Pages - Menu

Thursday, June 23, 2022

Srilanka Resmi Menyatakan Diri Bangkrut

 Krisis ekonomi tengah melanda Sri Lanka hingga membuatnya bangkrut. Sri Lanka gagal membayar utang luar negeri (ULN) yang mencapai US$51 miliar atau Rp754,8 triliun (asumsi kurs Rp14.800 per dolar AS).

Selain Sri Lanka, kebangkrutan sebenarnya pernah dialami sejumlah negara. Bahkan, kebangkrutan terjadi jauh sebelum ketidakpastian ekonomi global akibat perang dan pandemi. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan negara yang bangkrut akan mengalami kondisi ekonomi yang semakin terpuruk. Pasalnya, belanja pemerintah yang menjadi bantalan merosot tajam.

"Kalau bangkrut ekonominya akan semakin buruk drastis," ujar Tauhid. Pengeluaran pemerintah yang berkurang membuat stimulus ke ekonomi menurun drastis. Negara yang bangkrut juga akan kesulitan melakukan perdagangan ekspor dan impor karena tak memiliki devisa. Negara bangkrut kemudian akan mengandalkan pajak. Namun, kondisi ekonomi yang buruk akan membuat masyarakat sulit membayar pajak.

"Otomatis dia harus menuunkan pajaknya sendiri agar orang-orang yang mampu bisa bayar," ujar Tauhid. Negara bangkrut juga akan mengalami inflasi gila-gilaan. Bahkan, inflasinya bisa di atas 30 persen karena persediaan barang yang semakin sedikit. Tauhid menjelaskan krisis yang sedang dialami Sri Lanka tidak berpengaruh terlalu besar terhadap Indonesia. Pasalnya, Sri Lanka bukan mitra perdagangan utama Indonesia.

"Setahu saya kecil untuk kita punya mitra hubungan dengan Sri Lanka karena buka mitra dagang utama. Kalau mitra dagang utama, pasar ekspor kita di negara dia besar, otomatis berdampak " ujar Tauhid.

Senada, Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira mengatakan negara bangkrut akan mengalami krisis pangan yang membuat masyarakat melakukan panic buying dan penimbunan yang memberikan efek kelangkaan di berbagai tempat. Kemudian, mata uang negara tersebut tidak lagi memiliki nilai dan kehilangan kepercayaan dari pelaku usaha dan masyarakat.

"Maka proses barter atau pertukaran barang akan menggantikan transaksi dengan mata uang. Muncul transaksi di pasar gelap dan di perbatasan dengan negara lain," ujar Bhima. Selain itu, kepercayaan kreditur yang hilang akan membuat suku bunga naik signifikan sehingga mempersulit pelaku usaha dan pemerintah mendapat pendanaan baru.

Sementara itu, masyarakat akan berbondong-bondong mengungsi ke perbatasan. Gelombang pengungsian akan berdampak permanen ke masa depan ekonomi karena hilangnya talenta untuk membangun kembali perekonomian. Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe akhirnya bicara soal penyebab negaranya menjadi bangkrut. Ranil mengatakan krisis ekonomi yang terjadi di negaranya dipicu oleh utang luar negeri Sri Lanka yang cukup besar. Selain itu, melansir AP, bangkrutnya Sri Lanka juga dipicu kondisi ekonomi negara yang kandas karena kehilangan pendapatan dari sektor pariwisata akibat pandemi covid-19.

Wickremesinghe mengatakan Sri Lanka tidak dapat membeli bahan bakar impor karena utang yang besar dari perusahaan minyak negara tersebut. Ceylon Petroleum Corporation disebut memiliki utang US$700 juta atau setara dengan Rp10,4 triliun (asumsi kurs Rp14.866 per dolar AS).

"Akibatnya, tidak ada negara atau organisasi di dunia yang mau menyediakan bahan bakar untuk kami. Mereka bahkan enggan menyediakan bahan bakar untuk uang tunai," ujar Wickremesinghe. Kondisi juga diperparah oleh lonjakan harga komoditas. Tak ayal, krisis datang bertubi-tubi ke negara tersebut, mulai dari keuangan, energi, pangan hingga kesehatan.

