Pages - Menu

Tuesday, August 20, 2013

CEO BlackBerry Dihadiahi Setengah Triliun Karena Menjual Perusahaannya

Minggu lalu beredar kabar bahwa BlackBerry sedang mempertimbangkan opsi untuk menjual perusahaan. Apabila hal itu benar-benar terjadi, satu orang bakal memperoleh guyuran dana jutaan dollar AS. Siapa dia? Tak lain dan tak bukan adalah CEO BlackBerry Thorsten Heins.

Seperti dikutip dari Bloomberg, orang nomor satu di BlackBerry ini akan memperoleh serangkaian "insentif" apabila perusahaan itu dibeli oleh pihak lain dan Heins dilengserkan dari pucuk kepemimpinan.  Insentif ini termasuk gaji dan bonus ekuitas sesuai harga saham BlackBerry per akhir kuartal fiskal keempat.

Jumlahnya? Mencapai 55 juta dollar AS atau sekitar Rp 572 miliar, lebih dari setengah triliun rupiah. "Bonus" finansial untuk Heins ini disetujui oleh para pemegang saham saat rapat tahunan tanggal 9 juli lalu. Apabila Heins diberhentikan tanpa adanya pergantian pemilik perusahaan, jumlah insentif yang akan diperoleh terpotong setengahnya, yaitu sekitar 22 juta dollar AS, termasuk gaji dan bonus ekuitas sesuai dengan harga saham per 28 Maret.

Jumlah tersebut termasuk besar untuk Heins yang pertama kali bekerja di BlackBerry pada Januari 2012, menggantikan duet pendiri sekaligus CEO BlackBerry sebelumnya, Mike Lazaridis dan Jim Balsillie. Apabila Heins diberhentikan dari jabatannya ketika itu, jumlah bonus finansial yang akan diraupnya sebesar 21 juta dollar AS.

BlackBerry mempertimbangkan beberapa langkah untuk meningkatkan nilai perusahaan, termasuk membentuk perusahaan patungan, kembali menjadi perusahaan privat, sampai menjual perusahaan. Apa pun keputusannya nanti, ada tokoh sentral bernama Prem Watsa yang punya pengaruh besar dalam menentukan nasib BlackBerry.

Watsa lahir pada 1950 di Hyderabad, India. Ia pendiri sekaligus CEO perusahaan Fairfax Financial Holdings yang berbasis di Toronto, Kanada, yang kini jadi pemegang saham terbesar di BlackBerry. Watsa sering disebut sebagai Warren Buffet versi Kanada karena kesuksesannya dalam berinvestasi.

Ketika dewan direksi BlackBerry membentuk komite khusus untuk menentukan nasib BlackBerry, Watsa undur diri dari dewan direksi, Senin (12/8/2013). Namun, ia masih memiliki saham terbesar dan tak mau melepas sahamnya di BlackBerry.

Watsa menghindari konflik kepentingan dalam diskusi komite khusus yang diketuai Timothy Dattels, dan di dalamnya terdapat beberapa orang penting seperti Barbara Stymiest, Richard Lynch, Bert Nordberg, serta CEO BlackBerry Thorsten Heins.

Fairfax menjadi pemegang saham terbesar di BlackBerry pada tahun 2012 setelah membeli 5,7 persen saham yang dimiliki pendiri dan mantan co-CEO BlackBerry, Mike Lazaridis. Reutersmencatat, Fairfax adalah pemegang saham terbesar BlackBerry, pemilik dua pertiga suara untuk menentukan keputusan apa pun.

"Saya membayangkan jika Fairfax menentang kesepakatan tertentu, mereka akan membawa banyak pengaruh," kata Richard Steinberg, yang mengepalai sekuritas, merger, dan akuisisi di Toronto Fasken Martineau. Mengutip dari Reuters, beberapa perusahaan ekuitas swasta besar di dunia diprediksi tertarik membeli saham BlackBerry.

Perusahaan teknologi besar juga berniat meminang BlackBerry, seperti Lenovo, Cisco, Microsoft, Hewlett-Packard, sampai IBM, karena mungkin tertarik dengan aset perusahaan BlackBerry termasuk hak paten dan pesan instan BlackBerry Messenger (BBM).

