Pages - Menu

Monday, August 1, 2011

Inflasi Menjelang Ramadhan Tertinggi Di Indonesia Adalah Provinsi Sumatera Selatan

Menjelang bulan puasa dan lebaran, inflasi di Palembang, Sumatera Selatan, tinggi, yaitu mencapai 0,70 persen di Bulan Juli atau lebih tinggi dari inflasi nasional. Tingginya inflasi ini didorong tingginya kenaikan harga di sejumlah kebutuhan pokok, terutama beras.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan Haslani Haris dalam pembacaan berita resmi statistik di Palembang, Sumsel, Senin (1/8/2011), mengumumkan, kenaikan harga beras di Palembang yang mencapai 5,1 persen pada Juli memberikan andil inflasi tertinggi mencapai 0,2 persen. Diikuti kenaikan tarif air minum sebesar 10,04 persen yang mendorong inflasi sebesar 0,1 persen.

"Kenaikan harga semen sebesar 17,34 persen berada di posisi ketiga yang mendorong inflasi sebesar 0,1 persen," katanya. Dari periode yang sama tahun lalu, inflasi di Kota Palembang mencapai 4,37 persen. Kenaikan harga di Bulan Juli terjadi di hampir semua bahan makanan, di antaranya padi-padian, daging, ikan awetan, telur, dan sayuran.

Meskipun harga komoditas bahan pertanian naik, perolehan petani pada Juli justru turun sebesar 1,28 persen. Artinya, daya beli petani juga turun. Hal ini terlihat dari angka nilai tukar petani yang turun dari 110,96 persen di Bulan Juni turun menjadi 109,54 persen. Penuruna daya beli yang ditunjukkan dengan nilai tukar ini juga terjadi pada peternak maupun perkebunan.

"Mereka masih dapat keuntungan, namun berkurang dari bulan sebelumnya," ucapnya.

Sejumlah komoditas pangan yang mengalami penurunan, yaitu bumbu yang turun drastis hingga 7,46 persen, ikan segar turun 1,47 persen, dan buah-buahan turun 0,12 persen. Untuk Sumatera Bagian Selatan, inflasi tertinggi di Kota Jambi sebesar 0,94 persen dan terendah di Pangkal Pinang sebesar 0,1 persen. Di Pulau Sumatera, inflasi tertinggi terjadi di Banda Aceh sebesar 1,16 persen.

Saturday, July 30, 2011

Strategi Untuk Membuat Toko Buku Tidak Bangkrut dan Tetap Ramai Dikunjungi Pelanggan

KABAR buruk itu akhirnya datang juga ke kantor pusat Borders di Phoenix Drive, Ann Arbor, Negara Bagian Michigan. Setelah lima bulan berusaha mati-matian menyelamatkan usaha, Mike Edwards, Presiden Borders Group, mengerek bendera putih.

Pada umurnya yang 40 tahun, salah satu jaringan toko buku terbesar di Amerika Serikat itu bangkrut. Semua toko yang tersisa, 399 gerai, akan ditutup dan dijual. “Selama bertahun-tahun, Borders selalu menjadi tujuan mereka yang mencari ilmu pengetahuan, hiburan, dan pencerahan,” Edwards menulis dalam memo terakhirnya kepada karyawan Borders, Senin pekan lalu. “Dan kita sudah bertarung dengan berani, tapi kita tetap gagal mengatasi tekanan dari luar.”

Pada masa jayanya, Borders menjual buku lebih dari US$ 3 miliar atau Rp 25 triliun per tahun, memiliki 567 toko buku besar di Amerika Serikat serta beberapa negara, seperti Singapura dan Australia. Namun, kata Edwards, angin perubahan di industri buku dan krisis ekonomi di negeri itu menjungkirbalikkan bisnis Borders.

Internet dan toko online lah yang telah “membunuh” Borders. Sejak 2006, menurut data Asosiasi Penerbit Amerika Serikat, penjualan buku digital (e-book) lewat Internet terus berlipat. Pada Februari lalu, total penjualan buku digital di negeri ini menembus US$ 90,3 juta atau sekitar Rp 780 miliar. Pada April tahun lalu, penjualan buku digital baru sebesar US$ 28,3 juta atau Rp 240 miliar. Inilah pertama kalinya penjualan buku digital di Internet melampaui buku kertas.

