Produksi sapu ijuk dari Malang diminati warga Jepang degan total transaksi sepanjang 2014 mencapai US$ 8,03 juta. Ekspor sapu ijuk itu menjadi andalan komoditas ekspor dari Malang. Sapu dari bahan ijuk diminati terutama saat musim dingin. Lantaran sapu sintetis berbahan plastik menimbulkan medan magnet saat musim dingin sehingga kotoran justru menempel di sapu.
"Masyarakat Jepang masih menggunakan sapu ijuk untuk menyapu teras. Di dalam rumah, mereka menggunakan mesin penyedot debu," kata pemilik UD Wartono, Judy R Wartono, Kamis 26 Februari 2015.
Menurut Judy, sapu yang diproduksinya berbeda antara pasar lokal dengan ekspor. Untuk produk ekspor disesuaikan dengan standar yang dibutuhkan, seperti ke Jepang, atas permintaan asosiasi pedagang sapu Jepang.
Bahan baku ijuk aren didatangkan dari Jawa Barat. Setiap bulan sejumlah armada angkutan mengangkut bahan baku. Lantas proses produksi dilakukan di Malang. Usaha produksi sapu dimulai sejak belasan tahun silam. Rata-rata sapu produksinya dipasarkan di daerah Jawa Timur.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Malang, Tri Widiani, menjelaskan realisasi ekspor sepanjang 2014 mencapai US$ 20,7 juta. Sapu ijuk menempati urutan kedua. Sedangkan di peringkat pertama adalah kerajinan emas dan perak yang diekspor ke Amerika dan Singapura senilai US$ 8,8 juta. Disusul ekspor bijih plastik ke Belanda dan Amerika sebesar US$ 2,1 juta. Sementara sepatu kulit, serabut kelapa dan kerajinan lain diekspor ke Italia, Cina, Selandia Baru, dan Afrika.
Sedangkan sepanjang 2014, total impor sebesar US$ 2,1 juta. Terbesar impor suku cadang karoseri mobil dari Cina sebesar US$ 906,5 ribu. Disusul impor tembakau dan filter rokok sebesar US$ 874 ribu dari Singapura. Juga impor cerutu dari Rumania dan Filipina senilai US$ 299 ribu.
Untuk meningkatkan nilai ekspor, Pemerintah Kota Malang gencar mengikuti misi dagang dan pameran internasional, sehingga terjadi pertemuan antara produsen dan pembeli. Tahun ini, rencananya misi dagang akan ke Eropa Timur dan Cina. Eropa Timur berminat dengan aneka produk garmen dan makanan olahan. Sedangkan Cina bisa menerima berbagai produk.
Thursday, February 26, 2015
General Motors Tutup Pabrik Di Pondok Ungu Bekasi Pada Juni 2015
Kabar mengejutkan datang dari pabrikan Amerika, General Motors (GM) yang memutuskan akan menghentikan pabriknya yang berada Pondok Ungu, Bekasi pada akhir Juni 2015 mendatang. Hal ini dilakukan GM sebagai bagian dari fokus yang berkelanjutan, dalam rangka memperkokoh kinerja operasi secara global. Sehingga General Motors hari ini mengumumkan transisi korporat untuk menjadi sebuah perusahaan distribusi (National Sales Company) di Indonesia. Dan berencana untuk menghentikan kegiatan produksi kendaraan di pabrik Bekasi pada akhir Juni 2015.
"GM Indonesia sedang mengalami transformasi yang lebih berorientasi pada pasar," kata Wakil Presiden Eksekutif GM dan Presiden GM International, Stefan Jacoby, dalam rilis yang diterima , Kamis. Namun GM Indonesia memastikan akan tetap berada di Indonesia, dengan produk-produk unggulan seperti Chevrolet Orlando, Captiva dan Trailblazer yang dapat diperoleh melalui jaringan dealer resmi Chevrolet.
"Transformasi ini akan semakin memperkuat struktur bisnis dan jaringan pemasaran, dengan fokus pada pengembangan merek Chevrolet, serta menghadirkan produk-produk berkualitas tinggi yang kompetitif untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di Indonesia," tambahnya. Aduh, bagaimana nasib pekerja di Indonesia? Ditutupnya pabrik General Motors (GM) di Pondok Ungu Bekasi, jelas bakal berdampak parah untuk pekerja di dalamnya. Dikatakan 500 karyawan GM di Indonesia bakal dipulangkan.
Dalam rilis yang diterima dikatakan, langkah yang ditempuh perusahaan ini akan berdampak terhadap sekitar 500 karyawan di fasilitas produksi di Bekasi, yang terletak 16 km sebelah timur dari Jakarta. "Kami memiliki karyawan yang sangat handal. Terbukti Chevrolet Spin telah mendapat pengakuan sebagai mobil berkualitas dari para pelanggan, kalangan industri dan General Motors," kata Presiden, GM Southeast Asia Operations, Tim Zimmerman.
"Kami dapat memahami bahwa keputusan ini akan mengecewakan seluruh karyawan yang telah menunjukkan dedikasi yang tinggi selama ini di Indonesia. Kami akan bekerja dengan seluruh pemangku kepentingan setempat yang ada termasuk Pemerintah Indonesia untuk membantu seluruh karyawan kami," tambahnya.
Sebagai informasi tambahan, Pabrik yang seluruh sahamnya dimiliki oleh GM Indonesia, dibuka pada tahun 1995. Kemudian fasilitas ini diaktifkan kembali pada Mei 2013, setelah berhenti produksi pada tahun 2005. Pabrik Bekasi saat ini memproduksi Chevrolet Spin untuk kebutuhan dalam negeri dan pasar ekspor di Asia Tenggara. Dan kini akan kembali berhenti produksi pada Juni 2015 besok.
Akhir Juni 2015 General Motors (GM) memastikan akan menutup pabriknya yang berada di Pondok Ungu, Bekasi. Tapi kira-kira apa penyebabnya ya Otolovers? General Motors mengatakan ada beberapa faktor yang membuat GM nekat menutup pabrik mereka di Indonesia. Padahal pabrik GM yang berada di Pondok Ungu, Bekasi, ini dikhususkan untuk melahirkan Chevrolet Spin yang menjadi andalan mereka di Indonesia.
Beberapa faktor tersebut dikatakan akibat biaya material yang tinggi, dan semakin berkurangnya potensi dalam pemanfaatan keberadaan pemasok dalam negeri dikarenakan skala produksi yang terbatas. Meski demikian GM kembali berjanji masih akan terus memasarkan produk-produk terbaik mereka di Indonesia. "GM dan merek Chevrolet memiliki masa depan yang cerah di Indonesia," kata Presiden GM Southeast Asia Operations, Tim Zimmerman, dalam rilis yang diterima.
"Dengan warisan sejarah sebagai produsen mobil pertama di Indonesia, kami akan tetap memasarkan berbagai kendaraan Chevrolet kepada konsumen di tanah air yang berada di segmen-segmen pasar utama," tambah Tim.
