Pages - Menu

Showing posts with label konsultasi. Show all posts
Showing posts with label konsultasi. Show all posts

Sunday, August 23, 2020

Cara Memilih Saham Untuk Dibeli Saat Kondisi Ekonomi Memburuk

Berbagai analis memproyeksikan perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan ini cenderung terbatas dan datar (sideways). Masa sideways sendiri kerap muncul saat pasar modal tengah sepi penopang. Kondisi tersebut menimbulkan keraguan di kalangan investor untuk bertransaksi.

Dalam masa seperti ini, Pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo menyarankan untuk memantau sektor yang tergolong tangguh. Salah satunya, sektor perkebunan.

Sektor itu dinilainya mampu tumbuh meski sentimen negatif mendominasi pergerakan indeks. Pasalnya, sektor terkait memiliki daya ungkit yang kuat karena produk yang dipasarkan menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.

"Sektor perkebunan menjadi pilihan karena mampu mengatasi sentimen negatif yang ada. Sebab, daya ungkit sektor berhubungan dengan salah satu prinsip ekonomi mendasar yaitu pangan," ucapnya, Senin (24/8).

Ketika berbagai kebutuhan sekunder dapat ditunda, Lucky menyebut kebutuhan pangan tak dapat dikompromikan. Ini tercermin dari kinerja kinclong saham-saham utama perkebunan seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).

AALI berhasil tumbuh 62,95 persen dalam 3 bulan terakhir. Pada perdagangan penutupan pekan lalu, Rabu (19/8), emiten mendarat di posisi Rp10.225 per saham atau menguat 0,49 persen sepanjang pekan.

Meski sempat bertengger di Rp4.140  yang merupakan level terendahnya akibat virus corona pada Maret lalu, emiten menunjukkan pertumbuhan yang konsisten hingga menembus level Rp10 ribu pada awal Agustus.

Pendiri LBP itu meramal emiten masih berpotensi menguat dan kembali ke posisinya pada awal 2020 yang di level Rp14 ribu. Kalau proyeksi benar menjadi kenyataan, potensi cuan investor bisa mencapai hingga 40 persen.

"Saham sektor perkebunan masih memperoleh apresiasi cukup baik dan memiliki potensi (tumbuh)," lanjut dia.

Melihat kinerja perusahaan pada kuartal I 2020, AALI mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 13,3 persen dari Rp4,23 triliun menjadi Rp4,8 triliun jika dibandingkan periode sama 2019.

Seiring, laba bersih AALI dilaporkan sebesar Rp371,06 miliar atau meroket ratusan kali lipat dibandingkan periode sama 2019 yakni Rp37,41 miliar.

Melonjaknya laba bersih AALI didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata minyak sawit sebesar 45 persen menjadi Rp 9.037 per kilogram (Kg) dibandingkan harga sawit pada tahun sebelumnya.

Melesatnya kenaikan laba juga ditopang oleh turunnya beban pokok perusahaan dari Rp7,97 triliun menjadi Rp7,77 triliun atau 2,5 persen pada periode perbandingan sama. Efisiensi juga dilakukan untuk memangkas beban lainnya seperti beban penjualan dan beban pendanaan.

Dari sisi aset,  AALI mencatatkan total aset mencapai Rp27,3 triliun yang terdiri dari aset lancar sebesar Rp5,6 triliun dan aset tidak lancar Rp21,7 triliun per akhir Maret 2020.

Sementara, total utang dilaporkan senilai Rp8,06 triliun dengan komposisi utang jangka pendek Rp1,52 triliun dan utang jangka panjang sebesar Rp6,54 triliun.

Lucky menambahkan penting bagi investor untuk melakukan pengecekan terhadap harga komoditas yang diperjualbelikan perusahaan. Sebab, kinerja saham sangat bergantung dengan harga pasaran komoditas terkait.

"Mayoritas harga komoditas melalui pasar berjangka saat ini menguat, mayoritas mengalami kenaikan dan ini menjadi salah satu indikator harga acuan komoditas dunia dan menjadi sinyal dari prospek investasi," terangnya.

Ia merekomendasikan beli AALI dengan harga target Rp10.940.

Sebagai pilihan lainnya, LSIP juga dapat dijadikan referensi beli. Mengutip RTI Infokom, emiten menguat 35,86 persen selama 3 bulan terakhir, mendarat ke level 985 pada penutupan pekan lalu.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya menuturkan jelang cairnya bantuan tunai langsung (BLT) pekerja di bawah Rp5 juta pada akhir Agustus mendatang, sektor konsumer juga bisa dilirik.

Dengan adanya stimulus transfer tunai ini, Hariyanto menilai target pemerintah menggenjot konsumsi bakal tercapai. Sebab, penerima adalah kalangan pekerja pas-pasan yang memang membutuhkan uang tambahan selama pandemi covid-19.

Diketahui, pemerintah menggelontorkan dana sebesar Rp37 triliun dalam program BLT pekerja formal yang terdaftar di BPJamsostek. Bantuan akan diberikan kepada 15,72 juta pekerja sebesar Rp600 ribu selama 4 bulan. Program diberikan kepada pekerja bergaji rendah demi merangsang konsumsi masyarakat.

Oleh karena itu, Hariyanto merekomendasikan saham-saham konsumer seperti PT Unilever Indonesia TBK (UNVR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM).

Namun, ia tak mematok harga target atas saham-saham pilihannya tersebut.

"Kami pikir saham-saham di sektor konsumsi pokok (consumer staples) dan rokok akan diuntungkan," ucap dia seperti dikutip dari risetnya.

Monday, November 6, 2017

Penurunan Konsumsi Masyarakat Per Industri Tahun 2017

Badan Pusat Statistik (BPS) memastikan, daya beli masyarakat Indonesia mengalami perlambatan di triwulan III-2017, lantaran adanya perubahan pola konsumsi yang telah terjadi sejak triwulan III-2016. Hal tersebut tercermin dari tingkat konsumsi rumah tangga pada triwulan III-2017 yang berada di level 4,93%, turun tipis dibandingkan triwulan I-2017 yang sebesar 4,95%, dan triwulan II-2017 sebesar 4,94%.

"Yang pertama pergeseran pola konsumsi dari non leisure ke leisure, jadi kalau diperhatikan, sejak triwulan III-2016, kalau bicara pendapatan, pendapatan kan tetap, yang terlihat di sana, konsumsi non leisure sudah mulai ke bawah sejak triwulan III-2016," kata Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto, di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (6/11/2017).

Pertumbuhan ekonomi di triwulan III-2017 ini sebesar 5,06%. Berdasarkan struktur menurut pengeluarannya, konsumsi rumah tangga sebesar 4,93%, PMTB sebesar 7,11%, ekspor 17,27%, konsumsi pemerintah 3,46%, konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 6,01%, dan impor sebesar 15,09%. Khusus konsumsi rumah tangga, Suhariyanto mengatakan, perlambatan terjadi pada  
  • Makanan dan minumanan di triwulan III-2017 yang hanya tumbuh 5,04% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya 5,23%. 
  • Pakaian, alas kaki, dan jasa perwatannya terjadi perlambatan yang tumbuh melambat menjadi 2,00% dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 2,24%. 
  • Perumahan dan perlengkapan rumah yang tumbuh melambat menjadi 4,14%.
Sementara untuk komponen kesehatan dan pendidikan naik tipis menjadi 5,38% di triwulan III-2017 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 5,36%, lalu komponen restoran dan hotel menjadi 5,52% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,01%.

"Restoran dan hotel, ada kenaikan konsumsi makanan, kalau ditelusuri lebih dalam ada kecenderungan masyarakat lebih bergesar ke non leisure ke leisure, itu kuat, karena untuk yang leisure lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya, demikian juga dari rata-rata penghunian tingkat hotel," jelas dia.

Meski demikian, pria yang akrab disapa Kecuk ini mengungkapkan, pergeseran pola konsumsi ini perlu diwaspadai hingga akhir tahun, meskipun kontribusi leisure atau kesenangan ini masih kecil. "Konsumsi ini perlu di waspadai, sekarang untuk share triwulan III-2017 kalau kita lihat pergerakannya signifikan atau tidak, ya memang belum tinggi amat kenaikannya, sharenya masih 14-15%, peningkatan waktu ke waktu menunjukan tren meningkat terus," tukas dia

Sunday, May 8, 2016

Jokowi Umumkan Biaya Notaris Maksimal 1 Juta dan Harus Selesai 1 Hari

Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru saja mengeluarkan Paket Ekonomi Jilid XII, yang berisi rangkaian aturan terkait kemudahan usaha. Salah satu poin pentingnya adalah memberikan layanan perizinan yang cepat dan murah. Salah satu perizinan murah yang termuat dalam paket kebijakan tersebut adalah, Pembuatan Akte Pendirian Usaha di Kantor Notaris yang dipatok maksimal Rp 1 juta.

