Pages - Menu

Showing posts with label pertambangan. Show all posts
Showing posts with label pertambangan. Show all posts

Friday, April 11, 2025

Krakatau Steel Mengaku Tidak Terpengaruh Tarif Perang Dagang Amerika Serikat

Krakatau Steel mengaku tak ambil pusing dan gentar dengan tarif resiprokal sebesar 32 persen oleh Presiden Donald Trump kepada Indonesia. Sebab, Amerika Serikat (AS) bukan pasar ekspor utama perseroan.

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Muhamad Akbar mengatakan kontribusi ekspor baja ke Negeri Paman Sam terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hanya sekitar 18 persen.

"Kita jangan melihat terlalu jauh kebijakan Trump ini akan melulu-lantakan industri baja nasional. Kontribusi PDB total kan tidak lebih daripada 18 persen ke US, sisanya itu masih worldwide," ujar Akbar dalam Media Gathering di Kantornya, Jumat (11/4).

Menurutnya, Amerika bukan pasar utama perusahaannya. Negara tujuan ekspor utamanya adalah Italia, Eropa, India hingga Afrika dan ke depannya akan mencari negara lain untuk perluasan pasar.

"Kami sudah melakukan ekspor ke berbagai negara, mulai dari India, Pakistan, hingga Afrika. Dalam menghadapi ketidakpastian global, fokus kami adalah efisiensi menyeluruh dan inovasi di seluruh lini," jelasnya.

Akbar menekankan untuk saat ini perusahaan fokus menghadapi tantangan untuk makin menumbuhkan perusahaan. Apalagi, implementasi tarif Trump ke Indonesia ditunda hingga 90 hari.

"Prinsip saya, kita mari fokus yang depan mata. Tantangan saya bagaimana melakukan efisiensi yang masif, efisiensi di semua lini. Inovasi, terus supaya produktifitasnya tinggi," imbuhnya.

Terkait dengan pelemahan rupiah, ia menyebutkan itu adalah kondisi global yang sering terjadi dan bukan hal baru bagi perusahaan. Saat awal mulai beroperasi pelemahan nilai tukar sudah menjadi tantangan.

"Fluktuasi nilai tukar dari Rp10 ribu, Rp12 ribu, Rp14 ribu hingga Rp17 ribu sudah menjadi hal biasa bagi pelaku industri baja, termasuk Krakatau Steel," tegasnya.

Ke depannya, ia berencana membawa Krakatau Steel tidak hanya fokus pada peningkatan produksi tetapi juga memperkuat kerjasama dengan negara lain untuk membuka pasar perdagangan yang lebih luas.

"Kami aktif dalam berbagai kerja sama bilateral, multilateral, hingga regional. Semua ditujukan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global," pungkasnya.

Tuesday, February 18, 2025

UU Minerba Baru Yang Selesai Dalam 1 Bulan Izinkan Ormas dan UMKM Untuk Kelola Tambang

 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengesahkan revisi Undang-Undang Mineral dan Batubara (RUU Minerba) pada Selasa (18/2) hari ini. Pembahasan berlangsung kurang dari sebulan meskipun diwarnai kontroversi.

Pengesahan dilakukan dalam rapat paripurna ke-13 masa sidang II 2024-2025. Sebanyak 311 orang anggota dari delapan fraksi menghadiri rapat tersebut.

Tak Sampai Sebulan Disahkan

Pembahasan RUU Minerba tak sampai sebulan. RUU ini pertama kali diusulkan oleh Badan Legislasi (Baleg) pada 20 Januari 2025.

Hanya butuh tiga hari sampai RUU tersebut disetujui sebagai inisiatif DPR. Saat itu, persetujuan diberikan melalui rapat paripurna yang dipimpin Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad.

Pada 12 Februari, Baleg membentuk Panja RUU Minerba. Panja itu membahas daftar inventaris masalah (DIM) RUU Minerba pada 12-15 Februari.

Setelah itu, Baleg membentuk tim perumus dan tim sinkronisasi. RUU Minerba pun disepakati untuk dibawa ke paripurna pada rapat Baleg

Skema Izin Tambang Berubah

Salah satu poin kontroversial di RUU Minerba adalah perubahan skema untuk pemberian Izin Usaha Pertambangan (IUP) ataupun Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP).

Pada aturan sebelumnya, pemberian IUP sepenuhnya dilakukan melalui lelang. RUU Minerba menerapkan skema prioritas melalui mekanisme lelang.

"Pemberian mekanisme lelangnya tetap, tetapi juga sekaligus ada pemberian dengan cara prioritas," ujar Menteri Hukum Supratman Andi Agtas di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (17/2).

Ormas dan UMKM Bisa Kelola Tambang

RUU Minerba memperbolehkan organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan; usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM); hingga koperasi untuk mengelola tambang.

Pada aturan sebelumnya, ormas hanya bisa mengelola eks lahan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu bara (PKP2B). RUU Minerba membuka peluang ormas mengelola selain wilayah eks-PKP-2B.

Pengelolaan tambang oleh koperasi dan UMKM baru diatur RUU Minerba. Mereka boleh mengelola tambang yang berada di wilayah masing-masing.

"Nah, UMKM ini adalah UMKM daerah. Contoh, dia di Kalimantan Timur, wilayahnya yang mengajukan UMKM-nya itu, harus UMKM orang Kalimantan Timur yang ada di kabupaten itu. Supaya apa? Pemerataan," ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Dia menambahkan, "Selama ini kan nggak merata. Jujur dalam berbagai kesempatan saya katakan bahwa IUP ini lebih banyak dimiliki kantornya berada di Jakarta. Nah ini kita mau kembalikan."

Kampus Batal Kelola Tambang

Selama pembahasan, RUU Minerba dikritik karena memperbolehkan kampus mengelola tambang. Publik mengkhawatirkan aturan itu membuat kampus bisa ditekan pemerintah dengan iming-iming izin tambang.

Aturan itu tak jadi dimasukkan ke dalam RUU Minerba. Aturan itu hanya mewajibkan pelibatan perguruan tinggi oleh perusahaan-perusahaan pengelola tambang.

Bahlil menyebut BUMN, BUMD, dan badan usaha yang ingin mendapatkan izin kelola tambang harus mau memberikan sebagian keuntungannya untuk kampus. Dana itu digunakan untuk mendanai riset perguruan tinggi yang ada di wilayah pertambangan.

"Pemberian pendanaan bagi perguruan tinggi dari sebagian keuntungan pengelolaan WIUP dan WIUPK dengan cara prioritas kepada BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta, dalam rangka meningkatkan kemandirian, layanan pendidikan, dan keunggulan Perguruan Tinggi," ujarnya.

Sunday, December 15, 2024

Horee ... Ormas Islam Muhamadiyah Dapat Jatah Tambang Batubara Milik Adaro Energy Tbk

 Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut Muhammadiyah kemungkinan besar akan mendapat jatah lokasi tambang bekas Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) milik PT Adaro Energy Tbk.

"Kalau saya tidak lupa, itu punya Adaro, kemungkinan besar," kata Menteri Bahlil ditemui di Balikpapan, Kalimantan Timur dikutip Antara.

Bahlil mengatakan perizinan untuk Muhammadiyah bisa mengelola tambang tersebut saat ini sudah berproses dan tinggal menunggu waktu izin dikeluarkan.

"Sedang berproses," ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan untuk organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) sudah terlebih dahulu mendapatkan izin usaha pertambangan (IUP) untuk mengelola bekas PKP2B PT Kaltim Prima Coal (KPC).

"Sudah jalan, sudah selesai, IUP sudah keluar," ujarnya.

Pemerintah menyediakan enam lahan tambang batu bara yang untuk dikelola ormas keagamaan. Keenamnya adalah tambang bekas PT Arutmin Indonesia, PT Kendilo Coal Indonesia, dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Adaro Energy Tbk, PT Multi Harapan Utama (MAU), dan PT Kideco Jaya Agung.

Saat ini, baru eks lahan PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang ditetapkan untuk dikelola oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang paling awal menyetujui pengelolaan tambang untuk ormas keagamaan.

Pemberian izin khusus bagi ormas untuk mengelola lahan tambang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 tahun 2024 yang merupakan perubahan atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara

Tuesday, December 3, 2024

Pertamina Investasi 74,84 Triliun Di Bulan Oktober 2024

 PT Pertamina (Persero) mencatat realisasi investasi perusahaan mencapai US$4,7 miliar atau setara Rp74,84 triliun (asumsi kurs Rp15.924 per dolar AS) per Oktober 2024.

Wakil Direktur Utama Pertamina Wiko Migantoro menyebut bahwa realisasi tersebut digunakan untuk mendukung perusahaannya menghadapi tantangan di sektor midstream yang melanda beberapa kilang dunia pada tahun ini.

Hal itu juga digunakan untuk memenuhi target pendapatan perusahaan di akhir 2024 sebesar US$75,8 miliar atau Rp1.207,43 triliun.

Adapun pendapatan Pertamina per Oktober 2024 adalah sebesar US$62,5 miliar atau setara Rp995,93 triliun dengan laba bersih sebesar US$2,66 miliar atau Rp42,35 triliun.

"Untuk mendukung hal tersebut, di 2024 kita sudah membelanjakan investasi sebesar US$4,7 miliar," ujar Wiko dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Selasa (3/11).

Wiko menyebut pembelanjaan investasi tersebut terbesar diutamakan untuk kegiatan hulu yang menghasilkan produksi minyak.

Lebih lanjut, ia melaporkan Pertamina terus melakukan efisiensi di mana pada 2024 mereka telah membukukan optimalisasi biaya sebesar US$780 juta atau Rp12,42 triliun.

Optimalisasi biaya tersebut terdiri dari kegiatan cost saving, cost avoidance dan revenue generators.

Hanya Dua Perusahaan Yang Mau Tanda Tangan Kontrak Migas Dengan Skema Baru

  Kontrak wilayah kerja minyak dan gas bumi (WK Migas) Central Andaman telah diteken dan menjadikannya sebagai WK Migas pertama dengan skema New Gross Split. Penandatangan dilakukan oleh Kepala SKK Migas dan konsorsium Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yakni Harbour Energy Central Andaman Ltd dan Mubadala Energy (Central Andaman) Rsc Ltd.

Untuk diketahui, Harbour Energy merupakan perusahaan migas asal Inggris. Sementara, Mubadala Energy merupakan raksasa migas asal Uni Emirat Arab (UEA).

Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Dadan Kusdiana menyampaikan bahwa Kontrak WK Central Andaman ini adalah sejarah baru bagi investasi sektor migas. Sebab, kontrak itu merupakan kontrak dengan skema New Gross Split yang pertama sesuai ketentuan Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2024 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split.

"Ini merupakan milestone baru, sejarah baru, karena Blok Central Andaman adalah kontrak dengan skema New Gross Split pertama. Peraturan Menteri ESDM yang terkait New Gross Split ini ditandatangani oleh Bapak Menteri ESDM 2 bulan yang lalu. Hari ini sebagai bukti bahwa regulasi yang disiapkan oleh Kementerian ESDM ini implementatif," ujar Dadan di Jakarta.

WK Central Andaman akan dioperatori oleh Harbour Energy Central Andaman Ltd. Konsorsium KKKS telah melakukan pembayaran bonus tanda tangan sebesar US$ 300.000 serta menyampaikan jaminan pelaksanaan sebesar US$ 1.500.000.

Sebagai informaasi, pemerintah tengah berupaya agar sektor hulu migas menarik bagi investor. Salah satu upaya yang ditempuh ialah dengan menyiapkan kontrak bagi hasil skema gross split yang baru (New GS).

Kontrak New GS menyederhanakan komponen bagi hasil (split) kontraktor dalam kontrak GS, yang sebelumnya mencakup 13 komponen menjadi hanya 5 komponen sehingga lebih implementatif, sederhana dan besaran splitnya juga lebih menarik bagi kontraktor.

"Pada New GS, kontraktor bisa dapat split hingga 75-95%. Sedangkan kontrak GS lama, untuk mendapatkan keekonomian yang layak, sebagian besar kontrak harus mengajukan tambahan split ke pemerintah, suatu ketidakpastian bagi kontraktor," ungkap Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Ariana Soemanto dikutip dari laman Kementerian ESDM, Jumat (23/8) lalu.

