Pages - Menu

Saturday, May 1, 2010

Harga Batu Bara Semakin Membara dan Membawa Untung Besar

Harga batubara kembali memanas. Pada Jumat (23/4) pekan lalu, harga kontrak batubara Newcastle ICE Futures untuk pengiriman Mei 2010 naik 2,82% menjadi US$ 105,8 per ton. Ini adalah rekor tertinggi harga batubara dalam setahun terakhir.
Pada saat yang sama, merujuk indeks harga spot batubara mingguan Globalcoal di Newcastle, harga komoditas energi ini juga naik 1,93% ke US$ 100,18 per ton.

Tak hanya batubara Newcastle, kontrak batubara lainnya di ICE Futures naik dalam lima hari berturut-turut. Misalnya, batubara Rotterdam ICE Futures untuk pengiriman Juni 2010 ditutup US$ 84,05 per ton, Jumat lalu. Harga ini melompat 9,65% dibandingkan sepekan sebelumnya yang senilai US$ 76,65 per ton.

Ibrahim, analis Asia Kapitalindo Futures, menyebutkan, saat ini permintaan batubara terus menanjak. "Ada badai tropis yang menghambat proses pengapalan batubara," katanya, kemarin.

Hambatan pengapalan inilah yang menjadi salah satu penyebab harga batubara terus merangkak naik. Bahkan, pada saat harga minyak mentah terkoreksi, harga batubara tetap saja memanas.

Selain pasokan tersendat, meningkatnya permintaan batubara di Amerika Serikat turut mengangkat harga batubara dunia. Riset Genscape Inc. seperti dikutip Bloomberg, menyebutkan bahwa konsumsi batubara di AS naik 1,9% selama pekan lalu. Dalam proses risetnya, Genscape memantau penggunaan batubara pada pembangkit listrik di negara Uwak Sam itu dengan memasang alat ke pembangkit listrik.

Pasar berjangka marak

Ibrahim memperkirakan, hingga akhir semester pertama tahun ini harga batubara Rotterdam bisa menyentuh US$ 100 per ton. Adapun harga kontrak batubara Newcastle di bursa ICE bisa mencapai US$ 150 per ton. "Saat ini pun banyak kontrak pengiriman batubara perusahaan-perusahaan Australia dan Indonesia ke wilayah China dengan harga lebih dari US$ 100 per ton," kata dia.

Membaiknya permintaan di lapangan memang ikut menyemarakkan perdagangan berjangka batubara di bursa ICE. Pada 14 April 2010, ICE Futures mencetak rekor terbaru transaksi dengan total perdagangan 15.410 lot, atau lebih dari 15 juta ton batubara dalam sehari perdagangan.

Kontrak perdagangan terbesar diduduki ICE Rotterdam Coal Futures dengan total volume sebanyak 13.665 lot. Adapun kontrak perdagangan ICE Richards Bay dan Newcastle masing-masing sebanyak 1.415 lot dan 330 lot pada hari yang sama.

Harga Emas Naik Terus Menerus

Harga emas semakin berkilau. Selama empat hari berturut-turut, harga emas terus menanjak. Berdasarkan data Bloomberg, pada Rabu (28/4) pukul 10.27 WIB, harga emas untuk pengiriman Juni 2010 di divisi Comex, New York Mercantile Exchange (Nymex) terus naik ke posisi US$ 1.165,8 per ons troi.

Harga emas ini sudah naik 1,05% sejak akhir pekan lalu di posisi US$ 1.153,7 per ons troi. Kenaikan harga emas yang cukup tajam ini terjadi karena investor mencari tempat parkir yang aman untuk dana mereka setelah Standard & Poor's (S&P) menurunkan peringkat utang Yunani dan Portugal.

Mengutip Reuters, S&P menurunkan peringkat Yunani tiga level di bawah ke posisi BB+ karena kekhawatiran atas kemampuan Yunani untuk mengimplementasikan reformasi yang diperlukan untuk menyelesaikan utangnya.

S&P juga menurunkan peringkat utang Portugis menjadi A-. S&P khawatir akan kemampuan Portugal untuk membayar utang yang tinggi di saat profil ekonomi negara Eropa tersebut lemah.

