Pages - Menu

Monday, May 4, 2015

Strategi Chitose Internasional Untuk Tingkatkan Omzet Menjadi Rp. 311 Milyar

Emiten yang bergerak di bidang furnitur, PT Chitose Internasional TBK, menargetkan pendapatan naik sebesar 10 persen dibandingkan 2014 lalu yang sebesar Rp 283 miliar. “Kami targetkan naik menjadi Rp 311 miliar," kata Direktur Utama Chitose, Dedie Suherlan di Bursa Efek Jakarta, Jakarta, Senin 20 April 2015.

Untuk mencapai target tersebut, Dedie mengatakan, PT Chitose akan menjalin kerja sama dengan perusahaan dari Jepang dalam mengembangkan bisnis retail dan project displaydengan toko-toko besar Indonesia. "Seperti Uniqlo Shop dan AEON," ujar Dedie.

Menurut Dedie, Jepang merupakan salah satu pasar terbesar PT Chitose di Asia. Dari 88 persen produk yang diekspor ke Benua Kuning, 20 persen menuju Jepang. "Sementara 12 persen lainnya ke negara-negara di Afrika seperti Ghana Mauritius," ujar Dedie.

PT Chitose juga memperluas jaringan bisnis di level dosmetik dengan membuka gerai utama di Surabaya, Jawa Timur. Direktur Pemasaran PT Chitose, Timotius J Paulus, mengatakan pembangunan gerai tersebut untuk memperkuat pemasaran di Indonesia Timur. "Jadi kami fokus di sana," kata Timotius.

Setelah pembangunan gerai utama, Timotius mengatakan, PT Chitose juga akan membangun pabrik kedua di Bandung, Jawa Barat, dengan anggaran sebesar Rp 21 miliar. "Targetnya kuartal pertama 2016 mendatang pabrik sudah beroperasi," ujar Timotius.

Dengan adanya pabrik baru, menurut Timotius, akan meningkatkan jumlah produksi. Jadi, lanjutnya, total produksi gabungan pabrik lama dengan baru sebesar 130 ribu per unit. Pabrik lama, ucap dia, menyetor 100 ribu per unit. "Jadi kapasitas produksi per tahun mendatang menjadi 1.5 juta unit," kata dia.

Trisula International Cetak Laba Rp. 742 Milyar dan Bukukan Penurunan Laba Bersih 17,2 Persen

Kendati nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi di sepanjang tahun 2014 lalu, emiten perdagangan retail pakaian jadi, PT Trisula International Tbk. mencatatkan pendapatan sebesar Rp 746 miliar. Jumlah itu diperoleh berkat pertumbuhan penjualan bersih sebesar 5,2 persen dari tahun sebelumnya, yang sekitar Rp 709.94 miliar.

"Pertumbuhan penjualan tersebut membuat laba usaha Trisula sepanjang 2014 tercatat sebesar Rp 52,58 miliar," kata Direktur Utama PT Trisula Lisa Tjahjadi seusai menggelar rapat umum pemegang saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 20 April 2015.

Meski begitu, laba perusahaan tahun 2014 lebih rendah 17,2 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya sebesar Rp 63,53 miliar. Penurunan laba usaha ini ikut dipengaruhi oleh rupiah yang terdepresiasi. "Ekonomi yang tidak stabil mempengaruhi penjualan 2014," kata Lisa.

Untuk menggenjot penjualan di tahun ini, Direktur Internasional Saler PT Trisula Kartono Budima, mengatakan jajarannya akan meningkatkan ekspor ke Korea Selatan, Jepang, Cina, Amerika Serikat, Eropa, Australia, dan Selandia Baru. "Target penjualan ekspor 17 persen," ucap Kartono.

Strateginya, kata Kartono, dengan meluncurkan produk antiair. Menurut dia, persaingan produk tersebut di pasar dunia masih minim. Apalagi, lanjutnya, PT Trisula sudah berada selangkah di depan dalam produk ini. "Tidak hanya investasi besar, kami juga memiliki penambahan sumber daya dari 2013 sampai 2014 untuk menggalang pasar internasional.”

