Pages - Menu

Showing posts with label reksadana. Show all posts
Showing posts with label reksadana. Show all posts

Tuesday, December 5, 2017

Analisa PPA : IHSG Akan Jatuh Ke Level 5.400 Tahun Depan

PPA Kapital, anak usaha dari PT PPA (Persero), memproyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun depan berada dalam tren pelemahan. Bahkan, peluang penurunan IHSG diproyeksi hingga di level sekitar 5.400-5.500. Chief Economist Research & Advisory PPA Kapital Ferry Latuhihin menjelaskan, potensi pelemahan ini disebabkan kondisi fundamental ekonomi yang belum menunjukan perbaikan berarti jelang akhir tahun ini.

"Tingkat konsumsi melemah, penyaluran kredit lemah," ungkap Ferry, Selasa (5/12).

Seperti diketahui, tingkat konsumsi masyarakat sejak awal tahun diakui melemah oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Terbukti, penjualan ritel semester I 2017 hanya tumbuh 3,7 persen. Padahal, semester I tahun sebelumnya mencapai 11,2 persen. Sementara, data Statistik Perbankan Indonesia (SPI), penyaluran kredit hingga akhir kuartal III 2017 hanya tumbuh 7,86 persen menjadi Rp4.543,59 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4.212,38 triliun.

"Tren pertumbuhan ekonomi juga ke bawah. Kemungkinan tidak sampai lima persen, ya sekitar 4,8 persen. Turun tapi tidak anjlok, turunnya perlahan," sambung Ferry. Begitu juga dengan laju IHSG, meski ia meramalkan IHSG anjlok hingga ke level 5.400, tetapi penurunannya terjadi secara bertahap. Dengan demikian, pelaku pasar tidak perlu khawatir atau takut dengan pasar modal Indonesia.

"Jadi mungkin akan turun dulu ke 5.900, lalu naik, lalu turun, turun lagi," kata dia.

Lebih lanjut Ferry mengatakan, penerimaan pajak juga diprediksi tidak mencapai target hingga akhir tahun ini dinilai bakal mempengaruhi pengeluaran tahun depan.  Data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukan realisasi penerimaan negara hingga akhir Oktober 2017 tercatat Rp1.235,5 triliun atau baru mencapai 71,3 persen.

"Saya takutnya pemerintah nanti akan memotong biaya infrastruktur. Kalau gitu kan akan mengganggu pembangunan dan saham-saham emitennya," papar Ferry. Beberapa emiten yang ia maksud, yakni PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI).

"Nah takutnya juga ganggu saham-saham lain dan berikan sentimen negatif ke IHSG," jelas Ferry. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 2,27 poin (0,03 persen) ke level 6.000 setelah bergerak di antara 5.979-6.026 pada hari ini, Selasa (5/12). Sementara di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah ditutup menguat 8 poin (0,06 persen) di Rp13.519 per dolar AS, setelah bergerak di kisaran Rp13.503-Rp13.524.

RTI Infokom mencatat, investor membukukan transaksi sebesar Rp7,63 triliun dengan volume 9,66 miliar lembar saham. Sementara, dalam perdagangan di pasar reguler hari ini, investor asing tercatat melakukan beli bersih (net sell) sebesar Rp31,48 miliar.

Sebanyak 98 saham naik, 252 saham turun, dan 110 saham tidak bergerak. Sementara enam dari 10 indeks sektoral melemah. Pelemahan terbesar dialami oleh sektor properti yang turun sebesar 1,65 persen. Dari Asia, mayoritas indeks saham bergerak melemah. Kondisi itu ditunjukkan oleh indeks Nikkei225 di Jepang yang turun sebesar 0,37 persen, indeks Kospi di Korsel naik sebesar 0,34 persen, dan indeks Hang Seng di Hong Kong turun 1,01 persen.

Sore ini, mayoritas indeks saham di Eropa bergerak menguat sejak dibuka tadi siang. Indeks FTSE100 di Inggris naik 0,32 persen, indeks DAX di Jerman naik 0,05 persen, dan indeks CAC di Perancis naik 1,22 persen

Monday, October 10, 2016

Daftar Reksadana Dengan Keuntungan Paling Besar Tahun 2016

Kinerja reksa dana masih cukup positif dalam setahun terakhir. Investasi di reksa dana saham mencatatkan keuntungan tertinggi dibandingkan reksa dana jenis lain seperti campuran, pendapatan tetap, dan pasar uang, dan juga obligasi korporasi. Namun demikian, obligasi pemerintah ternyata mencatatkan kinerja tertinggi dibandingkan yang lainnya.

Mengutip data Infovesta, Selasa (11/10/2016), indeks kinerja reksa dana saham atau Infovesta Equity Fund Index tercatat naik 12,56% dalam setahun terakhir, terhitung sejak 30 Desember 2015-30 September 2016. Sementara kinerja reksa dana campuran atau Infovesta Balanced Fund Index tercatat naik 12,39%.

Sedangkan reksa dana pendapatan tetap atau Infovesta Fixed Income Fund Index tercatat naik 11,02%. Reksa dana pasar uang mencatatkan keuntungan paling rendah 3,73%. Kinerja obligasi korporasi hanya mencatatkan keuntungan 7,78% dalam setahun. Berbeda dengan obligasi pemerintah yang mencatatkan kinerja tertinggi yaitu 12,61%.

Berikut 5 reksa dana saham dengan keuntungan tertinggi (yoy):
  • Archipelago Equity Growth naik 36,07%
  • Sucorinvest Equity Fund naik 35,95%
  • Sucorinvest Sharia Equity Fund naik 34,10%
  • OSO Sustainability Fund naik 31,29%
  • Panin Dana Telada naik 30,01%
5 reksa dana campuran dengan keuntungan tertinggi (yoy):
  • Net Dana Flexi naik 33,61%
  • SAM Dana Berkembang naik 28,35%
  • SAM Dana Bersama naik 26,08%
  • I AM BUMN Balanced Plus Fund naik 24,99%
  • Kiwoom Indonesia Optimum Fund naik 24,90%
5 reksa dana pendapatan tetap dengan keuntungan tertinggi (yoy):
  • Mega Dan Pendapatan Tetap naik 24,04%
  • Mega Dana Ori Dua naik 23,65%
  • Bahana Prime Income Fund naik 21,67%
  • Manulife Dana Tetap Utama naik 20,46%
  • Pendapatan Tetap Abadi 2 naik 20,36%

5 reksa dana pasar uang dengan keuntungan tertinggi (yoy):
  • Insight Money naik 6,31%
  • Cipta Dana Cash naik 6,30%
  • Sucorinvest Money Market Fund naik 5,94%
  • Nikko Indonesia Money Market Fund naik 5,76%
  • HPAM Ultima Money Market naik 5,72%
Kinerja reksa dana saham dalam setahun terakhir mencatat keuntungan double digit. Meski demikian, jika dihitung secara bulanan, masih mencatatkan angka minus. Dikutip  dari data, indeks kinerja reksa dana saham atau Infovesta Equity Fund Index mencatatkan kenaikan sebesar 12,56% dalam setahun terakhir atau periode 30 Desember 2015-30 September 2016. Sementara secara bulanan atau Month on Month (MoM) periode 31 Agustus 2016-30 September 2016 tercatat minus 2,37%.

Kinerja reksa dana saham ini masih di bawah kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dalam setahun terakhir, IHSG tercatat mengalami pertumbuhan 16,80%. Meski demikian, secara bulanan atau MoM masih mencatatkan minus 0,40%.

Berikut 5 saham dengan kinerja tertinggi (yoy):
  • Archipelago Equity Growth naik 36,07%
  • Sucorinvest Equity Fund naik 35,95%
  • Sucorinvest Sharia Equity Fund naik 34,10%
  • OSO Sustainability Fund naik 31,29%
Panin Dana Telada naik 30,01%5 saham dengan kinerja tertinggi (MoM):
  • KAM Kapital Optimal naik 22,86%
  • Millenium MCM Equity Sektoral naik 21,91%
  • OSO Sustainability Fund naik 2,07%
  • Syailendra Equity Alpha Fund naik 2,07%
  • Archipelago Equity Growth naik 1,66%

Thursday, October 6, 2016

Reksa Dana Tidak Menarik Bagi Repatriasi Tax Amnesty

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah dana repatriasi dalam rangka amnesti pajak yang masuk ke instrumen pasar modal, khususnya reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) hanya di bawah Rp100 miliar. Kepala Eksekutif Pasar Modal Nurhaida menyatakan, angka tersebut memang terbilang masih sangat rendah. Hal ini karena hampir 95 persen raihan dana repatriasi justru mengendap di perbankan.

"Ini bisa dimaklumi karena dana repatriasi awalnya memang harus masuk ke perbankan terlebih dahulu. Sampai sekarang baru sedikit yang masuk ke instrumen lain," ungkap Nurhaida, Kamis (6/10). Nurhaida melihat, dalam waktu satu hingga dua bulan ke depan dana repatriasi baru akan mulai tersebar di berbagai instrumen investasi karena ada kebutuhan untuk melakukan investasi dari dana repatriasi yang masuk tersebut.

"Saya rasa sebulan dua bulan ke depan, gateway selain bank akan masuk juga dana repatriasi," imbuhnya. Meski ia baru melihat kecenderungan masuknya dana repatriasi dalam instrumen RDPT. Ia tak menampik adanya kemungkinan dana repatriasi yang sudah masuk terlebih dahulu ke pasar modal sebelum Undang-Undang (UU) Amnesti Pajak disahkan.