Namun bagaimana pelaksanaannya di lapangan?

"Biayanya itu tergantung kantor notarisnya. Berapa biayanya biasanya mereka punya standar sendiri-sendiri," ujar petugas pelayanan di Ditjen Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum dan HAM. Tak puas dengan jawaban itu, bertemu dengan seorang warga bernama Anggita yang sedang mengurus pendirian Perseroan Terbatas (PT) untuk usaha rumah makan yang akan didirikannya di wilayah Depok, Jawa Barat.

"Biayanya masih mahal, sekitar Rp 8 juta. Ini saya sedang mengurus akta pendirian usaha di Depok. Biaya notarisnya nggak Rp 1 juta," ujar dia, Sabtu akhir pekan lalu. Biaya Rp 8 juta tersebut, kata Gita, merupakan hasil negosiasi dengan Kantor Notaris yang membantunya mendirikan PT untuk usaha rumah makannya. Menurutnya, biaya itu akan digunakan kantor notaris untuk mengurus seluruh kelengkapan dokumen pembuatan akta.

"Saya dijelaskan, untuk kelengkapan akta itu kan butuh urus pemesanan dan penetapan nama perusahaan, lalu biaya pembuatan aktanya itu sendiri, pembuatan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), mengurus izin domisili dan sebagainya. Jadi biayanya untuk itu," tutur dia.

Sekedar informasi, saat mengurus akta pendirian usaha di kantor notaris sesuai domisili, ada sejumlah dokumen yang perlu disertakan, yakni nama perusahaan yang diurus dan disahkan di Kementerian Hukum dan HAM. Data pribadi pendiri perusahaan meliputi KTP dan NPWP, di mana NPWP dapat dengan mudah diurus di Kantor Pajak terdekat tanpa biaya.

Waktu pembuatan akta pendirian usaha pun masih belum sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam paket kebijakan yang hanya 1 hari. "Sepertinya nggak begitu (1 hari kerja). Di kantor notarisnya juga bilang di awal kalau lamanya sekitar 2-3 hari kalau dokumen lengkap. Tapi ini saya masih terkendala di izin domisili, jadi akta pendirian usaha saya belum jadi," tutur Gita.

Gita mengharapkan, paket kebijakan yang dikeluarkan Presiden Jokowi tidak hanya ramai di media saja. Namun ada upaya nyata agar paket-paket aturan tersebut bisa benar-benar dilaksanakan, sehingga kemudahan berusaha bisa benar-benar dijalankan. Seperti diketahui, paket kebijakan ekonomi jilid XII bertujuan memudahkan UKM untuk memulai usahanya.

Dalam daftar paket tersebut dipaparkan, sejumlah perubahan indikator memulai usaha (starting a business) di Indonesia. Salah satu yang disinggung dalam paket kebijakan tersebut adalah biaya dan lama pembuatan akta pendirian perusahaan perseroan atau PT oleh notaris dari sebelumnya 2 hari kerja dengan biaya Rp 4-5 juta menjadi hanya 1 hari kerja dengan biaya maksimal Rp 1 juta untuk satu PT.

Tahap pertama yang perlu dilakukan calon pengusaha untuk mendirikan usaha berbadan hukum berbentuk Perseroan Terbatas alias (PT) adalah melakukan pemesanan nama perusahaan. Hal ini diperlukan untuk memastikan, nama perusahaan yang akan digunakan belum pernah digunakan perusahaan lain sebelumnya. Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memerintahkan adanya penyederhanaan dalam proses pengurusan nama perusahaan ini, seperti tertuang dalam Paket Kebijakan Ekonomi Jilid XII yang baru saja dikeluarkan.

Sebelumnya, untuk mengurus nama perusahaan ada beberapa tahapan yang harus dijalankan. Pertama pesan nama perusahaan yang prosesnya memakan waktu 4 hari kerja dengan biaya Rp 200.000. Setelah nama dipesan, nama yang disetujui kemudian butuh pengesahan di Kantor Ditjen AHU, Kementerian Hukum dan HAM, yang memakan waktu 1 hari kerja dan harus membayar lagi Rp 1 juta.

Berkat penyederhanaan pada paket kebijakan Jokowi, proses pengurusan nama perusahaan lebih sederhana. Cukup mendaftar via online di www.ahu.go.id, membayar satu kali di bank sebesar Rp 200.000 dan pengesahan yang hanya butuh waktu 1 hari kerja.

"Pengajuannya semua melalui online. Ke kita (kantor pelayanan Ditjen Administrasi Hukum Umum/AHU) hanya pengesahan saja," ujar petugas pelayanan di Ditjen AHU, Kementerian Hukum dan HAM. Untuk diketahui, pengajuan nama atau pemesanan nama perusahaan hanya bisa dilakukan secara online dengan membuka situs resmi di www.ahu.go.id.

Pemohon dapat mengajukan tiga nama perusahaan untuk berjaga-jaga bila salah satu nama yang diusulkan telah dimiliki perusahaan lainnya. Pemohon akan langsung mendapat balasan yang menyatakan nama yang diusulkan belum pernah digunakan sebelumnya dan dapat digunakan oleh pemohon.

Berkas tersebut kemudian dicetak dan dilampirkan untuk melakukan proses pembayaran biaya administrasi di bank yang sudah ditunjuk. "Pembayarannya nanti dilakukan di Bank BNI terdekat. Bayarnya di teller ya, bukan via ATM (Anjungan Tunai Mandiri)," sambung dia. Berkas bukti pembayaran disimpan dan dilampirkan saat mengajukan pengesahan nama. Adapun pengesahan nama dilakukan langsung di Kantor Pelayanan Ditjen AHU.

Bagi yang berdomisili di Jakarta, proses pengesahan dapat dilakukan di Kantor Pelayanan Ditjen AHU, lantai 3 Kantor Kementerian Hukum dan HAM, di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta. "Jadi semua proses dilakukan online, pembayaran juga langsung ke bank. Jadi nggak ada transaksi dengan petugas di Loket AHU. Kalau di AHU ada yang minta pembayaran, bisa dicatat dan dilaporkan saja. Itu oknum," pungkas petugas tersebut.

Thursday, October 29, 2015

Daftar Jenderal TNI Yang Berhasil Meraih Kesuksesan Dalam Bidang Bisnis

Hidup baru dimulai di akhir usia 50-an. Itulah yang terjadi pada sejumlah pensiunan atau purnawirawan jenderal Tentara Nasional Indonesia. Sebab menanggalkan seragam dinas kemiliteran ternyata bukan akhir karier mereka. Begitu resmi menyandang status sebagai warga sipil di usia 58, para mantan perwira tinggi itu ramai dipinang konglomerat untuk didudukkan menjadi petinggi di perusahaan mereka.

Setelah Reformasi 1998, setidaknya tiga dari enam mantan Panglima TNI menjadi petinggi di beberapa perusahaan. Jenderal Purnawirawan Endriartono Sutarto misalnya saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama Bank Pundi.  Sebelumnya ketika pensiun pada 2006, Endriartono terpilih menjadi Komisaris Utama Pertamina. Lepas dari Pertamina, menurut situs Bank Pundi, Endriartono pada Maret 2010 menjabat sebagai Ketua Komite Remunerasi dan Nominasi di bank yang didirikan tahun 1993 itu. Lima bulan kemudian, ia diangkat menjadi Ketua Komite Audit Bank Pundi.

Laksamana Purnawirawan Agus Suhartono mengikuti jejak Endriartono. Agus saat ini menjabat Presiden Komisaris PT Tambang Batubara Bukit Asam, perusahaan pelat merah yang bermarkas di Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Ada juga Marsekal Purnawirawan Djoko Suyanto, yang setelah menggantung seragam kemiliterannya, sempat menjadi komisaris independen di PT Adaro. Sampai saat dipilih menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan pada tahun 2009, barulah Djoko mundur dari perusahaan batu bara milik Edwin Soeryadjaya itu.

