Pages - Menu

Thursday, February 4, 2016

PT Mabua Motor Indonesia Lepas Keagenan Harley-Davidson

Surat yang menyatakan bahwa PT Mabua Motor Indonesia melepas keagenan Harley-Davidson di Indonesia bocor. Direktur Utama PT Mabua Motor Indonesia, Djonnie Rahmat langsung menanggapi hal itu dengan menggelar konperensi pers Rabu (10/2/2015) pekan depan.

Djonnie mengatakan surat yang telah beredar itu merupakan dokumen internal perusahaan. Ia mengaku kaget dan menyayangkan mengapa surat itu bisa bocor dan beredar ke luar perusahaan. "Sebenarnya itu dokumen internal. Saya ga mengerti kenapa bisa bocor. Itu dokumen internal yang seharusnya tidak tersebar keluar," ujar Djonnie saat dihubungi.

Dia menegaskan, PT Mabua Motor Indonesia akan segera melakukan klarifikasi terkait beredarnya surat tersebut. "Tanggal 10 (Rabu pekan depan) nanti akan kita klarifikasi. Saya sudah kirim undangan ke media massa," tegas Djonnie. Berikut isi surat yang mengatasnamakan Presdir PT Mabua Harley-Davidson Djonnie Rahmat yang beredar di kalangan wartawan :

Dengan berat hati bersama ini diberitahukan bahwa PT Mabua Harley-Davidson dan PT Mabua Motor Indonesia tidak memperpanjang keagenan Harley-Davidson di Indonesia, terhitung mulai tanggal 31 Desember 2015. Selama beberapa tahun terakhir, iklim usaha pada sektor otomotif, khususnya di bidang motor besar, mengalami berbagai kendala, antara lain yaitu:

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang US Dollar, yang dimulai sejak pertengahan tahun 2013 dan berlanjut sampai dengan saat ini mencapai lebih kurang 40 persen. Kebijakan pemerintah Republik Indonesia mengenai tarif Bea masuk serta pajak yang terkait dengan importasi dan penjualan motor besar, antara lain:
  • PMK No 175/PMK.011/2013 tentang kenaikan tarif PPh 22 import dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen.
  • PP no 22 tahun 2014 tentang kenaikan pajak penjualan barang mewah dari 75 persen menjadi 125 persen.
  • PMK No 90/PMK.03/2015 tentang penetapan tarif PPh 22 Barang Mewah untuk motor besar dengan kapasitas mesin di atas 500 cc dari 0 persen menjadi 5 persen.
  • PMK no 132/PMK.010/2015 tentang kenaikan tarif bea masuk motor besar dari semula 30 persen menjadi 40 persen.
Total keseluruhan pajak untuk importasi motor besar mencapai hampir 300 persen, tidak termasuk bea balik nama dll-nya. Faktor-faktor tersebut di atas telah mengakibatkan kelesuan pasar serta penurunan minat beli. Untuk beberapa bulan mendatang, sebagai bentuk komitmen yang tinggi, kami tetap akan memberikan layanan purna jual serta penjualan suku cadang, dan lain-lain.

Ucapan terima kasih serta penghargaan yang tinggi kami sampaikan kepada Bapak Soetikno Soedarjo dan para pemegang saham MRA Group serta seluruh pihak, yang telah memberikan dedikasi serta dukungannya, sehingga PT Mabua Harley-Davidson dan PT Mabua Motor Indonesia mampu menjadi bagian dari perkembangan Harley-Davidson di Indonesia sejak tahun 1997 sampai dengan saat ini.

Isu lepasnya PT. Mabua Motor Indonesia sebagai Agen Pemegang Merek (APM) Harley-Davidson menyeruak. Apalagi setelah diberitakan Mabua Motor mengalami penurunan penjualan pada tahun ini. Kabar mengejutkan ini juga semakin santer terdengar akibat kenaikan pajak pada barang jual mewah yang terlalu tinggi. Akhirnya motor besar dengan harga fantastis tersebut terkena imbas kebijakan baru yang ditetapkan oleh pemerintah ini.