Rupanya manajemen Borders salah membaca tanda-tanda perubahan itu. Mereka membuat blunder besar kala menyerahkan penjualan buku lewat Internet kepada Amazon.com pada 2001. Setiap pembelian buku lewat laman Borders.com langsung diteruskan ke Amazon. Borders seolah-olah hanya menjadi anak toko bagi Amazon.

“Saya masih ingat hal paling aneh yang kami lakukan waktu itu, yakni bersukaria dengan menenggak sampanye yang dibeli oleh Jeff Bezos,” Manish Vyas, mantan manajer toko Internet Borders, mengenang. Bezos merupakan pemilik dan pendiri Amazon, toko buku online Internet terbesar di dunia.

Bisnis buku Borders terus mengkerut dan merugi, sedangkan Amazon semakin menggelembung. “Seperti kata orang, Internet ibarat komet yang memusnahkan dinosaurus ribuan tahun lalu. Saya khawatir Borders (dan toko buku lain) adalah dinosaurus itu,” kata David Dykhouse, mantan manajer di toko Borders, kepadaBloomberg.

DI Indonesia memang belum ada toko buku yang tutup buku gara-gara Internet. Buku digital masih sangat jauh untuk menggantikan buku cetak. “Perkakas pembaca (e-book reader) harganya masih mahal dan kurang nyaman,” kata Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia Lucya Andam Dewi pekan lalu. Perkakas iRiver Cover Story EB05, misalnya, masih dibanderol Rp 2,2 juta.

Sekarang paling tidak baru ada toko Papataka.com dan Gramedia.com yang menjual format buku digital. “Lapak” online Papataka mulai digelar dua tahun lalu oleh tiga sekawan, An Sonny Kaliman, Anson Lesmana, dan Roy Kurniawan. Masih sedikit sekali buku digital dari penerbit ataupun penulis lokal. BukuTablet, toko buku digital milik perusahaan teknologi informasi asal Yogyakarta, Informotics Digital Persada, baru akan diluncurkan pertengahan Agustus nanti. Informotics bekerja sama dengan 40 penerbit di Kota Gudeg dan Solo.

Jaringan toko buku terbesar di negeri ini, Gramedia, pun baru awal Juli lalu mulai menggarap pasar buku digital. Mereka meluncurkan aplikasi Gramedia for iPad dan aplikasi pembaca buku digital untuk tablet Samsung Galaxy Tab. Aplikasi untuk sistem operasi Android segera menyusul. Walaupun tak banyak gembar-gembor, aplikasi untuk Apple iPad dan Samsung Galaxy itu sudah diunduh lebih dari 1.500 kali.


“Sebenarnya persiapannya sejak tiga tahun lalu,” kata Rio Eka Putra, Manajer Riset dan Teknologi Informasi di Kelompok Penerbit Gramedia. Sudah ada 250 judul buku digital dari perusahaan penerbit Kelompok Gramedia yang bisa diunduh di toko Gramedia.com. “Sudah kami siapkan 1.000 judul. Tinggal diunggah saja.”

Yang makan banyak waktu, menurut Rio, adalah meyakinkan penulis buku dan penerbit lain supaya bersedia menjual buku dalam format buku digital. “Hantu” bagi penulis dan penerbit itu bernama pembajakan. “Kami masih belum yakin akan keamanan aplikasi buku digital,” kata Husni Syawie, Sekretaris Umum Ikatan Penerbit Indonesia. Walaupun sudah dipasang aplikasi antipembajakan atau Digital Rights Management, menurut Direktur Serambi Ilmu Semesta ini, dokumen buku masih mungkin dijebol dan dibajak.

Pembajakan memang bukan hanya musuh bagi perusahaan film, musik, atau peranti lunak, tapi juga para juragan buku. Walaupun sebenarnya tak peduli cetak atau versi digital, buku tetap bisa dibajak. “Makanya, daripada capek, saya tak terlalu pusing dengan aplikasi antipembajakan. Semakin dilarang, mereka semakin melawan,” ujar bos Informotics, Ardiansyah.