Friday, November 22, 2024

Harita Nickel Raih Laba 20,38 Triliun Kuartal 3 2024 Dari Pemrosesan Biji Nikel

 PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel, perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi berkelanjutan, berhasil membukukan pendapatan RP20,38 triliun pada sembilan bulan pertama 2024 kemarin.

Dalam rilis hasil kinerjanya yang diumumkan di Jakarta ini, mereka menyatakan pendapatan itu meningkat 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Head of Investor Relations Harita Nickel Lukito Gozali menyebut pertumbuhan pendapatan ini ditopang peningkatan volume produksi di operasi penambangan dan pemrosesan.

Di sisi lain, ia mengatakan laba kotor perusahaan Rp6,66 triliun naik 9 persen secara tahunan. Sementara EBITDA meningkat 14 persen menjadi Rp8,88 triliun.

Blak-blakan Harita dalam Mendukung Hilirisasi Nikel Pemerintah

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp4,84 triliun, tumbuh 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi operasional, ia menambahkan volume produksi juga mencatatkan peningkatan. Produksi bijih nikel mencapai lebih dari 16,27 juta wet metric tonnes (wmt), meningkat 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2023.

Produksi FeNi dari smelter RKEF tercatat sebesar 95.813 ton, meningkat 39 persen secara tahunan. Sementara fasilitas HPAL menghasilkan 71.531 ton MHP Ni, meningkat 47 persen secara tahunan.

Fasilitas HPAL kedua, PT Obi Nickel Cobalt (ONC), memulai lini produksi pertama di bulan April 2024 dan keseluruhan tiga lini produksinya sudah berhasil mencapai kapasitas penuh di bulan Agustus.

Keberhasilan ini katanya, memberikan kontribusi yang cukup signifikan pada keseluruhan total produksi fasilitas HPAL dan kontribusi terhadap kenaikan penjualan bijih nikel ke divisi tambang.

Selain itu, fasilitas HPAL pertama mulai memproduksi dan mengekspor kobalt elektrolitik di bulan Agustus, menambah ragam produk perusahaan.

"Hasil ini mencerminkan upaya berkelanjutan kami untuk mengoptimalkan operasional dan menjaga profitabilitas di tengah fluktuasi harga nikel global. Perluasan kapasitas produksi kami mendukung kebutuhan pasar yang terus meningkat, khususnya di sektor baterai kendaraan listrik," katanya.

Ia menambahkan dengan pencapaian itu Harita Nickel ke depan akan terus berfokus pada peningkatan kapasitas produksi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Investasi perusahaan dalam fasilitas peleburan dan pemurnian selaras dengan komitmen untuk mendukung agenda hilirisasi pemerintah Indonesia. Harita Nickel juga berkomitmen terhadap praktik yang berkelanjutan serta terus mendorong kemajuan industri nikel di Indonesia.

Direktur Utama PT Trimegah Bangun Persada (Harita Nickel) Roy Arman Arfandy buka-bukaan soal langkah yang dilakukan perusahaannya dalam mendukung upaya hilirisasi tambang nikel yang dilakukan pemerintah.

Dalam Indonesia Green Energy Forum, Kamis (7/3), Roy mengatakan perusahaannya sangat mendukung program hilirisasi ini. Dukungan salah satunya diberikan dalam bentuk guyuran investasi pembangunan pabrik smelter di Pulau Obi, Halmahera Selatan.

"Kami sudah investasi Rp50 triliun untuk membangun smelter yang memproduksi feronikel, bahan baku stainless steel " ujar Roy dalam Indonesia Green Energy Leadership Forum bertema 'Hilirisasi Indonesia', Kamis (8/3) kemarin.

Ia mengatakan smelter yang dibangun Harita itu merupakan pionir atau perintis hilirisasi nikel. 

"Ini artinya kami sudah melangkah jauh dibandingkan yang lain," katanya. 

Ia menambahkan smelter itu sudah memberikan manfaat besar bagi perekonomian Indonesia. Smelter berhasil mengolah tak hanya nikel bermutu tinggi, tapi juga rendah yang dulu sering dibuang karena tak terpakai dalam proses produksi menjadi bahan baku baterai motor listrik.

"Jadi dengan itu, sekarang Indonesia sudah melangkah lebih maju karena sudah ada 3 produsen salah satunya Harita Nikel yang mampu memproses nikel lanjutan dari Mix Sulphide Precipitate (MSP) menjadi nikel sulfat, kobalt sulfat yang kemudian kita ekspor," katanya. 

Karena besarnya potensi itulah, ia mengatakan minat mancanegara untuk berbisnis dengan Indonesia cukup tinggi belakangan ini.

Ia mengatakan kini smelter Harita semakin berkembang. 

"Pada 2014 hanya kapasitas 4 jalur produksi yang menghasilkan 25 ribu metal per ton per tahun. Per 2023 Desember, kapasitas feronikel sudah meningkat jadi 120 ribu," katanya.




Presiden Prabowo Akan Pensiunkan Semua PLTU

 Menteri ESDM Bahlil Lahadalia siap menjalankan mandat Presiden Prabowo Subianto untuk menyuntik mati pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

"Apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden Prabowo di G20 (suntik mati PLTU) adalah harus kita jalankan. Wong perintah presiden, ya kita harus lakukan," tegas Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat.

Bahlil menegaskan apa yang disampaikan Presiden Prabowo merupakan komitmen Pemerintah Indonesia. Ini dilakukan demi mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Ia menyebut Presiden Prabowo berkomitmen menurunkan emisi di tanah air. Oleh karena itu, Bahlil menekankan para pembantunya bakal melakukan sejumlah penyesuaian.

"Terkait dengan pensiun beberapa pembangkit listrik, kita lagi exercise. Karena energi baru terbarukan (EBT) itu penting bagi bangsa kita, tapi tidak mesti membebani negara kita dan masyarakat kita. Ini yang kita lagi ada exercise," jelasnya.

"Sekarang kita lagi exercise itu yang di Jawa Barat ya, Cirebon (PLTU Cirebon-1). Kita lagi exercise itu," ungkap Bahlil.

Anak buah Prabowo itu mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan lembaga keuangan dan lembaga pembiayaan. Bahlil menyebut Indonesia mau mempensiunkan PLTU, tapi jangan sampai membebani keuangan negara.

Terlebih, penggantinya berupa energi baru terbarukan dipastikan lebih mahal dari batu bara. Bahlil menegaskan langkah transisi ini akan dilakukan secara bertahap.

"Nanti kita umumkan setelah kami exercise, Bapak Presiden Prabowo kan belum balik (dari kunjungan kerja ke luar negeri). Saya malam ini akan ikut berangkat ke Uni Emirat Arab (UEA) untuk mendampingi Bapak Presiden (Prabowo). Nanti saya akan minta arahan-arahan lebih teknis," tandasnya.

Sebelumnya, Prabowo Subianto menekankan komitmen Indonesia untuk menekan emisi. Ini diungkapkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Brasil pada 19 November 2024.

Prabowo bahkan mengejar target nol emisi karbon bisa tercapai sebelum 2050. Ini ditempuh melalui sejumlah upaya, seperti peningkatan penggunaan biodiesel sampai konversi PLTU batu bara ke EBT.

"Kami juga memiliki sumber daya panas bumi yang luar biasa dan kami berencana untuk menghentikan pembangkit listrik tenaga batu bara dan semua pembangkit listrik tenaga fosil dalam 15 tahun ke depan," jelas Prabowo di G20, dikutip dari Sekretariat Kabinet.

"Kami berencana untuk membangun lebih dari 75 gigawatt tenaga terbarukan dalam 15 tahun ke depan," sambungnya.

Tuesday, November 19, 2024

Pertamina Temukan Cadangan Migas Baru di MNK

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menemukan sumber minyak dan gas (migas) baru yakni sumur Migas Non Konvensional (MNK) Gulamo Det-1 di di Blok Rokan.

EVP Upstream Business PHR Andre Wijanarko mengatakan dengan dinyatakan sebagai discovery, Sumur Gulamo DET-1 menjadi sumur MNK pertama di Indonesia yang berhasil membuktikan adanya aliran hidrokarbon ke permukaan dari MNK.

"Pencapaian ini merupakan tonggak sejarah baru bagi PHR dan industri migas nasional. Dengan berhasil menemukan sumberdaya migas baru di Sumur Gulamo DET-1, kami semakin yakin akan potensi besar pengembangan MNK di Blok Rokan. Ini adalah bukti nyata dari komitmen kami untuk terus berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan energi nasional," katanya dalam keterangan tertulis.

Penemuan ini disampaikan setelah PHR mengevaluasi hasil data fracturing dan uji rekahan (flowback test) serta hasil pengeboran dan well testing Sumur Gulamo DET-1. Proses main fracturing atau perekahan utama pada lapisan Formasi Brownshale telah selesai dilakukan dan hasil awal dari uji alir didapatkan sampel hidrokarbon.

Rangkaian kegiatan yang dilakukan setelah proses pengeboran selesai (post drill) bertujuan untuk menganalisis kegiatan operasi pengeboran dan well testing serta mengevaluasi potensi hidrokarbon pada suatu sumur.

Tahapan berikutnya, sambung Andre, adalah melakukan evaluasi potensi sumberdaya yang ditemukan, serta langkah-langkah eksplorasi tahap lanjut dan pengembangan lapangan yang lebih detail, termasuk pengeboran sumur appraisal untuk membuktikan konsep sumur MNK (long horizontal well dan multi-stage hydraulic fracturing) bekerja dengan baik dalam mengkonfirmasi potensi sumberdaya yang lebih luas.

Senada dengan Andre, Kepala Divisi Eksplorasi SKK Migas, Sunjaya Eka Saputra menyambut gembira ditemukannya Sumur Gulamo DET-1. Penemuan ini, sambungnya, membuktikan bahwa upaya Pertamina dalam mengembangkan sumber daya migas non-konvensional telah membuahkan hasil.

"Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan-lapangan MNK lainnya di Indonesia," ujar Sunjaya.

Adapun Minyak dan Gas Bumi Non-Konvensional (MNK) adalah minyak dan gas bumi yang terbentuk dan terkekang pada batuan reservoir berbutir halus dan berpermeabilitas rendah di dalam zona kematangan.

MNK akan ekonomis apabila diproduksi melalui pengeboran horizontal dengan menggunakan teknik stimulasi hydraulic fracturing, antara lain shale oil, shale gas, tight sand oil, tight sand gas, gas metana batubara dan methane-hydrate.

Hilirisasi Nikel Mampu Tingkatkan Cadangan Devisa Sebesar 150 Juta Dolar Pada Juli 2024

 Pada akhir Agustus 2024, cadangan devisa Indonesia mencapai angka signifikan, yakni US$150,2 miliar. Jumlah ini naik tajam dibandingkan akhir Juli 2024 yang berada di angka US$145,4 miliar.

Peningkatan tersebut didorong oleh beberapa faktor utama, antara lain penerimaan pajak dan jasa, penerimaan devisa dari sektor minyak dan gas (migas), serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.

Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa cadangan devisa pada Agustus tersebut setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan jika termasuk pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Bahkan, menurut BI, jumlah ini berada jauh di atas standar kecukupan internasional, yang biasanya setara dengan 3 bulan impor. Hal ini menunjukkan bahwa cadangan devisa Indonesia sangat memadai dalam menjaga ketahanan sektor eksternal serta stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

"Posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2024 setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," demikian keterangan resmi BI pada Jumat (6/9).

Selanjutnya, BI berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah dalam menjaga ketahanan eksternal. Sinergi ini penting untuk memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dalam jangka panjang.

"Bank Indonesia juga terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal sehingga dapat menjaga stabilitas perekonomian dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya.

Salah satu kontributor besar peningkatan cadangan devisa Indonesia adalah program hilirisasi yang digencarkan sejak pemerintahan Joko Widodo. Presiden ke-7 RI mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan ekspor bahan mentah (raw material) dari bijih nikel (nickel ore).

Selanjutnya, pemerintah mendorong hilirisasi, yaitu mengolah nikel menjadi produk bernilai tinggi, seperti feronikel dan Nickel Pig Iron (NPI), yang dapat diekspor dengan harga lebih tinggi. Kebijakan ini secara signifikan membantu Indonesia meningkatkan devisa negara dari ekspor produk nikel olahan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor nikel dan barang daripadanya mencapai US$4,93 miliar pada Januari-Agustus 2024. Ekspor komoditas itu meningkat 8,83 persen dari US$4,53 miliar pada Januari-Agustus 2023.