Krisis yang terjadi di Sri Lanka itu juga membuat mau tak mau sekolah dan kantor pemerintahan ditutup tidak bisa melayani masyarakat. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, ciri suatu negara bisa dikatakan bangkrut adalah saat tidak mampu membayar utang.

Menurutnya, ketidakmampuan Sri Lanka dalam membayar utang luar negeri disebabkan karena fundamental negerinya tidak mampu menopang dampak dari global. Apalagi semua komoditas pangannya impor sehingga saat terjadi kenaikan harga global defisit anggarannya membengkak karena belanja yang meningkat tajam.

Sementara itu, Kedutaan Besar RI (KBRI) di Kolombo menyatakan akibat dari krisis tersebut banyak warga beralih ke kayu bakar untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe akhirnya buka suara soal kebangkrutan yang menimpa negaranya. Ia mengatakan kondisi ekonomi negaranya kini memang tengah krisis saat ini.

Krisis terjadi akibat utang luar negeri Sri Langka yang cukup besar dan kondisi buruk lainnya. Melansir AP, ekonomi Sri Lanka juga kandas akibat kehilangan pendapatan dari sektor pariwisata akibat pandemi covid-19. Kondisi juga diperparah oleh lonjakan harga komoditas. Akibatnya, Sri Lanka tidak memiliki uang untuk mengimpor bahan bakar, listrik, serta makanan.

"Ekonomi kita benar-benar runtuh," ujar Wickremesinghe kepada Parlemen.

Wickremesinghe mengatakan Sri Lanka tidak dapat membeli bahan bakar impor karena hutang yang besar dari perusahaan minyak negara tersebut. Ceylon Petroleum Corporation disebut memiliki utang US$700 juta. "Akibatnya, tidak ada negara atau organisasi di dunia yang mau menyediakan bahan bakar untuk kami. Mereka bahkan enggan menyediakan bahan bakar untuk uang tunai," ujar Wickremesinghe.

Wickremesinghe pun tidak menyebutkan perkembangan baru yang spesifik terkait kondisi Sri Lanka. "Anda tidak bisa membiarkan negara dengan kepentingan strategis seperti itu runtuh," kata ekonom Center for Global Development Anit Mukherjee. Sementara, anggota parlemen dari dua partai oposisi utama memboikot Parlemen pada minggu ini untuk karena gagal memenuhi janjinya untuk mengubah perekonomian.

Krisis mulai berdampak pada masyarakat kelas menengah Sri Lanka yang diperkirakan mencapai 15 persen hingga 20 persen dari populasi perkotaan negara itu. Padahal keluarga kelas menengah umumnya menikmati keamanan ekonomi. Namun, sekarang mereka yang tidak pernah berpikir dua kali tentang bahan bakar atau makanan sedang berjuang untuk mengatur makan tiga kali sehari.

"Jika kelas menengah berjuang seperti ini, bayangkan betapa terpukulnya mereka yang lebih rentan," kata Bhavani Fonseka, peneliti senior di Pusat Alternatif Kebijakan Kolombo.












Saturday, June 18, 2022

Bitcoin Hancur Lebur Turun 35 Persen Dalam 1 Minggu

 Bitcoin jatuh ke level US$ 17.749 setara Rp 270.512.509 dan Ether US$ 897 setara Rp13.671.177 karena aksi jual di pasar kripto meningkat. Dua cryptocurrency paling populer di dunia turun lebih dari 35% dalam seminggu terakhir, karena keduanya melanggar batasan harga simbolis.

Pembantaian di pasar kripto sebagian disebabkan oleh tekanan dari ekonomi makro, termasuk inflasi yang meningkat dan serangkaian kenaikan suku bunga Fed. Bitcoin memuncak pada US$ 68.789,63 pada November. Ether memuncak pada US$ 4.891,70 pada bulan yang sama. Bitcoin terakhir diperdagangkan serendah ini sekitar Desember 2020.