Kunci melawan pembajak ini barangkali bukanlah rupa-rupa aplikasi, melainkan soal harga. Tanpa ongkos cetak, harga buku digital bisa dipangkas. Jika harga buku digital sudah murah, para pembajak bakal susah mengail untung dari menjual buku aspal alias asli tapi palsu ini.

Walaupun sebagian penerbit masih berhitung cermat dengan risiko pembajakan, seperti yang terjadi di Amerika Serikat, tren buku digital sepertinya tak bisa ditahan lagi. “Kami pasti akan masuk ke sana,” kata Lucya Andam Dewi, Direktur Utama Penerbit Bumi Aksara. Siapa tahu, kata Husni, buku digital, yang lebih gampang ditenteng-tenteng ke mana pun, bisa menggugah selera baca. Walhasil, ujung-ujungnya malah jadi berkah baru bagi penerbit.


Karena jumlah transaksinya masih kelewat kecil, buku digital bukan ancaman bagi toko buku online besar, seperti Gramedia. Namun sepuluh atau lima belas tahun lagi, kios Internet seperti Papataka bisa menjadi “pembunuh” toko buku. Ketika Amazon didirikan Jeff Bezos pada 1994, siapa yang menyangka dia bisa membuat Borders tumbang. Makanya, meskipun tak menyumbang keuntungan, Gramedia sudah bersiap. “Siapa tahu model bisnis buku di Indonesia berubah,” kata Rio. Tentu Gramedia tak ingin mengulang sejarah Borders

Bisnis Toko Online Semakin Populer Dari Tahun Ke Tahun

Bisnis sekuritas dalam menyediakan fasilitas perdagangan saham berbasis internet (toko online trading) berprospek cerah ke depannya, hal itu tercermin dari bertambahnya sekuritas yang menerapkan perdagangan saham secara online.

"Seiring perkembangan zaman yang maju, online trading akan diminati oleh nasabah. Sekuritas yang tidak memiliki sistem itu nantinya akan ditinggalkan nasabah," kata analis perusahaan sekuritas PT Anugerah Securindo Indah Viviet S Putri di Jakarta, Jumat (29/7).

Dengan sistem toko online trading, kata dia, nasabah akan mampu melakukan jual beli saham secara langsung dengan cara melakukan input order sendiri.

Selain itu, lanjut dia, melalui online trading ini investor akan leluasa untuk memantau harga saham serta portofolio yang dimilikinya.

Tercatat sebanyak 64 dari total 119 anggota bursa sudah menggunakan layanan transaksi online trading.

Makin maraknya online trading, ia mengharapkan, agar acuan tarif (fee) minimal transaksi online segera diberikan landasan hukum, karena perang tarif masih menghambat penetrasi sekuritas ke pangsa pasar di segmen itu. "Kondisi perang tarif untuk transaksi online tersebut belum membaik," katanya.

Sebelumnya, Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) telah menyepakati besaran fee minimal yang ditetapkan di level 0,12 persen atau empat kali dari fee transaksi bursa sebesar 0,04 persen.

Meski demikian, kata dia, ketentuan bersama itu belum memiliki dasar hukum yang kuat sehingga tidak memiliki kekuatan untuk memaksa anggota bursa mematuhinya.

Viviet juga mengatakan, peraturan transaksi online trading di BEI juga masih mengacu pada pedoman penyampaian order secara langsung oleh nasabah. "Peraturan untuk online trading masih belum spesifik, saat ini masih dalam bentuk pedoman online," ujarnya.

Friday, July 29, 2011

Gerakan Sukseskan Penghematan Listrik dan BBM Diumumkan Presiden SBY

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta semua kepala daerah dan masyarakat ikut menyukseskan gerakan penghematan listrik dan bahan bakar minyak (BBM) sebagai upaya untuk menyelamatkan keuangan negara dan mendorong pembangunan nasional.

"Saya minta semua menyukseskan gerakan penghematan BBM dan lsitrik," kata Presiden Yudhoyono saat memberikan pengarahan dalam Rapat Koordinasi Gubernur Se-Wilayah Sumatera di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat pagi.

Kepala Negara menyatakan, gerakan penghematan itu akan dimulai pada Agustus 2011. Gerakan itu adalah tindaklanjut gerakan serupa yang telah dilaksanakan pada 2008.

