Pages - Menu

Tuesday, April 28, 2015

Astra International Rekrut 2 Menteri Kabinet Jokowi Untuk Jadi Komisaris

Dua menteri kabinet Indonesia Bersatu, yakni Muhamad Chatib Basri dan Mari Elka Pangestu masuk ke dalam jajaran komisaris PT Astra International Tbk (ASII). Selain mereka, ada juga Kyoichi Tanada. Ketiganya menduduki jabatan sebagai komisaris independen. Presiden Direktur ASII Prijono Sugiarto mengatakan, ketiga komisaris independen baru itu menggantikan Erry Firmansyah, Siemandi D.M Brotodiningrat dan Hisayuki Inoeue.

"Masa jabatan terhitung sejak perubahan anggaran dasar (AD) terkait jabatan dewan komisaris belraku efektif sampai berakhirnya jangka waktu ditentukan AD perseroan," ujarnya, Selasa (28/4/2014). Adapun, masa jabatan tiga komisaris baru ASII tersebut habis pada 2018 mendatang. Selain itu, rapat umum pemegang saham (RUPS) juga mengangkat Gunawan Geniusahardja dan Djony Bunarto masing-masing sebagai Direktur Independen dan Direktur ASII.

Berikut susunan anggota direksi dan dewan komisaris perseroan:

Dewan Komisaris:
1. Presiden Komisaris: Budi Setiadharma
2. Komisaris Independen: Sidharta Utama
3. Komisaris Independen: Mari Elka Pangestu
4. Komisaris Independen: Muhamad Chatib Basri
5. Komisaris Independen: Kyoichi Tanada
6. Komisaris: Anthony John Liddell Nightingale
7. Komisaris: Benjamin William Keswick
8. Komisaris: Mark Spencer Greenberg
9. Komisaris: Chiew Sin Cheok
10. Komisaris: Jonathan Chang
11. Komisaris: David Alexander Newbigging.

Dewan Direksi:
1. Presiden Direktur: Prijono Sugiarto
2. Direktur Independen: Gunawan Geniushardja
3. Direktur: Djoko Pranoto
4. Direktur: Widya Wiryawan
5. Direktur: Sudirman Maman Rusdi
6. Direktur: Simon Collier Dixon
7. Direktur: Johannes Loman
8. Direktur: Suparno Djasmin
9. Direktur: Bambang Widjanarko Santoso
10. Direktur: Djony Bunarto Tjondro.

PT Astra International Tbk membagikan dividen sebesar Rp 8,74 triliun kepada pemegang saham, atau Rp 216 per saham. Jumlah itu setara dengan 45,56 persen dari total laba bersih tahun lalu Rp 19,18 triliun. Manajemen Astra International dalam keterangan resminya, Selasa (28/4/2015) menyebutkan, jumlah itu memperhitungkan dividen interim sebesar Rp 64 setiap saham yang telah dibayarkan pada tanggal 31 Oktober 2014.

"Sehingga selebihnya sebesar Rp 152 setiap saham akan dibayarkan pada tanggal 29 Mei 2015 kepada pemegang saham Perseroan yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham perseroan pada tanggal 11 Mei 2015 pada pukul 16:00 WIB," tulis manajemen. Sementara itu, sisa laba bersih sebesar Rp 10,43 triliun dibukukan sebagai laba ditahan perseroan.

PT Astra International Tbk (ASII) terlihat konservatif di seluruh lini bisnisnya. Hal ini tercermin dari realisasi belanja modal perseroan. Head of Investor Relations Astra International, Tira Ardianti mengatakan, hingga Kuartal III 2014, ASII baru menyerap belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 9,6 triliun dari target belanja modal akhir tahun sebesar Rp 16 triliun.

Karena itulah, Tira tak yakin ASII akan menyerap belanja modal seluruhnya. Pasalnya, beberapa bisnis ASII seperti bisnis alat berat juga tengah mengalami perlambatan. Dalam dua tahun terakhir ASII juga tak menghabiskan seluruh anggaran modal. Perseroan hanya menyerap capex sebesar Rp 11,9 triliun pada tahun 2013. Sehingga, pada tahun ini, ASII diperkirakan hanya menyerap belanja modal sebesar Rp 12 triliun.

Belanja modal tahun ini lebih banyak dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, seperti penyelesaian jalan tol Mojokerto-Kertosono. Sementara sebesar 24 persen dipakai untuk mengembangkan bisnis otomotif. "Jadi belanja modal akan dialihkan ke tahun depan," jelasnya, akhir pekan lalu. Informasi saja, belum lama ini ASII resmi mengoperasikan ruas tol Mojokerto-Kertosono. Ruas ini dibagi menjadi empat seksi. Per akhir September 2014, lahan yang telah dibebaskan untuk seksi II sekitar 82,53 persen dan yang sudah dalam tahap pembangunan sekitar 47,5 persen.