Sektor mata uang digital telah terpukul pekan ini setelah perusahaan pemberi pinjaman cryptocurrency Celsius membekukan penarikan dan transfer antar akun. Sementara itu, perusahaan crypto mulai memberhentikan karyawan, ada juga laporan bahwa hedge fund cryptocurrency mengalami masalah.

Perkembangan tersebut bertepatan dengan penurunan ekuitas, karena saham AS mengalami penurunan persentase mingguan terbesar dalam dua tahun di tengah kekhawatiran kenaikan suku bunga dan kemungkinan pertumbuhan resesi.

Kecepatan dan kedalaman kerugian b=Bitcoin yang dipercepat bersamaan dengan kekalahan saham dapat menantang dukungan untuk cryptocurrency dari berbagai kelompok investor. Sementara itu, beberapa institusi membeli Bitcoin dengan harapan akan mengimbangi penurunan saham dan obligasi.

"Itu belum menunjukkan bahwa itu adalah aset yang tidak berkorelasi," kata Michael Purves, pendiri dan CEO Tallbacken Capital, dikutip Reuters, Minggu (19/6/2022). Banyak perkiraan yang memprediksi penurunan ini terjadi karena ketahanan Bitcoin belum teruji. "Saya pikir Bitcoin akan sampai ke harga $15.000 setara Rp 228.615.000 per koin karena ada banyak sentimen negatif," jelas Michael Purves.

Bitcoin, cryptocurrency terbesar, telah turun sekitar 13,7% pada Sabtu sore ke level terendah US$ 17.593, level terlemah sejak Desember 2020, sebelum sempat merangkak ke $18.556, masih turun 9,22% dari penutupan sebelumnya. Hal ini berarti, Bitcoin telah kehilangan 60% dari nilainya tahun ini, sedangkan Ether yang dibangun di atas blockchain Ethereum turun 74%. Pada tahun 2021, Bitcoin mencapai rekor tertingginya lebih dari US$ 68.000/koin.

"Menembus US$ 20.000 menunjukkan bahwa kepercayaan telah runtuh untuk industri crypto dan bahwa masyarakat melihat tekanan terbaru," Edward Moya, analis pasar senior di OANDA.

Moya mengatakan bahwa bahkan pemandu sorak crypto paling keras dari reli besar sekarang diam. Mereka masih optimistis dalam jangka panjang, tetapi mereka berhenti mengatakan ini adalah waktu untuk membeli meski harga turun terus. Jeffrey Gundlach, CEO DoubleLine Capital, mengatakan pada hari Rabu bahwa dia tidak akan terkejut jika Bitcoin turun menjadi US$ 10.000 untuk setiap koinnya.


Friday, June 10, 2022

Benarkah Laju Inflasi Indonesia Terkendali?

 Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengklaim Indonesia masih bisa mengendalikan inflasi saat sejumlah negara dunia mengalami lonjakan harga komoditas karena ketidakpastian global.

"Kita meskipun ada kenaikan sedikit tapi masih bisa kita jaga dan kendalikan. Coba dilihat sudah ada negara yang inflasinya sudah di atas 70 persen," ungkapnya dalam perayaan HUT ke-50 tahun Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Jakarta, Jumat (10/6).

Jokowi menuturkan saat ini inflasi memang menjadi momok bagi semua negara di dunia. Hal itu dipicu oleh kenaikan harga barang pangan dan energi. Bahkan, kata dia, inflasi AS telah meningkat hingga 8,3 persen dari tren biasanya di satu persen. Sedangkan di Indonesia, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tercatat hanya 3,55 persen (yoy) hingga Mei 2022.

Meski begitu, ia meminta semua pihak untuk tetap peka terhadap krisis. Jangan sampai merasa kondisi normal sehingga mengurangi kewaspadaan. "Jangan sampai kita merasa normal padahal keadaannya betul-betul pada situasi yang tidak normal ketidakpastian ini. Ini yang harus kita jaga semuanya," ujar Jokowi.

Lebih lanjut, ia juga memperkirakan 60 negara akan mengalami kesulitan keuangan dan ekonomi di tengah ketidakpastian global saat ini. "Diperkirakan ada 60 negara yang akan mengalami kesulitan keuangan dan ekonomi, diperkirakan mereka akan menjadi negara gagal kalau tidak bisa segera menyelesaikan masalah ekonominya ini," kata dia.

