Indeks harga konsumen pada April 2016 yang mencatatkan deflasi sebesar 0,45 persen menjadi yang tertinggi sejak tahun 2000. Pemerintah menyampaikan, deflasi pada April 2016 belum tentu mencerminkan daya beli masyarakat yang turun. Menanggapi hal itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, perubahan harga harus dikomparasikan dengan data pendapatan masyarakat.
"Daya beli itu harus dibandingkan antara penerimaan dengan harga. Kan kita belum ada data penerimaan," kata Darmin di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (2/5/2016). Menurut Darmin, inflasi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tiap awal bulan hanyalah memotret perubahan baik penurunan maupun kenaikan harga dalam waktu tertentu.
"Kalau mau bicara soal daya beli, nanti kalau sudah setahun Anda baru bisa menyimpulkan," ucap mantan Gubernur Bank Indonesia itu. Dia menambahkan, inflasi hingga April 2016 masih dalam rentang yang diharapkan pemerintah, yaitu 3-4 persen setahun. Kepala BPS Suryamin mengatakan, deflasi April 2016 bukan menunjukkan penurunan daya beli. Buktinya, kata dia, sepanjang Januari-Maret 2016, jumlah penumpang angkutan udara domestik mengalami peningkatan sebesar 20,35 persen dibandingkan periode yang sama pada 2015.
"Buktinya, ada 18,4 juta penumpang pesawat terbang. Walaupun ada yang namanya promo, kan angkutan udara juga terbilang (transportasi) mahal," kata Suryamin. Menurut Suryamin, deflasi April 2016 lebih dikarenakan panen raya yang menyebabkan turunnya harga beras serta penurunan harga energi.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo memperkirakan, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan April 2016 akan mengalami deflasi secara bulanan. Agus menuturkan, deflasi tersebut didorong oleh penurunan harga sejumlah komoditas bahan pangan. Agus menjelaskan, prediksi deflasi tersebut diperoleh dari hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dihelat bank sentral hingga minggu ketiga bulan April 2016.
"Inflasi April sampai dengan minggu ketiga kita lihat bisa deflasi 0,33 persen. Ini karena ada beberapa harga pangan yang sudah terjadi penurunan," kata Agus di kantornya, Jumat (22/4/2016). Dengan demikian, imbuh Agus, laju inflasi di sepanjang tahun 2016 akan berada pada sasaran BI di kisaran 4 persen plus minus 1 persen. "Kami melihat angka sasaran ini akan tercapai di akhir 2016," ujar Agus. Lebih lanjut, Agus menuturkan, bank sentral mengapresiasi langkah pemerintah dan DPR yang akan membahas perubahan APBN 2016 pada Mei atau Juni mendatang.
"Ini langkah baik dari pemerintah dan juga akan keluar Paket Kebijakan Ekonomi XII yang akan menimbulkan optimisme," ungkap dia. Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung menjelaskan, perkiraan deflasi pada bulan April 2016 tersebut disebabkan beberapa faktor. Ia menyebut, penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) berupa premium dan solar serta turunnya tarif angkutan umum merupakan faktor kunci deflasi bulan April 2016.
Selain itu, Juda pun menyebut upaya pemerintah dalam menurunkan suku bunga juga tepat. Pasalnya, dengan suku bunga yang turun, maka laju inflasi dapat berjalan lambat. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan indeks harga konsumen (IHK) pada April 2016 mengalami deflasi sebesar 0,45 persen. Kepala BPS Suryamin mengatakan, ini adalah deflasi terbesar sejak tahun 2000.
“Dibandingkan beberapa tahun lalu, sejak 2000, April 2016 paling tinggi deflasinya. Ini hanya kalah dari tahun 1999, yang waktu itu deflasinya 0,68 persen,” kata Suryamin dalam paparan, di Jakarta, Senin (2/5/2016). Ada tiga kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan harga di bulan April. Pertama, kelompok bahan makanan yang mengalami deflasi sebesar 0,94 persen.
“Cukup banyak komoditas turun di bulan April, antara lain padi-padian termasuk beras, daging, ikan segar dan ikan olahan, telur, dan bumbu-bumbuan,” kata Suryamin. Kedua adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar yang mengalami deflasi sebesar 0,13 persen. Deflasi pada kelompok pengeluaran ini didorong penurunan tarif dasar listrk (TDL). Ketiga adalah kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan yang mengalami deflasi cukup besar sampai 1,6 persen.
