Pages - Menu

Friday, June 10, 2022

Bank Dunia Pangkas Pertumbuhan Ekonomi China Jadi 4,3 Persen Akibat Lock Down Berkelanjutan

 Bank Dunia (World Bank) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China sebesar 0,8 persen menjadi 4,3 persen pada 2022. Mengutip AFP, Sabtu (11/6), ekonomi China akan memburuk karena pandemi covid-19. Pasalnya, negara itu menganut kebijakan nol covid.

China melakukan lockdown untuk membatasi mobilitas masyarakat. Dengan kebijakan itu, pemerintah berharap kasus covid-19 melandai. Namun, lockdown memberikan dampak negatif untuk China. Sebab, kegiatan ekonomi di negara itu menjadi tertahan.

"Ini sebagian besar mencerminkan kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh wabah omicron dan lockdown yang berkepanjangan di beberapa bagian China dari Maret hingga Mei," tulis Bank Dunia dalam laporannya.

Pada Maret-Mei 2022, China melakukan lockdown di beberapa kota, seperti pusat manufaktur Shenzhen dan Shanghai. "Dalam jangka pendek, China menghadapi tantangan ganda untuk menyeimbangkan mitigasi covid-19 dengan mendukung pertumbuhan ekonomi. Dilemanya adalah bagaimana membuat stimulus kebijakan efektif, selama pembatasan mobilitas tetap ada," kata Country Director Bank Dunia untuk China, Mongolia, dan Korea Martin Raiser.

Meski begitu, Raiser mengatakan aktivitas ekonomi China mulai pulih pada semester II 2022. Hal itu akan didorong stimulus fiskal dan pelonggaran aturan terkait perumahan. Bank Dunia melihat permintaan domestik akan pulih secara bertahap. Setelah itu, konsumsi akan meningkat dan mendorong ekonomi China.


Friday, June 3, 2022

Badai Startup Bangkrut dan PHK Mulai Menghantam Indonesia

 Istilah 'bakar duit' melekat erat pada perusahaan rintisan di bidang teknologi atau startup. Bakar duit sendiri dilakukan sebagai upaya untuk menggaet konsumen dengan waktu yang cepat ketika produk startup tidak memiliki inovasi atau nilai tambah terhadap kompetitor yang telah lebih dahulu hadir

Pemerhati startup sekaligus Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia periode 2018-2020 Ignatius Untung memberikan penjelasan soal bakar duit ini. Ia menjelaskan, model bisnis startup ialah mendapatkan uang dari investor untuk mendorong bisnis. Startup sendiri melakukan bakar duit sejalan dengan janji janji manis yang diberikan kepada investor yang menginginkan pertumbuhan bisnis yang baik.

"Karena gini, startup itu kan business model-nya adalah mendapatkan uang banyak dari investor, lalu didorong untuk dilakukan bisnis. Yang sebelum-sebelumnya nggak bisa disalahkan startupnya sendiri kalau kita tanda kutip bakar uang dan sebagainya, karena juga investor yang ngedorong untuk harus punya growth yang bagus," katanya 

Bagi startup, bakar uang merupakan sesuatu yang bikin 'deg-degan' bagi investor maupun pendiri. Bagi pendiri startup tahap ini adalah tahap dapat jackpot milyaran atau harus memulai dari nol. Namun, berbagai upaya dilakukan karena menimbang harapan pertumbuhan kinerja yang tinggi.

"Siapa yang mau bakar uang sih, deg-degan juga kita bakar uang. Tapi karena ekspektasi untuk drive performance yang sebegitu tinggi terjadi, akhirnya ya mau nggak mau ya digas. Caranya ngegas gimana? Awalnya pasti nggak bakar uang karena yang namanya ada uang terus habis itu kita hambur-hamburkan dalam tanda kutip itu juga pasti deg-degan," katanya.

"Tapi sudah segala cara termasuk bakar uang, ternyata bakar uang ini dalam beberapa kasus, nggak semua kasus, dalam beberapa kasus terbukti manjur untuk nge-drive growth itu tadi," tambahnya. Yang jadi masalah, katanya, pertumbuhan ini berkelanjutan atau tidak. Ketika uang itu habis, startup akan meminta suntikan dana lagi ke investor. Nah, kondisi ini yang menunjukkan startup tidak kebal terhadap kondisi ekonomi. Saat ekonomi sedang tidak menentu seperti sekarang, investor pun cenderung menahan dananya.

"Itu yang membuat sebenarnya memang bisnis startup memang tidak kebal amat, sangat tidak kebal terhadap kondisi-kondisi ekonomi seperti ini. Karena ketika kondisi ekonomi seperti ini investor pun nahan uang, jadi mereka pun akan mikir mau suntik apa nggak, 'Ah ntar dulu deh kita pun butuh megang uang sekarang'," terangnya.

Dengan kondisi begitu, startup yang butuh dana pun putar otak ketika dana yang dimiliki seret. Maka itu, untuk bisa bertahan startup mengurangi pengeluaran termasuk pegawai. "Jadi mereka yang butuh suntikan dana ya mau minta dari mana otomatis harus mikir, gimana caranya saya bisa bertahan hidup sampai pada akhirnya lewat. Cara untuk bisa bertahan untuk badai yang lewat salah satu opsinya memang mengurangi pengeluaran, salah satunya pegawai dan sebagainya," jelasnya.

Maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) pada perusahaan rintisan di bidang teknologi atau startup tengah menjadi topik perbincangan yang hangat di Tanah Air. Hal tersebut pun kerap kali dikaitkan dengan fenomena bubble burst. Bubble burst atau situasi bubble secara umum merupakan kondisi yang terjadi ketika nilai pasar naik dengan sangat cepat, terutama pada nilai aset dan diikuti oleh penurunan yang cepat. Lalu, benarkah hal itu sedang terjadi?

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bima Yudhistira menjelaskan, kondisi saat masih menjadi perdebatan dan masih terlalu dini jika dibilang bubble. Sebab, kondisi saat ini banyak berbeda dengan kondisi bubble yang terjadi sebelumnya seperti dotcom bubble.

"Tapi yang jelas, beberapa startup itu ada yang menjadi masalah utamanya adalah soal pendanaan. Produknya bisa matching tapi dari sisi pendanaan ada beberapa perubahan memang. Pendanaan merupakan akar masalahnya. Bhima menjelaskan, sebelum pandemi tingkat suku bunga sangat rendah. Beberapa negara bahkan menerapkan suku bunga negatif.

Kondisi saat itu, likuiditas sedang melimpah. Sementara, aset-aset tradisional kurang menarik untuk menjadi tempat investasi. "Emas kurang menarik, surat utang bunganya kecil banyak yang akhirnya berinvestasi di perusahaan rintisan ataupun startup ini," sambungnya. Menurut Bhima, di tengah euforia investasi biasanya ada koreksi. Dia pun menuturkan, proses seleksi alam pun kemudian berlangsung.

"Jadi startup yang produknya tidak fit di pasar, pendanaannya kemudian bermasalah, mereka melakukan efisiensi, itu untuk menata ulang persaingan. Terutama yang sebelumnya mungkin melakukan burning money, bakar uang untuk dapat customer dalam waktu singkat, market share-nya naik dalam waktu singkat, mungkin dituntut agar pertumbuhannya lebih organik," paparnya.

Sementara, Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia periode 2018-2020 Ignatius Untung menilai, penyebab PHK yang terjadi di sejumlah startup ialah kondisi ekonomi global.

"Kita mengantisipasi kondisi ekonomi global yang mulai orang bilang resesi lah ya. Indonesia mungkin belum masuk, mungkin kita baru di depan pintu, tapi kita sudah lihat negara-negara yang sudah lebih dulu, yang sudah kena Turki inflasinya sampai double digit, Amerika juga mencatat rekor tertinggi inflasi, China pun sudah mulai siap-siap," terangnya.

Tapi kalau dihubungkan dengan yang tadi dibilang tech bubble dan lain sebagainya saya ko tidak melihat, saya bukan tidak bilang iya, saya nggak bilang bahwa bukan itu penyebabnya, tapi setidaknya itu bukan penyebab utamanya. Jadi bener-bener pure hanya karena resesi. Sayangnya bisnis model startup memang rentan resesi karena biasanya tidak memiliki inovasi yang memadai selain modal investor yang besar serta mimpi mendapatkan uang mudah


Monday, May 30, 2022

Kerugian Gojek Meningkat Tajam Jadi Rp. 6,61 Triliun Meski Omzet Tembus 151 Triliun

 Emiten teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masih mengalami kerugian hingga kuartal I 2022. Bahkan, kerugiannya tambah besar. Seperti dikutip dalam laporan keuangan konsolidasian interim yang tidak diaudit, GoTo mencatat rugi periode berjalan pada kuartal I-2022 sebesar Rp 6,61 triliun. Angka itu meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,95 triliun.

Jumlah aset perusahaan tercatat Rp 151,13 triliun pada kuartal I-2022. Aset tersebut turun jika dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 155,13 triliun.

Total liabilitas GoTo sebesar Rp 16,61 triliun. Liabilitas mengalami kenaikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 16,11 triliun.

Berikutnya, jumlah ekuitas tercatat sebesar Rp 134,52 triliun, turun dari sebelumnya Rp 139,02 triliun.

Pendapatan bersih tercatat sebesar Rp 1,49 triliun. Angka ini naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 904,83 miliar.

CEO GoTo Andre Soelistyo mengatakan, rugi GoTo naik tajam karena data pembanding laporan keuangan kuartal I-2021 disajikan tanpa Tokopedia. Dia mengatakan, Gojek baru resmi bergabung dengan Tokopedia pada Mei 2021, sehingga kata dia, membandingkan kinerja GoTo kuartal I-2022 dengan kuartal I-2021 kurang tepat.

"Hal ini kurang tepat karena laporan keuangan PT GoTo Gojek Tokopedia dan anak perusahaan periode kuartal I-2021 disajikan tanpa Tokopedia dikarenakan penggabungan dari Gojek dan Tokopdia baru selesai dilakukan bulan Mei 2021," katanya dalam konferensi pers. "Sehingga untuk menggambarkan bisnis secara apple to apple akan lebih tepat menggunakan laporan keuangan proforma," tambahnya.