"Saya tidak berpikir Watsa akan melihat berbagai penawaran dan mengambil keputusan kualitatif. Dia akan membuat keputusan kuantitatif (berdasarkan siapa yang membayar paling tinggi)," kata Ross Healy, seorang manajer portofolio di MacNicol Associates, yang kliennya memiliki saham BlackBerry.

Perusahaan apa pun nanti yang ingin meminang atau bermitra dengan BlackBerry harus meminta persetujuan dari pihak berwenang Kanada, dan tentu saja mendapat restu dari Watsa.

Paket "bonus pensiun" Heins tersebut menuai kritik dari analis Jacob Securities Sameet Kanade. "Itu jumlah yang besar. Direksi perusahaan harus hati-hati menyikapi para pemegang saham," ujar Kanade. BlackBerry sedang berjuang meningkatkan nilai perusahaan setelah debut ponsel dan sistem operasi BlackBerry 10 kurang mendapat respon positif dari pasar. Ada beberapa opsi yang sedang dipertimbangkan oleh perusahaan asal Kanada itu.

Dewan direksi BlackBerry membentuk komite khusus yang akan membahas pilihan terbaik untuk meningkatkan nilai dan skala perusahaan, termasuk menjalin kemitraan, membentuk perusahaan patungan, sampai menjual perusahaan. Ini diharap bisa jadi solusi untuk mencegah kinerja perusahaan yang terus turun.

CEO BlackBerry Thorsten Heins bergabung dengan komite khusus ini bersama dewan direksi lain, seperti Timothy Dattels, Barbara Stymiest, Richard Lynch dan Bert Nordberg. Lembaga finansial JPMorgan Chase & Co akan bertindak sebagai penasehat keuangan BlackBerry.

Namun, CEO Fairfax Financial Holdings, Prem Wasta asal Kanada, selaku pemegang saham terbesar di BlackBerry, memutuskan undur diri dari dewan direksi untuk menghindari konflik kepentingan yang timbul dalam diskusi komite khusus.

"Apa yang BlackBerry lakukan adalah tindakan yang tepat," kata Charlie Wolf, analis dari Needham & Co di New York, AS, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (13/8/2013).

Kabar ini sontak meningkatkan harga saham BlackBerry menjadi 10,78 dollar AS pada penutupan di bursa New York, sekaligus menandai kenaikan harga saham BlackBerry yang terbesar sejak Maret 2013.

Ada beberapa perusahaan teknologi multi-nasional yang mungkin tertarik untuk bermitra atau membeli BlackBerry. Nama-nama yang muncul adalah Lenovo dari China, Samsung asal Korea Selatan, serta Microsoft dan Dell dari AS.

Samsung mengatakan dalam sebuah pernyataan lewat e-mail kepada Bloomberg, bahwa perusahaan "tidak mempertimbangkan untuk mengakuisisi BlackBerry." Dell menolak berkomentar, begitu juga perwakilan Microsoft.

Sementara Lenovo, sejak September 2012 telah menyatakan sedang berburu dan siap mengakuisisi perusahaan pembuat ponsel pintar karena Lenovo ingin serius di bisnis perangkat mobile. CEO Lenovo Yang Yuanqing sempat berkata, pihaknya tertarik meminang BlackBerry.

Opsi jadi perusahaan privat

Pekan ini beredar kabar pula, bahwa BlackBerry mempertimbangkan untuk menjadi perusahaan privat dan angkat kaki dari bursa saham (go private). Seorang sumber anonim mengatakan kepadaReuters, go private akan memberi ruang bagi BlackBerry untuk kembali menyusun strategi dan keluar dari sorotan publik.

BlackBerry dilaporkan telah melakukan diskusi dengan perusahaan ekuitas Silver Lake Partners, yang juga menjadi mitra perusahaan teknologi Dell untuk kembali go private.

Untuk langkah go private ini, BlackBerry diprediksi akan kesulitan mencari pembeli dan mendapatkan dana lantaran perusahaan terus mencatat kerugian yang cukup besar.

Nilai pasar BlackBerry tahun ini merosot menjadi hanya 4,8 miliar dollar AS dari 84 miliar dollar AS pada puncak kejayaan mereka di tahun 2008. Harga saham perusahaan juga terus turun lebih dari 19% sepanjang 2013.

