Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi pasar untuk industri farmasi meski industri dalam negeri masih sangat tergantung pada bahan baku impor. “Indonesia masih mengimpor lebih dari 95 persen bahan baku dari India, Cina, dan Eropa,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia, Kendrariadi Suhanda, Kamis, 12 April 2012.
Kesulitan bahan baku ini, kata dia, karena belum adanya dukungan dari pemerintah. Salah satu negara yang industri farmasinya maju adalah Cina.
Cina menjadi kuat karena mendapat dukungan penuh dari pemerintah setempat. Salah satu bentuk dukungan itu adalah pemberian subsidi dalam bentuk pajak. “Jika sudah kompetitif, pelan-pelan subsidi itu dicabut oleh pemerintah,” ucap Ketua Umum Pharma Materials Management Club ini.
Kendrariadi menyatakan pada 2010 total nilai industri farmasi di Indonesia mencapai US$ 3,7 miliar. Tahun ini angka itu diperkirakan meningkat menjadi US$ 4,7 miliar.
Rata-rata industri farmasi tumbuh 13,4 persen per tahun. Kalangan pengusaha memperkirakan pada tahun 2014 angka tersebut naik menjadi US$ 6,1 miliar. “Dari total nilai itu 25 persen untuk keperluan bahan baku,” ucapnya.
Untuk menemukan dan membentuk molekul butuh biaya besar. Biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan satu molekul bahan baku diperkirakan mencapai US$ 1 miliar.
Ketua Bendahara GP Farmasi DKI Jakarta, Teddy Iman Soewahjo, menuturkan keinginan kuat pemerintah diperlukan karena tingginya biaya ini. “Salah satunya untuk keperluan riset,” kata Teddy.
Menurut dia, jika tetap dipaksakan dibuat di dalam negeri dengan biaya seperti itu harga keluaran produk farmasi itu tidak memiliki daya saing dengan produk impor seperti Cina dan India. Di kedua negara itu material dasar untuk pembuatan bahan baku industri farmasi sudah tersedia. “Mereka sudah punya bahan dasar kimia,” ucapnya.
Thursday, April 12, 2012
Bahan Bakar Gas Akan Mampu Hemat Biaya Listrik Sebesar 37 Persen
Penggunaan gas untuk pembangkit listrik akan menekan biaya bahan bakar hingga 37,5 persen dibandingkan Solar. Direktur Utama PT Nusantara Regas, Hendra Jaya, mengatakan penghematan dihitung dari perbandingan harga Solar dan gas untuk menghasilkan energi panas 1 million metric british thermal units (mmbtu) pada pembangkit listrik.
Untuk per 1 mmbtu tersebut dibutuhkan Solar seharga US$ 24 sedangkan gas US$ 15. “Jadi ada penghematan US$ 9,” katanya di Jurong Singapura, Kamis 12 April 2012.
Penghematan ini akan dimulai setelah kapal apung penampung dan pengolah gas alam cair (Floating Storage Regazsifization Units) milik Nusantara Regas beroperasi di Muara Karang dan Tanjung Priok Jakarta. Kapal apung ini dibuat Jurong Shipyard PTE Ltd Singapura selama satu setengah tahun. “Ini relatif cepat,” kata Hendar.
Kapal apung bernama Nusantara Regas Satu ini mendapatkan suplai gas alam cair 11,75 juta ton dari blok Mahakam oleh Total Oil and Gas selama 11 tahun. Gas alam cair ini akan dikirimkan 1,1 juta ton per tahun dalam 23 kargo. Jumlah ini akan diubah menjadi gas sebsar 200 meter kubik per hari. Hendra juga enggan menyebut harga gas yang disepakati bersama Total. Yang pasti, “Harganya lebih rendah ketimbang harga ekspor gas cair."
Gas ini akan disuplai kepada PLN di Muara Karang dan Tanjung Priok sebagai bahan baku pembangkit listrik. Hendra juga enggan menyebutkan berapa besaran listrik yang dihasilkan. Menurut Hendra, meski terlambat beroperasi 3 bulan pengiriman kargo tetap sesuai dengan perjanjian. “Jadi ada satu bulan yang pengiriman kargo lebih besar,” katanya.
