Setelah Lippo Karawaci, Agung Podomoro, dan Ciputra Group yang telah lama terjun di bisnis perhotelan, Summarecon Agung menyusul kemudian. Perusahaan yang selama ini beken sebagai pengembang perumahan skala kota, mengungkapkan rencana strategisnya menggarap bisnis perhotelan.
Menurut Direktur Utama Summarecon Agung, Johannes Mardjuki, pihaknya akan membangun tiga (3) hotel. Dua hotel bintang empat berlokasi di Bekasi dan Kelapa Gading yang dikelola Tauzia Management dengan bendera Harris Hotel. Satu lainnya merupakan hotel berkualifikasi bintang lima dan akan dikembangkan di Jimbaran, Bali. Pengelolanya adalah jaringan hotel internasional Mövenpick.
"Hotel-hotel tersebut kami jadikan sebagai sumber pemasukan tetap (recurring income) perseroan. Setidaknya untuk jangka menengah lima tahun," ucap Johannes kepada Kompas.com, di Jakarta, Rabu (5/6/2013), usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa (RUPST LB).
Ketiga hotel ini menghabiskan dana investasi sebesar Rp 1 triliun. Alokasi dana terbesar diperuntukkan bagi Hotel Mövenpick. Hotel seluas 3,8 hektar tersebut telah melalui proses pemancangan tiang pertama dan akan beroperasi pada 2015 mendatang. Sementara Kedua hotel lainnya akan beroperasi lebih dahulu, yaitu pada tahun 2014.
Dibidiknya Bali sebagai lokasi ekspansi perhotelan Summarecon, menurut Johannes, realisasi strategi bisnis memanfaatkan peluang sebagai destinasi wisata utama dunia. Selain itu, beroperasinya Bandara Ngurah Rai baru dan jalan tol baru membuka kemungkinan-kemungkinan besar terjadinya mobilitas wisatawan yang luar biasa.
Selain perhotelan, Summarecon juga tengah mempersiapkan pengembangan perumahan skala kota di Bandung. Cadangan lahan mereka di Ibu Kota Jawa Barat tersebut seluas 190 hektar. Mereka juga akan membangun proyek serupa di selatan Jakarta. Sebagian tanah tersebut didapat dari hasil akuisisi, sementara sisanya merupakan kerjasama berupa join venture.
Bekasi punya potensi. Tentu saja, kalau tidak, mana mungkin pengembang kelas kakap macam Agung Sedayu, Sinarmas Land, Lippo Group dan Summarecon Agung menggarap tapal urban Jakarta ini.
Mereka tak sekadar mengembangkan perumahan, tetapi perumahan skala kota. Lengkap dengan unsur-unsur ekologi sosial kehidupan kota, seperti fasilitas pendidikan, hiburan, ibadah, perkantoran, kawasan ekonomi berbasis industri, hingga ruang ritel komersial.
Selama kurun lima tahun terakhir, yang terjadi di Bekasi bukan hanya sebuah fenomena, melainkan detak kebutuhan nyata (real demand) dari sekitar 2,5 juta penduduk Kota Bekasi dan 4 juta jiwa yang mendiami Kabupaten Bekasi. Merekalah yang "menghidupi" proyek-proyek properti para pengembang kakap tersebut sehingga mengalami lonjakan harga di luar ekspektasi.
Wajar jika akhirnya harga rumah di kawasan ini sudah berada pada hitungan miliaran rupiah per unit. Sebut saja Klaster Vernonia di Summarecon Bekasi yang tembus Rp 2 miliar. Ini merupakan harga terendah untuk tipe 8 x 18 meter persegi. Sementara di Jababeka City, harga rumah sudah berada pada level Rp 1,4 miliar untuk Klaster Beverly Hills dan Oscar.
Saat ini sukar menemukan rumah dengan harga di bawah Rp 500 juta per unit. Kalaupun ada, aksesibilitasnya tak mudah dijangkau. Demikian pula halnya dengan fasilitas yang tak bisa dijamin kondisinya.