Monday, August 19, 2013

Kenaikan UMR Sebabkan 65.000 Buruh di PHK dan 90% UKM Gulung Tikar

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) di DKI Jakarta sebesar Rp2,2 Juta membuat pelaku usaha di sektor industri padat karya beralih menjadi pelaku industri padat modal.

“Besarnya UMP membuat pelaku usaha beralih menggunakan mesin dan tidak menggunakan tenaga kerja outsourcing. Pengalihan tenaga manusia ke tenaga mesin, membuat perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga 65.000 orang berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),” kata Ketua Umum Apindo, Sofjan Wanandi, di Jakarta, Senin (19/8).

Kenaikan UMP yang cukup besar, menurut Sofjan, sangat memberatkan pelaku usaha terutama pengusaha kecil dan menengah.

“Banyak pengusaha yang mengambil langkah melakukan PHK karyawannya. Apabila masalah kenaikan UMP tidak bisa diatasi pemerintah, dikhawatirkan banyak perusahaan akan bangkrut,” paparnya.

Sofyan menegaskan banyak perusahaan skala usaha kecil dan menengah (UKM) sangat terpukul dengan kenaikan UMP.

“Untuk perusahaan besar mungkin bisa bayar sementara perusahaan kecil mungkin akan bangkrut. Ada 10.000 UKM yang kami bina dan 90% akan gulung tikar apabila hal ini terus terjadi,” tandasnya.

Martina Berto Tbk Alami Pertumbuhan Pasar Meski Laba Bersih Turun

Memadukan kearifan budaya, pengetahuan leluhur serta sumber keanekaragaman hayati Indonesia dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menciptakan produk inovatif, memberikan ruang bagi PT Martina Berto Tbk untuk terus mengembangkan bisnis.

Perseroan yang beroperasi selama lebih dari 30 tahun ini telah menjadi salah satu perusahaan manufaktur kosmetik nasional terkemuka dengan produksi dan pemasaran merek Martha Tilaar. Produk kosmetik untuk pasar Indonesia dan internasional di antaranya merek Sariayu, Caring Colour, Biokos, Professional Artist Cosmetic (PAC), Rudy Hadisuwarno Cosmetics, Dewi Sri Spa, Belia, Cempaka, dan Mirabella.

Pasar ekspor untuk beberapa produk sudah mencapai pasar Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Jepang, Hong Kong, Taiwan, Yunani hingga Timur Tengah.

Pengakuan internasional juga diperoleh dengan telah ditetapkannya sang pendiri, Dr Martha Tilaar, sebagai salah satu pencetus inisiatif Global Compact oleh PBB pada 2000.

Selain itu, ia juga telah masuk sebagai anggota Global Compact LEAD di antara 55 perusahaan besar dunia sebagai pelopor perusahaan yang telah menerapkan 10 prinsip UNGC (United Nation Global Compact), yaitu perusahaan yang telah menjunjung hak asasi manusia, memperhatikan hak-hak buruh sebagai pekerja, dan juga perusahaan yang memperhatikan lingkungan serta penerapan anti korupsi dalam segala bentuknya.

Pada 2010, Dr Martha Tilaar bahkan diangkat langsung menjadi Board-GC oleh Sekjen PBB Ban Ki Moon di antara 20 anggota board yang berasal dari perusahaan-perusahaan raksasa terkemuka dunia.

Terkait kinerja, hingga enam bulan pertama 2013, penjualan perseroan mengalami peningkatan 2,5% menjadi Rp337,41 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp329,2 miliar.

Kontribusi penjualan ini terbesar diperoleh dari segmen kosmetik senilai Rp313,64 miliar, jamu senilai Rp6,74 miliar dan lain sebagainya sebesar Rp17,02 miliar.

Meski mengalami peningkatan penjualan, namun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tergerus sebesar 26% menjadi Rp18,11 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp24,48 miliar.

Kinerja yang buruk dari profitabilitas perusahaan itu dipicu meningkatnya upah buruh dan biaya produksi, seperti bahan baku serta kemasan karena penyesuaian pemerintah untuk harga bahan bakar dan upah buruh standar.

