Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada jadi perbincangan setelah salah satu petingginya dibekuk polisi. Andianto Setiabudi yang juga Direktur Utama PT Cipaganti Citra Graha Tbk (CPGT) diduga melakukan penipuan dan penggelapan terhadap 8.700 mitra usahanya.
Dana milik mitra usaha yang berpotensi hilang diperkirakan mencapai mencapai Rp 3,2 triliun akibat dugaan penipuan dam penggelapan tersebut. Mari kita simak kisahnya secara lengkap di sini, seperti dirangkum :
Modus Gali Lubang Tutup Lubang
Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jabar AKBP Murjoko Budoyono mengatakan, Andianto sudah menghimpun dana lewat koperasi sejak tahun 2008 hingga Mei 2014. Total telah terkumpul Rp 3,2 triliun dari 8.700 mitra. Mereka dijanjikan sistem bagi hasil 1,6 persen sampai dengan 1,95 persen per bulan tergantung tenor. Dengan kesepakatan bahwa dana itu akan dikelola oleh koperasi untuk kegiatan perumahan, SPBU, transportasi, perhotelan, alat berat dan tambang.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, dana mitra itu kemudian disuntikkan kepada perusahaan milik Andianto, yakni PT CCG Rp 200 miliar, PT CGT Rp 500 miliar dan PT CGP Rp 885 juta. Kesepakatan bagi hasilnya adalah 1,5% dan 1,75%. "Namun kenyataannya sejak Maret 2014 koperasi gagal bayar dan tidak berjalan. Sedangkan sisa uang mitra tidak jelas penggunaannya, dan cenderung tidak dapat dipertanggung jawabkan," kata Murjono, Selasa (24/6/2014).
Tanam Rp 100 Juta Tumbuh 18%/Tahun
Koperasi Cipaganti berdiri sejak tahun 2002 bersamaan dengan berdirinya perusahaan Cipaganti yang bergerak di bidang transportasi. Sejak berdiri, Cipaganti yang dikenal sebagai perusahan rental kendaraan telah membuka kerja sama dengan para investor. Caranya dengan menitipkan kendaraan. Pemilik kendaraan akan mendapat bagian keuntungan sesuai dengan kesepakatan dengan pihak Cipaganti yang akan mengoperasikan kendaraan itu. Namun seiring dengan perkembangan perusahaan, pola kerja sama dengan penitipan kendaraan ini dinilai tidak lagi efektif. Sejak tahun 2007, Koperasi Cipaganti mulai melakukan pola kerja sama kemitraan dalam bentuk uang.
Minimal uang yang disetor Rp 100 juta, dengan pembagian keuntungan sekitar 1,5% per bulan tergantung lamanya jangka waktu kerja sama. Itu berarti ada keuntungan 18% per tahun. Semakin lama jangka waktu menyimpan uang, maka semakin besar pula imbal hasil yang diberikan tiap bulan. Pola kerja sama dalam bentuk uang ini rupanya diminati masyarakat. Ini terbukti dari pesatnya perkembangan entitas Cipaganti. Selain perusahaan transportasi, Cipaganti telah merambah ke bisnis properti, pertambangan, perhotelan, dan sebagainya.
Ternyata Tak Punya Izin Investasi
Pemerintah menyatakan, Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada tidak mempunyai izin untuk melakukan kegiatan investasi. Kasus yang dialami koperasi ini sedang dipelajari. Demikian disampaikan oleh Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hasan ditemui di kantor Kemendag, Jakarta, Selasa (24/6/2014)."Itu (kasus Koperasi Cipaganti) lagi dipelajari. Izin mereka nggak ada untuk investasi," jelas Syarif Dia mengatakan pengawasan usaha koperasi ini seharusnya merupakan kewenangan daerah, yaitu Jawa Barat.