Realisasi itu membuat ekspor dari nikel dan barang daripadanya menyumbang kontribusi 3,08 persen ke kinerja ekspor Indonesia yang mencapai US$170,89 miliar pada Januari-Agustus 2024.

Jika dilihat dari provinsinya, beberapa daerah yang terkenal kaya nikel memang memiliki realisasi nilai ekspor yang cukup tinggi.

Misalnya, nilai ekspor Sulawesi Tengah mencapai US$13,77 miliar pada Januari-Agustus 2024. Kemudian, Sulawesi Tenggara mencapai US$2,58 miliar, Sulawesi Selatan US$1,35 miliar, dan Maluku Utara US$6,67 miliar pada periode yang sama.

Kontribusi pada devisa negara ini juga lahir dari PT Gunbuster Nickel Industry (PT GNI). Sebagai salah satu perusahaan smelter nikel terkemuka di dunia dan pioneer industri hilirisasi di Morowali Utara, Sulawesi Tengah, PT GNI sudah mengekspor produk olahan nikel dalam Nickel Pig Iron (NPI) sejak 2019 hingga saat ini. Dari 25 lini produksi yang telah beroperasi, selanjutnya NPI tersebut diekspor ke berbagai negara.

Selain berkontribusi kepada devisa negara, langkah hilirisasi yang dilakukan PT GNI juga memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan lokal. Di mana hilirisasi nikel telah menciptakan banyak lapangan pekerjaan untuk daerah-daerah di sekitar lingkar industri.

PT GNI sendiri telah menyediakan belasan ribu lapangan kerja di Morowali Utara, dan berencana terus meningkatkan jumlah tenaga kerja dalam beberapa tahun mendatang. Kehadiran industri ini tentunya memberikan dampak langsung pada kesejahteraan masyarakat lokal.

"Ke depannya akan terus meningkat. PT GNI pun terus aktif merekrut karyawan, termasuk bekerja sama dengan pemerintah desa di sekitar lingkar industri untuk menyelenggarakan perekrutan karyawan," ungkap kata Head of Corporate Communication PT GNI Mellysa Tanoyo.

Kemudian, PT GNI juga menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), termasuk pembangunan infrastruktur di sekitar lingkar industri dan penyerapan tenaga kerja lokal.

Tidak ketinggalan, perusahaan juga mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Hal ini penting dilakukan, mengingat pengolahan dan pemurnian bijih nikel melalui tiga tahapan yang melibatkan alat dan suhu tinggi, bahkan hingga ribuan derajat celcius.

Dalam mewujudkan hal itu, PT GNI telah menyusun regulasi K3 yang sesuai dengan aturan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker). Regulasi ini mencakup berbagai aspek, seperti keselamatan kerja, kesehatan kerja, dan lingkungan kerja.

PT GNI juga secara rutin mengadakan berbagai agenda pelatihan dan sertifikasi K3 untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Program sertifikasi K3 GNI juga merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memastikan operasional yang aman dan efisien serta memenuhi standar industri yang semakin ketat.

Beberapa di antaranya ialah mewajibkan sertifikasi operator alat berat dan pelatihan sertifikasi safety awareness, sehingga para pekerja benar-benar dibekalkan dan dilatih untuk mahir dalam pekerjaannya.

Semua ini diwajibkan bagi para pekerja mengingat pekerjaan mereka erat dengan risiko dan bahaya.

Monday, November 18, 2024

Adaro Energy Indonesia Bagi Deviden Senilai 41 Triliun

  Emiten tambang batu bara RI, Adaro Energy Indonesia (ADRO), akan membagikan dividen tambahan kepada para pemegang saham senilai US$ 2,6 miliar atau sekitar Rp 41,18 triliun dari tahun buku 2023.

Besaran dividen per saham diperkirakan akan setara dengan Rp1.359/lembar berdasarkan asumsi kurs rupiah per dolar AS di 15.898. Meski demikian, belum ditetapkan kurs yang akan digunakan sehingga belum ada pengumuman jumlah pasti pembayaran dividen tersebut.

Artinya para pemegang saham Adaro akan memperoleh cuan jumbo dari pembagian dividen tambahan ini, khususnya keluarga Garibaldi 'Boy' Thohir, Edwin Soeryadjaya, TP Rachmat, keluarga Arini Subianto hingga Sandiaga Uno lewat kongsi Saratoga.

Boy Thohir diketahui akan memperoleh dividen ADRO sejumlah Rp 2,65 triliun dari kepemilikan langsung di saham ADRO.

Kemudian ada Edwin Soeryadjaya yang secara langsung akan memperoleh Rp 1,42 triliun dari dividen jumbo Adaro terbaru dan TP Rachmat yang akan menggenggam cuan Rp 1,09 triliun. Kemudian ada Arini Subianto yang secara langsung akan memperoleh dividen Rp 107,07 miliar.

Kemudian Adaro Strategic Investment (ASI) yang dimiliki oleh kongsi dari keluarga Thohir, keluarga Subianto, keluarga TP Rachmat dan Grup Saratoga miliki Edwin dan Sandiaga Uno secara total berhak atas Rp 18,80 triliun dividen Adaro.

Secara rinci keluarga Boy Thohir memiliki porsi kepemilikan tidak langsung sebesar 18,73% di ASI lewat PT Trinugraha Thohir. Adapun pemegang saham PT Trinugraha Thohir adalah Boy Thohir (23,33%), Erick Thohir (23,33%), Hireka Vitaya (23,33%) dan Edna Thohir (29,99%).

Kemudian ada Grup Saratoga yang memiliki kepemilikan tidak langsung sebesar 26,20% di ASI. Pemegang saham terbesar Saratoga lewat kepemilikan langsung dan tidak langsung adalah Edwin (52,17%), Sandiaga Uno (21,51%), Joyce Soeryadjaya Kerr (16,36%) dan Publik (9,81%).

Selanjutnya ada PT Persada Capital Investama (PCI) milik keluarga Arini Subianto yang memiliki kepemilikan saham tidak langsung sebesar 25,07% di ASI. Pemegang saham terbesar PCI lewat kepemilikan langsung dan tidak langsung adalah Meity Subianto (51,25%), Arini Subianto (16,25%), Armelia Subianto (16,25%) dan Ardiani Subianto (16,25%).

Terakhir ada PT Triputra Investindo Arya (TIA) milik keluarga TP Rachmat yang memegang secara tidak langsung 30,01% saham ASI. Pemegang saham TIA adalah istri TP Rachmat, Like Rani Imanto (99,99%) dan Christian Ariano Rachmat (0,01%).

Apabila seluruh dividen yang diterima oleh Adaro Strategic Investment (ASI) dibagikan semua kepada pemegang saham berdasarkan porsi kepemilikan, maka Rp 18,80 triliun akan terbagi menjadi:

  • Keluarga Thohir Rp 3,52 triliun
  • Kongsi Saratoga Edwin dan Sandiaga Rp 4,93 triliun
  • Keluarga Subianto Rp 4,71 triliun
  • Keluarga TP Rachmat Rp 5,64 triliun

Sementara itu secara spesifik, apabila dividen dibagikan kepada pemegang saham sampai ke pemilik terakhir, maka sosok-sosok ini akan memperoleh dividen gabungan secara langsung dan tidak langsung dari Adaro senilai:

  1. Like Rani Imanto Rp 5,64 triliun
  2. Edwin Soeryadjaya Rp 3,99 triliun
  3. Boy Thohir Rp 3,47 triliun
  4. Meity Subianto Rp 2,41 triliun
  5. Edna Thohir Rp 1,06 triliun
  6. Sandiaga Uno Rp 1,06 triliun
  7. Arini Subianto Rp 872 miliar
  8. Erick Thohir dan Hireka Vitaya masing-masing Rp 821 miliar
  9. Joyce Soeryadjaya Kerr Rp 806 miliar
  10. Armelia, Ardiani Subianto masing-masing Rp 765 miliar

Monday, October 14, 2024

Rp 500 Triliun Per Tahun Habis Untuk Subsidi BBM Pemobil

 Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahil Lahadalia menyoroti lifting minyak Indonesia yang masih rendah. Padahal, sekitar tahun 1996-1997 Indonesia mencatatkan lifting minyak hingga 1,6 juta barel per hari.

"Kita tahu bahwa 30 tahun lalu, tahun 1996-1997, bahwa lifting minyak kita itu 1.600.000 barrel per day, dengan kontribusi kepada pendapatan negara itu sekitar 40-50 persen," kata Bahlil di Jakarta

Namun angka lifting terus menurun tiap tahun, meski sempat naik lagi pada tahun 2008 sekitar 800-900 ribu barel per hari. Angkanya turun lagi dan menjadi sekitar 600 ribu barel per hari saat ini.

Padahal kebutuhan minyak nasional mencapai 1,6 juta barel per hari. Selisih dari kebutuhan itu lantas harus diisi dari impor.

"Produksi minyak kita itu tinggal 600.000 barat per day, dan konsumsi kita, itu 1.600.000 barat per day. Jadi kita impor kurang lebih sekitar 900 ribu sampai 1 juta. Jadi apa yang terjadi tahun 1997, kita export, sekarang berbalik, kita impor dengan jumlah yang sama," bebernya.

"Kalau tidak kita mampu mengatasi lifting, maka jangan pernah bermimpi kita ini akan menuju kepada keberatan energi," sambung Bahlil.

Ia juga menyebut Indonesia menghabiskan devisa negara Rp 500 triliun per tahun untuk impor minyak dan gas (migas). Kondisi tersebut turut mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

"Setiap tahun, kita itu menghabiskan devisa kita sekitar Rp 500 triliun. Makanya nilai tukar dolar kita, terhadap rupiah agak sedikit maju-mundur maju-mundur. Bayangkan, salah satu sumber kebutuhan dolar terbesar itu adalah kita untuk membeli energi," terang Bahlil.

Bahlil menjelaskan, solusi untuk permasalahan itu adalah penerapan teknologi Teknologi EOR (Enhanced Oil Recovery) untuk meningkatkan lifting. Kemudian mengaktifkan kembali sumur minyak yang berstatus idle atau nganggur.

Dari sekitar 44.900 sumur yang ada, 16.000-an lebih sumur berstatus aktif. Kemudian 16.600 sumur idle, dan sekitar 5.000 sumur idle yang masih bisa dioptimalkan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan kondisi terkini terkait industri minyak Indonesia. Menurutnya, kondisi saat ini kebalikan dari tahun 1996-1997.

Bahlil mengatakan, saat ini Indonesia impor hingga 1 juta barel minyak per hari (BOPD) untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di dalam negeri. Padahal dulu Indonesia bisa ekspor 1 juta barel minyak per hari.

"Jadi kalau (tahun) 96-97 kita ekspor 1 juta barel, di 2023 kita impor 1 juta barel. Ini kondisi bangsa kita," kata Bahlil dalam acara BNI Investor Daily Summit di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta Pusat.

Bahlil menyebut, kondisi ini terjadi karena lifting minyak di dalam negeri terus menurun, yakni hanya 600 ribu barel minyak per hari pada 2023. Di sisi lain, konsumsi semakin bertambah yakni 1,6 juta barel per hari.

"Di 30 tahun terakhir, tahun 1996-1997, lifting minyak kita itu 1,6 juta barel per day dan konsumsi kita itu 600-700 ribu barel per day. Saat itu 40-50% pendapatan negara bersumber kepada oil and gas, pada saat itu makanya kita masuk negara OPEC. Jadi terbalik 30 tahun lalu antara lifting dan ekspor, berbalik dengan lifting dan impor di 2023," tutur Bahlil.

Selain karena sumber migas Indonesia banyak yang sudah tua, Bahlil menyebut penurunan produksi terjadi salah satunya karena regulasi.

"Reformasi, kemudian terjadi perubahan aturan, Pertamina tidak lagi di bawah presiden, kemudian Pertamina didorong di bawah kementerian BUMN. Apa yang terjadi? Lifting kita turun terus, di samping memang sumur-sumur kita sudah lama, tetapi regulasi memang salah satu yang membuat persoalan ini," imbuhnya.

"Makanya di hampir setiap pembahasan APBN, makro ekonomi selalu berbicara tentang berapa harga ICP dan berapa lifting kita. Di saat bersamaan, harga minyak dunia sejak perang Rusia-Ukraina dan Timur Tengah itu fluktuatif," tambahnya.

