Saturday, July 31, 2010

Pasar Pariwisata Bergeser ke Wisatawan Asal Asia

Pergeseran pusat perekonomian dunia dari Amerika Serikat dan Eropa ke Asia membuka peluang bagi pariwisata dalam negeri untuk menggaet wisatawan asing asal Asia, khususnya dari China, Jepang, dan Taiwan. Demikian yang disampaikan secara terpisah oleh Presiden Direktur Alila Hotels and Resorts Mark A Edleson, Direktur PT Bukit Uluwatu Villa Tbk John D Rasjad, dan General Manager Alila Ubud Bali Jork Bossela, kemarin di Bali.

Menurut Mark, pergeseran pusat perekonomian dunia ke Asia telah meningkatkan daya beli yang signifikan bagi penduduk Asia. Hal ini tecermin, antara lain, dari lamanya mereka tinggal di sebuah tujuan wisata.

”Kalau dulu, wisatawan yang sering tinggal lama di sebuah lokasi wisata adalah wisatawan asal AS dan Eropa, sejak beberapa tahun terakhir justru wisatawan asal Asia,” kata Mark.

Menurut John D Rasjad, kemajuan perekonomian China dengan jumlah penduduknya mencapai 1,3 miliar menjadi potensi yang sangat besar untuk digarap sebagai calon wisatawan ke Indonesia. Untuk itu, pemerintah beserta seluruh pelaku wisata harus memperkuat promosi wisata Indonesia agar dapat bersaing dengan negara Asia lainnya, seperti Malaysia dan Singapura.

Selain infrastruktur di lokasi wisata, salah satu yang harus dibenahi, menurut John, adalah konektivitas transportasi udara. Maskapai penerbangan di Indonesia, terutama Garuda Indonesia, perlu melakukan terobosan dengan membuka lebih banyak penerbangan langsung dari sejumlah negara di Asia ke lokasi-lokasi wisata di Indonesia.

”Keterbatasan penerbangan langsung ke pusat-pusat wisata di Indonesia selama ini menjadi salah satu kendala besar meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara,” kata John.

Tahun 2009, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sekitar 6 juta orang. Padahal, kunjungan wisatawan mancanegara ke Malaysia mencapai 20 juta orang.

Mark dan John meyakini, bila infrastruktur, promosi, dan penerbangan langsung ke pusat wisata diperkuat, pariwisata Indonesia tidak kalah dengan Malaysia dan Singapura.

Untuk mengantisipasi pertumbuhan industri pariwisata dalam negeri 2010 dan 2011, Bukit Uluwatu Villa, kata John, akan membangun Alila Villas di Bintan dan Hotel Alila di Manado. Dana pembangunan hotel dan resort dari penjualan saham perdana Bukit Uluwatu Villa, yang berlangsung 2-6 Juli 2010.

Melalui penawaran umum saham perdana (IPO), Uluwatu Villa melepas 30 persen saham perseroan ke publik dengan harga Rp 260 per saham. Dari IPO diperoleh Rp 222,8 miliar.

Dana tersebut digunakan untuk akuisisi, peningkatan modal anak usaha, dan ekspansi usaha. Untuk menambah 12 vila di Alila Ubud 12 persen, untuk akuisisi seluruh saham PT Buana Megawisatama dan PT Verizon Indonesia 48 persen. Untuk meningkatkan modal anak usaha di PT Sitaro Mitra Abadi 32 persen dan modal kerja 8 persen

No comments:

Post a Comment