"Karena kan ada dana-dana yang masuk lebih awal, barangkali masuk di perbankan, mungkin juga sudah ada yang dimasukkan ke dalam beberapa produk. Tapi nanti kan kami lihat juga laporannya seperti apa," terangnya. Terlebih lagi, faktanya saat ini jumlah deklarasi dalam negeri lebih banyak dibandingkan dengan deklarasi luar negeri. Padahal, ia memprediksi jumlah deklarasi luar negeri jauh lebih besar.

“Lihat saja begitu ada kenaikan indeks, itu berarti ada banyak permintaan terhadap saham-saham. Nah kalau banyak permintaan berarti ada dana untuk membeli, dana yang dipakai untuk membeli saham-saham tersebut kemungkinan dari investor Indonesia," paparnya.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Samsul Hidayat mengakui adanya pertumbuhan pembelian atas investor asing (net buy) pada awal Agustus.  Pada pekan pertama bulan tersebut, investor asing membukukan beli bersih senilai Rp7,62 triliun. Realisasi itu tumbuh dua kali lipat dibandingkan nilai bersih minggu terakhir Juli yakni Rp3,23 triliun.

Namun, saat itu Samsul tak bisa mengakui sepenuhnya bahwa hal tersebut merupakan dana repatriasi amnesti pajak. Menurutnya, hal tersebut akan diketahui pada akhir September.

Tuesday, June 7, 2016

Strategi Investasi Reksadana Dengan Dana Pinjaman

Penggunaan pinjaman bukanlah hal yang tabu, sepanjang digunakan untuk kegiatan yang produktif. Kegiatan investasi reksa dana juga merupakan salah satu bentuk kegiatan yang produktif. Pertanyaannya, apakah bijak untuk berinvestasi di reksa dana dengan modal pinjaman?

Sebenarnya praktik meminjam uang untuk kegiatan produktif sangat banyak bisa kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat, pekerjaan ataupun sebagai warga Negara. Sebagai contoh, di tingkat negara, pembiayaan pembangunan infrastruktur sebagian menggunakan pinjaman dari penerbitan Surat Utang Negara.

Di tingkat perusahaan juga sama dimana mereka memiliki opsi untuk meminjam uang dari bank ataupun menerbitkan obligasi. Di tingkat investor saham, dikenal istilah margin trading, di mana investor bisa membeli saham dengan uang pinjaman dari perusahaan sekuritas.

Penggunaan pinjaman tidak melulu hanya untuk mengatasi kekurangan pendanaan. Akan tetapi bisa juga untuk meningkatkan keuntungan dalam berinvestasi. Meski demikian, penggunaan pinjaman itu tidak gratis, ada bunga yang harus dibayar sehingga pengguna pinjaman harus berhitung dengan cermat.

Dari semua contoh yang disebutkan di atas, yang paling mendekati bentuk investasi reksa dana adalah investasi di saham. Logikanya jika investasi di saham bisa menggunakan fasilitas pinjaman margin dari perusahaan sekuritas, tentu adalah bisa diterima juga apabila investasi reksa dana juga menggunakan fasilitas pinjaman. Apakah benar demikian?

Menurut saya, investasi reksa dana dengan menggunakan pinjaman adalah kurang tepat. Investor sebaiknya tidak menggunakan pinjaman dalam berinvestasi reksa dana meskipun tidak ada peraturan yang melarangnya.

Ada 2 alasan mengapa saya berpendapat demikian.

Pertama, ada perbedaan antara Trading dan Long Term Investing. Trading adalah salah satu strategi dalam berinvestasi yang menggunakan pendekatan transaksi jangka pendek untuk mendapatkan potensi keuntungan dalam waktu cepat. Karena dilakukan dalam tempo cepat, bisa hitungan jam atau hari, besaran keuntungan tidak terlalu besar namun secara frekuensi bisa dilakukan berkali-kali.

Sementara, Long Term Investing adalah strategi dalam berinvestasi yang menggunakan pendekatan beli jangka panjang. Investor mempelajari fundamental dan menganalisa harga wajar dengan baik dan melakukan pembelian dengan harapan memperoleh keuntungan yang optimal dalam jangka panjang.

Dengan demikian, otomatis frekuensi transaksi juga menjadi lebih jarang karena periode investasinya bisa tahunan. Untuk investasi di saham, dapat dilakukan dengan 2 cara baik dengan cara trading ataupun dengan long term investing. Sebaliknya untuk reksa dana, cara yang lebih cocok adalah long term investing saja.

Di reksa dana tidak cocok untuk menggunakan trading karena persentase fluktuasi harganya tidak sebesar saham sehingga tidak mendukung untuk dilakukan trading. Selain itu, transaksi keluar masuk yang terlalu sering dan jumlahnya besar sedikit banyak akan “mengganggu” manajer investasi dalam melakukan pembentukan portofolio.

Penggunaan pinjaman untuk meningkatkan hasil lebih cocok dilakukan pada investasi dengan pendekatan trading. Sebab pinjaman yang diambil segera dikembalikan berikut bunganya dalam waktu cepat sehingga bunga tidak terakumulasi dalam jumlah besar.

Dalam investasi reksa dana yang umumnya jangka panjang, apabila menggunakan pinjaman maka tentu ada kewajiban untuk membayar bunga dan pokok pinjaman tersebut. Belum tentu pada saat pembayaran pokok dan bunga pinjaman jatuh tempo hargareksa dana naik sehingga bisa jadi investor harus menjualnya ketika harga sedang rugi.

Kedua, tidak ada instansi resmi yang bisa memberikan pinjaman. Pemberian pinjaman untuk investasi reksa dana belum umum. Manajer Investasi sebagai pengelola reksa dana secara peraturan tidak diperbolehkan melakukan kegiatan usaha selain pengelolaan dan pemasaran. Dengan kata lain, perusahaan manajer investasi tidak dapat memberikan pinjaman. Hal ini berbeda dengan investasi saham dimana investor bisa meminjam dari perusahaan sekuritas.

Untuk bank sebagai agen penjual, sepengetahuan saya pemberian pinjaman untuk transaksi reksa dana juga masih belum ada. Kalaupun ada yang bisa melakukan pinjaman, biasanya menggunakan pinjaman multiguna atau pinjaman kredit tanpa agunan yang bunganya relatif lebih tinggi.

Untuk itu, dibutuhkan kenaikan yang sangat tinggi pada reksa dana agar bisa mengkompensasi bunga tersebut. Kesimpulannya, adalah tidak bijaksana jika anda menggunakan pinjaman sebagai modal untuk melakukan investasi reksa dana. Perlu diketahui juga bahwa sekarang terdapat reksa dana mikro yang memungkinkan anda berinvestasi mulai dari Rp 100.000.

Cara investasi yang baik adalah membuat suatu rencana keuangan masa depan yang komprehensif dan kemudian menyisihkan sebagian penghasilan ke reksa dana untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan cara demikian, anda bisa tetap mencapai tujuan keuangan melalui investasi reksa dana tanpa harus terlilit hutang.

Demikian artikel ini semoga bermanfaat.

Wednesday, April 13, 2016

JP Morgan Mulai PHK Karyawannya Di Asia

JPMorgan Chase & CO (JPM.N) memangkas 30 pekerja atau 5 persen dari jumlah karyawan yang ada pada divisi bisnis pengelolaan kekayaan (wealth management) di Asia. Pemberhentian Hubungan Kerja (PHK) ini mempengaruhi operasional kantor-kantor cabangnya di Singapura dan Hong Kong.

Seperti dilansir Reuters, Market Manager JPMorgan Edwin Lim menuturkan latar belakang pengurangan karyawan dilakukan menyusul berkurangnya jumlah nasabah wealth management di wilayah Asia Utara. Namun, ia enggan menanggapi lebih lanjut kebijakan PHK tersebut.

Sumber Reuters menyebut, PHK merupakan buntut dari keputusan bank investasi tersebut untuk kembali fokus pada nasabah-nasabah kaya dengan nilai investasi di atas US$ 10 juta. Target pasar itu naik dari sebelumnya hanya US$ 5 juta. Maret 2015 lalu, JPMorgan telah memutuskan untuk memposisikan unit wealth management Asia mereka sebagai salah satu bank swasta yang melayani orang kaya dan orang super kaya.

Cap Gemini and RBC, perusahaan konsultan wealth management mengatakan, sebanyak 4,7 juta orang dengan aset keuangan US$ 1 juta adalah kelompok terbesar dan paling cepat berkembang. Namun demikian, beberapa bank Barat justru mundur dari bisniswealth management di Asia seiring dengan meningkatnya biaya, risiko regulasi dan kompetisi yang sengit.

Barclays (BARC.L) bahkan setuju untuk menjual unit bisnis kekayaan dan manajemen investasinya di Hong Kong dan Singapura kepada Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC.SI). "Di JPMorgan, kami terus menerus meninjau cakupan kami untuk memastikan bahwa klien kami selaras dengan penasihat keuangan kami dalam memenuhi kebutuhan pengelolaan kekayaan mereka," ujar juru bicara JPMorgan

Tuesday, April 12, 2016

Bisnis Wealth Management HSBC Melonjak Tajam Setelah Suku Bunga BI Turun

Penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI rate) dalam tiga bulan berturut-turut sejak Januari - Maret 2016 dinilai membawa berkah bagi layanan pengelolaan kekayaan alias wealth management perbankan. Kebijakan tersebut merangsang nasabah menambah tebal portofolio investasi ke produk-produk investasi lainnya.