Tahun ini, usai tak lagi menjadi pejabat negara, Djoko kembali ke dunia usaha. Dia, sebagaimana tercatat pada situs PT Bursa Efek Indonesia, pada 17 Maret membuat surat pernyataan bersedia diangkat menjadi Presiden Komisaris dan Komisaris Independen PT Chandra Asri Petrochemical. Pada daftar riwayat hidup yang diunggah di situs PT Chandra Asri, Djoko juga tercatat pernah menjadi komisaris di PT Lestari Asri Jaya, perusahaan yang mengelola hutan tanaman industri dan berafiliasi dengan Barito Pasific Group milik Prajogo Pangestu.

Sesungguhnya tak hanya mantan panglima TNI yang berkarier di dunia usaha setelah berstatus purnawirawan. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Purnawirawan Subagyo Hadi Siswoyo, berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Biasa PT Berau Coral Energy tertanggal 29 Juni 2013, diangkat sebagai komisaris perusahaan itu.  Sekitar setahun kemudian, Juli 2014, Subagyo mundur dari PT Berau Coral Energy. Selanjutnya awal tahun ini ia dilantik Presiden Jokowi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Jenderal Purnawirawan Luhut Binsar Pandjaitan agak berbeda. Dia mendirikan sendiri perusahaannya, PT Toba Sejahtera, yang bergerak di bidang batubara dan pertambangan, minyak dan gas, pembangkit tenaga listrik, serta perkebunan dan kehutanan. Anak perusahaan Toba Sejahtera, PT Toba Bara Sejahtera, mengangkat mantan Kepala Staf Umum TNI Letnan Jenderal Purnawirawan Suaidi Marasabessy sebagai direktur utama.

Sementara Letnan Jenderal Purnawirawan Kiki Syahnakri yang mengakhiri pengabdiannya di TNI sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, saat ini menjabat Komisaris Utama Bank Artha Graha. Saat berbincang , Kiki mengatakan sempat juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT International Timber Corporation Indonesia Kartika Utama.

"Setelah bisnis TNI AD direstrukturisasi, masih ada beberapa mantan perwira tinggi yang menjadi komisaris di perusahaan-perusahaan yang sahamnya pernah dimiliki Yayasan Kartika Eka Paksi,” ujar Kiki di Jakarta. Yayasan Kartika Eka Paksi yang disebut Kiki itu didirikan oleh para purnawirawan TNI Angkatan Darat pada era Soeharto. Nama yayasan diambil dari semboyan TNI AD, Kartika Eka Paksi, yang berarti “Burung perkasa dengan satu cita-cita mulia.”

Kecenderungan sejumlah mantan perwira tinggi TNI yang aktif di beberapa perusahaan, tak aneh di mata Kiki. Menurut dia, dari sekian banyak perwira tinggi TNI yang pensiun, yang memilih berkarier di dunia bisnis terhitung sedikit.  “Yang menjadi komisaris bisa dihitung dengan jari. Itu pun karena ada kepercayaan dari perusahaan,” ucap Kiki.

Fenomena jenderal di jajaran pejabat tinggi perusahaan tak hanya terjadi di Indonesia. Kiki menyebut mantan Panglima Angkatan Bersenjata Australia, Jenderal Sir Peter John Cosgrove.  Cosgrove yang saat ini menjadi penghubung Australia dan Kerajaan Inggris dengan status gubernur jenderal, sempat menjadi bagian dari direksi Qantas, maskapai penerbangan Australia.

“Mantan-mantan kepala staf angkatan darat Singapura juga menjadi CEO (chief executive officer) di pelbagai perusahaan,” kata Kiki.

Meski demikian, Direktur Eksekutif Imparsial Poengky Indarti justru mempertanyakan alasan sejumlah perusahaan menempatkan mantan perwira tinggi TNI di posisi vital bisnis mereka. “Apakah betul mereka mempunyai keahlian sesuai bidang yang digeluti perusahaan? Atau mereka justru dimanfaatkan perusahaan untuk memuluskan usaha melalui jalur tertentu seperti mengamankan pembebasan lahan atau mempermudah perizinan,” ujar Poengky. Jika kecurigaan-kecurigaannya benar, kata Poengky, maka sesungguhnya ada ketidakprofesionalan di situ.

“Purnawirawan jenderal dengan keahlian bertempur kok direkrut menjadi komisaris perusahaan tambang. Di sana ia akan bertempur dengan siapa?” ucap Poengky. Kiki berpendapat, ada dua hal yang membuat sejumlah pensiunan perwira tinggi TNI dilirik perusahaan-perusahaan, yakni kedisiplinan dan kepemimpinan.

Maka bagi para jenderal itu, new life begins at 58

Monday, February 9, 2015

Kiprah dan Profile Bisnis AM Hendropriyono

Kiprah Abdullah Mahmud (AM) Hendropriyono di ranah bisnis makin agresif. Berita terbaru yang membuat heboh jagat negeri ini adalah soal kolaborasi bisnisnya dengan Proton Holdings Berhad (Bhd) asal Malaysia.

Tanpa diduga, mantan petinggi Badan Intelijen Negara ini langsung merambah bisnis otomotif yang selama ini dikuasai oleh pebisnis Jepang. "Saya ingin membuat mobil made in Indonesia," kata Hendropriyono seperti dikutip, akhir pekan lalu.

Tudingan miring langsung mengarah ke jenderal bintang empat ini. Kedekatan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dianggap menjadi jalan lapang Hendropriyono untuk bisa berkibar di ranah bisnis.

Sayang, purnawirawan jenderal bintang empat ini belum mau memberikan penjelasan panjang terkait ekspansi bisnisnya selama ini. "Nanti kita ketemu lebih lanjut," ucapnya.

Namun bila melihat ke belakang, karier Hendropriyono di ranah bisnis terbilang berjalan setelah pensiun dari dunia intelijen. Menurut situs Hendropriyono Corporation Indonesia, karier pria ini bermula dari kantor hukum yang bernama Hendropriyono dan Law Office di 2001. Kala itu, Presiden Megawati meresmikan kantor hukumnya.

Setelah berjalan selama enam tahun, nama Hendropriyono dan Law Office berganti menjadi Hendropriyono and Associates. Satu tahun kemudian, tepatnya pada 2006, nama Hendropriyono and Associates berubah lagi menjadi Hendropriyono Corporation Indonesia.

"Grup usaha yang membawahi beberapa anak usaha yang kuat di bidangnya," tulis situs tersebut. Kalimat yang terpatri di situs tersebut ada benarnya. Tercatat ada perusahaan yang terbilang cukup kuat dari sisi permodalan.

Salah satunya adalah PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (DGIK), yang sebelumnya bernama PT Duta Graha Indah Tbk dan menjadi pemenang tender dalam proyek wisma atlet Hambalang, Bogor. Di perusahaan konstruksi tersebut, kini Hendropriyono duduk sebagai komisaris utama.

Berdasarkan laporan Nusa Konstruksi per 30 September 2014, pendapatan perusahaan ini mencapai Rp 1,53 triliun dengan laba bersih Rp 54,16 miliar. Adapun total aset di periode yang sama mencapai Rp 1,91 triliun.

Satu perusahaan lain yang dikomandoi Hendropriyono adalah Mega Maroci Lines, perusahaan jasa pelayaran di minyak dan gas bumi (migas). Di sini, Hendropriyono memegang jabatan presiden direktur. Adapun komisarisnya adalah Ilham Bintang.

Tuesday, April 5, 2011

KAP Kantor Akuntan Publik Asing Diberi Waktu Setahun Untuk Hengkang

Pemerintah memberi waktu maksimal satu tahun kepada kantor akuntan publik asing untuk mendapatkan mitra dari akuntan publik domestik terhitung sejak Undang-Undang Akuntan Publik disahkan pada 5 April 2011. Langkah ini diharapkan akan membagi pangsa pasar audit keuangan di Indonesia secara adil.

Menteri Keuangan Agus Darmawan Wintarto Martowardojo mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Selasa (5/4), seusai menghadiri Sidang Paripurna DPR yang mengagendakan Pengesahan RUU Akuntan Publik menjadi undang-undang.

Menurut Agus, dalam undang-undang baru tersebut, akuntan publik asal Indonesia ataupun asing yang beroperasi di pasar domestik harus memahami hukum dagang Indonesia. Dengan demikian, mereka pun diwajibkan untuk paham berbahasa Indonesia. Hal itu adalah syarat yang ditetapkan pemerintah agar mereka mendapatkan izin usaha di Indonesia.