Sementara, untuk seksi III dan IV masing-masing lahan yang telah dibebaskan sekitar 86,75 persen dan 79,41 persen. Adapun, proses konstruksi di seksi III baru sekitar 7,7 persen. ASII mengestimasi, pembangunan ruas tol sepanjang 40,5 km ini menghabiskan biaya sekitar 350 juta dollar AS

BCA Beri Pinjaman Rp 806 Miliar ke Dharma Satya Nusantara

Perusahaan perkebunan, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dan 11 anak usahanya memperoleh fasilitas pinjaman sebesar Rp 806,12 miliar dari PT Bank Central Asia Tbk.

Djojo Boentoro, Direktur Utama Dharma Satya Nusantara, mengatakan fasilitas pinjaman BCA tersebut memiliki jangka waktu pengembalian maksimal 10 tahun. “Fasilitas pinjaman yang diberikan Bank BCA rencananya akan digunakan untuk investasi oleh perseroan dan anak usaha,” ujarnya dalam keterangan tertulis kepada Bursa Efek Indonesia, Selasa (28/4).

Sebelas anak usaha perseroan yang ikut menandatangani fasilitas pinjaman BCA tersebut meiliputi PT Swakarsa Sinarsentosa, PT Dharma Agrotama Nusantara, PT Dharma Intisawit Nugraha, PT Dewata Sawit Nusantara, PT Pilar Wanapersada, PT Karya Prima Agro Sejahtera, PT Dharma Intisawit Lestari, PT Putra Utama Lestari, PT Dharma Persada Sejahtera, PT Kencana Alam Permai, dan PT Prima Sawit Andalan.

Sebagai informasi, Dharma Satya meraih laba bersih Rp 649,69 miliar sepanjang 2014 atau tumbuh 219,77 persen dari perolehan 2013 yang sebesar Rp 203,17 miliar. Penjualan perseroan pada tahun lalu tercatat sebesar Rp 4,89 triliun, tumbuh 27,34 persen dibanding perolehan Rp 3,84 triliun.

Kenaikan laba bersih tersebut selaras dengan peningkatan beban pokok perseroan yang naik 20 persen menjadi Rp 3,18 triliun pada tahun lalu, dari beban pokok 2013 yang sebesar Rp 2,65 triliun.

Dari sisi kekayaan, total aset perseroan per 31 Desember 2014 sebesar 7,17 triliun, melonjak dari periode tahun sebelumnya Rp 5,92 triliun. Liabilitas mencapai Rp 4,88 triliun dari Rp 4,24 triliun dengan ekuitas Rp 2,29 triliun dari Rp 1,67 triliun.

Garuda Indonesia Bermitra Dengan 4 Bank Besar Untuk Lakukan Cash Management

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. bekerja sama cash management dengan empat bank besar. Kerjasama itu dilakukan dengan penandatanganan perjanjian oleh Direktur Utama Garuda Indonesia M. Arif Wibowo, bersama sama Deputi Presiden Direktur BRI Sunarso , Presiden Direktur BII, Taswin Zakaria, Chief Executive Officer Standard Chartered Bank, Shee Tse Koon, dan Head of Corporate & Investment Banking Citi Indonesia, Gioshia Ralie di Gedung Garuda Indonesia, jalan Kebon Sirih, No. 44, Jakarta pada Selasa (28/4/2015).

Melalui kerjasama ini, Garuda Indonesia menunjuk keempat institusi perbankan tersebut untuk melakukan pengelolaan kas perseroan secara real time, online dan terintegrasi, yang meliputi penyediaan sistem fasilitas ca sh management berupa fasilitas Automatic Payment & Automatic Posting (host to host system), Electronic Payment Tax (e-tax), dan fasilitas perbankan lainnya.

Direktur Utama Garuda Indonesia M. Arif Wibowo mengatakan bahwa penunjukan keempat institusi perbankan tersebut didasarkan pada komitmen, dukungan, serta kontribusi yang telah terjalin dengan baik antar-korporasi, baik melalui berbagai pengembangan kerjasama perbankan seperti fasilitas pinjaman bilateral, sindikasi hingga kerjasama hedging cross currency swap.

Kerja sama tersebut akan dilaksanakan dalam jangka waktu hingga tiga tahun, dan implementasi kerjasama tersebut meliputi pengelolaan cash management Garuda Indonesia di kantor pusat maupun kantor cabang.

