Adanya syarat sertifikasi kayu untuk kerajinan dan mebel dinilai memberatkan perajin. Sebab, biaya sertifikasi sangat mahal, antara Rp 30 juta hingga Rp 60 juta, tergantung pada besar-kecilnya perusahaan.
Asmindo (Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia) Daerah Istimewa Yogyakarta meminta supaya sertifikasi hanya untuk komoditas ekspor. Sebab, untuk pasar domestik mengakibatkan harga produk semakin tinggi.
Adapun Indonesia belum memberlakukan sertifikasi kayu tersebut. Apalagi, proses penebangan kayu hingga menjadi produk kerajinan dan mebel sudah melalui prosedur administrasi yang ketat.
"Lembaga swadaya masyarakat mengkhawatirkan adanya illegal logging,maka harus ada sertifikasi kayu," kata Endro Wardoyo, Sekretaris Asmindo Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, 6 April 2012.
Sayangnya, biaya sertifikasi yang mahal itu tidak diiringi dengan kenaikan harga jual. Pasalnya, para pembeli dari luar negeri tetap menginginkan harga yang tetap murah.
Ia menambahkan setiap negara tujuan ekspor mebel dari kayu pasti memberi syarat sertifikasi tersebut. Namun sertifikasi dari suatu negara belum tentu bisa diterima di negara lain.
Maka jika ada 27 negara yang mensyaratkan sertifikasi kayu, perajin atau pengekspor mebel juga harus mengurus sertifikasi dari setiap negara itu.
"Maka bisa dibayangkan betapa mahalnya biaya produksi mebel itu yang berakibat kepada kenaikan harganya," kata dia.
Saat ini, kata Endro, pemerintah sedang mengupayakan adanya sertifikasi kayu dari dalam negeri yang bisa diterima oleh negara-negara tujuan ekspor. Sayangnya, posisi tawar pemerintah Indonesia masih sangat lemah.
Legalitas kayu, kata dia, disebut SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu) saat ini sedang digalakkan hingga tingkat perajin mebel. Sistem itu juga biasa disebut V-legal (verifikasi legal) untuk kayu.
"Sebenarnya soal kelegalan kayu sudah jelas karena sudah melalui administrasi yang jelas. Tapi jika ada sertifikasi kayu, akan lebih membuat mebel laku di pasaran luar negeri," kata dia.
Apalagi saat ini izin penebangan kayu hutan rakyat semakin dipermudah. Asal ada izin dari kepala desa, sudah bisa menjadi legal. Sebelumnya harus ada izin dan diberi plat legal oleh beberapa instansi seperti Dinas Kehutanan dan instansi terkait dalam perjalanan perdagangan kayu.
Pada 10-11 April mendatang Asmindo akan melakukan sosialisasi kepada para perajin soal SVLK. Ketentuan itu akan berlaku pada Maret 2013 mendatang.
Menurut Yuli Sugiyanyo, Ketua Asmindo Daerah Istimewa Yogyakarta, saat ini para perajin menguatkan pasar domestik. Antara lain dengan membuka gerai bersama di Pyramid, Jalan Parangtritis. Ada 33 perajin yang menggelar produk untuk pasar domestik.
"Segala produk kerajinan dan mebel ada, bahkan kami memberi diskon hingga 50 persen," kata dia.
Sunday, April 8, 2012
Saturday, April 7, 2012
Industri Kabel Domestik Kebanjiran Pesanan dan Kekurangan Kapasitas Produksi
Industri kabel domestik diprediksi mampu memproduksi 80% dari total kapasitas produksi terpasang. Hal ini untuk memenuhi tingginya permintaan dalam negeri, walaupun proyek 10.000 megawatt (MW) tahap berjalan lambat.
Ketua Asosiasi Pabrik Kabel Indonesia (Apkabel) Noval Jamalullail mengatakan, Indonesia memiliki peluang untuk pertumbuhan listrik karena ada beberapa pencanangan proyek 10.000 megawatt tahap pertama, kedua,bahkan ketiga. Menurutnya, kapasitas produksi industri kabel domestik tahun lalu pertumbuhannya cukup tinggi dengan kapasitas produksi mencapai 500.000 metrik ton.
"Tahun lalu kan, rencana proyek 10.000 MW tahap pertama sangat kuat terdengar. Jadi, banyak kalangan swasta berniat untuk berinvestasi di tahun ini. Ini yang menjadi acuan kalau pertumbuhan industri kabel akan tetap bagus di tahun ini di kisaran 15-20 persen," ujar Noval saat ditemui di acara Peresmian Pameran 7th Indo Power International Expo 2012 di Jakarta, Rabu (4/4/2012).
Dia menuturkan, selain proyek 10.000 MW tahap pertama, kalangan swasta masih besar menggunakan kabel listrik dalam membangun proyeknya. Proyek 10.000 MW tahap pertama tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan kabel listrik domestik.
Ia memahami saat ini masalah teknis yang dihadapi PLN terkait lambatnya proyek 10.000 MW lebih karena kinerja Kontraktor dari China yang sering telat mengirim produknya.
"Ini masih proses dan nantinya juga akan selesai yang berlanjut ke proyek 10.000 tahap kedua serta ketiga," tuturnya.
Menurutnya proyek pembangunan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) diprediksi ikut mendukung permintaan kabel nasional di kisaran 20% setiap tahun.