Dalam laporan pemerintah yang dibacakan Agus disebutkan, komposisi tenaga kerja profesional asing yang dipekerjakan di kantor akuntan publik paling banyak sepersepuluh dari seluruh tenaga kerja profesional, untuk setiap tingkat jabatan. Atas dasar itu, kantor akuntan publik asing, baik yang sudah maupun yang akan beroperasi di Indonesia, wajib bekerja sama dengan kantor akuntan publik Indonesia dan berganti nama menggunakan nama kantor akuntan publik lokal.

”Nanti di signing partner-nya (rekan kerja yang menandatangani), kalau ada 5 signing partner Indonesia, satu asing. Jadi sudah diatur seperti itu,” ujarnya.

Agus juga menegaskan, akuntan publik asing yang bisa beroperasi di Indonesia hanyalah akuntan publik yang berasal dari negara yang memiliki kesepakatan saling pengakuan

Tuesday, November 30, 2010

Indosiar Bangun Studio Untuk Tekan Biaya

Indosiar membangun studio senilai Rp 50 miliar-Rp 60 miliar yang akan selesai pada Desember 2010. Studio ini akan dioperasikan Januari 2011.

Menurut Direktur PT Indosiar Karya Media Tbk Harry Pramono, Selasa (30/11) di Jakarta, studio baru tersebut untuk meningkatkan produksi program in- house. ”Dengan studio sendiri, biayanya bisa rendah,” katanya dalam publik ekspose Indosiar.

Dijelaskan, tahun 2011 Indosiar berencana menayangkan acara, seperti ”Take Celebrity Out Indonesia” (reality show), ”Indonesia’s Got Talent” (ajang pencarian bakat), ”1 Vs 100” (kuis), ”The Price is Right” (kuis), ”Voice of Indonesia” (ajang pencarian bakat), dan ”Just Dance” (reality show).

Indosiar, kata Harry, tahun 2010 berhasil melakukan efisiensi beban usaha program dan penyiaran sebesar 20 persen.

”Jadi, misalnya, dua episode acara ’Take Celebrity Out Indonesia’ direkam dalam satu hari,” ujar Harry.

Menurut Direktur Utama Indosiar Handoko, tahun 2009 efisiensi dilakukan dengan mengurangi 220 karyawan.

Pembangunan studio baru saat ini sudah pada tahap pembangunan fisik. Pengaspalan dan pemasangan konblok juga sudah dikerjakan di lapangan parkir. Ke depan, akan dipasang instalasi elektronik dan perangkat penunjang produksi lainnya.

Laba

Hingga 30 September 2010, Indosiar mencetak laba bersih Rp 27 miliar. Sementara pada 30 September 2009 Indosiar merugi Rp 9 miliar.

Adapun pendapatan bersih hanya tumbuh dua persen, menjadi Rp 607 miliar. Namun, dengan efisiensi yang dilakukan, beban usaha program dan penyiaran bisa diturunkan hingga 20 persen.

Dalam penguasaan pangsa pasar televisi swasta, Indosiar menempati urutan kelima bersama Trans 7, di bawah RCTI, SCTV, Trans TV, dan TPI.

”Kami optimistis posisi kami segera berubah seiring dengan program-program baru,” ujar Harry.

Menurut Handoko, tahun 2011, ditargetkan ada kenaikan pendapatan hingga 15 persen. Indosiar menyiapkan belanja modal Rp 60 miliar-Rp 70 miliar yang berasal dari pendapatan operasi dan pinjaman bank.

Tahun ini, sekitar 59 persen dari belanja iklan kotor jenis media jatuh untuk televisi. Nilai iklan kotor televisi tahun 2010 sekitar Rp 34,37 triliun

Wednesday, September 29, 2010

Indonesia Butuh 10.000 Profesi Konsultan Penilai

Indonesia masih banyak kekurangan tenaga yang berprofesi di bidang jasa penilai. Saat ini, Indonesia hanya memiliki sekitar 2.000 tenaga penilai dari sekitar 10.000 orang yang dibutuhkan.

Padahal, tenaga penilai diperlu kan untuk mendukung pembangunan ekonomi Indonesia yang akuntabel dan transparan, baik di sektor riil maupun keuangan. Jasa penilai juga dibutuhkan untuk mendukung masuknya investasi asing langsung (foreign direct invesment/FDI).

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga penilai, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (Mappi), Rabu (29/9), menandatangani kerja sama dengan Appraisal Institute—organisasi penilai internasional terbesar di dunia. Penandatanganan itu dilakukan Ketua Umum Mappi Hamid Yusuf dan President of Appraisal Institute Leslie Sellers, MAI, SRA di sela acara The 25th Pan Pacific Congress of Real Estate Appraisers, Value and Counselor di Nusa Dua, Bali, 27-30 September 2010.

Hamid mengatakan, melalui kerja sama tersebut, Mappi akan mendapat dukungan penuh dari Appraisal Institute dalam mengembangkan pendidikan jasa penilai di Indonesia. ”Kita diberi hak lebih luas dan terbuka untuk menggunakan buku-buku dan materi-materi pendidikan jasa penilai yang dikeluarkan Appraisal Institute,” kata Hamid.

Selain itu, penilai Indonesia yang sudah mengikuti materi pendidikan dari Appraisal Intitute juga memperoleh kesempatan untuk mendapat gelar MAI atau Member of Appraisal Institue. Bila gelar tersebut diperoleh, penilai Indonesia dapat memberikan jasa penilaian di seluruh negara yang menjadi anggota Appraisal Institute. ”Saat ini, model penilaian Appraisal Institute paling diakui di dunia, selain organisasi penilai dari Inggris,” kata Hamid.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Mulya P Nasution mengatakan, dari sekitar 2.000 penilai pelaksana di Indonesia, hanya 306 orang yang memiliki lisensi dari Kementerian Keuangan. Angka ini tidak hanya menunjukkan bahwa jumlah penilai profesional di Indonesia masih cukup minim, tetapi juga masih kurang memadai dari sisi kualitas.

Saturday, July 31, 2010

Analisa Kesehatan Keuangan Pribadi

Kenapa Anda ke dokter? Karena Anda tidak ingin sakit, tentunya. Nah, general check-up bukan hanya dibutuhkan oleh tubuh, tetapi juga oleh kondisi keuangan. Kapan terakhir Anda melakukan check up terhadap kondisi keuangan Anda?

Hitung ulang berapa penghasilan Anda per bulan, lalu hitung juga berapa total pengeluaran per bulan. Apakah hasilnya masih surplus? Kalau ya berapa persen, surplus Anda dibandingkan dengan total penghasilan. Atau malah defisit? Berapa besar? Lalu bagaimana cara Anda menutupi defisit tersebut? Sangat mungkin Anda berutang, misalnya dengan menggunakan kartu kredit. Kalau situasi ini berlangsung terus, berarti keuangan Anda memang ”sakit” dan akan menjadi masalah besar jika terus dibiarkan. Agar tidak menjadi masalah, coba cermati dulu bagaimana kondisi kesehatan keuangan Anda dengan menjawab beberapa pertanyaan di atas.

Yang utama adalah, apakah keuangan Anda setiap bulan mengalami surplus atau defisit. Umpamakan penghasilan Anda Rp 10 juta. Lalu biaya pengeluaran, termasuk untuk membayar utang, adalah sebesar Rp 10 juta juga atau malah lebih. Kalau faktanya seperti ini, kondisi keuangan Anda berada dalam keadaan tertekan. Kenapa? Karena untuk menutupi biaya pengeluaran saja, penghasilan Anda sudah tidak memadai.

Lalu apa solusinya? Naikkan penghasilan dan atau kurangi pengeluaran. Untuk menaikkan penghasilan memang bukan perkara mudah. Akan tetapi, untuk mengurangi pengeluaran bukan pula tidak mungkin. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi angsuran utang Anda. Nilai angsuran diturunkan sehingga Anda masih memiliki cash flow positif. Memang, di sisi lain, utang Anda boleh jadi akan lebih lama lunasnya. Namun, paling tidak, pengeluaran Anda lebih kecil ketimbang pengha- silan. Akan tetapi, ini pun dengan catatan Anda tidak membuat utang baru.

