Pages - Menu

Saturday, March 28, 2015

Pabrik Indomie Indonesia Di Mesir Mampu Produksi 1,2 Juta Bungkus Per Hari

Pabrik bahan makanan ringan Indonesia di Mesir, Indomie, menciptakan lapangan kerja bagi warga setempat cukup signifikan, yakni sebanyak 1.000 karyawan. "Lapangan kerja yang diserap parbrik patungan Indomie tercatat 1.000 karyawan, terdiri atas 400 orang di bagian produksi, dan 600 orang lagi di bagian distributor," kata General Manager Indomie produksi Mesir, Gunawan Harianto seperti dikutip Antara di Kairo, Kamis (26/3/2015).

Indomie termasuk salah satu peserta dari 17 perusahaan Indonesia yang berpartisipasi dalam Pameran Industri dan Perdagangan Internasional (Cairo International Fair/CIF) yang saat ini berlangsung di ibu kota Mesir itu. Menurut Gunawan, setiap hari pihaknya memproduksi 1,2 juta bungkus Indomie untuk pasar lokal Mesir. Kehadiran pabrik mie instan di Negeri Piramida itu merupakan perusahaan patungan Indonesia-Mesir, Salim Wazaran Abu Alata Co. Ltd.

"Perusahaan ini hadir di Mesir sejak 10 tahun lalu, namun secara efektif berproduksi pada 2009," katanya. Di pameran tersebut, pengunjung Mesir tampak antri untuk membeli Indomie di Anjungan Indonesia. "Biasanya kami masak gratis buat pengunjung, tapi kami kewalahan melayani pengunjung yang antri membeli mentahnya," papar Mohamed Nuseir, koordinator Stand Indomie di pameran.

Gunawan mengungkapkan, pada pameran serupa tahun 2014, Indomie membuka stand sendiri, terpisah dari Anjungan Indonesia, namun kali ini atas permintaan KBRI, kami bergabung untuk meramaiakan anjungan Indonesia.

Di berbagai supermarket besar maupun kecil, Indomie memang tampak mewarnai pajangan barang dagangan. "Harga satu bungkus Indomie 1,5 pound Mesir (sekitar Rp 3.000), yang merupakan salah satu bahan makanan yang cukup diminati pembeli," kata Sameer, pelayan di Supermarket Sharif di Madinat Nasr.

Bahkan, Menteri Wakaf Mesri, Mohamed Mokhtar Goumah, saat menyambangi Anjungan Indonesia di pameran mengungkapkan bahwa di rumahnya pun tersedia Indomie. "Di rumah saya ada Indomie, kami suka," kata Menteri Mokhtar seperti dikutip Atase Perdagangan KBRI Kairo, Burhan Rahman, yang menerima kunjungan Menteri Agama versi Mesir itu.

Menurut beberapa warga negara Indonesia, sebelum pabrik Indomie hadir di Mesir, makanan khas Indonesia siap saji itu biasanya menjadi oleh-oleh favorit bagi WNI yang baru kembali dari Tanah Air maupun dari ibadah haji atau umrah di Arab Saudi.

Pesatnya perkembangan Indomie di Negeri Lembah Nil ini tidak terlepas dari gencarnya promosi.Mie instan menjadi produk paling diminati konsumen Indonesia. Sesuai dengan riset WorldPanel Indonesia, Indomie dan Mie Sedaap menempati peringkat pertama dan kedua pada merek-merek industri fast moving consumer good (FMCG).

Fanny Murhayati, New Business Development Director Worldpanel Indonesia mengatakan, konsumen Indonesia adalah konsumen tersibuk jika dibanding dengan konsumen negara lain. Selama setahun, konsumen Indonesia bisa berbelanja 400 kali atau sekitar 31 kali dalam sebulan. Hal itu menunjukan betapa menggiurkannya kondisi pasar FMCG.