Tuesday, January 2, 2018

Analisa Ekonomi: Hubungan Pertumbuhan Ekonomi dan Gelombang PHK Retail

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memprediksi gelombang PHK akan melanda ritel seperti Ramayana, Giant, Hypermart, Hero, dan Tip Top. Hal ini menyusul sejumlah gerai ritel yang mengalami penutupan seperti dialami gerai 7-Eleven, misalnya. Hal ini bercermin dari gelombang PHK sepanjang 2017 yang melanda sepanjang 2017. Sepanjang tahun kemarin, berdasarkan catatan KSPI gelombang PHK telah merumahkan lebih dari 50 ribu pekerja.

Kemudian di industri pertambangan, tidak sedikit buruh PT Freeport dan PT Smelting yang terkena PHK. Begitu pula pada sejumlah perusahaan di bidang farmasi.

"Hal ini merupakan fakta, bahwa kebijakan ekonomi tidak bisa mengangkat daya beli, tetapi hanya membuka ruang kemudahan untuk berinvestasi," ucap Said Iqbal . Penurunan daya beli ini disebut Said lantaran kebijakan pemerintah Jokowi yang dianggap lebih memihak investor atau pemodal. Paket kebijakan tersebut, tutur Said, tidak diiringi dengan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan daya beli masyarakat.

"Maka yang terjadi adalah penurunan konsumsi di masyarakat. Itu menyebabkan terjadinya PHK besar-besaran," tutur Said. Said juga menyesalkan sikap Pemerintahan Jokowi yang membuka keran tenaga kerja asing masuk ke Indonesia.

"Di saat daya beli turun, gelombang PHK terjadi di mana-mana, tenaga kerja asing seperti diberi karpet merah untuk bekerja di negeri ini," ucap Said. Akibatnya, buruh lokal menjadi lebih sulit mendapat pekerjaan. Terlebih, jumlah lapangan pekerjaan pun cenderung minim. Secara umum, KSPI menilai Pemerintahan Presiden Joko Widodo lebih mengutamakan pembangunan infastruktur daripada meningkatkan kesejahteraan buruh di sepanjang 2017.

Terkait dengan pelemahan daya beli, Presiden Joko Widodo sebelumnya menilai isu tersebut sengaja disampaikan oleh orang-orang politik untuk kepentingan politik 2019.

Baca juga : Kisah Duka dan Remuk Redamnya Nasib Mantan Karyawan Sevel
Namun, kata Presiden, isu tersebut sangat tidak beralasan.

“Kalau orang politik memang tugasnya seperti itu kok. Membuat isu-isu untuk 2019. Ya sudah kita blak-blakan saja, wong 2019 tinggal setahun,” kata Jokowi. Dia menuturkan yang terjadi adalah terjadinya pergeseran model belanja offline ke online dengan meningkatnya jasa kurir naik 130 persen pada akhir September.

“Angka ini didapat dari mana? Ya kita ngecek. DHL cek, JNE cek, Kantor Pos cek, saya kan juga orang lapangan, jangan ada yang bantah,” ujar Presiden. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menilai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Hanif Dhakiri tak berpihak pada kesejahteraan pekerja.

Salah satunya, adalah Hanif dituding tak peduli dan membantah telah terjadi pemutusan kerja atau PHK besar-besaran yang menimpa pekerja di berbagai sektor industri di Indonesia saat ini.

"Hanif selalu menolak fakta data-data PHK yang kita ajukan. Kerjaannya nolak-nolak terus. Orang mereka ga kerja kok. Harusnya presiden dan pemerintahan sekarang membuka mata, dan Hanif jangan pura-pura tidak tahu," ujar Ketua KSPI Said Iqbal di Gedung LBH Jakarta, Kamis (5/10).

KSPI, kata Said Iqbal, mencatat sepanjang 2017 ini ada PHK sekitar 20.000 hingga 25.000 orang yang di-PHK. Beberapa di antaranya adalah di industri telekomunikasi, ada dua perusahaan besar yang datanya masuk ke KSPI dengan total PHK bisa mencapai 1000 orang. Lalu, di industri farmasi yang mencakup lima perusahaan dengan total mencapai 779 orang.

Sementara itu, untuk industri keramik dan tekstil jumlah juga akan lebih besar dari sektor telekomunikasi dan farmasi. Selain itu, ia memperkirakan keadaan ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun ini.

"Ini akan jadi bola salju, ini akan terus bergulir" ujar Iqbal.

Terkait hal ini, Iqbal pun mengaku KSPI telah bertemu dengan pihak Kemenakertrans, namun justru dinilainya telah diabaikan tanpa tindak lanjut berarti. "Bertemu dengan Menaker berulangkali sudah, dan data kita tentang PHK sudah disampaikan di berbagai rapat oleh mereka, di rapat dewan pengupahan nasional sudah juga, mereka selalu menyangkal fakta di lapangan," ujar Said Iqbal.

Said Iqbal pun menyesalkan sikap Hanif yang justru pasang badan untuk Pemerintah (PP) Nomor 78 tahun 2015 tentang pengupahan dan PP Nomor 561 tahun 2017 tentang upah minimum industri padat karya yang ditetapkan di empat daerah yakni Purwakarta, Bekasi, dan Bogor.

Menurutnya, kedua peraturan tersebut tak berpihak pada kesejahteran para pekerja. Terlebih lagi PP Nomor 561/2017 telah menyebabkan para pekerja di 4 daerah menerima upah dibawah upah minimum yang sangat merugikan bagi kesejahteraan buruh.

Kementerian Ketenagakerjaan melansir ada 9.822 pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sejak Januari hingga November 2017. Jumlah PHK itu berasal dari 2.345 kasus di seluruh wilayah di Indonesia. "PHK itu karena pensiun, Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), outsourcing, penetapan, kontrak kerja," tutur Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga kerja (PHI dan Jamsos) Kemenaker Haiyani Rumondang, Jumat (29/12).

Sayangnya, Kemenaker tak memiliki data rinci PHK berdasarkan sektor industri. Namun, Haiyani bilang, ada beberapa sektor yang mengalami PHK besar pada tahun ini. PHK itu lebih dikarenakan arus digitalisasi.

"Ada beberapa sektor. Kami sih melihat tidak ada karena itu (daya beli), tapi lebih karena digitalisasi. Bank, iya (salah satu sektor industri yang mengalami PHK), tapi bukan yang terbanyak," katanya. Data Kemenaker menyebut PHK karena memasuki masa pensiun sebanyak 178 kasus di seluruh Indonesia. Diikuti alasan PKWT sebanyak 583 kasus, outsourcing atau kerja kontrak sebanyak 550 kasus, dan alasan penetapan 88 kasus.

Berdasarkan wilayah, jumlah PHK terbesar berasal dari Kalimantan Timur sebanyak 3.088 pekerja. Diikuti oleh DKI Jakarta sebanyak 1.929 pekerja, Banten 1.663 pekerja, Jawa Timur 742 pekerja, dan Kalimantan Tengah 537 pekerja. Lalu, Nanggroe Aceh Darusalam 425 pekerja, Papua Barat 324 pekerja, Riau 262 pekerja, Sulawesi Tenggara 169 pekerja, Sumatra Barat 157 pekerja, Sumatra Selatan 140 pekerja, dan Sulawesi Utara 108 pekerja.

Selanjutnya, Kalimantan Selatan 87 pekerja, Jambi 70 pekerja, Sulawesi Selatan 25 pekerja, Bali 25 pekerja, Sulawesi Tengah 24 pekerja, Bangka Belitung 22 pekerja, dan Bengkulu 15 pekerja.

Sementara, PHK pekerja tidak terjadi di beberapa provinsi, seperti Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimantan Barat, Gorontalo, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Kendati demikian, Haiyani menjelaskan, jumlah PHK yang tercatat oleh kementerian mungkin lebih rendah dibandingkan maraknya kasus PHK yang diisukan terjadi pada tahun ini. "Masalah PHK mungkin sekian banyak, tapi masa sih cuma 9 ribuan? Ini karena ada para pihak yang tidak menyampaikan, tidak melaporkan, tapi mungkin karena sudah win-win solution jadi tidak disampaikan dan sebagainya," terang dia.

Sementara, data terakhir Kemenaker yang dapat diakses menyebutkan bahwa jumlah PHK per semester I 2016 sebanyak 7.954 pekerja yang berasal dari 1.494 kasus.

Monday, May 8, 2017

Ekonomi China Melambat, Sektor Pertambangan Kembali Terjun Bebas

Indeks sektor tambang turun tajam sepanjang pekan lalu hingga 7,3 persen ke level 1.417,505. Sebelumnya, indeks sektor tambang masih berada di level 1.529,120 atau menguat 0,12 persen.  Salah satu faktor yang menggerogoti sektor tambang adalah penurunan Purchasing Manager's Index (PMI) sektor manufaktur China pada April ke level 51,2 dibandingkan bulan sebelumnya, yakni 51,8.

Setelah data PMI manufaktur di China tersebut terbit, pelaku pasar mulai berspekulasi terhadap pertumbuhan ekonomi China yang diperediksi melambat pada bulan ini. Apabila hal itu terjadi, maka akan memengaruhi tingkat permintaan batu bara dari China.

Pelaku pasar ikut merespons kondisi ini dengan melakukan aksi jual atau mengambil keuntungan (profit taking) pada beberapa saham emiten berbasis batu bara, seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

Jangan heran, harga saham tiga emiten itu terkulai lemas sepanjang pekan lalu. Bila dibandingkan, harga saham Adaro Energy terkoreksi cukup dalam hingga 9,3 persen. Diikuti oleh Bukit Asam yang melorot 6,88 persen, dan Indo Tambangraya melemah tipis 1,2 persen. "Penggunaan batu bara di China kan tertinggi, dan permintaan dari China juga masih yang tertinggi. Pasar khawatir permintaan turun jika ekonomi China melemah," ujar Direktur Investasi Saran Mandiri, Hans Kwee.

Selain itu, pernyataan pejabat The Federal Reserve (Fed) yang optimis dengan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) akan membaik memengaruhi penguatan dolar AS turut menjadi sentimen negatif bagi indeks sektor tambang. "Itu kan membuat dolar AS menguat, komoditas kan diperdagangkan dengan dollar AS. Kalau mata uangnya meningkat, maka harga komoditasnya (batu bara) akan turun," imbuh Hans.

Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra menyebutkan, harga batu bara pada perdagangan akhir pekan lalu sekitar US$75 per metrik ton hingga US$78 per metrik ton. Pelemahan harga komoditas batu bara ini juga mendorong sebagian pelaku pasar menjual asetnya di emiten batu bara. "Harga batu bara dibawah US$80 per metrik ton, itu agak negatif untuk emiten batu bara," tegas Aditya.

Dengan demikian, pelaku pasar melakukan perpindahan aset ke saham emiten lain yang dinilai lebih menguntungkan, misalnya ke sektor barang dan konsumsi memanfaatkan momentum jelang ramadan dan lebaran. "Ada perubahan portofolio investasi juga. Kebetulan jelang ramadan ini biasanya ada permintaan lebih untuk sektor barang dan konsumsi jadi penjualan meningkat," tutur dia.

Aditya berpendapat, sektor batu bara memang tidak memiliki sentimen positif sepanjang pekan lalu. Sehingga, pelaku pasar enggan melakukan aksi beli terhadap emiten batu bara. Kendati terperosok dalam, Hans menilai, pelemahan harga saham emiten batu bara hanya bersifat jangka pendek.

Terlebih lagi, janji Presiden AS Donald Trump yang akan meningkatkan penggunaan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik juga akan menjadi sentimen positif tambahan bagi sektor batu bara. "Jadi, ini bagus, saat ada kekhawatiran pertumbuhan ekonomi Tiongkok menurun," imbuh Hans.

Meski kemungkinan besar sektor batu bara tidak akan mencapai harga tertingginya di atas level US$100 metrik per ton seperti tahun lalu, tetapi harga batu bara akan menanjak dari posisi terakhir.  Bahkan, ia memberikan rekomendasi beli (buy) untuk emiten batu bara pada pekan ini. Menurutnya, pelaku pasar perlu memanfaatkan momentum pelemahan harga saham emiten batu bara untuk melakukan akumulasi beli.

"Direkomendasikan beli bila ada pelemahan harga saham," katanya.