General Motors (GM) mulai menutup pabriknya, yang memproduksi mobil Chevrolet Spin, mulai Juni 2015. Plt Presiden Direktur GM Manufacturing Indonesia, Pranav Bhatt menjelaskan alasannya.
"Pak menteri ingin tahu kenapa kita ambil keputusan itu. Bagaimana nasib karyawan, dan apa selanjutnya langkah GM di Indonesia," kata Bhatt usai bertemu Menteri Perindustrian Saleh Husin, di kantor Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (2/3/2015).
Pranav yang juga menjabat sebagai Direktur Keuangan GM Manufacturing Indonesia itu mengatakan, penutupan pabrik Chevrolet Spin semata-mata karena pertimbangan keuangan. "Itu semata karena keputusan finansial, keputusan bisnis. Kita punya pabrik Spin di Bekasi, dan Spin tidak begitu menguntungkan, dan butuh biaya tinggi, dan volumenya kecil. Jadi saya kira itu hanya keputusan finansial," tuturnya.
Dia mengatakan, dengan berhentinya produksi Spin di Indonesia, bukan berarti perusahaan bakal mengimpor jenis kendaraan ini dari negara lain. Ke depan, perusahaan bakal fokus menjual produk berjenis SUV (Sport Utility Vehicle) dan pick up. "GM akan tetap ada di Indonesia, kita akan tetap menjual Chevrolet di Indonesia, kita akan fokus menjual SUV dan pick up, kita akan tetap mendukung semua konsumen di Indonesia dari sisi aftersales," tuturnya.
"GM Indonesia sedang mengalami transformasi yang lebih berorientasi pada pasar," kata Wakil Presiden Eksekutif GM dan Presiden GM International, Stefan Jacoby, dalam rilis yang diterima , Kamis. Namun GM Indonesia memastikan akan tetap berada di Indonesia, dengan produk-produk unggulan seperti Chevrolet Orlando, Captiva dan Trailblazer yang dapat diperoleh melalui jaringan dealer resmi Chevrolet.
"Transformasi ini akan semakin memperkuat struktur bisnis dan jaringan pemasaran, dengan fokus pada pengembangan merek Chevrolet, serta menghadirkan produk-produk berkualitas tinggi yang kompetitif untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di Indonesia," tambahnya. Aduh, bagaimana nasib pekerja di Indonesia? Ditutupnya pabrik General Motors (GM) di Pondok Ungu Bekasi, jelas bakal berdampak parah untuk pekerja di dalamnya. Dikatakan 500 karyawan GM di Indonesia bakal dipulangkan.
Dalam rilis yang diterima dikatakan, langkah yang ditempuh perusahaan ini akan berdampak terhadap sekitar 500 karyawan di fasilitas produksi di Bekasi, yang terletak 16 km sebelah timur dari Jakarta. "Kami memiliki karyawan yang sangat handal. Terbukti Chevrolet Spin telah mendapat pengakuan sebagai mobil berkualitas dari para pelanggan, kalangan industri dan General Motors," kata Presiden, GM Southeast Asia Operations, Tim Zimmerman.
"Kami dapat memahami bahwa keputusan ini akan mengecewakan seluruh karyawan yang telah menunjukkan dedikasi yang tinggi selama ini di Indonesia. Kami akan bekerja dengan seluruh pemangku kepentingan setempat yang ada termasuk Pemerintah Indonesia untuk membantu seluruh karyawan kami," tambahnya.
Sebagai informasi tambahan, Pabrik yang seluruh sahamnya dimiliki oleh GM Indonesia, dibuka pada tahun 1995. Kemudian fasilitas ini diaktifkan kembali pada Mei 2013, setelah berhenti produksi pada tahun 2005. Pabrik Bekasi saat ini memproduksi Chevrolet Spin untuk kebutuhan dalam negeri dan pasar ekspor di Asia Tenggara. Dan kini akan kembali berhenti produksi pada Juni 2015 besok.
Akhir Juni 2015 General Motors (GM) memastikan akan menutup pabriknya yang berada di Pondok Ungu, Bekasi. Tapi kira-kira apa penyebabnya ya Otolovers? General Motors mengatakan ada beberapa faktor yang membuat GM nekat menutup pabrik mereka di Indonesia. Padahal pabrik GM yang berada di Pondok Ungu, Bekasi, ini dikhususkan untuk melahirkan Chevrolet Spin yang menjadi andalan mereka di Indonesia.
Beberapa faktor tersebut dikatakan akibat biaya material yang tinggi, dan semakin berkurangnya potensi dalam pemanfaatan keberadaan pemasok dalam negeri dikarenakan skala produksi yang terbatas. Meski demikian GM kembali berjanji masih akan terus memasarkan produk-produk terbaik mereka di Indonesia. "GM dan merek Chevrolet memiliki masa depan yang cerah di Indonesia," kata Presiden GM Southeast Asia Operations, Tim Zimmerman, dalam rilis yang diterima.
"Dengan warisan sejarah sebagai produsen mobil pertama di Indonesia, kami akan tetap memasarkan berbagai kendaraan Chevrolet kepada konsumen di tanah air yang berada di segmen-segmen pasar utama," tambah Tim.
General Motors (GM) mulai menutup pabriknya, yang memproduksi mobil Chevrolet Spin, mulai Juni 2015. Plt Presiden Direktur GM Manufacturing Indonesia, Pranav Bhatt menjelaskan alasannya.
"Pak menteri ingin tahu kenapa kita ambil keputusan itu. Bagaimana nasib karyawan, dan apa selanjutnya langkah GM di Indonesia," kata Bhatt usai bertemu Menteri Perindustrian Saleh Husin, di kantor Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (2/3/2015).
Pranav yang juga menjabat sebagai Direktur Keuangan GM Manufacturing Indonesia itu mengatakan, penutupan pabrik Chevrolet Spin semata-mata karena pertimbangan keuangan. "Itu semata karena keputusan finansial, keputusan bisnis. Kita punya pabrik Spin di Bekasi, dan Spin tidak begitu menguntungkan, dan butuh biaya tinggi, dan volumenya kecil. Jadi saya kira itu hanya keputusan finansial," tuturnya.
Dia mengatakan, dengan berhentinya produksi Spin di Indonesia, bukan berarti perusahaan bakal mengimpor jenis kendaraan ini dari negara lain. Ke depan, perusahaan bakal fokus menjual produk berjenis SUV (Sport Utility Vehicle) dan pick up. "GM akan tetap ada di Indonesia, kita akan tetap menjual Chevrolet di Indonesia, kita akan fokus menjual SUV dan pick up, kita akan tetap mendukung semua konsumen di Indonesia dari sisi aftersales," tuturnya.
Wednesday, February 25, 2015
Kisah Horor Di Pasar Slipi Membuat Ciut Nyali Pembeli
Hiruk pikuk lalu lintas di Jalan Kemanggisan Raya berbeda 180 derajat dengan kondisi Pasar Slipi Jaya. Di pasar itu, kondisi pasar sangat sepi dan jauh dari aktivitas jual beli. Pantauan Tempo, Rabu, 25 Februari 2015, pasar tiga lantai itu cuma dihuni oleh pedagang yang memiliki toko di lantai dasar.