"Penandatanganan kerjasama cash management dengan keempat institusi perbankan tersebut merupakan bagian dari komitmen Perseroan untuk secara berkelanjutan melaksanakan strategi Quick Win untuk kembali rebound di tengah tantangan yang dihadapi industri penerbangan saat ini," ujarnya dalam siaran pers yang diterima . Garuda Indonesia melaksanakan strategi jangka pendek yakni Quick Wins untuk rebound pada 2015 di tengah kondisi industri penerbangan-bukan saja domestik namun juga global yang dewasa ini sedang mengalami turbulensi.

Dia menuturkan dalam upaya mengatasi berbagai kondisi tersebut serta sebagai bagian dari program pengembangan perusahaan ke depan, program Quick Wins dilakukan melalui tiga strategi utama, yakni dengan meningkatan revenue generator di mana seluruh potensi yang dapat meningkatkan revenue perusahaan akan dimaksimalkan.

Selain itu, melakukan restrukturisasi cost driver, di mana Garuda akan melakukan penataan dan restrukturisasi biaya sehingga dapat dicapai efisiensi yang tinggi tanpa mengurangi kualitas pelayanan yang diberikan. "Yang terakhir kami lakukan kegiatan reprofiling, melalui berbagai langkah dan strategi menyangkut aspek keuangan sehingga kondisi finansial perusahaan terjaga," kata Arif.

Direktur Keuangan, Risiko, dan Teknologi Informasi Garuda Indonesia I.G.N. Askhara Danadiputra menuturkan adanya kerjasama ini dapat mendukung upaya perseroan dalam penataan pengelolaan kas yang lebih terkontrol secara real time, online dan terintegrasi, melalui sistem fasilitas cash management yang dimiliki keempat institusi perbankan tersebut.

"Dengan keunggulan platform dan sistem fasilitas cash management yang dimiliki masing-masing institusi perbankan tersebut, kami harapkan akan semakin mempermudah proses transaksi bisnis secara efektif dan efisien," ucapnya. Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu mengatakan PT Garuda Indonesia (Persero) memiliki prospek bisnis yang cerah di bawah kendali Arif Wibowo selaku Direktur Utama yang baru. Pekerjaan rumah Arif, kata Said, adalah melakukan efisiensi untuk memperkecil biaya produksi.

"Beberapa waktu terakhir, biaya produksi dan revenue Garuda tidak seimbang. Itu karena tidak efisien," kata Said. Hal pertama yang perlu dilakukan Arif, kata Said, adalah meningkatkan utilitas pesawat milik Garuda. Saat ini, Garuda memiliki 160 pesawat yang melayani 600 penerbangan. Menurut Said armada tersebut tidak efisien karena tingkat pemuatan penumpang (load factor) Garuda masih rendah. "Sehingga biaya pengangkutan penumpang lebih besar daripada pendapatan," ujarnya.

Langkah efisiensi kedua, kata Said, adalah menata rute sesuai dengan jenis pesawat. Saat ini, Garuda Indonesia mendatangkan pesawat Boeing 777 yang berbadan lebar (wide body) dan beberapa pesawat yang berbadan kecil (narrow body). Said menyarankan agar Garuda tidak terburu-buru mendatangkan pesawat baru sebelum biaya produksi dan pendapatan seimbang. Pengadaan pesawat perlu ditunda jika belum ada pengaturan rute yang baru.

"Jika Boeing 737 sehari tidak beroperasi, perusahaan kehilangan uang Rp 3 miliar. Jika Boeing 777 tidak beroperasi, perusahaan kehilangan uang Rp 9 miliar," kata Said.

Daftar Low Budget Hotel Untuk Pebisnis Di Sudirman Thamrin Dengan Tarif Dibawah 1 Juta Per Malam

Harus ke Jakarta karena ada acara di sekitar Sudirman-Thamrin? Jika uang bukan masalah, langsung saja pesan kamar di hotel-hotel terkemuka di sepanjang jalan itu.  Namun, jika mencari hotel yang lebih murah, berfasilitas lengkap dan berlokasi di sekitar Sudirman-Thamrin, Anda bisa melirik beberapa hotel low budget di bawah ini. Berikut daftar hotel di Sudirman-Thamrin bertarif sekitar 500 ribu rupiah dengan fasilitas bisnis seperti ruang meeting dan layanan fax/fotocopy:

1. CLay Hotel Jakarta
Ini yang termurah tapi tidak murahan. Clay Hotel Jakarta berdesain mewah, elegan serta memiliki pelayanan sekelas hotel bintang lima. Cukup berjalan kaki 10 menit dari hotel, Anda bisa mencapai Stasiun Sudirman atau Bundaran Hotel Indonesia. Tiba-tiba harus kirim fax atau email? Tersedia WiFi gratis dan komputer siap pakai di lobi hotel. Tidak perlu repot cari kafe untuk meeting karena di dalam Clay Hotel Jakarta terdapat ruangmeeting dan Kedai Clay yang buka setiap hari. Hanya 530 ribu rupiah per malam (termasuk sarapan), Anda mendapat kamar berdesain modern dengan jendela berukuran besar dan fasilitas WiFi gratis, TV kabel LCD, AC, air mineral serta brankas.