Untuk meningkatkan penjualan di dalam negeri, Direktur Independen dan Retail PT Trisula Rudolf Simarmata mengatakan jajarannya bakal menambah titik penjualan. Targetnya, kata dia, jumlah pos penjualan di 2015 menjadi 310. Saat ini titik penjualan baru 178 pos. "Kami juga melakukan sales strategy untuk merek Jobb, Bonds, dan Jack Nicklaus ada website-nya," kata Rudolf.

Perdagangan Bebas ASEAN Jadi Pintu Masuk Asing Kuasai Pariwisata Bali

Era perdagangan bebas ASEAN yang akan berlaku akhir tahun ini dinilai menjadi ancaman bagi warga Bali. Sebab, perusahaan raksasa bakal makin mencengkeram industri pariwisata dan menyingkirkan kekuatan pemodal lokal di Pulau Dewata. “Karena itulah, potensi lokal harus bergandengan tangan mengkampanyekan fair trade atau perdagangan yang berkeadilan sebagai perlawanan,” kata Gung Alit dari Yayasan Mitra Bali dalam perayaan World Fair Trade Day 2015, Senin, 4 April 2015.

Menurut Gung Alit, saat ini saja, orang asing sudah sangat leluasa membangun jaringan bisnisnya di Bali. “Ada travel agent Jepang yang membawa turis Jepang ke hotel dan restoran milik orang Jepang. Orang Bali hanya menjadi pelayannya saja,” ujarnya.

Jika orang Bali saat ini kelihatan masih banyak yang makmur, menurut dia, itu karena sebagian besar telah menjual tanahnya. Gung Alit mengajak warga Bali, khususnya kalangan pariwisata, menilai ulang kondisi ini. “Kita harus jujur, siapa yang paling diuntungkan oleh industri pariwisata sekarang ini,” ucapnya.

Warga lokal, tutur dia, sudah semestinya mulai meningkatkan posisi tawar dengan meminta pengusaha yang berinvestasi di pulau tersebut menerapkan prinsip-prinsip perdagangan yang berkeadilan. Yayasan Mitra Bali sendiri menerapkan prinsip itu dalam perdagangan di industri kerajinan. Misalnya, keterbukaan dalam penentuan harga dengan perajin, pembayaran 50 persen upah kerja sebelum barang dikerjakan, dukungan untuk menerapkan produksi yang ramah lingkungan, serta adanya kesamaan hak antara tukang pria dan perempuan.

Untuk mengkampanyekan fair trade, mereka juga bekerja sama dengan band Bali, Nosstress, dengan meluncurkan album Viva Fair Trade. Lirik lagu dalam album berisi lima lagu yang seluruhnya berbahasa Inggris itu ditulis Agung Alit, yang terinspirasi dari sepuluh prinsip global fair trade. Album ini akan diedarkan dalam pertemuan-pertemuan internasional gerakan fair trade dan kepada warga Bali.

Masyarakat Ekonomi Asean akan diberlakukan mulai akhir tahun ini. Menurut Direktur Jendral Kerja Sama Asean kementrian Luar negeri RI I Gusti Agung Wisakapuja, Indonesia memiliki kekurangan dan kelebihan dalam menyongsong MEA. "Indonesia tidak mempunyai daya saing yang bagus, itu kerugiannya," kata Gusti kepada Tempo seusai menghadiri seminar Implementasi MEA di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang, Senin, 4 April 2015.

Menjelang dibukanya MEA, ujar Gusti, pasar di Indonesia harus dibuka lebar-lebar bagi negara anggota ASEAN. Di sisi lain, masyarakat pun harus mampu berkompetisi dengan negara lainnya di Asean. “Kualitas produk barang kita harus lebih berkompetitif dengan yang lainnya, begitupun sumber daya manusianya," kata dia.

Itu sebabnya, kata Gusti, pola pikir masyarakat Indonesia harus diubah. Ketika masyarakat menyadari kerugian yang akan diderita pasca diberlakukannya MEA, mereka harus bisa memutarbalikan potensi kerugian itu menjadi keuntungan.  Menurut Gusti, aspek kerugian itu menjadi tantangan yang harus dilewati oleh masyarakat Indonesia ketika digulirkannya MEA. “Dengan memperbaiki daya saing kerugian ini kita bisa konvert menjadi keuntungan,” katanya.

MEA, di sisi lain, akan menjadi sebuah kesempatan dan tentunya akan menjadi keuntungan. "Di luar Indonesia pasarnya lebih banyak pasar Asean, ada sekitar 360 juta pasar di luar Indonesia, itu keuntungan yang harus kita manfaatkan dan ada bonus demografi yang besar sekali,” ucapnya.