Pembangunan infratruktur di beberapa wilayah seperti Indonesia kawasan Timur, MP3EI menjadi salah satu proyek besar disertai tingginya permintaan kabel. "Itu sudah pasti. Makanya permintaan kabel nasional diprediksi lebih baik dari tahun kemarin," jelasnya.
Ketua Asosiasi Pabrik Kabel Indonesia (Apkabel) Noval Jamalullail mengatakan, Indonesia memiliki peluang untuk pertumbuhan listrik karena ada beberapa pencanangan proyek 10.000 megawatt tahap pertama, kedua,bahkan ketiga. Menurutnya, kapasitas produksi industri kabel domestik tahun lalu pertumbuhannya cukup tinggi dengan kapasitas produksi mencapai 500.000 metrik ton.
"Tahun lalu kan, rencana proyek 10.000 MW tahap pertama sangat kuat terdengar. Jadi, banyak kalangan swasta berniat untuk berinvestasi di tahun ini. Ini yang menjadi acuan kalau pertumbuhan industri kabel akan tetap bagus di tahun ini di kisaran 15-20 persen," ujar Noval saat ditemui di acara Peresmian Pameran 7th Indo Power International Expo 2012 di Jakarta, Rabu (4/4/2012).
Dia menuturkan, selain proyek 10.000 MW tahap pertama, kalangan swasta masih besar menggunakan kabel listrik dalam membangun proyeknya. Proyek 10.000 MW tahap pertama tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan kabel listrik domestik.
Ia memahami saat ini masalah teknis yang dihadapi PLN terkait lambatnya proyek 10.000 MW lebih karena kinerja Kontraktor dari China yang sering telat mengirim produknya.
"Ini masih proses dan nantinya juga akan selesai yang berlanjut ke proyek 10.000 tahap kedua serta ketiga," tuturnya.
Menurutnya proyek pembangunan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) diprediksi ikut mendukung permintaan kabel nasional di kisaran 20% setiap tahun.
Pembangunan infratruktur di beberapa wilayah seperti Indonesia kawasan Timur, MP3EI menjadi salah satu proyek besar disertai tingginya permintaan kabel. "Itu sudah pasti. Makanya permintaan kabel nasional diprediksi lebih baik dari tahun kemarin," jelasnya.
Indonesia Targetkan Ekspor Udang Naik 100 Persen Menjadi 7 Milyar Dollar
Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo menargetkan ekspor udang Indonesia bisa naik lebih dari 100% pada tahun 2015. Ekspor udang saat ini diklaim US$ 3 miliar, ditargetkan pada 2015 menjadi US$ 7 miliar.
Target Cicip cukup berani, kenyataanya saat ini sejumlah kendala klasik masih menghadang produksi udang dalam negeri, mulai dari permodalan, sumber daya manusia dan penyakit yang membuat produksi udang selama ini stagnan.
"Kami targetkan ekspor udang tahun 2015 dapat meningkat dan mencapai US$ 7 miliar. Berbagai program sudah dicanankan mulai permodalan dan plastikisasi tambak udang yang dapat meningkatkan produksi udang meningkat," ujar Cicip di Kantor Kadin, Jakarta, Kamis (5/4/2012).
Beberapa kendala misalnya permodalan petani tambak akan teratasi. "Salah satunya dapat dukungan dari Jamkrindo dan bantuan Kredit Usaha Rakyat per hektarnya mencapai Rp 500 juta. Kredit Komersial dari Jamkrindo bunganya hanya 3%," ujar Cicip.
Program plastikisasi kolam tambak sebanyak 135.000 hektar sudah dilaksanakan. "Diharapkan tiap hektarnya produksi udang petambak bisa ditingkatkan menjadi 5 ton per hektar kalau dalam setahun saja bisa 500 ton. Dan tiap 1 hektar memerlukan tenaga kerja 2-3 orang dan dipengolahan 5-8 orang pekerja, program ini dalam setahun selain bisa menghasilkan ekpor udang sebesar US$ 3 miliar, juga menyerap tenaga kerja sebanyak 1 juta orang dengan hanya 135 ribu hektar.
Diungkapkan Cicip, program Plastikisasi ini juga sudah dilakukan berbagai percobaanm seperti Kerawang sebanyak 120 hektar dan Banyuwangi sebanyak 15 hektare. "Hasilnya tiap kolam dapat menghasilkan 18 ton udang," ungkapnya.
"Jadi saya optimis, program ini dapat meningkatkan produksi udang dalam negeri dan 2015 ekspor udang kita dapat tembus minimal US$ 7 miliar per tahun," tandasnya.
Target Cicip cukup berani, kenyataanya saat ini sejumlah kendala klasik masih menghadang produksi udang dalam negeri, mulai dari permodalan, sumber daya manusia dan penyakit yang membuat produksi udang selama ini stagnan.
"Kami targetkan ekspor udang tahun 2015 dapat meningkat dan mencapai US$ 7 miliar. Berbagai program sudah dicanankan mulai permodalan dan plastikisasi tambak udang yang dapat meningkatkan produksi udang meningkat," ujar Cicip di Kantor Kadin, Jakarta, Kamis (5/4/2012).
Beberapa kendala misalnya permodalan petani tambak akan teratasi. "Salah satunya dapat dukungan dari Jamkrindo dan bantuan Kredit Usaha Rakyat per hektarnya mencapai Rp 500 juta. Kredit Komersial dari Jamkrindo bunganya hanya 3%," ujar Cicip.