Direktur Utama Summarecon Agung, Johannes Mardjuki, mengatakan, potensi ekonomis Bekasi luar biasa. Daya konsumsi mereka tumbuh pesat. Terbukti, Klaster Vernonia yang baru dilansir April 2013 sudah terserap 80 persen dari total 193 unit.
"Hal ini yang mendorong kami mengembangkan fasilitas tambahan yang sangat dibutuhkan penghuni Summarecon Bekasi sekaligus warga Bekasi keseluruhan, yakni Summarecon Mal Bekasi," ungkap Johannes kepada Kompas.com, Jumat (28/6/2013).
Alasan serupa dikemukakan CEO Gapura Prima, Rudy Margono. Ia mengatakan bahwa masyarakat Bekasi memiliki karakteristik yang unik. Mereka sangat tertarik terhadap hal-hal baru sehingga tak segan membelanjakan uangnya untuk mendapatkan hal baru tersebut.
"Bekasi Trade Center (BTC) yang dikembangkan sepuluh tahun lalu, saat ini menjadi pusat perdagangan penting di Bekasi Timur. Karena kebutuhan akan kios dan komersial lainnya semakin menguat, kami membuka BTC Tahap II dalam kompleks pengembangan BTC City," papar Rudy.
SMB dan BTC Tahap II hanyalah dua contoh dari sejumlah pusat belanja baru yang akan "menyesaki" relung-relung Kota Bekasi. Calon pusat belanja lainnya adalah Grand Metropolitan Mall yang dikembangkan Metland. Saat ini sudah memasuki tahap pekerjaan akhir. Lantas Grand Galaxy Mall milik Agung Sedayu Group yang akan dibuka pada 2014 mendatang.
Menyusul kemudian mal hasil kolaborasi PT Jababeka Tbk dengan PT Plaza Indonesia Realty Tbk di Jababeka City yang baru akan dikembangkan pada 2014. Menurut Presiden Komisaris PT Grahabuana Cikarang, anak usaha Jababeka, Tanto Kurniawan, mal hasil kerja sama tersebut akan beroperasi pada 2016.
Nama-nama tersebut di atas menggenapi jumlah ruang ritel komersial di Bekasi menjadi 20 buah mal hingga 2016 mendatang. Mereka adalah Summarecon Mal Bekasi, Bekasi Cyber Park, BTC I, BTC II, Mega Bekasi Hypermall, Metropolitan Mall, Grand Metropolitan Mall, Grand Galaxy Mall, Bekasi Junction, Bekasi Square, Plaza Jababeka, Mal Lippo Cikarang, Grand Mall Bekasi, Prima Sentra Grosir Bekasi, Cikarang Trade Center, Sentra Grosir Cikarang, Plaza Metropolitan Tambun, Mal Pekayon, Bekasi Town Square, Blue Mall, dan calon mal di Jababeka City. Rekam jejak menentukan sebuah kesuksesan. Setelah membangun dua pusat belanja dengan tingkat hunian sempurna 100 persen yakni Mal Kelapa Gading 1-5 dan Summarecon Mal Serpong (SMS), PT Summarecon Agung Tbk baru saja membuka Summarecon Mal Bekasi (SMB).
SMB merupakan protofolio komersial ritel terbaru yang berhasil mendapat komitmen tenan pengisi sebanyak 91 persen dari total luas bangunan 80.000 meter persegi. Dari 91 persen tenan tersebut, 75,3 persen di antaranya telah beroperasi pada saat grand opening Jumat (28/6/2013).
Direktur Utama Summarecon Agung, Johannes Mardjuki mengatakan konsep pengembangan SMB yang berbeda, mampu menarik minat penyewa. Padahal, harga sewa pusat belanja ini bisa dikatakan tidak murah, sekitar 18 dollar AS per meter persegi per bulan dengan kurs yang dipatok senilai Rp 7.000 per 1 dollar AS (Rp 126.000). Angka sewa ini di luar service charge senilai 11 dollar AS per meter persegi per bulan (Rp 77.000).