Suryamin menjelaskan, penurunan kelompok pengeluaran ini diakibatkan penurunan tarif angkutan dalam kota maupun antar-kota didorong penurunan harga bahan bakar minyak (BBM). Adapun tiga kelompok pengeluaran mengalami inflasi pada bulan April. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau masih mengalami kenaikan harga sebesar 0,35 persen. Sementara itu kelompok sandang kenaikannya sebesar 0,02 persen.
Kelompok kesehatan pada April mengalami inflasi sebesar 0,01 persen. Sedangkan, tidak ada kenaikan harga maupun penurunan harga untuk kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga. “Inflasi tahun kalender (Januari-April) sebesar 0,16 persen. Sementara inflasi tahun ke tahun sebesar 3,6 persen,” imbuh Suryamin.
Inflasi komponen inti tercatat sebesar 0,15 persen, dan inflasi komponen inti tahun ke tahun sebesar 3,41 persen. Dari 81 kota IHK,sebanyak 77 kota mengalami deflasi, sedangkan lima kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tarakan sebesar 0,45 persen.
Cepat atau lambat Indonesia diyakini akan mengikuti tren deflasi yang saat ini melanda banyak negara, atau deflasi global. Menurut pengamat, proyeksi tren deflasi ditambah dengan harga minyak yang murah seharusnya bisa menjadi pertimbangan utama penurunan suku bunga acuan. Penurunan suku bunga acuan akan berguna untuk menggerakkan perekonomian.
“Deflasi global terjadi selain karena lambatnya pertumbuhan ekonomi dunia,” ungkap direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Dzulfian Syafrian kepadaKompas.com, Selasa (1/3/2016). Selain itu, deflasi global juga terjadi akibat jatuhnya harga-harga komoditas dan energi khususnya minyak,
Dzulfian mengatakan, deflasi yang terjadi Februari 2016 semakin membuka lebar peluang Bank Indonesia (BI) untuk kembali memangkas suku bunga acuan. “Deflasi ini akan terus berlanjut selama perekonomian global masih belum pulih dan harga-harga komoditas dan energi masih anjlok seperti saat ini,” imbuh Dzulfian.
Menurut dia, jatuhnya harga komoditas akan memukul perekonomian Indonesia yang sangat bergantung pada barang-barang komoditas mentah, terutama minyak bumi. Namun hal tersebut dapat dikompensasi dengan murahnya harga minyak dunia, yang dinilai sebagai bonus dan insentif bagi perekonomian.
"Peluang ini harus dilihat dengan seksama oleh para pengambil kebijakan khususnya BI dan pemerintah,” tukas Dzulfian. Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan indeks harga konsumen (IHK) di Februari 2016 mengalami deflasi sebesar 0,09 persen. Dengan demikian, inflasi tahun kalender 2016 sebesar 0,42 persen. Sementara itu inflasi tahun ke tahun mencapai 4,42 persen.
“Komponen energi pada Februari 2016 mengalami deflasi sebesar 2,04 persen. Ini termasuk harga yang diatur pemerintah tadi,” kata Kepala BPS Suryamin dalam paparannya di Jakarta, Selasa (1/3/2016). Adapun inflasi komponen inti Februari 2016 sebesar 0,31 persen. Dengan demikian inflasi komponen inti tahun ke tahun mencapai sebesar 3,59 persen.
Suryamin menuturkan, pada Januari 2016 inflasi komponen inti tahun ke tahun sebesar 3,62 persen. “Berarti infasi komponen inti ada pengendalian yang sangat baik,” kata Suryamin. Keputusan perusahaan-perusahaan jasa angkutan yang akan memangkas tarif, diperkirakan akan menahan laju inflasi pada bulan April 2016 ini. Bahkan, ada potensi pada April ini akan terjadi deflasi, setelah pada bulan Maret 2016 lalu terjadi inflasi 0,19 persen secara month on month (MoM).
Keputusan perusahaan jasa angkutan yang tergabung dalam Organisasi Angkutan Darat (ORGANDA) ini, merupakan dampak dari keputusan pemerintah yang menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai 1 April 2016. Penurunan harga BBM terjadi untuk jenis premium maupun solar.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, penurunan BBM yang dilanjutkan dengan pemangkasan tarif angkutan akan memberikan andil terhadap deflasi, yang diperkirakan menyentuh 0,25 persen-0,35 persen pada April. Sebelumnya, Organda memutuskan untuk menurunkan tarif angkutan dalam kota untuk bus kecil sebesar Rp 500, dan bus kota sebesar Rp 300.