Pembayaran imbal hasil alias keuntungan investasi para mitra Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada mulai tersendat sejak awal 2014. Namun ada beberapa mitra yang masih menerima imbal hasil tersebut. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu mitra Koperasi Cipaganti bernama Sri Winarti Amijoy . Ia pertama kali ikut investasi di koperasi tersebut setelah mendengar dari keluarga suaminya. "Saya sudah ikut Koperasi Cipaganti sejak lima tahun lalu. Selama ini pembayaran (imbal hasil) lancar," katanya ketika dihubungi, Selasa (24/6/2014).
Pembayaran imbal hasil miliknya mulai berhenti sejak Mei lalu, berbeda dengan kakak iparnya yang sudah berhenti sejak Januari tahun ini. "Kalau saya berhenti (diberi imbal hasil) Mei, tapi kakak ipar saya sudah dari awal tahun ini dari Januari," katanya. Koperasi Cipaganti sudah tak punya uang lagi untuk membagi hasil kepada mitra-mitranya. Bahkan sekarang sedang dalam proses permohonan keringanan pembayaran utang (PKPU) di pengadilan.
Tak hanya nasabah yang keuntungannya tak dibayar, tapi tenaga pemasaran alias marketing Koperasi Cipaganti juga sudah tak digaji. "Karena tidak kuat dapat tekanan dari mitra banyak marketing yang resign. Marketing ini juga kan sudah tidak digaji," kata salah satu Mitra Koperasi Cipaganti Sri Winarti Amijoyo ketika dihubungi, Selasa (24/6/2014)."Biasanya saya dapat informasi (pembayaran keuntungan) dari marketing. Tapi marketing yang biasa sudah resign," tambahnya.
Para Mitra Usaha akan Berkumpul
Para mitra Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada berencana berkumpul di Sentul pada 1 Juli 2014 guna membahas nasib dana mereka yang saat ini belum kembali. Mereka akan lakukan voting apakah setuju koperasi yang tergabung di Grup Cipaganti itu akan dipailitkan. "Tanggal 1 (Juli) di Sentul ada pertemuan mitra Koperasi Cipaganti untuk Jakarta, Bogor dan sekitarnya. Tadinya kan mau bertemu di pengadilan, tapi tempatnya tidak muat," ujar salah satu Mitra Koperasi Cipaganti Sri Winarti Amijoyo ketika dihubungi, Selasa (24/6/2014).
Ia mengatakan, para mitra ini akan melakukan voting terkait kondisi Koperasi Cipaganti. Menurut wanita yang akrab disapa Wiwin ini, pasar mitra tidak ingin Koperasi Cipaganti pailit karena bisa-bisa dana para mitra tidak kembali. "Kita sih inginnya tidak pailit. Tapi kalau tidak pailit juga kita tidak tahu kapan dana bisa kembali. Kita sudah tidak ingin lagi diberi fee (keuntungan) yang penting uang bisa kembali," jelasnya.
Koperasi Cipaganti telah divonis oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat (PN Jakpus). Majelis hakim memutuskan koperasi itu masuk daftar proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) atau biasa juga disebut moratorium. Koperasi Cipaganti terbukti memiliki utang yang sudah jatuh tempo dan dapat ditagih terhadap para krediturnya. Dalam berkas yang didapatkan detikcom, di PN Jakpus, Jl Gadjah Mada, Selasa (24/6/2014), putusan PKPU itu diketok oleh ketua majelis hakim Iim Nurohim.
Dia mengatakan pihak Koperasi Cipaganti juga telah mengakui adanya utang dari penggugat yakni Yetty Rosmayawati dan Rini Nur Indriyati asal Bekasi adalah krediturnya. Dalam pertimbangannya, koperasi Cipaganti juga terbukti memiliki kreditur lain sehingga telah memenuhi syarat-syarat UU PKPU dan Kepailitan.