Adapun di lantai dua, beberapa pedagang masih tetap membuka tokonya. Namun kondisi pasar di lantai itu sangat memprihatinkan. Keramik di lantai tersebut banyak yang pecah dan mengelupas. Tembok-temboknya sebagian sudah dihinggapi lumut. Cat berkelir putih itu pun sudah kusam dan berganti warna menjadi cokelat. Atap plafonnya juga sudah rusak dan sebagian tampak ambrol.
Kondisi lebih parah berada di lantai tiga, atau lantai teratas. Hampir semua plafon di teras atas sudah bolong dan catnya mengelupas. Hampir tidak ada aktivitas pedagang sama sekali di lantai ini. Lorong-lorong kios di lantai tiga pun gelap dan lembab seperti tidak pernah digunakan.
Sejumlah pedagang pun mengeluhkan kondisi pasar tersebut. Herman Hasbi, 60 tahun, mengaku kondisi pasar itu sudah terjadi sejak 2010 lalu. Kondisi pasar paling parah akan terasa ketika hujan baru saja mengguyur kawasan tersebut. "Becek di mana-mana, dan lantainya jadi licin dan berbahaya," ujar pedagang sembako tersebut. Kondisi itu membuat pengunjung enggan berbelanja hingga ke lantai atas. Apalagi, pasar tersebut makin kotor dan gelap menimbulkan suasana yang tidak nyaman. "Kalau pembeli kan maunya yang nyaman," kata dia.
Herman sendiri memutuskan untuk tetap bertahan di kios seukuran 2x2 meter miliknya karena tak ada pilihan. Tiap hari dia selalu merasa was-was lantaran khawatir atap pasar itu bakal ambrol dan menimpa dirinya atau pedagang lain. "Jadi uji nyali juga kalau ada apa-apa, soalnya sudah parah," kata laki-laki bertubuh subur itu. Kepala Pasar Slipi, Yusuf, memahami kekhawatiran para pedagang. Namun dia mengaku tidak bisa berbuat banyak karena PD Pasar Jaya belum merencanakan perbaikan pasar. "Wacananya sudah ada tapi baru sebatas itu saja," kata dia.
Pengelola pasar sudah mengajukan permohonan renovasi kepada PD Pasar Jaya. Namun sampai sekarang belum diproses dan belum ada kepastian tentang perbaikan pasar tersebut. "Seperti pasti direnovasi karena banyak juga pasar yang seperti ini kondisinya, cuma watunya saja tidak tahu," ujar dia.
Direktur Utama PD Pasar Jaya Djangga Lubis menyadari kondisi pasar yang sudah cukup parah kerusakannya. Dia menyatakan renovasi Pasar Slipi Jaya paling cepat baru akan dilakukan akhir tahun. Salah satu sebabnya adalah sosialisasi dengan pedagang belum terlaksana.
Padahal proses sosialisasi sekaligs negosiasi perbaikan itu paling membutuhkan waktu lama. Namun dia memastikan jika Pasar Slipi Jaya tidak diperbaiki dalam bentuk renovasi. Rencananya, pasar seluas 6.000 meter persegi itu bakal dirobohkan dan diganti dengan pasar baru yang jauh lebih bagus dan modern.
"Kalau tahun ini belum terlaksana ya tahun depan (2016) baru diwujudkan," kata dia. Djangga juga masih belum bisa memastikan jumlah anggaran yang disiapkan untuk membangun ulang pasar tersebut. Dia juga berharap kemungkinan adanya Penanaman Modal Pemerintah untuk perbaikan pasar tersebut.
"Kalau PMP kemarin (Desember 2014) sudah masuk Rp 110 miliar untuk perbaikan dan perawatan pasar, tapi yang baru belum ada," kata dia.
Adapun di lantai dua, beberapa pedagang masih tetap membuka tokonya. Namun kondisi pasar di lantai itu sangat memprihatinkan. Keramik di lantai tersebut banyak yang pecah dan mengelupas. Tembok-temboknya sebagian sudah dihinggapi lumut. Cat berkelir putih itu pun sudah kusam dan berganti warna menjadi cokelat. Atap plafonnya juga sudah rusak dan sebagian tampak ambrol.
Kondisi lebih parah berada di lantai tiga, atau lantai teratas. Hampir semua plafon di teras atas sudah bolong dan catnya mengelupas. Hampir tidak ada aktivitas pedagang sama sekali di lantai ini. Lorong-lorong kios di lantai tiga pun gelap dan lembab seperti tidak pernah digunakan.
Sejumlah pedagang pun mengeluhkan kondisi pasar tersebut. Herman Hasbi, 60 tahun, mengaku kondisi pasar itu sudah terjadi sejak 2010 lalu. Kondisi pasar paling parah akan terasa ketika hujan baru saja mengguyur kawasan tersebut. "Becek di mana-mana, dan lantainya jadi licin dan berbahaya," ujar pedagang sembako tersebut. Kondisi itu membuat pengunjung enggan berbelanja hingga ke lantai atas. Apalagi, pasar tersebut makin kotor dan gelap menimbulkan suasana yang tidak nyaman. "Kalau pembeli kan maunya yang nyaman," kata dia.
Herman sendiri memutuskan untuk tetap bertahan di kios seukuran 2x2 meter miliknya karena tak ada pilihan. Tiap hari dia selalu merasa was-was lantaran khawatir atap pasar itu bakal ambrol dan menimpa dirinya atau pedagang lain. "Jadi uji nyali juga kalau ada apa-apa, soalnya sudah parah," kata laki-laki bertubuh subur itu. Kepala Pasar Slipi, Yusuf, memahami kekhawatiran para pedagang. Namun dia mengaku tidak bisa berbuat banyak karena PD Pasar Jaya belum merencanakan perbaikan pasar. "Wacananya sudah ada tapi baru sebatas itu saja," kata dia.
Pengelola pasar sudah mengajukan permohonan renovasi kepada PD Pasar Jaya. Namun sampai sekarang belum diproses dan belum ada kepastian tentang perbaikan pasar tersebut. "Seperti pasti direnovasi karena banyak juga pasar yang seperti ini kondisinya, cuma watunya saja tidak tahu," ujar dia.
Direktur Utama PD Pasar Jaya Djangga Lubis menyadari kondisi pasar yang sudah cukup parah kerusakannya. Dia menyatakan renovasi Pasar Slipi Jaya paling cepat baru akan dilakukan akhir tahun. Salah satu sebabnya adalah sosialisasi dengan pedagang belum terlaksana.
Padahal proses sosialisasi sekaligs negosiasi perbaikan itu paling membutuhkan waktu lama. Namun dia memastikan jika Pasar Slipi Jaya tidak diperbaiki dalam bentuk renovasi. Rencananya, pasar seluas 6.000 meter persegi itu bakal dirobohkan dan diganti dengan pasar baru yang jauh lebih bagus dan modern.
"Kalau tahun ini belum terlaksana ya tahun depan (2016) baru diwujudkan," kata dia. Djangga juga masih belum bisa memastikan jumlah anggaran yang disiapkan untuk membangun ulang pasar tersebut. Dia juga berharap kemungkinan adanya Penanaman Modal Pemerintah untuk perbaikan pasar tersebut.