Terlepas dari buruknya raihan laba, perseroan berhasil menekan beban penjualan dan pemasaran menjadi Rp116,16 miliar dari Rp119,94 miliar.

Sementara total aset tumbuh menjadi Rp616,1 miliar, dibandingkan akhir tahun lalu senilai Rp609,5 miliar, dengan total utang turun menjadi Rp163,38 miliar, dibandingkan Desember 2013 senilai Rp174,93 miliar.

Analis AMCapital Securities, Viviet S. Putri, mengungkapkan industri kosmetik ini secara sektor riil telah berkembang, meski saat ini untuk saham-saham industri tersebut belum merupakan incaran utama investor.

“Industri kosmetik itu ada segmennya, jika pendapatan meningkat dan masyarakat kelas menengah bertambah, maka mereka (masyarakat) tidak hanya memikirkan kebutuhan primer saja, namun juga hal–hal yang menyangkut perawatan tubuh, produk kosmetik dan kecantikan,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa di tengah ketatnya persaingan, pertumbuhan bisnis ini akan terus berkembang dengan pesat.

Gerai Ace Hardware Untung Besar Dengan Toys Kingdom

Apa yang ada dipikiran Anda ketika mendengar nama Ace Hardware? Ya, perlengkapan. Di Indonesia, Ace Hardware satu satu toko yang menyediakan produk-produk, sehingga perusahaannya bisa dibilang memonopoli bisnis ini.

Dalam perkembangannya sejak membuka gerai pertama di Karawaci, Tangerang, 1996 silam, ACES terus berkembang pesat dan menjadi salah satu anak usaha Grup Kawan Lama yang paling sukses sejauh ini.

Hingga hari ini, atau 18 tahun sejak didirikan, ACES sudah memiliki total 85 toko/gerai di seluruh Indonesia, dan masih akan terus bertambah.

Pihak manajemen sendiri, terutama sejak perusahaan go public pada 2007, mentargetkan akan membuka setidaknya 15 gerai anyar setiap tahunnya, menyusul meningkatnya jumlah penduduk kalangan menengah di Indonesia dalam lima tahun terakhir ini.

Dan sejak 2010 lalu, ACES membuka unit usaha baru, yaitu Toys Kingdom, yaitu toko yang secara khusus menjual mainan, tidak hanya mainan anak-anak tapi juga orang dewasa, hingga perlengkapan bayi. Seperti juga toko Ace Hardware, di Toys Kingdom ini dapat ditemukan mainan-mainan berkualitas.

Sejauh ini, ACES sudah memiliki 16 gerai Toys Kingdom dengan lokasi yang masih terkonsentrasi di Jakarta, yang ditargetkan akan tumbuh menjadi 21 gerai pada akhir tahun 2013. Sehingga secara keseluruhan, ACES menawarkan prospek pertumbuhan yang menarik.

Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menuturkan, harga saham ACES pertama kali diamati ketika berapa pada harga Rp4.000-an. Kesimpulannya, meski kinerja perusahaannya bagus, namun harga sahamnya mahal dengan PER lebih dari 25 kali.

Selain itu, ACES akan mengalami kesulitan jika Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Karena produk yang dijual mahal.

Hingga kuartal II 2013, kinerja ACES sejauh ini malah merupakan salah satu yang terbaik di sektor ritel, dengan ROE yang mencapai 22,3%. Sementara catatan pertumbuhannya dalam tiga tahun terakhir (sejak 2010) turut gemilang, dengan laba bersih yang hampir berlipat dua setiap tahunnya.

"Kalau diperhatikan pertumbuhan ACES yang cepat tersebut turut terdorong oleh booming properti di Indonesia dalam 3 tahun terakhir ini, di mana banyak mal-mal baru yang didirikan di Jakarta dan sekitarnya, belum termasuk mall-mall yang didirikan di daerah lainnya di Pulau Jawa," papar Teguh dalam risetnya Edisi Agustus 2013.

Intinya, jika sektor properti masih seperti sekarang ini hingga dua tiga tahun kedepan, maka ACES juga masih berpeluang untuk mencatat pertumbuhan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Terakhir, ACES membuka gerai ke-85-nya di Kota Solo, Jawa Tengah, sekaligus merupakan gerai keduanya di kotanya Jokowi tersebut. Gerai anyar tersebut bisa berdiri karena adanya mall baru di Solo, yakni Hartono Mall, yang baru beroperasi pada tahun ini.