Aditya juga memberikan rekomendasi beli pada sektor barang dan konsumsi, khususnya PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Artinya, indeks sektor konsumsi dan barang berpeluang melanjutkan penguatannya pada pekan ini. Sekadar informasi, indeks sektor barang dan konsumsi menjadi primadona pada perdagangan pasar modal sepanjang pekan lalu dengan penguatan 2,05 persen ke level 2.483,574.

"Harga saham Ramayana Lestari, Indofood CBP, dan Unilever Indonesia naik pekan lalu dan akan terus naik pekan ini," pungkasnya.

Friday, March 17, 2017

Analisa Prospek Industri Batubara Indonesia

Kinerja emiten tambang batu bara tahun 2016 terbilang membaik jika dibandingkan tahun 2015. Hal ini bisa terlihat dari pencapaian pertumbuhan laba bersih empat emiten dari lima emiten batu bara terbesar yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Empat emiten tersebut terdiri dari PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Golden Energy bahkan mencatat kenaikan hingga 1.613 persen sepanjang tahun lalu. Perusahaan berhasil meraup laba bersih sebesar US$34,44 juta dari sebelumnya yang hanya US$2,01 juta. Analis senior Binaartha Securities Reza Priyambada menjelaskan, kenaikan tersebut diluar ekspektasinya karena pendapatan perusahaan pun hanya tumbuh tipis. Selain itu, harga batu bara juga baru mengalami pertumbuhan secara bertahap mulai kuartal III 2016.

"Kan baru naik harga batu bara itu baru kuartal III, naiknya juga enggak langsung signifikan. Naik tapi landai," ungkap Reza. Kemudian, Adaro Energy menyusul pertumbuhan laba bersih hingga 119, 5 persen menjadi US$334,62 juta dari posisi sebelumnya US$152,44 juta.

Menurut Reza, meski kenaikan laba bersih Adaro Energy tembus 100 persen tetapi pencapaian itu terbilang masih wajar. Kenaikan laba bersih ini juga ditopang oleh efisiensi yang dilakukan Adaro Energy sepanjang tahun lalu. "Lalu ada kontrak kerja pengadaan batu bara juga untuk pembangkit listrik. Itu mungkin jadi sumber mesin uang yang baru," terang Reza.

Analis Mandiri Sekuritas Yudha Gautama menyatakan kinerja yang di atas prediksi tersebut terutama karena keuntungan dari akuisisi Indomet Coal senilai US$197 juta dan turunnya tarif pajak efektif.  "Laba operasional sepanjang 2016 juga kuat, yaitu US$534 juta, berporsi 113 persen dan 111 persen terhadap prediksi kami dan konsensus, terutama terdongkrak oleh kenaikan rerata harga jual (ASP) batu bara US$43,4 per ton," jelasnya.

Selanjutnya, Indo Tambangraya berada di peringkat ketiga dari segi peningkatan laba bersih. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar US$130,7 juta, naik 107,13 persen dibandingkan sebelumnya Rp63,1 juta. Terakhir, Bumi Resources yang berhasil berbalik arah menjadi positif yakni, US$100,6 juta. Pasalnya, tahun 2015 lalu perusahaan menderita rugi bersih mencapai US$1,92 miliar.

Menariknya, berdasarkan laporan keuangan 2016 tidak diaudit, beban pokok pendapatan tertulis nol sejak tahun 2015 hingga 2016. Menurut Reza, hal ini mengindikasikan perusahaan tidak melakukan kegiatan penambangan selama tahun 2015 hingga tahun lalu. "Nah, jadi mungkin dia pemasukan dari cadangan batu bara. Jadi meski tidak ada pasokan, tapi ada pemasukan yang dicatatkan," tutur Reza.

Sementara itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), satu emiten tambang batu bara lainnya yang masuk dalam lima besar bernasib kurang baik. Laba bersih perusahaan turun tipis 1,47 persen dari Rp2,03 triliun menjadi Rp2 triliun. Sayangnya, jika melihat dari sisi pendapatan usaha emiten tambang batu bara, maka terlihat tidak sebaik laba bersih yang diraup. Dari lima emiten tersebut hanya Golden Energy dan Bukit Asam yang mencatatkan kenaikan pendapatan. Sementara, sisanya mengalami penurunan.

Sama halnya dengan laba bersih, Golden Energy berhasil mencetak pertumbuhan pendapatan paling tinggi yakni, 8,81 persen menjadi US$384,33 juta dari sebelumnya US$353,18 juta. Kenaikan ini terbilang jauh lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan laba bersih perusahaan yang mencapai ribuan persen. Reza menyatakan, pencapaian laba bersih perusahaan bukan semata-mata dari penjualan batu bara.

"Nah ini Golden Energy pasti ada pendapatan lain yang membuat laba perusahaan sampai naik signifikan seperti itu," tandas Reza. Benar saja, dalam laporan keuangannya terlihat perusahaan meraih pendapatan lain-lain hingga US$941,64 ribu. Angka tersebut berbanding terbalik jika dibandingkan dengan tahun 2015 yang tercatat beban lain-lain sebesar US$248,28 ribu.

Tak hanya itu, Golden Energy juga memperoleh pemasukan dari keuntungan selisih kurs sepanjang tahun lalu sebesar US$624,51 ribu, berbeda dengan tahun 2015 yang menderita rugi kurs hingga US$4,84 juta.  Kemudian, untuk Bukit Asam sendiri hanya naik tipis 1,51 persen dari Rp13,84 triliun menjadi Rp14,05 triliun.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin menyebut, sepanjang tahun lalu indeks harga batu bara belum sebaik tahun 2015. Hal ini terlihat dari rata-rata harga tertimbang batu bara perseroan yang turun sebesar 4,4 persen. Adapun, untuk pendapatan Bumi Resources turun hingga 42,22 persen menjadi US$23,4 juta dari sebelumnya US$40,5 juta. Kemudian Indo Tambangraya tercatat turun 13,92 persen menjadi US$1,36 miliar, dan Adaro Energy turun 5,97 persen menjadi US$2,52 miliar.

Thursday, March 16, 2017

Laba Bersih Pertamina Meroket 121,8 Persen

PT Pertamina (Persero) mencatatkan laba US$3,15 miliar sepanjang 2016. Angka ini meningkat 121,83 persen dari capaian tahun sebelumnya sebesar US$1,42 miliar. Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengatakan, capaian laba ini diperoleh bukan karena meningkatnya pendapatan perusahaan. Karena nyatanya, pendapatan usaha Pertamina malah anjlok 12,62 persen dari US$41,76 miliar di tahun 2015 ke angka US$36,49 miliar di tahun lalu karena penurunan harga minyak dunia.

"Penurunan harga minyak memang menekan pendapatan. Namun di akhir tahun, harga minyak sempat meningkat bahkan mencapai level US$55 per barel," ujar Arief, Kamis (16/3). Lebih lanjut ia menuturkan, perbaikan laba ini disebabkan oleh efisiensi beban operasional yang mencapai US$2,67 miliar pada tahun lalu. Sebagian besar efisiensi ini, lanjutnya berasal dari efisiensi sektor hulu migas yang mencapai US$1,27 miliar, atau 47,56 persen dari total penghematan.

Sayangnya, ia mengatakan bahwa Pertamina perlu menghentikan ketergantungan atas efisiensi. Pasalnya, basis kegiatan yang sekiranya bisa diefisiensi makin sedikit. Apalagi, penghematan ini sudah dilakukan sejak dua tahun belakangan. "Maka dari itu, efisiensi yang kami lakukan di tahun ini tercatat US$1 miliar, atau lebih kecil dibanding tahun sebelumnya," jelasnya.

Kendati peluang efisiensi makin sedikit, namun ia tidak khawatir. Ia beralasan, basis pendapatan Pertamina sudah cukup kuat. Hal ini terlihat dari kenaikan produksi hulu migas yang naik 7 persen, kenaikan yield produk pengolahan, dan kenaikan penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 2,5 persen. Apalagi rencananya, Pertamina akan menambah kontribusi pendapatan dari sektor hulu dari 30 persen menjadi 50 persen dari total pendatan perseroan di tahun ini.

"Yang penting, fundamental Pertamina sudah semakin kuat. Tentunya diperlukan berbagai inovasi lain agar laba perusahaan bisa semakin membaik di tahun ini," pungkas Arief. Lebih lanjut, Direktur Gas Pertamina Yenni Andayani menambahkan, setidaknya margin pendapatan sebelum pajak, bunga, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perusahaan juga perlu diperhatikan.

Menurutnya, margin EBITDA adalah indikator finansial keuangan paling utama dibanding angka pendapatan. Pasalnya, margin EBITDA mencerminkan upaya perusahaan dalam menciptakan kinerja keuangan yang sehat. Sebagai informasi, margin EBITDA tahun 2016 berada di angka 20,76 persen. Angka ini membaik dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 12,28 persen.

"Yang paling utama, margin EBITDA terus membaik sejak 2014. Ini menunjukkan bahwa Pertamina melakukan program efisiensi yang mendukung hasil finansial yang baik," imbuh Yenni. Direktur Utama PT Pertamina (Persero) terpilih, Elia Massa Manik mengatakan siap diberhentikan jika dirinya kedapatan tidak berlaku profesional.

Ia menyatakan, jika ia berlaku tidak profesional, maka itu artinya telah menyia-nyiakan kepercayaan pemerintah kepadanya untuk menjadi orang nomor satu di perusahaan minyak pelat merah tersebut. Di samping itu, Elia mengatakan, profesionalisme merupakan bagian utama dari rekam jejak karirnya. Maka dari itu, ia menegaskan bahwa penunjukkan dirinya tidak ada sangkut pautnya dengan konflik kepentingan beberapa pihak.

"Kalau ditanya, saya tidak berafiliasi dengan partai apa pun. Bagi yang sudah tahu track record saya, saya memang dari dulu profesional."  "Saya kira komitmen itu saya pegang, dan saya pun tidak suka menumpang hidup dari perusahaan bagus seperti Pertamina. Kalau saya melenceng, silahkan ditegur. Kalau perlu (saya) dipecat saja," jelas Elia di kantor pusat Pertamina, Kamis (16/3).

Berangkat dari hal tersebut, ia mengatakan bahwa segala pihak yang berada di dalam struktur Pertamina harus bertindak profesional. Dengan kata lain, seluruh unsur yang berada di Pertamina harus bebas dari konflik kepentingan.

"Kerja tim yang solid itu kuncinya tidak boleh ada vested interest, termasuk di antara para direksi. Oleh karenanya, tantangannya tentu menciptakan kondisi Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih holisitik sehingga bisa bersaing dengan kemampuan manajerial lain yang jauh lebih baik," tambah Elia.

Apalagi menurutnya, sikap profesionalisme di dalam Pertamina sangat dibutuhkan mengingat posisinya sebagai perusahaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Ia berujar, upaya kemandirian energi nasional yang diemban Pertamina sangat krusial dan berdampak besar di segala kegiatan perekonomian nasional.

"Sektor energi ini sangat menantang dari sisi industri. Selain itu, kalau lihat dari makroekonomi, kemandirian ekonomi energi ini salah satu permasalahan paling utama. Tinggal bagaimana caranya menyediakan kuantitas energi yang cukup dengan biaya (penyediaan energi) yang lebih efisien," pungkas Elia.

Sebagai informasi, pemerintah akhirnya menunjuk Elia sebagai bos baru Pertamina menggantikan Dwi Soetjipto yang diberhentikan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 3 Februari 2017 silam. Keputusan pengangkatan Elia ini diputuskan pada RUPS tertanggal 16 Maret 2017 dan melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Nomor SK-52/MBU/02/2017.

Monday, February 20, 2017

Freeport Buktikan Ancaman Dengan Mulai Lakukan Gelombang PHK

Freeport-McMoran Cooper & Gold Inc., perusahaan induk dari PT Freeport Indonesia (PTFI), secara resmi menyatakan telah mengubah status 12 ribu dari total 32 ribu pekerja PTFI, dari pekerja tetap menjadi pekerja kontrak mulai pekan ini. Chief Executive Officer Freeport-McMoran Richard Adkerson mengatakan, keputusan ini terpaksa dilakukan perusahaan bersamaan dengan rencana penghentian masa produksi dalam 10 hari ke depan.