"Para tenan sangat antusias mengisi SMB. Mereka mempertimbangkan MKG 1-5 dan SMS yang lebih dulu beroperasi. Sehingga terdapat fenomena persamaan tenan antara kedua mal tersebut dengan SMB," ungkap Johannes kepada Kompas.com, Jumat (28/6/2013).
Tercatat tenan utama seperti Star Department Store, The FoodHall Supermarket, ACE Hardware, Best Denki dan Cinema XXI yang sudah mulai beroperasi pada hari pertama pembukaan.
Menurut Direktur Summarecon Agung, Sugianto Nagaria, serupa dengan dua mal sebelumnya, SMB dirancang dengan mengadopsi langgam lifestyle mall. Terutama penekanan pada konsep The DownTown Walk yang merupakan destinasi kuliner lengkap dengan area makan terbuka. The Downtown Walk SMB terdiri atas dua lantai, dilengkapi jaringan internet wifi, LED raksasa berukuran 11 x 8.
"Ini merupakan SMB Tahap I. Nantinya SMB akan memiliki luas total bangunan mencapai 160.000 meter persegi. Tahun 2014, kami juga akan membuka Harris Hotel yang bangunannya menempel pada SMB," ungkap Sugianto.
Untuk menghadirkan konsep yang terbilang baru di Bekasi ini, Summarecon Agung menginvestasikan dana senilai Rp 580 miliar. Sejumlah Rp 550 miliar di antaranya berasal dari pinjaman Bank Mandiri dan beberapa bank lainnya.
Dengan beroperasinya SMB ini, Summarecon Agung mengharapkan mendapat tambahan sumber pendapatan berulang yang dihitung per tahun fiskal 2014 senilai Rp 130 miliar. Sehingga kontribusirecurring income terhadap total revenue menjadi sebesar 30 persen dari sebelumnya 25 persen.
Ruko mana di seluruh Indonesia ini yang harganya bisa mencapai hitungan puluhan miliar rupiah? Hanya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Adalah Summarecon Agung yang bisa mencapai "prestasi" itu. Mereka menjual kompleks ruko The Kensington Summarecon Kelapa Gading dengan harga transaksi tertinggi Rp 38 miliar. Padahal harga perdana yang ditawarkan hanya Rp 7,2 miliar untuk ukuran 5x17 meter persegi.
Pencapaian tersebut dimungkinkan karena peminat produk yang dilansir pada Maret 2013 tersebut membludak. Sementara jumlah ruko yang dipasarkan terbatas, hanya 41 unit. Istimewanya, ruko dengan dengan harga transaksi (dealing price) Rp 38 miliar tersebut didapatkan dengan mekanisme lelang.
Direktur Utama Summarecon Agung, Johannes Mardjuki, mengatakan, pembeli The Kensington Summarecon Kelapa Gading memang beragam, dengan latar belakang berbeda. Namun, kesamaannya adalah mereka para pebisnis dengan motif investasi.
"Seluruh 41 unit ruko tersebut terjual secara bersamaan dalam satu momen peluncuran (launching)," ungkap Johannes, di Jakarta, Rabu (3/7/2013). Dari hasil penjualan ruko tersebut, Summarecon Agung meraup Rp 570 miliar. Angka yang cukup signifikan kontribusinya terhadap total marketing sales Rp 975 miliar!
Menarik dicermati, mengapa harga satu unit ruko bisa setinggi itu? Kelapa Gading, menurut Johannes, mengalami defisit pasok ruko. Padahal kawasan ini sangat prospektif untuk berbisnis jasa, makanan, otomotif atau pun perbankan. Selain itu, "Reputasi pengembang juga menentukan," imbuh Johannes.
Kepala Naga Meski sempat tenggelam akibat banjir besar 2007 silam, tak menyurutkan pamor Kelapa Gading, Jakarta Utara, sebagai "kepala naga". Kawasan ini justru semakit melesat pertumbuhannya dan menjadi incaran pemburu rente.