"Kalau PMP kemarin (Desember 2014) sudah masuk Rp 110 miliar untuk perbaikan dan perawatan pasar, tapi yang baru belum ada," kata dia.
Pemprov Banten Cabut Izin Ratusan Perusahan Asing
Pemerintah Provinsi Banten melalui Badan Kordinasi Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (BKPMPT) Provinsi Banten mengancam akan mencabut izin 169 perusahaan nasional dan asing yang ada di Provinsi Banten. Sebabnya sejak tahun 2007 hingga 2012 ratusan perusahaan tersebut tidak menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM).
Kepala BKPMPT Provinsi Banten Ranta Suarta mengatakan, pihaknya akan segera mendatangi lokasi perusahaan-perusahaan tersebut dan langsung membuat berita acara pemeriksaan (BAP), terkait kegiatan perusahan yang tidak menyampaikan LKPM. "Ada 169 perusahaan di Banten yang hingga saat ini tidak menyerahakan LKPM," kata Ranta Suarta, Rabu, 25 Februari 2015.
Menurutnya, sesuai Undang - Undang No.25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal, izin perinsip yang dikeluarkan memiliki waktu tiga tahun. Jika dalam waktu tiga tahun tidak bisa terselesaikan, bisa di perpanjang dua tahun. "Itu dari pembebasan lahan, pembangunan, karyawan dan melakukan rekrutmen harus selesai," katanya.
Kalau tidak beres hingga waktu diselesaikan setelah waktu perpanjangan selama dua tahun itu sanksinya izin prinsip perusahaan tersebut akan dicabut. "Seluruh Indonesia itu ada 15.000 perusahaan, dan di Banten ada ratusan," kata Ranta.
Kepala Bidang Pengendalian, BKPMPT Banten Ikhsan Budiantara, mengatakan, dari data yang ada, rata-rata perusahaan yang tidak melakukan LKPM dari tahun 2007 hingga 2012. "Mereka itu telah memiliki izin prinsip dari BKPM Pusat sejak tahun 2007," katanya.
Perusahaan-perusahaan yang telah memiliki izin itu, kebanyakan akan membuka usahanya di wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Tangerang Selatan. "Tapi ada juga di Lebak, Serang dan Cilegon," katanya.
Kepala BKPMPT Provinsi Banten Ranta Suarta mengatakan, pihaknya akan segera mendatangi lokasi perusahaan-perusahaan tersebut dan langsung membuat berita acara pemeriksaan (BAP), terkait kegiatan perusahan yang tidak menyampaikan LKPM. "Ada 169 perusahaan di Banten yang hingga saat ini tidak menyerahakan LKPM," kata Ranta Suarta, Rabu, 25 Februari 2015.
Menurutnya, sesuai Undang - Undang No.25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal, izin perinsip yang dikeluarkan memiliki waktu tiga tahun. Jika dalam waktu tiga tahun tidak bisa terselesaikan, bisa di perpanjang dua tahun. "Itu dari pembebasan lahan, pembangunan, karyawan dan melakukan rekrutmen harus selesai," katanya.
Kalau tidak beres hingga waktu diselesaikan setelah waktu perpanjangan selama dua tahun itu sanksinya izin prinsip perusahaan tersebut akan dicabut. "Seluruh Indonesia itu ada 15.000 perusahaan, dan di Banten ada ratusan," kata Ranta.
Kepala Bidang Pengendalian, BKPMPT Banten Ikhsan Budiantara, mengatakan, dari data yang ada, rata-rata perusahaan yang tidak melakukan LKPM dari tahun 2007 hingga 2012. "Mereka itu telah memiliki izin prinsip dari BKPM Pusat sejak tahun 2007," katanya.
Perusahaan-perusahaan yang telah memiliki izin itu, kebanyakan akan membuka usahanya di wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Tangerang Selatan. "Tapi ada juga di Lebak, Serang dan Cilegon," katanya.
3 Penyebab Naiknya Harga Beras dan Kaitannya Dengan Mafia Beras Indonesia
Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan ada tiga faktor penyebab naiknya harga beras yang mencapai 30 persen pada sepekan terakhir. "Kenaikan 30 persen itu berdampak besar," kata Bayu saat dihubungi, Rabu, 25 Februari 2015.
Menurut Bayu, tiga penyebab itu adalah turunnya angka produksi beras tahun lalu sebesar 0,9%, beras miskin jatah September-Oktober 2014 yang tak dibagikan sehingga membuat kekosongan di pasar, dan telat tanam padi selama dua bulan. "Produksi turun buat Indonesia itu serius," kata Bayu.
Badan Urusan Logistik, kata Bayu, harus mengintervensi pasar dengan cara membagikan beras raskin. Namun, saat ini stok di gudang Bulog hanya 1,4 juta ton. "Angka itu sebenarnya biasa dalam kondisi normal. Tapi pasar harus segera diintervensi dengan raskin," kata Bayu.
Direktur Utama Perum Bulog Lenny Sugihat mengatakan Bulog memiliki stok beras 1,4 juta ton. Ia mengaku bahwa angka itu berada di bawah stok ideal cadangan beras nasional 1,5-1,8 juta ton. Lenny menuturkan stok Bulog bisa berubah setiap saat tergantung pada pemasukan dan pengeluaran. Stok menjadi tak ideal bersamaan dengan melonjaknya harga beras sebesar 30% sejak sepekan terakhir.
Menteri Perdagangan Rachmat Gobel akan mengaudit penyaluran beras untuk menemukan indikasi mafia beras. Audit ini dilakukan mulai dari pengambilan keputusan, daerah operasi, hingga akhir penyaluran beras itu. "Saya minta ke Sucofindo atau ke Surveyor, saya lupa, untuk melakukan audit seluruhnya," kata Gobel di Istana Negara, Rabu, 25 Februari 2015.
Menurut Gobel, terdapat potensi besar keberadaan mafia beras yang memanfaatkan jalur penyaluran beras pemerintah kepada masyarakat. Selain itu, Gobel juga meminta kepada Direktur Umum Bulog untuk mengaudit gudang beras. "Saya sudah minta sesegera mungkin (audit ini selesai)."
Audit keseluruhan dilakukan agar alur penyaluran beras yang dilakukan mafia dapat ditelusuri. Gobel ingin menelisik adanya potensi mafia setelah mengetahui alur beras oplosan yang sempat dia temukan pada gudang pedagang beras. Padahal, beras yang dioplos tersebut adalah beras pemerintah yang dikeluarkan untuk menstabilkan harga dan dijual dengan harga yang telah ditentukan.
Gobel enggan menyebut pelaku mafia beras sebelum hasil audit keluar. Hasil audit itu akan menggambarkan peta sistem distribusi yang dibuat oleh mafia beras. "Yang jelas ada penyimpangan di situ, ada penyimpangan kita lihat," kata Gobel. "(Dengan audit ini) nanti bisa ketahuan bagaimana dia punya sistem distribusi jadi kita bisa tahu."