Kapal apung berat 97 ribu ton ini disewa dari Golar LNGLtd yang bermarkas di Bermuda. Kapal yang dulunya bernama Khannur ini dibuat pada 1977. Hendra mengatakan kapal ini masih aman digunakan mengolah dan menyuplai gas untuk PT Perusahaan Listrik Negara. “FSRU di Dubai dan Brazil juga dengan usia yang sama,” katanya.
Kapal apung ini ditargetkan sampai di Teluk Jakarta pada 20 April. “Kalau tidak hari ini besok kapal sudah harus bergerak,” kata Hendra. Kapal membutuhkan waktu lebih lama dalam perjalanan karena harus mencoba beberapa teknologi pemanas air laut. “Kami juga mempertimbangkan pasang surut air laut.”
Kapal dengan lambung hitam ini akan dikendalikan 35 awak. Ada enam penampung (storage) untuk menampung gas. Tiga penampung sebagai tempat gas cair. Sedangkan sisanya menampung gas cair yang diubah menjadi gas. Proses pengubahan gas cair yang bersuhu minus 160 derajat Celcius menjadi gas menggunakan pemanas dari air laut yang bersuhu 40 derajat Celcius.
Pengisian gas cair dan suplai gas ke PLN dikerjakan di atas laut. “Jadi kapal ini tidak bergerak,” kata Hendra. Karena beroperasi di satu titik, ujar Hendra, manajemen bersepakat menyewa kapal meski berusia tua.
Menurut Hendra, kapal ini disewa dengan harga di bawah harga US$ 200 juta untuk 11 tahun. Jika membeli dibutuhkan dana US$ 700 juta. Alasan menyewa, ujar Hendra, karena modal terbatas dan keuntungan perusahaan yang dibatasi. “Kami ini ditentukan oleh pemerintah,” ujarnya. Nusantara Regas merupakan perusahaan yang sahamnya 60 persen dimiliki Pertamina dan sisanya dimiliki PT Perusahaan Gas Negara Tbk.
Untuk per 1 mmbtu tersebut dibutuhkan Solar seharga US$ 24 sedangkan gas US$ 15. “Jadi ada penghematan US$ 9,” katanya di Jurong Singapura, Kamis 12 April 2012.
Penghematan ini akan dimulai setelah kapal apung penampung dan pengolah gas alam cair (Floating Storage Regazsifization Units) milik Nusantara Regas beroperasi di Muara Karang dan Tanjung Priok Jakarta. Kapal apung ini dibuat Jurong Shipyard PTE Ltd Singapura selama satu setengah tahun. “Ini relatif cepat,” kata Hendar.
Kapal apung bernama Nusantara Regas Satu ini mendapatkan suplai gas alam cair 11,75 juta ton dari blok Mahakam oleh Total Oil and Gas selama 11 tahun. Gas alam cair ini akan dikirimkan 1,1 juta ton per tahun dalam 23 kargo. Jumlah ini akan diubah menjadi gas sebsar 200 meter kubik per hari. Hendra juga enggan menyebut harga gas yang disepakati bersama Total. Yang pasti, “Harganya lebih rendah ketimbang harga ekspor gas cair."
Gas ini akan disuplai kepada PLN di Muara Karang dan Tanjung Priok sebagai bahan baku pembangkit listrik. Hendra juga enggan menyebutkan berapa besaran listrik yang dihasilkan. Menurut Hendra, meski terlambat beroperasi 3 bulan pengiriman kargo tetap sesuai dengan perjanjian. “Jadi ada satu bulan yang pengiriman kargo lebih besar,” katanya.
Kapal apung berat 97 ribu ton ini disewa dari Golar LNGLtd yang bermarkas di Bermuda. Kapal yang dulunya bernama Khannur ini dibuat pada 1977. Hendra mengatakan kapal ini masih aman digunakan mengolah dan menyuplai gas untuk PT Perusahaan Listrik Negara. “FSRU di Dubai dan Brazil juga dengan usia yang sama,” katanya.
Kapal apung ini ditargetkan sampai di Teluk Jakarta pada 20 April. “Kalau tidak hari ini besok kapal sudah harus bergerak,” kata Hendra. Kapal membutuhkan waktu lebih lama dalam perjalanan karena harus mencoba beberapa teknologi pemanas air laut. “Kami juga mempertimbangkan pasang surut air laut.”