2. Maxonehotels Sabang
Inilah hotel yang terdekat dengan Monas, hanya berjarak sekitar 5 menit jalan kaki. Dalam jarak 10 menit jalan kaki, Anda bisa mencapai Stasiun Gambir, Museum Nasional, kawasan Sarinah dan Balai Kota DKI Jakarta. Maxonehotels Sabang mengutamakan kenyamanan para tamu. Hal tersebut tercermin dari desain minimalis dan tata lampu redup di dalam kamar. Fasilitas antar-jemput bandara (dengan biaya tambahan) bisa disediakan sesuai permintaan Anda. Hanya dengan 550 ribu rupiah per malam, Anda bisa mendapat fasilitas kamar seperti WiFi gratis, TV kabel LCD, AC dan air mineral.

3. Amaris Hotel Thamrin City Jakarta
Murah dan strategis, lokasi hotel ini berada di pusat belanja batik terbesar, yaitu Thamrin City dan terdekat (10 menit jalan kaki) dengan Bundaran Hotel Indonesia, Mall Grand Indonesia dan Plaza Indonesia. Butuh ruang meeting? Amaris Hotel Thamrin City Jakarta bisa menyiapkannya. Tambahannya, disediakan parkir gratis jika Anda berencana membawa kendaraan ke hotel. Cukup 550 ribu rupiah per malam (termasuk sarapan), Anda mendapat banyak fasilitas di Amaris Hotel Thamrin City Jakarta, seperti WiFi gratis, TV kabel LCD, AC dan brankas di dalam kamar.

4. Prasada Mansion
Ini yang terlengkap fasilitasnya. Lokasinya berada sekitar 15 menit berkendara dari kawasan Senayan dan Stasiun Sudirman. Dengan waktu tempuh sama, Anda juga bisa mencapai Universitas Atmajaya dan Plaza Semanggi. Semuanya ada di Prasada Mansion, seperti layanan antar-jemput bandara (dengan biaya tambahan), laundry, salon, pijat refleksi, ruang fitness, ruang meeting, layanan fax/photocopy, brankas, layanan tur, restoran dan pusat mesin ATM. WiFi dan parkir tersedia gratis di dalam hotel. Dengan 569 ribu rupiah per malam (termasuk sarapan), Anda bisa menikmati berbagai fasilitas di dalam kamar seperti WiFi gratis, TV kabel LCD, AC dan meja kerja.

5. Cemara Hotel
Cemara Hotel adalah yang terdekat dengan kawasan Sarinah, hanya sekitar 5 menit berjalan kaki. Dengan berkendara sekitar 10 menit, Anda bisa mencapai Bundaran Hotel Indonesia atau Monumen Nasional (Monas). Di samping berbagai layanan yang sama dengan hotel lain, Cemara Hotel menawarkan layanan tambahan yang berbeda, yaitu spa dan pijat. Plus! Dentingan piano secara live akan menemani Anda di saat bersantai di kafe Cemara Hotel. Untuk tarif 587 ribu rupiah per malam, Anda mendapat fasilitas WiFi gratis, TV kabel LCD, air mineral, AC, brankas, minibar, mesin pembuat teh/kopi, pengering rambut dan sandal. Mau lebih murah? Jika waktu bukan masalah, hindari memesan kamar untuk akhir pekan dan hari libur panjang. Selain itu, pesanlah kamar setidaknya sebulan sebelumnya. Dengan begitu, Anda bisa mendapat harga termurah dari setiap hotel.

Untuk tahu tarif termurah tanpa tambahan ini itu, gunakan aplikasi situs seperti Traveloka, Agoda atau Tiket.com. Bahkan, tarif yang tertera di aplikasi tersebut bisa lebih murah dari harga resmi hotel. Apalagi sedang ada promo App-solutely, yang menjadikan semua hotel di Jakarta menjadi jauh lebih murah lagi.

Presiden Jokowi Sebut Indonesia Punya Hutang Pada IMF Padahal Sudah Tidak Ada

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan pernyataan Presiden Joko Widodo bahwa Indonesia masih mempunyai utang IMF salah kutip. Indonesia, kata dia, sudah tidak mempunyai utang dengan lembaga pendanaan dunia itu sejak 2006.

"Salah kutip pernyataan itu. Indonesia sudah tidak mempunyai utang di IMF," kata Bambang seusai Forum Riset Ekonomi Keuangan Syariah (FREKS) 2015 dengan tema “Menata Sistem Keuangan Syariah Nasional yang Kokoh, Stabil, dan Inklusif” di Balai Sidang UI, Selasa, 28 April 2015.