HSBC Indonesia, salah satunya. Bank yang berkantor pusat di London itu mengaku menerima berkah dari penurunan BI rate, yakni pembelian produk-produk investasi di luar deposito dan tabungan. "Tidak banyak nasabah yang menambah alokasi ke deposito atau tabungan. Justru mereka banyak melakukan pembelian bersih ke produk-produk di luar itu, seperti reksa dana, unitlink dan lainnya," kata Steven Suryana, Senior Vice President and Head of Wealth Management HSBC Indonesia, Selasa (12/4).

Itu berarti, dana kelolaan (asset under management) layanan wealth management HSBC Indonesia berpotensi tumbuh lebih baik ketimbang tahun sebelumnya. Kendati demikian, ia enggan merinci target pertumbuhan bisnis tersebut. Menurut Steven, layanan wealth management di Indonesia masih akan menemui kendala. Bukan dari sisi makro ekonomi, melainkan dari keterbatasan pemahaman masyarakat itu sendiri terhadap pengelolaan kekayaan. Hal itu menjadi alasan HSBC menggelar acara-acara edukasi, seperti HSBC Wealth & Beyond Economy Forum 2016.

"Indonesia itu pertumbuhan kelas menengahnya cukup tinggi. Peluangnya masih sangat besar untuk wealth management, mengingat layanan ini terbilang baru berkembang. Namun sayang, edukasi masyarakatnya masih rendah," tutur Steven.

Tak heran, rata-rata masyarakat Indonesia masih banyak menempatkan dana mereka di deposito. Meski untuk tujuan keuangan jangka panjang, berdasarkan survei HSBC sebelumnya, 80 persen alokasi investasi masyarakat Indonesia berbentuk deposito. Padahal, idealnya, instrumen jangka panjang menawarkan return lebih menarik, seperti obligasi, sukuk, saham, reksa dana dan lainnya.

"Karenanya, pagelaran tahunan dan edukasi yang kami berikan, seperti HSBC Wealth & Beyond, Personal Economy Forum 2016 menjadi penting. Acara ini membuka mata banyak masyarakat tentang pentingnya memiliki perencanaan strategis yang dapat dinikmati hingga masa tua nanti," terang Blake Hellam, Head of Retail Banking & Wealth Management HSBC Indonesia. Survei terbaru HSBC Indonesia, masyarakat Indonesia memiliki harapan tinggi untuk terus dapat hidup berkualitas hingga masa tua mereka. Namun, baru sekitar 36 persen saja yang telah siap dengan perencanaan keuangan jangka panjang. Satu dari tiga orang di Indonesia bahkan mengaku belum siap menyambut hari tua mereka.

Studi HSBC bertajuk The Power of Protection, Confidence in the Future melansir, kekhawatiran masyarakat Indonesia yang paling besar adalah kondisi kesehatan. Hal ini menjadi ketakutan 64 persen responden dalam studi tersebut. Diikuti oleh, kesehatan keuangan (54 persen), kualitas hidup di usia tua (43 persen) ketika mereka tidak produktif lagi.

Tuesday, August 18, 2015

Cara Mengukur Resiko, Keuntungan dan Waktu Balik Modal Reksa Dana

Yang dimaksud dengan mengukur risiko adalah menyatakan risiko tersebut dalam satuan kuantitatif (angka atau persentase). Dengan demikian, risiko suatu reksa dana dengan reksa dana lain dapat dibandingkan secara setara. Risiko peraturan atau regulation risk relatif sulit diukur karena sifat suatu peraturan biasanya hanya one-time effect. Setelah itu pasar akan melakukan penyesuaian dengan cepat. Selain itu, peraturan yang keluar berbeda dari waktu ke waktu dan sifatnya bisa positif dan bisa negatif sehingga sulit untuk diukur.

Risiko likuiditas dan risiko wanprestasi bisa diukur apabila investor memiliki akses informasi terhadap keseluruhan isi portofolio reksa dana. Namun hal ini cenderung sulit karena data isi portofolio secara keseluruhan tidak dipublikasikan dan isinya bisa berubah dari waktu ke waktu tergantung pada situasi dan kondisi. Oleh karena itu, tinggal satu jenis risiko yang bisa diukur secara kuantitatif yaitu risiko pasar atau market risk. Risiko ini dapat diukur dengan catatan tersedia data historis yang memadai.

Dalam berbagai teori pengukuran risiko yang dikembangkan oleh para akademisi biasanya berfokus pada risiko ini. Sebab risiko-risiko lain dianggap sangat jarang terjadi dan sifatnya hanya sementara saja, sementara jenis risiko ini yang ditanggung oleh investor selama periode berjalannya investasi.

Satuan yang digunakan untuk mengukur risiko pasar adalah standar deviasi dan beta. Untuk memudahkan pemahaman terhadap kedua satuan tersebut, diberikan ilustrasi kinerja reksa dana saham (RDS) dan IHSG :
  • Tahun pertama RDS +10 persen IHSG +5 persen
  • Tahun kedua RDS +30 persen IHSG +15 persen
  • Tahun ketiga RDS -10 persen IHSG -5 persen
Dalam bahasa statistik, standar deviasi adalah penyimpangan dari rata-rata. Rata-rata bisa dihitung dari penjumlahan data dibagi jumlah datanya. Dengan menggunakan contoh kasus di atas, rata-rata untuk reksa dana saham adalah 10 persen + 30 persen + (-10 persen) = 30 persen kemudian dibagi 3 yaitu 10 persen. Untuk menghitung standar deviasi, dapat dilakukan dengan menggunakan rumus statistik. Namun hal ini mungkin sulit untuk dipahami oleh anda yang awam tentang perhitungan karena menggunakan akar kuadrat.

Untuk memudahkan pemahaman mari kita lihat angka rata-rata, tertinggi dan terendahnya yaitu masing-masing 10 persen, 30 persen dan -10 persen. Jika anda perhatikan jarak dari rata-rata ke angka tertinggi dan rata-rata ke angka terendah sama yaitu 20 persen. (30 persen didapat dari rata-rata ditambah 20 persen dan -10 persen didapat dari rata-rata dikurangi 20 persen).

Karena standar deviasi merupakan penyimpangan dari rata-rata, maka angka 20 persen merupakan nilai “standar deviasi”nya. Semakin besar nilai standar deviasi, berarti kinerja reksa dana akan “terdeviasi” semakin besar dari rata-ratanya. Oleh karena itu, semakin besar angka standar deviasi reksa dana semakin besar pula risiko suatu reksa dana. Sebab jika rata-rata dari reksa dana dianggap sebagai proyeksi return di masa mendatang, maka anda berpotensi mendapatkan kinerja yang jauh dari angka tersebut karena adanya standar deviasi.

Pada praktiknya, angka standar deviasi tidak memiliki makna yang luas jika hanya berdiri sendiri. Dala penggunaannya, angka ini dibandingkan dengan return yang dihasilkan oleh reksa dana atau dibandingkan dengan standar deviasi reksa dana lain. Dengan cara hitung yang sama, jika diterapkan pada IHSG, anda akan mendapatkan standar deviasi IHSG sebesar 5 persen. Dibandingkan dengan standar deviasi reksa dana yang sebesar 20 persen, bisa diartikan bahwa risiko reksa dana saham lebih tinggi daripada risiko IHSG.

Dalam bahasa statistik, beta disebut juga dengan koefisien regresi. Dalam bahasa awam, koefisien regresi adalah suatu angka yang menunjukkan pengaruh dari suatu angka terhadap angka lainnya. Dalam konteks investasi pengaruh kinerja IHSG terhadap kinerja reksa dana saham. Untuk menghitung angka koefisien regresi, terus terang rumusnya lebih njelimet dibandingkan menghitung standar deviasi karena menggunakan pembagian antara covarian dengan varian. Bagi anda yang awam atau sudah lama lulus dari dunia perkuliahan, biasanya selalu beralasan kemarin enggak tahu hari ini lupa.

Jadi untuk menjelaskan perhitungan beta, mari kita lihat angka perbandingan di atas. Sebagai contoh, perbandingan antara kinerja reksa dana saham dengan IHSG selama 3 tahun adalah RDS +10 persen vs IHSG +5 persen, RDS +30 persen vs IHSG +15 persen, dan RDS -10 persen vs IHSG -5 persen.  Terdapat pola bahwa kinerja reksa dana saham selalu 2 kali lipat daripada kinerja IHSG baik dalam kondisi untung ataupun rugi. Jadi ibaratnya kalau IHSG turun 5 persen, maka kita harus siap-siap reksa dana saham ini turun 10 persen. Sebaliknya juga ketika naik.

Secara teori, semakin tinggi beta semakin besar pula risiko reksa dana dan sebaliknya. Berbeda dengan standar deviasi yang hanya bisa dipakai dengan membandingkannya dengan return atau standar deviasi reksa dana lain, angka beta sudah bisa dipakai sendiri tanpa harus membandingkan.