Jokowi menyebut kenaikan harga energi dan kenaikan harga pangan menjadi masalah ekonomi global saat ini. Komoditas energi seperti batu bara, minyak, dan gas telah mengalami kenaikan harga. Karena hal tersebut, Bank Dunia sudah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Terutama untuk negara-negara berkembang.

"Dari yang sebelumnya 6,6 persen proyeksi di 2022 diturunkan menjadi 3,4 persen, anjlok betul," katanya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkirakan 60 negara mengalami kesulitan keuangan dan ekonomi di tengah ketidakpastian global saat ini. "Diperkirakan ada 60 negara yang akan mengalami kesulitan keuangan dan ekonomi, diperkirakan mereka akan menjadi negara gagal kalau tidak bisa segera menyelesaikan masalah ekonominya ini," ujarnya dalam dalam perayaan HUT ke-50 tahun Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), di Jakarta, Jumat (10/6).

Ia menuturkan saat ini ada dua masalah besar dalam perekonomian dunia. Pertama, soal kenaikan harga energi dan pangan. Kedua, ketidakpastian global akibat perang. Jokowi menyebut bank dunia saja sudah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global. "Utamanya di negara-negara berkembang, dari yang sebelumnya 6,6 persen proyeksi di 2022 diturunkan menjadi 3,4 persen, anjlok betul," kata dia.

Selain itu, inflasi juga menjadi momok semua negara di dunia. Menurutnya saat ini sudah ada negara dengan inflasi mencapai 70 persen. Bahkan, AS yang biasanya 1 persen, saat ini sudah 8,3 persen.

"Inilah problem besar semua negara," imbuhnya.

Tidak hanya itu, menurut Jokowi, saat ini negara-negara di dunia juga tengah dihantui oleh kenaikan harga batu bara yang naik hingga 133 persen. Kemudian, harga minyak dunia naik 58 persen. Lalu crude palm oil (CPO) naik 27 persen.

Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak agar mewaspadai kenaikan harga-harga lainnya imbas dari melesatnya harga energi tersebut. "Hati-hati di luar itu (ada potensi) kenaikan-kenaikan yang perlu kita waspadai," tandasnya.

Bank Dunia Pangkas Pertumbuhan Ekonomi China Jadi 4,3 Persen Akibat Lock Down Berkelanjutan

 Bank Dunia (World Bank) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China sebesar 0,8 persen menjadi 4,3 persen pada 2022. Mengutip AFP, Sabtu (11/6), ekonomi China akan memburuk karena pandemi covid-19. Pasalnya, negara itu menganut kebijakan nol covid.

China melakukan lockdown untuk membatasi mobilitas masyarakat. Dengan kebijakan itu, pemerintah berharap kasus covid-19 melandai. Namun, lockdown memberikan dampak negatif untuk China. Sebab, kegiatan ekonomi di negara itu menjadi tertahan.

"Ini sebagian besar mencerminkan kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh wabah omicron dan lockdown yang berkepanjangan di beberapa bagian China dari Maret hingga Mei," tulis Bank Dunia dalam laporannya.

Pada Maret-Mei 2022, China melakukan lockdown di beberapa kota, seperti pusat manufaktur Shenzhen dan Shanghai. "Dalam jangka pendek, China menghadapi tantangan ganda untuk menyeimbangkan mitigasi covid-19 dengan mendukung pertumbuhan ekonomi. Dilemanya adalah bagaimana membuat stimulus kebijakan efektif, selama pembatasan mobilitas tetap ada," kata Country Director Bank Dunia untuk China, Mongolia, dan Korea Martin Raiser.

Meski begitu, Raiser mengatakan aktivitas ekonomi China mulai pulih pada semester II 2022. Hal itu akan didorong stimulus fiskal dan pelonggaran aturan terkait perumahan. Bank Dunia melihat permintaan domestik akan pulih secara bertahap. Setelah itu, konsumsi akan meningkat dan mendorong ekonomi China.