Jika realitasnya adalah sebagaimana dipaparkan di atas, apakah kondisi keuangan Anda tergolong sehat? Kondisi keuangan seperti itu masih dalam keadaan kurang sehat. Artinya, cash flow Anda tidak defisit, tetapi tidak ada dana lebih yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan keuangan Anda. Dengan kata lain, kondisi keuangan Anda akan seperti itu seterusnya. Aset juga tidak akan bertambah.

Fase sehat

Bagaimana agar kondisi keuangan bisa masuk dalam fase cukup sehat? Harus ada surplus yang bisa dialokasikan untuk mencapai suatu tujuan keuangan. Seperti contoh di atas, katakanlah penghasilan Anda sebesar Rp 10 juta. Lalu, katakanlah Anda lebih hemat sehingga pengeluaran Anda umpamakan hanya sebesar Rp 7 juta per bulan. Berarti, Anda memiliki surplus sebesar Rp 3 juta.

Apakah kondisi keuangan seperti ini sudah bisa dianggap sehat? Tunggu dulu. Cek lagi tujuan keuangan Anda. Katakanlah dalam dalam 5 tahun mendatang Anda ingin memiliki aset senilai Rp 300 juta. Berarti, setiap tahun Anda mesti mengalokasikan Rp 60 juta. Dengan kata lain, setiap bulan mesti tersedia Rp 5 juta. Padahal, surplus yang Anda miliki hanya sebesar Rp 3 juta. Konkretnya, meskipun setiap bulan keuangan Anda surplus, tetapi tujuan keuangan Anda 5 tahun mendatang tidak akan tercapai.

Lantas di mana masalahnya? Surplus Anda kurang besar. Ini bisa terjadi karena struktur pengeluaran Anda yang masih kurang optimal. Kurangi pengeluaran yang kurang perlu. Mungkin Anda mengatakan semua pengeluaran Anda adalah perlu. Oke, itu hak Anda. Akan tetapi, coba cek, dalam struktur pengelu- aran Anda ada komponen biaya konsumsi dan juga komponen utang. Bagaimana strategi keuangan Anda dalam menyelesaikan utang?

Jika Anda mampu mengurangi biaya konsumsi dan pembayaran utang Anda sebesar Rp 2 juta per bulan, Anda akan memperoleh surplus sebesar Rp 3 juta + Rp 2 juta atau sejumlah Rp 5 juta. Namun, di sisi lain, tentu saja konsumsi Anda mesti dikorbankan dan utang Anda masih akan terus berlangsung. Akan tetapi, tidak mengapa, sepanjang Anda mampu melunasinya kendati dalam waktu yang cukup panjang.

Dana darurat

Jika Anda mampu melakukan langkah di atas, kondisi keuangan Anda berada dalam kategori cukup sehat. Ya, cash flow Anda tidak defisit dan memiliki surplus untuk mencapai tujuan keuangan yang masih sederhana. Namun, keuangan Anda tetap belum aman. Kenapa? Karena Anda belum memiliki yang namanya emergency fund dan dana darurat.

Pernahkah Anda terpikir kalau tiba-tiba terjadi krisis ekonomi, lalu perusahaan tempat Anda bekerja bangkrut dan Anda mengalami PHK? Semua itu memang tidak diinginkan. Akan tetapi, sekali lagi, hal tidak terduga bisa saja terjadi. Oleh karena itu, Anda mesti berjaga-jaga dalam bentuk emergency fund. Berapa besar? Tergantung Anda. Namun, lazimnya, nilai dana yang tersimpan dalam rekening emerging fund harus sekitar 6 bulan penghasilan. Kenapa 6 bulan? Karena dalam kurun waktu 6 bulan diharapkan Anda sudah memperoleh pekerjaan baru.

Kesimpulannya, kondisi keuangan baru bisa dianggap sehat jika cash flow keseharian Anda positif, memiliki surplus dana yang dialokasikan untuk mencapai tujuan keuangan di masa mendatang, baik melalui tabungan maupun investasi lainnya, dan juga memiliki alokasi dana untuk berjaga-jaga. Namun, mesti diingat, ketiga hal di atas tidak diukur dari nilai nominal, melainkan dari perspektif tujuan keuangan pribadi.

Sunday, May 9, 2010

Tips dan Trik Cara Melihat Harga dan Volume Transaksi Saham

Dua minggu lalu telah dibahas mengenai pola harga saham yang dapat dipergunakan oleh investor untuk mendapatkan keuntungan.

Pembahasannya tidak berkait dengan variabel lain atau volume transaksi saham tersebut. Tulisan kali ini akan mengaitkannya dengan volume transaksi.

Volume transaksi adalah jumlah saham yang ditransaksikan. Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan satu lot sebanyak 500 saham. Pembahasan pola harga saham dengan volume transaksi di BEI atau bursa mana pun, terlebih dahulu dibahas mengenai level pendukung (supporting level) dan level penahan (resistance level).

Level pendukung adalah level harga atau juga indeks yang menyatakan bahwa pada level tersebut akan banyak investor membeli saham. Artinya, volume pembelian sangat banyak sehingga harga saham tidak mungkin turun karena begitu besarnya investor yang akan membeli pada level harga tersebut. Adapun penentuan level tersebut disebabkan oleh adanya seni teknis yang dilakukan pada pola saham sehingga ditemukan level tersebut.

Bila level pendukung tersebut dapat dipecahkan, itu akan menuju level harga terendah untuk berikutnya. Kejadian ini sering terjadi karena harga saham yang telah mencapai level terendah akan terus menuju level terendah berikutnya dan akan berlanjut apabila tidak ada yang mendukung harga atau tidak adanya investor yang membuat pembelian yang cukup besar.

Seni teknis

Selanjutnya, level penahan, yaitu level harga atau juga indeks yang menyatakan bahwa harga saham akan sulit naik ke level harga tertinggi berikutnya dikarenakan banyaknya investor yang menjual pada harga tersebut. Penentuan level penahan ini juga seperti pada penentuan level pendukung, yaitu menggunakan seni teknis. Bila terjadi juga pembelian besar-besaran dan bisa menembus penjualan yang sangat besar, harga saham akan menuju level tertinggi berikutnya.

Level harga pendukung dan penahan tersebut ditentukan dengan berbagai cara dan seni yang dimiliki para analis teknis. Pendekatan paling sederhana dengan menghubungkan nilai terendah yang terdekat pada periode terakhir serta periode waktu sehingga ditemukan nilai level harga terendah. Demikian juga level harga penahan, yaitu menghubungkan dua level tertinggi dan menarik garis lurus serta waktu sehingga ditemukan level harga penahan. Informasi ini dipergunakan analis atau investor untuk melakukan pembelian dan penjualan saham.

Konsep harga level pendukung dan harga level penahan merupakan konsep pengembangan dari penawaran dan permintaan. Bila permintaan lebih besar dari penawaran, harga tersebut akan lebih tinggi. Harga saham tidak mungkin naik bila permintaan pada saham tersebut tidak mengalami kenaikan. Artinya, bila volume transaksi terus meningkat dan volume pembelian menuju harga yang lebih tinggi, harga terus meningkat. Artinya, harga saham yang terjadi telah dikaitkan dengan volume transaksi saham.

Harga saham yang meningkat dengan dukungan volume transaksi yang meningkat membuat harga tersebut akan tidak rapuh atau penurunannya tidak sedrastis pada harga saham lain. Bila harga saham meningkat dengan volume transaksi yang kecil, ada kemungkinan harga saham tersebut akan drop tajam, seperti kenaikan harga saham yang tidak didukung volume transaksi. Ada beberapa saham yang diperdagangkan di BEI mempunyai kecenderungan harga yang terus naik, tetapi tidak didukung volume transaksi yang besar pula.

Informasi

Investor melakukan transaksi dagang atau bermain saham di bursa, maka investor perlu mendapatkan data agar informasi yang dimiliki investor lengkap. Dengan demikian, pengambilan keputusan menggunakan dasar informasi tersebut. Informasi tersebut masih sangat sederhana, tetapi memberikan indikasi kepada investor untuk bertransaksi saham. Data ini bisa diperhatikan investor melalui order yang ditunjukkan pada komputer harga di broker. Bila investor sudah menggunakan data ini, investor juga sudah melakukan tindakan pengambilan keputusan yang sedikit lengkap.