Program plastikisasi kolam tambak sebanyak 135.000 hektar sudah dilaksanakan. "Diharapkan tiap hektarnya produksi udang petambak bisa ditingkatkan menjadi 5 ton per hektar kalau dalam setahun saja bisa 500 ton. Dan tiap 1 hektar memerlukan tenaga kerja 2-3 orang dan dipengolahan 5-8 orang pekerja, program ini dalam setahun selain bisa menghasilkan ekpor udang sebesar US$ 3 miliar, juga menyerap tenaga kerja sebanyak 1 juta orang dengan hanya 135 ribu hektar.
Diungkapkan Cicip, program Plastikisasi ini juga sudah dilakukan berbagai percobaanm seperti Kerawang sebanyak 120 hektar dan Banyuwangi sebanyak 15 hektare. "Hasilnya tiap kolam dapat menghasilkan 18 ton udang," ungkapnya.
"Jadi saya optimis, program ini dapat meningkatkan produksi udang dalam negeri dan 2015 ekspor udang kita dapat tembus minimal US$ 7 miliar per tahun," tandasnya.
Produk Indonesia Kalah Bersaing Dengan Produk China Karena Bea Masuk Yang Murah
Rendahnya rata-rata tarif bea masuk Indonesia yang hanya 6,8% terkait perdagangan bebas semakin memukul sektor industri dalam negeri. Hanya beberapa produk Indonesia yang mampu bersaing dengan produk negara mitra seperti China, itu pun harganya
Menteri Perindustrian MS. Hidayat mengatakan dibandingkan negara lain seperti China dan India, Indonesia lebih rendah dalam penerapan tarif bea masuk. Misalnya China menerapkan tarif bea masuk sebesar rata-rata 9,6% dan India 13% dan Brazil hanya 13,7%.
Dampak langsung dari rendahnya bea masuk Indonesia adalah memberatkan sektor industri karena berkompetisi dengan barang impor yang harganya lebih murah. Dengan konsumsi daya beli masyarakat yang besar, banyak negara lain yang mengincar Indonesia sebagai partner dalam perdagangan internasional.
"Selain tarif bea masuk rendah, kita juga masih terkendala dengan belum optimal. Dari segi infrastruktur, logistik, serta sumber daya manusia," kata MS Hidayat di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Kamis (5/4/2012).
Hidayat menambahkan saat ini sedikitnya ada sepuluh perundingan liberalisasi perdagangan antara dengan negara mitra. Beberapa perundingan tersebut antara lain Indonesia-Iran, Indonesia-Pakistan, Indonesia-India dan Indonesia-EFTA. Dengan liberalisasi perdangan ini, Indonesia berpeluang membuka akses pasar produk karya lokal di negara-negara mitra.
"Pemberlakukan free trade agreement (FTA) tidak selamanya berdampak positif. Seperti penerapan perjanjian kerjasama Asean China Free Trade Agreement (ACFTA) yang sontak memukul sektor industri dalam negeri. Idealnya tarif bea masuk kita sudah rendah, jangan diturunkan lagi," ujarnya.
Terkait dampak ACFTA terhadap industri dalam negeri, Kemenperin melakukan kajian antara lain diketahui penyebab rendahnya daya saing terhadap produk China adalah tingginya bahan baku, rendahnya pasokan komponen, ketidakstabilan dan tingginya harga energi, serta faktor permodalan yang sulit.
Pemerintah juga belum mampu meningkatkan daya saing produk Indonesia terutama dalam penyediaan infrastruktur dan pembiayaan. Selain itu, perusahaan cabang industri yang diteliti mengalami penurunan di bidang produksi, penjualan, dan keuangan.
"Meski demikian ada beberapa cabang industri yang mampu bersaing dengan produk asal China. Walaupun, produk yang dihasilkan memiliki harga lebih tinggi," tuturnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Kerjasama Industri Internasional Kemenperin, Agus Tjahajana Wirakusumah menambahkan belum berhasilnya perundingan multilateral khususnya akses pasar untuk mencapai kesepakatan telah menimbulkan agresifitas yang tinggi dari negara-negara maju untuk membuka pasar di negara berkembang. Ia menambahkan Indonesia memiliki tantangan untuk pengembangan industri di dalam negeri.
Menurutnya, posisi tarif bea masuk Indonesia masih rendah dibandingkan tujuh negara anggota G-20. Dengan rata-rata tarif bea masuk hanya 6,8 persen, Indonesia kalah dibandingkan negara maju lain yang memiliki rata-rata tarif bea masuk lebih tinggi.
"Pertumbuhan industri dalam sepuluh tahun terakhir masih di bawah pertumbuhan ekonomi. Kontribusi sektor industri saat ini hanya 24% dari pertumbuhan ekonomi," paparnya.
Menteri Perindustrian MS. Hidayat mengatakan dibandingkan negara lain seperti China dan India, Indonesia lebih rendah dalam penerapan tarif bea masuk. Misalnya China menerapkan tarif bea masuk sebesar rata-rata 9,6% dan India 13% dan Brazil hanya 13,7%.
Dampak langsung dari rendahnya bea masuk Indonesia adalah memberatkan sektor industri karena berkompetisi dengan barang impor yang harganya lebih murah. Dengan konsumsi daya beli masyarakat yang besar, banyak negara lain yang mengincar Indonesia sebagai partner dalam perdagangan internasional.
"Selain tarif bea masuk rendah, kita juga masih terkendala dengan belum optimal. Dari segi infrastruktur, logistik, serta sumber daya manusia," kata MS Hidayat di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Kamis (5/4/2012).