Friday, June 3, 2022

Badai Startup Bangkrut dan PHK Mulai Menghantam Indonesia

 Istilah 'bakar duit' melekat erat pada perusahaan rintisan di bidang teknologi atau startup. Bakar duit sendiri dilakukan sebagai upaya untuk menggaet konsumen dengan waktu yang cepat ketika produk startup tidak memiliki inovasi atau nilai tambah terhadap kompetitor yang telah lebih dahulu hadir

Pemerhati startup sekaligus Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia periode 2018-2020 Ignatius Untung memberikan penjelasan soal bakar duit ini. Ia menjelaskan, model bisnis startup ialah mendapatkan uang dari investor untuk mendorong bisnis. Startup sendiri melakukan bakar duit sejalan dengan janji janji manis yang diberikan kepada investor yang menginginkan pertumbuhan bisnis yang baik.

"Karena gini, startup itu kan business model-nya adalah mendapatkan uang banyak dari investor, lalu didorong untuk dilakukan bisnis. Yang sebelum-sebelumnya nggak bisa disalahkan startupnya sendiri kalau kita tanda kutip bakar uang dan sebagainya, karena juga investor yang ngedorong untuk harus punya growth yang bagus," katanya 

Bagi startup, bakar uang merupakan sesuatu yang bikin 'deg-degan' bagi investor maupun pendiri. Bagi pendiri startup tahap ini adalah tahap dapat jackpot milyaran atau harus memulai dari nol. Namun, berbagai upaya dilakukan karena menimbang harapan pertumbuhan kinerja yang tinggi.

"Siapa yang mau bakar uang sih, deg-degan juga kita bakar uang. Tapi karena ekspektasi untuk drive performance yang sebegitu tinggi terjadi, akhirnya ya mau nggak mau ya digas. Caranya ngegas gimana? Awalnya pasti nggak bakar uang karena yang namanya ada uang terus habis itu kita hambur-hamburkan dalam tanda kutip itu juga pasti deg-degan," katanya.

"Tapi sudah segala cara termasuk bakar uang, ternyata bakar uang ini dalam beberapa kasus, nggak semua kasus, dalam beberapa kasus terbukti manjur untuk nge-drive growth itu tadi," tambahnya. Yang jadi masalah, katanya, pertumbuhan ini berkelanjutan atau tidak. Ketika uang itu habis, startup akan meminta suntikan dana lagi ke investor. Nah, kondisi ini yang menunjukkan startup tidak kebal terhadap kondisi ekonomi. Saat ekonomi sedang tidak menentu seperti sekarang, investor pun cenderung menahan dananya.

"Itu yang membuat sebenarnya memang bisnis startup memang tidak kebal amat, sangat tidak kebal terhadap kondisi-kondisi ekonomi seperti ini. Karena ketika kondisi ekonomi seperti ini investor pun nahan uang, jadi mereka pun akan mikir mau suntik apa nggak, 'Ah ntar dulu deh kita pun butuh megang uang sekarang'," terangnya.

Dengan kondisi begitu, startup yang butuh dana pun putar otak ketika dana yang dimiliki seret. Maka itu, untuk bisa bertahan startup mengurangi pengeluaran termasuk pegawai. "Jadi mereka yang butuh suntikan dana ya mau minta dari mana otomatis harus mikir, gimana caranya saya bisa bertahan hidup sampai pada akhirnya lewat. Cara untuk bisa bertahan untuk badai yang lewat salah satu opsinya memang mengurangi pengeluaran, salah satunya pegawai dan sebagainya," jelasnya.

Maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) pada perusahaan rintisan di bidang teknologi atau startup tengah menjadi topik perbincangan yang hangat di Tanah Air. Hal tersebut pun kerap kali dikaitkan dengan fenomena bubble burst. Bubble burst atau situasi bubble secara umum merupakan kondisi yang terjadi ketika nilai pasar naik dengan sangat cepat, terutama pada nilai aset dan diikuti oleh penurunan yang cepat. Lalu, benarkah hal itu sedang terjadi?

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bima Yudhistira menjelaskan, kondisi saat masih menjadi perdebatan dan masih terlalu dini jika dibilang bubble. Sebab, kondisi saat ini banyak berbeda dengan kondisi bubble yang terjadi sebelumnya seperti dotcom bubble.