"Tapi jika nanti pembangunan mall-mall anyar berhenti, maka bagaimana pertumbuhan ACES kedepannya? Ya tentunya masih akan tumbuh, hanya saja tidak akan sekencang sebelumnya," ujar dia.

Namun, mengingat ACES juga punya Toys Kingdom, yang sejauh ini jumlah gerainya masih sedikit, maka angka pertumbuhan yang tercatat dalam tiga tahun terakhir kemarin berpeluang untuk dipertahankan, atau bahkan tumbuh lebih tinggi lagi, jika Toys Kingdom tersebut sukses.

Dari pendapatan ACES sebesar Rp1,8 triliun di semester I 2013, Toys Kingdom baru berkontribusi sebesar Rp73 miliar, namun angka tersebut tumbuh signifikan (55,7%) dibanding periode yang sama tahun 2012, yang hanya Rp47 miliar.

Sunday, August 18, 2013

Pasar Kosmetik Indonesia Sangat Potensial



Kosmetik sangat identik dengan keindahan dan kesehatan tubuh dari ujung rambut sampai kaki. Bagi wanita, produk kosmetik selalu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, demi mendapatkan dan mempertahankan kecantikan dari waktu ke waktu. Inilah yang menjadi alasan mengapa wanita lebih banyak mengenal berbagai macam kosmetik untuk mereka gunakan setiap hari.





Kondisi ini dimanfaatkan menjadi peluang besar bagi produsen kosmetik. Jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, menjadikan Indonesia pasar yang menjanjikan bagi perusahaan kosmetik. Kendati mayoritas industri kosmetik membidik target konsumen utama kaum wanita, belakangan mulai berinovasi dengan produk-produk untuk pria.


Saat ini perkembangan industri kosmetik Indonesia tergolong solid. Hal ini terlihat dari peningkatan penjualan kosmetik pada 2012 sebesar 14% menjadi Rp 9,76 triliun dari sebelumnya Rp 8,5 triliun, berdasarkan data Kementerian Perindustrian.


Produk kecantikan dan perawatan tubuh global pada 2012 mencapai US$ 348 miliar, tumbuh tipis US$ 12 miliar dibanding tahun sebelumnya berdasarkan data Euro Monitor. Meskipun 2012 perekonomian dunia masih diwarnai krisis keuangan seperti yang terjadi di kawasan Euro, maupun perlambatan ekonomi China, produk-produk kecantikan bermerek terbukti masih dapat bertumbuh dengan solid. Produk kecantikan bermerek diprediksi tumbuh 6% tahun ini, lebih tinggi dari pertumbuhan produk kosmetik umum sebesar 4%.


Pertumbuhan volume penjualan kosmetik ditopang oleh peningkatan permintaan, khususnya dari konsumen kelas menengah.






Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) memperkirakan tahun ini penjualan kosmetik dapat tumbuh hingga Rp 11,22 triliun, naik 15% dibanding proyeksi 2012 sebesar Rp 9,76 triliun. Dari sisi ekspor, industri kosmetik ditaksir tumbuh 20% menjadi US$ 406 juta.




Ketua Umum Perkosmi Nuning S Barwa, mengatakan pertumbuhan volume penjualan kosmetik ditopang oleh peningkatan permintaan, khususnya dari konsumen kelas menangah. Pertumbuhan penjualan kosmetik juga didorong oleh tren kenaikan penggunaan kosmetik oleh kaum pria. “Dulu pria tidak tertarik membeli produk perawatan kulit yang maskulin, tapi sekarang ketertarikan mereka tinggi,” katanya.







Peluang pasar kosmetik di Indonesia masih sangat besar. Karena itu, produsen kosmetik nasional perlu memenuhi kebutuhan konsumen yang terus meningkat. Apalagi, Kementerian Perindustrian juga memberikan insentif untuk mendorong pengembangan industri komsetik di Tanah Air.



Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengatakan pemberian insentif tersebut dilakukan untuk meningkatkan daya saing, khususnya dalam menghadapi persaingan dengan produk impor. Insentif diberikan kepada industri kosmetik antara lain dalam bentuk tax allowance dan pembebasan bea masuk atas impor mesin.