"Mie instan diminati karena masyarakat Indonesia suka dengan produk cepat saji dan lebih praktis. Selain iu distribusinya luas. Hampir setiap toko jual Indomie ataupun Mie sedaap," kata Fanyn.  Selain karena memang jangkauan distribusi kedua merek ini sangat luas, promosi dan inovasi yang dilakukan pun sangat beragam, mulai dari iklan hingga variasi rasa yang beragam.

Sebelumnya, Ketua Asosisi Roti, Mie, dan Biskuit Sribugo menyampaikan bahwa pasar mi masih akan cerah tiap tahunnya. "Tahun ini saja bisa tumbuh 6 persen atau penjualannya bisa sampai 18 miliar bungkus," ungkap Sribugo.

Susu Frisian Flag berada di posisi ketiga. Fanny menyebutkan selain distribusinya yang juga luas, ada banyak macam jenis susu yang dijual Frisian Flag. "Jenisnya banyak ada yang kental manis, ada yang formula, ada yang susu cair, ada susu bubuk keluarga. Yang paling diminati susu cair. Praktis dan ada kemasan sachet-nya," ungkap Fanny.

Di posisi keempat dan keenam ditempati oleh Royco dan Masako. Penjualannya didukung kepraktisannya dan produk dijual dengan kemasan sachet. Misalnya, salah satu promosi berbahasa pasaran Mesir tertulis, "Aktsar min milion Masry biyakul Indomie kulli yaum" (Lebih dari satu juta warga Mesir menyantap Indomie

Bank Mayora Naik Kelas Dengan Modal Inti Diatas Rp. 1 Triliun

Meski bakal naik kelas pada kuartal kedua 2015 menjadi Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) II atau bank dengan modal inti Rp 1 triliun sampai dengan kurang dari Rp 5 triliun, Bank Mayora tetap fokus di bisnis ritel. Presiden Direktur Bank Mayora Irfanto Oeij mengatakan hal itu usai melakukan penandatanganan kerja sama dengan Presiden Direktur Waringin Hospitality Hotel Group Herry Suwandi di Lemo Hotel 88 di kawasan Legok, Serpong, Kabupaten Tangerang, Sabtu (28/3/2015). "Kami punya latar belakang mengapa fokus di ritel," tuturnya.

Menurut Irfanto, Bank Mayora, memang menjadi bagian dari bisnis Grup Mayora, perusahaan yang bergerak di bidang ritel produk-produk makanan dan minuman. Irfanto menjelaskan pihaknya mengikuti peraturan Batas Maksimum Pemberian Kredit Otoritas Jasa Keuangan (BMPK OJK). Peraturan ini membatasi BMPK hanya sepuluh persen dari modal disetor. Berpijak pada peraturan itu, papar Irfanto, pihaknya tidak membiayai Grup Mayora. "Kami membiayai para distributor di bawah naungan Grup Mayora," tuturnya sembari menambahkan bahwa aktivitas bisnis Grup Mayora sudah sejak 1950-an berkembang hingga kini.

Irfanto menambahkan sepanjang 2014 silam, pihaknya mengucurkan dana kredit di kisaran Rp 3 triliun. Dari jumlah itu, porsi 50 persen lebih menjadi bagian pembiayaan sektor ritel, utamanya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).  Tahun ini, Bank Mayora menambah kucuran total kreditnya menjadi sekitar Rp 4 triliun. Lantaran itulah, kata Irfanto, pihaknya juga meningkatkan porsi pembiayaan sektor ritel UMKM hingga menyentuh angka lebih dari 70 persen.

Sebelumnya, pada 10 Maret 2015, Bank Mayora menandatangani perjanjian kerja sama strategis dengan International Finance Corporation (IFC). Melalui kerja sama ini, IFC menginvestasikan sebesar lebih dari 22 juta dollar AS ke dalam penyertaan saham baru yang diterbitkan Bank Mayora. Bank Mayora akan menggunakan dana itu untuk memperkuat modal inti, bisnis, serta jaringan.