PT Gojek Tokopedia Tbk (GoTo), merilis laporan keuangan periode 2021 dibandingkan dengan 2020 dan kuartal I 2022 dibandingkan dengan kuartal I 2021 atau year on year (yoy). Emiten dengan ekosistem digital terbesar di Indonesia ini mencatat kenaikan nilai transaksi bruto atau gross transaction value (GTV) seiring dengan tingginya penggunaan layanan di ekosistem Goto.

Di tahun 2021, angka GTV GoTo tembus Rp 461,60 triliun, naik 40% dibandingkan dengan tahun 2020 yaitu Rp 330,18 triliun. Angka GTV ini setara dengan 2,72% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di tahun 2021 sebesar Rp16.970,8 triliun sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS).

Dari jumlah GTV ini, kontribusi bisnis on-demand services (mobilitas, pesan-antar makanan dan bahan kebutuhan pokok, dan logistik) mencapai Rp 50,31 triliun di 2021, naik 25,21% dari Rp 40,18 triliun. Kemudian e-commerce tumbuh 45,82% mencapai Rp 230,59 triliun dari Rp 158,13 triliun. Sedangkan financial technology (fintech) mampu melesat 80% hingga mencapai Rp 214,91 triliun dari yang sebelumnya Rp 119,52 triliun.

Sementara itu, GTV Januari-Maret 2022 (kuartal I) mencapai Rp 139,54 triliun. Angka ini menunjukan peningkatan sebesar 45,04% dari periode yang sama 2021 senilai Rp 96,21 triliun. GTV ini ditopang on-demand naik 39,48% menjadi Rp 14,45 triliun dari Rp 10,36 triliun, e-commerce naik 27,66% menjadi Rp 65,13 triliun dari Rp 51,02 triliun, dan fintech melesat 91% menjadi Rp 77,31 triliun dari Rp 40,54 triliun.

CEO Grup GoTo Andre Soelistyo mengatakan sepanjang tahun 2021, perusahaan secara konsisten menjalankan rencana bisnis dengan baik, sehingga mampu menghasilkan pertumbuhan di setiap lini bisnis dan peningkatan margin secara keseluruhan.

"Pembentukan GoTo, dari kombinasi Gojek dan Tokopedia, menempatkan kami dalam posisi yang lebih baik lagi untuk melayani konsumen. Seiring dengan komitmen semakin memperdalam integrasi bisnis, kami mampu meningkatkan efisiensi operasional, menghadirkan peluang bisnis dengan pendekatan multi platform serta berinvestasi bagi pertumbuhan dan profitabilitas GoTo," kata Andre dalam keterangan tertulis, Senin (30/5/2022).

"Perusahaan operasional kami mampu mencetak kinerja yang kuat, dengan didukung oleh sinergi ekosistem. Fokus kami mendorong penggunaan antara platform-platform terdepan ini. Misalnya, kami telah mendorong GoPay menjadi uang elektronik yang paling banyak digunakan di Tokopedia, memperkenalkan penyelarasan status program loyalitas di Gojek dan Tokopedia, serta mengkonsolidasi sistem poin penghargaan kami, GoPay Coins, di seluruh ekosistem," imbuhnya.

Andre menjelaskan bahwa GoTo mencatat terjadi pertumbuhan 37% untuk jumlah pengguna yang bertransaksi dalam setahun di kedua platform Gojek dan Tokopedia selama 2021, dengan kecenderungan berbelanja lebih banyak dan lebih setia dibandingkan dengan pengguna salah satu platform saja.

Tahun lalu, pendapatan bruto GoTo tumbuh 45% yoy mencapai Rp 17,1 triliun dari Rp 11,85 triliun, sementara pendapatan bersih naik 9% menjadi Rp 5,30 triliun dari Rp 4,82 triliun. Lalu jumlah pengguna tahunan dalam 12 bulan tumbuh naik 6% mencapai 59,4 juta dan jumlah pedagang yang terdaftar naik 25% menjadi 15,1 juta. Sedangkan jumlah mitra pengemudi terdaftar juga tumbuh 3% menjadi 2,6 juta serta jumlah pesanan pun naik 18% mencapai 2,2 miliar pesanan. Berbagai peningkatan inipun mencerminkan pertumbuhan take rate atau komisi yang diambil perusahaan dalam menyediakan jasa platform dalam ekosistem GoTo.

Adapun di kuartal I tahun 2021, pendapatan bruto GoTo naik 53% menjadi Rp 5,2 triliun yang mencerminkan pertumbuhan take rate dari 3,5% menjadi 3,7% didorong oleh monetisasi pada segmen e-commerce dan on-demand yang lebih baik. Di kuartal I periode ini, pendapatan bersih mencapai Rp1,5 triliun, naik 7,14% dari sebelumnya Rp1,4 triliun. "Terdapat pertumbuhan take rate secara konsisten year-on-year dari 19% pada kuartal pertama tahun 2021 menjadi 22% pada kuartal pertama tahun 2022," jelasnya.

"Sepanjang 2022, kami akan terus mendorong inisiatif-inisiatif ini dan menggunakan keunggulan kompetitif yang ekosistem kami miliki, sekaligus memaksimalkan potensi pertumbuhan di Indonesia dan Asia Tenggara. Dengan semakin longgarnya kegiatan masyarakat, peningkatan dan integrasi produk akan terus dilakukan untuk memastikan bahwa GoTo mampu terus melayani pertumbuhan kebutuhan dan jumlah pengguna kami di layanan on demand, e-commerce, dan financial technology," pungkas Andre.