Bila dihitung, secara keseluruhan total pajak yang harus dibayarkan pada satu unit terbaru Harley mencapai hingga 300 persen dari harga beli kendaraan di negara asal. PT. Mabua Motor Indonesia bakal mencopot APM Harley-Davidson yang membuat telinga panas ini pun, langsung dibantah langsung oleh Direktur PT Mabua Motor Indonesia, Djonnie Rahmat. "Tidak ada kabar itu (Mabua tidak jadi APM Harley-Davidson lagi). Kita akan tetap sebagai APM Harley di Indonesia," jawab Djonnie Rahmat dengan tegas.

Untuk menyiasati lesunya penjualan di Indonesia, PT. Mabua Motor Indonesia mengefisiensikan diler yang semula berada di wilayah Blok M, Jakarta Selatan dipindahkan menjadi satu di Pondok Pinang, Jakarta selatan. Segala aktivitas diler Harley Davidson di kawasan Blok M dihentikan sejak 23 Oktober lalu.

Wednesday, February 3, 2016

Harga Minyak RI Terjun Bebas ke US$ 27/Barel di Januari 2016

Selama Januari 2016, harga minyak yang diproduksi Indonesia, atau Indonesia Crude Price (ICP), turun tajam menjadi US$ 27,49/barel. Harga tersebut turun US$ 7,98/barel dibandingkan Desember 2015 yang mencapai US$ 35,47/barel. Sementara harga Minas/SLC di Januari 2016 mencapai US$ 26,63 per barel, turun US$ 7,98 per barel dari US$ 34,61 per barel pada Desember 2015.

Dikutip dari keterangan Kementerian ESDM, Kamis (4/2/2016), penurunan harga minyak mentah Indonesia tersebut sejalan dengan penurunan harga minyak mentah utama di pasar Internasional, yang diakibatkan oleh beberapa faktor yakni:

Meningkatnya pasokan minyak mentah dunia sebesar 500.000 barel per hari, terutama setelah dicabutnya sanksi ekonomi Iran pada tanggal 16 Januari 2016. Berdasarkan publikasi OPEC Januari 2016, proyeksi pasokan negara-negara Non-OPEC pada tahun 2015 direvisi meningkat 0,23 juta barel per hari, dibandingkan publikasi OPEC bulan Desember 2015.

Menurunnya permintaan minyak mentah Negara Tiongkok untuk kuartal I-2016 sebesar 400.000 barel per hari, dibandingkan kuartal IV tahun 2015 yang disebabkan melemahnya indikator ekonomi dan devaluasi mata uang yuan. Berdasarkan publikasi OPEC Januari 2016, permintaan minyak dunia kuartal I-2016 menurun 0,6 juta barel per hari dibandingkan kuartal IV-2015.

Berdasarkan laporan EIA (Energy Information Administration) Januari 2016, terdapat peningkatan stok minyak mentah sebesar 7,5 juta barel, stok distillate sebesar 7,4 juta barel dan stok gasoline sebesar 27,1 juta barel di Amerika Serikat pada akhir Januari 2016, dibandingkan stok pada akhir Desember 2015.

Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah dipengaruhi oleh mulai diaktifkan kembali reaktor nuklir sebesar 700 MW milik Korea Selatan yang dioperasikan oleh Korea Hydro and Nuclear Power, dan menurunnya permintaan tenaga listrik di Jepang sebesar 63,60 milliar kWh (6,3%) dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya.

Selengkapnya perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada Januari 2016 dibandingkan Desember 2015, sebagai berikut:
  • WTI (Nymex) turun sebesar US$ 5,55 per barel dari US$ 37,33 per barel menjadi US$ 31,78 per barel.
  • Brent (ICE) turun sebesar US$ 6,92 per barel dari US$ 38,90 per barel menjadi US$ 31,98 per barel.
  • Basket OPEC turun sebesar US$ 7,49 per barel dari US$ 33,85 per barel menjadi US$ 26,37 per barel.