Kapal dengan lambung hitam ini akan dikendalikan 35 awak. Ada enam penampung (storage) untuk menampung gas. Tiga penampung sebagai tempat gas cair. Sedangkan sisanya menampung gas cair yang diubah menjadi gas. Proses pengubahan gas cair yang bersuhu minus 160 derajat Celcius menjadi gas menggunakan pemanas dari air laut yang bersuhu 40 derajat Celcius.
Pengisian gas cair dan suplai gas ke PLN dikerjakan di atas laut. “Jadi kapal ini tidak bergerak,” kata Hendra. Karena beroperasi di satu titik, ujar Hendra, manajemen bersepakat menyewa kapal meski berusia tua.
Menurut Hendra, kapal ini disewa dengan harga di bawah harga US$ 200 juta untuk 11 tahun. Jika membeli dibutuhkan dana US$ 700 juta. Alasan menyewa, ujar Hendra, karena modal terbatas dan keuntungan perusahaan yang dibatasi. “Kami ini ditentukan oleh pemerintah,” ujarnya. Nusantara Regas merupakan perusahaan yang sahamnya 60 persen dimiliki Pertamina dan sisanya dimiliki PT Perusahaan Gas Negara Tbk.
Daya Saing Pariwisata Indonesia Masih Rendah
Daya saing pariwisata Indonesia dalam pasar pariwisata dunia masih rendah. Dari daftar yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF), Indonesia hanya berada di urutan ke-74 dari 139 negara.
Menariknya, indikator terburuk adalah dalam soal infrastruktur dan kebersihan. “Rankingnya di atas 100,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu saat berdialog dengan anggota Bali Tourism Board di Denpasar, Kamis, 12 April 2012.
Untuk indikator yang lain, Indonesia masih memperoleh peringkat yang lumayan. Misalnya, Indonesia ada di urutan 39 untuk indikator budaya dan industri kreatif, di urutan 9 untuk nature dan diversityserta ranking 19 untuk service dan hospitality.
Dengan kondisi yang ada, Marie optimistis mampu menggenjot wisatawan yang pada 2012 diharapkan mencapai 8 juta orang dan 10 juta pada 2014. “Kuncinya adalah melakukan promosi dan perbaikan yang terintegrasi,” ujarnya.
Dana promosi pariwisata untuk tahun ini mencapai Rp 7 miliar. Dalam visi pemerintah pusat, promosi akan dilakukan dengan tagline "Wonderful Indonesia" dan daerah-daerah diminta untuk melakukan penyesuaian. “Jadi, meskipun Bali sudah dikenal luas, kita mohon tetap berada dalam kesatuan dengan program kita,” ujarnya.
Tagline promosi Bali “Shanti, Shanti, Shanti” atau "Peaceful Bali" misalnya bisa ditambahkan dengan "In Wonderful Indonesia".
Dia mengungkapkan kekayaan Indonesia yang sangat luas dan beragam sampai saat ini belum terlalu dikenal di luar negeri. “Bahkan, masih ada yang menelpon saya soal dampak gempa bumi di Aceh, padahal saya di Jakarta,” ujarnya.
Pertanyaan itu menggambarkan kurangnya pemahaman jarak antara satu kota dan kota lainnya di Indonesia bisa sangat jauh.
Menariknya, indikator terburuk adalah dalam soal infrastruktur dan kebersihan. “Rankingnya di atas 100,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu saat berdialog dengan anggota Bali Tourism Board di Denpasar, Kamis, 12 April 2012.
Untuk indikator yang lain, Indonesia masih memperoleh peringkat yang lumayan. Misalnya, Indonesia ada di urutan 39 untuk indikator budaya dan industri kreatif, di urutan 9 untuk nature dan diversityserta ranking 19 untuk service dan hospitality.
Dengan kondisi yang ada, Marie optimistis mampu menggenjot wisatawan yang pada 2012 diharapkan mencapai 8 juta orang dan 10 juta pada 2014. “Kuncinya adalah melakukan promosi dan perbaikan yang terintegrasi,” ujarnya.