Makanya, Gusti menghimbau terjadi sinergisitas antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam mempersiapkan diri menghadapi MEA. Saat ini, ucap Gusti, ada sekitar 3 daerah yang menyatakan siap menyongsong MEA. “Diantaranya DKI Jakarta, Jawa Timur dan Sumatra Barat,” ujarnya.

Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat RI, Arief Suditomo menegaskan harus adanya proses sosialisasi berkesinambungan yang dilakukan Pemda guna kesiapan menyongsong MEA itu. Dengan begitu, menurut dia, sumber daya manusia akan setara atau lebih unggul dari SDM Negara lainnya di Asean. “Di masa depan, seiring meningkatnya kualitas SDM, kita akan mampu mengekspor tenaga ahli yang memiliki daya saing,” kata Arief.

BPS : Inflasi April 2015 Sebesar 0,36 Persen dan Jawa Timur Paling Tinggi

Badan Pusat Statistik melaporkan, sepanjang April 2015, terjadi inflasi atau kenaikan rata-rata harga barang dan jasa sebesar 0,36 persen. Untuk inflasi year-on-year (tahunan), BPS melaporkan sebesar 6,79 persen.

Dari 82 kota/kabupaten di Indonesia, 72 di antaranya mengalami inflasi dan 10 lainnya terjadi deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tual, yakni 1,31 persen, sementara yang terendah terjadi di Cilacap sebesar 0,02 persen. “Di Tual, harga beras naik, padahal di tempat lain turun,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin di kantornya, Senin, 4 Mei 2015.

Untuk inflasi inti pada April 2015, BPS mencatat angka 0,24 persen. Angka inflasi paling tinggi terjadi pada harga yang diatur pemerintah, yakni sebesar 1,88 persen. Suryamin menuturkan hal ini terjadi karena naiknya harga bahan bakar minyak, tarif angkutan umum, dan elpiji ukuran 12 kilogram.

Sedangkan bahan makanan malah menghambat inflasi inti atau terjadi deflasi 0,91 persen. Musababnya, padi sudah mulai dipanen dan sayur-mayur sudah menampakkan penurunan harga. Khusus untuk komponen energi pada inflasi inti, BPS mencatat angka 2,71 persen dengan andil 0,25 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat inflasi di daerah itu mencapai 0,39 persen pada April 2015. Angka itu melebihi rata-rata inflasi nasional yang hanya 0,36 persen.  Kepala BPS Jawa Timur M. Sairi Hasbullah mengatakan penyebabnya adalah kenaikan harga tiket kereta api yang mencapai 150 persen sejak awal April lalu. “Inflasi ini murni akibat kebijakan pemerintah pusat, bukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur,” ucap Sairi kepada wartawan, Senin, 4 Mei 2015.

Hampir semua kota/kabupaten indeks harga konsumen (IHK) di Jawa Timur mengalami inflasi. Kota Malang menduduki inflasi tertinggi mencapai 0,49 persen, disusul Surabaya 0,41 persen, Madiun 0,39 persen, Banyuwangi, dan Probolinggo 0,36 persen, serta Kediri 0,31 persen.

Menurut Sairi, kenaikan tiket kereta api sangat berdampak pada mata rantai IHK di seluruh daerah di Jawa Timur, karena penyebaran jalur kereta api kawasan Indonesia timur berada di Surabaya. Ini yang membuat inflasi tidak terjadi di kawasan yang ada kereta apinya, seperti Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. “Begitu juga di Jawa Timur, kota yang tidak mengalami inflasi adalah Sumenep, karena tidak ada jalur kereta api.”

Selain tiket kereta, kenaikan harga bensin juga menyumbang inflasi di Jawa Timur yang semakin tinggi dibanding bulan sebelumnya. Akibatnya, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 2,47 persen. Angkutan kota, bawang merah, tomat sayur, bawang putih, gula pasir, dan solar turut terkerek inflasi.