Dengan adanya insentif itu, pemerintah berharap industri kosmetik mampu berekspansi secara rutin untuk meningkatkan kapasias produksi. Menurut Hidayat, industri kosmetik juga perlu didorong dalam kemandirian bahan baku, khususunya bahan baku herbal. “Indonesia memiliki keanekaragaman hayati dengan 30 ribu spesies tanaman obat, kosmetik, dan aromatik, terbanyak kedua setelah Brazil,” katanya.



Saat ini, industri kosmetik dalam negeri mendapat tantangan dengan peredaran produk kosmetik impor di pasar domestik. Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan pasar domestik premium (high branded). Menurut data Perkosmi, tahun lalu penjualan kosmetik impor mencapai Rp 2,44 triliun, naik 30% dibanding 2011 sebesar Rp 1,87 triliun. Tahun ini, penjualan produk kosmetik impor diproyeksikan naik lagi 30% menjadi Rp 3,17 triliun. Peningkatan tersebut ditopang oleh kenaikan volume penjualan serta penurunan tarif bea masuk seiring perjanjian perdagangan bebas.



Wiyantono, Ketua Bidang Perdagangan Perkosmi, memperkirakan pertumbuhan pasar kosmetik impor tahun ini akan melewati pertumbuhan penjualan kosmetik lokal. Menurut dia, produk kosmetik impor masuk ke Indonesia umumnya melalui perusahaan skala kecil serta sistem pemasaran berjenjang (multilevel marketing). “Perusahaan besar seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) sudah memiliki unit produksi di sini,” katanya.


Peluang Besar
Industri kecantikan nasional memiliki peluang yang besar di lingkup ASEAN. Hal ini ditunjukkan oleh masih rendahnya kontribusi penjualan ekspor dari perusahaan kosmetik yang hanya sebesar 18% terhadap penjualan total. Rendahnya kontribusi penjualan ekspor menunjukkan perusahaan kosmetik belum secara penuh berusaha mengupayakan penjualannya ke luar negeri.


Selain itu, faktor kesamaan iklim, sosial budaya, daya beli, berpotensi membuat konsumen ASEAN memiliki preferensi yang sama dengan konsumen Indonesia. Hal ini dapat menjadi pendorong produk kosmetik Indonesia dapat diterima dengan baik di pasar ASEAN.


Adanya pasar bebas ASEAN dan China (AC-FTA) yang akan berlaku pada 2015 selain dapat menjadi peluang pasar bagi industri kosmetik Indonesia, juga dapat menjadi tantangan karena adanya perjanjian ini membuat produk China lebih leluasa masuk ke pasar ASEAN. Hal ini berpotensi meningkatkan persaingan yang harus dihadapi pemain Indonesia

Monday, August 12, 2013

Pemerintah Belum Keluar Izin ... Semua BlackBerry Q10 dan Z10 Yang Beredar Adalah Hasil Selundupan

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengaku belum mengeluarkan izin edar untuk BlackBerry Z10 dan Q10, sehingga dua model ini terancam dilarang beredar di Indonesia. Berbeda dengan pemerintah, distributor menyatakan izin untuk Z10 sudah lengkap.

Direktur Marketing & Communication Erajaya Djatmiko Wardoyo mengatakan, pihaknya melalui Erafone dan TAM merupakan salah satu distributor resmi BlackBerry di Indonesia.

“Saya malah baru dengar. Kalau Q10 memang belum ada izinnya, sedangkan Z10 kan sudah di-launching Maret kemarin. Jadi mana mungkin kita belum mendapatkan izin edar," kata Koko, sapaan akrabnya, saat berbincang pada hari Selasa (21/5/2013).

Koko mengatakan, Z10 sudah memiliki izin dari Postel Kemenkominfo, sehingga agak janggal bila izin dari Kemendag belum keluar. "Soal handset itu memang urusannya dari principal (BlackBerry), tapi setahu saya kalau sudah ada izin ke Postel kan link-nya ke Kemendag. Ini peristiwa baru pertama kali terjadi," kata Koko keheranan.