Dana promosi pariwisata untuk tahun ini mencapai Rp 7 miliar. Dalam visi pemerintah pusat, promosi akan dilakukan dengan tagline "Wonderful Indonesia" dan daerah-daerah diminta untuk melakukan penyesuaian. “Jadi, meskipun Bali sudah dikenal luas, kita mohon tetap berada dalam kesatuan dengan program kita,” ujarnya.
Tagline promosi Bali “Shanti, Shanti, Shanti” atau "Peaceful Bali" misalnya bisa ditambahkan dengan "In Wonderful Indonesia".
Dia mengungkapkan kekayaan Indonesia yang sangat luas dan beragam sampai saat ini belum terlalu dikenal di luar negeri. “Bahkan, masih ada yang menelpon saya soal dampak gempa bumi di Aceh, padahal saya di Jakarta,” ujarnya.
Pertanyaan itu menggambarkan kurangnya pemahaman jarak antara satu kota dan kota lainnya di Indonesia bisa sangat jauh.
Sunday, April 8, 2012
Pertamina Hulu Targetkan Pendapatan 19,3 Triliun Rupiah
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menaikkan target pendapatannya pada tahun ini menjadi Rp 19,3 triliun. "Dari pendapatan tersebut target profitnya sebanyak Rp 6,8 triliun," kata Presiden Direktur Pertamina Hulu Energi, Salis Aprilian, Kamis, 5 April 2012. Target pendapatan dan profit tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun lalu.
Tahun 2011 anak usaha perusahaan Pertamina tersebut memperoleh pendapatan sebanyak Rp 16,3 triliun dengan keuntungan bersih sebesar Rp 4 triliun. Salis meyakini pendapatan pada tahun ini bisa melewati target perusahaan. Sebab, penghitungan keuangan yang dilakukan oleh PHE masih menggunakan asumsi harga minyak nasional US$ 90 per barel. "Sekarang harga minyak sedang tinggi, pasti akan lewat dari target," ujarnya.
Dari sisi produksi, rata-rata produksi minyak PHE saat ini adalah 62 ribu barel per hari dan produksi gas 450 juta standar kaki kubik per hari. Targetnya, akhir tahun ini rata-rata untuk produksi minyak dapat mencapai 71 ribu barel per hari. Produksi andalan masih berasal dari blok Offshore North West Java dan blok West Madura Offshore.
Ia memperkirakan produksi ini akan naik mulai semester dua. Tambahan produksi paling signifikan berada di blok West Madura yang pada akhir tahun diperkirakan mampu menyentuh angka produksi hingga 30 ribu barel per hari.
Selain itu, PHE juga memiliki target capital expenditure sebesar Rp 11,6 triliun dan operational expenditure Rp 5,5 triliun. Ia menjelaskan target belanja modal sengaja dialokasikan dalam jumlah besar demi mewujudkan visi produksi sebanyak 250 ribu barel per hari pada 2016.
Saat ini, secara rata-rata, produksi minyak dan gas PHE masih berada di angka 136 ribu barel per hari. "Kami memang fokus. Tahun ini saja dana kami gunakan setidaknya untuk pengeboran 64 sumur ekplorasi," katanya.
Tahun 2011 anak usaha perusahaan Pertamina tersebut memperoleh pendapatan sebanyak Rp 16,3 triliun dengan keuntungan bersih sebesar Rp 4 triliun. Salis meyakini pendapatan pada tahun ini bisa melewati target perusahaan. Sebab, penghitungan keuangan yang dilakukan oleh PHE masih menggunakan asumsi harga minyak nasional US$ 90 per barel. "Sekarang harga minyak sedang tinggi, pasti akan lewat dari target," ujarnya.
Dari sisi produksi, rata-rata produksi minyak PHE saat ini adalah 62 ribu barel per hari dan produksi gas 450 juta standar kaki kubik per hari. Targetnya, akhir tahun ini rata-rata untuk produksi minyak dapat mencapai 71 ribu barel per hari. Produksi andalan masih berasal dari blok Offshore North West Java dan blok West Madura Offshore.
Ia memperkirakan produksi ini akan naik mulai semester dua. Tambahan produksi paling signifikan berada di blok West Madura yang pada akhir tahun diperkirakan mampu menyentuh angka produksi hingga 30 ribu barel per hari.