Gobel mengancam memberi sanksi kepada mafia beras tersebut. Tidak menutup kemungkinan hukuman pidana juga diberikan berdasarkan tingkat pelanggarannya. "Tapi nanti kita lihat isinya (kesalahannya) seperti apa," kata Gobel. Selain itu, Gobel juga bekerja sama Kepolisian dan TNI untuk mengatasi mafia beras agar operasi beras yang dilakukan oleh Bulog tidak mengalami kebocoran.
Menurut Bayu, tiga penyebab itu adalah turunnya angka produksi beras tahun lalu sebesar 0,9%, beras miskin jatah September-Oktober 2014 yang tak dibagikan sehingga membuat kekosongan di pasar, dan telat tanam padi selama dua bulan. "Produksi turun buat Indonesia itu serius," kata Bayu.
Badan Urusan Logistik, kata Bayu, harus mengintervensi pasar dengan cara membagikan beras raskin. Namun, saat ini stok di gudang Bulog hanya 1,4 juta ton. "Angka itu sebenarnya biasa dalam kondisi normal. Tapi pasar harus segera diintervensi dengan raskin," kata Bayu.
Direktur Utama Perum Bulog Lenny Sugihat mengatakan Bulog memiliki stok beras 1,4 juta ton. Ia mengaku bahwa angka itu berada di bawah stok ideal cadangan beras nasional 1,5-1,8 juta ton. Lenny menuturkan stok Bulog bisa berubah setiap saat tergantung pada pemasukan dan pengeluaran. Stok menjadi tak ideal bersamaan dengan melonjaknya harga beras sebesar 30% sejak sepekan terakhir.
Menteri Perdagangan Rachmat Gobel akan mengaudit penyaluran beras untuk menemukan indikasi mafia beras. Audit ini dilakukan mulai dari pengambilan keputusan, daerah operasi, hingga akhir penyaluran beras itu. "Saya minta ke Sucofindo atau ke Surveyor, saya lupa, untuk melakukan audit seluruhnya," kata Gobel di Istana Negara, Rabu, 25 Februari 2015.
Menurut Gobel, terdapat potensi besar keberadaan mafia beras yang memanfaatkan jalur penyaluran beras pemerintah kepada masyarakat. Selain itu, Gobel juga meminta kepada Direktur Umum Bulog untuk mengaudit gudang beras. "Saya sudah minta sesegera mungkin (audit ini selesai)."
Audit keseluruhan dilakukan agar alur penyaluran beras yang dilakukan mafia dapat ditelusuri. Gobel ingin menelisik adanya potensi mafia setelah mengetahui alur beras oplosan yang sempat dia temukan pada gudang pedagang beras. Padahal, beras yang dioplos tersebut adalah beras pemerintah yang dikeluarkan untuk menstabilkan harga dan dijual dengan harga yang telah ditentukan.
Gobel enggan menyebut pelaku mafia beras sebelum hasil audit keluar. Hasil audit itu akan menggambarkan peta sistem distribusi yang dibuat oleh mafia beras. "Yang jelas ada penyimpangan di situ, ada penyimpangan kita lihat," kata Gobel. "(Dengan audit ini) nanti bisa ketahuan bagaimana dia punya sistem distribusi jadi kita bisa tahu."
Gobel mengancam memberi sanksi kepada mafia beras tersebut. Tidak menutup kemungkinan hukuman pidana juga diberikan berdasarkan tingkat pelanggarannya. "Tapi nanti kita lihat isinya (kesalahannya) seperti apa," kata Gobel. Selain itu, Gobel juga bekerja sama Kepolisian dan TNI untuk mengatasi mafia beras agar operasi beras yang dilakukan oleh Bulog tidak mengalami kebocoran.
Pabrik Smartphone OPPO Di Kawasan Mauk Tangerang Akan Beroperasi April 2015
Perusahaan teknologi Oppo menargetkan pabrik perakitan ponsel yang sedang disiapkan di kawasan Mauk, Tangerang, Banten, bisa mulai beroperasi pada April 2015 setelah kedatangan mesin-mesin pendukung produksi. Bangunan yang akan digunakan Oppo untuk pabrik telah berdiri sejak lama, sebelumnya dipakai oleh produsen alat olahraga Adidas. Pabrik itu berdiri di tanah seluas 27 ribu meter persegi.
Media Engagement Oppo Indonesia, Aryo Meidianto mengatakan, mesin-mesin itu akan mengisi 10 jalur produksi. Pabrik itu rencananya akan memproduksi ponsel pintar Oppo sebanyak 500 ribu unit per bulan.
"Tidak menutup kemungkinan pabrik itu akan memproduksi ponsel premium," kata Aryo saat ditemui di Jakarta, Rabu (25/2). Oppo, yang beroperasi di Indonesia sejak Juli 2013, mulai merencanakan membangun pabrik di Indonesia sejak akhir 2014 dengan investasi sebesar US$ 30 juta. Langkah ini mereka lakukan untuk mengejar syarat Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40 persen untuk ponsel pintar berteknologi 4G yang rencananya mulai berlaku pada 1 Januari 2017 mendatang.
Peraturan ini diminta oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementerian Perindustrian. Jika produsen ponsel asing tak memenuhi syarat itu, maka mereka tak diizinkan untuk mengimpor produk ke Indonesia. Saat ini, Oppo mengklaim telah memenuhi syarat TKDN sebesar 25 persen. Angka 25 persen itu tidak hanya dihitung berdasarkan komponen peranti keras dan peranti lunak yang disematkan pada produk ponsel. Menurut Oppo, TKDN juga dihitung berdasarkan seberapa banyak produsen terkait mempekerjakan karyawan dari Indonesia, membangun toko retail mandiri, dan membangun pusat layanan purna jual sendiri.
Sepanjang 2014, Oppo mengatakan telah memasukkan 11 model ponsel pintar ke Indonesia. Mereka menawarkan ponsel seri R yang mengandalkan desain, lalu seri N yang mengandalkan kamera, dan seri Find yang mengincar segmen pasar premium dan bersaing dengan kompetitor seperti Samsung Galaxy S, Sony Xperia Z, atau HTC One.
OPPO menegaskan kelanjutan kerjasama strategisnya dengan Qualcomm. Sebagai produsen smartphone premium yang terkenal dengan inovasi-inovasinya, OPPO selalu menggunakan komponen terbaik. Maka tak heran jika OPPO memilih Qualcomm yang memiliki kredibilitas sangat baik di industri chipset.
CEO OPPO Indonesia – Jet Lee mengungkapkan, tahun ini OPPO akan memperbanyak penggunaan prosesor Qualcomm pada lini produk selanjutnya. Baik di kelas menengah maupun premium. Kerjasama strategis OPPO dengan Qualcomm dimulai pada dua seri premium mereka yaitu N3 dan R5. “Kami mulai menjalin kemitraan strategis dengan menggunakan prosesor Snapdragon 801 di OPPO N3 dan prosesor Snapdragon 615 di OPPO R5. Dengan demikian, OPPO R5 menjadi smartphone pertama kami yang menggunakan teknologi terbaru octa-core berarsitektur 64 bit dari Qualcomm,” jelas Jet Lee.