“Inflasi Jawa Timur sedikit tertolong dengan adanya deflasi dari barang kebutuhan pokok,” tuturnya, Bahan pokok itu di antaranya beras, karena sedang musim panen raya, cabai rawit, batu bata, tarif listrik, kentang, ponsel, minyak goreng, daging sapi, apel, dan udang basah. Meski begitu, inflasi Jawa Timur bukan yang paling tinggi, karena inflasi tertinggi pada April terjadi di Kota Serang, Banten, yakni mencapai 0,94 persen. Baru kemudian diikuti Malang 0,49 persen, Bandung 0,43 persen, dan Surabaya 0,41 persen. Sairi telah memprediksikan hal ini sejak pemerintah menetapkan kenaikan BBM dan tiket kereta api yang hampir bersamaan.

Jika saja tidak tertolong deflasi bahan pokok makanan yang mencapai - 0,20 persen, dipastikan inflasi Jawa Timur akan tertinggi secara nasional. Saat ini Jawa Timur memang sedang memasuki masa panen padi yang membuat harga beras turun drastis. Bahkan, karena harga beras murah, daya beli petani semakin turun.

Badan Pusat Statistik melaporkan, sepanjang April 2015, terjadi inflasi atau kenaikan rata-rata harga barang dan jasa sebesar 0,36 persen. Untuk inflasi year-on-year, BPS melaporkan sebesar 6,79 persen.  Dari 82 kota/kabupaten di Indonesia, 72 di antaranya terjadi inflasi dan 10 lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tual, yakni 1,31 persen, sementara yang terendah terjadi di Cilacap sebesar 0,02 persen. “Di Tual, harga beras naik, padahal di tempat lain turun,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin di kantornya, Senin, 4 Mei 2015.

Berikut ini adalah faktor pendorong dan penghambat inflasi April 2015.

Pendorong:
  1. Bensin
    Andil pada inflasi sebesar 0,22 persen dengan perubahan harga 5,68 persen. Kenaikan terjadi karena menyesuaikan harga minyak mentah dunia. Meski tak terjadi kenaikan harga BBM pada April, kenaikan Premium terjadi pada 28 Maret 2015. “Ini masih berimbas pada inflasi April,” ujar Suryamin. Kenaikan harga terjadi di semua kota/kabupaten di Indonesia.
  2. Bawang merah
    Andil pada inflasi sebesar 0,06 persen dengan kenaikan harga 11,58 persen. Kenaikan harga terjadi karena kurang pasokan di 79 kota/kabupaten yang menjadi basis perhitungan indeks harga konsumen. Kenaikan tertinggi terjadi di Meulaboh, yakni 41 persen, dan di Lhokseumawe sebesar 40 persen.
  3. Tarif angkutan dalam kota
    Andil pada inflasi sebesar 0,04 persen dengan perubahan harga 2,14 persen. Kenaikan harga terjadi akibat kenaikan harga BBM yang ditetapkan oleh pemerintah. Harga naik di 18 kota/kabupaten IHK. Yang tertinggi terjadi di Tual sebesar 33 persen, berikutnya di Serang 32 persen.
  4. Bahan bakar rumah tangga
    Bahan bakar rumah tangga yang mendorong inflasi adalah kenaikan harga elpiji 12 kilogram dengan andil 0,03 persen. Kenaikan harganya sebesar 1,88 persen. Kenaikan harga per 1 April sebesar Rp 8.000 per tabung mengakibatkan kenaikan harga di 70 kota/kabupaten. Kenaikan harga tertinggi terjadi di Pare-pare sebesar 15 persen. Juga di Tanjung Pandan, Bukittinggi, dan Bandung dengan kenaikan harga masing-masing 9 persen.
  5. Tarif kereta api
    Andil pada inflasi sebesar 0,03 persen dengan kenaikan harga 20,94 persen. Berdasarkan peraturan Menteri Perhubungan, per 1 April 2015, tarif KA jarak sedang, jauh, dan KRL terjadi kenaikan di 21 kota/kabupaten IHK. Kenaikan tertinggi terjadi di Tegal sebesar 55 persen. Selain itu, di Semarang dan Jember naik 44 persen.
  6. Gula pasir
    Kenaikan harga 3,02 persen akibat menipisnya stok di pasaran. Akibatnya, kenaikan harga terjadi di 72 kota/kabupaten IHK tertinggi. Kenaikan tertinggi terjadi di Tegal sebesar 12 persen, berikutnya di Tembilahan 10 persen.
  7. Tarif angkutan udara
    Andil terhadap inflasi 0,01 persen dengan kenaikan harga 2,98 persen. Hal ini terjadi karena permintaan meningkat dari masyarakat dan aturan batas bawah tiket penerbangan murah yang ditetapkan oleh pemerintah. Kenaikan harga mengakibatkan tarif meningkat di 32 kota/kabupaten IHK. Kenaikan tertinggi di Tanjung Pandan sebesar 23 persen, berikutnya di Maumere 17 persen.
Penghambat:
  1. Beras
    Andil terhadap inflasi sebesar 0,2 persen dengan penurunan harga 4,82 persen. Pasokan di mayoritas kota/kabupaten IHK lancar dan melimpah karena sudah masuk masa panen raya. Akibatnya, terjadi penurunan harga di 65 kota/kabupaten IHK, dengan penurunan terendah terjadi di Mataram sebesar 18 persen, berikutnya di Depok 15 persen. 
  2. Ikan segar
    Andil terhadap inflasi sebesar 0,02 persen dengan penurunan harga 0,62 persen. Pasokan melimpah karena cuaca bagus, tak terjadi badai, dan hujan deras. Jadi hasil tangkapan nelayan melimpah.