Angka beta di atas 1 menunjukkan risiko reksa dana saham lebih tinggi dibandingkan IHSG dan sebaliknya untuk angka beta di bawah 1. Selain berbasis saham, terdapat pula reksa dana yang dominan berbasis obligasi seperti reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana pasar uang. Karena memiliki karakteristik yang berbeda dengan saham, maka metode pengukuran risikonya juga berbeda yaitu menggunakan analisa durasi. Seperti apa analisa tersebut?

Secara prinsip, yang paling membedakan antara saham dan obligasi adalah pada jatuh temponya. Saham tidak memiliki jatuh tempo sehingga harganya akan berfluktuasi dari waktu ke waktu. Di Indonesia, harga saham dapat turun ke batas bawah yang diperbolehkan dalam Bursa Efek Indonesia yaitu Rp 50 per lembar dan untuk kenaikannya tidak terbatas. Selama perusahaan terus menerus membukukan keuntungan, maka harganya akan terus naik.

Instrumen obligasi berbeda. Obligasi memiliki waktu jatuh tempo sehingga meskipun harganya juga dapat berfluktuasi, pada akhirnya pasti akan kembali ke nilai nominalnya. Di Indonesia, harga obligasi dinyatakan dalam persentase dan untuk harga nominal adalah sebesar 100 persen. Harga pasarnya adalah harga dalam persentase dikalikan dengan nominal transaksi. Misalkan investor membeli obligasi Rp 10 miliar dengan harga 102, maka transaksi yang terjadi adalah Rp 10,2 miliar (Rp 10 miliar x 102 persen).

Untuk harga obligasi yang ditransaksikan di atas 100 disebut harga premium sementara yang di bawah 100 disebut disebut harga diskonto. Dari saat dimiliki oleh investor hingga jatuh temponya, harga obligasi dapat naik dan turun. Bisa di atas 100 ataupun di bawah 100. Batas terbawah adalah 0 persen atau pada dasarnya obligasi tersebut bangkrut dan untuk batas atasnya tidak ada.

Namun berapapun harganya, pada dasarnya jika perusahaan tidak bangkrut maka harganya akan kembali 100 pada saat jatuh tempo, artinya pemegang obligasi akan dikembalikan sejumlah nilai pokok obligasi oleh perusahaan yang menerbitkannya. Harga obligasi hanya menjadi harga transaksi jika investor memperjual-belikannya satu sama lain.

Kemudian, perbedaan besar kedua adalah penyebab perubahan harga tersebut. Harga saham sangat ditentukan oleh fundamental atau kinerja perusahaan. Jika kinerja perusahaan baik maka harganya akan naik dan sebaliknya. Pengaruh fundamental perusahaan terhadap harga obligasi adalah ketika perusahaan tersebut mau bangkrut atau diprediksi akan gagal bayar. Ketika hal tersebut terjadi, harga obligasi bisa jadi 0. Namun jika hanya nilai penjualan dan laba bersih yang naik turun, hampir tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap harga obligasi.

Jadi perubahan harga obligasi dari hari ke hari lebih disebabkan karena perubahan suku bunga. Obligasi pada dasarnya adalah instrumen investasi yang memberikan pembayaran kupon yang tetap kepada investor, sama seperti deposito. Bedanya hanya jangka waktunya lebih panjang dan bunganya lebih besar.

Jika suku bunga deposito di bank naik atau bahkan lebih besar dibandingkan besaran kupon obligasi, supaya tetap menarik obligasi harus dijual pada harga diskon. Sebaliknya juga ketika suku bunga deposito turun, maka kupon obligasi bisa jadi sangat menarik sehingga ada investor yang bersedia membeli di harga premium.

Dengan kata lain, ketika suku bunga naik, maka harga obligasi akan turun. Begitu pula reksa dana yang berinvestasi pada obligasi ini. Sebaliknya ketika suku bunga turun, maka harga obligasi dan reksa dana berbasis obligasi akan mengalami kenaikan. Meskipun demikian, perubahan suku bunga dapat memiliki dampak yang berbeda-beda terhadap perubahan harga obligasi tergantung pada jangka waktu jatuh tempo obligasi dan besaran suku bunganya.

Sebagai ilustrasi, obligasi dengan jatuh tempo yang lebih panjang akan memiliki persentase perubahan harga yang lebih besar dibandingkan obligasi dengan jatuh tempo yang lebih pendek. Misalkan ketika suku bunga naik 1 persen, maka harga obligasi jangka panjang bisa turun 5 persen sementara obligasi jangka pendek hanya 2 persen saja. Sebaliknya juga ketika suku bunga turun, kenaikan harga pada obligasi jangka panjang bisa lebih besar.

Hal ini bisa terjadi karena jika jatuh tempo obligasi lebih lama, maka ketidakpastian yang dialami lebih besar dibandingkan obligasi yang jatuh temponya lebih pendek. Selain suku bunga, faktor yang berpengaruh terhadap persentase perubahan obligasi adalah pada besaran kupon yang diberikan. Obligasi dengan kupon yang lebih tinggi akan memiliki risiko yang lebih kecil dibandingkan obligasi yang kuponnya lebih rendah.

Dalam bahasa akademis, obligasi dengan kupon yang rendah dan jatuh tempo panjang (Low Coupon Long Maturity) akan memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi dengan kupon tinggi dan jatuh tempo yang pendek (High Coupon Short Maturity). Bagaimana jika ada obligasi yang jatuh temponya panjang, tapi kuponnya tinggi? Atau jatuh temponya pendek tapi kuponnya rendah? Untuk mengukur risiko tersebut digunakanlah istilah Modified Duration atau Durasi. Dalam beberapa fund fact sheetreksa dana pendapatan tetap dan campuran, kadang-kadang investor juga bisa menjumpai istilah ini.

Misalkan disebutkan Durasi suatu reksa dana adalah 3,5. Artinya jika saat ini suku bunga mengalami kenaikan 1 persen, maka diperkirakan harga reksa dana akan turun sebesar 3,5 persen dan sebaliknya jika suku bunga mengalami penurunan 1persen, maka harga reksa dana akan naik sebesar 3,5 persen.

Dengan membandingkan durasi antara reksa dana yang satu dengan yang lain, investor bisa mengetahui reksa dana mana yang lebih berisiko dan reksa dana mana yang tidak. Berapa besarnya Durasi yang wajar? Memang saat ini belum ada pedomannya. Namun sebagai gambaran, untuk yang berisiko rendah adalah antara 1 – 3, sedang 4 – 5 dan tinggi di atas 5. Ketentuan ini mungkin bisa berbeda di masing-masing tempat, tapi setidaknya bisa digunakan sebagai gambaran.

Thursday, April 23, 2015

ASM Equities Fund Ambil Alih Saham MNC Milik Hary Tanoesoedibjo

ASM Equities Fund, perusahan reksa dana yang dikelola oleh manager investasi yang berbasis di Hong Kong, Argyle Street Management Limited (ASML) mengakuisisi 343,7 juta lembar saham PT MNC Land Tbk. (KPIG), milik taipan Hary Tanoesoedibjo.

Berdasarkan keterangan resmi yang dipublikasikan perseroan di PT Bursa Efek Indonesia, Rabu 22 April 2015, disebutkan harga akuisisi saham emiten berkode saham KPIG tersebut mencapai Rp 1.350 per lembar. Sehingga, transaksi pembelian saham mencapai Rp 464 miliar atau setara dengan US$36 juta.

Salah satu filosofi bisnis ASML adalah membangun hubungan jangka panjang. Perusahaan pengelola dana ASML sejak diluncurkan pada 2002, telah meningkat nilainya sebesar 264%, lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan S&P 500 sebesar 89% dan kenaikan MSCI Asia Pacific sebesar 79% pada periode yang sama.

Sementara itu, MNC Land yang merupakan perusahaan properti milik MNC Group tersebut memiliki total aset Rp 9,9 triliun. Pendapatan per akhir tahun lalu mencapai Rp1 triliun, naik 72% year-on-year.

Laba usaha MNC Land mencapai Rp207 miliar atau melonjak 99% secara tahunan. Sedangkan EBITDA mencapai Rp 350 miliar, atau meningkat 83% dibandingkan periode 2013. Saham-saham Hong Kong berakhir turun 0,38 persen pada Kamis, 23 April 2015, setelah reli baru-baru ini. Laporan saham menunjukkan kegiatan manufaktur Cina mengalami kontraksi pada April.
Indeks acuan Hang Seng tergelincir 106,15 poin menjadi ditutup pada 27.827,70 dengan nilai transaksi HK$ 191,77 miliar (US$ 24,74 miliar).

Namun, di Cina Daratan, indeks komposit Shanghai bertambah 0,36 persen atau 16,02 poin menjadi 4.414,51 dengan nilai transaksi sebesar 963,0 miliar yuan (US$ 157,1 miliar). Indeks komposit Shenzhen, yang melacak saham-saham di bursa kedua Cina, naik 1,01 persen atau 22,52 poin menjadi 2.256,98 dengan nilai transaksi 687,7 miliar yuan.

Monday, April 6, 2015

Cara Memilih Reksadana Berdasarkan Tujuan Investasi

Bagi investor awam, memilih reksa dana seringkali menjadi perkara yang sulit. Hal ini disebabkan karena banyaknya jenis reksa dana. Ketika seorang calon datang ke Manajer Investasi atau Agen Penjual Reksa Dana, mereka akan diberikan 4 pilihan yaitu reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran dan reksa dana saham.

Klasifikasi tersebut dibuat berdasarkan kebijakan investasi pada masing-masing reksa dana.  