Setahun setelah peristiwa air bah itu, harga lahan dan properti di sana secara bertahap menunjukkan kenaikan. Awalnya hanya 5 persen pada 2008, kemudian melonjak 10 persen setahun kemudian, hingga akhirnya pertumbuhan aktual mencapai 25 persen. Saat ini, harga lahan untuk kepentingan komersial telah mencapai Rp 100 juta per meter persegi.
Akan tetapi, pengamat pemasaran properti Matius Jusuf berpendapat, orang yang sanggup membeli ruko seharga Rp 38 miliar itu bukan investor murni yang berharap imbal hasil (yield) atau keuntungan (capital gain). Ia hanyalah orang yang memiliki kelebihan likuiditas, dan tidak memiliki motif berbisnis.
"Sebab, kalau ruko yang dibelinya kemudian ia gunakan sebagai tempat usaha membuka kedai makanan atau sektor jasa lainnya, balik modal akan butuh waktu lama. Paling minimal, ia harus membuka rukonya ini debagai ruang pamer mobil mewah buatan Eropa atau Amerika," tandas Matius.
Satu-satunya motif yang dimiliki pembeli ini adalah "emosional" untuk diakui publik bahwa ia sanggup membeli properti setinggi apa pun harganya (kepentingan status sosial).
Namun, apap pun itu, pasca keberhasilan The Kensington, Summarecon Agung tengah bersiap melansir produk baru di atas bank tanah mereka seluas 10 hektar. Produk baru tersebut, menurut Johannes, lebih kepada high rise project yakni apartemen dan perkantoran.
Pengusaha Nisin Sunito, sang pemilik peternakan sapi seluas dua kali Pulau Bali di Australia sangat dikenal oleh kalangan para pengusaha penggemukan sapi (feedloter) di Indonesia. Hingga kini, Nisin dianggap satu-satunya pengusaha asal Indonesia yang punya peternakan sapi di Australia. Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo) Joni Liano mengatakan, lahan peternakan milik Nisin di Australia salah satu yang terbesar di Negeri Kangguru tersebut. Joni memastikan, pengusaha asal Pangkalan Bun itu satu-satunya orang Indonesia yang berbisnis peternakan di Australia.
Menurut Joni, yang ia ketahui Nisin Sunito saat ini masih menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). "Setahu saya hanya Pak Nisin," kata Joni Kamis (4/7/2013). Joni menuturkan, sebelumnya ada perusahaan Indonesia yang menggarap bisnis serupa di Australia, ada peternakan Tipperary milik keluarga Bakrie di Northern Territory, Australia.
"Dulu pernah ada Bakrie tahun 80-an, dia buka di Lampung, dia buka juga farm di Australia, sekarang sudah tak lagi karena bangkrut" katanya. Menurutnya, Nisin membuka perwakilan bisnisnya di Indonesia melalui bendera Oceanic Indonesia. Oceanic membuka penggemukan sapi dan mengimpor sapi bakalan di Serang, Banten, Oceanic sempat menjadi anggota Apfindo.
"Mereka salah satu yang terbesar di sana (Australia), buka feedloter di Indonesia, oceanic di Indonesa, Serang. Sekarang sudah nggak impor, sudah nggak jadi anggota. Sudah nggak impor, mungkin dibatasi, kecil volumennya kecil," katanya. Selain itu, Oceanic ternyata lebih banyak mengekspor sapi-sapinya ke negara-negara ASEAN di luar Indonesia. "Saya dengar dari mantan direkturnya, banyak ekspor ke Filipina dan Malaysia, kalau Indonesia mungkin volumenya kecil," katanya.
Nisin berasal dari Pangkalan Bun Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Nisin mulai merintis bisnisnya di Australia dengan mendirikan Oceanic Multitrading Pty Limited pada tahun 1992. Ia terjun ke bisnis peternakan setelah mengakuisisi peternakan Kiana pada Juli 2005. Lokasi peternakannya berada 1.132 km tenggara Kota Darwin Australia.