Salah satu indikasi bahwa BlackBerry Z10 itu sudah memiliki izin baik dari Kemendag dan Postel adalah sudah dikeluarkannya kartu garansi resmi dari distributor ke konsumen. Koko pun merasa aneh, karena bagaimana mungkin izin Postel bisa keluar namun izin Kemendag belum ada, namun pihak principal sudah berani melepas Z10 ke pasaran.

Walaupun dia tidak menampik, handset yang sudah mengantongi izin Postel dan belum mengantongi izin Kemendag boleh juga disebut barang Black Market juga. "Tapi tidak mungkin ya, kalau sudah mendapatkan take and approval izin tersebut baru kita bisa mengimpornya lalu kita bayar pajak 10%,” tandasnya.

Sebelumnya, Dirjen Standarisasi dan Perlindungan Konsumen Kemendag Nuz Nuzilia Ishak mengatakan dua jenis BlackBerry tersebut hanya mengantongi izin edar di Malaysia. "BlackBerry Q10 dan Z10 seharusnya tidak boleh dulu beredar. Hanya baru beredar di Malaysia jadi itu merembes (penyelundupan). Dugaan kami adalah dari Batam," katanya.

Hal senada juga dikatakan Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan mengakui produk BlackBerry Z10 dan Q10 tak boleh beredar di pasar Indonesia karena belum mengantongi izin edar. Kenyataanya saat ini produk tersebut telah bebas di pasarkan di Indonesia. "Benar melanggar peraturan beredar barang tersebut," kata Gita.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) belum mengeluarkan izin edar produk Handphone (HP) BlackBerry jenis Q10 dan Z10. Sehingga dua model produk BlackBerry tersebut dilarang beredar di Indonesia. 

Dirjen Standarisasi dan Perlindungan Konsumen Kemendag Nuz Nuzilia Ishak mengatakan dua jenis BlackBerry tersebut hanya mengantongi izin edar di Malaysia. "BlackBerry Q10 dan Z10 seharusnya tidak boleh dulu beredar. Hanya baru beredar di Malaysia jadi itu merembes (Penyelundupan). Dugaan kami adalah dari Batam," katanya saat ditemui di Hotel Aryaduta Jakarta, Selasa (21/05/2013).

Pihak Kemendag sudah melaporkan hal ini kepada pengadilan tinggi Jakarta Pusat. Cara ini dilakukan agar penindakan yang dilakukan Kementerian Perdagangan sesuai prosedur. "Kita sudah ada ketetapan dari pengadilan untuk lakukan penggeledahan dan penyitaan untuk wilayah Jakarta. Ketetapannya baru kemarin terutama untuk barang di Roxy dulu. Namun jangan sampai juga kita disalahkan dalam melakukan penyitaan," katanya.

Pihaknya juga akan terus melakukan sidak terkait handphone bahkan VCD bajakan. Namun khusus untuk penindakan VCD bajakan, upaya yang dilakukan Kementerian mengalami kendala karena informasi telah bocor.

"Iya pasti dan kita proses. Itu kan sebetulnya sudah tertangkap tangan. Ada 6 jenis HP yang di situ juga (Roxy). Untuk VCD bajakan kita akan laksanakan tapi Anda tahu bahwa kita bocor hari Jumat kemarin. Datang ke 7 titik tetapi sudah tidak ada. Tenang aja. Kita pantau terus," cetusnya.

Beberapa pekan lalu Gita Wirjawan telah melakukan sidak ke ITC Roxy Mas, di Jakarta. Pada kesempatan tersebut, Gita menemukan produk BlackBerry Z10 sudah dipasarkan di Roxy. Saat itu Gita Wirjawan belum melakukan penyitaan. 

Kini sudah ada ketetapan dari pengadilan untuk lakukan penggeledahan dan penyitaan untuk wilayah Jakarta. Sehingga segala tindakan oleh Kementerian Perdagangan sesuai prosedur.

"Q10 dan Z10 seharusnya tidak boleh dulu beredar. Hanya baru beredar di Malaysia jadi itu merembes (penyelundupan). Dugaan kami adalah dari Batam," kata Dirjen Standarisasi dan Perlindungan Konsumen Kemendag Nuz Nuzilia. Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat menanggapi maraknya produk Handphone (HP) ilegal di dalam negeri seperti temuan BlackBerry Z10 dan Q10 tanpa izin edar di ITC Roxy Mas oleh pihak Kementerian Perdagangan beberapa waktu lalu. 