Saturday, May 14, 2022

Elon Musk Puji Karyawan China Karena Siap Lembur Sampai Pagi ... Karyawan Indonesia Siap?

 Komentar Elon Musk soal pekerja China versus Amerika jadi sorotan. Pengusaha teknologi ini memuji etos kerja orang China yang tak kenal lelah dibandingkan orang Amerika. Elon Musk menyebut bahwa para karyawan China rela kerja dengan shift yang panjang demi bisa selesai tepat waktu. Sementara itu, dia mengritik pekerja Amerika yang justru terkadang mencoba menghindar dari tugas kantor. Maka tidaklah heran dengan banyaknya muncul sinophobia yang anti karyawan China,

Apakah karyawan Indonesia siap bersaing seperti ini bila Tesla jadi buka pabrik di Indonesia?

Pernyataan itu terlontar saat Elon Musk melakukan sesi wawancara dengan Financial Times. Kala itu pria 50 tahun ini diminta untuk menyebut perusahaan start-up kendaraan elektrik yang menurutnya paling mengesankan.

Setelah memberi jawaban, CEO SpaceX dan Tesla ini kemudian membahas produsen kendaraan elektrik yang menurutnya sangat berpotensi jadi kompetitor Tesla. Dia menyebut perusahaan itu kemungkinan berasal dari China.

"Menurut saya akan ada beberapa perusahaan yang sangat kuat berasal dari China. Ada banyak orang di China yang super berbakat dan pekerja keras... yang punya keyakinan kuat dalam manufaktur," tuturnya, seperti dikutip dari Nextshark.

Elon Musk memuji pekerja China tidak hanya rela kerja begadang sampai malam, tapi juga hingga dini hari. Mereka bahkan bersedia menginap di kantor. "Sementara itu di Amerika, orang-orang mencoba menghindari pekerjaan bahkan tidak mau kerja sama sekali," ucapnya.

Tesla sendiri saat ini memiliki dua pabrik di China. Kabarnya Tesla menyediakan berbagai fasilitas yang memungkinkan para pekerjanya merasa nyaman ketika harus menginap di kantor atau pabrik.

Seperti kantornya di Shanghai, para karyawan disediakan makanan gratis, kantong tidur dan matras. Perusahaan itu juga membangun area khusus bagi pekerja untuk makan, santai, mandi dan makan.



Thursday, April 7, 2022

Profil Low Tuck Kwong Orang Terkaya Indonesia Raja Batubara Kalimantan

 Orang sukses tidak santai, orang santai tidak sukses," demikian pepatah Tionghoa yang berarti sukses bukan keberhasilan yang dikejar sewaktu-waktu, tapi harus diupayakan tiap saat. Setidaknya hal itu yang telah dilakukan taipan batubara Kalimantan asal Singapura, Low Tuck Kwong, hingga usianya yang ke 71 dinobatkan sebagai orang terkaya nomor 7 di Indonesia.

Forbes baru saja merilis jajaran orang paling berduit di 2019. Dari daftar tersebut, sebanyak 21 orang Indonesia masuk dalam jajarannya. Di urutan ke-7 ada nama pendiri Bayan Resources, Low Tuck Kwong, dengan jumlah kekayaan US$2,4 miliar atau Rp33,6 triliun (asumsi kurs US$1=Rp14.000).

Dari daftar itu, kekayaan Low Tuck Kwong lebih banyak ketimbang kekayaan pendiri Group Lippo, Mochtar Riady dan keluarga sebesar US$2,3 miliar atau Rp32,2 triliun. Namun, masih lebih sedikit dibanding kekayaan Sang Raja Kayu Prajogo Pangestu sebesar US$3,5 miliar atau Rp49 triliun.

Sebelum akhirnya dikenal sebagai pendiri Bayan Resources, layaknya orang sukses lainnya, Low Tuck Kwong harus melewati perjalanan hidup yang panjang. Low Tuck lahir di Singapura pada 17 April 1948 silam dari keluarga dengan basis bisnis konstruksi. Ayahnya, David Low Yi Ngo, merupakan pemilik perusahaan konstruksi di Singapura.

Low Tuck muda di usia 20 tahunnya memilih menimba ilmu di perusahaan ayahnya sebelum terjun mandiri di dunia bisnis. Tahun 1972, saat berusia 24 tahun kemudian Low Tuck pindah ke Indonesia mencoba peruntungan di bidang bisnis yang sama dengan sang ayah, yakni kontraktor bangunan. Ia membuat perusahaan konstruksi yang khusus menangani pekerjaan umum, konstruksi bawah tanah hingga konstruksi bawah laut. Perusahaan konstruksi sipil ini kemudian mendapatkan kontrak batubara pada 1988.

Di tahun 1992, Low Tuck memutuskan berpindah kewarganegaraan dari Warga Negara Singapura menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Lima tahun setelahnya, November 1997, Low Tuck mengakuisisi PT Gunung Bayan Pratamacoal dan PT Dermaga Perkasapratama yang memiliki tambang. Setahun kemudian Low Tuck mengoperasikan terminal batubara di Balikpapan, Kalimantan.