Bahkan deflasi bisa lebih lebar lagi, mengingat pada April juga akan terjadi panen raya. Adanya masa panen raya akan membuat harga pangan semakin stabil. "Tapi pemerintah harus mengamati betul suplai komoditas lain," kata Josua, Minggu (3/4/2016).Sebab, suplai untuk beberapa komoditas lain dalam beberapa waktu belakangan sedikit mengalami masalah. Nah, komoditas yang selama ini bermasalah harus diamati betul pola pendistribusiannya.
Sebelumnya Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan, inflasi harus dijaga hingga akhir tahun tidak boleh lebih dari 4,5 persen. Sementara target pemerintah sendiri dalam APBN 2016 untuk laju inflasi sebesar 4,7 persen. Meskipun 4,5 persen di bawah target pemerintah, tetapi jika dibandingkan tahun lalu jauh lebih tinggi. Realisasi inflasi tahun 2015 lalu sebesar 3,3 persen.
Sementara menteri koordinato bidang perekonomian menegaskan, pemerintah akan terus menjaga kenaikan harga pangan. Inflasi menjadi salah satu alsaan pemerintah mengapa tidak menurunkan harga BBM menjadi sama dengan harga keekonomian. Sebab, jika tiba-tiba harga minyak dunia kembali naik, maka harga bbm kembali harus disesuaikan. Sekecil apapun kenaikan harga BBM, dampak inflasinya akan jaug lebih besar dari pengaruhnya terhadap deflasi ketika turun.
Monday, May 2, 2016
Kesenjangan Ekonomi Di Jakarta Tahun 2015 Makin Lebar
Kepala Badan Pusat Statistik DKI Jakarta Syech Suhaimi mengatakan, naiknya angka ketimpangan ekonomi di Jakarta disebabkan kenaikan pendapatan orang kaya yang terlalu cepat. Sementara itu, kenaikan pendapatan masyarakat menengah dan bawah cenderung melambat.
Menurut Suhaimi, jumlah orang kaya, yang kekayaannya meningkat pesat ini, hanya 20 persen dari jumlah keseluruhan penduduk Jakarta. "Pendapatan 20 persen penduduk ini naiknya terlalu cepat. Sementara itu, pendapatan masyarakat menengah dan bawah yang jumlahnya 80 persen melambat," ujar Suhaimi.
Hal ini disampaikannya saat melakukan sensus ekonomi di rumah dinas Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat di Jalan Besakih, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (2/5/2016).
Dari data yang dilansir BPS, angka ketimpangan tahun 2015 mencapai 0,46 persen. Angka tersebut lebih besar dari ketimpangan ekonomi pada 2014, yang hanya 0,43 persen.
Menurut Suhaimi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkewajiban untuk menurunkan angka ketimpangan ekonomi ini. "Semakin dekat ke angka 1 semakin timpang. Inilah tugas Pemda untuk menekannya supaya tidak berjarak," ujar dia.
Menurut Suhaimi, jumlah orang kaya, yang kekayaannya meningkat pesat ini, hanya 20 persen dari jumlah keseluruhan penduduk Jakarta. "Pendapatan 20 persen penduduk ini naiknya terlalu cepat. Sementara itu, pendapatan masyarakat menengah dan bawah yang jumlahnya 80 persen melambat," ujar Suhaimi.
Hal ini disampaikannya saat melakukan sensus ekonomi di rumah dinas Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat di Jalan Besakih, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (2/5/2016).
Dari data yang dilansir BPS, angka ketimpangan tahun 2015 mencapai 0,46 persen. Angka tersebut lebih besar dari ketimpangan ekonomi pada 2014, yang hanya 0,43 persen.
Menurut Suhaimi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkewajiban untuk menurunkan angka ketimpangan ekonomi ini. "Semakin dekat ke angka 1 semakin timpang. Inilah tugas Pemda untuk menekannya supaya tidak berjarak," ujar dia.
Punya Uranium 7.000 Ton, Indonesia Siap Jadi Eksportir
Dewan Energi Nasional (DEN) meragukan hasil eksplorasi uranium yang dilakukan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). BATAN diminta memperjelas di mana saja tepatnya potensi uranium sebesar 7.000 ton tersebut berada.
"Potensi 7.000 ton itu perlu diperjelas ada di mana. Saya pernah mau mendatangi yang di Kalan itu, tapi kata BATAN sudah ditinggalkan, tidak ada orang lagi di sana," kata Anggota DEN, Rinaldy Dalim. Dia menambahkan bahwa potensi uranium di Kalan, Kalimantan Barat, bukan temuan baru. Potensi di sana telah lama diketahui dan sudah pernah diteliti bahwa tidak ekonomis untuk dikembangkan.