Seperti diketahui, pernyataan Presiden Joko Widodo soal ketergantungan Indonesia pada Dana Moneter Internasional (IMF) membuat Susilo Bambang Yudhoyono berkomentar. Dalam akun Twitter-nya, mantan presiden yang juga Ketua Umum Partai Demokrat itu berkomentar mengoreksi kesalahan data Presiden Jokowi.

Sambil minta maaf, SBY berkata, "Maaf Maaf, saya terpaksa mengoreksi pernyataan Presiden Jokowi ttg utang IMF yg dimuat di harian Rakyat Merdeka kemarin, tgl 27 April 2015." "Pak Jokowi mengatakan yang intinya Indonesia masih pinjam uang ke IMF. Berarti kita dianggap masih punya utang kepada IMF," kicau SBY beberapa waktu lalu.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan Indonesia sudah tak punya utang luar negeri dari Dana Moneter Internasional (IMF). Bahkan, Bambang dengan tegas mengatakan Indonesia sudah bebas dari utang IMF sejak 2006. "Sudah tak ada utang (IMF)," ujar Bambang di Universitas Indonesia, Selasa, 28 April 2015.  Bambang mengklaim tak pernah meminjam utang baru sama sekali dalam kurun sembilan tahun terakhir.

Ia tetap meyakini jika Indonesia memang sudah tak memiliki utang lagi kepada IMF. Bila ada pihak yang mengatakan Indonesia masih memiliki utang keliru. "Siapa pun yang bilang Indonesia masih memiliki utang, berarti mereka salah kutip," ujar Bambang. Pernyataan Bambang tersebut menguatkan cuit Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, yang menyatakan Indonesia telah bebas utang dari IMF.

Sebelumnya, Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menampik pernyataan mantan Presiden SBY yang mengatakan Indonesia telah bebas utang IMF. Sebab, hingga saat ini Indonesia masih membayar cicilan utang untuk dana iuran wajib keanggotaan setiap tahunnya. "Total pembayaran cicilan iuran ini dari 1999-2013 adalah Rp 35 triliun. Setiap tahun pasti ada dan dibayarkan oleh Bank Indonesia," ujar Sekretaris Jenderal Fitra Yenny Soetjipto, saat dihubungi, Selasa, 28 April 2015.

Yenny menambahkan, setiap tahun IMF, Bank Pembangunan Asia (ADB), Bank Dunia, dan lembaga keuangan Jepang untuk infrastruktur atau Japan International Cooperation Agency (JICA) datang ke Indonesia untuk menyerahkan draf perjanjian pembayaran iuran yang bernama promisory note. Besarannya dibanderol Rp 2-3 triliun dan IMF adalah penerima sekitar 80 persen dana tersebut.

Pernyataan Presiden Joko Widodo soal ketergantungan Indonesia pada Dana Moneter Internasional (IMF) membuat Susilo Bambang Yudhoyono berkomentar. Dalam akun Twitter-nya, mantan presiden yang juga Ketua Umum Partai Demokrat itu berkomentar mengoreksi kesalahan data Presiden Jokowi.

Sambil minta maaf, SBY berkata, "Maaf Maaf, saya terpaksa mengoreksi pernyataan Presiden Jokowi ttg utang IMF yg dimuat di harian Rakyat Merdeka kemarin, tgl 27 April 2015." "Pak Jokowi mengatakan yang intinya Indonesia masih pinjam uang ke IMF. Berarti kita dianggap masih punya utang kepada IMF," kicau SBY beberapa waktu lalu.