Sebaiknya investor melakukan transaksi saham, baik membeli maupun menjual, dengan memerhatikan volume transaksi saham pada harga yang diinginkan. Bila harga saham mengalami kenaikan atau penurunan dengan volume transaksi yang kecil, sebaiknya investor menghindarinya. Bila investor mengikuti irama pemain saham tersebut, kemungkinan yang terjadi adalah investor mengalami kerugian dalam jangka pendek atau keuntungan dalam jangka panjang.

Selanjutnya, level pendukung bisa menjadi level penahan dan sebaliknya level penahan berubah menjadi level pendukung pada masa mendatang. Bila awalnya level pendukung harga yang terjadi dan terjadi tekanan jual sehingga memecahkan level harga pendukung menuju harga terendah berikutnya. Bila harga berbalik dari level terendah tersebut, level pendukung awal sebelumnya menjadi level penahan. Demikian juga bila awalnya level penahan dan dorongan pembelian sangat besar sehingga memecahkan level penahan menuju level harga tertinggi berikutnya. Harga saham kembali turun karena faktor lain, maka level penahan tersebut menjadi level pendukung karena harga saham sedang turun.

Investor juga harus hati-hati dalam membeli atau menjual saham dengan menggunakan analisis teknis ini. Investor ingin mendapatkan keuntungan, tetapi investor juga harus siap

rugi. Investor yang memiliki dana dan risiko tetap pada investor dan tulisan ini hanya menguraikan untuk membantu investor agar tidak mengalami kerugian yang tajam.

Thursday, April 29, 2010

Perbankan Jangan Macam Macam Supaya Krisis Ekonomi Tidak Terjadi Lagi

Wakil Presiden Boediono mengingatkan agar kalangan bank menyusun laporan keuangan yang akurat dan tidak yang aneh-aneh agar krisis keuangan seperti yang terjadi tahun 1997-1998 dan 2008-2009 tidak terjadi lagi.

Bank Indonesia yang berfungsi mengawasi perbankan juga diharapkan bisa memberikan laporan yang terbaik. Jika perlu, BI memberikan sanksi jika ada bank yang tidak benar dalam memberikan laporan.

”Jangan ada lagi laporan yang aneh-aneh,” kata Wapres Boediono saat membuka Pameran dan Konferensi Ke-6 tentang Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Asia Pasifik (Asia Pacific Conference and Expo/Apconex) Tahun 2010 di Jakarta Convention Centre (JCC), Rabu (28/4).

Dalam acara itu hadir Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Rochadi dan Ketua Umum Perbanas Sigit Pramono serta kalangan bankir lainnya.

”Kalau di antara kita ada yang tidak tepat memberikan informasi, komunitas itu yang mengingatkan, terutama pada masa krisis. Bank harus saling mengingatkan, ikut menjaga dan mengingatkan rekan sesamanya untuk melakukan yang benar,” ujar Boediono lagi.

Boediono menyatakan, akurasi laporan perbankan merupakan pelajaran untuk mencegah krisis ekonomi yang bisa terjadi lagi pada masa datang.

”Meskipun pada krisis 2008-2009 respons kita relatif baik, akan tetapi masih ada banyak yang harus diperbaiki lagi agar kita lebih siap, misalnya dengan supervisi yang lebih baik dan juga transparansi perbankan yang lebih terbuka lagi. Laporan perbankan harus akurat dan tepat waktu,” kata Boediono.

Lebih jauh Boediono menyatakan, pelajaran lainnya agar krisis tidak terjadi lagi adalah jangan meremehkan tanda atau potensi krisis.

”Hikmah lainnya adalah menciptakan struktur ekonomi yang lebih seimbang dan pengelolaan makroekonomi yang prudent atau berhati-hati,” ujar Wapres.

Belum tuntas

Sementara itu, dari Hongkong dilaporkan, empat bank BUMN tidak bisa memanfaatkan dana piutang sebesar Rp 85 triliun untuk mendorong pertumbuhan kredit.

Hal itu terjadi karena belum tuntasnya penyelesaian piutang empat bank BUMN itu. Sesuai aturan perundang-undangan, piutang itu tak bisa dihapus tagih.

Padahal, piutang yang membebani neraca bank sudah sulit ditagih karena sebagian besar adalah piutang kredit yang sudah sangat lama. Bahkan, sebagian besar debitornya ataupun agunannya sudah tidak ada.

”Kalaupun agunannya ada dan dijual, belum tentu hasil penjualannya bisa menutup utang mereka,” ujar Direktur Utama Bank Negara Indonesia Gatot Suwondo di Hongkong, Rabu (28/4), menjelang pertemuan dengan beberapa calon investor di Singapura dan Hongkong.

Dari Rp 85 triliun piutang kredit yang tidak bisa diselesaikan itu, BNI mencatat masih sekitar Rp 20 triliun, selebihnya tersebar di Bank Mandiri, BRI, dan BTN.

Selama piutang ini tidak tertagih, bank BUMN wajib mencadangkan dana Rp 85 triliun. Akibatnya, ada potensi penyaluran kredit yang tidak terjadi dengan jumlah yang sama

Cara Menikmati Hari Tua Dengan Tabungan Yang Berlimpah

Siapa yang tidak ingin menikmati masa pensiun dengan mentraktir cucu, jalan-jalan ke tempat wisata karena sudah tak sibuk oleh urusan kantor, atau sekadar menenggelamkan diri di rumah dengan melaksanakan hobi yang sempat tertunda?

Di Amerika Serikat, rencana pensiun individu banyak jenisnya, seperti Individual Retirement Account (IRA) dan 401 (k). Para pegawai sudah terikat dengan skema ini ketika masuk ke sebuah perusahaan.

Di Indonesia, salah satu penyedia jaminan hari tua adalah Jamsostek. Sayangnya, investasi pada Jamsostek sangat konservatif sehingga hasilnya pun konservatif pula.

Pada beberapa perusahaan juga sudah membuat rencana pensiun yang iurannya berasal dari perusahaan dan pegawai.

Tidak sedikit pegawai yang hidupnya susah setelah pensiun karena pendapatan jauh berkurang sementara pengeluaran tetap atau bahkan lebih tinggi. Kecuali jika mereka memiliki anak-anak yang mapan dan mau memberikan uang saku bulanan yang cukup besar kepada orangtuanya.

Pada saat pensiun, pengeluaran, seperti ongkos atau biaya bahan bakar untuk ke kantor, memang menurun drastis. Sebaliknya, biaya pengobatan dan rumah sakit akan meningkat pesat. Maklumlah, seperti mesin mobil, semakin tua tubuh juga semakin banyak yang perlu diperbaiki.

Padahal, inflasi biaya kesehatan sangat tinggi. Artinya, biaya obat dan layanan kesehatan semakin tahun semakin menguras kantong. Sementara manusia yang semakin berumur semakin banyak penyakit yang dideritanya. Di sisi lain, pendapatan pun jauh berkurang karena pegawai tidak dianggap produktif lagi.

Biasanya, tunjangan pensiun berkisar 70 persen hingga 80 persen gaji terakhir. Masih ada perusahaan yang baik memberikan tunjangan kesehatan, tetapi ada pula yang hanya memberikan tunjangan pensiun saja.

Dengan asumsi seseorang bekerja mulai usia 25 tahun setelah lulus kuliah hingga masa pensiun sekitar usia 55 tahun, berarti periode bekerja adalah 30 tahun. Pada masa inilah seharusnya kita menabung untuk pensiun. Setelah pensiun pada usia 55, tentu masih banyak biaya yang harus dikeluarkan, terlebih jika masih memiliki anak yang belum mandiri. Misalnya Yang Di Atas berbaik hati memberi kita usia hingga 70 tahun, berarti ada waktu 15 tahun yang pengeluarannya harus dipenuhi selagi kita tidak lagi bekerja.

Merencanakan tunjangan pensiun pribadi adalah salah satu cara untuk menjaga agar kesejahteraan tidak menurun pada masa pensiun.

Caranya mudah. Perkirakanlah berapa pendapatan yang ingin didapat ketika masa pensiun tiba. Taruhlah Rp 5 juta per bulan pada masa pensiun 30 tahun yang akan datang.

Nilai Rp 5 juta saat ini dengan 30 tahun yang akan datang tentu berbeda. Artinya, misalnya hari ini kita dapat membeli sebuah kamera digital seharga Rp 5 juta, 30 tahun mendatang tentu harganya akan naik.

Oleh karena itu, dengan memasukkan faktor inflasi rata-rata 10 persen per tahun, uang senilai Rp 5 juta pada masa sekarang setara dengan Rp 87.247.011 pada 30 tahun mendatang.