Selain itu, PHE juga memiliki target capital expenditure sebesar Rp 11,6 triliun dan operational expenditure Rp 5,5 triliun. Ia menjelaskan target belanja modal sengaja dialokasikan dalam jumlah besar demi mewujudkan visi produksi sebanyak 250 ribu barel per hari pada 2016.
Saat ini, secara rata-rata, produksi minyak dan gas PHE masih berada di angka 136 ribu barel per hari. "Kami memang fokus. Tahun ini saja dana kami gunakan setidaknya untuk pengeboran 64 sumur ekplorasi," katanya.
Yogyakarta Jadi Tempat Wisata Belanja Kedua Setelah Bandung
Promosi belanja dengan berbagai macam hadiah selain untuk peningkatan ekonomi, juga untuk promosi wisata belanja di Daerah Istimewa Yogyakarta digelar Jogja Great Sale 2011. Transaksi belanja dengan periode 15 Desember 2011-31 Maret 2012 terhitung lebih dari Rp 50 miliar. Jumlah tersebut terlihat dari banyaknya kupon belanja yang diundi mencapai 1 juta kupon. Setiap belanja Rp 50 ribu mendapatkan satu kupon.
"Jumlah itu naik dua kali lipat dibandingkan tahun lalu di program yang sama," kata panitia acara Suryana, Minggu (8/4).
Peserta program tahunan yang ke tujuh itu adalah pedagang dan pengusaha di kawasan Malioboro, Jalan Solo (Urip Sumoharjo), Jalan Affandi dan pedagang di Jalan Magelang. Selain itu, juga ada sekitar 50 hotel di kota Yogyakarta yang ikut serta.
Hadiah yang diberikan berupa 8 sepeda motor, 10 kulkas dan banyak hadiah hiburan lainnya. Undiannya sudah dilakukan pada Sabtu (7/4) di Jogjatronik, tempat belanja komputer, telepon selular dan alat elektronik lainnya.
"Adanya program ini untuk merangsang minat belanja masyarakat, tidak hanya orang Yogya saja tetapi juga dari luar daerah," kata dia.
Menurut Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Jogjakarta (BP2KY) Deddy Pranowo Eryono, event belanja semacam ini merupakan salah satu cara meningkatkan kunjungan wisata. Ketika berpromosi ke Malaysia, ternyata para wisatawan mayoritas ingin belanja ke Yogyakarta.
"Kami saat ini fokus menarik wisatawan Asia Tenggara," kata dia.
Bidikan calon wisatawan adalah dari Malaysia, Singapura dan Thailand yang mayoritas berwisata sekaligus belanja. Ia mengakui, pada 2011 jumlah wisatawan dari Malaysia turun 10 persen dari tahun sebelumnya. Dengan Jogja Great Sale diharapkan bisa men dongkrak kunjungan wisatawan.
Wisatawan asal negeri jiran itu menurut data sangat suka belanja. Indikasinya, terlihat dari kedatangan mereka ke Bandung. Dimana dalam satu hari, penerbangan pesawat dari Bandung ke Malaysia sebanyak 5 kali. Sedangkan penerbangan langsung dari Yogyakarta ke Malaysia hanya satu kali setiap harinya.
"Maka kami juga mensiasati bagaimana wisatawan Asia yang ke Bandung ditarik ke Yogya dengan kendaraan darat," kata Deddy.
"Jumlah itu naik dua kali lipat dibandingkan tahun lalu di program yang sama," kata panitia acara Suryana, Minggu (8/4).
Peserta program tahunan yang ke tujuh itu adalah pedagang dan pengusaha di kawasan Malioboro, Jalan Solo (Urip Sumoharjo), Jalan Affandi dan pedagang di Jalan Magelang. Selain itu, juga ada sekitar 50 hotel di kota Yogyakarta yang ikut serta.
Hadiah yang diberikan berupa 8 sepeda motor, 10 kulkas dan banyak hadiah hiburan lainnya. Undiannya sudah dilakukan pada Sabtu (7/4) di Jogjatronik, tempat belanja komputer, telepon selular dan alat elektronik lainnya.