Menurut Hidayat permintaan HP di dalam negeri sangat tinggi, tak jarang barang yang sudah beredar di pasar tapi belum mengantongi izin alias ilegal.

"Ya kan Anda tahu kalau masalah ponsel itu hampir nggak bisa dihindari masalah ilegal, jadi banyak sekali barang yang masuk kesini, yang izinya belum masuk tapi barangnya sudah ada," ungkap Hidayat kepada wartawan di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (21/5/2013).

Ia mengatakan, ada permintaan yang tinggi terhadap produk HP di Indonesia. Apalagi, ada penawaran harga yang miring dengan membeli di pasar gelap (Black Market). "Karena ada demand yang tinggi, tapi secara jadwal perusahaan dia belum masuk indonesia, jadi diselundupkan, dan masyarakat membelinya dengan harga lebih miring," ungkapnya.

Menurut Hidayat pintu pengawasan impor harus dijaga. Dalam hal ini merupakan tugas dari Kementerian Perdagangan. "Jadi kalau kita bicara soal industri ini, maka pintu impor kita ini yang mesti dijaga. Itu banyak sekali jenisnya. itu juga bingung, maka saya dengan Kementerian Perdagangan akan berkoordinasi," katanya.

BlackBerry Akan Dijual Setelah Nilai Perusahaan Turun 665 Triliun Rupiah

Produsen ponsel pintar BlackBerry memberi sinyal akan menjual perusahaannya setelah ponsel terbarunya gagal memberikan keuntungan maksimal di pasar. Perusahaan asal Kanada ini sudah membentuk sebuah komite khusus untuk menyehatkan perusahaan.

Komite yang terdiri dari komisaris dan direksi BlackBerry ini akan mencari 'langkah alternatif' dalam meningkatkan nilai perusahaan dan mendorong performa produk terbarunya seri BlackBerry 10.

"Mereka harus bisa melangkah ke arah yang lebih baik bagi perusahaan dan pemegang saham supaya bisa bertahan dalam jangka panjang karena penjualan BlackBerry 10 cukup mengecewakan," kata analis Canaccord Genuity, Mike Walkley, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (13/8/2013).

Strategi khusus yang akan dirancang oleh komite khusus ini adalah joint venture, kerjasama dengan mitra dan langkah lain termasuk menjual perusahaan kepada investor strategis. Saham BlackBerry naik 10,5% ke level US$ 10,78 per lembar di Wall Street pada perdagangan kemarin. 

Pencarian opsi-opsi strategis ini akan dipimpin Timothy Dattels, yang baru saja bergabung jadi direksi BlackBerry tahun lalu dari sebelumnya di TPG Capital, salah satu perusahaan investasi terbesar di dunia.

Ponsel BlackBerry, yang muncul pada 1999, sempat menjadi perangkat ponsel yang dominan di kalangan pebisnis sebelum kemunculan iPhone besutan Apple pada 2007. Saat itu, BlackBerry menjadi ponsel yang paling diandalkan untuk menerima email dan layanan data lainnya.

Sejak kemunculan ponsel buatan Apple dan aneka ponsel lain berbasis Android, ponsel BlackBerry semakin banyak ditinggal pemakainya. 

Januari lalu, perusahaan asal Kanada ini meluncurkan ponsel sekaligus operating system (OS) baru yang bernama BlackBerry 10 demi mengejar kompetisi yang semakin ketat. Tapi sayang, pangsa pasar BlackBerry sudah semakin menciut dan perusahaan memprediksi adanya kerugian di laporan keuangan akhir Juni kemarin.

Ini merupakan kali keduanya bagi BlackBerry menyewa bankir untuk membantu kesulitan keuangannya. Sebelumnya pada awal 2012 BlackBerry sudah menggaet mantan bankir Thorsten Heins untuk menjadi CEO perusahaan.

Gara-gara telat meluncurkan OS baru, BlackBerry terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 5.000 karyawannya. Nilai perusahaan juga sudah anjlok lebih dari US$ 70 miliar (Rp 665 triliun) hingga saat ini.