Reksa dana pasar uang, kebijakannya adalah berinvestasi sebanyak 100 persen pada instrumen pasar uang. Yang dimaksud dengan instrumen pasar uang adalah surat berharga yang jatuh temponya kurang dari 1 tahun. Instrumen Tabungan, Deposito dan Giro masuk dalam klasifikasi tersebut. Surat Utang yang diterbitkan oleh korporasi dan negara seperti Obligasi Ritel (ORI) dan Sukuk Ritel, juga termasuk pasar uang apabila dibeli pada saat jatuh temponya kurang dari 1 tahun. 

Reksa dana pendapatan tetap adalah reksa dana yang kebijakan berinvestasi minimal 80 persen pada instrumen obligasi. Jika Pasar Uang jatuh temponya kurang dari 1 tahun, maka Obligasi adalah surat utang yang jatuh temponya di atas 1 tahun. Kenapa disebut pendapatan tetap? Hal ini karena Surat Utang secara konsisten mendapat pembayaran bunga (kupon) yang tetap dari penerbitnya. Pada prakteknya, bunga tersebut tidak diteruskan kepada investor namun direinvestasikan kembali.

Hasil reinvestasi ini kemudian akan menambah nilai reksa dana sehingga harganya meningkat. Di satu sisi, harga obligasi dan pasar uang bisa mengalami perubahan sesuai dengan perubahan suku bunga dan inflasi. Ketika suku bunga dan inflasi turun, harga obligasi dan pasar uang akan naik. Sebaliknya ketika suku bunga dan inflasi naik, maka harga obligasi dan pasar uang akan turun.

Reksa Dana Campuran adalah reksa dana yang kebijakannya berinvestasi pada instrumen saham, obligasi dan pasar uang maksimal 79 persen dari dana kelolaannya. Ketiga instrumen tersebut harus dimiliki oleh reksa dana campuran pada saat yang bersamaan, artinya tidak boleh memiliki hanya dua dari ketiga instrumen tersebut. Pada praktiknya, kebijakan investasi reksa dana campuran sangat beragam. Ada yang porsi investasi sahamnya besar, ada yang obligasinya besar, ada juga yang komposisinya berimbang.

Reksa dana saham adalah reksa dana yang kebijakannya paling agresif karena berinvestasi pada saham minimal sebanyak 80 persen dari total dana kelolaannya.  Dibandingkan dengan jenis instrumen lainnya, saham merupakan instrumen yang mampu memberikan tingkat keuntungan paling tinggi namun begitu pula dengan tingkat risikonya.

Dalam memberikan rekomendasi reksa dana kepada calon investor, para agen penjual diarahkan menggunakan kuesioner profil risiko sebagai panduan. Calon investor diminta untuk mengisi sejumlah pertanyaan pilihan ganda. Poin-poin dari pertanyaan tersebut kemudian dijumlahkan. Hasil dari penjumlahan tersebut kemudian digunakan sebagai dasar membagi profil risiko investor menjadi sangat konservatif, konservatif, moderat dan agresif.

Rekomendasi reksa dana untuk kelompok profil risiko di atas adalah reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran dan saham. Pada dasarnya semakin agresif seseorang, maka semakin agresif pula pilihan reksa dananya. Meski sesuai dengan teori, menurut saya praktek tersebut kurang tepat. Seharusnya pilihan reksa dana disesuaikan dengan tujuan investasi seseorang. Pilhan reksa dana yang salah dapat menyebabkan tujuan keuangan seseorang menjadi tidak tercapai.

Sebagai contoh, bagi investor yang sedang mempersiapkan rencana pensiun 15–20 tahun ke depan, reksa dana saham adalah pilihan yang sesuai. Sekalipun kuesioner profil risiko menunjukkan investor tersebut karakteristiknya konservatif.

Mengapa demikian? Sebab dalam jangka panjang, kenaikan harga saham atau reksa dana saham akan lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga obligasi dan pasar uang. Dengan berinvestasi pada reksa dana yang konservatif, investor kehilangan kesempatan untuk membuat dananya tumbuh maksimal. Sebaliknya juga, jika tujuan investasi adalah jangka pendek, maka jangan memaksakan untuk berinvestasi pada reksa dana saham meskipun profil risiko kita sangat agresif.

Sebab dalam jangka pendek, harga saham dapat bergerak naik dan turun. Bisa saja ketika dana tersebut dibutuhkan, harga saham malah sedang jatuh dalam-dalamnya. Untuk tujuan keuangan yang dananya dibutuhkan dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun menggunakan reksa dana pasar uang. Untuk periode 1–3 tahun, menggunakan reksa dana pendapatan tetap. Untuk periode 3–5 tahun menggunakan reksa dana campuran dan untuk periode di atas 5 tahun menggunakan reksa dana saham.

Pada tahun 2010 yang lalu, Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia atau disingkat dengan APRDI menyelenggarakan lomba karya cipta untuk logo dan slogan reksa dana.  APRDI sendiri adalah sebuah organisasi profesi non politik, non komersial dan otonom di lingkungan pasar modal yang beranggotakan Manajer Investasi dan Bank Kustodian pengelola reksa dana di Indonesia.

Secara hukum, reksa dana merupakan kontrak investasi kolektif antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian. Manajer Investasi bertindak sebagai pengelola dan Bank Kustodian bertindak sebagai administrasi, penyimpanan surat berharga dan pengawas. Sejak berdiri APRDI bersama anggotanya aktif melakukan pengembangan industri reksa dana di Indonesia. Kegiatan lomba karya tersebut merupakan salah satu bentuk menarik perhatian dan pemahaman masyarakat terhadap reksa dana.

Dari sekian karya yang masuk, akhirnya gambar bunga yang dirangkai beserta tulisan reksa dana dalam huruf kecil dipilih sebagai logo dan “pahami, nikmati!” dipilih sebagai slogan. Logogram, reksa dana dan pahami, nikmati!

Penjelasan dari komponen logo reksa dana di atas sebagai berikut :

Gambar sekelompok orang yang dirangkai sedemikian rupa sehingga membentuk gambar bunga yang berarti berkembang dan bertumbuh. Gambar bunga dandelion, seperti filosofi bunga dandelion yang terlepas dari induknya namun kemudian dia akan tumbuh Tiga anak panah melambangkan tiga unsur penting dalam pengelolaan reksa dana yaitu para penyandang dana, perusahaan manajemen investasi dan masyarakat luas.

Tulisan reksa dana menggunakan huruf kecil, karena reksa dana bertujuan mengajak seluruh lapisan masyarakat. Dengan huruf kecil, akan tercipta kesan akrab dan tidak arogan sehingga bisa diterima masyarakat dari segala kalangan. Slogan pahami, nikmati! Mengandung makna sebuah proses mengajak untuk memahami, ikut terlibat dan selanjutnya menikmati hasilnya.

Makna logo dan slogan reksa dana
Selama ini, reksa dana masih dipandang sebagai produk ekslusif yang hanya diperuntukkan bagi kalangan atas saja. Belum lagi dengan banyaknya kasus investasi bodong di Indonesia, masyarakat sudah terlanjur memberikan pandangan negatif termasuk pada reksa dana yang merupakan produk investasi yang legal.

Dari logo dan slogan di atas, kita bisa melihat semangat dan harapan dari para pelaku agar industri reksa dana dapat berkembang dan diterima di seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Untuk itu, para anggota APRDI bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara aktif banyak melakukan kegiatan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

Sebab jika dilakukan secara baik, reksa dana bisa menjadi salah satu alat yang untuk mencapai berbagai tujuan keuangan seperti pensiun, pendidikan anak, dan tujuan masa depan lainnya.  Meski demikian sebagai produk investasi, reksa dana tentunya mengandung risiko. Jika hanya berinvestasi, tapi tidak mengerti dikhawatirkan investor menjadi panik ketika menghadapi fluktuasi harga.

Dengan prinsip pahami, nikmati! Masyarakat diharapkan dapat mengenali kebutuhan dan produk, manfaat dan risiko, serta hak dan kewajibannya sebelum menikmati keuntungan dari investasi reksa dana. Dengan demikian bisa menjadi seorang investor yang sukses finansial dengan reksa dana.

Syarat Keuangan Yang Harus Dipenuhi Ketika Ingin Berinvestasi Di Reksadana

Reksa dana memiliki slogan pahami, nikmati. Artinya investor diminta untuk memahami risiko dan cara kerjanya, baru menikmati hasil keuntungan reksa dana.  Pertanyaannya, apakah dengan paham saja sudah cukup? Tentu tidak. Jika diibaratkan, proses investasi reksa dana untuk mencapai tujuan keuangan adalah maraton, bukan sprint.

Untuk bisa “berlari” dalam jangka panjang, tentu tidak cukup hanya punya target mau mencapai garis finish dan bagaimana cara berlari yang benar saja, akan tetapi fisik juga harus dipersiapkan. Investasi reksa dana juga demikian. Secara keuangan, kita harus sehat sebelumnya melakukan investasi di reksa dana. Jika tidak, ibarat lari maraton, sebelum sampai pada tujuan anda sudah berhenti karena “kram” di tengah jalan.

Seperti apa kondisi keuangan yang dikatakan sehat sehingga seseorang bisa menjadi investor reksa dana yang baik ? Sama seperti tes darah, sehat atau tidaknya seseorang bisa dari angka indikator seperti kandungan gula darah, kolestrol, asam urat, creatin, dan lainnya. Secara keuangan, caranya juga kurang lebih demikian. Bedanya, bahan yang di tes adalah 4 informasi keuangan pribadi yaitu penghasilan, pengeluaran, harta dan hutang.