Total luas peternakan Kiana mencapai 331.800 hektar. Luas peternakan ini setara dengan 4,8 kali luas Negara Singapura. Peternakan Kiana memiliki kapasitas 15.800 sapi, yang mayoritasnya sapi Brahman dan Droughmaster. Pengusaha asal Indonesia Nisin Sunito disebut-sebut sebagai pemilik peternakan sangat luas di Australia. Bahkan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi, mengatakan Nisin Sunito mengelola lahan peternakan seluas 2 kali Pulau Bali. Siapakah Nisin Sunito?
Dikutip dari situs resmi perusahaan miliknya Oceanic Multitrading Pty Limited, www.omt.com.au, Nisin mulai merintis bisnisnya di Australia dengan mendirikan Oceanic pada tahun 1992. Kini Oceanic sukses menggarap beberapa bisnis antaralain stasiun ternak sapi, impor kertas, limbah kertas, bisnis properti.
Mengenai bisnis peternakan dan pembibitan sapi, dimulai ketika Oceanic mengakuisisi peternakan Kiana pada Juli 2005, yang sudah berdiri sejak 20 tahun sebelumnya. Lokasi peternakan berada 1.132 Km tenggara Kota Darwin Australia. Total luas peternakan Kiana mencapai 331.800 hektar. Luas peternakan ini setara dengan 4,8 kali luas Negara Singapura. Peternakan Kiana memiliki kapasitas 15.800 sapi, yang mayoritasnya sapi Brahman dan Droughmaster.
Selain sebagai pengusaha multi bisnis, ia juga aktif dalam beberapa pengurus wadah organisasi pengusaha di Australia, antaralain lain Ketua NSW Australia Indonesia Business Council. Nisin berasal dari Pangkalan Bun Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Sejak lulus SD ia mengikuti orang tuanya pindah ke Surabaya, Jawa Timur.
Orangnya tuanya memberikan keleluasaan kepadanya dalam hal pendidikan termasuk studi ke Australia. Nisin dan adiknya yang bernama Iwan Sunito juga sukses sebagai pengusaha properti di Australia melalui Crown Group yang gencar menawarkan apartemen-apartemen mewah di Sydney Australia.
Di tengah panasnya kasus korupsi kuota impor daging sapi yang melibatkan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq, tiba kita dikejutkan dengan perusahaan orang Indonesia yang memiliki peternakan sapi di Australia. Perusahaan itu adalah Oceanic Multitrading Pty. Ltd. Australia dikenal sebagai pemasok pemasok sapi hidup dan daging sapi ke Indonesia. Jangan heran begitu diberlakukan kebijakan penurunan kuota import dan swasembada daging sapi oleh pemerintah Indonesia.
Seperti diketahui, Indonesia telah mengurangi impor sapi ternak dari australia, dari 283.000 ekor pada 2012 menjadi 267.000 ekor tahun 2013 inii. Pengurangan impor sapi pada 2013 menjadi 14 persen dari konsumsi domestik dan akan dikurangi lagi menjadi 10 persen pada 2014. Di tengah upaya-upaya pengurangan kuota itu, yang mengejutkan ada perusahaan swasta asal Indonesia ternyata telah memiliki lahan peternakan raksasa di Australia luasnya bisa mencapai 2 kali Pulau Bali. Kenyataan ini semakin memberi peluang rencana konsorsium BUMN untuk menggarap lahan serupa di Negeri Kangguru tersebut.
"Ada perusahaan Indonesia di sana, namanya Oceanik. Dia punya tanah 2 kali pulau Bali. Bisa invest di sana, dikasih sama pemerintah di sana. Dari sana, mereka melakukan peternakan 20 ribu-60 ribu (ekor)," kata Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Rabu (3/7).