"Penemuan di Kalan itu sudah puluhan tahun lalu, tapi nggak ekonomis untuk dikembangkan," ujarnya. Selain belum benar-benar akurat besaran dan lokasi potensi uranium di Indonesia, rencana untuk pengembangannya juga belum jelas. Dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang dibuat pemerintah, energi nuklir adalah alternatif terakhir bila sumber-sumber energi lainnya tak bisa dikembangkan.
"Kita sudah tetapkan bahwa nuklir adalah pilihan terakhir, itu sudah disetujui DPR juga. Memang keputusannya tidak bulat, tapi kalau sudah ditetapkan maka yang tidak tidak setuju juga harus mengikuti," paparnya. Daripada mengembangkan nuklir, sambung Rinaldy, lebih baik Indonesia mengembangkan sumber-sumber energi lain yang lebih murah dan ramah lingkungan, seperti panas bumi, air, angin, matahari, dan sebagainya.
"Kita masih punya banyak sumber energi lain yang lebih aman dan lebih murah," tutup Rinaldy. Sebelumnya, BATAN mengaku beberapa waktu lalu melakukan eksplorasi mineral radioaktif (bahan galian nuklir) di beberapa daerah di Indonesia. Hasilnya, ditemukan sejumlah potensi uranium di beberapa tempat.
Sebelumnya, temuan potensi mineral uranium telah ditemukan BATAN berada di daerah Kalan, Melawi, Kalimantan Barat. Selain Kalan, ada beberapa daerah yang potensial lainnya memiliki kandungan uranium, seperti di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Sibolga Sumatera Utara, dan Biak Papua. BATAN menghitung besaran potensi uranium di Indonesia mencapai 7.000 ton.
"Potensi 7.000 ton itu perlu diperjelas ada di mana. Saya pernah mau mendatangi yang di Kalan itu, tapi kata BATAN sudah ditinggalkan, tidak ada orang lagi di sana," kata Anggota DEN, Rinaldy Dalim. Dia menambahkan bahwa potensi uranium di Kalan, Kalimantan Barat, bukan temuan baru. Potensi di sana telah lama diketahui dan sudah pernah diteliti bahwa tidak ekonomis untuk dikembangkan.
"Penemuan di Kalan itu sudah puluhan tahun lalu, tapi nggak ekonomis untuk dikembangkan," ujarnya. Selain belum benar-benar akurat besaran dan lokasi potensi uranium di Indonesia, rencana untuk pengembangannya juga belum jelas. Dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang dibuat pemerintah, energi nuklir adalah alternatif terakhir bila sumber-sumber energi lainnya tak bisa dikembangkan.
"Kita sudah tetapkan bahwa nuklir adalah pilihan terakhir, itu sudah disetujui DPR juga. Memang keputusannya tidak bulat, tapi kalau sudah ditetapkan maka yang tidak tidak setuju juga harus mengikuti," paparnya. Daripada mengembangkan nuklir, sambung Rinaldy, lebih baik Indonesia mengembangkan sumber-sumber energi lain yang lebih murah dan ramah lingkungan, seperti panas bumi, air, angin, matahari, dan sebagainya.
"Kita masih punya banyak sumber energi lain yang lebih aman dan lebih murah," tutup Rinaldy. Sebelumnya, BATAN mengaku beberapa waktu lalu melakukan eksplorasi mineral radioaktif (bahan galian nuklir) di beberapa daerah di Indonesia. Hasilnya, ditemukan sejumlah potensi uranium di beberapa tempat.
Sebelumnya, temuan potensi mineral uranium telah ditemukan BATAN berada di daerah Kalan, Melawi, Kalimantan Barat. Selain Kalan, ada beberapa daerah yang potensial lainnya memiliki kandungan uranium, seperti di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Sibolga Sumatera Utara, dan Biak Papua. BATAN menghitung besaran potensi uranium di Indonesia mencapai 7.000 ton.
Coca-Cola dan Indofood Mulai Gunakan Garam Lokal
Hampir seluruh kebutuhan garam untuk industri di Indonesia dipenuhi dari impor. Pasalnya, garam hasil produksi di dalam negeri belum mampu memenuhi standar untuk kebutuhan industri. Industri aneka pangan membutuhkan garam yang bersih dengan kadar NaCL di atas 94%, untuk industri kaca kadar NaCL minimal 97%, industri farmasi membutuhkan garam dengan kadar NaCL hingga 99%. Sementara rata-rata garam lokal baru memiliki kadar NaCL sebesar 91%.