"Tapi yang jelas, beberapa startup itu ada yang menjadi masalah utamanya adalah soal pendanaan. Produknya bisa matching tapi dari sisi pendanaan ada beberapa perubahan memang. Pendanaan merupakan akar masalahnya. Bhima menjelaskan, sebelum pandemi tingkat suku bunga sangat rendah. Beberapa negara bahkan menerapkan suku bunga negatif.

Kondisi saat itu, likuiditas sedang melimpah. Sementara, aset-aset tradisional kurang menarik untuk menjadi tempat investasi. "Emas kurang menarik, surat utang bunganya kecil banyak yang akhirnya berinvestasi di perusahaan rintisan ataupun startup ini," sambungnya. Menurut Bhima, di tengah euforia investasi biasanya ada koreksi. Dia pun menuturkan, proses seleksi alam pun kemudian berlangsung.

"Jadi startup yang produknya tidak fit di pasar, pendanaannya kemudian bermasalah, mereka melakukan efisiensi, itu untuk menata ulang persaingan. Terutama yang sebelumnya mungkin melakukan burning money, bakar uang untuk dapat customer dalam waktu singkat, market share-nya naik dalam waktu singkat, mungkin dituntut agar pertumbuhannya lebih organik," paparnya.

Sementara, Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia periode 2018-2020 Ignatius Untung menilai, penyebab PHK yang terjadi di sejumlah startup ialah kondisi ekonomi global.

"Kita mengantisipasi kondisi ekonomi global yang mulai orang bilang resesi lah ya. Indonesia mungkin belum masuk, mungkin kita baru di depan pintu, tapi kita sudah lihat negara-negara yang sudah lebih dulu, yang sudah kena Turki inflasinya sampai double digit, Amerika juga mencatat rekor tertinggi inflasi, China pun sudah mulai siap-siap," terangnya.

Tapi kalau dihubungkan dengan yang tadi dibilang tech bubble dan lain sebagainya saya ko tidak melihat, saya bukan tidak bilang iya, saya nggak bilang bahwa bukan itu penyebabnya, tapi setidaknya itu bukan penyebab utamanya. Jadi bener-bener pure hanya karena resesi. Sayangnya bisnis model startup memang rentan resesi karena biasanya tidak memiliki inovasi yang memadai selain modal investor yang besar serta mimpi mendapatkan uang mudah


Monday, May 30, 2022

Kerugian Gojek Meningkat Tajam Jadi Rp. 6,61 Triliun Meski Omzet Tembus 151 Triliun

 Emiten teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masih mengalami kerugian hingga kuartal I 2022. Bahkan, kerugiannya tambah besar. Seperti dikutip dalam laporan keuangan konsolidasian interim yang tidak diaudit, GoTo mencatat rugi periode berjalan pada kuartal I-2022 sebesar Rp 6,61 triliun. Angka itu meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,95 triliun.

Jumlah aset perusahaan tercatat Rp 151,13 triliun pada kuartal I-2022. Aset tersebut turun jika dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 155,13 triliun.

Total liabilitas GoTo sebesar Rp 16,61 triliun. Liabilitas mengalami kenaikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 16,11 triliun.

Berikutnya, jumlah ekuitas tercatat sebesar Rp 134,52 triliun, turun dari sebelumnya Rp 139,02 triliun.

Pendapatan bersih tercatat sebesar Rp 1,49 triliun. Angka ini naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 904,83 miliar.

CEO GoTo Andre Soelistyo mengatakan, rugi GoTo naik tajam karena data pembanding laporan keuangan kuartal I-2021 disajikan tanpa Tokopedia. Dia mengatakan, Gojek baru resmi bergabung dengan Tokopedia pada Mei 2021, sehingga kata dia, membandingkan kinerja GoTo kuartal I-2022 dengan kuartal I-2021 kurang tepat.