"Saya sedih menghadapi kenyataan ini. Kami lakukan ini bukan karena bernegosiasi dengan pemerintah tapi terpaksa agar bisnis bisa berjalan secara finansial," ujar Adkerson saat konferensi pers di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (20/2). Tak hanya mengubah kontrak sekitar 12 ribu pekerjanya, PTFI juga akan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sekitar 10 persen pekerjanya mulai pekan depan.

"Pengurangan karyawan kira-kira di bawah 10 persen, di bawah (jumlah) ekspatriat kami yang bekerja. Ekspatriat kami hanya di bawah 10 persen," jelas Adkerson.  Adkerson memastikan, perusahaan tak hanya melakukan PHK kepada pekerja dalam negeri yang menyedot porsi sekitar 98 persen dari total seluruh pekerja PTFI, namun PHK juga diberlakukan terhadap pekerja asing yang bekerja di Tambang Gresberg, Papua.

Adapun pengurangan jumlah tenaga kerja berbanding lurus dengan pengurangan produksi sebanyak 60 persen yang dilakukan PTFI dan rencana penghentian operasional dalam 10 hari ke depan. "Kalau tidak bisa jual 60 persen produk Anda, bagaimana bisa bekerja? Akibatnya, kami turunkan operasional sangat tajam," imbuh Adkerson. Pasalnya, sejak 12 Januari lalu, pemerintah resmi menghentikan rekomendasi izin ekspor kepada PTFI. Alhasil, perusahaan tak bisa memasarkan hasil tambangnya ke luar negeri sehingga pasokan di dalam negeri terlampau banyak.

Sementara, fasilitas pemurnian atau smelter milik PTFI, yakni PT Smelting Gresik di Jawa Timur hanya mampu menampung sekitar 40 persen dari total produksi dari Tambang Grasberg.  "Kami produksi sedikit bijih untuk pasokan pile dan kami lakukan sedikit kegiatan tambang untuk melindungi operasional dan tambang bawah tanah. Kami juga lakukan kegiatan untuk menjaga lingkungan sekitar tambang," katanya.

Belum lagi, menurut PTFI, sejak izin ekspor dihentikan pemerintah, dua kapal pengangkut konsentrat terpaksa tak dapat menuju Gresik karena tak cukupnya kapasitas smelter dan adanya aksi mogok kerja dari karyawan PTFI.  Untuk itu, PTFI meminta pemerintah kembali memberikan izin rekomendasi ekspor terhadap PTFI, namun menyesuaikan ketentuan hukum dan fiskal yang berlaku dalam Kontrak Karya (KK) bukan berdasarkan ketentuan status Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang mengenakan ketentuan pajak berubah-ubah (prevailing).

"Kami tidak bermaksud mendikte pemerintah. Kami terus berupaya bekerjasama dengan pemerintah," tutup Adkerson. PT Freeport Indonesia belum mengajukan Surat Persetujuan Ekspor (SPE) kepada Kementerian Perdagangan (Kemendag) meskipun rekomendasi ekspor konsentrat telah dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pekan lalu.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendah Oke Nurwan menuturkan, selain Freeport perusahaan lain yang telah mendapat restu Kementerian ESDM untuk melakukan ekspor tapi belum mengajukan SPE adalah PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). "Sampai Jumat (17/2) kemarin, tidak ada pengajuan SPE dari kedua perusahaan tersebut," kata Oke, dikutip dari kantor berita Antara, Senin (20/2).

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan telah menerbitkan Izin Rekomendasi Ekspor untuk Freeport dan AMNT, yang berlaku hingga satu tahun kedepan untuk izin ekspor mineral mentah. Rekomendasi ekspor tersebut dikeluarkan berdasarkan surat permohonan Freeport bernomor 571/OPD/II/2017, tanggal 16 Februari 2017. Sementara rekomendasi ekspor bagi AMNT dikeluarkan berdasarkan surat permohonan Nomor 251/PD-RM/AMNT/II/2017, tanggal 17 Februari 2017.

Volume ekspor yang diberikan untuk Freeport adalah sebesar 1.113.105 Wet Metric Ton (WMT) konsentrat tembaga, berdasarkan Surat Persetujuan Nomor 352/30/DJB/2017, tertanggal 17 Februari 2017. Pemberian izin berlaku sejak tanggal 17 Februari 2017 sampai dengan 16 Februari 2018.

Sementara untuk AMNT, diberikan volume ekspor sebesar 675 ribu WMT konsentrat tembaga berdasarkan Surat Persetujuan Nomor 353/30/DJB/2017, pada tanggal dan untuk jangka waktu serupa dengan Freeport. Seperti diketahui Freeport telah menghentikan kegiatan produksi sejak 10 Februari 2017 akibat pemerintah mensyaratkan perusahaan yang ingin tetap mengekspor mineral, harus mengantongi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) sebagai pengganti Kontrak Karya (KK).

Manajemen Freeport sendiri telah menyampaikan keberatannya atas syarat tersebut. Pasalnya pemegang IUPK diwajibkan untuk melakukan divestasi hingga 51 persen, yang berarti kendali perusahaan bukan lagi di tangan mereka. Bahkan, Freeport juga berencana untuk menggugat pemerintah ke Arbitrase Internasional.

Jonan pada Sabtu (18/2) menegaskan, wacana Freeport mengajukan persoalan kontrak ke arbitrase merupakan hak perusahaan tersebut. Langkah arbitrase, menurut Jonan, jauh lebih baik daripada selalu menggunakan isu pemecatan pekerja sebagai alat menekan pemerintah. "Korporasi global selalu memperlakukan karyawan sebagai aset yang paling berharga dan bukan sebagai alat untuk memperoleh keuntungan semata," ujar Jonan.

Sementara itu, Freeport McMoRan Inc, induk perusahaan PT Freeport Indonesia, menilai pemerintah Indonesia telah memutuskan Kontrak Karya (KK) yang ditandatangani pada 1991 secara sepihak dengan mengubah statusnya menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Presiden dan CEO Freeport McMoRan Inc Richard C. Anderson dalam jumpa pers di Jakarta, Senin, mengaku pihaknya tidak dapat melepaskan hak-hak hukum yang diberikan dalam Kontrak Karya 1991 silam. Perjanjian itu menyebutkan bahwa Freeport mendapatkan hak yang sama sebagaimana diatur dalam Kontrak Karya.

Berdasarkan catatan Freeport, melalui Kontrak Karya, perusahaan tersebut telah menginvestasikan US$12 miliar dan sedang melakukan investasi US$15 miliar dengan menyerap 32 ribu tenaga kerja Indonesia. Pemerintah juga disebutnya telah menerima 60 persen manfaat finansial langsung dari operasi Freeport. Pajak, royalti dan dividen yang dibayarkan kepada pemerintah sejak 1991 telah melebihi US$16,5 miliar. Sedangkan Freeport McMoRan telah menerima US$108 miliar dalam bentuk dividen.

Richard Adkerson, Chief Executive Officer Freeport-McMoran Inc. mengaku tengah mencari Presiden Direktur PT Freeport Indonesia untuk menggantikan posisi Chappy Hakim yang mengundurkan diri dari jabatannya pekan lalu. "Kami masih mencari penggantinya," kata Adkerson, Senin (20/2). Menurut Adkerson, saat Freeport mengumumkan pengunduran diri Chappy pada Sabtu (18/2) dan menerimanya kembali sebagai penasihat perusahaan, hal tersebut merupakan keputusan dari Chappy sendiri.

“Tidak ada yang salah. Ini hanya keputusan Bapak Chappy yang menginginkan waktu lebih banyak. Kami senang bekerja sama dengan beliau, dan ini adalah keputusan berat," ujarnya. Sebagai informasi, Chappy menduduki kursi Presiden Direktur Freeport sejak November 2016. Ia menggantikan Maroef Sjamsoeddin yang mengundurkan diri pada bulan Januari 2016 silam.

Kemunduran ini diduga terjadi usai kisruhnya beberapa waktu lalu dengan anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Hanura, Mukhtar Tompo. Sebagai buntut kisruh, Komisi VII DPR mendesak manajemen Freeport memecat Chappy. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menilai manajemen PT Freeport Indonesia (PTFI) tak pernah puas dan sepaham dengan ketentuan baru yang diberlakukan pemerintah.

Oleh karenanya dalam pertemuan terakhir dengan perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS), pemerintah telah memutuskan untuk memberi tiga opsi kepada PTFI. Pertama, PTFI harus mengikuti ketentuan yang telah dirumuskan oleh pemerintah dengan keistimewaan untuk terus berunding dalam membahas kepastian stabilitas investasi PTFI di dalam negeri.

"Stabilitas ini saya bilang perlu karena ada di Kontrak Karya (KK),” kata Jonan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin (20/2). Kedua, PTFI harus mengikuti ketentuan pengubahan KK menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Jika mengikuti ketentuan ini, PTFI akan resmi diberikan izin rekomendasi ekspor yang memberi manfaat bagi keberlangsungan bisnis PTFI.

Hanya saja, sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 1 Tahun 2017 dan dua Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 5 dan Nomor 6 Tahun 2017, disebutkan bahwa perusahaan tambang yang telah berstatus IUPK tetap harus membangun fasilitas pemurnian atau smelter dalam jangka waktu lima tahun.  Untuk poin kedua ini, Jonan menyebutkan bahwa PTFI sempat berkilah bahwa perusahaan membutuhkan perpanjangan kontrak agar dapat meneruskan investasi di tambangnya dan membangun smelter.

Kegiatan produksi Freeport di tambang Grasberg, Papua. (Dok. Akun Facebook Freeport Indonesia). "Mau perpanjang investasi, kami kasih juga. Boleh lima tahun sebelumnya, setelah itu bahas divestasi. Kami juga sudah terbitkan izin ekspornya, Jumat (17/2) lalu," jelas Jonan. Ketiga, bila PTFI tak juga menyepakati berbagai revisi aturan dari pemerintah, PTFI boleh mengajukan keberatannya sesuai dengan konstitusi hukum yang berlaku.

Adapun Jonan memastikan, sebenarnya pemerintah memberikan masa waktu untuk PTFI memikirkan hal-hal ini selama enam bulan sejak izin ekspor diberikan, yakni sejak Jumat lalu (17/2), sembari menyesuaikan aturan dengan UU yang ada. Sayangnya, PTFI tetap bersikeras mempersingkat masa berpikir ulang terhadap seluruh aturan pemerintah dan memberi waktu kepada pemerintah untuk mempertimbangkan keberatan PTFI selama 120 hari saja sejak Jumat lalu juga.

"Kalau itu terserah, kan pemerintahnya saja. Terserah mereka," celetuk Jonan.

Namun, rumitnya hubungan bisnis antara pemerintah dan PTFI rupanya tak membuat Jonan geram dan berpikir untuk memutus kerja sama dengan PTFI melalui pencabutan status PTFI sebagai perusahaan strategis nasional. Pasalnya, Jonan masih yakin, persoalan ini lebih merujuk pada bisnis sehingga diskusi antar kedua pihak bisa jadi solusinya.

Muhammadiyah, organisasi Islam di Indonesia, meminta pemerintah menyetop arogansi PT Freeport Indonesia, perusahaan tambang afiliasi Freeport McMoran Copper & Gold Inc. Sikap arogansi Freeport dinilai tercermin jelas lewat penolakan perusahaan terhadap perubahan Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).

"Saya berharap, presiden melalui Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan tidak kalah dan mengalah dengan arogansi Freeport kali ini. Publik mendukung penuh upaya pengembalian sumber daya alam Indonesia sepenuhnya untuk kepentingan rakyat Indonesia," ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, seperti dikutip ANTARA, Senin (20/2).

Ia mengaku, menyesalkan sikap arogansi Freeport yang menolak menjadi IUPK. Selama ini, pemerintah selalu kalah melawan Freeport terkait kontrak karya. Bahkan, hilirisasi sesuai Undang-undang Minerba Nomor 4 Tahun 2009 belum dilaksanakan. Ini berarti, Freeport telah mengabaikan UU yang berlaku di Indonesia.

Makanya, Muhammadiyah mendorong Menteri ESDM untuk mengambil langkah menyetop arogansi Freeport. Sikap pemerintah akan menjadi legacy bagi masa depan pengolahan SDA Indonesia. "Jadi, pemerintah harus menunjukkan bahwa kita adalah negara berdaulat, dan upaya hilirisasi terhadap pengelolaan SDA harus betul-betul dilaksanakan. Kalau pun tidak dieksplorasi saat ini, akan sangat bermanfaat bagi generasi selanjutnya di masa yang akan datang," imbuh Dahnil.