Kenaikan harga kontrak emas di pasar internasional ternyata tak mampu mengangkat harga emas batangan di pasar domestik. Kemarin (23/10), harga emas batangan di unit Logam Mulia, PT Aneka Tambang Tbk, turun 0,3% menuju Rp 335.000 per gram.

Martono, Manager Pemasaran Logam Mulia, bilang, pasca perayaan Tahun Baru China pada Februari lalu, permintaan emas batangan cenderung menurun. Dus, harganya pun kian menyusut. "Dalam jangka pendek, tren harga emas batangan masih akan menurun dan bisa menembus Rp 300.000 per gram," kata dia, kemarin.

Kepala Divisi Pengembangan Bisnis dan Produk Monex Investindo, Apelles R.T. Kawengian, menyarankan kepada investor jangka panjan, tak ada salahnya masuk ke emas batangan di saat harganya terkoreksi. Sebab, "Dalam jangka panjang harga emas selalu meningkat," tuturnya. Tapi, hingga semester satu ini, harga emas batangan diprediksi belum bisa menembus Rp 385.000 per gram.

Harga emas semakin berkilau. Pada Jumat (9/4) lalu, harga emas untuk pengiriman Juni 2010 di Divisi Comex, New York Mercantile Exchange (NYMEX), naik 0,78% menjadi US$ 1.161,9 per ons troi. Ini merupakan harga tertinggi emas dalam tiga bulan terakhir.

Tren kenaikan harga emas terjadi sejak akhir Maret lalu. Analis Indosukses Futures, Herry Setyawan, bilang, saat ini pasar masih melihat ada ketidakpastian ekonomi, terutama di kawasan Eropa. Selain itu, suku bunga yang relatif rendah dan harga saham yang kian mahal di pasaran membuat investor menyisihkan aset mereka ke emas. "Selama pekan ini harga emas masih akan konsolidasi di kisaran US$ 1.130-US$ 1.170 per ons troi," katanya, kemarin.

Pergerakan harga logam mulia ini juga selalu bertentangan dengan laju nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS). Pada pekan lalu, indeks dollar AS, yang mencerminkan nilai tukar mata uang itu terhadap valuta utama dunia, terperosok 0,54% ke posisi 81,09.
Nilai tukar dollar AS turun terhadap mata uang euro ke posisi US$ 1,35 dibanding hari sebelumnya sebesar US$ 1,3361. Dollar AS juga turun terhadap mata uang Inggris. Akhir pekan lalu, nilai tukar dollar ditutup di posisi US$ 1,5370 per poundsterling dibanding hari sebelumnya US$ 1,5280 per poundsterling.

Stephen Platt, analis Archer Financial Services di Chicago, menilai, ketika investor merasa tak nyaman dengan mata uang domestik, mereka akan membeli logam mulia sebagai safe haven. "Kenaikan harga emas mecerminkan aliran dana keluar dari paper assets," kata dia kepada Bloomberg, akhir pekan lalu.

Emas batangan naik

Kenaikan harga emas internasional ini ikut memanaskan harga emas batangan di pasar domestik. Sebab, harga emas dalam negeri berpatokan pada harga emas internasional. Jumat lalu, harga emas batangan di Divisi Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk senilai Rp 343.000 per gram. Ini naik 1,78% dari sehari sebelumnya di level Rp 341.000 per gram.

Meski naik, harga emas batangan belum menyentuh level tertinggi 2010 di posisi Rp 353.000 per gram. Dalam setahun ini, Herry memperkirakan, harga emas batangan berada di kisaran Rp 325.000 -Rp 400.000 per gram. "Mungkin permintaan emas domestik dalam satu hingga dua bulan lagi akan turun karena tahun ajaran baru," imbuhnya.

Pelaku pasar dalam negeri akan memburu lagi emas jika harganya melandai. "Saat ini pasar emas dalam negeri tertahan nilai tukar rupiah yang menguat," kata Herry. Jika rupiah Rp 12.000 per dollar AS seperti ketika kuartal I tahun lalu, maka harga emas domestik bisa jauh lebih mahal dari posisi sekarang.

Sebelumnya, Manajer Divisi Syariah Pegadaian Rudy Kurniawan juga memperkirakan hal serupa. Ia melihat harga emas domestik bisa mencapai angka tertinggi Rp 380.000 per gram yang tercapai 2009. Kalau awal semester dua 2010 harga ini tercapai, harga emas batangan bisa menembus Rp 400.000 per gram.