"Adanya program ini untuk merangsang minat belanja masyarakat, tidak hanya orang Yogya saja tetapi juga dari luar daerah," kata dia.
Menurut Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Jogjakarta (BP2KY) Deddy Pranowo Eryono, event belanja semacam ini merupakan salah satu cara meningkatkan kunjungan wisata. Ketika berpromosi ke Malaysia, ternyata para wisatawan mayoritas ingin belanja ke Yogyakarta.
"Kami saat ini fokus menarik wisatawan Asia Tenggara," kata dia.
Bidikan calon wisatawan adalah dari Malaysia, Singapura dan Thailand yang mayoritas berwisata sekaligus belanja. Ia mengakui, pada 2011 jumlah wisatawan dari Malaysia turun 10 persen dari tahun sebelumnya. Dengan Jogja Great Sale diharapkan bisa men dongkrak kunjungan wisatawan.
Wisatawan asal negeri jiran itu menurut data sangat suka belanja. Indikasinya, terlihat dari kedatangan mereka ke Bandung. Dimana dalam satu hari, penerbangan pesawat dari Bandung ke Malaysia sebanyak 5 kali. Sedangkan penerbangan langsung dari Yogyakarta ke Malaysia hanya satu kali setiap harinya.
"Maka kami juga mensiasati bagaimana wisatawan Asia yang ke Bandung ditarik ke Yogya dengan kendaraan darat," kata Deddy.
Daftar Prakiraan Penjualan Motor Tahun 2012
etua Bidang Komerisal Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala menyatakan penjualan motor akan lesu memasuki pertengahan tahun 2012. "Penyebabnya dua, kenaikan bahan bakar minyak dan aturan baru batas uang muka kendaraan bermotor," ujarnya saat dihubungiTempo, Sabtu, 7 April 2012.
Pada tengah tahun, pemerintah rencananya akan menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar 33,3 persen dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000. Di waktu bersamaan, Bank Indonesia mengeluarkan peraturan yang menaikkan besaran uang muka (down payment) kendaraan bermotor dari 20 persen menjadi 30 persen.
Kedua faktor itu menjadikan penjualan sepeda motor turun. Angka (penjualan) akan terkoreksi dibanding tahun lalu. Sejak kuartal ketiga 2012, penjualan sepeda motor akan lesu. "Dua faktor itu menyebabkan penundaan daya beli dalam jangka waktu yang belum bisa diprediksikan," katanya.
Mengacu pada faktor premium saja, dengan kenaikan sebesar 33 persen, kelesuan akan terjadi dalam kisaran tiga hingga empat bulan. Hal ini dianalisa berdasarkan kenaikan BBM yang terjadi pada 2005. Pada Maret, harga premium dipator Rp 2.400, kemudian menjadi Rp 4.500 pada Oktober 2005.
"Kenaikannya hampir 100 persen, saat itu pasar lesu selama sembilan bulan," ujar Sigit. Dengan kenaikan itu, secara keseluruhan pada 2005 pasar motor domestik terkoreksi sebanyak sembilan persen dibanding tahun sebelumnya.
Meski belum bisa memperkirakan secara detil, sesuai kenaikan serupa pada 2005, penjualan sepeda motor pada 2012 doprediksi turun dibanding tahun sebelumnya. "Memang ada pertumbuhan di kuartal I, namun angkanya tidak terlalu besar," katanya.
Biasanya penjualan meningkat drastis pada kuartal III. "Apalagi menjelang lebaran, beli motor sebagai hadiah baik buat diri sendiri atau orang lain," katanya.
Namun bila dua kebijakan pemerintah itu dieksekusi pada Juni 2012 atau awal kuartal III, Sigit menilai tak akan terjadi pertumbuhan penjualan. "Konsumen diganjar 'hadiah' lebih dulu dari pemerintah," ujarnya. Hadiah itu berupa kenaikan harga BBM bersubsidi dan aturan baru batas uang muka kredit kendaraan bermotor. Industri sepeda motor pun bersiap menerima kenyataan buruk.
Pada tengah tahun, pemerintah rencananya akan menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar 33,3 persen dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000. Di waktu bersamaan, Bank Indonesia mengeluarkan peraturan yang menaikkan besaran uang muka (down payment) kendaraan bermotor dari 20 persen menjadi 30 persen.