Ia juga berharap, pemerintah menghentikan perspektif ekonomi myiopic alias rabun jauh yang gemar mengeksploitasi. Sehingga, melupakan kebutuhan di masa depan. Lebih lanjut Adian Napitupulu, Anggota DPR Komisi VII menegaskan, perlakuan istimewa yang diberikan kepada Freeport sejak 1967 silam, harus segera dihentikan. Menurutnya, KK adalah sejarah masa lalu yang tidak perlu diteruskan.

"Keberanian dan konsistensi pemerintah untuk menegakkan amanat UU, mulai dari divestasi saham 51 persen, perubahan KK menjadi IUPK, meningkatkan penggunaan produk dalam negeri dalam proses produksi, membangun smelter, PPh Badan, PPN, menunjukkan siapa sesungguhnya yang menjadi tuan atas seluruh tersebut," ungkap Adian.

Indonesia, ia menyatakan, tidak anti investor asing. Namun, siapapun investornya diharapkan tidak tamak dan berlaku adil. Hal ini juga berlaku bagi Freeport. Apabila Freeport tidak mau berlaku adil, tidak salah jika pemerintah mengambil sikap tegas melalui keputusannya hari ini. "Pilihan Freeport hari ini cuma dua. Pertama, patuh dan menghormati UU Minerba dan pada segala peraturan turunannya, PP 1 Tahun 2017. Kedua, jika Freeport keberatan, segera berkemas dan cari tambang emas di negara lain," tegas Adian.

Freeport-McMoran Inc., perusahaan induk PT Freeport Indonesia (PTFI) berniat menempuh jalur peradilan internasional atau arbitrase. Jika dalam 120 hari ke depan sejak pertemuan terakhir PTFI dengan pemerintah pada Jumat (17/2), tak juga menemukan kata sepakat terkait aturan izin rekomendasi ekspor dengan ketentuan status Kontrak Karya (KK).

Menanggapi hal ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan justru menyikapi tekanan dari perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS) itu dengan santai. Sekaligus siap meladeni Freeport-McMoran dan PTFI bila serius melenggang ke arbitrase untuk menyelesaikan hal ini.

Bahkan, mantan Menteri Perhubungan itu menyebutkan bahwa tidak hanya Freeport-McMoran dan PTFI yang memiliki hak untuk membawa ketidaksepahaman ini ke arbitrase. Namun pemerintah Indonesia juga bisa melaporkan lebih dulu masalah ini. "Saya kira Freeport itu badan usaha. Jadi, maunya berbisnis. Kalau berbisnis pasti ini dirundingkan. Mudah-mudahan mencapai titik temu," ujar Jonan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin (20/2).

"Kalau tidak mencapai titik temu, memang itu hak masing-masing untuk membawa ke arbitrase. Bukan hanya Freeport yang bisa membawa ke arbitrase, pemerintah juga bisa," imbuhnya.  Jonan mengatakan, sikap tegasnya ini lantaran pemerintah telah berupaya sedemikian rupa untuk memberi kemudahan bagi PTFI untuk menjalankan bisnisnya di Indonesia. Sedangkan di satu sisi, pemerintah juga tetap teguh menciptakan aturan yang tak melanggar Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).

Friday, September 9, 2016

Ini Dia Aturan Cost Recovery dan Pajak Yang Membuat Cadangan Migas Indonesia Habis

Dalam 3 pekan terakhir, Menko Kemaritiman sekaligus Plt Menteri ESDM, Luhut Binsar Panjaitan, terus mendorong revisi atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 Tahun 2010.  Selama ini, PP yang mengatur cost recovery dan pajak-pajak di hulu migas ini dinilai menghambat investasi. Terlalu banyak pajak yang dipungut sehingga investor malas mencari minyak di Indonesia.

Kalau aturan ini tak direvisi, didiamkan saja oleh pemerintah, apa dampaknya?

Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, mengungkapkan cadangan migas Indonesia, khususnya minyak, akan segera habis kalau tak ada terobosan-terobosan yang dilakukan pemerintah untuk mendorong kegiatan eksplorasi migas. Berdasarkan grafik perkiraan yang dibuat Kementerian ESDM, produksi minyak Indonesia yang saat ini 820.000 barel per hari (bph), akan merosot tajam hingga tinggal 550.000 bph di 2020, 247.000 bph di 2030, 128.000 bph di 2040, dan 77.000 bph di 2050.

"Produksi migas kita terus turun, tahun 2050 tinggal 70 ribu bph, padahal kebutuhan kita saat itu sudah tinggi sekali. Dengan pertumbuhan ekonomi sekarang 5,1 persen, konsumsi migas tumbuh 4 persen per tahun. Kita akan jadi importir minyak yang besar sekali," ujar Wirat, saat berdiskusi di Gedung Migas, Jakarta, Jumat (9/9/2016). Salah satu terobosan yang perlu dilakukan untuk mendorong penemuan cadangan-cadangan baru sekaligus menahan laju penurunan (decline) produksi migas nasional adalah merevisi PP 79/2010.

"Kita harus buat terbosan yang membuat industri migas kita lebih atraktif. Salah satunya dengan merevisi PP 79. Perlu dilakukan penyempurnaan untuk memberi kepastian hukum pada investor, baik soal cost recovery maupun perpajakan di hulu migas," dia menjelaskan.

Kalau kegiatan eksplorasi digenjot, Wirat yakin cadangan terbukti migas Indonesia bakal melonjak. Sebab, potensi migas di Indonesia sebenarnya masih besar. Hanya saja cadangan-cadangan itu ada di laut dalam dan daerah-daerah terpencil. Kalau tak ada terobosan, potensi-potensi itu kurang ekonomis untuk dikembangkan.

"Kalau dari potensinya, cekungan-cekungan kita sangat potensial mengandung hidrokarbon. Indonesia ini ibarat gadis cantik yang tidak dirias," tuturnya.  Revisi PP 79/2010 diyakini Wirat dapat meningkatkan minat investasi di sektor hulu migas Indonesia. Sebab aturan ini memang momok bagi kontraktor migas di Indonesia.

Menurut data Kementerian ESDM, jumlah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di Indonesia terus menurun semenjak keluarnya PP 79/2010. Pada 2013, jumlah KKKS masih 321, lalu berkurang menjadi 318 di 2014, 312 di 2015, dan tinggal 288 pada Juli 2016. Ini membuktikan bahwa iklim investasi hulu migas di Indonesia sangat tidak atraktif setelah ada PP 79/2010.

"Jumlah KKKS kita turun setelah ada PP 79/2010. Padahal saat itu (2010-2014) harga minyak tinggi, tapi KKKS di Indonesia malah berkurang, artinya kita tidak atraktif. Kita berharap (jumlah KKKS) menanjak lagi setelah revisi PP 79. Kalau ada banyak KKKS, kemungkinan kita menemukan cadangan baru lebih besar," papar Wirat.

Dirinya berharap draft revisi PP 79/2010 yang akan segera diajukan pada Presiden Joko Widodo (Jokowi) disahkan. "Revisi PP 79 terus bergulir. Terima kasih atas kepemimpinan Pak Luhut yang sangat concern dengan hal ini. Eksplorasi migas harus masif, Presiden sudah memberi arahan," pungkasnya.

Revisi Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2010 (PP 79/2010) sudah di depan mata. Selama 3 minggu menjadi Plt Menteri ESDM, Luhut Binsar Panjaitan, terus menggenjot perombakan aturan ini. Hasil revisi tinggal difinalisasi dan sebentar lagi diserahkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk disahkan.  PP 79/2010 yang mengatur cost recovery dan pajak-pajak di hulu migas ini dinilai menghambat investasi. Terlalu banyak pajak yang dipungut sehingga investor malas mencari minyak di Indonesia.

Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, mengungkapkan dalam draft terakhir revisi PP 79/2010 dibuat ketentuan baru, kontraktor migas mendapat insentif tax holiday pada saat kegiatan eksplorasi migas. Dengan begitu, tidak akan ada lagi pajak yang harus dibayar pada saat mencari minyak di Indonesia.

"Ada prinsip-prinsip pemberlakuan insentif khusus pada saat kegiatan eksplorasi hulu migas. KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) kan belum dapat uang (saat eksplorasi), jadi jangan ada pajak. Kita usulkan saat eksplorasi diberi tax holiday, jadi tidak kena pajak sama sekali," kata Wirat, saat diskusi di Gedung Migas, Jakarta, Jumat (9/9/2016).

Untuk mendorong kegiatan eksplorasi migas, dalam revisi atas PP 79/2010 juga diberlakukan prinsip Block Basis di blok-blok yang sudah berproduksi. Biaya investasi untuk kegiatan eksplorasi di lokasi yang masih dalam satu Wilayah Kerja (WK/blok) bisa diklaim sebagai cost recovery yang harus diganti negara. "Untuk KKKS yang sudah punya WK, berlaku prinsip Block Basis," ucapnya.

Selama ini, kontraktor hanya dapat meminta cost recovery untuk biaya yang dikeluarkannya di lapangan yang sudah berproduksi. Prinsip ini disebut Plan of Development (POD) Basis, yakni cost recoveryberdasarkan biaya yang dikeluarkan untuk pengembangan di 1 lapangan. Biaya untuk eksplorasi, meski masih dalam 1 blok, tidak dapat diklaim kepada negara kalau belum menemukan cadangan migas dan memproduksinya.

Revisi PP 79/2010 juga memberi kepastian hukum pada kontraktor-kontraktor migas di Indonesia. Sebab, aturan hasil revisi menghormati kontrak bagi hasil (Profit Sharing Contract/PSC) yang sudah ditandatangani oleh kontraktor dan SKK Migas. PP 79/2010 memang kerap diprotes karena tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dalam PSC. "Hal-hal yang sudah ditetapkan dalam PSC kita hormati ujar Wirat.

Keuntungan lain yang ditawarkan kepada para KKKS lewat revisi PP 79/2010 adalah bagi hasil yang lebih fleksibel. Bagi hasil yang berlaku dalam PSC di Indonesia saat ini adalah 85% hasil produksi migas untuk negara dan 15% untuk kontraktor (85:15). Setelah PP 79/2010 dirombak, bagian kontraktor dapat diperbesar hingga 40%.

Saat harga minyak rendah seperti sekarang, bagian negara akan dipangkas hingga tinggal 60%. Tapi bagian negara akan kembali menjadi 85% saat harga minyak tinggi. "Ada insentif, bagian KKKS fleksibel. Bagian negara mungkin akan turun tapi iklim investasi kita jadi atraktif. Sesuai arahan Plt Menteri, migas ini penggerak perekonomian," papar Wirat.

Wirat berharap revisi PP 79/2010 dapat mendorong minat perusahaan-perusahaan migas untuk menggiatkan pencarian cadangan migas baru di Indonesia. Sebab tanpa adanya penemuan cadangan baru, Indonesia akan kehabisan minyak bumi dalam kurun waktu sekitar 10 tahun mendatang.

Cadangan terbukti minyak Indonesia tinggal 3,6 miliar barel, sementara konsumsi minyak per tahun mencapai 300 juta barel dan akan terus meningkat. Sebenarnya masih banyak cadangan minyak yang dimiliki Indonesia, tapi lokasinya di laut dalam dan tempat-tempat terpencil. Tanpa adanya terobosan-terobosan, eksplorasi cadangan-cadangan tersebut tidak ekonomis. Maka revisi PP 79/2010 amat mendesak.

"Jumlah KKKS kita turun setelah ada PP 79/2010. Padahal saat itu (2010-2014) harga minyak tinggi, tapi KKKS di Indonesia malah berkurang, artinya kita tidak atraktif. Kita berharap (jumlah KKKS) menanjak lagi setelah revisi PP 79. Kalau ada banyak KKKS, kemungkinan kita menemukan cadangan baru lebih besar," tutupnya.

Monday, September 5, 2016

Indofood dan Bumi Resources Paling Rendah Dalam Index Transparansi Antikorupsi

Riset Transparency International (TI) terbaru menyebutkan PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Bumi Resources Tbk memiliki skor paling rendah atas transparansi sebagai bagian dari program antikorupsi. Riset bertajuk Transparency in Corporate Reporting: Assessing Emerging Market Multinationals yang diluncurkan pada 11 Juli lalu, menganalisis 100 perusahaan di 185 negara berkembang. Indeks tertinggi mencapai 10, yakni sangat transparan dan 0 adalah paling tak transparan.