Lebih lanjut Irfanto menambahkan setelah UMKM, kredit pihaknya juga membidik sektor kredit konsumtif. Angkanya mencapai delapan persen. Kredit sebesar itulah yang dimanfaatkan Bank Mayora untuk pengembangan pembiayaan bidang pengembangan usaha perhotelan seperti kerja sama dengan Waringin Hospitality Hotel Group tersebut.

Dalam kesempatan itu pula, Bank Mayora bekerja sama dengan Asosiasi Perusahaan dan Konsultan Telematika Indonesia (Aspekti) untuk pemberian fasilitas perbankan dan promosi. Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Aspekti Laode M Kamaludin menandatangani perjanjian kerja sama itu.

Catatan dari Herry Suwandi menunjukkan hotel yang terletak dekat dengan kawasan perumahan Gading Serpong itu punya 62 kamar bertipe superior. Hotel ketujuh dari Grup Hotel 88 yang berada di bawah naungan Waringin Hospitality Hotel Group ini juga punya tiga ruang pertemuan berkapasitas masing-masing 40 orang. Lalu, ada pula satu ballroom berkapasitas 300 orang.

Mendapat izin pemerintah sebagai Bank Pelaksana Penyaluran Dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) mulai 22 Januari 2015, Bank Mayora mematok target pembiayaan Rp 50 miliar. Sementara itu, target Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bank yang menjadi anak usaha Mayora Group itu diharapkan bisa tumbuh 18 persen ketimbang periode 2014.

Program FLPP adalah dukungan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan kepada masyarakat berpenghasilan rendah untuk pembelian rumah tapak (KPR Sejahtera Tapak) dan rumah susun (KPR Sejahtera Susun). Menurut siaran pers yang diterima kemarin, pemerintah menunjuk 17 bank, termasuk Bank Mayora, menjadi bank pelaksana tersebut. Bank Mayora dipercaya karena dinilai telah memiliki kesiapan infrastruktur, jaringan, dan sumber daya manusia yang memadai. “Kami gembira bisa mengambil bagian dalam program FLPP tahun ini sehingga bisa berpartisipasi dalam menyediakan hunian yang layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah,” ujar Irfanto Oeij, Direktur Utama Bank Mayora.

Untuk tahap awal penyaluran FLPP, Bank Mayora akan mengoptimalisasikan potensi dari existing customer, yakni nasabah dari grup. “Kami berharap, masyarakat yang berpenghasilan rendah dapat terbantu melalui program ini untuk segera memiliki hunian karena mereka akan mendapat berbagai keringanan, seperti uang muka yang rendah, cicilan ringan dan tetap sepanjang jangka waktu kredit,” ujar Karlina Sugiarti, Kepala Bagian Produk Pembiayaan Konsumsi Bank Mayora.

Kriteria penerima dana FLPP adalah masyarakat berpenghasilan maksimal Rp 4 Juta per bulan (untuk KPR Sejahtera Tapak) dan maksimal Rp 7 Juta per bulan (untuk KPR Sejahtera Susun) dan belum memiliki rumah. Proses pengajuannya cukup mudah yaitu dengan melengkapi persyaratan administratif dan memenuhi kriteria sebagai penerima dana FLPP. “Tantangan kami sekarang, karena terbilang masih pemain baru di bisnis KPR jadi perlu upaya lebih kuat untuk mempromosikan produk KPR kami ke masyarakat luas dengan cara mengemas penawaran produk yang lebih bersaing” terang Karlina.

Catatan dari laman bankmayora.com menunjukkan, pada periode Januari-September 2014, Bank Mayora mencatatkan pertumbuhan laba mencapai 258,25 persen menjadi Rp 10,89 miliar jika dibandingkan dengan pencapaian pada 2013. Lantaran itulah, manajemen optimistis melangkah maju dari kategori Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) I menjadi BUKU II atau bank umum dengan modal inti Rp 1 triliun sampai dengan kurang dari Rp 5 triliun pada tahun ini.

Sementara itu, dalam acara Anugerah Perbankan Indonesia 2014 (API) dari Majalah Economic Review bekerja sama dengan Perbanas Institute pada November 2014, Direktur Utama Bank Mayora Irfanto Oeij mendapat penghargaan sebagai The Most Analytical CEO 2014 untuk kategori Bank Buku I.

