruas jalan tol Jombang-Mojokerto sepanjang 41 km, yang seluruhnya dimiliki Perseroan dan telah mulai beroperasi sepanjang 20 km, terus berlanjut. Ruas jalan tol Semarang-Solo sepanjang 73 km, yang 25% sahamnya dimiliki Grup, telah mulai beroperasi sepanjang 23 km.

Pada Januari 2017, Grup menuntaskan akuisisi awal kepemilikan 40% atas PT Baskhara Utama Sedaya (BUS), pemilik 45% saham operator ruas jalan tol Cikopo-Palimanan sepanjang 116 km, dan selanjutnya telah menyetujui untuk mengakuisisi sisa kepemilikan sebesar 60% di BUS.

Berikut dengan kepemilikan 40% dari ruas jalan tol Kunciran-Serpong sepanjang 11 km dan kepemilikan 25% dari ruas jalan tol Serpong-Balaraja sepanjang 30km, di mana keduanya merupakan proyek greeenfield, total kepemilikan jalan tol Grup secara keseluruhan menjadi 343 km. PT PAM Lyonnaise Jaya, perusahaan penyedia air bersih yang melayani wilayah barat Jakarta, mencatat kenaikan penjualan volume air bersih sebesar 1% menjadi 162 juta meter kubik.

Laba bersih PT Serasi Autoraya meningkat 96% menjadi Rp 100 miliar, disebabkan oleh kenaikan marjin kontrak sewa mobil, penjualan kendaraan bekas serta bisnis logistik, meskipun terjadi penurunan sebesar 3% atas jumlah sewa kontrak kendaraan di bisnis rental kendaraan. Laba bersih Grup Teknologi Informasi turun sebesar 4% menjadi Rp1 96 miliar. PT Astra Graphia Tbk, yang 76,9% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 4% menjadi Rp 255 miliar, terutama disebabkan oleh penurunan marjin walaupun terjadi kenaikan pendapatan.

Laba bersih divisi baru Grup Properti sebesar Rp 111 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan Rp 211 miliar yang dihasilkan pada tahun 2015, terutama disebabkan oleh adanya penurunan revaluation gain pada proyek gedung perkantoran grade A Grup, Menara Astra. Konstruksi Anandamaya Residences, proyek residensial eksklusif berlokasi di pusat bisnis Jakarta, yang 60% sahamnya dimiliki oleh Perseroan dan telah terjual 93%, serta Menara Astra, diharapkan rampung pada tahun 2018.

Pada bulan Oktober 2016, PT Astra Land Indonesia, yang kepemilikannya dimiliki masing-masing sebesar 50% oleh Astra dan Hongkong Land, menandatangani perjanjian dengan anak usaha dari PT Modernland Realty Tbk untuk membeli dan membangun secara bersamaan area seluas 67 hektar di Cakung, Jakarta Timur.

Monday, February 20, 2017

Laba Adhi Karya Anjlok 32,4 Persen Sepanjang 2016

PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mencatat kinerja yang kurang cemerlang sepanjang 2016. Laba bersih perusahaan tertekan 32,4 persen jika dibandingkan dengan perolehan laba bersih tahun 2015. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis hari ini, Jumat (17/2), laba bersih Adhi Karya tercatat sebesar Rp313,45 miliar pada 2016, lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar Rp463,68 miliar.

Menurut analis Mandiri Sekuritas Gerry Harlan, perolehan laba bersih ini memiliki porsi 108 persen dari prediksi Mandiri Sekuritas dan 89 persen dari prediksi konsensus. Laba bersih tersebut tergerus disebabkan tumbuhnya beban pokok pendapatan hingga 18,23 persen dari Rp8,41 triliun menjadi Rp9,94 triliun. Hal itu juga diikuti oleh peningkatan jumlah beban usaha menjadi Rp455,97 miliar atau naik 15,29 persen dari Rp395,49 miliar.

Bila dirinci, jumlah beban usaha ini terdiri dari kenaikan penjualan hingga menjadi Rp22,07 miliar, serta beban usaha umum dan administrasi menjadi Rp433,9 miliar. Sementara itu, pendapatan usaha meningkat pada tahun 2016 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pendapatan usaha Adhi Karya naik 17,82 persen menjadi Rp11,06 triliun dari sebelumnya Rp9,38 triliun.

"Peningkatan pendapatan usaha di bawah prediksi kami dan prediksi konsensus," ungkap Gerry dalam risetnya, dikutip Jumat (17/2). Adapun, jumlah aset Adhi Karya juga tercatat mengalami peningkatan sebesar 19,89 persen menjadi Rp16,76 triliun menjadi Rp20,09 triliun. Untuk jumlah liabilitas sendiri meningkat menjadi Rp14,65 triliun atau naik 26,33 persen dari tahun 2015 sebesar Rp11,59 triliun.

Menurut Gerry, Adhi Karya mampu menjaga level utangnya sebesar Rp4,3 triliun sepanjang tahun lalu. Di mana hal tersebut mencerminkan rasio utang terhadap ekuitas atau debt equity to ratio 79 persen, sedangkan pada tahun 2015 sebesar 61 persen.

Namun, jika dilihat kondisi keuangan 2015 lalu, baik laba bersih maupun pendapatan perusahaan berhasil mencatatkan kinerja yang positif. Laba bersih perusahaan pada tahun 2015 berhasil meningkat 40,9 persen menjadi Rp463,68 miliar jika dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar Rp329,07 miliar.

Selain itu, meski tipis, pendapatan usaha Adhi Karya mampu meningkat 8,5 persen menjadi Rp9,38 triliun dari Rp8,65 triliun pada tahun 2014. Kemudian, pertumbuhan jumlah aset pada tahun 2015 bahkan mencapai 60,26 persen dari Rp10,45 triliun pada 2014 menjadi Rp16,76 triliun

Tuesday, November 1, 2016

Laba bersih Waskita Karya Naik Tajam Sebesar 133 Persen

PT Waskita Karya Tbk (WSKT) berhasil mencatat kinerja yang cemerlang pada kuartal III 2016. Laba Waskita tumbuh hingga 133,45 persen menjadi Rp934,51 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp400,29 miliar.