Kedua faktor itu menjadikan penjualan sepeda motor turun. Angka (penjualan) akan terkoreksi dibanding tahun lalu. Sejak kuartal ketiga 2012, penjualan sepeda motor akan lesu. "Dua faktor itu menyebabkan penundaan daya beli dalam jangka waktu yang belum bisa diprediksikan," katanya.
Mengacu pada faktor premium saja, dengan kenaikan sebesar 33 persen, kelesuan akan terjadi dalam kisaran tiga hingga empat bulan. Hal ini dianalisa berdasarkan kenaikan BBM yang terjadi pada 2005. Pada Maret, harga premium dipator Rp 2.400, kemudian menjadi Rp 4.500 pada Oktober 2005.
"Kenaikannya hampir 100 persen, saat itu pasar lesu selama sembilan bulan," ujar Sigit. Dengan kenaikan itu, secara keseluruhan pada 2005 pasar motor domestik terkoreksi sebanyak sembilan persen dibanding tahun sebelumnya.
Meski belum bisa memperkirakan secara detil, sesuai kenaikan serupa pada 2005, penjualan sepeda motor pada 2012 doprediksi turun dibanding tahun sebelumnya. "Memang ada pertumbuhan di kuartal I, namun angkanya tidak terlalu besar," katanya.
Biasanya penjualan meningkat drastis pada kuartal III. "Apalagi menjelang lebaran, beli motor sebagai hadiah baik buat diri sendiri atau orang lain," katanya.
Namun bila dua kebijakan pemerintah itu dieksekusi pada Juni 2012 atau awal kuartal III, Sigit menilai tak akan terjadi pertumbuhan penjualan. "Konsumen diganjar 'hadiah' lebih dulu dari pemerintah," ujarnya. Hadiah itu berupa kenaikan harga BBM bersubsidi dan aturan baru batas uang muka kredit kendaraan bermotor. Industri sepeda motor pun bersiap menerima kenyataan buruk.
Pengerajin Kecil Minta Sertifikasi Kayu Hanya Untuk Produk Ekspor
Adanya syarat sertifikasi kayu untuk kerajinan dan mebel dinilai memberatkan perajin. Sebab, biaya sertifikasi sangat mahal, antara Rp 30 juta hingga Rp 60 juta, tergantung pada besar-kecilnya perusahaan.
Asmindo (Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia) Daerah Istimewa Yogyakarta meminta supaya sertifikasi hanya untuk komoditas ekspor. Sebab, untuk pasar domestik mengakibatkan harga produk semakin tinggi.
Adapun Indonesia belum memberlakukan sertifikasi kayu tersebut. Apalagi, proses penebangan kayu hingga menjadi produk kerajinan dan mebel sudah melalui prosedur administrasi yang ketat.
"Lembaga swadaya masyarakat mengkhawatirkan adanya illegal logging,maka harus ada sertifikasi kayu," kata Endro Wardoyo, Sekretaris Asmindo Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, 6 April 2012.
Sayangnya, biaya sertifikasi yang mahal itu tidak diiringi dengan kenaikan harga jual. Pasalnya, para pembeli dari luar negeri tetap menginginkan harga yang tetap murah.
Ia menambahkan setiap negara tujuan ekspor mebel dari kayu pasti memberi syarat sertifikasi tersebut. Namun sertifikasi dari suatu negara belum tentu bisa diterima di negara lain.
Maka jika ada 27 negara yang mensyaratkan sertifikasi kayu, perajin atau pengekspor mebel juga harus mengurus sertifikasi dari setiap negara itu.
"Maka bisa dibayangkan betapa mahalnya biaya produksi mebel itu yang berakibat kepada kenaikan harganya," kata dia.
Saat ini, kata Endro, pemerintah sedang mengupayakan adanya sertifikasi kayu dari dalam negeri yang bisa diterima oleh negara-negara tujuan ekspor. Sayangnya, posisi tawar pemerintah Indonesia masih sangat lemah.
Legalitas kayu, kata dia, disebut SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu) saat ini sedang digalakkan hingga tingkat perajin mebel. Sistem itu juga biasa disebut V-legal (verifikasi legal) untuk kayu.