Penetapan Harga Keekonomian BBM Dinilai Tidak Transparan

Direktur Eksekutif Indonesian Resource Studies (IRESS) Marwan Batubara menilai pemerintah tidak transparan dalam menentukan harga keekonomian bahan bakar minyak (BBM). Karena hal itu, dia menilai wajar apabila banyak masyarakat yang curiga penentuan harga BBM masih syarat praktik manipulatif. "Kalau tidak dibuka (perhitungan untuk menentukan harga BBM itu), maka jangan salahkan masyarakat kalau masyarakat nilai ada yang ditilep," ujar Marwan di Jakarta, Sabtu (28/3/2015).

Menurut Marwan, pemerintah saat ini tak melakukan perbaikan dalam hal transparasi penentuan harga BBM kepada masyarakat. Berbagai formula perhitungan harga BBM pun tak pernah dipublikasikan.  Dia heran, awalnya pembentukan tim anti mafia migas memunculkan optimistis bahwa usul mafia migas bisa terbongkar dan penentuan harga BBM bisa transparan. Tapi nyatanya, sampai saat ini tak ada perubahan itu.

"Yang saat ini masih gelap itu penentuan harga BBm. Dulu katanya Petral mau dibubarkan, terus kewenangan impor dialihkan kepada ISC (Integrated Supply Chain) tapi tetap tidak transparan, tak dibuka ke publik," kata dia.  Oleh karena itu, dia meminta pemerintah untuk lebih transparan dan membuka ke publik formula hitungan harga BBM tersebut. Bahkan, kalau perlu angka-angka yang menjadi dasar pemerintah menetapkan harga BBM juga dipublikasikan.

Sebelumnya, Pemerintah melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan premium untuk Wilayah Penugasan luar Pulau Jawa, Pulau Madura, dan Pulau Bali (Jamali), naik masing-masing Rp 500 per liter dari harga lama.Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Anthonius Tony Prasetiantono mengusulkan agar perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) dilakukan setiap enam bulan sekali jangan seperti saat ini. Pemerintah mengubah harga BBM setiap bulan. 

Menurut Tony, saat ini pasar selalu gonjang-ganjing karena kebijakan perubahan BBM itu. "Saya usul enam bulan sekali. Kalau tiga bulan terlalu cepat, satu tahun kelamaan," ujar Tony di Jakarta, Sabtu (28/3/2015).  Dia menjelaskan, kebijakan perubahan harga BBM enam bulan sekali diyakini tak akan membuat pasar gonjang-ganjing. Apalagi kata Tony, pengusaha di Indonesia terlalu responsif dengan langsung menaikan harga produknya setiap kali mendengar adanya kabar kenaikan BBM. Sementara saat BBM turun, para pengusaha tak menurunkan harga barang yang sudah telanjur naik.

Meski begitu kata Tony, usulannya tersebut bukan tak memiliki risiko. Pasalnya, apabila harga minyak dunia lebih tinggi dari asumsi pemerintah dalam menentukan harga BBM dalam negeri di jangka waktu tersebut, pemerintah harus nombok. Tahun lalu, subsidi pemerintah untuk BBM mencapai Rp 270 triliun.

Sebelumnya, pemerintah menaikkan harga BBM jenis solar dan premium untuk Wilayah Penugasan luar Pulau Jawa, Pulau Madura, dan Pulau Bali (Jamali), masing-masing Rp 500 per liter dari harga lama. Pelaksana Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), IGN Wiratmadja Puja mengatakan, harga solar naik menjadi Rp 6.900 per liter dari Rp 6.400 per liter.

Sementara itu, harga bensin Premium RON 88 naik menjadi Rp 7.300 per liter dari harga Rp 6.800 per liter. Wira menuturkan, keputusan tersebut diambil terutama atas dinamika dan perkembangan harga minyak dunia dan akan berlaku pada Sabtu (28/3/2015) mulai pukul 00.00 WIB.