Perusahaan bernama Oceanic Multitrading Pty. Ltd yang didirikan oleh Nisin Sunito pada tahun 1992. Menurutnya, pemerintah Australia membuka peluang untuk investor asing berinvestasi bidang peternakan di negaranya, termasuk investor asal Indonesia. Diakuinya, terkait rencana BUMN Indonesia membuka 1 juta hektar peternakan sapi di Australia merupakan ide menarik. Hal ini bisa menutupi kekurangan pasokan daging sapi nasional. "Itu sesuatu ide yang bagus. Kita kekurangan lahan di sini," tambahnya.
Menurutnya, untuk mencapai swasembada daging, setidaknya Indonesia harus memiliki cadangan hingga 60 juta ekor sapi. Sementara hasil sensus terbaru, Indonesia baru memiliki 13 juta ekor sapi. "Kalau menurut Pak Gita (Mendag Gita Wirjawan) kita harus punya 60 juta sapi untuk swasembada. Itu dalam waktu 5-10 tahun harus mencapai 60 juta," terangnya.
Tak hanya Oceanic, beberapa perusahaan Indonesia, termasuk milik pemerintah, akan menghabiskan dana puluhan juta dollar guna membeli peternakan sapi di Negara Bagian Western Australia guna memastikan pasokan sapi ke Indonesia terjamin. Menurut laporan harian The West Australian, pejabat dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) akan berkunjung ke Australia bulan depan. Disebutkan, BKPM akan berusaha meyakinan para pemilik peternakan guna menerima investasi dari Indonesia sehingga pasokan daging sapi untuk kelas menengah yang semakin tumbuh --diperkirakan sekitar 80 juta jiwa-- terpenuhi.
Seorang pengusaha senior Indonesia telah menghubungi pengusaha Indonesia yang tinggal di Perth, Iwan Gunawan, guna mencari peternakan di Western Australia dan Northern Territory yang bisa dibeli. Kedutaan Indonesia secara terpisah juga menghubungi Direktur Institut Indonesia di Perth Ross Taylor untuk maksud yang sama. Tindakan terkoordinasi ini dimaksudkan agar peluang penghentian larangan ekspor di masa depan akan berkurang.
Bulan lalu, empat pengusaha Indonesia dan dua pejabat pemerintah melakukan kunjungan ke beberapa peternakan di kawasan Broome. Dengan jumlah penduduk 250 juta, kebutuhan sapi di Indonesia sekitar 1 juta ekor setiap tahunnya. "Indonesia berusaha memproduksi sapi sendiri di dalam negeri, tetapi itu akan susah dicapai," kata Gunawan.
"Jadi, kalangan bisnis dari Indonesia berencana melakukan investasi di WA dan Northern Territory guna menjamin pasokan ternak." Menteri Pertanian Australia Joe Ludwig menghentikan pengiriman sapi ke Indonesia bulan Juni 2011 setelah laporan ABC mengenai perlakuan buruk terhadap ternak di rumah pemotongan hewan.
Menurut laporan koresponden Kompas di Australia, L Sastra Wijaya, larangan itu dicabut sebulan kemudian, tetapi Indonesia kemudian membalas dengan menurunkan kuota impor ternak dari Australia menjadi separuh dari sebelumya. Penurunan impor ini menyebabkan beberapa peternakan sapi di Australia mengalami kesulitan keuangan. Di Northern Territory, sekitar 20 peternakan terancam dijual. Menurut Iwan Gunawan, tindakan yang dilakukan Joe Ludwig menyebabkan Indonesia sekarang berusaha melakukan investasi sendiri di Australia.
"Jika sebuah negara sudah setuju untuk memasok makanan, tidak bisa dengan tiba-tiba menghentikannya. Ini harus didiskusikan dengan semua pihak. Sekarang apabila Indonesia melakukan investasi sendiri di Australia, bisa memperkecil masalah di masa depan." kata Iwan Gunawan. Indonesia akan menaikkan kuota ekspor sapi dari Australia, setelah kunjungan yang dilakukan oleh Menteri Industri Utama dari Northern Territory Willem Westa Van Holthe dan Menteri Pertanian Queensland John McVeigh yang masih berada di Indonesia.