Harga emas mengkilap lagi. Sampai pukul 15.45 WIB kemarin (23/3), harga emas untuk pengiriman April 2010 di Divisi Comex, New York Mercantile Exchange, Amerika Serikat (AS), naik 0,4% menuju US$ 1.104,3 per ons troi.

Kepala Divisi Pengembangan Bisnis dan Produk Monex Investindo, Apelles R.T. Kawengian, berpendapat, meskipun harga emas mulai menguat, dalam jangka pendek laju harga logam mulia ini bakal tersendat. Ada sejumlah faktor yang berpotensi menahan harga emas. Pertama, keberhasilan Presiden AS Barack Obama menggolkan program kesehatan. Ini akan berefek positif ke pasar saham, khususnya harga saham sektor farmasi.

Investor tentu akan memanfaatkan peluang ini untuk keluar dari instrumen safe haven seperti emas ke instrumen investasi yang lebih berisiko. "Banyak investor yang menjual emas untuk masuk pasar saham," ujar Apelles kepada KONTAN, kemarin (23/3).

Faktor kedua, keputusan bank sentral India mengerek suku bunga mendorong investor menyimpan uangnya pada instrumen yang terkait bunga. "Bagi investor yang hidup dari fluktuasi harga, pasti akan berpaling dari emas," tambah Analis Indosukses Futures, Herry Setyawan. Selain menyasar saham, kenaikan bunga memicu investor mengejar imbal hasil (yield) dari pasar obligasi atau pasar uang.

Analis Valbury Asia Futures, Rekhmen Abadi, melihat setelah emas mengalami koreksi selama tiga minggu terakhir, belum ada tanda-tanda harga emas akan naik cepat. "Permintaan safe haven khususnya emas tak banyak, investor berpindah ke aset-aset berisiko," ujarnya.

Oleh sebab itu, Rekhmen memprediksi, saat ini pergerakan harga emas masih cenderung searah dengan dollar AS. Kedua instrumen ini akan mendapat keuntungan dari sentimen negatif global, utamanya Eropa. "Emas juga bisa tertekan seiring potensi pengetatan kebijakan moneter China di tengah lonjakan ekonomi dan inflasi belakangan ini," ujarnya.

Tekanan beli

Para analis memperkirakan, dalam sepekan ke depan, harga emas masih akan tertekan meski tak terkoreksi dalam. Hingga akhir semester satu ini, Apelles menebak harga emas bergerak di level US$ 1.070-US$ 1.120 per ons troi.

Kalkulasi, Rekhmen, emas masih akan diperdagangkan di rentang harga US$ 1.090-US$ 1.096 per ons troi. Sedangkan Herry meramal, harga emas di kisaran US$ 1.075-US$ 1.080 per ons troi hingga sepekan ke depan. Pasalnya, dengan kondisi seperti ini, masih banyak investor yang akan melakukan ambil untung atau profit taking. Dus, dia melihat harga emas hingga akhir Semester I-2010 akan cenderung turun di level US$ 1.075-US$ 1.175 per ons troi.

"Dalam jangka pendek, lebih baik jangan masuk dulu karena masih ada kemungkinan harga emas akan terkoreksi," kata Apelles. Saat ini, pasar juga berekspektasi sejumlah negara akan menaikkan suku bunga acuannya. "Sekarang banyak yang memperkirakan inflasi akan merangkak naik. Artinya, peluang bunga untuk stabil akan lebih sulit," tuturnya.

Berbisnis Tenun Tradisional Maluku Sembari Meneruskan Tradisi

Melakoni dunia usaha sekaligus meneruskan tradisi. Itu yang dilakukan Octavianus Masela (80) bersama istrinya, Dina Masela (56), sejak 26 tahun lalu. Keahlian Dina menenun kain tradisional asal Maluku Tenggara Barat dipadu dengan kepiawaian Octavianus memasarkannya membuat kain tenun itu dikenal banyak orang hingga ke luar Indonesia.

Benang-benang berwarna putih diikat di sebuah meja tenun yang disebut papindangan. Panjang seluruh benang disamaratakan sepanjang 100 sentimeter, sedangkan lebar dari gabungan benang-benang tersebut 55 sentimeter.