Direktur Eksekutif Institute Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai, keputusan pemerintah kembali menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sebagai bukti tak adanya konsep manajemen pengelolaan ekonomi yang baik. Bahkan, Enny mengeritik manejemen yang diterapkan pemerintah itu sama saja seperti manajemen warung kopi.

"Semakin tidak jelas mengelola negara. Ini manajemen warkop," ujar Enny saat dihubungi  Jakarta, Jumat (27/3/2015). Dia menjelaskan, gaya pemerintah mengelola negara, terutama ekonomi saat ini, cenderung reaktif dan hanya berorientasi jangka pendek. Salah satu kebijakan yang dinilai Enny reaktif adalah penghapusan subsidi BBM.

Menurut Enny, kebijakan penghapusan subsidi BBM membuat harga BBM dilempar ke harga pasar. Akibatnya, harga BBM naik-turun dengan mudah karena mengacu harga minyak dunia yang berfluktuasi. Apalagi kata dia, pengelolaan negara yang dilakukan pemerintah tak memiliki konsep yang jelas.Bahkan, Enny menyebut pemerintah tak memiliki perencanaan kebijakan yang baik. Hal itu yang dinilai Enny sama dengan cara mengelola ala warkop yang terbilang sederhana.

"Karena dengan menghapus subsidi kan artinya tidak memperhitungkan secara komprehensif. Kita setuju pengurangan subsidi tapi kan kalau seperti ini tidak rasional," kata dia.Pemerintah melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan premium untuk Wilayah Penugasan luar Pulau Jawa, Pulau Madura, dan Pulau Bali (Jamali), naik masing-masing Rp 500 per liter dari harga lama.

Pelaksana Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), IGN Wiratmaja Puja mengatakan, harga solar naik menjadi Rp 6.900 per liter dari Rp 6.400 per liter. Sementara itu, harga bensin Premium RON 88 naik menjadi Rp 7.300 per liter dari harga Rp 6.800 per liter.

Wira menuturkan, keputusan tersebut diambil terutama atas dinamika dan perkembangan harga minyak dunia dan akan berlaku pada Sabtu (28/3/2015) mulai pukul 00.00 WIB. Adapun untuk wilayah Jawa, Madura dan Bali, harga BBM jenis premium naik menjadi Rp 7.400 per liter dari harga awal Rp 6.900 per liter. Harga solar di Jamali sama dengan yang ditetapkan di luar Jamali, yaitu Rp 6.900 per liter

Gurihnya Bisnis Emas Di Gunung Botak Maluku

Matahari bersinar terik di kota Namlea, ibu kota pulau Buru, Maluku, saat saya menelusuri kota tersebut bulan Maret 2015. Di kanan-kiri jalan saya melihat banyak papan bertuliskan "jual emas". Pemandangan serupa, saya temui ketika saya berada di beberapa desa berbeda di pulau Buru.

Saya akhirnya bertemu dengan Mahani, seorang wanita paruh baya. Mahani menjelaskan bahwa dia dulu merupakan seorang petani minyak kayu putih, namun sejak tiga tahun terakhir menjadi seorang penambang emas di gunung Botak. Pulau yang dahulu lebih dikenal sebagai produsen minyak kayu putih itu empat tahun terakhir memang berubah menjadi menjadi tempat penghasil emas.

Semua berawal dari mimpi seorang penduduk bahwa di suatu lokasi bernama gunung Botak, terdapat emas. Warga pada tahun 2011 berbondong-bondong menggali daerah tersebut dan menemukan bahwa emas nyata ada di gunung Botak.

Kini Mahani dan puluhan ribu orang di pulau Buru beralih profesi dari umumnya seorang petani minyak kayu putih, menjadi penambang emas, karena alasan yang dikemukakan oleh Mahani. "Kalau jadi penambang emas itu dapat lebih daripada menjadi seorang petani minyak kayu putih. Karena satu hari itu bisa mendapatkan hasil per gram, harganya Rp385.000,00. Karena ibu ini orang susah, demi anak-anak dapat bersekolah," jelas Mahani.