Berdasarkan laporan keuangannya, perusahaan kontraktor pelat merah tersebut membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 88,67 persen dari Rp7,42 triliun menjadi Rp14 triliun. Seiring dengan peningkatan tersebut, beban pokok pendapatan pun otomatis naik menjadi Rp11,58 triliun atau 77,6 persen dari sebelumnya Rp6,52 triliun.

Beban lainnya yang juga ikut naik yakni, beban penjualan dari Rp20,84 miliar menjadi Rp26,79 miliar atau naik 28,55 persen. Kemudian beban umum dan administrasi naik 31,17 persen menjadi Rp331,25 miliar dari sebelumnya Rp252,52 miliar. Perusahaan juga tercatat mengalami rugi kurs sebesar Rp2,24 miliar dari sebelumnya yang memperoleh untung kurs sebesar Rp16,07 miliar. Tak hanya itu, beban keuangan ikut meningkat 180,41 persen menjadi Rp672,89 miliar dari sebelumnya Rp239,96 miliar.

Dengan pencapaian kinerjanya pada kuartal III ini, total aset perusahaan tumbuh menjadi Rp50,28 triliun atau 65,94 persen dari posisi akhir tahun 2015 sebesar Rp30,30 triliun. Nilai liabilitas tumbuh 65,43 persen menjadi Rp34,08 triliun dari Rp20,60 triliun. PT Waskita Karya (Persero) Tbk memberikan pinjaman kepada anak usahanya di bidang pembangunan jalan tol, PT Waskita Toll Road sebesar Rp179 miliar untuk setoran modal dan kegiatan operasional.

Sekretaris Perusahaan Waskita Karya, Susilo Hadi mengatakan, Waskita Toll Road merupakan perusahaan terkendali perseroan dengan kepemilikan saham sebesar 99,99 persen. Transaksi ini merupakan Transaksi Afiliasi sebagaimana diatur di dalam Peraturan Bapepam-LK No.lX.E.1 yang keterbukaan informasinya wajib diumumkan kepada masyarakat.

“Nilai fasilitas pinjaman yang disediakan perseroan bagi Waskita Toll Road adalah sampai dengan sejumlah Rp179,09 miliar dengan besarnya bunga atas fasilitas ini adalah 9,5 persen per tahun dari jumlah utang,” ujarnya dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia.

Ia menjelaskan, fasilitas pinjaman pemegang saham tersebut tersedia untuk masa jangka waktu 12 bulan sejak tanggal perjanjian. Nilai transaksi ini adalah 1,74 persen dari ekuitas perseroan sebesar Rp10,26 triliun per Juni 2016. “Fasilitas tersebut diberikan oleh perseroan kepada Waskita Toll Road untuk kebutuhan setoran modal dan kegiatan operasional pada beberapa anak perusahaannya,” kata Susilo.

Sebelumnya, pada September lalu, Waskita Karya juga telah menggelontorkan pinjaman Rp3,09 triliun kepada Waskita Toll Road untuk melancarkan pembangunan infrastruktur jalan tol. Total pinjaman tersebut dibagi ke beberapa cucu perusahaan Waskita yang merupakan anak usaha dari Waskita Toll Road.

Sampai Juli 2016, nilai kontrak baru yang dikantongi Waskita mencapai Rp45,6 triliun. Angka tersebut mencapai 69,1 persen dari target nilai kontrak baru 2016 sebesar Rp66 triliun. Perusahaan sendiri membutuhkan pembiayaan sebesar Rp100 triliun hingga 2018 untuk membangun sejumlah proyek jalan tol di Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Dengan begitu, total aset Waskita dapat mencapai Rp80 triliun hingga akhir 2018.

“Saya membutuhkan pinjaman baru Rp20 triliun, ekuitas kami baru Rp10 triliun. Lalu sisanya Rp70 triliun kami akan pinjam ke bank,” ucap Direktur Utama Waskita Karya M. Choliq, belum lama ini.

Wednesday, April 27, 2016

Wijaya Karya Bukukan Laba Bersih Rp 631 Miliar Di Tahun 2015

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) meraup laba bersih Rp 631,3 miliar di akhir 2015. Labanya naik 5% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 600 miliar. Seperti dikutip dari laporan kinerja keuangan WIKA, Senin (7/3/2016), penjualan bersih perusahaan pelat merah itu naik dari Rp 12,4 triliun menjadi Rp 13,6 triliun di akhir 2015.

Naiknya penjualan juga diimbangi dengan naiknya beban pokok penjualan yang tercatat Rp 11,9 triliun dari sebelumnya Rp 11 triliun. Setelah omzet dikurangi beban, BUMN Karya itu mencatat laba kotor Rp 1,6 triliun, naik dari sebelumnya Rp 1,4 triliun.

Perusahaan konstruksi pelat merah itu juga mendapat tambahan laba dari pemasukan ventura bersama. Tahun 2015 nilainya Rp 288,4 miliar, lebih rendah dari tahun sebelumnya Rp 269,7 miliar.

Setelah dipotong beban penjualan, pajak, dan lain-lain, WIKA meraup laba Rp 703 miliar di 2015, lebih rendah dari tahun sebelumnya Rp 743,7 miliar. Laba yang diatribusikan kepada kepentingan non pengendali di 2015 lebih rendah dari tahun sebelumnya, sehingga laba komprehensif pemilik entitas induk (laba bersih) bisa naik.

Adhi Karya Bagi Deviden Tunai Rp. 93 Milyar Dari Laba Bersih Rp 463 Milyar

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) membagikan besaran dividen tunai sebesar 20,14% atau sekitar Rp 93,386 miliar. Besaran dividen tersebut diambil dari perolehan laba bersih perseroan tahun buku 2015 sebesar Rp 463,685 miliar. Dividen tersebut setara dengan Rp 26,226 per lembar saham.

Pembagian dividen itu telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Gedung Adhi Karya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (8/4/2016). Sementara sisa dari laba bersih perseroan tahun buku 2015 sebesar 71,86% atau Rp 370 miliar akan digunakan sebagai laba ditahan.

Pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) kali ini juga mengagendakan perubahan direksi, yaitu Kiswodarmawan yang menjabat sebagai Direktur Utama digantikan oleh Budi Harto karena masa jabatannya sudah habis. "Direksi Direktur Utama kami Kiswodarmawan digantikan oleh Budi Harto," terang Komisaris Utama Perseroan Fadjroel Rachman.

Sedikitnya ada 7 agenda dari total 9 agenda yang dibahas pada RUPST kali ini. Poin 7 dan 8 yang masing-masing membahas tentang penetapan saham Seri A Dwiwarna pemerintah Republik Indonesia dan perubahan anggaran dasar perseroan tidak ikut dibahas dalam RUPST tutup buku tahun 2015 kali ini.

"Dari 9 agenda, ada 2 yang tidak kita laksanakan," terang Fadjroel. Corporate Secretary Adhi Karya Ki Syahgolang Permata menambahkan, tidak dibahasnya 2 agenda tersebut karena kurangnya kuota forum untuk menyepakati poin 7 dan 8.

"Karena memang peraturan perundang-undangan menyebutkan bahwa perubahan anggaran dasar memerlukan forum kehadiran 2/3. Tadi 65% harusnya kan 67%," jelas Ki Syahgolang. Oleh karena itu, perseroan akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham yang kedua dalam waktu dekat ini.

"Secepatnya paling lambat 21 hari, paling cepat 10 hari dari RUPS," ujar Ki Syahgolang.

Sunday, December 20, 2015

Adhi Karya Garap Proyek Jembatan Musi Rp 526,31 Miliar

Perusahaan konstruksi pelat merah, PT Adhi Karya (Persero) Tbk memperoleh kontrak baru untuk proyek pembangunan jembatan Musi IV dengan nilai mencapai Rp 526,31 miliar.  Sekretaris Perusahaan Adhi Karya, Ki Syahgolang Permata mengatakan bahwa proyek pembangunan jembatan Musi IV tersebut berasal dari Direktorat Jenderal Bina Marga, Besar Pelaksanaan Jalan Nasional 3, Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Metropolitan Palembang.

“Lingkup pekerjaan adalah drainase, pekerjaan tanah struktur dan lainnya. Waktu pelaksanaan 26 bulan,” tulis Ki Syahgolang dalam keterangan tertulis kepada Bursa Efek Indonesia, Jumat (18/12). Sebelumnya, hingga November 2015 perseroan mampu mencapai kontrak baru Rp 11,1 triliun. Pencapaian realisasi kontrak baru tersebut telah melampaui realisasi perolehan kontrak baru Adhi Karya di sepanjang tahun 2014 yakni sebesar Rp 9,2 triliun. Namun, capaian itu masih jauh dari target kontrak baru 2015 yang mencapai Rp 18,7 triliun.

Hingga November 2015, Adhi Karya telah mengikuti total tender sebanyak Rp 57,4 triliun. Sepanjang bulan November 2015, selain realisasi perolehan kontrak baru sebesar Rp 11,1 triliun, terdapat Rp 856,9 miliar yang sudah pada proses penetapan pemenang, sedangkan Rp 1,9 triliun merupakan penawar terendah.

Realisasi kontrak baru di bulan November 2015 antara lain proyek Gayanti City di Gatot Subroto Jakarta Selatan senilai Rp 354 miliar dan Pembangunan Pengaman Pantai Jakarta Tahap II senilai Rp 137 miliar. Perseroan menyatakan, kontribusi per lini bisnis pada perolehan kontrak baru hingga Oktober 2015 masih didominasi oleh lini bisnis konstruksi sebesar 90,1 persen dan sisanya merupakan lini bisnis lainnya.

Berdasarkan segmentasi sumber dana, realisasi kontrak baru terdiri dari Swasta/lainnya sebanyak 34,7 persen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tercatat 21,9 persen sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Daerah (APBN/APBD) sebesar 43,4 persen. Sementara itu, pada tipe pekerjaan, perolehan kontrak baru terdiri dari pembangunan gedung sebanyak 50,8 persen, jalan dan jembatan 33,6 persen, sedangkan dermaga serta infrastruktur lainnya sebesar 15,6 persen.

Friday, October 16, 2015

Pemerintah Timor Leste Putuskan Kerjasama Dengan Artha Graha Group

Pemerintah Timor Leste hendak memutus kontrak kerja sama dengan Artha Graha Group. Hal ini terkait realisasi pembangunan gedung 23 lantai yang belum dilakukan sejak kontrak dimulai pada 2013. "Kalau tidak segera membangun, kami akan mematikan kontrak," kata Jaime Xavier, Menteri Agraria dan Pertanahan Timor Leste, pada Kamis, 15 Oktober 2015.

Jaime mengatakan, sejak peletakkan batu pertama pada 2014, pihak AGG belum memulai pembangunan. "Kami memberikan peringatan kepada AGG terlebih dahulu, karena sudah lama sekali mereka mau membangun hotel 23 tingkat," katanya. Banyak investor dari dalam negeri maupun luar, menurut Jaime, membutuhkan lahan di Timor Leste untuk membangun bisnis. Untuk itu, pemerintah Timor Leste berniat mengambil kembali lahan yang sebelumnya dibebaskan untuk Artha Graha Group. "Lahan yang sudah dibebaskan ini mau diberikan ke perusahaan lain."

Rencana mengambil alih lahan tersebut juga tak lepas dengan kesepakatan yang tertuang dalam kontrak pemerintah Timor Leste dan Artha Graha Group. "Ada satu pasal, dalam jangka waktu 6 bulan belum ada pembangunan maka pemerintah akan ambil lahan tersebut," kata Jaime. Saat ini, kata Jaime, surat peringatan belum diberikan karena harus konsultasi dengan Menteri Pembangunan. "Sementara ini masih proses karena kami lihat dulu berkasnya."