Sebuah kertas putih kecil yang di dalamnya tergambar motif cengkeh memandu Dina menenun. Diikatkannya tali rafia mengikuti motif yang ada di dalam kertas.

”Inilah proses paling sulit karena tali rafia harus diikat kencang ke benang dan harus sesuai alur yang tergambar di kertas,” tutur Dina di bengkel kerja pembuatan kain tenunnya sekaligus rumahnya di kawasan Jembatan Hautuna, Skip Tengah, Ambon, April lalu.

Jika sudah tuntas, benang-benang dicelupkan di dalam pewarna, kemudian dijemur hingga kering. Setelah itu, tali rafia dilepaskan semuanya. Tali yang sebelumnya mengikat di sejumlah benang memunculkan motif cengkeh berwarna putih di antara benang-benang putih yang telah berubah warna.

”Terlihat sederhana, tetapi sebetulnya rumit. Dibutuhkan waktu minimal dua minggu hanya untuk menyelesaikan satu kain tenun,” katanya.

Rumitnya pembuatan kain tenun menjadi suatu hal yang biasa bagi Dina. Ini tak lain karena ibu dari dua anak ini telah menekuninya sejak kecil. ”Ibu mengajarkannya kepada saya. Saat Ibu sedang membuat kain tenun, saya sering ikut membantu,” lanjutnya.

Kain tenun yang dibuat Dina merupakan kain tenun tradisional dari Maluku Tenggara Barat. Kain tenun ini banyak dibuat oleh warga Maluku Tenggara Barat untuk berbagai fungsi, seperti pakaian sehari-hari, mas kawin, bahkan untuk penghargaan kepada tamu yang datang.

Ketika Dina sudah dewasa atau persisnya pada tahun 1984, dia yang sudah piawai membuat kain tenun mencoba membuatnya sendiri dan memasarkannya ke warga Ambon. Dina sudah menetap di Ambon sejak 50 tahun yang lalu.

”Niat saya tidak hanya untuk memperoleh keuntungan dari menjual kain tenun, tetapi juga untuk mempromosikan sekaligus meneruskan warisan leluhur,” ujarnya.

Awalnya bukanlah hal mudah. Apalagi tidak semua orang mengenal kain tersebut kala itu. Namun, tanpa kenal lelah, dia mempromosikan kain buatannya kepada para tetangga, keluarga, dan teman kerja suaminya saat masih bekerja di PT Telkom (kini pensiun). Dalam waktu tak sampai satu tahun, kainnya mulai dikenal. Pesanan pun mulai berdatangan.

Karena hanya mampu membuat dua kain tenun dalam sebulan, Dina lalu bekerja sama dengan perajin kain tenun di kampungnya di Saumlaki, Maluku Tenggara Barat, untuk memenuhi pesanan-pesanan tersebut. Tidak hanya itu, sejumlah tetangganya dilatih untuk membantunya membuat kain tenun.

Namun, kemapanan usaha yang dirintis Dina dan suaminya itu, yang cenderung meningkat setiap tahun, hancur tatkala Ambon dilanda konflik sosial berkepanjangan tahun 1999. Selama hampir dua tahun, usahanya berhenti. ”Semua alat tenun hilang,” katanya.

Kehancuran ini membawa usahanya kembali ke titik nol. Ketika konflik usai dan Dina hendak memulai lagi usahanya, modal menjadi kendala utama. ”Kami berupaya mencari pinjaman sampai akhirnya suami saya memperoleh pinjaman modal usaha dari Pelni,” lanjutnya.

Dari situlah mereka mulai membangun usahanya. Alat-alat tenun dibeli, kain-kain mulai ditenun kembali. Mereka mencoba menghubungi para pelanggan lama. Tidak sebatas itu. Mereka kerap ikut serta dalam pameran, baik yang dilangsungkan di Ambon maupun di luar Ambon, seperti di Bali.

Kerja keras ini berbuah hasil. Pelanggannya kini sudah tersebar di Jakarta, Kalimantan, dan Papua. Sejumlah kerabatnya yang tinggal di Belanda pun ikut mempromosikan kain tenun itu kepada warga Belanda. Karena itu, tidak heran jika kerabatnya datang, mereka membeli kain tenun dalam jumlah yang tidak sedikit untuk dipasarkan di Belanda.