Sejak itu, Low Tuck mengakuisisi sejumlah konsesi baru hingga resmi membentuk perusahaan induk yang dikenal dengan nama PT Bayan Resources. Melalui sejumlah perusahaan, Bayan Group memiliki hak eksklusif melalui lima kontrak pertambangan dan tiga kuasa pertambangan dari pemerintah Indonesia. Total konsesinya mencapai 81.265 hektare.

Low Tuck sejati-nya sudah masuk jajaran orang terkaya versi Forbes selama bertahun-tahun. Pada 2009, Low Tuck berada di posisi ke-25. Jumlah kekayaannya pun terus bertambah dari tahun ke tahun. Jika pada 2008 kekayaannya diperkirakan US$214 juta, pada 2009 telah menjadi US$1,18 miliar. Kekayaannya bertambah karena saham Bayan Resources naik hingga 474%.

Bahkan, Low Tuck Kwong pernah berada di urutan ketiga orang terkaya di Indonesia oleh Forbes pada 2012 dengan total kekayaan US$3,6 miliar. Naik drastis dari US$1,2 miliar pada Maret 2010. Berdasarkan laman resmi www.forbes.com, Low Tuck juga mengendalikan perusahaan pelayaran Singapura, Manhattan Resources. Pada 8 Oktober 2010 Low Tuck membeli 5,3 juta saham di Manhattan Resources dari pasar terbuka, meningkatkan sahamnya menjadi 10,55% dari 9,36%. Sehari sebelumnya, ia telah membeli sekitar 1,8 juta saham. Secara tidak langsung memegang saham 49,57% di penyedia jasa kelautan.

Ia juga memiliki kepentingan dalam The Farrer Park Company, Samindo Resources dan Voksel Electric. Low juga ada di belakang nama besar SEAX Global, yang membangun sistem kabel laut bawah laut untuk konektivitas internet yang menghubungkan Singapura, Indonesia dan Malaysia.

Agustus 2008, Bayan Resources melantai di Bursa Efek Jakarta (BEJ) ketika itu. Bayan Resources melepas 3,33 miliar unit saham di harga Rp 5.800 per saham. Namun, sebelum sampai pada kesuksesan ini, perjalanan bisnis Low Tuck tidak selalu mulus. Ia sempat berkonflik dengan Sukamto Sia, taipan dari Singapura yang merupakan menantu eks pemilik Bank Bira, Atang Latief.

Sebelum Bayan Resources melakukan IPO Agustus 2008, Bayan Resources dan Low Tuck menerima somasi dari Sukamto pada Juli 2008. Sukamto menyebut Low telah ingkar janji ihwal pemberian 50% saham Bayan Resources. Sukamto menganggap Low harus memberi kompensasi atas pinjaman yang dia berikan kepada Low pada tahun 1996.

Mulanya, Sukamto mengaku diajak Low berinvestasi bisnis batu bara di Indonesia. Sukamto menyatakan saat itu Low sedang kesulitan keuangan. Menurut Sukamto, Low menjanjikan bisnis batu bara itu bisa bernilai US$500 juta dalam tempo tujuh tahun sampai delapan tahun ke depan. Kasus ini diserahkan ke Pengadilan Singapura.

Kemudian, Pengadilan Singapura tahun 2015 menyatakan Low Tuck memenangi sengketa. Hakim Pengadilan Tinggi Singapura memerintahkan Sukamto membayar 80.000 dollar AS kepada Low, karena telah mencemarkan nama baik Low. Low balik menggugat Sukamto atas tudingan mencemarkan nama baik. Low menuntut US$132 juta dari Sukamto. Pengadilan Tinggi Singapura memenangkan gugatan Low dan denda tambahan US$ 280 ribu kepada Sukamto Sia.

Berdasarkan informasi situs resmi PT Bayan Resources Tbk (BYAN), Dato' Dr. Low Tuck Kwong kini menjadi pemegang saham pengendali dengan persentase 51,59%. Ia diangkat menjadi Direktur Utama di sebagian besar anak perusahaan Bayan Group tanggal 10 Januari 2018. Low Tuck pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Bayan Resources Tbk (2004-2008), Komisaris Utama PT Bayan Resources Tbk (2008-2018) dan anggota Komite Remunerasi dan Nominasi (2016-2018). Low Tuck Kwong dianugerahi gelar Doktor HC dari Universitas Notre Dame of Dadiangas, Filipina pada tanggal 17 Maret 2012 dan memiliki Diploma di bidang Teknik Sipil dari Japan Institute.

Low Tuck Kwong, pengusaha dan pendiri Bayan Resources, menambah panjang daftar orang kaya dari Indonesia di Forbes Billionaires dunia. Dia menempati peringkat ke-2.524 di dunia pada tahun lalu atau urutan ke-18 di Indonesia. Sebetulnya, Kwong bukan asli Indonesia. Ia seorang kelahiran Singapura yang hijrah ke Indonesia dan berpindah kewarganegaraan menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Ia bekerja dan menggemukkan pundi-pundinya di Indonesia lewat bisnis tambang batu bara. Saat ini, kekayaannya ditaksir tembus US$2,6 miliar setara Rp37,05 triliun (kurs Rp14.250 per dolar AS).

Kwong lahir dan tumbuh di Singapura pada 17 April 1948 silam hingga usianya 24 tahun. Ia sempat bekerja di perusahaan konstruksi milik ayahnya, David Low Yi Ngo.