Ada sebelas kicauan SBY
  • "@SBYudhoyono: Maaf, saya terpaksa mengoreksi pernyataan Presiden Jokowi ttg utang IMF yg dimuat di harian Rakyat Merdeka kemarin, tgl 27 April 2015. *SBY*" 
  • "@SBYudhoyono: Pak Jokowi mengatakan yg intinya Indonesia masih pinjam uang ke IMF. Berarti kita dianggap masih punya utang kepada IMF. *SBY*" 
  • "@SBYudhoyono: Saya harus mengatakan bahwa pernyataan Pak Jokowi tsb salah. Indonesia sudah melunasi semua utang kpd IMF pada th 2006 lalu. *SBY*" 
  • "@SBYudhoyono: Sejak 2006, Indonesia tidak jadi pasien IMF. Tidak lagi didikte IMF. Kita merdeka & berdaulat utk merancang pembangunan ekonomi kita. *SBY* 
  • "@SBYudhoyono: Utang Indonesia ke IMF yg keseluruhannya berjumlah US $ 9,1 milyar, sisanya telah kita lunasi th 2006, 4 th lebih cepat dari jadwal. *SBY*
  • "@SBYudhoyono: Dulu, sebagai Presiden Indonesia, keputusan utk percepat pelunasan utang IMF itu saya ambil atas dasar 3 alasan penting. *SBY*
  • "@SBYudhoyono: (1) Ekonomi kita sudah tumbuh relatif tinggi; sektor riil mulai bergerak; fiskal kita aman; & cadangan devisa kita cukup kuat. *SBY* 
  • "@SBYudhoyono: (2) Kita tidak lagi didikte & minta persetujuan kpd IMF & negara-negara donor (CGI) dlm pengelolaan ekonomi, tmsk penyusunan APBN. *SBY*
  • "@SBYudhoyono: (3) Rakyat Indonesia tidak lagi dipermalukan & merasa terhina, karena kita tidak lagi menjadi pasien IMF. Bebas dari trauma masa lalu. *SBY*
  • "@SBYudhoyono: Sejak th 2007, saya (dulu sbg Presiden) menerima kunjungan 3 pemimpin IMF dgn kepala tegak. Kehormatan Indonesia telah pulih. *SBY*
  • "@SBYudhoyono: Pd kunjungan pemimpin IMF th 2012, kita diminta utk menaruh dana di IMF, utk bantu negara yg alami krisis. Tangan kita berada di atas. *SBY*"
Pernyataan Jokowi itu disampaikan dalam pidato pembukaan Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika di Jakarta pada 22 April 2015. Presiden menyerukan kebersamaan dan keadilan global bagi seluruh bangsa di dunia. Menurut Presiden, negara Asia dan Afrika harus mengusahakan sendiri tatanan ekonomi dunia baru secara bersama-sama.

"Yang mengatakan persoalan ekonomi dunia hanya dapat diselesaikan oleh Bank Dunia, IMF, dan ADB adalah pandangan yang usang dan perlu dibuang," kata Presiden. Ini, Presiden melanjutkan, merupakan salah satu langkah untuk mengubah ketidakadilan global karena segelintir negara enggan mengakui perubahan realitas dunia.

Bank Indonesia membenarkan adanya kewajiban pembayaran US$ 2,8 miliar atau sekitar Rp 36 triliun kepada Dana Moneter Internasional (IMF) oleh Indonesia. Namun, menurut BI, utang ini bukan dalam bentuk pinjaman, melainkan special drawing rights atau alokasi pinjaman yang timbul jika negara membayar iuran wajib sebagai anggota IMF.

"Itu memang konsekuensi jika ingin bergabung dengan IMF. Semua negara juga seperti itu," ujar juru bicara Bank Indonesia, Peter Jacobs, Selasa, 28 April 2015. Menurut Peter, anggota IMF yang sudah membayar iuran mendapat alokasi dana sesuai dengan kuota. Oleh pemerintah Indonesia, alokasi dari IMF itu akan dicatat sebagai bagian dari cadangan devisa.

Mekanisme ini, kata Jacobs, sudah menjadi kewajiban bagi anggota IMF sejak 2009. Karena termasuk kewajiban, alokasi itu dicatat BI di dalam pos utang luar negeri. Sebelumnya, mantan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, mengklarifikasi ucapan Presiden Joko Widodo yang mengatakan Indonesia masih berutang kepada IMF. Menurut SBY, utang Indonesia lunas pada 2006. Keterangan utang luar negeri Indonesia ke IMF tertera dalam Statistik Utang Luar Negeri Indonesia per April 2015. Data itu merangkum seluruh catatan utang oleh pemerintah, Bank Indonesia, dan swasta.

Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menampik pernyataan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengatakan Indonesia telah bebas utang dari Dana Moneter Internasional (IMF). Sebab, hingga saat ini Indonesia masih membayar cicilan utang untuk dana iuran wajib keanggotaan setiap tahunnya. "Total pembayaran cicilan iuran ini dari 1999-2013 adalah Rp 35 triliun. Setiap tahun pasti ada, dan dibayarkan oleh Bank Indonesia," ujar Sekretaris Jenderal Fitra, Yenny Soetjipto, saat dihubungi, Selasa, 28 April 2015.

Menurut Yenny, setiap tahun IMF, Bank Pembangunan Asia (ADB), Bank Dunia, dan Lembaga Keuangan Jepang untuk Infrastruktur (JICA) datang ke Indonesia untuk menyerahkan draf perjanjian pembayaran iuran yang bernama promisory note. Besarannya Rp 2-3 triliun dan IMF adalah penerima sekitar 80 persen dana tersebut.

Namun, pos ini di APBN tidak masuk dalam pengeluaran untuk pembayaran cicilan utang luar negeri. Pembayaran promisory note masuk dalam pos penyertaan modal ke lembaga keuangan internasional. Menurut Yenny, secara pos anggaran, Indonesia memang sudah tidak membayar cicilan utang luar negeri beserta bunganya ke IMF. Namun, pembiayaan seperti ini tetap dianggap Fitra sebagai utang.

