Pages - Menu

Tuesday, August 2, 2011

Sumatera Utara Adalah Provinsi Pengekspor Nomor 1 Di Indonesia

Nilai ekspor komoditas produk pertanian di Sumatera Utara pada Juni 2011 mencapai angka tertinggi. Peningkatan terutama terjadi pada perdagangan karet dan barang dari karet, minyak sawit mentah, kopi, teh, rempah-rempah, serta tembakau. Beberapa komoditas itu juga mengalami p eningkatan volume. Nilai ekspor dimungkingkan akan meningkat lagi.

Kepala Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, Suwarno Senin (1/8/011) mengatakan nilai ekspor produk pertanian meningkat 69,63 persen atau 1,24 miliar dollar menjadi 2,11 miliar dollar pada semester satu tahun ini dibandingkan semester yang sama tahun lalu.

Ekspor minyak sawit mentah pada semester pertama tahun ini mencapai 742.445 dollar AS, naik 69,72 persen dibandingkan ekspor pada periode yang sama tahun lalu yakni 437.451 dollar AS. Sedangkan volumenya naik 13,47 persen.

Sedangkan nilai ekspor lemak dan minyak nabati pada semester pertama tahun ini sebanyak 2.121 juta dollar AS atau naik 55,44 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu senilai 1.365 juta dollar AS.

Nilai ekspor karet dan produk karet juga meningkat. P ada semester pertama tahun ini mencapai 1.889 juta dollar AS, naik hampir 70 persen dibandingkan nilai ekspor semester pertama tahun lalu yang hanya 1.112 juta dollar AS.

Adapun nilai penjualan kopi, teh, rempah-rempah juga meningkat 68,82 dibandingkan penjualan semester pertama tahun lalu sebesar 138.866 dollar AS. Sementara ekspor tembakau pada bulan Juni naik 20,33 persen dibandingkan ekspor bulan Mei yakni sebesar 22,832 juta dollar AS dari 18,974 juta dollar AS.

Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Sumut Eddy Irwansyah mengakui terjadinya peningkatan nilai ekspor karet yang signifikat. Kenaikan nilai terjadi terutama karena peningkatan harga karet mentah seiring membaiknya perekonomian di negara-negara produsen otomotif seperti Jepang, AS, dan China. Harga karet bahkan pernah menyentuh angka 5,7 dollar AS per kilogram.

Secara harga memang meningkat, namun secara volume peningkatannya masih relatif rendah, tutur Eddy. Meskipun nilai ekspor meningkat, kata Eddy, pengusaha tetap menjerit sebab modal kerja meningkat.

Sementara Sekretaris Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Sumut Timbas P Ginting mengatakan memang ada kecenderungan kenaikan ekspor, namun tidak banyak. Harga CPO masih sekitar Rp 8.600 per kilogram. Dulu pernah menyentuh Rp 11.000 per kilogram. Kita tunggu nanti setelah Lebaran, harga dimungkinkan akan membaik, kata Timbas.

Di tingkat petani, kenaikan ekspor itu belum terlalu dirasakan. Marnatal Napitupulu, keluarga petani kelapa sawit dari Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhan Batu mengatakan harga sawit di tingkat petani masih Rp 1.200 per kilogram, sedangkan karet Rp 9.000 per kilogram. Harga masih biasa saja, kata Marnatal. Harga sawit di tingkat petani tertinggi pernah menyentuh Rp 1.600 hingga Rp 1.800 per kilogram.

Ekspor Kopi Indonesia Meningkat Tajam Dan Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi

Komoditi kopi mengalami pertumbuhan ekspor yang terbesar di antara sepuluh produk utama non-migas. Sementara itu, komoditi kakao justru mengalami kondisi yang berbeda dengan menjadi satu-satunya komoditi yang mengalami penurunan selama semester pertama tahun 2011.

"Dilihat dari komoditasnya maka dapat disampaikan bahwa sepuluh produk utama kita itu ada di tabelnya di depan kita ini. Semua bertumbuh cepat, terutama yang luar biasa itu adalah kopi," ujar Wakil Menteri Perdagangan, Mahendara Siregar, di Jakarta, Selasa (2/8/2011).