Selain Mahani yang memang merupakan penduduk pulau Buru, banyak warga dari luar pulau Buru mengadu nasib untuk menjadi penambang emas di gunung Botak. Hal ini kemudian menimbulkan konflik antar warga yang tidak jarang berakibat pada kematian. Pemerintah sudah berusaha menutup gunung botak, namun usaha tersebut belum membuahkan hasil.

Warga terus mencari emas. Trisno asal Jakarta adalah salah satunya. Meski demikian, Trisno menjadi penambang emas di lokasi lain di pulau Buru bernama Gogorea. "Bos saya dulu usahanya di gunung Botak. Nah, akhirnya pasca kerusuhan yang terakhir itu, semua tromol yang ada di gunung Botak dipindahkan ke Gogorea. Akhirnya, saya yang tadinya di Jakarta, belum pernah kerja di tambang sama sekali, disuruh bos untuk pindah ke Gogorea," kata Trisno.

Trisno mengaku sebelumnya merupakan pegawai pemasaran air kemasan di Jakarta, ketika atasannya menugaskan dia untuk menjadi penambang emas di Gogorea. Dia pun terpaksa belajar banyak mengenai emas. Namun setelah para penambang emas mendapatkan emas, apa yang sebenarnya terjadi dengan emas tersebut?

Sepulang dari perjalanan saya di pulau Buru, saya berbincang-bincang dengan Nur Octavhiani, seorang penjual emas di pusat perbelanjaan Cempaka Putih, Jakarta. Dia sudah sekitar 10 tahun berjualan emas. Vhia, begitu Nur Octavhiani kerap disapa, menjelaskan asal emas yang dia jual.

"Kalau saya pribadi ambil barang dari (penjual). Dan -nya itu sendiri biasanya ngambil dari pabrik-pabrik. Pabriknya mulai dari yang ada di Surabaya, Bandung, Jakarta sampai dari Kendari, Makassar."

Berjualan emas merupakan bisnis keluarga Vhia sejak puluhan tahun. Dalam satu bulan, toko milik keluarga Vhia dapat meraih keuntungan sekitar 30-50 juta Rupiah. Meski merupakan seorang sarjana ekonomi manajemen, Vhia memutuskan untuk tetap mengikuti usaha keluarganya berjualan emas karena bisnis emas menjanjikan.

Dia pun mengaku ilmu yang ia peroleh di bangku kuliah berguna untuk mengelola toko emasnya.

Friday, March 27, 2015

Astindo Fair 2015 Incar Transaksi Rp. 100 Milyar Dari Penjualan Tiket Pesawat

Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan (Astindo) menargetkan bisa meraup total transaksi Rp 100 miliar selama Astindo Fair 2015 digelar di Jakarta International Expo Kemayoran.

Pameran yang digelar pada 27-29 Maret 2015 itu memasang target untuk menarik 85 ribu pengunjung. "Naik 10 persen dibanding pameran tahun lalu," kata Ketua Astindo Elly Hutabarat di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat, 27 Maret 2015.

Untuk mengejar target itu, kata Elly, sebanyak 51 agen wisata, 13 maskapai, 17 badan promosi pariwisata internasional dan domestik, serta sejumlah perusahaan pendukung pariwisata akan menawarkan berbagai paket dan diskon.

Menurut Elly, besaran diskon dan cashback yang ditawarkan ke pengunjung pameran banyak ragamnya."Ada yang kasih diskon 10 persen, 20 persen, dan macam-macam. Harga tiket dari maskapai, akomodasi dari hotel. Travel agent meracik jadi satu paket," kata dia.

Adapun tiga belas maskapai yang bekerja sama dalam pameran ini di antaranya All Nippon Airways, Cathay Pacific Airways, China Airlines, Qantas Airways, Qatar Airways, Saudi Arabia Airlines, Singapore Airlines, Thai Airways, dan Turkish Airlines.