Namun, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah pimpinan Menteri Susi Pudjiastuti berupaya agar Indonesia tak lagi bergantung pada garam impor untuk kebutuhan industri. Upaya Susi mulai menemui titik terang, Coca Cola dan Indofood sudah mulai mencoba menggunakan garam lokal yang sudah ditingkatkan kualitasnya.
"Beberapa industri aneka pangan sudah mulai coba, Coca-Cola, Indofood, sudah mulai pakai garam lokal," tutur Sekjen KKP, Sjarif Widjaja, usai konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta, Selasa (29/12/2015). Namun diakuinya, garam lokal yang digunakan oleh Coca Cola dan Indofood masih amat kecil jumlahnya, baru puluhan ribu ton saja. Produksi garam lokal untuk memenuhi permintaan industri memang masih sangat minim.
"Sekarang masih sedikit sekali, baru puluhan ribu ton. Masih kecil," ucapnya. Industri yang merupakan konsumen utama garam impor, yakni PT Asahi Mas, belum mulai menggunakan garam lokal karena ketersediaan dan kualitas garam lokal masih belum memenuhi. "Konsumen terbesar kan industri kaca, seperti PT Asahi Mas dan sebagainya, mereka butuh 1,1 juta ton," ujar Sjarif.
Sjarif bertekad untuk mulai menggenjot produksi garam untuk industri di dalam negeri. Mulai 2016, pihaknya tak lagi hanya berfokus menggenjot produksi garam, tapi juga mendorong peningkatan kualitasnya. "Sekarang volume produksi sudah oke, processing-nya saja yang perlu digenjot," ucapnya.
Bila garam produksi petani bisa mencapai standar untuk kebutuhan industri, kesejahteraan mereka pun akan terangkat karena garam industri dihargai jauh lebih tinggi dibanding garam konsumsi. Karena itu, KKP perlu membantu peningkatan kualitas garam lokal agar kesejahteraan petani garam lebih baik. "Kalau kita bisa memenuhi kebutuhan mereka, petani garam sudah lumayan sekali penghasilannya, sejahtera," tutupnya.
Namun, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah pimpinan Menteri Susi Pudjiastuti berupaya agar Indonesia tak lagi bergantung pada garam impor untuk kebutuhan industri. Upaya Susi mulai menemui titik terang, Coca Cola dan Indofood sudah mulai mencoba menggunakan garam lokal yang sudah ditingkatkan kualitasnya.
"Beberapa industri aneka pangan sudah mulai coba, Coca-Cola, Indofood, sudah mulai pakai garam lokal," tutur Sekjen KKP, Sjarif Widjaja, usai konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta, Selasa (29/12/2015). Namun diakuinya, garam lokal yang digunakan oleh Coca Cola dan Indofood masih amat kecil jumlahnya, baru puluhan ribu ton saja. Produksi garam lokal untuk memenuhi permintaan industri memang masih sangat minim.
"Sekarang masih sedikit sekali, baru puluhan ribu ton. Masih kecil," ucapnya. Industri yang merupakan konsumen utama garam impor, yakni PT Asahi Mas, belum mulai menggunakan garam lokal karena ketersediaan dan kualitas garam lokal masih belum memenuhi. "Konsumen terbesar kan industri kaca, seperti PT Asahi Mas dan sebagainya, mereka butuh 1,1 juta ton," ujar Sjarif.
Sjarif bertekad untuk mulai menggenjot produksi garam untuk industri di dalam negeri. Mulai 2016, pihaknya tak lagi hanya berfokus menggenjot produksi garam, tapi juga mendorong peningkatan kualitasnya. "Sekarang volume produksi sudah oke, processing-nya saja yang perlu digenjot," ucapnya.
Bila garam produksi petani bisa mencapai standar untuk kebutuhan industri, kesejahteraan mereka pun akan terangkat karena garam industri dihargai jauh lebih tinggi dibanding garam konsumsi. Karena itu, KKP perlu membantu peningkatan kualitas garam lokal agar kesejahteraan petani garam lebih baik. "Kalau kita bisa memenuhi kebutuhan mereka, petani garam sudah lumayan sekali penghasilannya, sejahtera," tutupnya.
Produksi Garam Indonesia Ditargetkan Naik 40 Persen Jadi 3,5 Juta Ton
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang berada di bawah pimpinan Menteri Susi Pudjiastuti terus berupaya menggenjot produksi garam di dalam negeri agar Indonesia bisa segera terbebas dari ketergantungan pada garam impor. Setelah sukses melampaui target produksi garam di 2015, KKP berani mematok target produksi garam lebih tinggi lagi di 2016, yakni 3,5 juta ton. Target produksi pada 2016 ini naik 1 juta ton dibanding target produksi garam 2015.