Ia menyebutkan nilai ekspor kopi tumbuh mencapai 116,8 persen. Kenaikan yang signifikan ini disebabkan oleh naiknya volumenya sebesar 53 persen. Begitu juga dengan harga yang naik lebih dari 40 persen. "Jadi, untuk kopi ini suatu pembalikan yang luar biasa dari angka di (tahun) 2010 yang anjlok dibandingkan tahun sebelumnya," ujar dia.

Kebalikan dengan pencapaian komoditi kopi, komoditi kakao justru mengalami penurunan nilai ekspor. Ini disebabkan volume ekspor biji kakao turun sebesar 36 persen. Namun demikian, ekspor olahan kakao malah meningkat tajam sebesar 103 persen. "Sehingga bisa dikatakan dalam konteks itu, maka kebijakan pemerintah untuk mendorong hilirisasi industri perkakaoan itu tercapai dengan baik," jelas dia terhadap angka tersebut.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekspor non-migas naik 33,2 persen selama semester awal ini. Pertumbuhan produk industri tumbuh cukup besar yang mencapai 27,5 persen. Sedangkan produk pertambangan dan pertanian hanya tumbuh sebesar 5,1 persen dan 0,7 persen.

Monday, August 1, 2011

Produk Indonesia Kini Masuk Pusat Perbelanjaan Elit Di Inggris

Berbagai produk Indonesia masuk "departement store" terkemuka di Inggris, Harrods, dalam rangka promosi mulai 31 Juli-27 Agustus 2011.

Menteri Perdagangan Mari E Pangestu, melalui keterangan pers yang diterima ANTARA, di Jakarta, Minggu, mengatakan produk Indonesia yang diperjual-belikan di Harrods merupakan produk berkualitas tinggi, sesuai dengan tema pameran "Remarkable Indonesia."

"Jika kita melakukan promosi dan penjualan produk di Harrods, ini berarti kita bukan hanya merambah Inggris dan Eropa, namun telah merambah dunia," kata Mari.

Toko terbesar itu dikunjungi lebih dari 13 juta pengunjung per tahun baik dari Inggris maupun turis mancanegara.

Pada pameran tersebut Indonesia menampilkan produk yang sudah diseleksi yaitu mebel dari rotan, kerajinan tangan berupa keramik, barang pecah belah, kerajinan tembaga dan aluminium, kipas, kerajinan kayu, wayang, natural goni, serta perhiasan berbasis mutiara dan perak.

Selain itu, juga dipamerkan produk fesyen yang terdiri dari syal, tas, baju, selendang batik, legging lycra, sarung batik indigo, kain yang dicelup, batik, dan pakaian, serta kertas daur ulang, dekorasi rumah, alat tulis, perlengkapan makan, lampu, dan perabotan lainnya.

Produk-produk tersebut dipilih berdasarkan kategori natural, "renewable," dan "recycle."

Pada pameran tersebut juga dipromosikan kuliner Indonesia seperti nasi goreng, sate lilit, dan kopi tubruk.

"Kuliner Indonesia sudah sepantasnya dikenalkan secara lebih agresif dan intensif karena kekayaan dan cita rasa yang sangat khas. Diplomasi kuliner sangat tepat untuk dimulai sekarang sehingga dapat merambah ke diplomasi lainnya", lanjut Mendag.

Pada kesempatan itu juga Mendag memimpin pertemuan dengan pebisnis kedua negara. Dari Indonesia ikut BNI (perbankan), PT Musim Mas (chemical & biodiesel), Asia Pulp and Paper (pulp dan kertas), PT Gajah Tunggal (ban), PT Timah (timah), PT. Sekar Laut (makanan olahan), PT Dewhirst Indonesia (produk pakaian), UC Silver Jewelry.

Inggris merupakan salah satu negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia. Selama 2006-2010, nilai ekspor Indonesia ke negara itu tumbuh rata 3,24 persen dan ekspor pada 2010 mencapai 1,69 miliar dolar AS.