"Sebenarnya soal kelegalan kayu sudah jelas karena sudah melalui administrasi yang jelas. Tapi jika ada sertifikasi kayu, akan lebih membuat mebel laku di pasaran luar negeri," kata dia.
Apalagi saat ini izin penebangan kayu hutan rakyat semakin dipermudah. Asal ada izin dari kepala desa, sudah bisa menjadi legal. Sebelumnya harus ada izin dan diberi plat legal oleh beberapa instansi seperti Dinas Kehutanan dan instansi terkait dalam perjalanan perdagangan kayu.
Pada 10-11 April mendatang Asmindo akan melakukan sosialisasi kepada para perajin soal SVLK. Ketentuan itu akan berlaku pada Maret 2013 mendatang.
Menurut Yuli Sugiyanyo, Ketua Asmindo Daerah Istimewa Yogyakarta, saat ini para perajin menguatkan pasar domestik. Antara lain dengan membuka gerai bersama di Pyramid, Jalan Parangtritis. Ada 33 perajin yang menggelar produk untuk pasar domestik.
"Segala produk kerajinan dan mebel ada, bahkan kami memberi diskon hingga 50 persen," kata dia.
Asmindo (Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia) Daerah Istimewa Yogyakarta meminta supaya sertifikasi hanya untuk komoditas ekspor. Sebab, untuk pasar domestik mengakibatkan harga produk semakin tinggi.
Adapun Indonesia belum memberlakukan sertifikasi kayu tersebut. Apalagi, proses penebangan kayu hingga menjadi produk kerajinan dan mebel sudah melalui prosedur administrasi yang ketat.
"Lembaga swadaya masyarakat mengkhawatirkan adanya illegal logging,maka harus ada sertifikasi kayu," kata Endro Wardoyo, Sekretaris Asmindo Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, 6 April 2012.
Sayangnya, biaya sertifikasi yang mahal itu tidak diiringi dengan kenaikan harga jual. Pasalnya, para pembeli dari luar negeri tetap menginginkan harga yang tetap murah.
Ia menambahkan setiap negara tujuan ekspor mebel dari kayu pasti memberi syarat sertifikasi tersebut. Namun sertifikasi dari suatu negara belum tentu bisa diterima di negara lain.
Maka jika ada 27 negara yang mensyaratkan sertifikasi kayu, perajin atau pengekspor mebel juga harus mengurus sertifikasi dari setiap negara itu.
"Maka bisa dibayangkan betapa mahalnya biaya produksi mebel itu yang berakibat kepada kenaikan harganya," kata dia.
Saat ini, kata Endro, pemerintah sedang mengupayakan adanya sertifikasi kayu dari dalam negeri yang bisa diterima oleh negara-negara tujuan ekspor. Sayangnya, posisi tawar pemerintah Indonesia masih sangat lemah.
Legalitas kayu, kata dia, disebut SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu) saat ini sedang digalakkan hingga tingkat perajin mebel. Sistem itu juga biasa disebut V-legal (verifikasi legal) untuk kayu.
"Sebenarnya soal kelegalan kayu sudah jelas karena sudah melalui administrasi yang jelas. Tapi jika ada sertifikasi kayu, akan lebih membuat mebel laku di pasaran luar negeri," kata dia.
Apalagi saat ini izin penebangan kayu hutan rakyat semakin dipermudah. Asal ada izin dari kepala desa, sudah bisa menjadi legal. Sebelumnya harus ada izin dan diberi plat legal oleh beberapa instansi seperti Dinas Kehutanan dan instansi terkait dalam perjalanan perdagangan kayu.
Pada 10-11 April mendatang Asmindo akan melakukan sosialisasi kepada para perajin soal SVLK. Ketentuan itu akan berlaku pada Maret 2013 mendatang.
Menurut Yuli Sugiyanyo, Ketua Asmindo Daerah Istimewa Yogyakarta, saat ini para perajin menguatkan pasar domestik. Antara lain dengan membuka gerai bersama di Pyramid, Jalan Parangtritis. Ada 33 perajin yang menggelar produk untuk pasar domestik.
"Segala produk kerajinan dan mebel ada, bahkan kami memberi diskon hingga 50 persen," kata dia.
Subscribe to:
Posts (Atom)