Sunday, May 3, 2015

Penyebab Rontoknya Saham Saham BUMN

Analis senior LBP Enterprise, Lucky Bayu Purnomo, mengatakan rontoknya saham-saham badan usaha milik negara (BUMN) lebih karena adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2015. Anjloknya sejumlah saham-saham BUMN juga dinilai sebagai akibat dari ditahannya suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) dan bank sentral Amerika Serikat (Fed Rate).

"Akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi yang turun 0,2 persen dibandingkan tahun lalu, saham terkoreksi dari level tertinggi 5.523.290," kata Lucky saat dihubungi, Minggu, 3 Mei 2015. Menurut Lucky, anjloknya saham-saham BUMN juga disebabkan oleh kebijakan Bank Indonesia yang menahan tingkat suku bunga acuan di angka 7,5 persen. Anjloknya saham BUMN juga ditambah dengan pengumuman Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro yang menyatakan realisasi pajak pada kuartal I 2015 hanya Rp 198,88 triliun. Angka itu turun dari realisasi pajak tahun lalu pada periode yang sama yang mencapai Rp 210,05 trilun.

"Pemerintah tak maksimal mengumpulkan pajak. Itu menjadi sinyal bahwa ada perlambatan di sektor industri," katanya. Pernyataan Chairman The Fed, Janet Yellen, yang mengatakan dalam waktu dekat The Fed tetap akan menahan suku bunga acuan Amerika Serikat di angka 0,25 basis poin juga menambah derita saham-saham BUMN. Dengan penahanan suku bunga itu, kata Lucky, menampakkan adanya perlambatan perekonomian global.

"Padahal perubahan suku bunga The Fed sudah ditunggu sejak Yellen menjabat," kata Lucky. Sementara rekor indeks harga saham gabungan (IHSG) yang mencapai 5.523.290 pada 7 April 2015 lalu, kata Lucky, tak dapat mewakili kondisi perekonomian Indonesia. Apalagi, pada 1 Mei 2015 lalu Pertamina sudah menaikkan harga Pertamax yang dianggap sebagai faktor negatif bahwa program restrukturisasi subsidi BBM belum berjalan.

"Faktor-faktor itulah yang menyebabkan rontoknya saham-saham BUMN. Faktor adanya penanaman modal negara dan bagi-bagi kursi komisaris itu sudah lewat," kata Lucky. Sepanjang Maret hingga April 2015, sejumlah saham BUMN terus rontok. Pada 24 April 2015, saham PT Waskita Karya (WSKT) yang masih Rp 1.785 rontok menjadi Rp 1.720 pada penutupan 30 April 2015. Saham Bank BNI (BBNI) yang pada 23 April 2015 masih Rp 7.125 turun menjadi Rp 6.525 pada penutupan 30 April 2015.

Tak hanya Bank BNI, saham Bank BRI (BBRI) juga rontok dari Rp 13.200 pada 21 April 2015, ditutup di level Rp 11.625 pada 30 April 2015. Bank BCA (BBCA) juga ikut terseret dengan rontoknya saham bank BUMN. Saham BCA yang pada 21 April 2015 masih Rp 14.900 anjlok menjadi Rp 13.500 pada penutupan 30 April 2015.