Berdasarkan informasi keuangan tersebut, sehat atau tidaknya keuangan seseorang bisa diukur menggunakan angka rasio sebagai berikut:

1. Rasio Pendapatan Terhadap Pengeluaran
Pendapatan adalah semua penghasilan yang sifatnya rutin seperti gaji dan tidak rutin seperti komisi. Pengeluaran adalah mulai dari belanja kebutuhan rutin, tranportasi, rekreasi, cicilan utang dan lainnya. Yang tidak termasuk pengeluaran adalah kegiatan investasi seperti menabung uang di bank, membeli emas, reksa dana dan instrumen investasi lainnya secara uang tunai.Misalkan pendapatan anda secara bulanan rata-rata Rp 12 juta dan pengeluaran anda adalah Rp 10 juta, maka Rasio Pendapatan Terhadap Pengeluaran adalah Rp 12 juta dibagi Rp 10 juta = 1,2. Sehat adalah jika rasio ini di atas angka 1.

2. Rasio Cicilan Produktif dan Cicilan Konsumtif
Dengan harga tanah, rumah, apartemen, mobil, motor yang semakin meningkat, adalah sangat wajar jika seseorang memiliki utang. Sepanjang hutang ini dipergunakan untuk tujuan yang sifatnya produktif, maka seseorang masih bisa dikatakan sehat secara keuangan.Ada 2 kondisi berutang yang bisa menyebabkan seseorang dikatakan tidak sehat secara keuangan. Pertama cicilan utang produktif dibagi dengan total pendapatan bulanan lebih besar dari 30 persen.Misalkan penghasilan anda Rp 10 juta, untuk menunjang tranportasi ke kantor anda mengambil cicilan mobil dengan nilai Rp 4 juta setiap bulan. Sehingga jika dihitung rasionya 40 persen (Rp 4 juta bagi Rp 10 juta).

Kedua, cicilan utang konsumtif dibagi dengan total pendapatan bulanan lebih besar dari 0 persen. Yang dimaksud dengan cicilan utang konsumtif adalah cicilan yang dipergunakan untuk membeli barang yang sifatnya konsumtif seperti smartphone, perhiasan, dan lainnya.Artinya begitu punya utang konsumtif, langsung seseorang dinyatakan tidak sehat secara keuangan. Sedikit fleksibilitas, apabila smartphone dipergunakan untuk membantu pekerjaan bisa dikategorikan produktif. Jika mayoritas hanya digunakan untuk main game, maka masuk kategori konsumtif.

3. Rasio Dana Darurat
Dana Darurat adalah sejumlah uang yang disimpan dalam bentuk yang mudah dicairkan. Bisa tabungan, emas batangan, ataupun reksa dana pasar uang.Seseorang dikatakan sehat apabila rasio antara Dana Darurat dibandingkan dengan pengeluaran bulanannya antara 3 – 12 kali bulan pengeluaran. Misalkan total tabungan di bank adalah Rp 30 juta, sementara rata-rata pengeluaran per bulan Rp 10 juta, maka diperoleh rasio 3 (Rp 30 juta dibagi Rp 10 juta).

Dana darurat sangat penting karena ketika ada kejadian seperti keluarga atau teman dekat masuk rumah sakit, terkena PHK, atau kondisi darurat lainnya kita tidak perlu panik dan terpaksa menjual semua aset kita dengan harga Butuh Uang alias BU.Bahkan ketika terjadi gejolak di bursa saham, sebagian dari dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk membeli di harga rendah.

Semakin banyak anggota keluarga, maka semakin banyak dana darurat yang dibutuhkan. Namun terlalu banyak juga tidak baik karena hasil pada instrumen investasi yang mudah dicairkan itu biasanya tidak besar.

4. Rasio Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa
Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa adalah sejumlah uang yang dibayarkan kepada tertanggung apabila yang bersangkutan membeli asuransi jiwa dan mengalami risiko meninggal dunia.Kenapa asuransi penting? Sebab ketika seseorang yang menjadi tulang punggung pencari nafkah meninggal, maka keluarga yang ditinggalkan akan mengalami kesulitan. Dengan adanya asuransi, diharapkan bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga tersebut selama beberapa waktu sampai mereka bisa mandiri dan menafkahi diri sendiri.

Sama seperti dana darurat, tidak ada asuransi jiwa tidak baik, tapi terlalu banyak juga tidak baik karena biaya asuransi yang dibayarkan cukup besar. Besaran uang pertanggungan asuransi yang wajar untuk seseorang atau disebut juga dengan istilah Human Life Valueadalah sekitar 8 – 10 tahun pengeluaran ditambah biaya pendidikan hingga anak lulus perguruan tinggi.Sebagai contoh, jika pengeluaran per bulan adalah Rp 5 juta dan untuk menyekolahkan anak sampai dengan lulus butuh Rp 100 juta, maka besaran uang pertanggungan yang sesuai Human Life Value adalah Rp 5 juta x 120 bulan + Rp 100 juta = Rp 700 juta.

Mengapa asuransi lain seperti kesehatan, penyakit kritis dan cacat tetap tidak diperhitungkan? Sebab saya mengasumsikan semua tersebut dalam kondisi terburuk sudah ditanggung negara melalui program BPJS Kesehatan.

Kesimpulan
Jadi, seseorang dikatakan sehat secara keuangan sehingga sudah siap untuk menjadi seorang investor reksa dana yang diharapkan bisa mencapai kesuksesan finansial, maka indikatornya sebagai berikut :

Indikator
Keterangan Sehat
Rasio Pendapatan Terhadap Pengeluaran
> 1
Rasio Cicilan Produktif
Rasio Cicilan Konsumtif
Maks 30%
Maks 0%
Rasio Dana Darurat
Antara 3 – 12
Rasio Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa
8 – 10 Tahun + Biaya Pendidikan anak

Membuat kondisi keuangan yang sehat selalu tidak mudah. Apalagi bagi kaum muda yang baru pertama kali masuk kerja. Boro-boro ada yang bisa disisihkan. Bisa cukup sampai dengan akhir bulan saja sudah syukur. Untuk itu, persiapan untuk 2 indikator yaitu dana darurat dan pertanggungan asuransi jiwa dapat dilakukan secara pararel. Artinya meski dana darurat dan asuransi jiwa belum punya atau masih sedikit, investasi reksa dana sudah bisa dimulai.

Jika memang penghasilannya benar-benar tidak cukup, minimal fokus pada dana darurat dulu. Asuransi baru penting ketika seseorang sudah menikah dan menjadi kepala keluarga.

Friday, November 7, 2014

OJK Terbitkan Aturan Baru Tentang Reksa Dana

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menyelesaikan perancangan enam peraturan pada 2014. Komisioner Pengawas Pasar Modal 2 OJK, Noor Rachman, mengatakan aturan tersebut dapat meningkatkan kinerja investasi, khususnya reksa dana. "Kami berharap segera selesai, karena penting bagi pertumbuhan reksa dana," katanya, Jumat, 7 November 2014.

Empat dari enam aturan baru itu yakni Laporan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset, Efek Beragun Aset Berbentuk Surat Partisipasi, Reksa Dana Berbasis Efek Luar Negeri, dan Pemasaran Produk Reksa Dana Asing.

OJK juga merampungkan lima revisi regulasi perihal perusahaan investasi, yakni Kontrak Investasi Kolektif Reksa Dana Penyertaan Terbatas, Wakil Manajer Investasi, Fungsi-fungsi Manajer Investasi, Perilaku yang Dilarang Bagi Manajer Investasi, serta Pendaftaran dan Perilaku Agen Penjualan Efek Reksa Dana.

Bagi OJK, membuat regulasi tbukan hanya soal meningkatkan kemudahan. "Jangan sampai menghilangkan prinsip dasar pengelolaan," ujar Noor.

Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia, Denny Thaher, juga berharap OJK dapat segera menyelesaikan pembahasan regulasi yang menopang kinerja reksa dana. Denny mengungkapkan, dana kelolaan sampai dengan November 2014 berada pada kisaran Rp 217 triliun. Pada Desember 2013, kata dia, dana kelolaan reksa dana sebesar Rp 190 triliun. "Merujuk pada hal itu, jumlah dana kelolaan tumbuh 14 persen," katanya.

Prospek industri keuangan nonbank diperkirakan masih bagus tahun depan. Diprediksi pertumbuhan industri ini di atas 15 persen. "Tahun depan prospeknya bagus," kata Deputi Komisoner Pengawas Industri Keuangan Nonbank Otoritas Jasa Keuangan Dumoly Freddy Pardede, Senin, 3 November 2014, di sela acara 20-20 Investment Association di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta.

Dumoly mengatakan sektor asuransi, misalnya, diperkirakan tumbuh 20 persen, pengelolaan dana pensiun tumbuh 15 persen, dan industri pembiayaan naik 17 persen. Iklim investasi yang bagus diyakini menjadi alasan tumbuhnya industri-industri tersebut.

Otoritas Jasa Keuangan, kata Dumoly, akan terus memperbaiki regulasi di sektor keuangan nonbank. Tujuannya untuk memberi manfaat bagi masyarakat dan mempermudah pelaku usaha di bidang ini.