Namun, pada 1972, ia mengadu nasib ke Indonesia, dan baru lah 20 tahun kemudian hijrah menjadi WNI, yakni pada 1992. Pada 1997, Kwong memutuskan membeli perusahaan tambang batu bara pertamanya, yakni PT Gunungbayan Pratamacoal yang kini dikenal Bayan Resources. Inilah jackpot kekayaan Kwong.

Setahun kemudian, melalui PT Dermaga Perkasapratama, ia sudah mengoperasikan terminal batu bara di Balikpapan, Kalimantan Timur. Tak cuma dari batu bara, Kwong juga kaya raya dari bisnis pelayaran lewat Singapura Manhattan Resources dan dia memiliki kepentingan di The Farrer Park Company, Samindo Resources, sampai Voksel Electric. Bisnisnya terus berkembang biak. Kini, ia mengerahkan dukungannya pada SEAX Global, yang tengah membangun sistem kabel bawah laut untuk konektivitas internet yang menghubungkan Singapura, Indonesia, dan Malaysia.

Di tengah harga saham dan harga batu bara yang melorot, Kwong beraksi memborong saham perusahaan miliknya sendiri, yaitu BYAN. Tujuannya untuk investasi dengan status kepemilikan langsung. Memang, Kwong dikenal getol mengakumulasi saham. Sepanjang tahun lalu, Kwong rajin membeli saham perusahaan besutannya. Menariknya, semua transaksinya beli, tanpa jual sekalipun.

Mengutip Keterbukaan Informasi, Senin (3/1), Kwong menambah kepemilikannya hingga 145.600 saham di harga Rp26.609,80 per saham atau setara Rp3,87 miliar. Lewat transaksi tersebut, jumlah kepemilikan saham Kwong bertambah dari sebelumnya sekitar 55,19 persen menjadi 55,20 persen dari total saham perusahaan.

Diketahui saham BYAN sempat berada di zona merah. Pada Senin (3/1) sahamnya turun 500 poin atau 1,85 persen. Harga sahamnya turun setelah aturan pemerintah yang membatasi ekspor batu bara untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri (DMO) sampai dengan akhir bulan ini. Kendati harganya turun, saham BYAN dibandingkan tahun lalu sudah mendaki 37,31 persen.


Daftar 10 Orang Terkaya Dunia Asal Indonesia Versi Forbes 2022

 Forbes, majalah asal Amerika Serikat (AS), merilis daftar terbaru orang terkaya dunia per April 2022. Di Indonesia, posisi teratas masih diduduki oleh Hartono bersaudara. Keduanya menduduki peringkat 64 dan 69 pada daftar orang terkaya di dunia versi Forbes. Tercatat, Budi Hartono memiliki kekayaan sebesar US$22,7 miliar atau setara Rp326 triliun (kurs Rp14.373 per dolar AS). Saudaranya, Michael Hartono, menduduki posisi kedua dengan kekayaan mencapai US$21,8 miliar. 

Hartono bersaudara memperoleh kekayaan dari beragam sumber mulai dari kepemilikannya di PT Bank Central Asia Tbk (BCA), merek rokok kretek Djarum dan elektronik Polytron. Posisi ketiga ditempati oleh Chairul Tanjung dengan kekayaan mencapai US$8,3 miliar atau setara Rp120 triliun. Bos CT Corp ini ranking 263 di dunia naik dari posisi sebelumnya, 589. Kekayaannya berasal dari berbagai sumber mulai dari Transmedia, Transmart, Bank Mega hingga Allo Bank.

Selanjutnya, posisi keempat dihuni oleh Sri Prakash Lohia yang memiliki kekayaan US$6,4 miliar. Di dunia, ia bertengger di peringkat ke-403.

Sri memiliki perusahaan petrokimia yakni Indorama Corporation. Saat ini, ia tinggal di London dan adiknya yakni Aloke Lohia juga merupakan orang terkaya di Thailand.

Selanjutnya, Prajogo Pangestu menjadi orang terkaya kelima di RI dan ke-471 di dunia versi Forbes. Namun, kekayaannya turun 0,92 persen menjadi US$5,9 miliar per April 2022. Prajogo merupakan pendiri perusahaan Barito Pacific Timber yang melantai di bursa saham pada 1993.

Sementara itu, posisi selanjutnya diduduki oleh penghuni lama seperti Pendiri Bayan Resources Low Tuck Kwong, Pendiri Emtek Group Eddy Kusnadi Sariaatmadja, Pendiri Triputra Group Theodore Rachmat, Pemilik Avia Avian Wijono dan Hermanto Tanoko, dan Pendiri Wilmar Group Martua Sitorus.

Secara keseluruhan, terdapat 2.668 konglomerat yang masuk ke daftar terbaru orang terkaya dunia versi Forbes. Posisi teratas ditempat oleh pendiri Tesla Elon Musk dengan total kekayaan mencapai US$219 miliar.