Sementara badan promosi pariwisata yang turut antara lain Cina, Dubai, Fiji, Hong Kong, Jepang, Kalimantan Timur, Keraton Kasepuhan Cirebon, Tanjung Lesung, Korea Selatan, Lombok, Macau, Selandia Baru, Filipina, Sabah, Sarawak, Thailand, dan Turki.

Lippo Karawaci Tbk Bukukan Laba Bersih Rp. 2,55 Triliun dan Naik 107 Persen

PT Lippo Karawaci Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,55 triliun pada 2014 atau naik 107 persen dibanding laba tahun lalu Rp 1,23 triliun. Adapun pendapatan perusahaan properti milik Lippo Group ini tercatat naik 75 persen dari Rp 6,66 triliun pada 2013 menjadi Rp 11,66 triliun pada 2014.

Presiden Direktur Lippo Karawaci Ketut Budi Wijaya mengatakan salah satu pendorong naiknya pendapatan perusahaannya adalah penjualan Mal Kemang ke perusahaan afiliasinya, Lippo Mall Indonesia Retail Trust, senilai Rp 3,37 triliun. Dari penjualan ini, Divisi Urban Development menyumbangkan pendapatan Rp 5,65 triliun.

Naiknya pendapatan perusahaan berkode saham LPKR ini juga didorong oleh pertumbuhan Divisi Healthcare yang naik 33 persen. Pada 2014, divisi ini menyumbang pendapatan Rp 3,34 triliun.

"Divisi Healthcare LPKR sudah berada di jalur yang tepat. Tahun ini, kami akan membuka enam rumah sakit dan empat Siloam Express lagi," kata Ketut Budi Wijaya di Jakarta, Jumat, 27 Maret 2015.

Sepanjang 2014, Siloam telah menambah empat rumah sakit. Dengan demikian, hingga akhir 2014 Siloam telah mengoperasikan 20 rumah sakit.

Harga Premium dan Solar Naik Kembali

Pemerintah menetapkan harga baru bahan bakar minyak (BBM) mulai Sabtu, 28 Maret 2015, pukul 00.00. Kenaikan ini diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 4 Tahun 2015 tentang perhitungan harga jual eceran bahan bakar. "Jika dilihat dengan meningkatnya rata-rata harga minyak dunia dan masih berfluktuasinya serta melemahnya nilai tukar rupiah dalam satu bulan terakhir, harga jual eceran BBM secara umum perlu dinaikkan," ujar pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, I Gusti Nyoman Wiratmaja, melalui siaran pers pada Jumat, 27 Maret 2015.

Keputusan ini diambil untuk menjaga kestabilan perekonomian nasional serta menjamin ketersediaan BBM secara nasional. Pemerintah memutuskan BBM jenis Premium dan solar bersubsidi di wilayah penugasan luar Jawa-Madura-Bali mengalami kenaikan harga, masing-masing sebesar Rp 500 per liter. Sedangkan harga minyak tanah dinyatakan tetap, yaitu Rp 2.500 per liter.

Artinya, kini harga solar menjadi Rp 6.900 per liter, sementara Premium Rp 7.300 per liter. Ekonom Enny Sri Hartati mengatakan kenaikan ini akan mempengaruhi inflasi serta daya beli masyarakat Indonesia yang tengah mengalami banyak guncangan ekonomi. "Sudah dipukul depresiasi rupiah, lalu harga BBM naik, daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya," katanya saat dihubungi pada Jumat, 27 Maret 2015.

Meski belum akan tampak dalam inflasi bulan Maret, pengaruh kenaikan harga BBM akan mulai muncul pada April 2015. Enny mengaku belum bisa memperkirakan jumlah kenaikan inflasi. Namun, dia mengatakan, bila pemerintah tidak melakukan sesuatu untuk memulihkan daya beli masyarakat dan kenaikan inflasi terus terjadi setiap bulan, target pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan tak tercapai.