"Target produksi garam tahun depan 3,5 juta ton. Tahun ini kita dapat (realisai produksi garam) 2,8 juta ton dari target 2,5 juta ton," kata Sekjen KKP Sjarif Widjaja usai konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta, Selasa (29/12/2015). Tapi berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, KKP tidak hanya akan fokus untuk meningkatkan garam dari segi kuantitas, tapi juga kualitasnya. Dari target produksi 3,5 juta ton tersebut, 1,8 juta ton diantaranya adalah garam untuk kebutuhan industri.
"Dari 3,5 juta ton itu, kita targetkan 1,8 juta ton garam industri. Sekarang volume produksi sudah oke, processing-nya saja yang perlu digenjot," cetus Sjarif. Peningkatan kualitas garam, sambungnya, juga sangat perlu dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani garam lokal. Sebab, harga garam untuk kebutuhan industri jauh lebih tinggi dibanding garam untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. Petani garam tentu akan mendapatkan penghasilan berlipat jika bisa memproduksi garam untuk industri.
"Harga garam industri cukup tinggi, kenapa petani garam nggak didorong untuk memenuhi garam industri yang added value-nya lebih besar? Sekarang kita dorong petani garam supaya kualitas garamnya mampu memenuhi permintaan industri," tandasnya. Saat ini, kualitas garam lokal masih rendah, banyak yang masih belum bersih, rata-rata kadar NaCL garam lokal pun baru sekitar 91%, sementara standar untuk garam industri di atas itu. Akibatnya, nyaris 100% kebutuhan garam industri di Indonesia harus dipenuhi dari impor.
Agar bisa swasembada garam, produksi garam lokal harus ditingkatkan kualitasnya. "Garam industri masih impor karena garam lokal belum bisa memenuhi standarnya. Jadi kita punya target ke depan kualitas garam petani harus ditingkatkan melalui usaha processing garam," tutup Sjarif.
"Target produksi garam tahun depan 3,5 juta ton. Tahun ini kita dapat (realisai produksi garam) 2,8 juta ton dari target 2,5 juta ton," kata Sekjen KKP Sjarif Widjaja usai konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta, Selasa (29/12/2015). Tapi berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, KKP tidak hanya akan fokus untuk meningkatkan garam dari segi kuantitas, tapi juga kualitasnya. Dari target produksi 3,5 juta ton tersebut, 1,8 juta ton diantaranya adalah garam untuk kebutuhan industri.
"Dari 3,5 juta ton itu, kita targetkan 1,8 juta ton garam industri. Sekarang volume produksi sudah oke, processing-nya saja yang perlu digenjot," cetus Sjarif. Peningkatan kualitas garam, sambungnya, juga sangat perlu dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani garam lokal. Sebab, harga garam untuk kebutuhan industri jauh lebih tinggi dibanding garam untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. Petani garam tentu akan mendapatkan penghasilan berlipat jika bisa memproduksi garam untuk industri.
"Harga garam industri cukup tinggi, kenapa petani garam nggak didorong untuk memenuhi garam industri yang added value-nya lebih besar? Sekarang kita dorong petani garam supaya kualitas garamnya mampu memenuhi permintaan industri," tandasnya. Saat ini, kualitas garam lokal masih rendah, banyak yang masih belum bersih, rata-rata kadar NaCL garam lokal pun baru sekitar 91%, sementara standar untuk garam industri di atas itu. Akibatnya, nyaris 100% kebutuhan garam industri di Indonesia harus dipenuhi dari impor.
Agar bisa swasembada garam, produksi garam lokal harus ditingkatkan kualitasnya. "Garam industri masih impor karena garam lokal belum bisa memenuhi standarnya. Jadi kita punya target ke depan kualitas garam petani harus ditingkatkan melalui usaha processing garam," tutup Sjarif.
Indonesia Ekspor Biskuit Hingga Mie Instan Senilai Rp 9,6 Triliun Tahun 2015
Meski Indonesia bukan negara penghasil gandum, rupanya ekspor tepung terigu, produk dari terigu, dan produk berbasis tepung terigu dari Indonesia sangatlah besar. Tahun 2015, nilai ekspornya tercatat mencapai US$ 736,38 juta atau sekitar Rp 9,6 triliun (kurs Rp 13.000).
Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), Ratna Sariloppies merinci, nilai ekspor tersebut meliputi ekspor tepung terigu sebesar US$ 35,29 juta, produk berbasis terigu US$ 608,117 juta, dan produk sampingan terigu US$ 92,97 juta.