Menurut laporan ABC pada Selasa (14/5/2013) mengutip John McVeigh, kenaikan kuota itu akan mulai berlaku pada bulan Juni, sebulan lebih cepat dari kuota kuartal ketiga tahun 2013. Dengan kenaikan itu, Australia akan bisa memasok tambahan 20.000-25.000 sapi dari Australia bagian utara.
"Kami semua sedang membangun kembali hubungan di sini, mencoba memahami kebutuhan jangka pendek dan visi jangka panjang kedua belah pihak," kata McVeigh sebagaimana dilaporkan koresponden Kompas di Australia, L Sastra Wijaya. Menurut Westra Van Holthe, perundingan dengan Pemerintah Indonesia berjalan baik, dan Asosiasi Peternak Northen Territory menyambut baik adanya kenaikan kuota tersebut.
Direktur Eksekutif Asosiasi Peternak Northen Territory Luke Bown mengatakan, keputusan ini muncul di saat yang tepat. "Di bagian utara, kami baru saja memulai musim mengumpulkan ternak," kata Bowen. "Ini saatnya hampir semua ternak harus dialihkan. Sekarang ini pasar di Australia sepi sekali. Peluang apa pun untuk bisa memindahkan ternak ini ke pasar ekspor tentu harus disambut dengan gembira," lanjut Bowen.
Menurut Bowen, Indonesia tahun ini hanya mengeluarkan izin 267.000 ternak impor, turun 50 persen dari tahun sebelumnya. Menteri Pertanian Suswono mengaku tak tahu soal pengusaha asal Indonesia Nisin Sunito yang memiliki peternakan sapi sangat luas bahkan dikabarkan dua kali Pulau Bali di Australia.
Suswono bukan satu-satunya menteri yang tak soal Nisin, sebelumnya Menko Perekonomian Hatta Rajasa juga tak tahu soal sosok pengusaha peternakan tersebut. "Saya tidak kenal, kalau nggak kenal masa dipaksa kenal," ucap Suswono di Kantornya, Kamis (4/7/2013). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Direktur Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro ketika ditanyakan hal yang sama. "Tidak kenal, tidak kenal sama sekali, tidak tahu," ucap Syukur.
Seperti diketahui pengusaha Nisin Sunito berasal dari Pangkalan Bun Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Nisin mulai merintis bisnisnya di Australia dengan mendirikan Oceanic Multitrading Pty Limited pada tahun 1992.
Ia terjun ke bisnis peternakan setelah mengakuisisi peternakan Kiana pada Juli 2005. Lokasi peternakannya berada 1.132 Km tenggara Kota Darwin Australia. Total luas peternakan Kiana mencapai 331.800 hektar. Luas peternakan ini setara dengan 4,8 kali luas Negara Singapura. Peternakan Kiana memiliki kapasitas 15.800 sapi, yang mayoritasnya sapi Brahman dan Droughmaster.
Sampai saat ini banyak orang Indonesia lulusan universitas ternama dan ahli di bidang perminyakan memilih bekerja di perusahaan minyak Malaysia yaitu Petronas. Gaji besar menjadi alasan utama.
Seorang alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) bernama Ilen Kardania mengatakan, gaji perusahaan migas di Indonesia, seperti Pertamina lebih rendah dibandingkan perusahaan migas asing.
"Kalau Petronas mau menggaji sampai Rp 500 juta per bulan, di sini kita tidak mau. Nah Pertamina kan lebih besar dari Petronas. Iya dong," ungkap Ilen di kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (6/7/2013).
Untuk yang bekerja di Petronas, orang-orang asal Indonesia menurut Ilen, menjadi penggerak inti dari kemajuan Petronas selama ini. "Saya tahu mereka adalah penggerak-penggerak inti sebetulnya. Bagian teknisi, konstruksi IT. Kawan kawan saya itu sebenarnya pekerja inti," sebutnya.