Perwakilan Permata Kusuma Jaya Lda, Victor Fong, mengatakan proses pembangunan gedung tertinggi di Timor Leste menghadapi beberapa kendala. Akibatnya, proyek gedung ini belum bisa direalisasi. “Untuk membangun gedung yang begitu mewah dan tertinggi dibutuhkan proses yang terkait dengan sejumlah kementerian dan proses investasi. Jadi, tidak hanya terkait dengan satu kementerian,” ujar Victor.

Victor, yang merupakan perwakilan dari investor (Artha Graha Group) pembangunan gedung tersebut, menyampaikan hal ini sebagai respons atas pernyataan pemerintah Timor Leste melalui Menteri Agraria dan Pertanahan Jaime Xavier. Xavier mengatakan hendak memutus kontrak kerja dengan Artha Graha Group. Hal ini terkait dengan realisasi pembangunan gedung 23 lantai yang belum dilakukan sejak kontrak dimulai pada 2013. "Kalau tidak segera membangun, kami akan mematikan kontrak," kata Xavier.

Menurut dia, salah satu kendalanya adalah negosisasi dengan pemerintah Timor Leste. Pihaknya sedang dalam proses negosiasi Special Investment Agreement (SIA) dengan pemerintah yang melibatkan sejumlah kementerian sehingga memang membutuhkan waktu. “Pararel dengan itu, kami terus menyiapkan kerja sama investasinya,” tuturnya.

Ia mengatakan pihaknya melakukan investasi di Timor Leste adalah sebagai wujud kerja sama dan persahabatan di antara kedua negara yang telah dibicarakan oleh masing-masing kepala negara. Victor menambahkan, “Investasi ini semoga menjadi lambang persahabatan yang baik antara Indonesia dan Timor Leste.”

Tuesday, October 13, 2015

Agung Podomoro Bangun 25 Tower dan 36.000 Unit Rusun Di Depok

Pengembang PT Agung Podomoro Land (APLN) berencana membangun 25 tower rumah susun sederhana milik (Rusunami) di Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Rusunami ini akan menjadi yang terbesar di Indonesia dengan jumlah 36.000 unit. Hal tersebut disampaikan Direktur Utama ‎APLN Ariesman Widjaja saat menyambangi kantor Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Jakarta, Kamis (8/10/2015).

"Mereka menyampaikan akan membangun rumah susun sederhana milik (Rusunami) di kawasan Cimanggis. Ada 25 tower yang akan dibangun terdiri dari 36.000 un‎it. Ini akan menjadi yang terbesar di Indonesia," ujar Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR, Maurin Sitorus usai pertemuan tersebut.

Sebanyak 36.000 unit rusunami tersebut, akan menjadi bagian dalam program sejuta rumah yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam kunjungan ke kantor PU, Dirut APLN sempat menyampaikan bahwa mega proyek tersebut siap dibangun tahun ini. "Mereka (APLN) sudah menyelesaikan IMB (Izin Mendirikan Bangunan), AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan) dan persyaratan-persyaratan yang lain. Jadi sudah siap bangun. Nanti akan diresmikan Pak Jokowi rencananya saat Groundbreaking. Waktunya sedang dicari," ujar Maurin.

Rusunami ini akan menyasar Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Sesuai Peraturan Menteri Keuangan, maka kategori masyarakat MBR untuk rusunami adalah mereka yang memiliki penghasilan maksimal Rp 7 juta per bulan dengan skema subsidi bunga KPR atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Sayang Maurin belum bisa mengungkapkan harga jual unit Rusunami tersebut. "Belum sampai ke situ (harga rusunami) pembicaraannya. Nanti akan disampaikan lebih lanjut," katanya. Meski menyasar MBR, rusu‎nami ini punya fasilitas yang cukup menarik seperti akses transportasi yang mudah. "Lokasinya dekat dengan lapangan golf yang ada di Cimanggis. Dekat dengan eksit tol Cimanggis dan bisa akses eksit tol Gunung Putri juga. Kemudian lokasinya akan dilewati LRT juga. Jadi fasilitasnya sangat mendukung," paparnya.

Sunday, August 2, 2015

Adhi Karya Tbk Bukukan Laba Rp. 70,72 Milyar Pada Semester 1 2015

BUMN konstruksi, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatatkan laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif konsolidasian tidak diaudit (non audited) untuk periode 6 bulan yang berakhir 30 Juni 2015 dan 2014. ADHI membukukan laba bersih sebesar Rp 70,72 miliar di semester I-2015, naik sekitar 17,252% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 60,54 miliar.

Naiknya laba perseroan ini ditopang oleh naiknya pendapatan usaha ADHI dalam 6 bulan pertama 2015 sebesar Rp 3,212 triliun atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,192 triliun.

Naiknya pendapatan dan laba perseroan ini karena perseroan mampu menekan beban pokok pendapatan di semester I-2015 sebesar Rp 2,887 triliun atau lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,922 triliun. Sehingga laba kotor perseroan naik dari Rp 270,125 miliar di semester I-2014 menjadi Rp 324,898 miliar di semester I-2015.

Meskipun pendapatan bunga tercatat turun dari Rp 19,462 triliun di semester I-2014 menjadi hanya Rp 10,303 triliun di semester I-2015, namun perseroan terbantu dari laba penjualan aset tetap yang naik menjadi Rp 128,572 miliar di semester I-2015 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 22,661 miliar.

Hal itu membuat laba usaha perseroan naik dari Rp 203,778 miliar di semester I-2014 menjadi Rp 229,444 miliar di semester I-2015. Laba per saham juga ikut naik dari Rp 33,26 menjadi Rp 39,10 per saham di semester I-2015.

Thursday, July 30, 2015

Nasfu Besar Tenaga Kurang ... Wijaya Karya Bingung Cari Modal Untuk Garap Proyek Kereta Cepat

Perusahaan konstruksi pelat merah, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) memperoleh restu pemegang saham untuk ikut andil dalam menggarap proyek kereta cepat (high speed railway/HSR) rute Jakarta-Bandung yang sempat digadang membutuhkan dana investasi hingga Rp 50 triliun. Perseroan berencana mencari dana melalui penerbitan saham baru maupun surat utang untuk membiayai proyek tersebut.