Pendapatan Water Byur Kabupaten Bantul Rp42 Juta Dalam Sehari

Pendapatan dari penjualan tiket pengunjung wisata air "water byur" Tirta Tamansari di Desa Trirenggo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, diperkirakan mencapai Rp42 juta dalam sehari saat berlangsung tradisi "padusan", sehari menjelang Ramadhan.

Pengelola taman wisata air Tirta Tamansari Bantul Dyah Novi di Bantul, Senin, mengatakan, pendapatan dari penjualan tiket saat "padusan" atau tradisi membersihkan diri dengan cara mandi sebesar itu, untuk sekitar 7.000 pengunjung selama sehari pada Minggu (31/7) lalu.

"Kami memang menargetkan kunjungan sebanyak 7.000 orang saat `padusan`, dengan tiket seharga Rp6.000 per orang. Tiket ini sudah termasuk paket mandi di kolam renang, dan bermain di `water byur`," katanya.

Menurut dia, jika dibandingkan dengan hari biasa, pendapatan itu melonjak drastis, karena pada hari biasa jumlah pengunjung hanya 200 hingga 300 orang sehari, dengan pendapatan Rp1,2 juta.

"Khusus untuk tradisi `padusan`, kami membuka wisata air lebih lama atau mulai pukul 06.30 hingga pukul 17.30 WIB, sedangkan pada hari biasa dari pukul 07.00 sampai pukul 17.00 WIB," katanya.

Ia mengatakan pendapatan dari penjualan tiket saat "padusan" menjelang Ramadhan 2011 lebih besar jika dibandingkan dengan Ramadhan tahun lalu, karena pengunjungnya sebanyak 6.000 orang.

"Padusan tahun lalu tidak bertepatan dengan hari libur, kalau tidak salah Jumat, berbeda dengan padusan tahun ini yang bertepatan dengan hari libur yaitu Minggu, sehingga pengunjung lebih banyak," katanya.

Dyah mengatakan pada awal Ramadhan 2011 pihaknya tidak menerima kunjungan yang ingin berwisata air selama tiga hari, karena waktu tersebut akan dimanfaatkan untuk membersihkan dan menguras kolam renang.

"Kami setidaknya butuh waktu tiga hari untuk membersihkan, menguras hingga mengisi kolam, dan wisata air akan siap dibuka kembali pada Kamis mendatang," katanya.

Ia mengatakan berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, pada Ramadhan jumlah pengunjung akan menurun drastis, atau hanya 20 hingga 30 orang, yang sebagian besar anak-anak.

"Saat Ramadhan, wisata air sedikit pengunjung, namun sepekan menjelang Lebaran biasanya mulai meningkat, dan melonjak lagi pada libur Lebaran," katanya.

Menurut dia, Tirta Tamansari Bantul berada di tanah seluas 1,5 hektare yang terdiri atas tiga kolam, yakni satu kolam kecil untuk anak-anak, kolam besar untuk remaja hingga dewasa, dan kolam "water byur".

"Untuk penjagaan di sekitar pantai, kami melibatkan tiga orang `safety guard` pada hari biasa, namun jika bertepatan dengan `padusan` atau hari libur, ditambah menjadi delapan hingga 15 orang," katanya

Sumatera Utara Mengalami Inflasi Sebesar 0.93 Persen Juli 2011

Sumatera Utara selama bulan Juli mengalami inflasi 0,93 persen. Angka ini lebih tinggi dari angka inflasi nasional bulan Juli sebesar 0,67 persen. Inflasi kumulatif Sumut tahun ini mencapai 1,93 persen lebih tinggi dari angka nasional 1,74 persen.

Sedangkan inflasi year on year mencapai 3,86 persen, lebih kecil dari angka nasional 4,61 persen. Inflasi kumulatif Sumut relatif kecil karena selama tujuh bulan di tahun 2011, empat bulan diantaranya yakni di bulan Februari, Maret, April, Mei, Sumut mengalami deflasi.