Pembelinya kian banyak tatkala Octavianus memasarkan kain-kain tenunnya di Bandara Pattimura, Ambon. Banyak wisatawan lokal ataupun asing yang tertarik membelinya.

Untuk memenuhi pesanan, dia kembali mempekerjakan tetangga-tetangganya. Ada sedikitnya 12 orang yang dia pekerjakan. Karena masih belum bisa memenuhi pesanan, dia menyerap kain tenun buatan para perajin kain tenun di Maluku Tenggara Barat.

Alhasil, setiap bulan sedikitnya 40 kain tenun berhasil dijual. Pendapatan kotor sebesar Rp 20 juta per bulan pun bisa diraup oleh perusahaan yang kemudian diberi nama CV Masatu ini.

”Penghasilan bersih perusahaan paling hanya sekitar lima juta rupiah. Sisanya untuk membeli bahan baku dan membayar para pekerja,” ujar Dina.

Saat usahanya sudah mapan, tidak ada lagi obsesi darinya untuk mengembangkan usahanya. Yang dilakukannya hanya menjaga kualitas kain tenun yang dihasilkan untuk memuaskan konsumen. Baginya kini, kesuksesan yang telah diraih sudah sempurna. Tidak hanya keuntungan bisa diraih untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga, tetapi kain tenun Maluku Tenggara Barat juga dikenal banyak orang.

Bank Ekspansift Dalam Menyalurkan Kredit Maka Laba Meningkat Tajam

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk hingga akhir triwulan I-2010 menyalurkan kredit Rp 208,96 triliun atau tumbuh 26,47 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2009. Adapun tingkat kredit bermasalah 4,10 persen. Dengan penyaluran kredit yang ekspansif, BRI mencatat laba bersih Rp 2,15 triliun.

Menurut Direktur Keuangan BRI Abdul Salam saat paparan publik, Jumat (30/4) di Jakarta, laba bersih itu meningkat 25,14 persen dibandingkan perolehan laba periode yang sama tahun 2009 sebesar Rp 1,72 triliun.

Adapun posisi dana pihak ketiga (DPK) pada akhir Maret 2010 mencapai Rp 241,50 triliun atau tumbuh 18,90 persen dibandingkan periode yang sama 2009. Komposisi DPK adalah giro Rp 36,55 triliun (15,13 persen), tabungan Rp 97,29 triliun (40,29 persen), dan deposito Rp 107,66 triliun (44,58 persen).

Dengan pertumbuhan kredit dan pertumbuhan DPK itu, rasio DPK dengan total kredit yang dikucurkan (LDR) BRI pada triwulan I-2010 mencapai 86,53 persen, sedangkan 2009 tercatat 81,35 persen. Adapun rasio kecukupan modal BRI, menurut Abdul Salam, mencapai 15,44 persen dengan telah memperhitungkan risiko operasional.

Obligasi BTN

Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk menerbitkan obligasi Rp 1,5 triliun. Obligasi dengan tingkat bunga tetap ini mendapatkan peringkat dari Pefindo, idAA-.

Iqbal Latanro, Direktur Utama Bank BTN, saat pemaparan publik menjelaskan, seluruh dana hasil penjualan obligasi untuk mendukung pembiayaan perumahan yang menjadi bisnis inti BTN. Hasil penjualan obligasi juga diharapkan dapat memperbaiki struktur pendanaan perseroan.

Obligasi yang diterbitkan BTN kali ini merupakan obligasi XIV. Total obligasi yang telah diterbitkan BTN hampir Rp 6 triliun. Obligasi Bank BTN yang masih outstanding Rp 3 triliun.

Sementara itu, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Bank Danamon menyetujui pembayaran dividen Rp 766,27 miliar atau sekitar 50 persen dari laba bersih Danamon tahun buku 2009.

RUPST juga menyetujui susunan anggota dewan komisaris dan direksi perseroan yang baru. Henry Ho ditunjuk sebagai Direktur Utama Danamon menggantikan Sebastian Paredes yang mengundurkan diri.

Laba Industri Telekomunikasi Meningkat Pesat

Kinerja tiga operator telekomunikasi, yaitu PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Indosat Tbk, dan PT XL Axiata Tbk atau XL, meningkat sepanjang tiga bulan pertama tahun 2010.

”Kenaikan laba bersih secara umum dari pertambahan pemilik kartu SIM,” kata pengamat telekomunikasi Moch Hendrowijono, Jumat (30/4) di Jakarta.