Direktur Utama Wijaya Karya Bintang Perbowo menyatakan pemegang saham yang mayoritas dimiliki pemerintah merestui rencana perseroan untuk terjun ke proyek tersebut. Namun untuk detailnya, ia menyatakan belum bisa memberikan informasi lebih lanjut.

“Terkait HSR, intinya kami hanya menyiapkan dulu, dan bahwa bidang usaha kami punya sarana dan prasarana perkeretaapian. Kemudian berdasarkan aturan KAI juga sudah sesuai,” ujarnya, usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di gedung WIKA, Jakarta, Kamis (30/7).

Ada perusahaan Jepang dan China menyatakan berminat berinvestasi dalam proyek tersebut. Bintang mengatakan belum tahu mana yang akan diterima oleh pemerintah. Adapun WIKA sendiri lebih fokus pada persiapan.  “Sebulan diharapkan bisa rampung persiapannya dan segera dilakukan, kemudian akhir tahun sudah mulai berjalan pengerjaannya. Nanti akan membentuk anak usaha baru, tapi tergantung pemerintah penunjukannya kapan dan berapa belanja modal yang dibutuhkan,” ujarnya.

Bintang menjelaskan, pihaknya belum mengetahui kapan groundbreaking perusahaan tersebut akan digelar. Ia menambahkan, pihaknya juga belum tahu apakah kedua investor asing tersebut sudah menyerahkan hasil Feasibility Study kepada pemerintah. “Kami tidak ikut Feasibility Study. Yang bikin investor Jepang dan China. Nanti baru dibandingkan apple to apple oleh pemerintah, mana yang paling baik,” katanya.

Direktur Keuangan Wijaya Karya Aji Firmantoro mengatakan beberapa opsi pendanaan masih dikaji. Beberapa opsi itu antara lain penerbitan saham baru (right issue) atau obligasi yang juga mengkaji hasil Penyertaan Modal Negara (PMN) pada 2016. “Kemarin kan sudah terbitkan obligasi MTN. Kalau PMN jadi dilaksanakan 2016 sepertinya kami akan menggunakan right issue. Tapi kami juga akan menerbitkan obligasi yang sedang kami jajaki, apakah global atau domestik. Akan kami pelajari dulu,” kata Aji.

Aji menyatakan WIKA ingin memperoleh PMN di kisaran Rp 5 triliun sampai Rp 7,2 triliun. “Obligasi kalau dengan right issue tentunya akan besar ya. Tapi kalau right issue tetapi belum ada PMN, ya minimal Rp 1 triliun right issue-nya. Obligasi dan right tahun depan, karena kebutuhan belanja modal kita yang besar tahun depan,” ujarnya.

Adapun belanja modal yang dibutuhkan masih dievaluasi. Namun diyakini dana yang dibutuhkan akan besar sekali, bisa lebih dari Rp 25 triliun. Sebagai persiapan, tahun ini dipersiapkan Rp 2 triliun dan tahun depan Rp 3-4 triliun.  Terkait besaran dana proyek HSR yang dibutuhkan, Aji bilang masih dikaji. Angka kisaran investasi Rp 50 triliun adalah besaran hasil Feasibility Study sementara dari pihak Jepang. Itu belum final. “Kalau konsorsium harapannya Indonesia 60 persen dan asing 40 persen. Konsorsium Indonesia nanti terdiri dari beberapa BUMN,” ucap Aji.

Sementara itu, WIKA bersama dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, telah melakukan penandatanganan perjanian pembangunan pelaksanaan paket pekerjaan paket A proyek rel kereta api Manggarai ke Jatinegara.  Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya, Suradi mengatakan bahwa perseroan dinyatakan sebagai pemenang pelelangan pelaksanaan paket pekerjaan Paket A “Pekerjaan Jalan Rel” sesuai dengan surat penunjukan penetapan pemenang oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia No. PL.405/4/14 Phb 2015, pada tanggal 24 Juni 2015.

“Rencananya proyek ini akan mencapai nilai Rp 363,26 miliar dan pelaksanaannya akan memakan waktu selama 886 hari kalender atau hingga 31 Desember 2017,” katanya. Adapun lingkup utama pekerjaan pada proyek ini adalah pekerjaan platform (stasiun Manggarai, Matraman, dan Jatinegara), pekerjaan jalan rel seperti supply, penghamparan dan pemadatan ballast, kemudian supply dan pemasangan sleeper, serta supply dan pemasangan rel termasuk turn out dan scissor crosing.

Maxi Liesyaputra, analis KBD Daewoo Securities Indonesia mengatakan, untuk dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerintah sangat perlu untuk terus meningkatkan pembangunan infrastruktur karena tingkat penyediaan infrastruktur di Indonesia masih rendah, bahkan bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN.

“Potensi peningkatan pembangunan infrastruktur akan memberikan dampak positif terhadap beberapa BUMN konstruksi seperti Wijaya Karya (WIKA),” ujarnya dalam riset, belum lama ini.

Laba Jasa Marga Turun Rp 141,5 Miliar Pada Semester 1 2015

Operator jalan tol PT Jasa Marga (Persero) Tbk, mencetak laba bersih Rp 670,03 miliar pada semester I 2015, turun 17,44 persen dari perolehan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 811,59 miliar. Pelemahan kinerja tersebut disebabkan melonjaknya beban akibat aktivitas investasi dan pelemahan bisnis konstruksi.

Sekretaris Perusahaan Jasa Marga Mohammad Sofyan menyatakan pada semester I 2015, perseroan membukukan pendapatan usaha di luar pendapatan konstruksi sebesar Rp 3,63 triliun. Pendapatan usaha ini merupakan kontribusi dari pendapatan tol sebesar Rp 3,41 triliun dan pendapatan usaha lain Rp 229,13 miliar.

“Khusus pendapatan tol tumbuh 7,4 persen dari periode yang sama tahun lalu. Merefleksikan pertumbuhan volume lalu lintas transaksi pada semester I 2015. Sementara semester I 2014 volume lalu lintas transaksi adalah sebesar 639,30 juta transaksi meningkat menjadi 666,67 juta transaksi pada semester I 2015 atau tumbuh 4,3 persen,” ujar Sofyan dalam keterangan resmi, Kamis (30/7).