"Hal ini kurang tepat karena laporan keuangan PT GoTo Gojek Tokopedia dan anak perusahaan periode kuartal I-2021 disajikan tanpa Tokopedia dikarenakan penggabungan dari Gojek dan Tokopdia baru selesai dilakukan bulan Mei 2021," katanya dalam konferensi pers. "Sehingga untuk menggambarkan bisnis secara apple to apple akan lebih tepat menggunakan laporan keuangan proforma," tambahnya.

PT Gojek Tokopedia Tbk (GoTo), merilis laporan keuangan periode 2021 dibandingkan dengan 2020 dan kuartal I 2022 dibandingkan dengan kuartal I 2021 atau year on year (yoy). Emiten dengan ekosistem digital terbesar di Indonesia ini mencatat kenaikan nilai transaksi bruto atau gross transaction value (GTV) seiring dengan tingginya penggunaan layanan di ekosistem Goto.

Di tahun 2021, angka GTV GoTo tembus Rp 461,60 triliun, naik 40% dibandingkan dengan tahun 2020 yaitu Rp 330,18 triliun. Angka GTV ini setara dengan 2,72% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di tahun 2021 sebesar Rp16.970,8 triliun sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS).

Dari jumlah GTV ini, kontribusi bisnis on-demand services (mobilitas, pesan-antar makanan dan bahan kebutuhan pokok, dan logistik) mencapai Rp 50,31 triliun di 2021, naik 25,21% dari Rp 40,18 triliun. Kemudian e-commerce tumbuh 45,82% mencapai Rp 230,59 triliun dari Rp 158,13 triliun. Sedangkan financial technology (fintech) mampu melesat 80% hingga mencapai Rp 214,91 triliun dari yang sebelumnya Rp 119,52 triliun.

Sementara itu, GTV Januari-Maret 2022 (kuartal I) mencapai Rp 139,54 triliun. Angka ini menunjukan peningkatan sebesar 45,04% dari periode yang sama 2021 senilai Rp 96,21 triliun. GTV ini ditopang on-demand naik 39,48% menjadi Rp 14,45 triliun dari Rp 10,36 triliun, e-commerce naik 27,66% menjadi Rp 65,13 triliun dari Rp 51,02 triliun, dan fintech melesat 91% menjadi Rp 77,31 triliun dari Rp 40,54 triliun.

CEO Grup GoTo Andre Soelistyo mengatakan sepanjang tahun 2021, perusahaan secara konsisten menjalankan rencana bisnis dengan baik, sehingga mampu menghasilkan pertumbuhan di setiap lini bisnis dan peningkatan margin secara keseluruhan.

"Pembentukan GoTo, dari kombinasi Gojek dan Tokopedia, menempatkan kami dalam posisi yang lebih baik lagi untuk melayani konsumen. Seiring dengan komitmen semakin memperdalam integrasi bisnis, kami mampu meningkatkan efisiensi operasional, menghadirkan peluang bisnis dengan pendekatan multi platform serta berinvestasi bagi pertumbuhan dan profitabilitas GoTo," kata Andre dalam keterangan tertulis, Senin (30/5/2022).

"Perusahaan operasional kami mampu mencetak kinerja yang kuat, dengan didukung oleh sinergi ekosistem. Fokus kami mendorong penggunaan antara platform-platform terdepan ini. Misalnya, kami telah mendorong GoPay menjadi uang elektronik yang paling banyak digunakan di Tokopedia, memperkenalkan penyelarasan status program loyalitas di Gojek dan Tokopedia, serta mengkonsolidasi sistem poin penghargaan kami, GoPay Coins, di seluruh ekosistem," imbuhnya.

Andre menjelaskan bahwa GoTo mencatat terjadi pertumbuhan 37% untuk jumlah pengguna yang bertransaksi dalam setahun di kedua platform Gojek dan Tokopedia selama 2021, dengan kecenderungan berbelanja lebih banyak dan lebih setia dibandingkan dengan pengguna salah satu platform saja.