Berikut daftar 10 orang terkaya dunia yang berasal dari Indonesia versi Forbes per April 2022:

  1. Budi Hartono: US$22,7 miliar (64)
  2. Michael Hartono: US$21,8 miliar (69)
  3. Chairul Tanjung: US$8,3 miliar (263)
  4. Sri Prakash Lohia: US$6,4 miliar (403)
  5. Prajogo Pangestu: US$5,9 miliar (471)
  6. Low Tuck Kwong: US$3,9 miliar (801)
  7. Eddy Kusnadi Sariaatmadja: US$3,9 miliar (883)
  8. Theodore Rachmat: US$3,3 miliar (913)
  9. Wijono dan Hermanto Tanoko: US$3,1 miliar (1012)
  10.  Martua Sitorus: US$3 miliar (1012)



Daftar Orang Terkaya Forbes 2022

 Forbes merilis daftar terbaru orang terkaya di dunia per April 2022. Pada daftar berisi 2.668 konglomerat itu orang tajir asal Amerika masih mendominasi, termasuk Elon Musk, yang menduduki puncak untuk pertama kalinya. China termasuk Makau dan Hong Kong juga masih berada di posisi kedua, dengan total miliarder sebanyak 607 orang dengan jumlah kekayaan senilai US$2,3 triliun secara kolektif.

Majalah asal Amerika Serikat (AS) itu menggunakan harga saham dan nilai tukar per 11 Maret 2022 untuk menghitung kekayaan bersih dari deretan terbaru orang terkaya di dunia saat ini.

Berikut 10 orang terkaya di dunia versi Forbes:

  1. Elon Musk
    Bos SpaceX itu berada di posisi pertama dengan total kekayaan mencapai US$219 miliar atau setara Rp3.148 triliun (asumsi kurs Rp14.376 per dolar). Tahun lalu, ia berada di posisi kedua orang terkaya dunia. Elon Musk bekerja untuk merevolusi transportasi mulai dari mobil listrik Tesla hingga roket SpaceX. Ia memiliki 21 persen saham Tesla, sementara SpaceX bernilai US$74 miliar setelah putaran pendanaan pada Februari 2021.
  2. Jeff Bezos
    Total kekayaan yang dimiliki oleh Jeff Bezos adalah US$ 171 miliar. Ia merupakan pendiri raksasa e-commerce Amazon. Jeff Bezos menjual saham Amazon senilai US$8,8 miliar pada tahun 2021. Saat ini ia hanya memiliki saham kurang dari 10 persen. Ia juga memiliki The Washington Post dan Blue Origin, sebuah perusahaan kedirgantaraan yang mengembangkan roket.
  3. Bernard Arnault
    Bernard Arnault berada di posisi ketiga dengan total kekayaan mencapai US$158 miliar. Ia bertahan di posisi ini dari tahun sebelumnya. Ia merupakan merupakan pemilik Louis Vuitton Moet Hennessy (LVMH) yang membawahi sekitar 70 merek fashion dan kosmetik, termasuk Louis Vuitton dan Sephora. Pada Januari 2021, LVMH mengakuisisi perusahaan ritel perhiasan AS, Tiffany & Co, senilai US$15,8 miliar. Hal tersebut diyakini sebagai akuisisi merek mewah terbesar yang pernah ada.
  4. Bill Gates
    Bill Gates memiliki total kekayaan sebesar US$129 miliar. Ia mendapat kekayaan dari perusahaan perangkat lunak miliknya, yakni Microsoft. Pada Maret 2020, ketika Bill Gates mengundurkan diri dari dewan Microsoft, ia memiliki sekitar 1 persen saham perusahaan tersebut. Ia juga telah berinvestasi di lusinan perusahaan termasuk Canadian National Railway dan AutoNation, dan merupakan salah satu pemilik lahan pertanian terbesar di AS. Hingga saat ini, Bill Gates telah menyumbangkan sekitar US$35,8 miliar saham Microsoft ke Gates Foundation.
  5. Warren Buffett
    Pria yang dikenal sebagai 'Oracle of Omaha' itu memiliki total kekayaan sebesar US$118 miliar. Warren Buffett juga merupakan salah satu investor paling sukses sepanjang masa. Warren Buffett menjalankan Berkshire Hathaway. Perusahaan konglomerasi itu membawahi 60 perusahaan, termasuk perusahaan asuransi Geico, pembuat baterai Duracell dan rantai restoran Dairy Queen.
  6. Larry Page
    Larry Page memiliki kekayaan sebesar US$111 miliar. Ia merupakan pendiri Google bersama Sergey Brin, rekannya selama menjadi mahasiswa Stanford. Ia juga merupakan investor di perusahaan eksplorasi ruang angkasa Planetary Resources dan juga mendanai startup 'mobil terbang' Kitty Hawk dan Opener.
  7. Sergey Brin
    Rekan Larry Page yang sama-sama mendirikan Google ini memiliki total kekayaan sebanyak US$107 miliar. Dia mendirikan Google dengan Larry Page pada 1998 setelah keduanya bertemu di Universitas Stanford saat belajar untuk gelar lanjutan dalam ilmu komputer.
  8. Larry Ellison
    Bos besar dan salah satu pendiri raksasa perangkat lunak Oracle ini memiliki jumlah kekayaan total sebesar US$106 miliar. Ia melepaskan jabatan CEO Oracle pada 2014 setelah 37 tahun memimpin perusahaan itu. Ellison bergabung dengan dewan Tesla pada Desember 2018, setelah membeli 3 juta saham Tesla di awal tahun itu.
  9. Steve Ballmer
    CEO Microsoft ini memiliki jumlah kekayaan sebanyak US$91,4 miliar. Ia bergabung dengan Microsoft pada 1980 sebagai karyawan Nomor 30 setelah keluar dari program MBA Stanford.
  10. Mukesh Ambani
    Pebisnis asal India ini memiliki total kekayaan sebesar US$90,7 miliar. Ia memimpin dan menjalankan Reliance Industries yang merupakan perusahaan di bidang petrokimia, minyak dan gas, telekomunikasi, dan ritel. Ambani mengubah Reliance menjadi perusahaan yang bergelut di energi hijau. Perusahaan akan menginvestasikan US$80 miliar selama 10-15 tahun ke depan untuk energi terbarukan dan membangun kompleks baru di sebelah kilangnya.