Ia menyatakan, peningkatan volume lalu lintas transaksi ini memberikan keyakinan bagi Jasa Marga untuk dapat mencapai target pertumbuhan volume lalu lintas transaksi sampai akhir 2015 sebesar 4,5 persen di tengah perlambatan ekonomi serta penurunan penjualan kendaraan.  Meskipun jumlah kendaraan yang melintasi pintu tol Jasa Marga bertambah, namun pendapatan konstruksi Jasa Marga justru turun drastis akibat ekspansi bidang konstruksi yang rendah.

“Mengingat sebagian besar aktivitas konstruksi ruas-ruas baru yang akan dioperasikan tahun ini telah terlaksana pada tahun lalu, maka pendapatan konstruksi pada semester I 2015 sejumlah Rp 455,22 miliar terlihat lebih rendah dari semester I 2014 sejumlah Rp 1,05 triliun,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan dengan adanya aktivitas investasi dan penambahan panjang jalan tol operasi sebesar 22 kilometer (km) pada 2014, maka beban usaha (di luar beban konstruksi) meningkat sebesar 14,0 persen. Aktivitas investasi ini, lanjutnya, tercermin pada peningkatan beban depresiasi dan amortisasi sebesar 18,3 persen yaitu dari Rp 395,01 miliar menjadi Rp 467,25 miliar.

“Dengan beroperasinya 22 km jalan tol baru pada tahun 2014, berdampak pada meningkatnya beban keuangan sebesar 19,5 persen yaitu dari Rp 557,00 miliar menjadi Rp 665,43 miliar,” tambahnya. Di sisi lain, ia menyatakan bahwa pada semester I 2015, aset Jasa Marga meningkat menjadi Rp 32,67 triliun yang ditopang oleh realisasi belanja modal pada semester I 2015 sebesar Rp 1,24 triliun.

Dari sisi konsesi, Sofyan menyatakan dengan diakusisinya Ruas Tol Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono, dan Cinere-Serpong sepanjang 187 km, maka sampai dengan semester I tahun 2015 Perseroan telah memiliki konsesi sepanjang lebih kurang 1.000 km. Sepanjang tahun ini sendiri, perseroan telah mengoperasikan Ruas Jalan Tol Gempol-Pandaan sepanjang 13,6 km pada Juni 2015.

“Selanjutnya perseroan menargetkan pengoperasian dua ruas tol baru di Jawa Timur (Ruas Gempol-Pasuruan Seksi Gempol-Rembang dan Ruas Surabaya-Mojokerto Seksi Krian-Mojokerto) sehingga total keseluruhan penambahan panjang jalan tol operasi pada akhir tahun 2015 adalah sekitar 46 km,” jelasnya. Analis CIMB Securities Patricia Sumampouw mengatakan instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar seluruh operator jalan tol memberikan diskon sampai 35 persen mulai 7-22 Juli 2015 telah diikuti oleh Jasa Marga.

Pemerintah menurut Patricia menyatakan hal ini dapat meringankan kemacetan 40 persen di non jalan tol sehingga operator tol tidak akan terpengaruh negatif secara financial karena akan ada peningkatan penggunaan jalan tol meskipun tarifnya turun. “Di kalkulasi CIMB, earnings bisa kena dampak 3,2 persen, kurang lebih dengan asumsi tidak ada penambahan traffic selama periode diskon,” ujarnya dalam riset, belum lama ini.

Patricia melihat risiko intervensi Pemerintah di fee tol cukup rendah seiring tarif tol Indonesia rendah, dan adanya major proyek tol yang Pemerintah berjanji dengan menggandeng sektor privat. “Intervensi di penyesuaian tarif akan menurunkan target ambisius ini,” jelasnya. PT Jasa Marga Tbk menghabiskan dana Rp 110 miliar untuk membeli 1,37 juta saham milik PT Thiess Contractors Indonesia di PT Cinere Serpong Jaya (CSJ). Pasca transaksi tersebut, Jasa Marga menjadi pemegang saham mayoritas CSJ yang memiliki konsesi jalan tol Cinere-Serpong dengan kepemilikan sebesar 55 persen.

David Wijayanto, Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya menjelaskan nilai transaksi pengambilalihan saham tersebut bernilai 0,96 persen dari total nilai ekuitas perusahaan sesuai laporan keuangan 2014 yang telah di audit. "Setelah akuisisi tersebut, komposisi pemegang saham CSJ adalah Jasa Marga 55 persen, Waskita Toll Road 34,99 persen, Jakarta Propertindo 9,99 persen, dan Waskita Karya 0,00004 persen," ujar David dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu (1/7).

Sebelumnya, CSJ hanya dimiliki oleh Thiess yang menguasai 80 persen saham dan Waskita Karya pemilik 20 persen saham.

Friday, July 24, 2015

BNI Kucurkan Rp 1,5 Triliun Biayai Pabrik Semen

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mengucurkan Rp 1,5 triliun dalam sindikasi pembiayaan pembangunan pabrik semen baru di Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah bersama tiga bank lainnya. Sindikasi ini membiayai Rp 2,33 triliun atau 70 persen dari nilai investasi pembangunan pabrik semen yang mencapai Rp 3,34 triliun, adapun 30 persen dari nilai investasinya akan dibiayai sendiri oleh pemilik pabrik semen, yaitu PT Sinar Tambang Arthalestari (STAR).

BNI mengucurkan porsi terbesar dibandingkan tiga bank anggota sindikasi lain, yaitu 64,4 persen dari nilai pembiayaan sindikasi. Bank-bank lain yang tergabung dalam sindikasi pembiayaan Pabrik Semen ini adalah Bank Panin, Bank Jateng, dan Bank DIY yang masing-masing berkontribusi pada pembiayaan tersebut pada kisaran 3 persen hingga 21 persen.

Senior Executive Vice President Bisnis Risk BNI Abdullah Firman Wibowo mengungkapkan, pembiayaan ini menunjukkan dukungan BNI terhadap program pemerintah guna mempercepat pembangunan infrastruktur di Indonesia.