Karena masa pensiun diperkirakan selama 15 tahun sampai kita menghadap Yang Mahakuasa, kita memerlukan biaya sebesar Rp 1.046.964.136 per tahun atau Rp 11.718.358.051 untuk memenuhi biaya selama 15 tahun.

Tampaknya biaya Rp 11,7 miliar itu sangat besar, tetapi sebenarnya cukup waktu mengumpulkannya selama 30 tahun, pada saat kita masih produktif.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mengumpulkan dana Rp 11 miliar itu? Tanpa korupsi, tetap terbuka kemungkinan kita memiliki uang sebanyak itu.

Berapa yang harus ditabung setiap bulannya jika kita sudah mulai memikirkan biaya pensiun pada usia 25 tahun? Kisarannya adalah Rp 39.404 hingga Rp 5,2 juta. Mengapa terdapat perbedaan yang sangat besar?

Tingkat imbal hasil

Ketika menabung, kita mengharapkan ada imbal hasil. Dengan tingkat imbal hasil minimal 10 persen per tahun, kita harus menabung Rp 5,2 juta per bulan selama 30 tahun untuk mendapatkan pensiun yang nyaman.

Tingkat imbal hasil seperti ini didapatkan dari tabungan. Tetapi ingat, hasil tabungan akan tergerus inflasi karena dalam perhitungan pensiun kita menggunakan asumsi laju inflasi 10 persen dan asumsi imbal hasil 10 persen juga. Artinya, investasi dengan imbal hasil sebesar ini tidak menguntungkan.

Jika mau lebih berani, ambillah jenis investasi yang imbal hasilnya lebih besar, misalnya sebesar 20 persen per tahun. Maka, iuran bulanan yang harus ditabung menyusut menjadi Rp 931.000. Investasi jenis ini bisa diperoleh dari obligasi atau reksa dana pendapatan tetap.

Yang lebih ekstrem lagi adalah menanamkan uang pada investasi yang memberikan imbal hasil 30 persen per tahun, seperti saham atau reksa dana saham. Iuran per bulan yang harus ditabung hanya Rp 39.404. Tidak banyak bukan?

Semakin lambat seseorang mulai menabung untuk simpanan pensiunnya, semakin besar pula tabungan bulanan yang harus dia bayarkan.

Dengan semua asumsi yang sama, kecuali seseorang baru menabung pada usia 30 tahun, dia harus mengeluarkan Rp 173.000 untuk investasi yang memberikan imbal hasil 30 persen per tahun hingga Rp 8,9 juta untuk imbal hasil 10 persen per tahun.

Masalahnya ada pada jangka waktu menabung. Seseorang yang baru mulai menabung pada usia 30 tahun hanya memiliki waktu menabung selama 25 tahun. Dengan selisih lima tahun saja, dia kehilangan banyak kesempatan menabung dan mengembangbiakkan investasinya.

Menikmati pensiun dengan keuangan yang mencukupi bukanlah impian jika telah disadari dan dipersiapkan sejak awal. Semakin awal kita menabung, semakin sedikit dana yang harus disisihkan demi kebahagiaan pada hari tua kelak.

Mengelola Kekayaan Meski Masih Pas Pasan Adalah Kunci Hidup Nyaman

Haaa...! Bagaimana bisa orang ”pas-pasan” mengelola kekayaan? Begitu mungkin teriakan Anda membaca judul tulisan tersebut. Tenang...! Jangan langsung meninggalkan tulisan ini. Baca pelan-pelan, jangan sampai ada yang bisa ”dipetik” dan tidak menyesal.

Mengapa kita tidak mencoba berpikir di luar kotak itu? Bukan saja cara berpikir, tetapi cara bertindak kita juga yang harus di balik. Misalnya, mengapa tidak berpikir bahwa justru karena tidak kaya sehingga harus mengelola aset secara optimal agar bisa kaya.

Banyak orang yang sebenarnya memiliki penghasilan memadai. Bahkan, penghasilan itu bisa berlebih untuk keperluan hidup sehari-hari. Akan tetapi, dalam situasi dan kondisi tertentu kadang-kadang mereka pusing dengan munculnya tiba-tiba kebutuhan dana yang besar.

Ketika anak-anak masuk sekolah, misalnya. Biasanya, menjelang masa-masa itu tiba, banyak orang yang mulai ”panik” mencari sumber pinjaman untuk memenuhi kebutuhan yang signifikan jumlahnya tersebut. Karena tidak dipersiapkan secara baik, ketika masa kritis itu tiba seseorang bisa dilanda panic buying. Membabi buta mencari pinjaman. Suku bunga tinggi pun ditabraknya. Sikat saja dulu, urusan cicilan belakangan.

Jika langkah atau tindakan semacam itu diambil, kesulitan bahkan ”bencana” bisa bermula dari sini. Kesulitan hidup bisa terjadi kelak karena beratnya beban cicilan pinjaman yang dikenai suku bunga tinggi harus dibayar. Jika tidak sanggup memikul beban itu, pembayaran pinjaman bisa macet, urusan dengan kreditor alias pemberi pinjaman menjadi rumit. Bahkan bisa berhadapan dengan dengan hukum. Aset lain juga tidak mustahil melayang, disita oleh pemberi pinjaman alias kreditor.

Lebih dari itu, nama baik tercoreng. Tercatat sebagai debitor ”nakal” dan masuk daftar nasabah yang rekam jejaknya buruk. Kalau nama tersebar ke bank-bank atau lembaga pemberi pinjaman, kelak bisa saja seumur-umur tidak akan ada lagi yang mau memberi pinjaman. Padahal, tidak tertutup kemungkinan kemampuan finansial mengembalikan kreditnya sudah meningkat.

Prinsip

Menghindari agar hal-hal buruk seperti itu tidak terjadi pada diri dan keluarganya, seseorang harus punya prinsip yang benar mengenai uang, kebutuhan, dan keinginan.

Sebelum dikenal konsep uang, orang ”tempo doeloe” melakukan barter. Orang yang punya beras dan hendak makan ayam, maka beras ditukar dengan ayam sesuai kesepakatan. Setelah masyarakat mengenal konsep mata uang, jadilah uang itu sebagai alat bayar dan alat tukar untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dihasilkan sendiri. Uang digunakan untuk membeli garam sampai mobil dan rumah, yang tidak dapat dihasilkan sendiri.

Seiring perkembangan zaman dan peradaban manusia, uang juga bisa menjadi ”pekerja” yang dapat kita ”suruh” untuk mencari temannya, yaitu uang juga. Lho kok bisa? Ya bisa. Uang itu diinvestasikan. Kata orang awam, uang diputar.

Namun, sebelum sampai pada penjelasan investasi itu, sebaiknya seseorang terlebih dahulu memahami perbedaan mendasar antara keinginan dan kebutuhan. Tidak sedikit orang yang tak mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Kebutuhan bisa dikatakan segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup, yang memang tidak bisa ditawar-tawar, harus dibayar dengan uang jika tak mampu menghasilkannya sendiri. Obat pada saat kita sakit, misalnya, atau makan yang cukup, dalam volume dan gizinya sesuai kondisi dan kebutuhan fisik.

Namun, sesuatu yang kita anggap kebutuhan sering kali sebenarnya hanya keinginan saja. Membeli baju lima lembar, misalnya, atau membeli lagi padahal yang ada masih bagus. Baju-baju itu sebenarnya tidak kita butuhkan. Namun, karena hanya untuk memenuhi keinginan, baju tersebut kita beli juga.

Jika kelak tidak mau terjadi seperti cerita kepanikan menjelang anak-anak sekolah, ada kiat yang baik. Menabung atau menyesal. Kuncinya menabung sejak dini. Sama dengan mempersiapkan pensiun, semakin awal seseorang mempersiapkan pensiun, semakin ringan anggaran yang ditanggung setiap bulan. Semakin telat dimulai persiapannya, semakin berat pula bebannya, apalagi kalau mau hidup dengan biaya yang cukup besar pada usia pensiun.

Idealnya, menabunglah begitu pertama kali mendapatkan penghasilan, ya masih ”pas-pasan”. Bikinlah komitmen diri sendiri dan laksanakan secara konsekuen. Misalnya, bertekad menyisihkan 10 persen penghasilan setiap bulan. Kalau penghasilan naik, tetap sisihkan 10 persen. Itu komitmennya, jangan lihat nominalnya.