Hidayat menambahkan saat ini sedikitnya ada sepuluh perundingan liberalisasi perdagangan antara dengan negara mitra. Beberapa perundingan tersebut antara lain Indonesia-Iran, Indonesia-Pakistan, Indonesia-India dan Indonesia-EFTA. Dengan liberalisasi perdangan ini, Indonesia berpeluang membuka akses pasar produk karya lokal di negara-negara mitra.
"Pemberlakukan free trade agreement (FTA) tidak selamanya berdampak positif. Seperti penerapan perjanjian kerjasama Asean China Free Trade Agreement (ACFTA) yang sontak memukul sektor industri dalam negeri. Idealnya tarif bea masuk kita sudah rendah, jangan diturunkan lagi," ujarnya.
Terkait dampak ACFTA terhadap industri dalam negeri, Kemenperin melakukan kajian antara lain diketahui penyebab rendahnya daya saing terhadap produk China adalah tingginya bahan baku, rendahnya pasokan komponen, ketidakstabilan dan tingginya harga energi, serta faktor permodalan yang sulit.
Pemerintah juga belum mampu meningkatkan daya saing produk Indonesia terutama dalam penyediaan infrastruktur dan pembiayaan. Selain itu, perusahaan cabang industri yang diteliti mengalami penurunan di bidang produksi, penjualan, dan keuangan.
"Meski demikian ada beberapa cabang industri yang mampu bersaing dengan produk asal China. Walaupun, produk yang dihasilkan memiliki harga lebih tinggi," tuturnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Kerjasama Industri Internasional Kemenperin, Agus Tjahajana Wirakusumah menambahkan belum berhasilnya perundingan multilateral khususnya akses pasar untuk mencapai kesepakatan telah menimbulkan agresifitas yang tinggi dari negara-negara maju untuk membuka pasar di negara berkembang. Ia menambahkan Indonesia memiliki tantangan untuk pengembangan industri di dalam negeri.
Menurutnya, posisi tarif bea masuk Indonesia masih rendah dibandingkan tujuh negara anggota G-20. Dengan rata-rata tarif bea masuk hanya 6,8 persen, Indonesia kalah dibandingkan negara maju lain yang memiliki rata-rata tarif bea masuk lebih tinggi.
"Pertumbuhan industri dalam sepuluh tahun terakhir masih di bawah pertumbuhan ekonomi. Kontribusi sektor industri saat ini hanya 24% dari pertumbuhan ekonomi," paparnya.
Produsen BlackBerry Research in Motion (RIM) Membukukan Kerugian 1,1 Triliun Tahun 2011
Produsen BlackBerry, Researh in Motion (RIM) mencatat rugi bersih US$ 125 juta atau sekitar Rp 1,1 triliun di akhir 2011. Padahal, Vendor asal Kanada itu tahun lalu masih untung.
Untung yang diraup RIM tahun sebelumnya, sebanyak US$ 418 juta. Kerugian ini membuat laba RIM di 2011 US$ 1,16 miliar. Turun drastis dari periode sebelumnya yang sebesar US$ 3,4 miliar.
Dalam kuartal empat tersebut, RIM mengapalkan 11,1 juta smartphone BlackBerry dan sekitar 500 ribu tablet BlackBerry PlayBook. Pendapatan total untuk periode tersebut sebesar US$ 4,2 miliar, turun 25% dari tahun lalu dan di bawah ekspektasi pasar.
Hasil yang cukup suram itu tentu menjadi tantangan tersendiri bagi CEO baru RIM, Thorsten Heins. Heins belum lama ini menggantikan posisi Jim Balsillie dan Mike Lazaridis yang mengundurkan diri dari habatan CEO.
"Saya telah memeriksa beberapa aspek bisnis RIM dalam 10 minggu menjadi CEO. Saya mengkonfirmasi bahwa perusahaan punya kekuatan substansial yang bisa meningkatkan performa finansial kami, seperti jaringan infrastruktur global RIM, penawaran produk yang kuat di enterprise dan pelanggan besar sejumlah 77 juta," ucap Heins mencoba optimistis seperti dilansir dari AFP, Jumat (30/3/2012).
RIM kini sedang menggodok platform sistem operasi BlackBerry 10 yang rencananya dirilis tahun ini. Mereka sedang berjuang keras menghadapi Android dan iPhone yang semakin mendominasi di beberapa wilayah.
"Tantangan bisnis yang kami hadapi di beberapa kuartal mendatang emang signifikan dan saya mengambil langkah yang dibutuhkan untuk mengantisipasinya," imbuh Heins.
Menteri Perindustrian MS Hidayat memaparkan latar belakang mengapa produsen BlackBerry (BB) yaitu Research In Motion (RIM) akhirnya memilih Malaysia untuk menjadi tempat produksi BB secara outsource di Penang, Malaysia.
Menurut Hidayat pihak Indonesia melalui Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan sudah dua kali bertemu pimpinan RIM di kantor pusat RIM di Kanada. Kemudian dilanjutkan dengan pertemuan di Indonesia, sampai akhirnya tak menemui titik temu terkait syarat yang disodorkan oleh menteri komunikasi dan informasi (menkominfo).
"Mereka kesulitan menghadapi persyaratan menkominfo, ada berapa persyaratan yang tak jelas," kata Hidayat kepada detikFinance, Kamis (22/9/2011)
Hidayat mengatakan setelah tak menemukan titik temu soal persyaratan tersebut, pihak RIM mendadak secara sepihak akhirnya memutuskan meng-outsource produksi BB mereka di Penang Malaysia. Padahal menurut Hidayat pihak RIM sudah menyiapkan rencana investasi skala besar mereka dengan nilai jutaan dolar AS.