Tahun lalu, pendapatan bruto GoTo tumbuh 45% yoy mencapai Rp 17,1 triliun dari Rp 11,85 triliun, sementara pendapatan bersih naik 9% menjadi Rp 5,30 triliun dari Rp 4,82 triliun. Lalu jumlah pengguna tahunan dalam 12 bulan tumbuh naik 6% mencapai 59,4 juta dan jumlah pedagang yang terdaftar naik 25% menjadi 15,1 juta. Sedangkan jumlah mitra pengemudi terdaftar juga tumbuh 3% menjadi 2,6 juta serta jumlah pesanan pun naik 18% mencapai 2,2 miliar pesanan. Berbagai peningkatan inipun mencerminkan pertumbuhan take rate atau komisi yang diambil perusahaan dalam menyediakan jasa platform dalam ekosistem GoTo.

Adapun di kuartal I tahun 2021, pendapatan bruto GoTo naik 53% menjadi Rp 5,2 triliun yang mencerminkan pertumbuhan take rate dari 3,5% menjadi 3,7% didorong oleh monetisasi pada segmen e-commerce dan on-demand yang lebih baik. Di kuartal I periode ini, pendapatan bersih mencapai Rp1,5 triliun, naik 7,14% dari sebelumnya Rp1,4 triliun. "Terdapat pertumbuhan take rate secara konsisten year-on-year dari 19% pada kuartal pertama tahun 2021 menjadi 22% pada kuartal pertama tahun 2022," jelasnya.

"Sepanjang 2022, kami akan terus mendorong inisiatif-inisiatif ini dan menggunakan keunggulan kompetitif yang ekosistem kami miliki, sekaligus memaksimalkan potensi pertumbuhan di Indonesia dan Asia Tenggara. Dengan semakin longgarnya kegiatan masyarakat, peningkatan dan integrasi produk akan terus dilakukan untuk memastikan bahwa GoTo mampu terus melayani pertumbuhan kebutuhan dan jumlah pengguna kami di layanan on demand, e-commerce, dan financial technology," pungkas Andre.




Saturday, May 14, 2022

Elon Musk Puji Karyawan China Karena Siap Lembur Sampai Pagi ... Karyawan Indonesia Siap?

 Komentar Elon Musk soal pekerja China versus Amerika jadi sorotan. Pengusaha teknologi ini memuji etos kerja orang China yang tak kenal lelah dibandingkan orang Amerika. Elon Musk menyebut bahwa para karyawan China rela kerja dengan shift yang panjang demi bisa selesai tepat waktu. Sementara itu, dia mengritik pekerja Amerika yang justru terkadang mencoba menghindar dari tugas kantor. Maka tidaklah heran dengan banyaknya muncul sinophobia yang anti karyawan China,

Apakah karyawan Indonesia siap bersaing seperti ini bila Tesla jadi buka pabrik di Indonesia?

Pernyataan itu terlontar saat Elon Musk melakukan sesi wawancara dengan Financial Times. Kala itu pria 50 tahun ini diminta untuk menyebut perusahaan start-up kendaraan elektrik yang menurutnya paling mengesankan.

Setelah memberi jawaban, CEO SpaceX dan Tesla ini kemudian membahas produsen kendaraan elektrik yang menurutnya sangat berpotensi jadi kompetitor Tesla. Dia menyebut perusahaan itu kemungkinan berasal dari China.

"Menurut saya akan ada beberapa perusahaan yang sangat kuat berasal dari China. Ada banyak orang di China yang super berbakat dan pekerja keras... yang punya keyakinan kuat dalam manufaktur," tuturnya, seperti dikutip dari Nextshark.

Elon Musk memuji pekerja China tidak hanya rela kerja begadang sampai malam, tapi juga hingga dini hari. Mereka bahkan bersedia menginap di kantor. "Sementara itu di Amerika, orang-orang mencoba menghindari pekerjaan bahkan tidak mau kerja sama sekali," ucapnya.

Tesla sendiri saat ini memiliki dua pabrik di China. Kabarnya Tesla menyediakan berbagai fasilitas yang memungkinkan para pekerjanya merasa nyaman ketika harus menginap di kantor atau pabrik.

Seperti kantornya di Shanghai, para karyawan disediakan makanan gratis, kantong tidur dan matras. Perusahaan itu juga membangun area khusus bagi pekerja untuk makan, santai, mandi dan makan.