Snapdragon 615 dipilih untuk menunjang performa prosesor octa-core OPPO R5 dalam menjalankan aplikasi dan game. “Tidak menutup kemungkinan OPPO akan menggunakan prosesor terbaik dari Qualcomm seperti Snapdragon 810 pada produk flagship kami selanjutnya. Produk terbaru kami Mirror 3 juga memercayakan Qualcomm sebagai pemasok prosesor,” lanjut Jet Lee.
OPPO sendiri merupakan produsen global yang cukup diperhitungkan di pasar smartphone Indonesia. Pada kuartal keempat tahun 2014, OPPO berhasil menguasai pangsa pasar smartphone Indonesia sebesar 8,8%. Angka ini cukup tinggi bagi pendatang baru di sektor telekomunikasi Indonesia.
Vendor ponsel cerdas OPPO Indonesia mewujudkan janjinya membangun pabrik di Indonesia. Ground breaking pabrik itu digelar pada Minggu (22/12) kemarin di Tangerang, Banten. Tapi OPPO tak benar-benar membangun dari nol. Perusahaan itu membeli bangunan bekas pabrik Adidas yang sudah tutup pada 2012. Pabrik seluas 27 ribu meter persegi itu adalah pabrik OPPO pertama di luar negara asalnya, Tiongkok. Diproyeksikan pabrik itu dapat memproduksi 500 ribu unit ponsel cerdas per bulan.
"Antusiasme masyarakat Indonesia akan smartphone terus meningkat," kata CEO OPPO, Jet Lee, Selasa (23/12). "Itu merupakan satu alasan OPPO investasi untuk membangun pabrik di Indonesia." Lee mengatakan, pabrik OPPO itu akan memproduksi ponsel cerdas dengan standar dan berkualitas tinggi. "Renovasi pabrik ini merupakan wujud komitmen dan keseriusan kami dalam berinvestasi di Indonesia," kata Jet Lee lagi. OPPO berinvestasi sebesar US$ 30 juta untuk membeli sebuah pabrik di kawasan Tangerang dan merenovasinya menjadi pabrik. Selain pabrik, OPPO juga mendirikan beberapa bangunan pendukung, seperti gudang penyimpanan.
Aryo Meidianto, Media Engagement Indonesia OPPO Electronics, mengatakan penjualan per bulan handset OPPO saat ini mencapai 200 ribu unit per bulan. Dengan kemampuan produksi sampai 500 ribu unit, maka tahun depan sebanyak itulah target penjualan OPPO. "Seluruh penjualan itu, kata Aryo, akan difokuskan pada pasar dalam negeri terlebih dahulu," katanya, Selasa (23/12).
Media Engagement Oppo Indonesia, Aryo Meidianto mengatakan, mesin-mesin itu akan mengisi 10 jalur produksi. Pabrik itu rencananya akan memproduksi ponsel pintar Oppo sebanyak 500 ribu unit per bulan.
"Tidak menutup kemungkinan pabrik itu akan memproduksi ponsel premium," kata Aryo saat ditemui di Jakarta, Rabu (25/2). Oppo, yang beroperasi di Indonesia sejak Juli 2013, mulai merencanakan membangun pabrik di Indonesia sejak akhir 2014 dengan investasi sebesar US$ 30 juta. Langkah ini mereka lakukan untuk mengejar syarat Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40 persen untuk ponsel pintar berteknologi 4G yang rencananya mulai berlaku pada 1 Januari 2017 mendatang.
Peraturan ini diminta oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementerian Perindustrian. Jika produsen ponsel asing tak memenuhi syarat itu, maka mereka tak diizinkan untuk mengimpor produk ke Indonesia. Saat ini, Oppo mengklaim telah memenuhi syarat TKDN sebesar 25 persen. Angka 25 persen itu tidak hanya dihitung berdasarkan komponen peranti keras dan peranti lunak yang disematkan pada produk ponsel. Menurut Oppo, TKDN juga dihitung berdasarkan seberapa banyak produsen terkait mempekerjakan karyawan dari Indonesia, membangun toko retail mandiri, dan membangun pusat layanan purna jual sendiri.
Sepanjang 2014, Oppo mengatakan telah memasukkan 11 model ponsel pintar ke Indonesia. Mereka menawarkan ponsel seri R yang mengandalkan desain, lalu seri N yang mengandalkan kamera, dan seri Find yang mengincar segmen pasar premium dan bersaing dengan kompetitor seperti Samsung Galaxy S, Sony Xperia Z, atau HTC One.
OPPO menegaskan kelanjutan kerjasama strategisnya dengan Qualcomm. Sebagai produsen smartphone premium yang terkenal dengan inovasi-inovasinya, OPPO selalu menggunakan komponen terbaik. Maka tak heran jika OPPO memilih Qualcomm yang memiliki kredibilitas sangat baik di industri chipset.
CEO OPPO Indonesia – Jet Lee mengungkapkan, tahun ini OPPO akan memperbanyak penggunaan prosesor Qualcomm pada lini produk selanjutnya. Baik di kelas menengah maupun premium. Kerjasama strategis OPPO dengan Qualcomm dimulai pada dua seri premium mereka yaitu N3 dan R5. “Kami mulai menjalin kemitraan strategis dengan menggunakan prosesor Snapdragon 801 di OPPO N3 dan prosesor Snapdragon 615 di OPPO R5. Dengan demikian, OPPO R5 menjadi smartphone pertama kami yang menggunakan teknologi terbaru octa-core berarsitektur 64 bit dari Qualcomm,” jelas Jet Lee.
Snapdragon 615 dipilih untuk menunjang performa prosesor octa-core OPPO R5 dalam menjalankan aplikasi dan game. “Tidak menutup kemungkinan OPPO akan menggunakan prosesor terbaik dari Qualcomm seperti Snapdragon 810 pada produk flagship kami selanjutnya. Produk terbaru kami Mirror 3 juga memercayakan Qualcomm sebagai pemasok prosesor,” lanjut Jet Lee.
OPPO sendiri merupakan produsen global yang cukup diperhitungkan di pasar smartphone Indonesia. Pada kuartal keempat tahun 2014, OPPO berhasil menguasai pangsa pasar smartphone Indonesia sebesar 8,8%. Angka ini cukup tinggi bagi pendatang baru di sektor telekomunikasi Indonesia.
Vendor ponsel cerdas OPPO Indonesia mewujudkan janjinya membangun pabrik di Indonesia. Ground breaking pabrik itu digelar pada Minggu (22/12) kemarin di Tangerang, Banten. Tapi OPPO tak benar-benar membangun dari nol. Perusahaan itu membeli bangunan bekas pabrik Adidas yang sudah tutup pada 2012. Pabrik seluas 27 ribu meter persegi itu adalah pabrik OPPO pertama di luar negara asalnya, Tiongkok. Diproyeksikan pabrik itu dapat memproduksi 500 ribu unit ponsel cerdas per bulan.