Kepala Badan Pusat Statistik Sumut Suwarno, Senin (1/8) mengatakan di Kota Medan, komoditas penyumbang inflasi adalah daging ayam ras yang naik 13,82 persen, tarif angkutan udara yang naik 19,98 persen, dan nasi yang naik 4,55 persen. Selain itu bawang merah (naik 17,82 persen), ikan dencis (6,85 persen), daging sapi (6,79 persen) dan telur ayam ras (5,72 persen).

Sedangkan kota-kota di Sumut yang laju inflasi kumulatifnya tertinggi adalah Pematang Siantar (1,59 persen) dilanjutkan Medan (1,31 persen), Sibolga (0,89 persen), dan Padangsidimpuan (0,68 persen)

Inflasi Di Jakarta Bulan Juli 2011 Naik 0.61 Persen

Badan Pusat Statistik DKI Jakarta mengumumkan inflasi DKI Jakarta untuk Juli naik 0,61 persen. Angka ini masih termasuk moderat, karena menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi, namun masih diterima oleh daya beli masyarakat.

Kenaikan inflasi ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga beras (0,2584 persen), daging ayam ras (0,1227 persen), emas perhiasan (0,0483 persen), telur ayam ras (0,0426 persen), kontrak rumah (0,0210 persen), rokok kretek filter (0,0148 persen), buku tulis bergaris (0,0125 persen), dan seragam sekolah anak (0,0109 persen).

"Dengan kenaikan ini, maka Jakarta menempati urutan ke 44 secara nasional," kata Kepala BPS DKI Jakarta Agus Suherman, Senin (1/8). Sementara kota dengan inflasi tertinggi terjadi di Manokwari (2,56 persen), dan yang terendah Banjarmasin (0,03 persen).

Inflasi Menjelang Ramadhan Tertinggi Di Indonesia Adalah Provinsi Sumatera Selatan

Menjelang bulan puasa dan lebaran, inflasi di Palembang, Sumatera Selatan, tinggi, yaitu mencapai 0,70 persen di Bulan Juli atau lebih tinggi dari inflasi nasional. Tingginya inflasi ini didorong tingginya kenaikan harga di sejumlah kebutuhan pokok, terutama beras.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan Haslani Haris dalam pembacaan berita resmi statistik di Palembang, Sumsel, Senin (1/8/2011), mengumumkan, kenaikan harga beras di Palembang yang mencapai 5,1 persen pada Juli memberikan andil inflasi tertinggi mencapai 0,2 persen. Diikuti kenaikan tarif air minum sebesar 10,04 persen yang mendorong inflasi sebesar 0,1 persen.

"Kenaikan harga semen sebesar 17,34 persen berada di posisi ketiga yang mendorong inflasi sebesar 0,1 persen," katanya. Dari periode yang sama tahun lalu, inflasi di Kota Palembang mencapai 4,37 persen. Kenaikan harga di Bulan Juli terjadi di hampir semua bahan makanan, di antaranya padi-padian, daging, ikan awetan, telur, dan sayuran.

Meskipun harga komoditas bahan pertanian naik, perolehan petani pada Juli justru turun sebesar 1,28 persen. Artinya, daya beli petani juga turun. Hal ini terlihat dari angka nilai tukar petani yang turun dari 110,96 persen di Bulan Juni turun menjadi 109,54 persen. Penuruna daya beli yang ditunjukkan dengan nilai tukar ini juga terjadi pada peternak maupun perkebunan.

"Mereka masih dapat keuntungan, namun berkurang dari bulan sebelumnya," ucapnya.

Sejumlah komoditas pangan yang mengalami penurunan, yaitu bumbu yang turun drastis hingga 7,46 persen, ikan segar turun 1,47 persen, dan buah-buahan turun 0,12 persen. Untuk Sumatera Bagian Selatan, inflasi tertinggi di Kota Jambi sebesar 0,94 persen dan terendah di Pangkal Pinang sebesar 0,1 persen. Di Pulau Sumatera, inflasi tertinggi terjadi di Banda Aceh sebesar 1,16 persen.