"Total ekspor 2015 ini merupakan 35,4% dari total impor gandum. Di masa depan, Indonesia akan jadi pusat industri tepung terigu di regional Asia Timur. Kemudian, ekspor produk berbasis terigu akan mencapai US$ 1 miliar dalam beberapa waktu ke depan," kata Ratna. Menurut Ratna, total ekspor tepung terigu, produk berbasis tepung terigu, dan produk sampingan ini sebenarnya turun dari tahun 2014 yang mencatatkan nilai ekspor US$ 755,54 juta, atau turun sebesar 2,5%.
Dia mengungkapkan, tahun 2015, ekspor produk berbasis tepung terigu terbesar yakni wafel dan wafer sebesar 55.546 metric ton (MT) dengan nilai US$ 178,45 juta, mie instan 101.899 MT senilai US$ 167,15 juta, biskuit tanpa kandungan kakao 38.498 MT senilai US$ 153,35 juta, dan biskuit dengan kandungan kakao 31.138 MT sebesar US$ 60,89 juta.
"Dibanding tahun 2014, ekspor produk berbasis tepung terigu naik sebesar 0,4%," kata dia.
Sementara, negara-negara yang rajin mengimpor produk berbasis tepung terigu asal Indonesia antara lain Korea Selatan, Vietnam, Filipina, Thailand, Jepang, Malaysia, hingga Timor Leste. Meski bukan produsen gandum, setiap tahun Indonesia rupanya rajin mengekspor tepung terigu cukup besar ke banyak negara. Negara importir terbesar produk tepung terigu asal Indonesia yakni Filipina.
Dari data Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) tahun 2015, Indonesia mengekspor terigu sebesar 79.151 metric ton (MT). Dengan jumlah ekspor terbesar ke Filipina sebesar 44.134 MT, Timor Leste 16.307 MT, Korea Selatan 6.282, Papua Nugini 4.456 MT, dan Singapura 3.518 MT. Kendati demikian, menurut Direktur Eksekutif Aptindo Ratna Sariloppies, jumlah ekspor tepung terigu Indonesia tersebut turun dibanding tahun lalu sebanyak total 79.968 MT.
"Dari data yang kami kirimkan ke BPS (Badan Pusat Statistik), dibanding tahun 2014, ekspor tepung terigu turun sebesar 11,7%. Tujuan utamanya Filipina, Timor Leste, Korea Selatan, dan Papua Nugini," kata Ratna. Sementara itu, lanjut Ratna, dari sisi nilai ekspor, pada tahun 2015 nilai ekspor tepung terigu Indonesia yakni sebesar US$ 35,29 juta. Turun dari nilai ekspor di tahun 2014 sebesar US$ 39,95 juta.
Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), Ratna Sariloppies merinci, nilai ekspor tersebut meliputi ekspor tepung terigu sebesar US$ 35,29 juta, produk berbasis terigu US$ 608,117 juta, dan produk sampingan terigu US$ 92,97 juta.
"Total ekspor 2015 ini merupakan 35,4% dari total impor gandum. Di masa depan, Indonesia akan jadi pusat industri tepung terigu di regional Asia Timur. Kemudian, ekspor produk berbasis terigu akan mencapai US$ 1 miliar dalam beberapa waktu ke depan," kata Ratna. Menurut Ratna, total ekspor tepung terigu, produk berbasis tepung terigu, dan produk sampingan ini sebenarnya turun dari tahun 2014 yang mencatatkan nilai ekspor US$ 755,54 juta, atau turun sebesar 2,5%.
Dia mengungkapkan, tahun 2015, ekspor produk berbasis tepung terigu terbesar yakni wafel dan wafer sebesar 55.546 metric ton (MT) dengan nilai US$ 178,45 juta, mie instan 101.899 MT senilai US$ 167,15 juta, biskuit tanpa kandungan kakao 38.498 MT senilai US$ 153,35 juta, dan biskuit dengan kandungan kakao 31.138 MT sebesar US$ 60,89 juta.
"Dibanding tahun 2014, ekspor produk berbasis tepung terigu naik sebesar 0,4%," kata dia.
Sementara, negara-negara yang rajin mengimpor produk berbasis tepung terigu asal Indonesia antara lain Korea Selatan, Vietnam, Filipina, Thailand, Jepang, Malaysia, hingga Timor Leste. Meski bukan produsen gandum, setiap tahun Indonesia rupanya rajin mengekspor tepung terigu cukup besar ke banyak negara. Negara importir terbesar produk tepung terigu asal Indonesia yakni Filipina.