Fitra berasumsi, tujuan iuran wajib adalah untuk kepentingan Indonesia supaya mendapat kemudahan pinjaman di waktu yang akan datang. Saat ini, asumsi terbukti dengan meningkatnya pinjaman luar negeri Indonesia, yang dalam APBNP 2015 mencapai Rp 700 triliun, dari 2014 sebanyak Rp 614 triliun. Pinjaman luar negeri pemerintah terbesar tahun 2015 berasal dari ADB dengan porsi 70 persen dari total pinjaman. "ADB itu kan punya dana di IMF. Jadi tetap saja, secara tidak langsung, Indonesia memang tergantung pada IMF," ucap Yenny.

Pertumbuhan Ekonomi Tetap Melambat Meskipun Investasi Cetak Rekor Tertinggi

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2105 diprediksi sulit menembus 5%. Tentunya proyeksi ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, lesunya ekonomi karena belanja pemerintah yang belum terserap di Januari-Maret 2015. Sebab Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 baru disahkan Februari.

"Belanja baru akan efektif di bulan April," tegas Bambang di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (28/4/2015) Sementara itu perlambatan ekonomi juga dialami negara-negara yang merupakan mitra perdagangan Indonesia. Sehingga berpengaruh terhadap ekspor barang dari dalam negeri. "Perlambatan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi di seluruh dunia," sebutnya.

Penyebabnya adalah, rendahnya harga komoditas yang merupakan produk unggulan ekspor Indonesia. Ditambah persoalan harga minyak yang juga memperburuk keadaan. "Ini utamanya karena harga komoditas lagi rendah. Kemudian karena harga minyak rendah ini, akhirnya harga komoditas enggak pernah rebound (naik). Dengan harga komoditas rendah, di mana indonesia sangat bergantung, itu yang membuat pertumbuhan terganggu," paparnya.

Bambang masih berharap pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5% secara tahunan. "Pokoknya saya enggak mau bikin forecast (proyeksi). kita masih berharap di kisaran 5% sampai akhir tahun. Kita enggak punya proyeksi per kuartal," pungkasnya‎. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan realisasi investasi pada kuartal I-2015 mencapai Rp 124,6 triliun atau tumbuh sebesar 16,9%. Dari realisasi tersebut tenaga kerja yang terserap dalam tiga bulan mencapai 315.229 orang.

Jumlah serapan tenaga kerja tersebut terdiri dari proyek Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebanyak 113.342 orang, dan dari proyek Penanaman Modal Asing (PMA) sebanyak 201.887 orang.

"Penyerapan tenaga kerja kuartal I-2015 sebanyak 315.229 orang meningkat dibanding kuartal I-2014 sebanyak 200 ribu," ungkap Azhar Lubis, Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM di Hotel Shangri-la, Jakarta, Selasa (28/4/2015).

Peningkatan ini, kata Azhar merupakan bagian dari besarnya investasi di padat karya. Sehingga mampu mendorong tenaga kerja bertambah cukup besar dibandingkan periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya. "Tren investasi padat modal dan padat karya sudah mulai masuk. Padat karya masuk cukup besar," terangnya. BKPM juga mencatat investasi terbesar masih berada di pulau Jawa dengan nilai Rp 69,9 T atau 56,1%.

Kemudian Sumatera Rp 21,1 triliun atau 16,9%, Kalimantan Rp 20,4 triliun atau 16,4%, Sulawesi Rp 6,4 triliun atau 5,1%, Maluku dan Papua Rp 4,4 triliun atau 3,5% dan Bali dan Nusa Tenggara Rp 2,4 triliun atau 2%

Realisasi serapan anggaran pemerintah di awal 2015 relatif masih rendah, termasuk di kementerian yang mengurus infrastruktur. ‎Pada periode Januari-Maret 2015, realisasi penggunaan anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakayat (PU dan PR) baru sekitar 2,4% dari total anggaran yang disediakan sebesar Rp 118,5 triliun.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengungkapkan soal mundurnya proses pencairan anggaran. Ada beberapa penyebab proses pencairan anggaran ini mengalami kemunduran. "Pertama karena‎ adanya perubahan nomenklatur (Tata Nama) kementerian. Sehingga perlu penyesuaian dalam anggaran dasar kementerian," tutur Basuki

Pengesahaan nomenklatur kementerian ini diperlukan untuk memberikan kepastian hukum saat pencairan anggaran. Hal ini untuk memastikan siapa pihak penerima anggaran tersebut. Tanpa pengesahan ini maka tidak ada dasar dalam penyusunan Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) Kementerian.