Terdapat tiga indikator dalam riset itu, yakni program antikorupsi, transparansi kepemilikan, serta penyediaan informasi finansial pada negara tempat beroperasi, dengan skor tertinggi adalah 100 persen. Indeks rata-rata seluruh perusahaan global mencapai 3,4. Khusus dua emiten di Indonesia, TI mencatat skor bervariasi untuk tiga indikator tersebut. PT Indofood Sukses, misalnya, mendapatkan skor 2,7 untuk indeks yang terdiri dari 0 persen (program antikorupsi); 75 persen (transparansi kepemilikan), dan 6 persen (penyediaan informasi finansial).

Sedangkan, PT Bumi Resources, memiliki total indeks 4,8. Komposisi skor atas tiga indikator adalah 62 persen (program antikorupsi); 81 persen (transparansi kepemilikan); dan 3 persen (penyediaan informasi finansial).  "Transparansi di level yang menyedihkan perusahaan besar menimbulkan pertanyaan. Berapa banyak sektor swasta peduli untuk setop korupsi, kemiskinan pada tempat di mana mereka beroperasi?" ujar Ketua TI Jose Ugaz dalam keterangan resminya.

PT Bumi Resources merupakan perusahaan yang dimiliki oleh pengusaha sekaligus politikus Aburizal Bakrie. Perusahaan yang kini beroperasi pada tambang batu bara itu masuk ke lantai bursa sejak 1990.  Sementara itu, saham terbesar PT Indofood Sukses, salah satu produsen terbesar mi instan itu dimiliki CAB Holdings Limited, yakni 50,07 persen. CAB merupakan anak usaha tak langsung dari First Pacific Company Limited yang dikontrol oleh pebisnis Anthoni Salim.

TI menyatakan program antikorupsi yang menjaga perusahaan menggunakan suap sebagai perkakas bisnis atau menyediakan mekanisme bagi pembocor korupsi, harus disediakan secara terbuka untuk publik. Hal itu, sambung Ugaz, untuk mengirimkan pesan yang jelas kepada pelanggan, karyawan, dan mitra bisnis bahwa perusahaan menolak praktik korupsi.

"Meskipun banyak perusahaan yang mengatakan mereka ingin perang terhadap korupsi, namun itu tak cukup. Aksi, berbicara lebih keras dibandingkan dengan kata-kata,” kata Ugaz. Rekomendasi TI terhadap perusahaan di antaranya adalah melakukan upaya lebih untuk transparansi, mengembangkan program antikorupsi terbaik secara terbuka, membuka informasi keuangan di tempat negara yang dijadikan operasi bisnis, dan melarang pembayaran atas fasilitas tertentu.

Sedangkan rekomendasi untuk regulator adalah memperkuat aturan soal korupsi, mensyaratkan perusahaan untuk membuka struktur kepemilikan perusahaan, dan meminta perusahaan membuka informasi finansialnya.

Wednesday, August 31, 2016

Dari Rugi Rp 396 Milyar, Antam Berhasil Raup Untung Rp 11 Milyar Dalam 6 Bulan

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 11 miliar pada semester I-2016. Padahal, di periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan masih mencatatkan kerugian sebesar Rp 396 miliar.

Perolehan laba bersih perseroan ini karena beban penjualan turun dari Rp 7,32 triliun menjadi Rp 4,042 triliun di semester I-2016. Beban usaha juga turun dari Rp 424 miliar ke Rp 370 miliar di semester I-2016.

"Dengan tantangan volatilitas harga komoditas di 1H16, kami telah mengambil kebijakan optimalisasi kinerja operasional dan inovasi pada upaya-upaya perolehan pendapatan kunci agar arus kas perusahaan tetap sehat. Dengan adanya peningkatan harga komoditas saat ini, kami optimistis untuk dapat memberikan tingkat profitabilitas dan imbal hasil yang baik kepada pemegang saham di tahun 2016," ujar Direktur Utama Antam Tedy Badrujaman dalam keterbukaan informasinya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (31/8/2016).

Di semester I-2016, penjualan bersih Antam tercatat Rp 4,16 triliun dengan komoditas emas menjadi kontributor terbesar dengan kontribusi 68% atau Rp 2,84 triliun. Feronikel menjadi kontributor terbesar kedua penjualan bersih Antam dengan nilai Rp 950 miliar atau 23% dari total penjualan.

Di semester I-2016, Antam menjual 5.392 kg emas, sementara volume penjualan feronikel tercatat sebesar 8.092 ton nikel dalam feronikel (TNi). Seiring dengan perkembangan industri smelter nasional dan adanya permintaan bijih nikel domestik, Antam telah melakukan penjualan bijih nikel untuk memenuhi kebutuhan bahan baku smelter nikel pihak ketiga.

Antam berharap produksi dan penjualan bijih nikel akan dapat lebih ditingkatkan. Sejalan dengan peningkatan volume produksi bijih nikel Antam untuk keperluan smelter pihak ketiga di dalam negeri, maka harga jual bijih nikel Antam akan semakin kompetitif dan akan semakin menguntungkan bagi smelter-smelter di dalam negeri.

Dengan jumlah cadangan dan sumber daya nikel sejumlah 988,30 juta wet metric ton (wmt) berdasarkan Competent Person Report per 31 Desember 2015, jumlah keseluruhan cadangan dan sumber daya nikel yang dimiliki Antam dapat menunjang rencana pengembangan bisnis dan operasi jangka panjang perusahaan.

Selain itu, Antam mampu untuk mensuplai seluruh smelter yang ada di dalam negeri. Dalam bisnis emas yang memberikan kontribusi terbesar pendapatan perusahaan, Antam tengah mengembangkan pasar ekspor emas untuk meningkatkan pendapatan perusahaan.

Beberapa pasar yang tengah dijajaki di antaranya Malaysia, Singapura, Uni Emirat Arab dan beberapa negara Afrika. Terkait perkembangan proyek pertumbuhan, konstruksi Proyek Pembangunan Pabrik Feronikel Haltim (P3FH) terus berjalan dengan baik setelah proses rights issue di akhir tahun 2015.

Sementara itu, progres P3FH yang akan selesai di tahun 2016 sudah mencapai 99,69%. P3FP akan meningkatkan kapasitas produksi feronikel dari 18.000-20.000 TNi menjadi 27.000-30.000 TNi per tahun. Untuk progres Proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR), Antam terus melanjutkan diskusi dengan PT Inalum (Persero) dan mitra strategis.

Sebelumnya, Antam dan PT Inalum (Persero) telah sepakat untuk membentuk perusahaan patungan, PT Inalum Antam Alumina guna pengembangan proyek SGAR.

Dlaam proyek Anode Slime & Precious Metal Refinery (PMR), Antam juga masih melanjutkan diskusi dengan PT Freeport Indonesia dan PT Smelting.

Pertamina Mulai Gali Minyak di Irak Untuk Diolah Jadi Premium di Singapura

PT Pertamina (Persero) dan Shell Eastern International Trading Company (SIETCO) menyepakati kerja sama pengolahan minyak mentah Basrah Crude asal Irak milik Pertamina. Kerja sama dilakukan dengan skema crude processing deal (CPD).

Penandatanganan kontrak CPD telah dilakukan pada Juni 2016. Hari ini, kontrak yang telah ditambah dengan adendum resmi diumumkan. Kilang Shell di Singapura akan mengolah minyak dari Lapangan West Qurna I di Irak, yang dikelola Pertamina dan ExxonMobil. Minyak bagian Pertamina, akan diolah di kilang Shell menjadi bensin RON 88 alias premium.

Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto, menjelaskan kerja sama ini dilakukan karena minyak mentah hasil produksi Pertamina di Irak tidak dapat diproses di kilang dalam negeri, spesifikasinya tidak cocok.  Tapi Pertamina lebih memilih untuk mengolah minyak di Singapura ketimbang menjualnya. Sebab, Pertamina bisa mendapatkan BBM dengan harga lebih murah ketimbang mengimpor BBM yang sudah jadi.

"Sebagaimana kita ketahui bahwa secara negara maupun secara perusahaan, kita selalu mendapat tekanan atas impor yang terlalu besar. Tentu ada upaya-upaya kita mengurangi impor. Sekarang ada potensi CPD, kita memanfaatkan crude Pertamina di Irak, target kita 1 juta barel BBM per bulan. Ini upaya kita mengurangi impor langsung," kata Dwi dalam konferensi pers, di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (31/8/2016).

SVP Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina, Daniel Purba, menambahkan sebelumnya Pertamina telah melakukan seleksi ketat untuk mencari mitra pengolahan minyak dari Irak. Akhirnya kilang Shell di Singapura yang terpilih.  Kerja sama ini, sambung Daniel, membuat volume impor BBM Indonesia makin berkurang. Pertamina pun memperoleh harga yang lebih efisien.

"CPD kita lakukan bekerja sama dengan Shell. Kita menghubung kilang-kilang di seluruh Asia Pasifik untuk menjajaki pengolahan minyak mentah Pertamina dari Irak. Sebelumnya minyak dari Irak kita pasarkan di internasional. Tapi daripada kita hanya jual saja, kenapa tidak kita masak di kilang di Asia Pasifik dan kita ambil untuk mengurangi pembelian BBM secara langsung?" dia menerangkan.

"Volume impor BBM yang terbesar adalah Premium RON 88. Skema CPD ini untuk mengurangi volume pembelian kita dari pasar Singapura sehingga demand di pasar internasional bisa berkurang. Ini salah satu inovasi kita untuk memperkuat suplai BBM di dalam negeri," pungkasnya.

PT Pertamina (Persero) dan Shell Eastern International Trading Company (SIETCO) yang berkedudukan di Singapura menyepakati kerja sama untuk pengolahan minyak mentah Basrah Crude milik Pertamina dengan skema crude processing deal (CPD).

Minyak yang diolah kilang Shell di Singapura tersebut berasal dari Lapangan West Qurna I di Irak. Lapangan tersebut dikelola bersama oleh Pertamina dan ExxonMobil. Minyak bagian Pertamina inilah yang diolah menjadi bensin RON 88 alias premium. Mengapa Pertamina tidak mengolah minyak tersebut di kilang-kilangnya sendiri saja? Atau mengapa tidak sekalian impor BBM saja?

Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto, menjelaskan bahwa spesifikasi minyak dari Irak tersebut tidak cocok dengan kilang-kilang di Indonesia.  "Minyak sour hasil produksi di Irak, Basrah Crude, belum dapat diproses di kilang dalam negeri," ujar Dwi dalam konferensi pers di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (31/8/2016).

Dwi menambahkan, pengolahan minyak milik Pertamina di kilang luar negeri ini hanya sementara saja. Pertamina sekarang sedang menjalankan 4 proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan pembangunan 2 Grass Root Refinery (GRR).  4 kilang yang dimodifikasi dan 2 kilang baru Pertamina nantinya dapat mengolah minyak mentah jenis Basrah Crude. "Dengan adanya RDMP dan GRR, Basrah Crude bisa kita olah," tuturnya.

Pihaknya memilih untuk mengolah saja minyak dari Irak di Singapura karena dengan begitu Pertamina bisa memperoleh BBM dengan harga lebih murah.  "Sudah tentu lebih efisien. Dalam proses tender terakhir disampaikan, minus alfa semakin tinggi. Lebih baik daripada kalau kita beli langsung BBM," paparnya.

SVP Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina, Daniel Purba, menambahkan bahwa bensin RON 88 hasil olahan kilang Shell di Singapura ini harganya lebih murah 15% dibanding yang diimpor langsung oleh Pertamina.  "Melalui CPD ini kurang lebih perbaikannya sekitar 15%," ucap Daniel.

Kontrak kerja sama pengolahan dengan Shell ini berlangsung hingga Desember 2016. Berkat kerja sama ini, kata Daniel, impor BBM jenis premium berkurang dari 7 juta barel per bulan menjadi hanya 6 juta barel per bulan. "Periode kontrak Juli-Desember. Kita sudah sepakat sejak akhir Juni. Crude ini memang dari Irak, untuk Juli-Agustus kita ambil sekitar 1 juta barel premium. Ini 15% dari total impor kita, jadi kita mengurangi pembelian langsung sebesar 15%. Memang kurang begitu signifikan, tapi pasti berdampak pada harga di pasar Singapura," tutupnya.