Menurut Yudhoyono, gerakan penghematan lsitrik dan BBM sangat diperlukan untuk mengurangi subsidi negara terhadap sektor energi itu.

Pada dasarnya, subsidi untuk kesejahteraan rakyat memang baik. Namun, kata Presiden, jika subsidi dirasa tidak tepat sasaran maka harus dikaji ulang.

Kepala Negara menjelaskan, subsidi energi di Indonesia sudah sangat besar. Jika subsidi bisa dikurangi, maka pemerintah bisa mengalokasikan dana ke sektor lain, terutama, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

Untuk itu, Presiden meminta semua kepala negara mengawasi pelaksanaan penghematan di daerah masing-masing.

"Jangan biarkan nyala terus, AC terus, boros," kata Presiden.

Pada kesempatan itu, Presiden juga menginstruksikan gerakan stabilisasi harga pangan. Hal itu untuk mengantisipasi kenaikan harga pangan di pasar dunia.

"Pada tingkat dunia sedang terjadi pergerakan harga yang bukan hanya tidak stabil, tapi cenderung meningkat yaitu harga pangan dan minyak," katanya.

Untuk itu, Yudhoyono meminta semua kepala daerah untuk melakukan berbagai langkah stabilisasi harga, seperti operasi pasar dan perbaikan distribusi serta transportasi.

"Jangan dilakukan pemerintah pusat semata," kata Yudhoyono.

Minyak di Asia Bervariasi akibat Ketakutan Utang Amerika

Harga minyak mentah bervariasi (mixed) di perdagangan Asia pada Jumat, dengan kebuntuan utang AS terus mengacaukan pasar karena pemungutan suara di DPR atas rencana utang dari Partai Republik ditunda.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman September, jatuh 34 sen menjadi 97,10 dolar AS per barel pada sore hari.

Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman September naik 14 sen menjadi 117,50 dolar AS.

Politisi Amerika sedang berjuang mencapai kesepakatan untuk meningkatkan batas pinjaman negara di atas nilai saat ini 14,3 triliun dolar AS dan mencegah "default" (gagal bayar) utang

pada 2 Agustus, ketika Departemen Keuangan mengatakan akan kehabisan uang untuk membayar tagihannya.

Kesulitan itu diperparah ketika muncul bahwa sebuah pemungutan suara atas rencana Partai Republik harus ditunda pada akhir Kamis karena pemimpin partai tidak dapat menggalang cukup dukungan dari anggota mereka sendiri.

Dengan lima hari menjelang batas waktu default Ketua IMF Christine Lagarde bergabung dengan paduan suara mendesak untuk sebuah kesepakatan, mengatakan status dolar sebagai mata uang cadangan utama global dapat diragukan jika perjanjian tidak dibuat.

Dolar Amerika Jatuh Karena Kebuntuan Utang dan Data PDB

Dolar jatuh terhadap mata uang utama lainnya pada Jumat waktu setempat, di bawah tekanan dari kebuntuan politik tentang peningkatan pagu utang Amerika Serikat dan data yang lemah pada pertumbuhan ekonomi AS.

Euro naik menjadi 1,4395 dolar pada Jumat sekitar 21.00 GMT (Sabtu 04.00 WIB), dari 1,4324 dolar pada waktu yang sama Kamis.

Dolar juga melemah tajam terhadap mata uang Jepang, diambil 76,73 yen dibandingkan 77,74 yen. Itu adalah tingkat terendah sejak pertengahan Maret, ketika greenback mencatat rekor terendah pasca-Perang Dunia II pada 76,25 yen.

"Menuju akhir pekan ini, semua mata tertuju pada apakah pembuat kebijakan AS dapat menyelamatkan kesepakatan untuk mencegah risiko default (gagal bayar) utang AS oleh ekonomi terbesar dunia itu," kata Samarjit Shankar dari Bank of New York Mellon.

"Sampai ada kejelasan tentang masalah ini, investor kemungkinan untuk tetap teguh dalam risk-off."

Departemen Keuangan AS mengatakan bahwa jika plafon utang pemerintah$ 14,29 triliun dolar AS tidak dinaikkan pada Selasa depan, itu bisa memaksa default pada kewajibannya - dan mungkin utang - yang akan memiliki dampak merusak pada pasar keuangan.