Ia menjelaskan dalam tahap awal RIM mengedepankan produksi BB dengan pola outsource terlebih dahulu seperti yang dilakukanmereka di Penang saat ini. Kemudian dalam jangka panjang akan membangun pabrik dengan investasi skala besar.
"Yang dimaksud Pak Gita, nanti investasi besar mungkin mereka memulai dari sistem outsource dahulu," katanya.
Dikatakan Hidayat, ia tak mau berkomentar lebih jauh soal perbedaan pendapat terkait keberadaan pabrik BlackBerry di Penang menurut versi Menkominfo Tifatul Sembiring. "Saya kira Pak Gita bisa tahu karena mendalami hal itu," katanya.
Hidayat menambahkan apa yang ia lakukan bersama Gita Wirjawan adalah demi mendorong perusahaan multinasional yang memiliki pasar besar di Indonesia untuk membuat proses produksi di dalam negeri. Ia tak rela jika Indonesia hanya akan menjadi pasar saja, apalagi pada tahun 2015 nanti Indonesia masuk dalam masyarakat ekonomi ASEAN atau satu pasar ASEAN.
"Kita mencegah jangan market kita digunakan untuk investasi di negara tetangga," katanya.
Meskipun ia mengakui dukungan infrastruktur Indonesia masih kurang namun hal ini bisa ditingkatkan. Indonesia, lanjut Hidayat, pemilik 50% pasar ASEAN yang jumlahnya mencapai kurang lebih 500 juta penduduk.
"Ini menjadi posisi tawar, kalau kita ini tak berjuang keras, nanti lima tahun lagi kita hanya jadi market besar, itu yang kita mau fight dengan Gita," katanya.
Sebelumnya Gita Wirjawan mengatakan RIM ragu membangun pabriknya di Indonesia adalah karena permintaan pembangunan data center oleh pemerintah Indonesia.
"Data center itu loh alasannya," kata Gita beberapa waktu lalu.
Seperti diketahui pabrik BlackBerry di Malaysia sudah beroperasi sejak 1 Juli 2011 lalu. Hal ini berbeda dengan pernyataan Menkominfo Tifatul Sembiring yang menganggap pabrik RIM itu hanya isu belaka.
Perihal operasional pabrik RIM di Malaysia itu pernah dilansir dari Gizmocrunch, pada 18 Juli 2011 lalu. Dalam berita tersebut dikatakan, Vice President RIM untuk Malaysia, Thailand dan Vietnam, Dany Bolduc, menyatakan Malaysia merupakan tempat yang pas untuk memperkuat pangsa pasar RIM di Asia.
"Demi mendukung permintaan pasar yang kian meningkat di Asia dan seluruh dunia, maka kami dengan bangga bisa mengoperasikan pabrik baru di Malaysia," ujar Bolduc.
Sejak mulai beroperasi pada 1 Juli 2011 silam, RIM berharap produksi dari pabrik tersebut dapat memasok permintaan BlackBerry di seluruh kawasan Asia, termasuk Indonesia sebagai pengguna BlackBerry terbesar di Asia Tenggara.
Untung yang diraup RIM tahun sebelumnya, sebanyak US$ 418 juta. Kerugian ini membuat laba RIM di 2011 US$ 1,16 miliar. Turun drastis dari periode sebelumnya yang sebesar US$ 3,4 miliar.
Dalam kuartal empat tersebut, RIM mengapalkan 11,1 juta smartphone BlackBerry dan sekitar 500 ribu tablet BlackBerry PlayBook. Pendapatan total untuk periode tersebut sebesar US$ 4,2 miliar, turun 25% dari tahun lalu dan di bawah ekspektasi pasar.
Hasil yang cukup suram itu tentu menjadi tantangan tersendiri bagi CEO baru RIM, Thorsten Heins. Heins belum lama ini menggantikan posisi Jim Balsillie dan Mike Lazaridis yang mengundurkan diri dari habatan CEO.
"Saya telah memeriksa beberapa aspek bisnis RIM dalam 10 minggu menjadi CEO. Saya mengkonfirmasi bahwa perusahaan punya kekuatan substansial yang bisa meningkatkan performa finansial kami, seperti jaringan infrastruktur global RIM, penawaran produk yang kuat di enterprise dan pelanggan besar sejumlah 77 juta," ucap Heins mencoba optimistis seperti dilansir dari AFP, Jumat (30/3/2012).
RIM kini sedang menggodok platform sistem operasi BlackBerry 10 yang rencananya dirilis tahun ini. Mereka sedang berjuang keras menghadapi Android dan iPhone yang semakin mendominasi di beberapa wilayah.
"Tantangan bisnis yang kami hadapi di beberapa kuartal mendatang emang signifikan dan saya mengambil langkah yang dibutuhkan untuk mengantisipasinya," imbuh Heins.
Menteri Perindustrian MS Hidayat memaparkan latar belakang mengapa produsen BlackBerry (BB) yaitu Research In Motion (RIM) akhirnya memilih Malaysia untuk menjadi tempat produksi BB secara outsource di Penang, Malaysia.