Dia menjelaskan, pelanggan sebenarnya tumbuh sedikit, tetapi promosi menyebabkan pelanggan punya 2-3 kartu SIM. ”Sebenarnya tak gratis karena harus diisi ulang dan ini menjadi pendapatan operator,” kata dia.

Laba bersih Telkom pada triwulan I-2010 dilaporkan Rp 2,77 triliun atau naik 12,98 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Adapun laba bersih (belum diaudit) Indosat triwulan I-2010 mencapai Rp 285,9 miliar atau naik 139,2 persen dibandingkan triwulan I-2009.

Sementara itu, XL mengumumkan pendapatan usaha triwulan I-2010 sebesar Rp 4,2 triliun dan laba bersih Rp 598 miliar. Pendapatan dan laba bersih itu naik 3 persen dan 18 persen dibandingkan triwulan IV-2009.

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengatakan, peningkatan pendapatan perseroan juga ditopang peningkatan pendapatan data sebesar 349 persen.

Sementara itu, dari laporan keuangan PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) yang dipublikasikan di situs resminya diketahui, pada kuartal I-2010 emiten telekomunikasi itu merugi hampir Rp 200 miliar.

Penyerapan Kredit Usaha Rakyat Untuk UKM Minim

Penyerapan kredit usaha rakyat belum menggembirakan. Dari target pemerintah tahun 2010 sebesar Rp 20 triliun, penyerapan KUR per 31 Maret 2010 baru Rp 1,44 triliun. Padahal, asumsinya penyerapan per kuartal semestinya bisa Rp 5 triliun.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Syarifuddin Hasan mengungkapkan hal itu dalam orientasi wartawan di Jakarta, Jumat (30/4). Program kredit usaha rakyat (KUR) diluncurkan pada November 2007 dengan pola penjaminan dilakukan pemerintah. Pelaku usaha dalam mengajukan kredit hanya perlu mengandalkan kelayakan usahanya.

Syarifuddin menjelaskan, rendahnya penyerapan karena pemerintah sendiri baru mengumumkan besarnya penjaminan Rp 2 triliun pada Januari 2010. Jadi, perbankan baru memproses pengucuran kredit kepada pelaku usaha mikro. Dengan penjaminan Rp 2 triliun, rasio kredit yang disiapkan bagi bank pelaksana mencapai Rp 20 triliun.

Deputi Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kemenkop dan UKM Choirul Djamhari mengatakan, kebutuhan KUR sesungguhnya meningkat tajam. Hal ini diungkapkan Direktur Bank BRI dalam pertemuan di Tampaksiring, Bali, pekan lalu. Hanya saja, penyerapannya lambat karena adanya persoalan antara bank dan pelaku usaha.

Menurut Choirul, kemampuan memproses proposal pengajuan kredit tidak sesuai harapan. Untuk itu, dibutuhkan proses verifikasi, memperbanyak infrastruktur, terutama di daerah-daerah, dan memperbanyak sumber daya manusia.

Menunggu Jaminan Sosial Berlaku Di Indonesia

Purwoto (37) semestinya hadir dalam pertemuan Komite Aksi Jaminan Sosial di Jakarta, Kamis (29/4). Namun, pekerja pabrik terpal di kawasan industri EJIP di Bekasi, Jawa Barat, ini batal hadir karena sedang berobat di Rumah Sakit Umum Karyadi, Semarang, Jawa Tengah.

Ketika dokter pertama kali menemukan penyakit dan menyarankan operasi demi kesembuhannya, Purwoto terenyak mendengar biaya operasi sampai Rp 60 juta.

Walau sudah bekerja 15 tahun, Purwoto hanya bergaji Rp 1,2 juta per bulan. Jangankan untuk biaya operasi, yang setara dengan harga empat sepeda motor bebek anyar, untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah kembang kempis.

Setiap bulan Purwoto harus membayar kontrakan rumah Rp 400.000, biaya makan sekeluarga Rp 300.000, ongkos transportasi Rp 300.000, dan kebutuhan lain Rp 200.000.