"Mengabulkan permohonan pemohon seluruhnya dan menyatakan Koperasi Cipaganti dalam PKPU sementara selama 45 hari," ujar Iim dalam amar putusannya pada 19 Mei 2014. PT Cipaganti Citra Graha Tbk (CPGT) banyak melepas saham ke publik sejak awal tahun ini. Manajemen pernah berniat kejar keringanan pajak. Dari data laporan keuangan perseroan Per 31 Maret 2014, kepemilikan saham publik perusahaan transportasi tersebut mencapai 39,902% atau 1,44 miliar lembar saham senilai Rp 144 miliar.
Angka ini melonjak tinggi dari kepemilikan saham publik di awal Initial Public Offering (IPO) pada 9 Juli 2013 yang hanya sebesar 9,78%. Sementara saham induk perseroan yaitu PT Cipaganti Global Corporindo (CGC) menyusut dari 83,89% ke 60,098% atau 2,17 miliar lembar saham senilai Rp 217 miliar pada posisi 31 Maret 2014.
Sampai penutupan perdagangan hari ini, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), komposisi saham publik CPGT kembali membengkak menjadi 51,94%. Sedangkan CGC makin menyusut jadi hanya 26,07%. "Pada saat IPO (initial public offering/penawaran saham perdana), sebenarnya Cipaganti Citra Graha itu memiliki rencana untuk melepas sahamnya sebesar 40%. Kenapa kita mau lepas, karena supaya dapat keringanan pajak dari pemerintah," ujar Corporate Secretary Cipaganti Group Toto Moeljono dalam jumpa pers di Kantor Cipaganti Jalan Gatot Subroto, Selasa (24/6/2014).
Sesuai peraturan Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan publik yang saham beredarnya bisa sampai 40% maka hanya kena pajak perusahaan 5% saja "Nah, pada saat kami IPO, kebetulan kondisi market lagi turun. Sehingga alternatifnya tidak ada pilihan lain, kami sama sekali menunda atau kami tetap jalan hanya dengan 10%. Dan kemarin kami putuskan IPO tapi jumlah yang ditawarkan ke masyarakat hanya 10%," ucapnya.
Pelepasan saham tersebut, sambung Toto, dilakukan oleh pemegang saham pengendali CPGT yaitu PT Cipaganti Global Corporindo (CGC). Sehingga manajemen CPGT tidak mengetahui tujuan pelepasan saham tersebut. "Yang melaksanakan penjualan bukan dari Cipaganti Citra Graha tapi pemegang saham, jadi kami tidak tahu berapa jumlahnya, untuk apa kami tidak tahu," jelasnya.
Dari awal tahun 2014, pemilik CPGT yaitu CGC mulai gencar menjual saham-sahamnya ke publik. Diduga penjualan ini dilakukan untuk menutupi utang-utangnya imbal hasil yang harus dibayarkan ke mitra-mitranya. Atas potensi gagal bayar ini bos Cipaganti Group Andianto Setiabudi pun ditangkap. Ia diduga telah melakukan penipuan dan penggelapan terhadap 8.700 mitra usahanya. Kerugian dari kasus ini diduga mencapai Rp 3,2 triliun.
PT Cipaganti Citra Graha Tbk (CPGT) mengakui koreksi sahamnya yang terjadi sejak awal tahun ini akibat kasus Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada. "Terus terang kejadian koperasi ini kami mengalami sejak bulan Mei, pemberitaan pertama. Impact-nya pada CCG langsung kelihatan adalah dalam bentuk harga saham kami turun, bisa dilihat record-nya," ujar Corporate Secretary Cipaganti Group Toto Moeljono dalam jumpa pers di Kantor Cipaganti Jalan Gatot Subroto, Selasa (24/6/2014).
"Kejadian selalu begitu, begitu ada berita mengenai koperasi, saham CCG akan terpengaruh, tapi seiring berjalan waktu itu membaik. Tapi muncul berita lagi, akan jatuh lagi. Semoga terus membaik kembali," ujarnya. Hari ini pun demikian, kata Toto, dengan maraknya pemberitaan Koperasi Cipaganti harga saham berkodeCPGT itu sekitar 26% hingga ke level Rp 59 per lembar.