Tidak berarti orang yang sudah lama bekerja tidak dapat memulai menabung. Mulailah sekarang juga...!

Ada yang mengatakan, bagaimana mau menabung kalau penghasilan pas-pasan. Ini paradigma yang kurang tepat. Kembali pada nasihat di atas.

Mulai sekarang juga, inventarisasi ulang, mana kebutuhan dan mana-mana saja cuma keinginan yang selama ini Anda berusaha mati-matian memenuhinya sehingga penghasilan itu pas-pasan.

Tekan semua pengeluaran yang hanya dihamburkan untuk memenuhi keinginan dan penuhi semua kebutuhan. Penghasilan Anda pasti lebih.

Ingatlah rumus ini. Penghasilan dikurangi tabungan sama dengan konsumsi. Jadi, belanjakanlah semua uang penghasilan Anda setelah terlebih dahulu menyisihkan sejumlah tertentu untuk tabungan. Anda pasti punya tabungan. Coba saja...!

Itulah yang dimaksud mengelola kekayaan selagi masih ”pas-pasan”.

Setelah memiliki tabungan yang memadai, barulah meningkat ke investasi yang bisa menaikkan dan menurunkan nilai uang secara cepat. Lakukan sendiri kalau punya kemampuan dan pengetahuan serta waktu. Jika tidak, serahkan kepada ahlinya.

Siapa ahlinya? Ya, pengelola kekayaan, fund manager, profesional individual dan lembaga yang telah mendapat izin dari otoritas jasa keuangan. Terlalu berisiko mengelola sendiri kekayaan tanpa pengetahuan memadai, apalagi produk-produk keuangan semakin canggih.

Layanan Wealth Management Sangat Tepat Buat Mereka Yang Anti Kemiskinan

Kunci layanan wealth management adalah melindungi kekayaan nasabah, memberikan nasihat bagaimana mengembangkan kekayaan nasabah, serta menyiapkan transfer kekayaan melalui rencana warisan.

Dengan filosofi tersebut, jelaslah bahwa inovasi produk yang disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan nasabah menjadi faktor penting penentu keberhasilan bisnis wealth management.

Dalam memberikan layanan wealth management yang paripurna, bank tentu harus memosisikan dirinya sebagai layanan satu atap (one stop service) untuk segala kegiatan investasi, baik untuk produk perbankan, pasar uang, maupun pasar modal. Dengan demikian, bank leluasa melakukan konvergensi dan penjualan silang (cross selling) produk keuangan.

Perbankan tampaknya tidak kesulitan mewujudkan hal ini mengingat pasar keuangan di Indonesia masih didominasi perbankan. Dengan jaringannya yang luas, bank dengan mudah menggandeng perusahaan asuransi, multifinance, dan manajer investasi untuk bekerja sama memasarkan produk nonbank dan menciptakan produk hibrida, yakni campuran produk tradisional bank dengan produk pasar modal atau asuransi.

Selanjutnya, agar konsep melindungi, mengembangkan, dan melestarikan kekayaan bisa dinikmati nasabah secara utuh, nasabah wealth management diharapkan tidak hanya memanfaatkan satu jenis produk, misalnya bancassurance saja, atau reksa dana saja. Nasabah diharapkan sekaligus membeli asuransi sebagai bentuk proteksi, reksa dana untuk mengembangkan kekayaan, serta dana pensiun atau jasa perencanaan keuangan untuk pengelolaan kekayaan pada masa depan, termasuk rencana pemberian warisan.

Dalam menawarkan produk, bank akan menyesuaikan dengan profil risiko dan kebutuhan nasabah. Karena itu, yang pertama dilakukan bank terhadap nasabah baru biasanya adalah memeriksa kondisi keuangan nasabah (financial check up).

Nasabah juga diharuskan mengisi formulir profil risiko untuk mengetahui apakah nasabah tergolong orang yang berhati-hati, moderat, atau berani mengambil risiko berinvestasi.

Bank juga mendengarkan keinginan-keinginan nasabah ke depan, seperti berapa hasil investasi yang diinginkan nasabah sehingga tetap bisa menopang gaya hidup meskipun telah pensiun.

Setelah mengetahui kondisi keuangan, keinginan, dan profil risiko nasabah, bank lalu membuat kalkulasi yang hasilnya adalah sebuah saran mengenai pilihan produk investasi.

Misalnya saja, harus ditaruh di asuransi sekian persen, diinvestasikan di saham sekian, di deposito sekian, dan seterusnya.

”Hal penting yang juga dilakukan bank kepada nasabah wealth management adalah aktif memberikan edukasi kepada nasabah mengenai investasi dan risikonya,” kata Direktur Konsumer BII Stephen Liestyo.

Kepala Jasa Wealth Management Bank Danamon Dyah Purwanti menambahkan, secara berkala penasihat keuangan juga akan me-review portofolio investasi nasabah yang disesuaikan dengan profil dan tujuan investasi, seiring dengan terus berubahnya dinamika kondisi ekonomi dan pasar dunia.

Karena itulah keandalan relationship manager (RM) sebagai penasihat keuangan nasabah amat penting. Untuk menjamin hal ini, bank biasanya mewajibkan para relationship manager untuk memiliki sertifikat wakil penjual reksa dana dari Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Relationship manager pun didorong mendapatkan sertifikat sebagai perencana keuangan (financial planner).

Bagi nasabah, penting pula untuk mengetahui perkembangan imbal hasil dari setiap instrumen investasi agar bisa memutuskan dengan tepat ke mana dana akan ditanamkan.

Terkait perkembangan imbal hasil (yield), saat ini terjadi pergeseran pada sejumlah instrumen investasi. Suku bunga deposito berjangka satu bulan yang menjadi primadona deposan cenderung turun lebih cepat dibandingkan imbal hasil Surat Perbendaharaan Negara (SPN), seperti obligasi negara ritel dan sukuk negara ritel.

Adanya kesepakatan bank- bank besar dan menengah untuk menurunkan suku bunga deposito secara bersama-sama mulai pertengahan 2009 membuat bunga deposito turun drastis. Bunga deposito berjangka satu bulan yang pada awal 2009 rata-rata masih 10,71 persen langsung turun signifikan menjadi rata-rata 6,77 persen pada akhir 2009. Ini berarti terjadi penurunan 394 basis poin.

Dalam kesepakatan tersebut, suku bunga deposito jangka satu bulan ditetapkan maksimal 50 basis poin di atas suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate). Jadi, bank-bank besar dan menengah kini hanya menawarkan bunga deposito satu bulan maksimal 7 persen atau sama dengan bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan.

Imbal hasil Surat Perbendaharaan Negara yang diterbitkan pemerintah sebenarnya juga dalam tren menurun seiring dengan membaiknya peringkat utang Indonesia. Namun, penurunannya lebih lamban dibandingkan deposito berjangka satu bulan.

Sepanjang tahun 2009, SPN bertenor tiga tahun, misalnya, hanya turun sekitar 300 basis poin. Saat ini imbal hasil SPN bertenor 3 tahun sekitar 8,3 persen. Artinya, penurunan imbal hasil SPN tidak sedrastis penurunan suku bunga deposito.

Dengan kata lain, setelah memperhitungkan risiko, penempatan dana pada SPN lebih menguntungkan ketimbang deposito. Kedua produk ini bisa dibilang tanpa risiko karena deposito dijamin LPS, sementara SPN dijamin pemerintah.

Dengan imbal hasil yang relatif lebih menarik, Surat Utang Negara dan SPN akan menjadi pilihan investasi utama bagi investor, baik korporasi maupun ritel, pada 2010. Pilihan investasi berikutnya barulah deposito dan saham.

Salah satu surat perbendaharaan negara yang menjadi primadona masyarakat adalah sukuk ritel atau SPN ritel dengan skema syariah.

Terakhir, pemerintah menerbitkan sukuk syariah pada Februari 2010 dengan imbal hasil setara 8,7 persen per tahun. Keuntungan berinvestasi dalam sukuk ritel, antara lain, adalah aman, tidak bertentangan dengan prinsip syariah, imbalan setiap bulan, prosedur pembelian dan penjualan mudah, dapat diperdagangkan di pasar sekunder, dan pembayaran imbalan tepat waktu dan on line.

Jadi, Anda tinggal pilih mau di mana dana Anda ditanamkan?