Ahli waris L'oreal Françoise Bettencourt Meyers kembali mendapatkan gelar perempuan paling tajir di dunia pada 2022. Berdasarkan hitungan Forbes, jumlah harta Meyers mencapai US$74,8 miliar atau setara Rp1.075 triliun (asumsi kurs Rp14.376 per dolar AS).

Dilansir Forbes, Kamis (7/4), kekayaan Meyers diperkirakan bertambah US$1,2 miliar sejak tahun lalu. Hal ini membuat Meyers berada di peringkat ke-14 orang terkaya di dunia. Perempuan berusia 68 tahun ini adalah Wakil Ketua Dewan L'Oreal, perusahaan kosmetik dan kecantikan yang didirikan oleh sang kakek Eugene Paul Louis Schueller pada 1909 silam.

Meyers pertama kali menduduki daftar miliarder Forbes pada 2018, setelah ibunya, Liliane Bettencourt meninggal di 2017 pada usia 94 tahun. Ia dan keluarganya memiliki sekitar 33 persen dari saham L'Oreal. Perusahaan itu memiliki lebih dari 35 merek kosmetik, perawatan kulit, dan perawatan pribadi.

Beberapa merek yang masuk portofolio utamanya mencakup Maybelline, Garnier dan NYX.

Setelah Meyers, posisi kedua dalam daftar wanita terkaya di dunia versi Forbes diduduki oleh Alice Walton, anak dari pemilik perusahaan ritel Amerika Serikat Walmart dengan total kekayaan US$65,3 miliar. Lalu, Julia Koch, istri mendiang David Koch pemilik Koch Industries, menempati posisi nomor tiga orang kaya di dunia. Selanjutnya ada MacKenzie Scott, mantan istri Jeff Bezos di posisi keempat orang paling kaya di dunia.

Di posisi kelima adalah Jacqueline Mars, pemegang sepertiga dari saham Mars Incorporated, perusahaan permen dan makanan hewan yang memegang merek M&M dan Pedigree. Forbes merilis daftar orang kaya dunia terbaru pada April 2022. Terdapat 2.668 konglomerat dunia yang masuk ke daftar tersebut.

Sebanyak 236 konglomerat baru berhasil masuk ke daftar orang terkaya di dunia versi Forbes April 2022. Beberapa nama di antaranya penyanyi Rihanna hingga filantropis Melinda Gates. "Walau tahun ini merupakan tahun perang, pandemi, dan melambatnya pasar global, orang-orang beruntung ini masuk ke dalam jajaran the three comma club," tulis Forbes dalam laman resmi, Kamis (6/4).

Rihanna berhasil masuk ke daftar 2.668 orang kaya dunia itu dengan harta mencapai US$1,7 miliar. Pendapatan tersebut ia dapat dari bisnis kosmetik yang didirikannya pada 2017 lalu, Fenty Beauty. Usai berpisah dari Bill Gates, Melinda French Gates memiliki kekayaan sebesar US$6,2 miliar yang diperoleh dari yayasan yang ia dirikan bersama sang mantan suami yakni Bill & Melinda Gates Foundation.

Adapun, posisi teratas masih diduduki oleh CEO Tesla Elon Musk dengan kekayaan US$219 miliar atau setara Rp3.148 triliun (kurs Rp14.374 per dolar AS). Berdasarkan wilayah, China dan Hong Kong menjadi negara dengan kontribusi orang kaya terbanyak yakni 62 orang. Beberapa di antaranya adalah Pendiri Shein Chris Xu dengan kekayaan mencapai US$5,4 miliar dan profesor teknik kecerdasan buatan Tang Xiao'ou dengan kekayaan US$5,7 miliar.

Sementara itu, Amerika Serikat (AS) jadi negara kedua dengan orang kaya baru terbanyak yakni 50 orang. Beberapa di antaranya adalah Chief Technology Officer FTX Gary Wang dengan kekayaan US$5,9 miliar dan Pendiri Tiger Global Management Scott Shleifer dengan kekayaan US$5 miliar.

Hanya 33 wanita dari 236 orang kaya baru yang masuk ke jajaran Forbes tahun ini. Pendiri Canva Melanie Perkins dan Cliff Obrecht jadi salah satunya yang memiliki kekayaan masing-masing sebesar US$6,5 miliar.

Tak ketinggalan, Pendiri Open Sea Devin Finzer dan Alex Atallah keduanya juga menjadi orang kaya baru setelah aplikasi besutannya memiliki nilai hingga US$13,3 miliar. Kini keduanya memiliki harta bersih masing-masing sebesar US$2,2 miliar.