Waskita Karya Bukukan Laba Bersih Rp 1 Triliun pada 2015

Manajemen PT Waskita Karya (Persero) Tbk menyatakan bahwa laba perseroan pada 2015 mencapai Rp1 triliun atau naik dua kali lipat dari capaian 2014 di angka Rp501 miliar karena ditopang proyek proyek infrastruktur pemerintah. Direktur Keuangan Waskita Karya Tunggul Rajagukguk mengatakan pendapatan perseroan pada 2015 mencapai angka Rp14 triliun, atau naik 36,10 persen dari capaian tahun sebelumnya sebesar Rp10,28 triliun.

“Kebanyakan masih dikontribusi dari pendapatan jasa konstruksi,” ujarnya singkat saat dihubungi. Untuk tahun ini, Tunggul optimistis perseroan mampu mencapai peningkatan pendapatan dan laba bersih hingga dua kali lipat. Pasalnya, ia mengaku manajemen yakin perolehan kontrak pada 2016 bisa melonjak hingga Rp60 triliun dari capaian Rp40 triliun di 2015. “Kami optimistis tahun ini bisa tumbuh dua kali lipat, baik pendapatan maupun laba bersih,” katanya.

Sekadar informasi, sebelumnya Waskita Karya juga menggarap proyek pembangunan jaringan listrik. Pada Oktober 2015, perseroan meneken kontrak pembangunan jaringan listrik di Sumatera dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).  Proyek yang termasuk dalam kontrak tersebut adalah paket 1 jaringan listrik dengan trase New Aur Duri, Jambi ke Pranap, Riau sepanjang 250 km dengan nilai konstruksi Rp 3,8 triliun. Kemudian, paket 2 jaringan listrik dengan trase Pranap, Riau ke Perawang, Riau sepanjang 160 km dengan nilai konstruksi Rp 2,8 triliun. Secara total, nilai 2 paket tersebut mencapai Rp 6,6 triliun.

Adapun periode pelaksanaan konstruksi ditargetkan menghabiskan waktu tiga tahun mulai dari pembebasan tanah, konstruksi, sampai operasi. Sementara dari segi pendanaan, Waskita Karya diketahui sedang menjajaki penerbitan obligasi Rp2 triliun pada semester I 2016. Lebih lanjut penerbitan itu merupakan bagian dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) yang senilai total Rp 5 triliun.

Waskita Karya bakal menggunakan laporan keuangan Desember 2015 sebagai valuasi penerbitan PUB. Nantinya, emisi obligasi itu akan menjadi salah satu sumber belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini yang dipatok hingga Rp10 triliun.  Di sisi lain, manajemen juga bersiap melego 10 persen saham anak usahanya, PT Waskita Beton Precast melalui skema divestasi, sebelum melepas 35-40 persen lainnya ke lantai bursa melalui proses penawaran saham perdana (initial public offering/IPO).

Tunggul mengatakan divestasi 10 persen saham anak usaha tersebut dilakukan karena dinilai akan baik bagi perusahaan sebelum IPO. Sayangya, ia enggan menjelaskan alasan tersebut lebih lanjut.

“Ya, memang kami akan melakukan divestasi Waskita Beton. Rencananya kuartal I ini, sebelum IPO,” ujarnya. PT Waskita Karya (Persero) Tbk berniat melego 10 persen saham anak usahanya, PT Waskita Beton Precast melalui skema divestasi, sebelum melepas 35-40 persen lainnya ke lantai bursa melalui proses penawaran saham perdana (initial public offering/IPO).

Direktur Keuangan Waskita Karya Tunggul Rajagukguk mengatakan pihaknya divestasi 10 persen saham anak usaha tersebut dilakukan karena dinilai akan baik bagi perusahaan sebelum IPO. Sayangya, ia enggan menjelaskan alasan tersebut lebih lanjut. “Ya, memang kami akan melakukan divestasi Waskita Beton. Rencananya kuartal I ini, sebelum IPO,” ujarnya saat dihubungi.