Investment Association sendiri merupakan lembaga nirlaba dalam industri keuangan yang mempelajari iklim investasi di negara berkembang. Anggota forum ini berasal dari 26 negara asal Asia, Eropa, Amerika, Afrika. Acara tahunan ini telah berlangsung selama 24 tahun dan pada 2014 berlangsung di Indonesia.

Dalam forum yang berlangsung tertutup ini, Dumoly mengatakan banyak peserta pertemuan banyak memberikan pertanyaan tajam. Misalnya, seputar pengelolaan pinjaman luar negeri, perbaikan dana pensiun dan asuransi. Pertanyaan lain, seberapa besar microfinance di Indonesia mendukung institusi keuangan.

Atas pertanyaan itu, OJK menjanjikan perbaikan di segala hal. "Kami kasih jawaban bahwa saat ini kami sedang memperbaiki semua frame regulasi," kata Dumoly.

Wednesday, January 1, 2014

Beli Reksa Dana Sekarang Bisa Di Alfamart dan Kantor Pos

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini masih menggodok revisi aturan soal penjualan produk reksa dana. Mulai semester I-2014, Manajer Investasi (MI) bisa menjual reksa dana di tempat lain selain di bank seperti selama ini.

"Kita mencoba tahun ini ya kalau bisa peraturannya bisa diterapkan. Kita coba mudah-mudahan selesai di semester 1," kata Kepala Eksekutif Pasar Modal OJK Nurhaida saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (2/1/2014).

Dia menjelaskan, revisi aturan tersebut dilakukan agar penjualan reksa dana bisa menyebar ke daerah-daerah yang sulit dijangkau masyarakat. Saat ini, kata Nurhaida, penjualan reksa dana masih sebatas dilakukan di perbankan saja.

"Supaya reksa dana ini bisa lebih menyebar ke daerah-daerah dan disebarkan oleh banyak pihak," kata dia.

Nantinya, Nurhaida menyebutkan, agen penjual reksa dana ini harus bisa memenuhi ketentuan dan persyaratan dari OJK untuk bisa memasarkan produk-produknya. Revisi peraturan agen penjual reksa dana saat ini sudah sampai kepada Dewan Komisioner OJK untuk ditindaklnjuti.

"Nanti kita lihat hasilnya seperti apa, pihak mana saja yang boleh dan persaratannya apa saja nanti akan ada di peraturan itu. Kemarin sebenarnya peraturan itu sudah dibawa ke dewan komisioner untuk mendapatkan izin prinsip untuk dapat diproses lebih lanjut," cetusnya.

Sebelumnya, Nurhaida menyebutkan, selain perbankan, pihak-pihak lain yang berbadan hukum bisa ikut memasarkan produk-produk reksa dana sejauh memenuhi ketentuan dan persyaratan dari OJK.‬‪

Dalam pandangan OJK, bisa dimungkinkan PT Pos Indonesia, toko-toko ritel seperti Alfamart dan lain-lain bisa ikut memasarkan produk-produk reksa dana.‬‪

"Pemikiran kita mungkin bisa melalui kantor pos, atau pihak-pihak lain yang penting itu memenuhi persyaratan dan mereka mengajukan izin," kata Nurhaida beberapa waktu lalu.

Tuesday, July 10, 2012

Prospek Investasi Di Reksadana Yang Menguntungkan

Apa reksa dana terbaik? Reksa dana saham, terproteksi atau campuran? Tidak bisa diklasifikasi instrumen sekumpulan efek mana yang terbaik, karena seluruhnya terpulang kepada investor. Pasalnya, investor memiliki profil risiko dan pilihan masing-masing.

Demikian disampaikan Ketua Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto, dalam perbincangan dengan wartawan di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD Jakarta. Untuk mengetahui yang paling tepat, ada baiknya investor masuk terlebih dahulu pada salah satu produk reksa dana dari Manager Investasi (MI). Karena dengan memiliki portofolio reksa dana, investor akan menganalisa faktor risiko mereka, dan akhirnya dapat menarik kesimpulan jenis reksa dana mana yang tepat untuknya.

"Risk profile masing-masing investor berbeda. Belum tentu itu cocok, harus sesuai," jelasnya.

Memang pertumbuhan reksa dana saham sepanjang tahun begitu mengesankan, dengan lonjakan nilai investasi paling tinggi ketimbang reksa dana lainnya. Namun perlu diingat, reksa dana saham berkarakter jangka panjang, dan berisiko tinggi.

Sehingga jika Anda mementingkan likuiditas yang sangat tinggi, sangat berisiko menempatkan investasi di reksa dana saham. Secara garis besar dapat digambarkan seperti berikut:

Reksa dana                       Jangka Waktu          Tingkat Risiko
Saham                               > 3 tahun                   Tinggi
Terproteksi                         6 bulan-3 tahun
Rendah-Menengah
Campuran                           > 3 tahun
Menengah-Tinggi
Pendapatan Tetap                1-3 tahun                   Menengah
Pasar Uang                         <1 tahun                     Rendah

Secara umum, karakter investor terbagi menjadi 3 bagian. Anda berada di kategori apa?

  • Konservatif, yakni mementingkan keamanan dana menjadi prioritas utama meskipun tetap mengharapkan investasinya tumbuh secara memadai.
  • Moderat, memiliki toleransi untuk mengalami kerugian sebagai imbalan untuk memperoleh peningkatan dalam jangka panjang.
  • Agresif, tolenrasi rugi amat besar dalam jangka pendek (dibandingkan dengan umumnya investor lain), namun dengan tujuan untuk memperoleh laba yang substantial.
Reksa dana sendiri merupakan alternatif instrumen investasi dan digadang-dagang memiliki imbal hasil lebih tinggi dibandingkan Deposito, Current Account atau Saving Account. Oleh sebab itu, traditional investment sudah tidak menarik lagi, karena sadar atau tidak tingkat inflasi semakin lama meningkat. Di sisi lain, laju suku bunga perbankan masih dipatok rendah.

Keunggulan berinvestasi dalam reksa dana adalah di dalamnya terdapat sekumpulan efek baik saham, obligasi atau efek lain yang dikelola secara profesional oleh MI. Aman karena disimpan oleh bank kustodian dan telah memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK.

Dibandingkan instrumen lain, nilai investasi reksa dana relatif rendah. Selain itu, portofolio reksa dana juga bisa didiverensifikasi. Investasi ini juga efisien dalam waktu dan biaya, karena dikelola oleh MI.

Keunggulan lain, pembagian keuntungan dan penjualan kembali bukan merupakan subjek pajak, dan transaksi pembelian atau penjualan juga sangat mudah. Sekalian itu produk ini bisa dialihkan ke jenis lain dan dengan tingkat disclosure tinggi, jadi lebih aman dari unethical practises.

Cara Tips dan Trik Berinvestasi Di Reksadana

 Reksa Dana merupakan adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari investor, untuk selanjutnya diinvestasikan oleh manajer investasi dalam portofolio efek. Keuntungan yang diperoleh berupa kenaikan nilai investasi masyarakat pemodal seiring dengan berjalannya waktu periode investasi.

Pada Reksa Dana, manajemen investasi mengelola dana-dana yang ditempatkannya pada surat berharga dan merealisasikan keuntungan ataupun kerugian dan menerima dividen atau bunga yang dibukukannya ke dalam Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana tersebut.

Tertarik berinvestasi di Reksa Dana? Berikut petunjuk mengenal Reksa Dana seperti dikutip dari situs Bank Indonesia (BI):



Reksa Dana beragam jenisnya. Berikut beberapa contoh produk Reksa Dana yang telah beredar di Indonesia.
  • Reksa Dana Pasar Uang : Reksa Dana yang menempatkan 100% dananya, dalam instrumen pasar uang, seperti deposito, SBI (Sertifikat Bank Indonesia), atau obligasi (surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan atau Pemerintah) yang memiliki jatuh tempo kurang dari 1 tahun.
  • Reksa Dana Pendapatan Tetap : Reksa Dana yang menempatkan minimum 80% dari dananya dalam instrumen obligasi.
  • Reksa Dana Campuran : Reksa Dana yang menempatkan dananya, dalam instrumen pasar uang atau obligasi, atau saham dengan komposisi yang fleksibel.
  • Reksa Dana Saham : Reksa Dana yang menempatkan minimum 80% dari dananya dalam instrumen saham.
  • Reksa Dana Terproteksi : Reksa Dana yang menempatkan sebagian besar dananya dalam instrumen obligasi sedemikian rupa dapat memberikan perlindungan atas nilai awal investasi pada saat jatuh temponya.
Berikut karakteristik dari Reksa Dana berdasarkan Jenis-jenisnya:
  • Pasar UangRelatif lebih aman dibandingkan jenis reksa dana lainnya. Bersifat likuid atau mudah dicairkan. Investasi jangka pendek. Mempunyai potensi keuntungan sedikit lebih tinggi dari deposito.
  • Pendapatan TetapMempunyai potensi keuntungan lebih tinggi dari reksa dana pasar uang. Investasi jangka menengah.
  • Campuran
    Mempunyai potensi keuntungan yang cukup tinggi. Investasi jangka menengah sampai panjang.
  • SahamMempunyai potensi keuntungan paling tinggi, namun mempunyai risiko yang lebih tinggi dibanding reksa dana lainnya. Investasi jangka panjang.
  • TerproteksiPerlindungan 100% pada nilai pokok investasi, jika dicairkan sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Mempunyai potensi keuntungan sebesar tingkat bunga portfolio obligasi.
Keuntungan Reksa Dana
  • Biaya relatif rendah
  • Cocok untuk pemodal pemula dan investor dengan kemampuan finansial yang tidak terlalu besar, serta tidak terlalu menguasai teknik-teknik portofolio.
  • Dikelola oleh Manajer Investasi yang profesional
Reksa Dana dapat memberikan keuntungan bagi Investor apabila portfolio efek yang dikelola oleh Manajer Investasi memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan, namun jika portfolio efek tersebut mengalami kerugian maka Reksa Dana juga bisa mengalami kerugian.