Saham PT Gas Negara (PGAS) juga anjlok pada level Rp 4.265 pada penutupan 30 April 2015, dan saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) terperosok di level Rp 12.975 pada penutupan 30 April 2015.

Telkom Bukukan Laba Rp. 23,61 Triliun Dan Alami Pertumbuhan Double Digit

Pengamat menilai kinerja PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (Telkom) sesuai dengan perkiraan konsensus analis dengan membukukan pendapatan sebesar Rp 23,61 triliun pada kuartal I 2015, atau tumbuh double digit di level 11,13 persen dibanding periode yang sama 2014 karena dukungan pendapatan layanan data.

Ariyanto Kurniawan, analis PT Mandiri Sekuritas mengatakan Telkom membukukan laba bersih Rp 3,8 triliun pada kuartal I 2015, tumbuh 19 persen dari kuartal sebelumnya dan 6 persen dari periode yang sama tahun lalu.  “Realisasi kinerja itu sejalan dengan prediksi tahunan Mandiri Sekuritas dan konsensus di level Rp 16,5 triliun atau 23 persen dari prediksi,” ujarnya dalam riset, dikutip Minggu (3/5).

Dia menjelaskan, pertumbuhan pendapatan kuartal I 2015 dibukukan 11 persen dari periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 23,6 triliun, terutama didorong oleh pertumbuhan yang kuat dari data yang naik 19 persen dari periode yang sama tahun lalu, berporsi 44 persen dari total pendapatan.

Sementara itu, lanjutnya, margin operasional turun tipis menjadi 31,5 persen dari 32,6 persen pada kuartal I 2014 karena tingginya beban operasional yang 13 persen dari periode yang sama tahun lalu. Hal itu karena hasil dari beban perawatan, operasional, dan depresiasi.

“Kami memilih Telkom karena posisi yang kuat di sektor tersebut dan yield dividen yang atraktif yaitu sebesar 4 persen. Arus kas yang kuat dan neraca keuangan yang sehat akan menopang rasio belanja modal terhadap penjualan sebesar 20-25 persen dan dengan rasio yang sama sebesar 60-70 persen untuk Telkomsel,” jelas Ariyanto.


Telkom juga membukukan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) Rp 12,36 triliun dengan pertumbuhan sebesar 13,9 persen. Sementara itu, Telkomsel selaku entitas anak membukukan pendapatan Rp 17,14 triliun dengan pertumbuhan pendapatan, EBITDA dan laba bersih sebesar 12,1 persen, 9,0 persen dan 11,3 persen.

Direktur Utama Telkom, Alex J. Sinaga mengatakan, pendapatan perusahaan selama di kuartal 1 tahun 2015 didominasi oleh pendapatan data, internet dan IT service yang tumbuh sebesar 27,6 persen menjadi Rp 7,06 triliun.

"Pertumbuhan pendapatan data, internet dan IT service tidak lepas dari meningkatnya mobile digital business yang mampu tumbuh sebesar 37,4 persen. Untuk bisnis cellular voice dan SMS masih menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 5,6 persen dan 5,2 persen ," ungkap Alex di Jakarta (30/4) seperti dikutip dalam keterangan resminya.

Sementara itu, total biaya yang dikeluarkan perusahaan selama kuartal ini mengalami peningkatan 12,8 persen dari Rp 14,33 triliun menjadi Rp 16,16 triliun. Biaya operation and maintenance meningkat sebesar 20,2 persen menjadi Rp 6,23 triliun, sejalan dengan perusahaan yang tengah gencar membangun infrastruktur jaringan untuk mendukung performansi mobile business. Biaya depresiasi dan amortisasi juga mengalami peningkatan sebesar 29,1 persen menjadi Rp 5,09 triliun.

“Dari sisi operasional, jumlah pelanggan Telkomsel mengalami peningkatan 6,6 persen menjadi 141,5 juta dibandingkan periode yang sama taun lalu,” jelas Alex.

Selain itu, pada kuartal I tahun 2015 ini Telkomsel telah membangun 5.132 Base Tranceiver Station (BTS) dimana 90 persen diantaranya adalah BTS 3G dan 4G, untuk mendukung ketersedian jaringan dan perkembangan layanan 4G LTE Telkomsel yang telah hadir di lima kota di Indonesia, yaitu Jakarta, Bali, Bandung, Surabaya dan Medan.