Menurut Hidayat pihak Indonesia melalui Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan sudah dua kali bertemu pimpinan RIM di kantor pusat RIM di Kanada. Kemudian dilanjutkan dengan pertemuan di Indonesia, sampai akhirnya tak menemui titik temu terkait syarat yang disodorkan oleh menteri komunikasi dan informasi (menkominfo).
"Mereka kesulitan menghadapi persyaratan menkominfo, ada berapa persyaratan yang tak jelas," kata Hidayat kepada detikFinance, Kamis (22/9/2011)
Hidayat mengatakan setelah tak menemukan titik temu soal persyaratan tersebut, pihak RIM mendadak secara sepihak akhirnya memutuskan meng-outsource produksi BB mereka di Penang Malaysia. Padahal menurut Hidayat pihak RIM sudah menyiapkan rencana investasi skala besar mereka dengan nilai jutaan dolar AS.
Ia menjelaskan dalam tahap awal RIM mengedepankan produksi BB dengan pola outsource terlebih dahulu seperti yang dilakukanmereka di Penang saat ini. Kemudian dalam jangka panjang akan membangun pabrik dengan investasi skala besar.
"Yang dimaksud Pak Gita, nanti investasi besar mungkin mereka memulai dari sistem outsource dahulu," katanya.
Dikatakan Hidayat, ia tak mau berkomentar lebih jauh soal perbedaan pendapat terkait keberadaan pabrik BlackBerry di Penang menurut versi Menkominfo Tifatul Sembiring. "Saya kira Pak Gita bisa tahu karena mendalami hal itu," katanya.
Hidayat menambahkan apa yang ia lakukan bersama Gita Wirjawan adalah demi mendorong perusahaan multinasional yang memiliki pasar besar di Indonesia untuk membuat proses produksi di dalam negeri. Ia tak rela jika Indonesia hanya akan menjadi pasar saja, apalagi pada tahun 2015 nanti Indonesia masuk dalam masyarakat ekonomi ASEAN atau satu pasar ASEAN.
"Kita mencegah jangan market kita digunakan untuk investasi di negara tetangga," katanya.
Meskipun ia mengakui dukungan infrastruktur Indonesia masih kurang namun hal ini bisa ditingkatkan. Indonesia, lanjut Hidayat, pemilik 50% pasar ASEAN yang jumlahnya mencapai kurang lebih 500 juta penduduk.
"Ini menjadi posisi tawar, kalau kita ini tak berjuang keras, nanti lima tahun lagi kita hanya jadi market besar, itu yang kita mau fight dengan Gita," katanya.
Sebelumnya Gita Wirjawan mengatakan RIM ragu membangun pabriknya di Indonesia adalah karena permintaan pembangunan data center oleh pemerintah Indonesia.
"Data center itu loh alasannya," kata Gita beberapa waktu lalu.
Seperti diketahui pabrik BlackBerry di Malaysia sudah beroperasi sejak 1 Juli 2011 lalu. Hal ini berbeda dengan pernyataan Menkominfo Tifatul Sembiring yang menganggap pabrik RIM itu hanya isu belaka.
Perihal operasional pabrik RIM di Malaysia itu pernah dilansir dari Gizmocrunch, pada 18 Juli 2011 lalu. Dalam berita tersebut dikatakan, Vice President RIM untuk Malaysia, Thailand dan Vietnam, Dany Bolduc, menyatakan Malaysia merupakan tempat yang pas untuk memperkuat pangsa pasar RIM di Asia.
"Demi mendukung permintaan pasar yang kian meningkat di Asia dan seluruh dunia, maka kami dengan bangga bisa mengoperasikan pabrik baru di Malaysia," ujar Bolduc.
Sejak mulai beroperasi pada 1 Juli 2011 silam, RIM berharap produksi dari pabrik tersebut dapat memasok permintaan BlackBerry di seluruh kawasan Asia, termasuk Indonesia sebagai pengguna BlackBerry terbesar di Asia Tenggara.
Penawaran Investasi Perkebunan Kelapa Sawit Harus Dicermati Karena Banyak Penipuan
Bisnis Sawit yang terus tumbuh dan memberikan keuntungan yang menggiurkan membuat banyak pihak tergiur untuk berinvestasi hingga ratusan miliar rupiah. Tetapi karena ketidaktahuan investor, banyak yang tertipu karena langsung tergiur membeli perkebunan sawit yang telah berbuah.
"Kalau pihak-pihak tidak tahu tentang sawit itu sering terjebak atau tertipu," kata Dirut PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro kepada detikFinance, Minggu (8/4/2012).
Menurut Ismed, itu disebabkan karena perusahaan yang menjual perkebunan sawit telah gagal menjamin kualitas dan pohon sawit yang tertanam sehingga berdampak terhadap rendahnya produktivitas pohon sawit yang tidak sesuai target sehingga mereka lantas menjualnya.
"Dampaknya kalau salah dan rusak, 25-30 tahun menderitanya. Beda dengan tebu atau padi. Kalau setiap 3 bulan bisa diganti. Kalau sawit kan nggak bisa," katanya.
Salah satu alternatif untuk mengindari itu, para investor dapat belajar berinvestasi melalui perkebunan plasma sawit. Melalui skema ini risiko rendah dan pengelolaannya dipegang oleh perusahaan yang mengeluarkan program plasma sawit itu.
"Pertama plasma itu mendapatkan subsidi bunga 6%, yang kedua dia tidak perlu repot-repot membuka lahan, yang ketiga dia tidak perlu repot-repot membeli bibit yang tidak tahu kualitasnya karena kualitas bibit sawit yang rendah dampaknya bisa 25-30 tahun menderitanya," katanya.