Hal-hal yang perlu diperhatikan
  • Reksa Dana bukan merupakan produk bank, sehingga tidak dijamin oleh bank, serta tidak termasuk dalam cakupan objek program penagunan pemerintah atau enagunan simpanan.
  • Semakin tinggi potensi keuntungan yang dapat Anda raih, semakin besar pula risiko hilangnya nilai investasi Anda.
  • Pastikan memperoleh Bukti Kepemilikan Unit Penyertaan.
  • Pastikan memiliki hak untuk menjual kembali sebagian atau seluruh Unit Penyertaannya, kepada Manajer Investasi.
  • Dapatkan laporan posisi Nilai Aktiva Bersih dari Unit Penyertaan dan laporan tahunan posisi penyertaan serta pembaharuan prospektus.
  • Ketahui dan pahami rencana investasi portfolio yang akan ditanam dari produk Reksa Dana baik potensi hasil dan risiko dengan membaca prospektus secara cermat.
  • Pahami tujuan rencana keuangan pribadi dan pemilihan produk sesuai dengan profil risiko.
  • Tetap menyediakan dana yang cukup dan menabung secara teratur untuk mengantisipasi timbulnya risiko investasi.
  • Pilih jangka waktu investasi yang sesuai dengan rencana keuangan Anda dan jangan mudah terpengaruh pendapat orang lain, serta berpikir dan bertindak realistis dalam berinvestasi.

Thursday, May 31, 2012

Bank Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) Akan Masuk Dalam Bisnis Reksadana Di Indonesia

PT Bank Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) Indonesia berencana masuk ke dalam bisnis reksadana pada tahun ini seiring dengan indistri pasar modal yang positif meski sentimen negatif global membayangi.

"Industri pasar modal mempunyai tren positif dari tahun ke tahun, meski pasar modal saat ini dibayangi sentimen negatif global kami yakin industri itu tetap tumbuh maka itu kami berencana masuk ke dalam reksadana," ujar Direktur Bank ICBC Indonesia Sandy Tjipta Muliana usai acara peringatan HUT ke-5 ICBC Indonesia di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan, pihaknya saat ini tengah menunggu izin dari Bank Indonesia (BI). Selain masuk ke dalam bisnis reksadana, ICBC Indonesia juga akan masuk ke dalam bisnis bancassurance.

Selain itu, lanjut dia, ICBC Indonesia juga akan memperbesar porsi ritel hingga 40 persen. Saat ini, pembiayaan untuk korporasi hampir 90 persen, dan sisanya di konsumer dan ritel.

"Saat ini, konsumer dan ritel masih kecil. Kita akan memperbesar porsi ritel hingga 40 persen seiring dengan Indonesia yang memiliki perekonomian cukup kuat. saat ini masih didominasi pembiayaan korporasi, namun sisi konsumer dan ritel masih terus tumbuh," kata dia.

Terkait kondisi perekonomian global yang tengah melambat, pihaknya mengaku tidak terlalu mengkhawatirkan terhadap Indonesia. Meski demikian, pihaknya tetap berhati-hati.

"Sejauh ini dari analisa kami, kondisi global tidak terpengaruh terhadap kinerja perusahaan, namun kita tetap berhati-hati dan menjadi perhatian," ucap dia.

Sandy mengemukakan, tingkat kredit bermasalah (non performing loan/NPL) bank tersebut saat ini sebesar 0,21 persen. Intermediasi perbankan terus membaik, hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit yang terus tumbuh dengan "Loan Deposit Ratio" (LDR) sebesar 80 persen.

Dalam kesempatan itu, ia mengatakan, perusahaan akan menambah cabang hingga 26 cabang, saat ini cabang ICBC Indonesia baru mencapai 19, sebanyak delapan cabang berada di Jakarta.

"Rencananya kami akan membuka cabang di Makasar, Balikpapan, Bali dan kota besar lainnya. Di Jakarta kita akan menambah cabang juga," ucap dia.

Ia mengaku, perusahaan juga akan mendapatkan suntikan modal untuk mengembangkan bisnis. Saat ini, modal perusahaan mencapai Rp9,5 triliun.

Sementara, pada April 2012, total aset Bank ICBC indonesia sebesar Rp22,6 triliun, atau meningkat 33 kali dari total aset pada saat proses akuisisi di tahun 2007.

Memahami Cara Main Reksadana dan Menikmati Hasilnya


Reksa dana adalah suatu sarana investasi bagi pemodal individu, yang menawarkan pengelolaan risiko, kemudahan pemilihan instrumen investasi, dan potensi hasil investasi dari pasar modal, baik itu saham, obligasi, pasar uang, maupun kombinasi dari ketiganya.

Sebagai sarana investasi yang ditujukan untuk umum, reksa dana pada umumnya dibuat untuk menjadi terjangkau, baik dari sisi nilai investasi, kemudahan akses investasi, dan yang terpenting adalah sarana investasi ini didaftarkan pada regulator yang terkait, yaitu Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).

Pemilihan instrumen investasi dilakukan oleh manajer investasi secara kolektif untuk seluruh investor yang membeli suatu reksa dana tertentu, berdasarkan dana yang diterima secara kolektif dari investor-investor tersebut.

Selain keberadaannya di regulator terkait, reksa dana juga mempunyai sistem pengaman lainnya, di mana instrumen investasi yang merupakan aset reksa dana tersebut disimpan dan dicatat oleh bank kustodian, yang merupakan bank pihak ketiga yang terdaftar di Bapepam-LK, dan bersama-sama dengan manajer investasi mengadministrasikan pengelolaan reksa dana.

Semua instrumen investasi yang ada di pasar modal pasti memiliki risiko walaupun berbeda-beda sesuai dengan jenisnya: saham mempunyai risiko tertinggi, obligasi menengah, sedangkan pasar uang memiliki tingkat risiko yang terendah dibandingkan dengan yang lainnya.

Di sisi lain, sebagai seorang investor, kita pasti mengharapkan suatu hasil investasi dari berinvestasi di pasar modal dan pastinya ingin mendapatkan yang tertinggi.

Dengan beragam instrumen investasi yang ada di pasar modal saat ini, memilih suatu instrumen investasi bukanlah hal yang mudah. Diperlukan keahlian yang khusus dan waktu yang banyak untuk memantau perkembangan harga dan perubahan pasar, terlebih dengan semakin globalnya alur informasi dan berita. Di sinilah peran reksa dana yang berusaha menggabungkan semua kebutuhan investor: memilih berbagai instrumen investasi sedemikian rupa sehingga mempunyai tingkat risiko tertentu supaya dapat memberikan hasil investasi yang sepadan.

Selain menawarkan kemudahan investasi, reksa dana pada umumnya dapat dibeli secara langsung dari manajer investasi yang bersangkutan ataupun melalui bank selaku agen penjual efek reksa dana dengan nilai investasi yang relatif terjangkau. Hal ini membuat reksa dana menjadi sangat sesuai bagi investor pemula ataupun sebagai sarana rencana keuangan bagi berbagai tipe masyrakat.

Informasi penting atas reksa dana, seperti profil manajer investasi dan bank kustodian yang mengelola, komposisi portofolio, jenis instrumen investasi yang dibeli, biaya terkait, serta cara pembelian dan penjualan reksa dana, dituangkan dalam prospektus, yang dapat diperoleh baik langsung dari manajer investasi maupun melalui bank selaku agen penjual. Dokumen inilah yang memberikan transparansi mengenai suatu reksa dana dan merupakan salah satu bentuk perlindungan bagi investor atan investasi yang dibelinya karena memungkinkan investor untuk tidak membeli kucing di dalam karung.

Satuan reksa dana dinamakan unit penyertaan dan harga per unit penyertaan dinamakan nilai aktiva bersih (NAB) per unit, ini adalah harga reksa dana yang digunakan investor untuk membeli ataupun menjual unit penyertaan reksa dana. Harga NAB per unit ini dihitung secara harian oleh bank kustodian dan pada umumnya dipublikasikan di beberapa media yang beredar secara nasional.

Hasil investasi yang diperoleh oleh investor adalah sesuai dengan pergerakan harga NAB per unit ini, dengan cara membandingkan harga NAB per unit pada saat investor membeli dengan NAB pada saat penjualan.

Reksa dana menawarkan semua kemudahan: keahlian investasi, transparansi informasi, dan investasi terjangkau. Dengan karakternya yang sangat mudah untuk dipahami serta informasi yang tersedia juga sangat transparan dan mudah diperoleh, sudah seharusnya reksa dana menjadi pilihan investasi bagi masyarakat umum. Dalam tulisan kami berikutnya, kami akan coba membahas satu per satu topik ataupun isu terkini yang perlu diketahui mengenai reksa dana.