Dari data Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) tahun 2015, Indonesia mengekspor terigu sebesar 79.151 metric ton (MT). Dengan jumlah ekspor terbesar ke Filipina sebesar 44.134 MT, Timor Leste 16.307 MT, Korea Selatan 6.282, Papua Nugini 4.456 MT, dan Singapura 3.518 MT. Kendati demikian, menurut Direktur Eksekutif Aptindo Ratna Sariloppies, jumlah ekspor tepung terigu Indonesia tersebut turun dibanding tahun lalu sebanyak total 79.968 MT.
"Dari data yang kami kirimkan ke BPS (Badan Pusat Statistik), dibanding tahun 2014, ekspor tepung terigu turun sebesar 11,7%. Tujuan utamanya Filipina, Timor Leste, Korea Selatan, dan Papua Nugini," kata Ratna. Sementara itu, lanjut Ratna, dari sisi nilai ekspor, pada tahun 2015 nilai ekspor tepung terigu Indonesia yakni sebesar US$ 35,29 juta. Turun dari nilai ekspor di tahun 2014 sebesar US$ 39,95 juta.
Industri Manufaktur Kelas Mikro Tumbuh 0,76% di Kuartal Pertama 2016
Produksi industri manufaktur kelas mikro dan kecil tumbuh 0,76% pada kuartal I-2016 (q to q) dari 131,98 pada kuartal IV-2015 menjadi 132,98. Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, kenaikan terjadi cukup signifikan, yakni 5,91% dari 125,56.
"Industri manufaktur untuk mikro dan kecil naik cukup signifikan pada kuartal I-2016," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/5/2016). Dalam rinciannya, kenaikan tertinggi (q to q) terjadi pada kelompok kertas dan barang dari kertas 13,95%. Kemudian komputer, barang elektronika dan optik sebesar 13,35% dan mesin dan perlengkapan 12,37%.
Ada juga yang mengalami penurunan, yaitu kelompok pengolahan tembakau 6,71%, barang logam bukan mesin dan peralatannya 7,70% dan jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan sebesar 7,75%. "Pengolahan tembakau mengalami penurunan produksi karena memang pada musimnya," jelasnya.
Sementara itu, untuk industri manufaktur besar dan sedang justru mengalami penurunan 1,34% (q to q) dari 129,56 menjadi 127,83. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year on year) naik 4,08% dari 122,81. "Kalau melihat kuartal I-2015 dibandingkan dengan kuartal IV-2014 juga ada penurunan. Biasanya bergantung terhadap belanja pemerintah," papar Suryamin.
Suryamin merincikan, kelompok kayu, barang dari kayu dan gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan tumbuh 5,6%, logam dasar 3,76% dan alat angkutan lainnya 3,51%. Kelompok kertas dan barang kertas justru mengalami penurunan 5,73%, karet, barang dari karet dan plastik turun 7,66% dan pengolahan tembakau 9,99%. "Industri kertas contohnya itu kan untuk keperluan kantor seperti ATK. Jadi karena belum banyak order jadi industrinya menurun di kuartal I," pungkasnya.
"Industri manufaktur untuk mikro dan kecil naik cukup signifikan pada kuartal I-2016," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/5/2016). Dalam rinciannya, kenaikan tertinggi (q to q) terjadi pada kelompok kertas dan barang dari kertas 13,95%. Kemudian komputer, barang elektronika dan optik sebesar 13,35% dan mesin dan perlengkapan 12,37%.
Ada juga yang mengalami penurunan, yaitu kelompok pengolahan tembakau 6,71%, barang logam bukan mesin dan peralatannya 7,70% dan jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan sebesar 7,75%. "Pengolahan tembakau mengalami penurunan produksi karena memang pada musimnya," jelasnya.
Sementara itu, untuk industri manufaktur besar dan sedang justru mengalami penurunan 1,34% (q to q) dari 129,56 menjadi 127,83. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year on year) naik 4,08% dari 122,81. "Kalau melihat kuartal I-2015 dibandingkan dengan kuartal IV-2014 juga ada penurunan. Biasanya bergantung terhadap belanja pemerintah," papar Suryamin.
Suryamin merincikan, kelompok kayu, barang dari kayu dan gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan tumbuh 5,6%, logam dasar 3,76% dan alat angkutan lainnya 3,51%. Kelompok kertas dan barang kertas justru mengalami penurunan 5,73%, karet, barang dari karet dan plastik turun 7,66% dan pengolahan tembakau 9,99%. "Industri kertas contohnya itu kan untuk keperluan kantor seperti ATK. Jadi karena belum banyak order jadi industrinya menurun di kuartal I," pungkasnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)