"Antusiasme masyarakat Indonesia akan smartphone terus meningkat," kata CEO OPPO, Jet Lee, Selasa (23/12). "Itu merupakan satu alasan OPPO investasi untuk membangun pabrik di Indonesia." Lee mengatakan, pabrik OPPO itu akan memproduksi ponsel cerdas dengan standar dan berkualitas tinggi. "Renovasi pabrik ini merupakan wujud komitmen dan keseriusan kami dalam berinvestasi di Indonesia," kata Jet Lee lagi. OPPO berinvestasi sebesar US$ 30 juta untuk membeli sebuah pabrik di kawasan Tangerang dan merenovasinya menjadi pabrik. Selain pabrik, OPPO juga mendirikan beberapa bangunan pendukung, seperti gudang penyimpanan.
Aryo Meidianto, Media Engagement Indonesia OPPO Electronics, mengatakan penjualan per bulan handset OPPO saat ini mencapai 200 ribu unit per bulan. Dengan kemampuan produksi sampai 500 ribu unit, maka tahun depan sebanyak itulah target penjualan OPPO. "Seluruh penjualan itu, kata Aryo, akan difokuskan pada pasar dalam negeri terlebih dahulu," katanya, Selasa (23/12).
Cara Meningkatkan Produksi Daging Peternak Sapi Potong
Indonesia punya peluang besar menjadi salah satu produsen daging sapi terbesar di dunia. Kuncinya adalah memperbesar populasi sapi dan meningkatkan bobot sapi per ekor. Bagaimana caranya? "Kita bisa memanfaatkan perkebunan sawit untuk areal peternakan. Jadi proses penggemukan bisa seperti di Australia dengan sapi dilepas ke ladang rumput. Cuma di sini sapinya makan daun kelapa sawit," ujar Peneliti Utama Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Kementerian Pertanian Kusuma Dwiyanto di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (25/2/2015).
Metode ini sebenarnya bukan metode yang baru karena sudah diterapkan oleh PTPN VI (Persero) dengan melepas sapi-sapi di kebun sawit. Hasilnya pun cukup memuaskan. "Hasilnya bagus, sapi bisa gemuk dan pemeliharaan juga lebih efisien. Tidak perlu biaya besar mencari pakan karena sapi bisa memakan daun-daun dan batang pohon yang jatuh. Sebaliknya, kotoran sapi bisa digunakan sebagai pupuk alami," papar Kusuma.
Sayang, upaya ini belum dijalankan optimal. Hingga 2013, baru 5 dari 1.500 perusahaan sawit yang telah melaksanakan integrasi sapi-sawit ini. Untuk itu, perlu ada dorongan dari pemerintah agar kegiatan ini bisa diterapkan oleh lebih banyak perusahaan perkebunan sawit. Ia mengaku, Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) sebagai organisasi kepakaran juga akan membantu pemerintah mencari formula yang tepat agar hal ini bisa menarik diterapkan oleh para pengusaha sawit.
"Pendekatannya harus bisnis. Misalnya dibantu permodalan dan sebagainya. Kemudian jangan impor (daging sapi) berlebihan supaya mereka nggak khawatir produk mereka nggak diserap pasar," tegasnya. Bila berhasil diterapkan oleh lebih banyak perusahaan sawit, kata Kusuma, maka permasalahan lahan yang sering dikemukakan sebagai kendala kegiatan peternakan untuk meningkatkan populasi ternak bisa diatasi. Hingga 2014, diperkirakan luas perkebunan sawit di Indonesia mencapai 10-11 juta hektar.
Selain itu, dengan sinergi ini pula diharapkan sapi-sapi yang diternak bisa mengalami peningkatan bobot yang lebih baik. Dengan demikian, produksi daging sapi juga bisa meningkat. "Ternak kita rata-rata bobotnya sekitar 200-250 kg. Kalau sapi lokal yang bukan asli sekitar 300 kg. Kalau sapi silangan IB 400-450 kg. Dengan sinergi ini, bobot masing bisa ditingkatkan 20-30%," papar Kusuma. Tiga negara ini mampu memproduksi daging sapi yang lebih murah ketimbang Indonesia. Bila Indonesia menghasilkan daging lokal dihargai sekitar Rp 95-100 ribu/kg, di negara-negara ini harga ekspornya bisa lebih rendah.
Tiga negara tersebut adalah India, Brasil dan Australia. Daging sapi di India diekspor dengan harga US$ 2,88/kg atau Rp 36.864/kg. Sementara daging sapi asal Brasil diekspor dengan harga rata-rata US$ 4,52/kg atau Rp 57.856/kg, dan daging sapi asal Australia US$ 4,73/kg atau Rp 60.544/kg.
"Tiga negara ini punya daging lebih murah dari Indonesia," ujar Pemilik Perusahaan Peternakan Sapi PT Citra Agro Buana Semesta Yudi Guntara Noor di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (25/2/2015). Pasalnya, kegiatan peternakan di Indonesia dianggap masih belum efisien. Banyak biaya-biaya yang harus ditanggung para peternak sehingg membuat harga jualnya sulit bersaing.
Perbedaannya terutama terletak pada metode peternakan. Bila di 3 negara tersebut, hewan ternak khususnya sapi dibiarkan lepas di alam bebas. Hal ini bisa menekan biaya perawatan kandang, biaya buruh untuk mencari pakan dan biaya operasional lain. Karena tidak efisien, produksi daging sapi di Indonesia pun tidak bisa maksimal lantaran sapi-sapi yang diternak sulit mencapai bobot ideal karena pakannya sangat bergantung pada pemberian oleh peternak.
Lebih lanjut ia menjelaskan, berkat kegiatan peternakan yang lebih efisien dan metode peternakan yang tepat, 3 negara ini mampu menghasilkan produk daging sapi yang sangat besar. Bahkan, 3 negara ini mampu menjadi pemasok terebesar yang mengendalikan ketersediaan sapi dunia. "Tiga pemain di dunia ini yang punya pasokan sapi global. Pertama India, kedua Brasil, dan ketiga Australia. Mereka memasok lebih dari 3 juta ton daging sapi ke pasar dunia," kata dia.
Dari catatan ISPI, pada 2013 lalu, India tercatat sebagai eksportir daging sapi terbesar di dunia. Sebanyak 1,56 juta ton diikuti Brasil dengan volume ekspor daging sapi sebanyak 1,18 juta ton dan Australia sebesar 1,07 juta ton.
Sebenarnya, Indonesia punya peluang besar masuk dalam jajaran pemasok daging sapi terbesar dunia didukung oleh masih luasnya lahan yang tersedia untuk dimanfaatkan sebagai lahan peternakan serta Indonesia telah mengantongi predikat bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) sapi. Artinya produk daging sapai Indonesia bisa diterima di seluruh dunia.
Ketua Umum Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Ali Agus mengungkapkan, alasan minimnya jumlah sarjana pertanian yang mau terjun menjadi peternak. Salah satunya, kurangnya keberpihakan pemerintah terhadap profesi ini. "Selama ini kebijakan pemerintah hanya condong konsumen saja tidak ke pengusaha. Akibatnya, sarjana jarang yang mau masuk," ujar Ali saat ditemui di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (25/2/2015).