Untuk kuartal I tahun 2015, Telkom menggunakan Rp 4,3 triliun dari belanja modal (Capital Expenditure/Capex) dengan alokasi sebesar Rp 2,8 triliun untuk Telkomsel dan sisanya untuk Telkom dan entitas anak lainnya.  “Sebagian besar belanja modal Telkom digunakan untuk pembangunan akses dan jaringan infrastruktur telekomunikasi untuk mendukung layanan broadband,” kata Alex.

Saat ini, lanjutnya, Telkom tengah gencar membangun infrastruktur fiber optic di Kawasan Timur Indonesia yang dikenal dengan nama Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS), yang akan diresmikan pada awal Mei 2015.  Alex mengatakan, pihaknya mematok pertumbuhan di atas rata-rata industri pada 2015. Untuk itu, Telkom kembali meneruskan fokus tiga program utamanya, yaitu Telkomsel "Maintain Double Digit Growth", Indonesia Digital Network "Drive Digital Business" dan International Expansion "Stretch & Expand International Business".

Daftar Perusahaan Bakrie Yang Alami Kerugian Di Kuartal Pertama 2015

PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk mencatatkan kerugian sebesar Rp 90,2 miliar di sepanjang kuartal I 2015. Padahal, kinerja perusahaan perkebunan yang terafiliasasi dengan Grup Bakrie itu masih mengukir laba sekitar Rp 406,2 miliar di periode yang sama tahun lalu.

Meski mengalami kerugian, manajemen Bakrie Plantation pun sesumbar dan tetap optimis kinerja perseroan akan membaik hingga akhir tahun nanti.

“Apalagi berdasarkan siklus (dimana) produksi sawit biasanya mulai meningkat pada kuartal kedua dan mencapai puncaknya di kuartal terakhir setiap tahun. Kami optimis (kinerja) tahun ini tumbuh dibanding 2014,” kata Direktur Investor Relation Bakrie Plantation, Andi W Setianto seperti yang dikutip dari keterangan resminya, Jumat (1/5).

Disanyilir kuat, anjloknya laba emiten bertiker UNSP ini tak lepas dari penurunan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Disamping itu, faktor yang juga menyebabkan kinerja keuangan perseroan negatif berangkat dari buruknya kondisi cuaca yang mempengaruhi produksi tandan buah segar (TBS) Barie Plantation.

Ini terlihat dari capaian penjualan bersih perseroan kuartal I 2015 yang hanya mencapai Rp 511,1 miliar, turun 22,4 persen dari periode yang sama tahun lalu di level Rp 659 miliar. Selain itu, beban keuangan juga tercatat naik dari Rp 96,38 miliar menjadi Rp 133,22 miliar hingga akhir Maret 2015. “Kami bekerja keras mengatasi kondisi air di kebun akibat kemarau panjang tahun lalu dengan sebaik-baiknya. Hasilnya kami harapkan bisa terlihat di kuartal-kuartal berikutnya,” ujar Andi.

Demi menjaga kinerja keuangannya hingga akhir tahun ini, manajemen Bakrie Plantation telah membentuk usaha patungan bernama PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia. Selain itu, manajemen juga telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul buah sawit.

Ditargetkan, upaya pengembangan bibit unggul mampu menghasilkan 40 ton TBS per ha (hektar) dari sebelumnya di kisaran 25 sampai 30 ton per ha. “Kami akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik,” tambah Direktur Utama Bakrie Plantation, M. Iqbal Zainuddin.

Perusahaan tambang batubara milik grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk  mengalami penurunan laba usaha mencapai 66,27 persen sejak awal tahun lalu hingga kuartal III 2014. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Bumi Resources dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia pada Senin (19/1), laba usaha perseroan per September 2014 anjlok menjadi US$ 72,79 juta dari periode yang sama 2013 sebesar US$ 215,78 juta.