Partai Demokrat yang mengendalikan Senat dan Republik yang memimpin DPR tetap berselisih atas langkah-langkah pengurangan defisit terkait dengan menaikkan batas hutang.

Yen dan franc Swiss, keduanya safe havens paling disukai, menguat karena investor khawatir tentang krisis utang Eropa dan potensi bencana default utang AS atau penurunan peringkat kredit.

Data yang lemah tak terduga pada ekonomi AS menambah kegelisahan pasar.

Departemen Perdagangan AS mengatakan bahwa produk domestik bruto (PDB) hanya tumbuh 1,3 persen pada kuartal kedua, lebih lemah dari perkiraan analis. Pemerintah juga memangkas estimasi kuartal pertama, dari 1,9 persen menjadi 0,4 persen.

Untuk semester pertama tahun ini, pertumbuhan di bawah 1,0 persen, meningkatkan kekhawatiran tentang kembali ke resesi.

"Dolar adalah terlihat kurang dan kurang menarik dari pertumbuhan, perspektif fiskal dan moneter," kata Kathy Lien dari GFT.

"Pemulihan ini kehilangan momentum, AS menaikkan utangnya dan Federal Reserve sedang mempertimbangkan stimulus lebih. Jika AS kehilangan peringkat berharga AAA, itu benar-benar akan mematahkan punggung dolar."

Pada akhir perdagangan New York, dolar berada di 0,7852 franc Swiss, turun dari 0,8010 franc pada Kamis.

Pound Inggris menguat menjadi 1,6418 dolar dari 1,6361 dolar sehari sebelumnya

Harga Minyak Dunia Turun Karena Perang Utang Di Washington Tidak Kunjung Usai

Harga minyak jatuh pada Jumat waktu setempat, karena takaran data buruk yang tak terduga pada perekonomian AS mengguncang pasar, setelah tidak nyaman oleh pertempuran memilukan tentang pagu utang di Washington.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman September, jatuh 1,74 dolar AS menjadi ditutup pada 95,70 dolar AS per barel.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman September turun 62 sen menjadi menetap pada 116,74 dolar AS per barel di IntercontinentalExchange.

"Pasar terus tertekan oleh kekhawatiran tentang utang (pagu) di AS, dan angka PDB yang keluar pagi ini tidak menjawab harapan. Ini berita buruk - pasar terus ditekan," kata Tom Bentz, analis minyak untuk BNP Paribas.

Pemerintah AS melaporkan bahwa produk domestik bruto (PDB) kuartal kedua hanya tumbuh 1,3 persen, jauh di bawah ekspektasi ekonom.

Pemerinyah juga memangkas perkiraan pertumbuhan PDB kuartal pertama menjadi hanya 0,4 persen dari estimasi awal sebesar 1,9 persen, menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi hampir terhenti di awal tahun.

Sementara itu, politisi di Washington sedang berjuang mencapai kesepakatan untuk menaikkan batas pinjaman negara di atas 14,29 dolar AS pada Selasa (2 Agustus), ketika Departemen Keuangan AS mengatakan akan kehabisan uang untuk membayar tagihannya.

Sekalipun jika Demokrat dan Republik yang terpecah meraih kesepakatan di menit terakhir, banyak pengamat khawatir bahwa lembaga pemeringkat masih akan menurunkan peringkat kredit tertinggi Amerika Serikat.

Langkah tersebut juga akan memiliki dampak negatif pada pasar keuangan dan lebih lanjut dapat memperlambat
pertumbuhan di Amerika Serikat, konsumen minyak terbesar di dunia.

Harga minyak turun pada Senin waktu setempat, tertekan meningkatnya kekhawatiran pasar tentang perlambatan ekonomi China dan krisis utang zona euro.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus, ditutup di 95,15 dolar AS per barel, turun 1,05 dolar AS dari penutupan Jumat.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Agustus merosot 1,09 dolar AS menjadi menetap di 117,24 dolar AS per barel.

Pada Jumat, patokan New York kontrak West Texas Intermediate menyusut hampir 2,50 dolar AS setelah rilis laporan pekerjaan Juni menyedihkan di Amerika Serikat, negara konsumen minyak terbesar dunia. Ekonomi AS hanya menambah pekerjaan baru sedikit dan tingkat pengangguran tiba-tiba naik menjadi 9,2 persen.