Permasalah lainnya, adalah adanya tambahan anggaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015. Dalam APBN-P 2015, Kementerian PUPR mendapat tambahan anggaran Rp 33,6 triliun anggaran dari Rp 84,91 triliun menjadi Rp 118,5 triliun.‎

"Karena ada tambahan anggaran, sehingga kita harus menyelesaikan dulu APBNP-nya untuk memasukkan anggaran yang tambahan itu," kata basuki. Ia cukup percaya diri catatan kementerian hasil gabungan dua kementerian terdahulu ini akan membaik pada periode berikutnya. Kementerian PU dan Perumahan Rakyat digabungkan pada masa awal pemerintahan Presiden Jokowi.

"Karena paket-paket pekerjaan sebenarnya sudah kita lakukan lelang. Dan tinggal tahap tandatangan kontrak. Kalau tandatangan kontrak kan berarti anggaran bisa keluar. Jadi mudah-mudahan periode berikutnya akan lebih baik," kata Basuki.

Ekonomi Lesu ... Jumlah Pengunjung Pusat Perbelanjaan Meningkat Tapi Penjualan Menurun 30 Persen

Kondisi perekonomian dalam negeri yang lesu di awal tahun, juga dirasakan oleh para pengelola pusat perbelanjaan. Selain kinerja keuangan para perusahaan besar yang banyak melorot di awal 2015, pelaku usaha ritel di mal juga kena imbas lesunya perekonomian. Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan mengatakan, sejak Januari hingga akhir April 2015, para pedagang termasuk ritel di mal mengalami penurunan penjualan rata-rata 20-30% per bulan.

"Dari laporan-laporan yang saya terima. Bulan-bulan ini pusat perbelanjaan turun 20%-30%, ini sudah serius, butuh stimulus," kata Ridwan

Namun penurunan penjualan ini tak berbanding lurus dengan jumlah kunjungan masyarakat ke mal. Alasannya masyarakat tetap berkunjung ke mal, namun membatasi jumlah pembelian mereka. "Kunjungan ke mal masih ramai sedikit berkurang, tapi yang beli nggak banyak-banyak, atau beli barang-barang yang murah. Sekarang toko yang kualitas bagus tapi harga nggak mahal, itu sekarang yang laku, kayak Uniqlo," katanya.

Ridwan mengungkapkan, penyebab melemahnya daya beli masyarakat ini setidaknya dipicu beberapa faktor. Pertama, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, elpiji berdampak pada pengeluaran masyarakat.  Selain itu, yang paling terasa adalah belum cairnya anggaran pemerintah pusat termasuk di daerah seperti di DKI terkait proyek-proyek infrastruktur. Hal ini berdampak pada berkurangnya perputaran uang yang beredar di masyarakat

"Uang yang beredar sedikit sehingga mempengaruhi pendapatan seseorang yang berdampak pada daya beli," katanya. Ia mengilustrasikan, para kontraktor-kontraktor proyek yang mengandalkan proyek pemerintah belum bisa menikmati kucuran anggaran proyek. Namun ia berharap mulai Mei ini perputaran uang kembali pulih sejalan mulai bergulirnya proyek-proyek pemerintah.

"Uangnya yang berputar sedikit proyek-proyek belum jalan semua. Misalnya di DKI gaji karyawan belum jalan semua, supplier proyek juga berhenti karena belum cair anggaran," katanya. Ekonomi Indonesia bergerak lesu pada kuartal I-2015. Proyeksinya, pertumbuhan ekonomi bahkan tak lebih dari 5%, atau lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya, yang mencapai 5,21%.

Bobby Hamzar Rafinus, Deputi Bidang Koordinasi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian mengatakan, di kuartal I-2015 memang cenderung tumbuh lebih rendah dibandingkan kuartal selanjutnya. Karena belanja pemerintah masih kecil.

"Pertumbuhan kuartal satu memang biasanya lebih rendah dari kuartal lainnya, karena belanja pemerintah rendah. Periode ini risiko perlambatan semakin besar, karena penurunan laju konsumsi masyarakat, ekspor, dan investasi." kata Bobby.

Pemerintah tetap optimis kuartal II-2015 ekonomi Indonesia bisa tumbuh lebih tinggi. Karena belanja sudah mulai berjalan. Apalagi dengan proyek infrastruktur yang bisa berperan besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Begitu juga dengan investasi. "Pemerintah optimistis pertumbuhan akan meningkat kembali pada kuartal II-2015 dari kenaikan belanja pemerintah dan iklim investasi yang membaik," tegasnya.

Target keseluruhan tahun, diproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,4%-5,7%. Ada beberapa kebijakan yang sudah disiapkan pemerintah untuk mendorong target tersebut teralisasi di akhir tahun. "Pemerintah akan mendorong, peningkatan belanja, diversifikasi negara tujuan dan macam