Tunggul menambahkan, beberapa pihak telah dalam proses pembicaraan mengenai divestasi Waskita Beton. Namun, ia enggan membeberkan jumlah dan nama-nama perusahaan yang tengah masuk dalam proses negosiasi pembelian saham. “Saya belum bisa bicara banyak untuk pihak-pihaknya. BUMN atau swasta, ya nanti kita lihat saja,” katanya. Sementara itu, ia menyatakan manajemen tetap berencana melepas Waskita Beton ke lantai Bursa Efek Indonesia pada tahun ini. Tunggul menyatakan perseroan masih menyiapkan segala prosesnya dan berharap situasi masih mendukung.

“Waskita Beton jadi IPO tahun ini. Kemungkinan besar triwulan III,” jelasnya. Analis Mandiri Sekuritas Aditya Sastrawinata mengatakan, berdasarkan pertemuannya dengan manajemen Waskita Karya, perseroan berencana mendivestasikan anak usaha untuk beton pracetak sebelum nantinya IPO, dengan menjual hingga 10 persen sahamnya.

“Diprediksi akan dieksekusi pada pertengahan Februari. Identitas pihak ketiga tidak disebutkan tetapi saat ini ada lima kemungkinan (tiga BUMN dan dua swasta). IPO Waskita Beton sekitar September 2016 dengan minimum kepemilikan Waskita Karya 60 persen,” ujarnya dalam riset. Ia menambahkan, Waskita Karya berencana mengakusisi dua pabrik beton pracetak pada Februari untuk meningkatkan total kapasitas dari 1,8 juta menjadi 2,4 juta ton.

Dalam catatannya, Waskita Beton membukukan pendapatan non-audit Rp2,6 triliun dan laba bersih Rp330 miliar sepanjang 2015. Yang menarik, ia mencatat pendapatan Waskita Beton saat ini menyamai Wijaya Karya Beton, di angka Rp2,6 triliun. “Untuk 2016, Waskita Karya menargetkan pendapatan Rp5 triliun dan laba bersih Rp500 miliar untuk beton pracetak yang sebagian besar proyeknya dari LRT Palembang dan jalan tol Becakayu,” imbuhnya.

Dari sisi kinerja, kontrak baru Waskita Karya mencapai Rp32 triliun pada 2015, naik 45 persen secara tahunan, dan berporsi 107 persen dari target setahun penuh. Untuk 2016, Waskita Karya menargetkan kontrak baru Rp48 triliun atau naik 50 persen secara tahunan, dengan proyek besarnya termasuk proyek LRT di Palembang (sekitar Rp9 triliun), proyek transmisi listrik di Sumatra fase 2 (sekitar Rp6 triliun), jalan tol Cimanggis-Cibitung (sekitar Rp6 triliun), jalan tol Pemalang-Batang, dan jalan tol Pejagan-Pemalang fase 2 (sekitar Rp2,5 triliun)

BRI Raup Laba Rp. 25,2 Triliun pada 2015

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencetak laba bersih sebesar Rp25,2 triliun sepanjang 2015, naik tipis sebesar 4 persen dari capaian tahun sebelumnya sebesar Rp24,2 triliun . “Perolehan laba bersih tersebut ditopang peningkatan Interest Income atau Pendapatan Bunga yang mencapai Rp82,2 triliun atau tumbuh 13,5 persen dibanding akhir tahun 2014,” tutur Corporate Secretary BRI Hari Siaga Amijarso dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (3/2).

Sementara, pendapatan non-bunga BRI sepanjang tahun lalu mencapai Rp14,2 triliun atau melonjak 21,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rp7,4 triliun di antaranya merupakan pendapatan berbasis biaya (fee based income/FBI) yang tumbuh 21,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. “Pertumbuhan (FBI) tersebut didominasi oleh peningkatan transaksi trade finance sebesar 36,2 persen secara tahunan menjadi Rp734,9 miliar dan kemudian diikuti oleh transaksi e-banking yang tumbuh sebesar 34,4 persen menjadi Rp1,6 triliun secara year on year,” ujarnya.