”Klaim Jamsostek hanya Rp 10 juta sehingga Purwoto masih harus menambah banyak. Dia kemudian berobat herbal dan sekarang kondisinya makin berat. Kita harus sadar, masih banyak rakyat Indonesia yang bernasib seperti Purwoto karena sistem jaminan sosial nasional (SJSN) yang tak kunjung terealisasi,” ujar Said Iqbal, Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).

Meninggalkan rakyat

Sudah dua tahun terakhir aktivis serikat pekerja atau serikat buruh menggedor pemerintah untuk realisasi SJSN. Namun, selama itu pula pemerintah seperti menulikan telinga. Pemerintah malah membuat program baru mirip-mirip SJSN.

Sudah 5 tahun sejak Undang-Undang Nomor 40/2004 tentang SJSN terbit, pemerintah tak juga melengkapi 10 peraturan pemerintah dan sembilan peraturan presiden yang diamanatkan. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang seharusnya ada sejak 20 Oktober 2009 tak jelas ujung rimbanya.

Reaksi pemerintah terhadap SJSN memang lambat. Sangat bertolak belakang dengan upaya menalangi Bank Century atau respons pada kasus dugaan suap pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit-Chandra.

Pemerintah seperti kian jauh meninggalkan rakyat dengan mengabaikan SJSN. Para elite lebih sibuk menjaga ”kursi” mereka daripada memikirkan jutaan rakyat, termasuk buruh, miskin, yang menjalani masa tua tanpa pensiun. Apalagi, jaminan bisa berobat bila sakit.

Mungkin ada yang berpikir pragmatis, SJSN hanya akan menguras APBN sedikitnya Rp 37 triliun dan berpotensi menjadi subsidi baru. Padahal, sesuai data Badan Pusat Statistik pada Agustus 2009, ada 29,11 juta pekerja formal dan 8,96 juta orang, yang bekerja di luar negeri, yang berpotensi mampu membayar sendiri premi SJSN.

Pemerintah tinggal memikirkan 75,76 pekerja informal, yang setelah menyadari manfaat jaminan sosial akan lebih tekun membayar premi sendiri.

Belum terlambat

Kita tetap butuh satu langkah permulaan yang harus dilakukan sekarang untuk menapaki 1.000 anak tangga ke puncak kesejahteraan sosial. Kita belum terlambat memulai SJSN yang tidak diskriminatif, layanan tidak terbatas, dan memakai prinsip wali amanah.

Prinsip jaminan sosial yang sesuai dengan sila kelima Pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Amerika Serikat saja memulai SJSN saat pendapatan per kapita baru 600 dollar AS per tahun. Korea Selatan memulai SJSN saat pendapatan per kapita baru 100 dollar AS per tahun, dan kini sudah punya tabungan dana pensiun 240 miliar dollar AS (setara Rp 2.160 triliun). Saat Jerman memulai SJSN lebih dari seabad lalu, jumlah pekerja formal baru 10 persen dari total angkatan kerja.

Jadi, apa lagi yang membuat pemerintah terus mengulur waktu mewujudkan SJSN? Sampai saat ini pemerintah baru memberikan jaminan sosial penuh kepada 4 juta pegawai negeri sipil dan TNI/Polri. Pemerintah membayar premi mereka lewat APBN, yang melanggar prinsip jaminan sosial juga karena dianggarkan setiap tahun setiap ada yang pensiun.

Kalangan buruh menggugat pemerintah tidak adil karena terus menopang PNS dan TNI/Polri dengan mengabaikan buruh dan masyarakat pembayar pajak.

Kesadaran bersama

Komite Aksi Jaminan Sosial yang terbentuk 3 April 2010 memanfaatkan momentum Hari Buruh Internasional untuk menyadarkan pemerintah.

Sedikitnya 50.000 pendukung komite dari 54 elemen, dari awalnya 46 elemen, serikat pekerja/serikat buruh, organisasi kemasyarakatan, dan kemahasiswaan bakal membentuk rantai manusia mengelilingi Istana Kepresidenan di Jakarta, hari ini, Sabtu (1/5).

Komite Aksi Jaminan Sosial ingin menyadarkan semua pihak, SJSN bukan untuk buruh semata, melainkan juga kebutuhan masyarakat.

Kesediaan pemerintah segera mengimplementasikan SJSN akan jadi hadiah terbaik bagi rakyat yang jenuh dengan berbagai intrik kekuasaan. SJSN harus jalan agar Purwoto tak bingung mengobati penyakitnya.