Menurut Ismed, investasi yang dibutuhkan untuk perkebunan plasma sawit per hektarnya mencapai Rp 8 juta sampai Rp 10 juta. Sementara untuk pengembalian investasinya, tahun bisa didapat pada tahun ke-8 atau ke-9 sudah balik, dengan kata lain 2-3 tahun setelah panen dia sudah balik modal.
"Minimal 2 juta per bulan bersih yang diterima pertani per hektar. Misalkan saja per orang bisa punya 4 hektar, dia bisa terima Rp 8 juta bersih per bulan. Kemudian mereka bisa punya aset yang nilainya bisa mencapai Rp 125 juta/hektar atau Rp 500 juta/4 hektar plus penghasilan," tutupnya.
"Kalau pihak-pihak tidak tahu tentang sawit itu sering terjebak atau tertipu," kata Dirut PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro kepada detikFinance, Minggu (8/4/2012).
Menurut Ismed, itu disebabkan karena perusahaan yang menjual perkebunan sawit telah gagal menjamin kualitas dan pohon sawit yang tertanam sehingga berdampak terhadap rendahnya produktivitas pohon sawit yang tidak sesuai target sehingga mereka lantas menjualnya.
"Dampaknya kalau salah dan rusak, 25-30 tahun menderitanya. Beda dengan tebu atau padi. Kalau setiap 3 bulan bisa diganti. Kalau sawit kan nggak bisa," katanya.
Salah satu alternatif untuk mengindari itu, para investor dapat belajar berinvestasi melalui perkebunan plasma sawit. Melalui skema ini risiko rendah dan pengelolaannya dipegang oleh perusahaan yang mengeluarkan program plasma sawit itu.
"Pertama plasma itu mendapatkan subsidi bunga 6%, yang kedua dia tidak perlu repot-repot membuka lahan, yang ketiga dia tidak perlu repot-repot membeli bibit yang tidak tahu kualitasnya karena kualitas bibit sawit yang rendah dampaknya bisa 25-30 tahun menderitanya," katanya.
Menurut Ismed, investasi yang dibutuhkan untuk perkebunan plasma sawit per hektarnya mencapai Rp 8 juta sampai Rp 10 juta. Sementara untuk pengembalian investasinya, tahun bisa didapat pada tahun ke-8 atau ke-9 sudah balik, dengan kata lain 2-3 tahun setelah panen dia sudah balik modal.
"Minimal 2 juta per bulan bersih yang diterima pertani per hektar. Misalkan saja per orang bisa punya 4 hektar, dia bisa terima Rp 8 juta bersih per bulan. Kemudian mereka bisa punya aset yang nilainya bisa mencapai Rp 125 juta/hektar atau Rp 500 juta/4 hektar plus penghasilan," tutupnya.
Afrika Selatan Menjadi Peluang Bisnis Baru Karena Ada 1.5 Juta Orang Makassar Berdomisili Disana
Kementerian Perdagangan (Kemendag) berniat memperluas pasar ekspor Indonesia kepenjuru dunia seperti produk makanan olahan, mebel dan jasa pertambangan. Salah satunya adalah Afrika Selatan dan sekitarnya kini menjadi target pasar produk ekspor Indonesia.
"Di Afrika Selatan ada 1,5 juta jiwa keturunan Makassar, ini modal bagi kita untuk memasarkan makanan olahan bercita rasa Nusantara seperti Kacang Garuda dan kopi disana," kata Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, saat memaparkan rencana misi dagang ke-2 Kementrian Perdagangan ke Afrika Selatan dan sekitarnya di Jakarta, Rabu (4/4/2012).
Misi dagang ke Afrika Selatan akan berlangsung 9-14 April 2012 mendatang diikuti oleh 14 perusahaan nasional yang bergerak dalam berbagai bidang usaha diantaranya PT Aneka Koffe Industries, Olimpic Furniture, dan Pama Persada (Mining Contractors), Asia Pulp and Paper, PT Gajah Tunggal Tbk, PT Garuda Food Putra Putri Jaya, PT Prasidha Aneka Niaga Tbk, dan PT Sandratex.
"Mereka akan ikut lagi ke Afrika untuk kembali mejajaki potensi dagang dan investasi disana," terangnya.
Bayu mengatakan target dari misi dagang ke Afrika bagian selatan ini antara lain, membuka jalan ke pasar negara-negara sekitar Afrika Selatan seperti Zimbabwe, Tanzania, Lesotto, Malawi, Namibia, Kongo dan lainnya.
"Target tahun ekspor tahun ini ke Afrika bagian selatan masih sangat terbuka, dan kita tak ingin terburu-buru menentukan secara definitif target kita, ke sana," ungkapnya.
Dirjen Pengembangan Ekspor Hesti Indah Kresnarini mengungkapkan, pemerintah berharap pasar ekspor non tradisional Indonesia dapat tumbuh 25 persen tahun ini. Sementara untuk Afrika bagian selatan, ia berharap tahun ini pasar ekspor disana akan tumbuh 21 persen. "Persis seperti tahun lalu,” ucapnya.
Menurutnya pasar ekspor non tradisional Indonesia menurutnya tumbuh lebih kuat dan lebih cepat dari pasar tradisional. Walaupun nominalnya lebih kecil dari pasar ekspor tradisional, menurutnya pasar non tradisional akan lebih cepat tumbuh dan mengembang dengan pasti.