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank BRI tercatat tumbuh sebesar 7,1 persen menjadi Rp642,8 triliun sepanjang 2015. Pencapaian tersebut tidak terlepas dari dukungan kegiatan-kegiatan pemasaran yang telah dilakukan, pengembangan jaringan unit kerja maupun electronic channel dan pengembangan fitur produk simpanan.

Hingga akhir tahun 2015, dana murah (Current Account Saving Account/ CASA) BRI tumbuh sebesar 18,4 persen atau menjadi Rp380,6 trilun, dengan kontribusi terhadap DPK yang juga meningkat, dari 53,5 persen di akhir tahun 2014 menjadi 59,2 persen. Peningkatan rasio CASA tersebut memberikan efek positif dengan turunnya biaya dana (Cost of Fund/COF) dari yang sebelumnya 4,4 persen di tahun 2014 menjadi 4,2 persen di tahun 2015..

Sementara, dari sisi portofolio kredit, total kredit (outstanding loans) yang sudah disalurkan oleh bak pelat merah ini mencapai Rp558,4 triliun, atau tumbuh sebesar 13,9 persen dibandingkan capaian tahun 2014, dimana kenaikan penyaluran kredit terjadi di semua segmen bisnis. Kredit di segmen mikro yang menjadi core business BRI tumbuh sebesar 16,8 persen secara tahunan menjadi Rp178,9 triliun, dengan jumlah nasabah yang meningkat menjadi 7,8 juta nasabah dari 7,3 juta nasabah secara year on year.

“Pertumbuhan kredit di segmen mikro tersebut salah satunya didorong dengan diluncurkannya kembali Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh Pemerintah RI pada pertengahan Agustus tahun 2015. Di mana sejak diluncurkan pada tgl 18 Agustus 2015, Bank BRI telah menyalurkan KUR (realisasi kumulatif) sebesar Rp16,2 triliun kepada lebih dari 920 ribu pelaku usaha yang tersebar secara merata di seluruh pelosok tanah air,” ujarnya.

Untuk penyaluran kredit di segmen korporasi non Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tercatat tumbuh sebesar 31,5 persen secara tahunan menjadi Rp75,1 triliun. Kemudian, untuk penyaluran kredit di segmen consumer tumbuh sebesar 9,8 persen secara tahunan menjadi sebesar Rp88,5 triliun. Sedangkan untuk segmen korporasi yang disalurkan kepada BUMN naik sebesar 9,6 persen secara tahunan menjadi Rp. 81,2 triliun. Terakhir, penyaluran kredit di segmen small commercial & medium naik sebesar 7,5 persen secara tahunan menjadi Rp134,7 triliun.

Sepanjang tahun lalu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/ NPL) terjaga di level yang rendah, NPL netto tercatat sebesar 0,5 persen dan NPL gross sebesar 2,0 persen dengan NPL coverage ratio sebesar 151,1 persen.  Adapun rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) tercatat sebesar 86,9 persen, sementara rasio kecukupan modal (Capital Asset Ratio/ CAR) berada di level 20,6 persen pada akhir tahun 2015. Rasio pengembalian aset (Return on Asset/ ROA) tercatat di level 4,2 persen dan rasio pengembalian modal (Return on Equity/ ROE) berada di level 29,9 persen.

Tuesday, February 2, 2016

Toyota Kuasai Pasar Pasar Otomotif Dunia 4 Tahun Berturut Turut Setelah Jual 10 Juta Mobil

Toyota masih tercatat sebagai merek mobil paling laris di dunia, bahkan dalam empat tahun berurut-turut. Tahun lalu, pabrikan ini berhasil melego kendaraan bermotor sebanyak 10.151.000 unit. Seperti dilaporkan Autoevolution, Toyota masih mengungguli merek asal Jerman, Volkswagen (VW) yang menjual 9.930.000 unit dan General Motors (GM) yang melego 9,8 juta unit. Sepanjang semester pertama 2015, VW memang sempat menyisihkan Toyota dalam penjualan.