Tidak berpihaknya pemerintah kepada pengusaha sektor peternakan, terutama terlihat dari reaksi pemerintah ketika terjadi kenaikan harga daging. "Selalu saja heboh kalau harga daging naik. Langsung buru-buru keran impor dibuka. Tapi nggak pernah heboh kalau pengusaha (peternakan) kecil pada bangkrut karena terhimpit daging impor," keluh dia.
Untuk itu, lanjut dia, pemerintah harus bisa menentukan sikap dan memposisikan diri agar tidak terlalu condong pada satu pihak saja. "Pemerintah itu harus bisa menjadi wasit. Jadi berada di tengah-tengah. Seperti ketika menetapkan harga. Ketika harga naik, jangan buru-buru buka impor daging. Kalau ada keberpihakan, orang juga ada semangat untuk jadi peternak," tegasnya.
Metode ini sebenarnya bukan metode yang baru karena sudah diterapkan oleh PTPN VI (Persero) dengan melepas sapi-sapi di kebun sawit. Hasilnya pun cukup memuaskan. "Hasilnya bagus, sapi bisa gemuk dan pemeliharaan juga lebih efisien. Tidak perlu biaya besar mencari pakan karena sapi bisa memakan daun-daun dan batang pohon yang jatuh. Sebaliknya, kotoran sapi bisa digunakan sebagai pupuk alami," papar Kusuma.
Sayang, upaya ini belum dijalankan optimal. Hingga 2013, baru 5 dari 1.500 perusahaan sawit yang telah melaksanakan integrasi sapi-sawit ini. Untuk itu, perlu ada dorongan dari pemerintah agar kegiatan ini bisa diterapkan oleh lebih banyak perusahaan perkebunan sawit. Ia mengaku, Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) sebagai organisasi kepakaran juga akan membantu pemerintah mencari formula yang tepat agar hal ini bisa menarik diterapkan oleh para pengusaha sawit.
"Pendekatannya harus bisnis. Misalnya dibantu permodalan dan sebagainya. Kemudian jangan impor (daging sapi) berlebihan supaya mereka nggak khawatir produk mereka nggak diserap pasar," tegasnya. Bila berhasil diterapkan oleh lebih banyak perusahaan sawit, kata Kusuma, maka permasalahan lahan yang sering dikemukakan sebagai kendala kegiatan peternakan untuk meningkatkan populasi ternak bisa diatasi. Hingga 2014, diperkirakan luas perkebunan sawit di Indonesia mencapai 10-11 juta hektar.
Selain itu, dengan sinergi ini pula diharapkan sapi-sapi yang diternak bisa mengalami peningkatan bobot yang lebih baik. Dengan demikian, produksi daging sapi juga bisa meningkat. "Ternak kita rata-rata bobotnya sekitar 200-250 kg. Kalau sapi lokal yang bukan asli sekitar 300 kg. Kalau sapi silangan IB 400-450 kg. Dengan sinergi ini, bobot masing bisa ditingkatkan 20-30%," papar Kusuma. Tiga negara ini mampu memproduksi daging sapi yang lebih murah ketimbang Indonesia. Bila Indonesia menghasilkan daging lokal dihargai sekitar Rp 95-100 ribu/kg, di negara-negara ini harga ekspornya bisa lebih rendah.
Tiga negara tersebut adalah India, Brasil dan Australia. Daging sapi di India diekspor dengan harga US$ 2,88/kg atau Rp 36.864/kg. Sementara daging sapi asal Brasil diekspor dengan harga rata-rata US$ 4,52/kg atau Rp 57.856/kg, dan daging sapi asal Australia US$ 4,73/kg atau Rp 60.544/kg.
"Tiga negara ini punya daging lebih murah dari Indonesia," ujar Pemilik Perusahaan Peternakan Sapi PT Citra Agro Buana Semesta Yudi Guntara Noor di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (25/2/2015). Pasalnya, kegiatan peternakan di Indonesia dianggap masih belum efisien. Banyak biaya-biaya yang harus ditanggung para peternak sehingg membuat harga jualnya sulit bersaing.
Perbedaannya terutama terletak pada metode peternakan. Bila di 3 negara tersebut, hewan ternak khususnya sapi dibiarkan lepas di alam bebas. Hal ini bisa menekan biaya perawatan kandang, biaya buruh untuk mencari pakan dan biaya operasional lain. Karena tidak efisien, produksi daging sapi di Indonesia pun tidak bisa maksimal lantaran sapi-sapi yang diternak sulit mencapai bobot ideal karena pakannya sangat bergantung pada pemberian oleh peternak.
Lebih lanjut ia menjelaskan, berkat kegiatan peternakan yang lebih efisien dan metode peternakan yang tepat, 3 negara ini mampu menghasilkan produk daging sapi yang sangat besar. Bahkan, 3 negara ini mampu menjadi pemasok terebesar yang mengendalikan ketersediaan sapi dunia. "Tiga pemain di dunia ini yang punya pasokan sapi global. Pertama India, kedua Brasil, dan ketiga Australia. Mereka memasok lebih dari 3 juta ton daging sapi ke pasar dunia," kata dia.
Dari catatan ISPI, pada 2013 lalu, India tercatat sebagai eksportir daging sapi terbesar di dunia. Sebanyak 1,56 juta ton diikuti Brasil dengan volume ekspor daging sapi sebanyak 1,18 juta ton dan Australia sebesar 1,07 juta ton.
Sebenarnya, Indonesia punya peluang besar masuk dalam jajaran pemasok daging sapi terbesar dunia didukung oleh masih luasnya lahan yang tersedia untuk dimanfaatkan sebagai lahan peternakan serta Indonesia telah mengantongi predikat bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) sapi. Artinya produk daging sapai Indonesia bisa diterima di seluruh dunia.
Ketua Umum Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Ali Agus mengungkapkan, alasan minimnya jumlah sarjana pertanian yang mau terjun menjadi peternak. Salah satunya, kurangnya keberpihakan pemerintah terhadap profesi ini. "Selama ini kebijakan pemerintah hanya condong konsumen saja tidak ke pengusaha. Akibatnya, sarjana jarang yang mau masuk," ujar Ali saat ditemui di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (25/2/2015).
Tidak berpihaknya pemerintah kepada pengusaha sektor peternakan, terutama terlihat dari reaksi pemerintah ketika terjadi kenaikan harga daging. "Selalu saja heboh kalau harga daging naik. Langsung buru-buru keran impor dibuka. Tapi nggak pernah heboh kalau pengusaha (peternakan) kecil pada bangkrut karena terhimpit daging impor," keluh dia.
Untuk itu, lanjut dia, pemerintah harus bisa menentukan sikap dan memposisikan diri agar tidak terlalu condong pada satu pihak saja. "Pemerintah itu harus bisa menjadi wasit. Jadi berada di tengah-tengah. Seperti ketika menetapkan harga. Ketika harga naik, jangan buru-buru buka impor daging. Kalau ada keberpihakan, orang juga ada semangat untuk jadi peternak," tegasnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)