Afrika Selatan menjadi target misi dagang, karena wilayah ini memiliki potensi yang besar. Tengok saja, pendapatan domestik bruto (PDB) negara yang tergabung dalam blok ekonomi southern africa development country (SADC) ini tercatat sebesar US$ 366,2 miliar, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 3,2 persen dan PDB perkapita sebesar US$ 7.249.
PT Aneka Koffe Industries Mainargi Sudargo mengatakan keikutsertaan mereka ke Afrika bersama tim misi dagang Kementrian Perdagangan untuk memastikan investasi mereka disektor minuman kopi dapat terwujud disana beberapa tahun kedepan.
Menurutnya mereka tidak akan melakukan perdagangan langsung di Afrika bagian selatan, sebab untuk mendapatkan pasar yang baik mereka akan melakukan ekspor barang setengah jadi ke Afrika selatan, untuk kemudian di Afrika mitranya melakukan branding dan menjadi barang jadi untuk kemudian dapat disebar ke sejumlah negara tetangga Afrika Selatan, yang berjumlah 15 nergara dan memiliki setidaknya 258 juta penduduk yang sedang membangun dengan total PDB US$ 535 miliar.
Mintarjo Halim, pengurus Kamar Dagang dan Industri Indonesia untuk wilayah Afrika Selatan mengatakan pihakya berharap ekspor ke Afsel dapat terus meningkat, dengan mekanisme pengolahan bahan jadinya di Indonesia, namun pelabelan produksnya di Afrika.
"Kalau kita bicara kopi kita akan kalah dengan Tanzania atau Vietnam, maka kita harus cari cara agar produk kita tetap masuk kesana," ungkapnya.
"Di Afrika Selatan ada 1,5 juta jiwa keturunan Makassar, ini modal bagi kita untuk memasarkan makanan olahan bercita rasa Nusantara seperti Kacang Garuda dan kopi disana," kata Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, saat memaparkan rencana misi dagang ke-2 Kementrian Perdagangan ke Afrika Selatan dan sekitarnya di Jakarta, Rabu (4/4/2012).
Misi dagang ke Afrika Selatan akan berlangsung 9-14 April 2012 mendatang diikuti oleh 14 perusahaan nasional yang bergerak dalam berbagai bidang usaha diantaranya PT Aneka Koffe Industries, Olimpic Furniture, dan Pama Persada (Mining Contractors), Asia Pulp and Paper, PT Gajah Tunggal Tbk, PT Garuda Food Putra Putri Jaya, PT Prasidha Aneka Niaga Tbk, dan PT Sandratex.
"Mereka akan ikut lagi ke Afrika untuk kembali mejajaki potensi dagang dan investasi disana," terangnya.
Bayu mengatakan target dari misi dagang ke Afrika bagian selatan ini antara lain, membuka jalan ke pasar negara-negara sekitar Afrika Selatan seperti Zimbabwe, Tanzania, Lesotto, Malawi, Namibia, Kongo dan lainnya.
"Target tahun ekspor tahun ini ke Afrika bagian selatan masih sangat terbuka, dan kita tak ingin terburu-buru menentukan secara definitif target kita, ke sana," ungkapnya.
Dirjen Pengembangan Ekspor Hesti Indah Kresnarini mengungkapkan, pemerintah berharap pasar ekspor non tradisional Indonesia dapat tumbuh 25 persen tahun ini. Sementara untuk Afrika bagian selatan, ia berharap tahun ini pasar ekspor disana akan tumbuh 21 persen. "Persis seperti tahun lalu,” ucapnya.
Menurutnya pasar ekspor non tradisional Indonesia menurutnya tumbuh lebih kuat dan lebih cepat dari pasar tradisional. Walaupun nominalnya lebih kecil dari pasar ekspor tradisional, menurutnya pasar non tradisional akan lebih cepat tumbuh dan mengembang dengan pasti.
Afrika Selatan menjadi target misi dagang, karena wilayah ini memiliki potensi yang besar. Tengok saja, pendapatan domestik bruto (PDB) negara yang tergabung dalam blok ekonomi southern africa development country (SADC) ini tercatat sebesar US$ 366,2 miliar, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 3,2 persen dan PDB perkapita sebesar US$ 7.249.
PT Aneka Koffe Industries Mainargi Sudargo mengatakan keikutsertaan mereka ke Afrika bersama tim misi dagang Kementrian Perdagangan untuk memastikan investasi mereka disektor minuman kopi dapat terwujud disana beberapa tahun kedepan.
Menurutnya mereka tidak akan melakukan perdagangan langsung di Afrika bagian selatan, sebab untuk mendapatkan pasar yang baik mereka akan melakukan ekspor barang setengah jadi ke Afrika selatan, untuk kemudian di Afrika mitranya melakukan branding dan menjadi barang jadi untuk kemudian dapat disebar ke sejumlah negara tetangga Afrika Selatan, yang berjumlah 15 nergara dan memiliki setidaknya 258 juta penduduk yang sedang membangun dengan total PDB US$ 535 miliar.
Mintarjo Halim, pengurus Kamar Dagang dan Industri Indonesia untuk wilayah Afrika Selatan mengatakan pihakya berharap ekspor ke Afsel dapat terus meningkat, dengan mekanisme pengolahan bahan jadinya di Indonesia, namun pelabelan produksnya di Afrika.
"Kalau kita bicara kopi kita akan kalah dengan Tanzania atau Vietnam, maka kita harus cari cara agar produk kita tetap masuk kesana," ungkapnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)