Namun, laju penjualan VW melambat setelah pada September tersengat skandal uji emisi mesin diesel. Dalam kasus ini, VW dituding telah melakukan kecurangan dengan menambahkan perangkat tertentu untuk mengelabui tingkat emisi gas buang hasil pembakaran mesin. Hanya, meski masih tercatat sebagai merek terlaris, namun penjualan Toyota sepanjang 2015 itu turun 0,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2014, Toyota membukukan penjualan 10.230.000 unit, sementara VW menjual 10.140.000 unit.

Sejumlah kalangan menilai, jika VW tak tersandung skandal emisi, maka pertempuran dengan Toyota dalam penjualan akan berlangsung sengit. Sedangkan pada 2014, GM berhasil melego 9.920.000 unit. Sebelum Toyota merajai dunia, GM adalah merek terlaris. Bahkan gelar juara penjualan tersebut dipegangnya hingga tujuh dekade. GM kehilangan mahkota penjualan Toyota pada tahun 2008 yakni saat Amerika Serikat dibelit krisis ekonomi dan pabrikan itu menghadapi masalah keuangan. Perusahaan Amerika sempat kembali memimpin penjualan global selama satu tahun, yakni pada 2011.

Pada saat itu, Jepang dilanda tsunami dan gempa bumi, sehingga proses produksi produsen mobil terganggu. Toyota mulai berpikir untuk menggenjot penjualan di pasar negara berkembang, dan memndayagunakan Daihatsu yang sahamnya juga telah dimilikinya. Selain itu, Toyota juga terus menggenjot penjualan varian berteknologi hybrid. Kini, untuk masa depan, Toyota telah mengembangkan mobil berbahan bakar hidrogen, Toyota Mirai. -Toyota boleh tersenyum lebar. Pabrikan asal Jepang ini berhasil menjadi produsen paling banyak menjual kendaraan selama 4 tahun berturut-turut di dunia.

Toyota pun mengumumkan, setidaknya 10 juta lebih mobil sudah terjual 2015 lalu. Seperti dilansir worldcarfans, Kamis (28/1/2016), memang penjualan Toyota di 2015 kemarin bisa dikatakan turun 0,8 persen dibandingkan 2014. Meski demikian, para produsen dunia harus mengakui ketangguhan Toyota. Karena Toyota menjadi satu-satunya pabrikan yang berhasil menjual 10 jutaan mobil pada 2015 kemarin.

Atau tepatnya Toyota telah berhasil menjual hingga 10.150.000 unit mobil, termasuk penjualan dari Daihatsu dan Hino. Meski demikian, Toyota harus tetap waspada dengan produsen lainnya. Sebut saja VAG (MAN dan Scania) yang berhasil menjual hingga 9,9 juta unit di 2015, serta GM yang berhasil menjual 9,8 juta, dan tidak menutup kemungkinan bisa menyalip Toyota.

Dan ketangguhan Toyota ini juga dikatakan tidak lepas dari hancurnya penjualan VW, akibat kasus emisi gas buang. Sehingga wajib hukumnya bagi Toyota untuk lebih waspada.

Daihatsu Diambil Alih Oleh Toyota

Toyota Motor Corporation akan memiliki kontrol sepenuhnya terhadap Daihatsu pada Agustus 2016. Apakah ada efeknya terhadap operasi Daihatsu di Indonesia?

Ketua Umum Gaikindo, Sudirman MR yang juga Presdir PT Astra Daihatsu Motor mengatakan masih menunggu keputusan akuisisi saham tersebut hingga Agustus 2016. Selain itu, Sudirman menambahkan isu akuisisi saham adalah hal yang biasa terjadi di Jepang.

"Tidak ada pengaruhnya disini, itu tidak ada pengaruh untuk sementara. Penyelesaiannya akan berjalan sampai Agustus. Jadi untuk sementara tidak ada pengaruh perubahan apa-apa," jelas Sudirman MR di Jakarta. "Itu bisa saja terjadi di Jepang. Di sana isu itu hal biasa peraturan setempat. Itu kan implikasinya masing-masing. Toyota punya join venture di Indonesia, Daihatsu juga punya. Tapi itu kan independen masing-masing," lanjutnya.