"Bagaimana bisa, investasi saja belum mulai tampak," katanya. Pemerintah harus cepat menstabilkan kembali daya beli masyarakat dan menggenjot investasi agar target pertumbuhan ekonomi 5,7 persen dapat tercapai. Pemerintah melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai Sabtu, 28 Maret 2015 pukul 00.00 dan menjamin, stok pertamina aman. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral I Gusti Wiratmaja memastikan, kenaikan harga Bahan Bakar Mineral jenis premium dan solar untuk wilayah luar Jawa, Madura dan Bali. " Kenaikan masing-masing Rp 500 per liter," kata Gusti Wiratmaja dalam keterangan tertulisnya yang diterima , Jumat 27 Maret 2015. 

Dengan kenaikkan ini, harga Premium Ron 88 akan menjadi Rp 7,300 per liter. Sedangkan Solar, akan menjadi Rp 6,900 per liter. “Pemerintah memutuskan wilayah tersebut perlu mengalami kenaikkan harga,” ujar dia. Harga premium sebelumnya ada Rp6.800 per liter sedangkan solar Rp6.400 per liter.

Sedangkan, untuk harga Premium dan Solar di wilayah Jawa, Madura, dan Bali, PT Pertamina Persero menyatakan akan menaikkan harga baru per Bulan April mendatang. “Itu perhitungan kami sejak awal Maret hingga sekarang,” ujar Wianda, kemarin. Khusus untuk solar, kata dia, harga itu belum termasuk subsidi tetap Rp 1.000 per liter. “Untuk premium kan sudah tak ada harga subsidi lagi.”

PT Pertamina (Persero) telah menghitung harga keekonomian bahan bakar minyak (BBM) dengan memperhatikan perkembangan harga minyak mentah dan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS selama hampir sebulan ini. Juru bicara Pertamina, Wianda Pusponegoro, menyebutkan, harga keekonomian premium dan solar di bulan mendatang sebesar Rp 8.200 dan Rp 7.450 per liter.

Pemerintah menaikkan harga jual eceran bahan bakar minyak (BBM) untuk jenis premium dan solar subsidi di wilayah luar Jawa, Madura dan Bali per tanggal 28 Maret 2015 pukul 00.00 WIB. Harga premium dan solar masing-masing dinaikkan sebesar Rp 500 per liter menjadi Rp 7.300 dan Rp 6.900 per liter. Sedangkan untuk harga minyak tanah tetap Rp 2.500 per liter (termasuk PPN).

“Keputusan pemerintah ini diambil setelah memperhatikan dinamika harga minyak dunia dan masih berfluktuasi serta melemahnya nilai tukar rupiah dalam satu bulan terakhir,” ujar Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, I Gusti Nyoman Wiratmaja, seperti dikutip dari rilis, Jumat malam, 27 Maret 2015.

Untuk menjaga akuntabilitas publik, auditor pemerintah maupun Badan Pemeriksa Keuangan dilibatkan. Audit itu mencakup realisasi volume pendistribusian jenis BBM tertentu, penugasan khusus, besaran harga dasar, biaya penugasan pada periode yang telah ditetapkan, besaran subsidi, hingga pemanfaatan selisih-lebih dari harga jual eceran.

Sebelumnya PT Pertamina (Persero) menyatakan harga keekonomian premium dan solar pada bulan mendatang sebesar Rp 8.200 dan Rp 7.450 per liter. Harga keekonomian itu memperhatikan harga minyak di pasar Singapura (MoPS), Februari lalu, tercatat mencapai US$ 62-74 per barel untuk minyak jenis gasoil (solar) dan US$ 55-70 untuk jenis Premium. Adapun kurs rupiah sepanjang Maret ini berkisar 13 ribu per dolar AS.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Enny Sri Hartati, memperkirakan kenaikan harga BBM ini akan memicu inflasi dan mengganggu daya beli masyarakat. “Bila tidak ada langkah konkret pemerintah untuk memulihkan daya beli masyarakat, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7 persen tahun ini sulit tercapai,” katanya ketika dihubungi.