"Kita bukan hanya melihat harapan menurunnya permintaan di Amerika Serikat tapi juga di seluruh dunia," kata Phil Flynn, seorang analis energi pada PFGBEST.

China, konsumen minyak terbesar kedua, Sabtu melaporkan tingkat inflasinya melaju kian cepat pada Juni menjadi 6,4 persen, tingkat tertinggi dalam tiga tahun.

Beberapa analis khawatir Beijing mungkin akan bertindak terlalu jauh dalam kebijakan pengetatan moneter untuk mengekang overheating dalam perekonomian.

"Itu benar-benar mengkhawatirkan pasar karena pertumbuhan permintaan minyak datang didominasi dari negara berkembang (emerging market)," kata Matt Smith pada Summit Energy.

"Dan kita telah mendapat tindak lanjut dari Jumat lalu - laporan pekerjaan (AS) - dan kemudian kami juga punya risiko utang menyebar ke Italia dan Spanyol."

Imbal hasil obligasi hasil bagi kedua negara zona euro tersebut mencapai rekor tertinggi pada Senin, karena investor khawatir bahwa Italia dan Spanyol bisa menjadi negara berikutnya yang tenggelam ke dalam krisis utang yang menyebar di Eropa

Harga minyak dunia turun pada Jumat waktu setempat karena perlambatan tajam manufaktur di China, konsumen energi terbesar di dunia, dan langkah-langkah baru AS menuju pelepasan minyak mentah dari Strategic Petroleum Reserve.

Sentimen juga terpukul oleh data manufaktur suram di Inggris dan zona euro, dan gambaran yang hanya sedikit positif untuk Juni dari Amerika Serikat.

Harga patokan minyak mentah WTI (West Texas Intermediate) atau minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Agustus di New York Mercantile Exchange (NYMEX) turun 48 sen menjadi 94,94 dolar AS per barel.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk Agustus turun 71 sen dari Kamis menjadi 111,77 dolar AS per barel.

"Pasar minyak menerima beberapa tekanan dari data PMI (Indeks Pembelian Manajer) China yang mengecewakan yang mengangkat kekhawatiran baru untuk perlambatan mendatang di ekonomi China," kata analis Sucden, Myrto Sokou.

Pertumbuhan aktivitas manufaktur China hampir terhenti pada Juni, dengan PMI resmi jatuh untuk ketiga bulan beruntun menjadi 50,9 pada Juni dari 52,0 pada Mei, data resmi menunjukkan.

Secara terpisah, HSBC China Manufacturing PMI jatuh ke terendah 11-bulan 50,1 pada Juni dari 51,6 pada Mei.

Meskipun perdagangan tentatif menjelang libur panjang akhir pekan AS 4 Juli, Andy Lipow dari Lipow Oil Associates mengatakan pelepasan stok minyak AS mendatang, bagian dari intervensi Badan Energi Internasional untuk memperlambat kenaikan harga, juga menekan harga.

"Sebelumnya pagi ini, pemerintah mengumumkan penghargaan untuk Strategic Petroleum Reserve (Cadangan Strategis Minyak) dan mereka akan menjual 30 juta barel minyak ke sejumlah penyuling dan pedagang," kata Lipow.

"Itu telah memberikan tekanan di pasar ... beberapa orang meskipun mereka tidak akan memiliki cukup tawaran dan jual kurang dari 30 juta barel."

"Di sisi lain, pasar saham rally karena berita manufaktur dan itu telah memberikan alasan orang untuk membeli minyak mentah menjelang akhir pekan," tambahnya.

Indeks Pembelian Manajer ISM untuk sektor manufaktur AS naik 1,8 persen pada Juni menjadi lebih baik dari perkiraan 55,3, dari 53,5 pada Mei.

Tapi itu terjadi setelah penurunan tajam tujuh persen pada Mei dari April, dan indeks Juni tetap jauh di bawah tingkat 60-plus yang dicapai dalam empat bulan pertama tahun ini.

Indeks pesanan baru ISM naik hanya 0,6 persen pada Juni, menunjukkan berlanjutnya kerapuhan di sektor ini