Toyota selama ini memiliki 51,2 persen saham Daihatsu. Pada Agustus mendatang seluruh saham Daihatsu akan dimiliki oleh Toyota. Dengan mengontrol sepenuhnya Daihatsu, Toyota berharap bisa mendapatkan keahlian dalam hal mobil-mobil dengan biaya yang rendah, sementara bagi Daihatsu akan mempermudah mereka mendapatkan teknologi masa depan yang dikembangkan oleh Toyota.

"Ini adalah peluang bagi kami untuk berhenti memikirkan apa yang kami butuhkan untuk melaju sendirian, dan mempercayai satu sama lain untuk mengambil keuntungan besar dari kekuatan masing-masing kami," kata Presiden Toyota Akio Toyoda. Toyota akan mengakuisi saham Daihatsu dengan cara menukar sekitar 0,26 saham milik Toyota dengan setiap saham Daihatsu. Saham Daihatsu sendiri akan mengalami delisting (atau penghapusan saham di pasar) setelah 26 Juli.

Daihatsu seperti dikutip dari Reuters, memiliki pangsa pasar 16,2 persen di Indonesia. Di Indonesia Daihatsu memproduksi mobil-mobil seperti Ayla, Xenia, dan Terios.

Monday, February 1, 2016

Schlumberger PHK 10.000 Karyawan Karena Penurunan Harga Minyak Dunia

Perusahaan jasa pengeboran internasional, Schlumberger, telah memangkas alias melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 10.000 karyawannya, dalam 3 bulan terakhir. PHK tersebut dilakukan di tengah anjloknya harga minyak dunia. Saat ini, harga minyak dunia telah jatuh higga US$ 27/barel.

Dalam 3 bulan terakhir, Schlumberger mencatat kerugian hingga US$ 1 miliar. Itu merupakan kerugian kuartalan terbesar dalam 12 tahun terakhir. Sementara dari sisi pendapatan, perusahaan jasa pengeboran tersebut mencatat penurunan yang cukup dalam sebesar 39% menjadi US$ 7,74 miiar. Demikian dikatakan Chief Executive Perusahaan Paal Kibsgaard, dilansir BBC.com, Jumat (22/1/2016).

Menurutnya, belum ada tanda-tanda harga minyak membaik. Melihat kondisi demikian, Schlumberger melakukan pembelian kembali (buyback) sahamnya sebesar US$ 10 miliar. Berita ini mendorong saham perusahaan tersebut naik 4%.Schlumberger mencatat, di tahun 2015 harga sahamnya turun hampir 20%. Penurunan ini akibat dari kekhawatiran investor karena merosotnya harga minyak.

Pemangkasan karyawan oleh Schlumberger ini sebagai salah satu cara perusahaan untuk melakukan efisiensi. Perusahaan juga sudah mengumumkan sebelumnya jika akan ada pemangkasan karyawan tambahan sebanyak 20.000 orang. Kibsgaard menegaskan, dalam jangka pendek maupun menengah belum ada tanda-tanda pemulihan harga minyak dunia.

Terus merosotnya harga minyak dunia berdampak negatif pada pasar saham. Pasokan minyak yang berlimpah masih akan berlanjut, dan akan melanjutkan sentimen negatif di pasar saham. Diperkirakan, pasar saham masih akan dalam tren melemah alias bearish."Jatuhnya harga minyak dunia juga membuat sejumlah investor menahan investasinya secara signifikan," tulis Schlumberger.

Harga minyak telah jatuh di bawah US$ 28 per barel, terendah sejak pertengahan 2014 .Banyak analis memperkirakan harga minyak dunia di 2016 masih akan menurun, kemungkinan bisa di bawah US$ 20 per barel.Bahkan, Ekonom di Royal Bank of Scotlandia menyebutkan, harga minyak dunia bisa jatuh di bawah US$ 16 per barel. Sementara Standard Chartered memprediksi harga minyak bisa mencapai hanya US$ 10 barel.