Ilen yang saat ini bekerja di Hallibuton Malaysia mengatakan, perusahaan seperti Petronas sudah mempersiapkan secara matang perekrutan orang terbaik Indonesia. Salah satunya adalah dengan menawarkan gaji yang tinggi.
"Sekarang Petronas di sana sudah maju mereka ambil, orang yang ranking di sini diambil sama mereka, dan disuruh menggarap proyek dan berhasil berkembang," ujarnya. Kebanyakan pengusaha Indonesia takut mengaji karyawannya tinggi karena khawatir bila karyawannya banyak uang akan malas bekerja
Analis dari PT Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe mengatakan bahwa potensi ke depan setelah mergernya PT XL Axiata Tbk (EXCL) dengan PT. AXIS TELEKOM INDONESIA akan bagus karena lebih efisien. "Karena bisa menghemat jaringan," kata Kiswoyo, Kamis 27 Juni 2013.
Kiswoyo mengatakan setelah kedua perseroan tersebut merger, mereka bisa menyaingi PT Indosat Tbk (ISAT). Jumlah pelanggan kedua perseroan apabila digabungkan akan lebih banyak dari Indosat. "Bisa langsung tersaingi setelah merger," kata Kiswoyo.
Kiswoyo mengatakan nantinya urutan pemain di telekomunikasi yaitu pertama adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), kedua adalah perusahaan merger XL-Axis dan yang ketiga adalah Indosat. Kiswoyo mengatakan kalau Telkomsel memang tdak bisa disaingi.
Kiswoyo mengatakan bahwa nantinya pelanggan kedua perseroan tersebut akan bisa mengakses frekuensi yang lebih luas. Karena menurut Kiswoyo, frekuensi kedua perseroan tersebut sama dan slot 3G keduanya berdampingan.
Produsen makanan dan minuman Indofood telah mengakuisisi perusahaan produsen minuman PT. Pepsi -Cola Indobeverages (PCIB). Akusisi itu dilakukan oleh anak usaha Indofood yakni PT. Indofood Asahi Sukses Beverage (IASB) dan PT. Asahi Indofood Beverage Makmur (AIBM).
"Kami telah menandatangani perjanjian jual beli akuisisi seluruh saham PCIB dengan harga US$ 30 juta," ujar Direktur Utama Indofood CBP Sukses Makmur, Antoni Salim dalam siaran pers, Kamis 27 Juni 2013.
Antoni mengatakan, Indofood dan Asahi telah lama menjalin kerjasama dengan Pepsi-Cola. Kerjasama baru ini nantinya diharapkan dapat turut mendongkrak kinerja perusahaan."Kami akan berada dalam posisi yang lebih baik untuk menjadi salah satu pemain utama di industri minuman non-alkohol di Indonesia,"katanya.
Direktur Operasional Asahi Group Holdings Ltd., Naoki Izumiya menambahkan, akuisisi ini sejalan dengan upaya perusahaan guna membangun portofolio yang luas dan lengkap di produk minuman non-alkohol. "Kami berharap dapat menghadirkan produk berkualitas sesuai dengan selera konsumen Indonesia,"katanya.
Adapun untuk porsi sahamnya, AIBM akan mengakuisisi sebanyak 264,11 juta lembar saham PCIB. Sementara IASB kedapatan saham sebanyak 15.000 lembar.
PCIB merupakan perusahaan afiliasi PepsiCo Inc. Di Indonesia, PCIB dijalankan sebagai perusahaan patungan antara PT. Gapura Usahatama dan Seven-Up Nederland B.V. Beberapa produknya antara lain Pepsi, Sevenup, Tropicana Twister, Fruitamin dan Tekita.
Di tahun 2012, PCIB memperoleh penjualan neto sebesar Rp 714 ,4 miliar, atau turun tipis dari Rp 714,8 miliar di tahun 2011.