“Untuk itu, BNI juga memberikan fasilitas kredit modal kerja (KMK) pada PT STAR senilai Rp 185 miliar, yang merupakan dukungan pembiayaan tambahan selain pembiayaan melalui sindikasi dan diberikan secara bilateral,” ungkapnya dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (30/5).

Adapun pabrik semen yang menempati area seluas 34 hektar ini memiliki kapasitas produksi sebesar 5.000 ton clinker per hari atau lebih dari 2 juta ton semen per tahun. Pada tanggal 17 April 2015, PT STAR telah mulai melakukan tes pasar dengan melakukan penjualan semen secara komersial.

Sekadar informasi, per 31 Maret 2015 BNI memiliki 1.772 outlet yang tersebar di 34 provinsi dan 420 kabupaten/kota. BNI juga memiliki 24 Sentra Kredit Menengah (SKM), 58 Sentra Kredit Kecil (SKC), 111 Unit Kredit Kecil (UKC), dan 12 Consumer & Retail Loan Center (LNC).

BNI memiliki 14.082 ATM yang tersebar di 34 provinsi dan 420 kabupaten/kota termasuk 6 (enam) ATM di luar negeri, yaitu 4 ATM di Hong Kong dan 2 ATM di Singapura. Jaringan ATM itu diperkuat juga oleh 49.933 ATM LINK, 70.825 ATM Bersama, serta 82.095 jaringan ATM Prima

Sunday, April 12, 2015

PT Adhi Karya Tbk. Menangkan Kontrak Sebesar Rp 2,5 triliun

Perusahaan konstruksi pelat merah, PT Adhi Karya (Persero) Tbk. meraih kontrak baru sebesar Rp 2,5 triliun hingga Maret 2015. Perseroan menargetkan mampu meraup Rp 15,2 triliun pada sepanjang tahun ini. Corporate Secretary Adhi Karya, Ki Syahgolang Permata mengatakan realisasi kontrak baru tersebut diraih melalui beberapa proyek yang mayoritas terbagi atas proyek-proyek dari lini bisnis kontruksi sebesar 89 persen.

“Yakni antara lain proyek jalan tol BPP-SMD paket I section 3 sebesar Rp288,8 miliar, proyek kawasan industri Bintoro Sayung sebesar Rp 100 miliar, proyek pembangunan PTTU Banjarmasin Facility sebesar Rp 86,8 miliar, dan sebanyak sembilan persen merupakan proyek-proyek dari lini bisnisnya," kata Ki Syahgolang Permata, seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Sabtu (11/4).

Lebih lanjut, untuk kategori sumber dana, lanjut Ki Syahgolang, realisasi kontrak baru dominan terdiri dari swasta atau lainnya sebanyak 56 persen, APBN/APBD sebesar 28 persen, dan sisanya 16 persen dihasilkan dari BUMN.

Untuk diketahui, pada 2015, perseroan menargetkan perolehan kontrak baru sebesar Rp 15,2 triliun. Dari jumlah itu, bisnis jasa konstruksi ditargetkan meraih perolehan kontrak baru sebesar Rp 12,5 triliun, lini bisnis EPC sebesar Rp 460,1 miliar, pada lini bisnis Properti Realti sebesar Rp 1,7 triliun, serta lini bisnis precast concrete Rp 479,6 miliar.

Laba bersih Adhi Karya anjlok 20,2 persen pada tahun lalu, dari Rp 405,9 miliar pada 2013 menjadi Rp 324,1 miliar. Kinerja negatif perseroan berdampak pada berkurangnya pembagian dividen ke para pemegang saham sebesar 46,9 persen, dari Rp 12,7 miliar menjadi Rp 64,8 miliar.

Rinciannya, laba bersih tersebut disumbang dari lini bisnis jasa konstruksi dan EPC sebesar Rp 185,8 miliar, bisnis realti Rp 27,4 miliar, properti Rp 185,1 miliar dan investasi infrastruktur melalui manufaktur precast Rp 8,1 miliar.

Perseroan akan mengembangkan moda transportasi Light Rail Transit (LRT) guna membantu mengurai kemacetan di Jakarta. Konsep trem kota ini telah diusulkan perseroan kepada pemerintah selaku pemegang saham mayoritas menyusul pembatalan rencana pembangunan monorail.

"Saat ini proposal sedang kami proses, kami ajukan kepada pemerintah dan nanti harapannya dibuatkan perpres (peraturan presiden) penugasan karena ini (akan) mempercepat (kerja) kami," kata Direktur Utama Adhi Kiswodarmawan dalam konferensi pers di kantornya

Perusahaan konstruksi pelat merah PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) memperoleh kontrak baru senilai Rp 1,3 triliun hingga akhir Februari 2015 dari target perolehan kontrak baru sepanjang tahun ini sebesar Rp 15,2 triliun. Artinya perseroan baru mengumpulkan 8,55 persen dari target 2015 secara keseluruhan.

Ki Syahgolang Permata, Sekretaris Perusahaan Adhi Karya menyatakan realisasi kontrak baru tersebut berasal dari beberapa proyek yang mayoritas berupa proyek gedung sebesar 77 persen. Adhi Karya mengantongi proyek tersebut melalui anak perusahaannya, PT Adhi Persada Gedung.

“Ada proyek Apartemen BKTum, Bekasi Barat senilai Rp 437,1 miliar, Proyek Apartemen Centro Bogor senilai Rp 204,5 miliar. Kemudian sebanyak 10 persen merupakan proyek jalan dan jembatan, serta sisanya adalah proyek infrastruktur lainnya sebesar 13 persen,” jelasnya melalui keterangan resmi, dikutip Rabu (11/3).

Dilihat dari kategori sumber dana, realisasi kontrak baru dominan berasal dari perusahaan swasta sebanyak 64 persen. Sementara dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar 18 persen, kemudian proyek pemerintah yang menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah (APBN/APBD) tercatat sebanyak 18 persen.

“Sedangkan dari sisi lini bisnis, di awal 2015 ini, jasa konstruksi dan EPC masih mendominasi kontribusi perolehan kontrak baru tersebut sebesar 96 persen, dan sisanya merupakan lini bisnis lainnya,” jelas Ki Syahgolang.