Adapun anjloknya laba usaha tersebut terjadi karena menyusutnya perolehan pendapatan sebesar 17,42 persen menjadi US$ 2,19 miliar dari US$ 2,65 miliar. Sementara itu beban pokok pendapatan turun 15,48% menjadi US$1,77 miliar dari US$2,09 miliar. Lebih lanjut, hal itu mengakibatkan laba kotor perseroan merosot 24,65 persen menjadi US$ 420,17 juta dari US$ 557,59 juta. Sementara itu, beban usaha naik 1,63 persen menjadi US$ 347,37 juta dari US$ 341,81 juta.

Namun, di sisi lain total rugi bersih perseroan selama sembilan bulan pertama 2014 tercatat menyusut 86,71 persen menjadi US$ 54,95 juta dari US$ 413,56 juta pada periode yang sama 2013. Hal itu terjadi karena danya perolehan laba dari pelepasan investasi pada anak usaha mencapai US$ 949,52 juta. Dari sisi internal, sebelumnya, pengalihan kepemilikan saham PT Bumi Resources Tbk di PT Bumi Resources Mineral Tbk masih terganjal karena belum terdapat putusan dari Pengadilan Singapura terkait restrukturisasi utang anak usahanya.

Entitas tersebut adalah Bumi Capital Pte Ltd, Bumi Investment Pte Ltd, dan Enercorp Resources Pte Ltd. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (7/1), perseroan menuturkan pihaknya masih belum bisa melakukan transaksi pengalihan saham kepada China Investment Corporation (CIC).

Perseroan menyatakan hal itu terjadi karena Pengadilan Singapura telah menetapkan moratorium yang melarang Bumi Resources memindahkan aset ataupun bertransaksi sendiri-sendiri dengan individu tertentu hingga mendapat persetujuan dari mayoritas kreditur

PT Bakrie Telecom Tbk., perusahaan telekomunikasi milik grup Bakrie, mencatatkan performa yang semakin buruk pada 2014. Sepanjang tahun lalu rugi bersih perseroan tercatat Rp 2,87 triliun, naik 8,7 persen dari Rp 2,64 triliun pada 2013.

Jebloknya kinerja Bakrie Telecom yang dikenal dengan produk Esia tersebut, disebabkan oleh pendapatannya yang anjlok 13 persen menjadi Rp 1,8 triliun dari sebelumnya Rp 2,07 triliun. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, pendapatan jasa telekomunikasi jeblok 42,3 persen menjadi Rp 1,27 triliun, sementara pendapatan jasa interkoneksi turun 22 persen menjadi 184,2 miliar.

Hal itu ditambah dengan beban pendapatan yang naik 3 persen menjadi Rp 2,13 triliun dari sebelumnya Rp 2,07 triliun. Karena hal itu, perseroan menanggung rugi usaha Rp 947,55 miliar. Padahal, dalam tahun sebelumnya perseroan masih mencatatkan laba usaha Rp 3,6 miliar. Total aset Bakrie Telecom di sepanjang 2014 sebesar Rp 7,59 triliun, turun dari sebelumnya Rp 9,13 triliun. Hal itu juga diikuti penaikan liabilitas atau kewajiban perseroan, menjadi Rp 11,46 triliun, naik dari sebelumnya Rp 10,13 triliun.

Bakrie Telecom mulai mencatatkan rugi bersih sejak 2011 dan mencetak performa ekuitas buruk sejak 2013. Pada 2011 perseroan merugi Rp 782,7 miliar, kemudian utang kian melonjak menjadi Rp 3,13 triliun pada 2012 dan Rp 2,64 triliun pada 2013. Namun, pada tiga bulan pertama 2014, laporan perusahaan keuangan sempat membukukan laba bersih Rp 210 miliar karena terdongkrak selisih kurs.

Atas dasar hal tersebut, sebelumnya Bakrie Telecom mengurangi jumlah karyawan hingga 28 persen atau 400 dari 1.400 total karyawannya untuk menekan biaya operasional. Manajemen menyatakan pemecatan pegawai sebagai strategi perusahaan agar operasional menjadi lebih efektif. Pengurangan jumlah karyawan dinilai merupakan bagian dari langkah efisiensi perusahaan agar operasional lebih efektif.

Perseroan juga diketahui memiliki total kewajiban utang senilai Rp 11,3 triliun. Beberapa di antaranya adalah, utang biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi dan universal service obligation (USO) senilai Rp 1,26 triliun, utang usaha Rp 2,4 triliun, utang tower provider Rp 1,3 triliun, dan utang dana hasil wesel senior Rp 5,4 triliun.