Seperti telah disinggung diatas, sepanjang 2015 ini Adhi Karya memasang target perolehan kontrak baru sebesar Rp 15,2 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari lini bisnis jasa konstruksi yang ditargetkan meraih perolehan kontrak baru sebesar Rp 12,5 triliun, lini bisnis EPC sebesar Rp 460,1 miliar, lini bisnis properti realti sebesar Rp 1,7 triliun, dan lini bisnis precast concrete Rp 479,6 miliar. “Sedangkan dari jenis pekerjaan, proyek gedung diperkirakan sebanyak 39 persen, jalan dan jembatan sebesar 31 persen dan sisanya adalah proyek infrastruktur lainnya,” katanya.

Manajemen telah memasang target total pendapatan usaha di 2015 sebesar Rp 13,2 triliun, dan laba bersih di 2015 ditargetkan sebesar Rp 440,1 miliar. Dari total perolehan laba bersih yang direncanakan tersebut, anak perusahaan yang dominan memberikan kontribusi adalah PT Adhi Persada Properti dan PT Adhi Persada Realti sebesar 66,6 persen melalui pengembangan bisnis properti realti.

Sementara belanja modal Adhi Karya pada 2015 direncanakan sebesar Rp 824,7 miliar yang terdiri atas investasi pengembangan bisnis properti realti hotel sebesar Rp 566,1 miliar, penyertaan proyek investasi sebesar Rp 202,8 miliar dan pembelian aset tetap sebesar Rp 68,387 miliar. “Sumber dana belanja modal tersebut berasal dari sisa dana hasil penerbitan obligasi yang lalu dan kredit perbankan serta kas internal perseroan,” jelas Ki Syahgolang

Tuesday, April 7, 2015

BUMN China Beli Perusahaan Konstruksi Terbesar Australia Senilai Rp. 11 Triliun

John Holland Group, salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Australia dijual kepada BUMN asal China, yaitu China Communications Construction Company (CCCC).  Pemerintah Australia telah menyetujui penjualan tersebut, dengan harga yang telah disepakati sejak tahun lalu, yaitu AUD 1,15 miliar (US$ 879 juta) atau sekitar Rp 11 triliun.

CCCC merupakan perusahaan konstruksi terbesar keempat di dunia. Sementara pemerintah Australia menyambut investasi asing, selama tidak mengganggu kepentingan nasional. "Investasi asing membantu Australia membangun ekonominya, dan akan terus mendukung kesejahteraan warga," kata bendaharawan negara di Australia, Joe Hockey dilansir dari BBC, Rabu (8/4/2015).

John Holland telah beroperasi selama 60 tahun di Australia, dan mempekerjakan lebih dari 5.600 pegawai di 8 negara. Proyek yang sedang digarap John Holland saat ini beragam, mulai dari rel kereta di New South Wales dan Victoria, Australia. Ada juga proyek pembangunan penjara di Melbourne, serta rumah sakit anak di Perth dengan nilai miliaran dolar.

Sementara CCCC saat ini beroperasi di lebih dari 80 negara. Pada 2009 lalu, Bank Dunia menyatakan, CCCC telah berbuat curang untuk memenangi proyek jalan di Filipina. Karena itu, CCCC tidak diperbolehkan untuk mengerjakan proyek jalan yang didanai oleh Bank Dunia hingga 2017.

Namun sejumlah pihak di Australia menganggap pembelian ini strategis, karena John Holland tengah kesulitan keuangan, sejak dibeli oleh Leighton Holding pada 2000 lalu.

Saturday, March 21, 2015

Hironimus Hilapok Anggota Tim Sukses Presiden Jokowi Jadi Komisaris PT Adhi Karya Tbk

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) merombak jajaran dewan komisaris PT Adhi Karya Tbk, dengan memasukkan tiga nama baru. Hironimus Hilapok, Anggota Pokja Papua Tim Transisi Jokowi-JK, merupakan salah satu tokoh yang ditunjuk sebagai komisaris independen BUMN konstruksi itu.

"RUPS telah memutuskan untuk mengubah kepengurusan perseroan," ujar singkat Direktur Utama Adhi Karya Kiswodarmawan usai RUPS di Jakarta, Jumat (20/3).  Berdasarkan siaran pers Adhi Karya, struktur dewan direksi tidak mengalami perubahan. Sementara untuk jajaran dewan komisaris, terdapat tiga nama baru yakni Wicipto Setiadi, Rildo Ananda Anwar, dan Hironimus Hilapok.

Berdasarkan riset, Wicipto Setiadi saat ini tercatat sebagai Direktur Jenderal Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum dan HAM. Sementara itu, Rildo Ananda Anwar saat ini masih menjabat sebagai Sekretaris Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Nama terakhir, Hironimus Hilapok, merupakan tokoh masyarakat Papua yang aktif ketika masa kampanye pemilihan presiden berlangsung pada tahun lalu. Dia pernah tercatat sebagai Anggota Kelompok Kerja Papua di Tim Transisi Joko Widodo- Jusuf Kalla.  Ketiga tokoh baru tersebut secara otomatis melengserkan tiga komisaris Adhi Karya sebelumnya, yakni Suroyo Alimoeso, A Gani Ghazali Akman, dan Murhadi.

Berikut jajaran Dewan Komisaris Adhi Karya yang baru:
  • Komisaris Utama: Imam Santoso Ernawi
  • Komisaris: Bobby A.A. Nazief
  • Komisaris : Wicipto Setiadi
  • Komisaris: Rildo Ananda Anwar
  • Komisaris Independen: Muchlis R. Luddin
  • Komisaris Independen: Hironimus Hilapok

Adapun jajaran Dewan Direksi Adhi Karya tetap sebagai berikut:
  • Direktur Utama : Kiswodarmawan
  • Direktur : Supardi
  • Direktur : BEP Adji Satmoko Direktur
  • Direktur : Djoko Prabowo
  • Direktur : Giri Sudaryono
  • Direktur : Pundjung Setya Brata