Ia ingin meluruskan kabar yang beredar bahwa Koperasi Cipaganti itu merupakan bagian dari dari CPGTyang merupakan perusahaan publik. "Itu tidak benar. Atau pun kebalikannya Cipaganti Citra Graha ada di bawah kendali Koperasi, itu tidak benar adanya," ujarnya.
Koperasi Cipaganti dan CPGT adalah dua institusi yang berbeda, tapi keduanya merupakan bagian dari Cipaganti Group. Koperasi Cipaganti punya 4,4% saham di CPGT, atau setara 160 juta lembar saham dari total 3,6 miliar saham CPGT.
"Kami merasa, secara operasional sampai saat ini, jasa yang diberikan di CCG itu tidak mengalami dampak secara langsung. Tapi kita tidak tahu, kita lihat berjalan waktu," jelasnya.
Tuesday, June 24, 2014
Kenaikan Harga Daging Ayam Hanya Untungkan Makelar dan Bukan Peternak
Sudah bukan sesuatu yang aneh apabila harga daging ayam meroket jelang bulan Ramadhan tiba. Namun ternyata, keuntungan terbesar dari kenaikan harga ayam tersebut tidak dinikmati peternak melainkan oleh makelar.Menurut Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), para makelar diuntungkan karena sistem distribusi perdagangan ayam sangat panjang. "Harga ayam jelang Ramadhan naik terus, siapa yang untung? Bukan peternak, tapi broker-broker itu," ujar Ketua Komisioner KPPU, Sukarmi, di Jakarta, Senin (23/6/2014).
Dia menjelaskan, saat ini sistem distribusi perdagangan ayam sangat panjang. Menurutnya ada delapan tahapan sebelum ayam sampai ke konsumen yaitu dari perternak, industri, broker besar, broker kecil, pengepul, lapak, pedagang dan konsumen. Sistem distribusi tersebut menurut Sukarmi membuat banyaknya aksi spekulan dari para broker dalam menentukan harga jual ayam. Akibatnya, selisih harga jual ayam dari peternak ke konsumen menjadi sangat jauh.
Oleh karena itu, KPPU berniat untuk memotong mata rantai yang merugikan peternak tersebut dengan melakukan kerjasama dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Peternakan. Sudah empat bulan belakangan, peternak mengalami kerugian karena harga daging ayam rendah dipasaran. Oleh karena itu, Kemendag memberikan ruang kepada peternak untuk menaikan harga jual sebelum Ramadhan.
"Itu karena kita inginkan pada lebaran harganya nggak naik melonjak tinggi, jadi peternak diberi ruang dulu naik sekarang sedikit karena peternak selama ni dalam 4 bulan rugi terus, nah kalau dia rugi terus nanti dilebaran karena permintaan meningkat dia akan genjot harga tinggi sekali jadi itu akan merugikan konsumen," ujar Bayu Krisnamukti, Wakil Menteri Perdagangan, di Jakarta, Rabu (26/5/2014).
Bayu menjelaskan, dampak kenaikan harga daging ayam tersebut kepada peternak sudah mulai dirasakan sekarang. Menurutnya, peternak mendapatkan keuntungan dari naiknya harga daging dipasaran. "Sekarang sudah ada rasa sedikit keuntungan jadi tidak ada perlu harus memaksa kenaikan tinggi pada saat lebaran itu langkah yang strtegis," jelasnya. Dengan naiknya harga daging ayam, Bayu memprediksi harga daging ayam pada bulan ramadhan tidak akan naik terlalu tinggi. Kenaikan akan lebih bertahap dan relatif terkontrol oleh pemerintah.
"Harganya turun tidak, tetapi mudahan-mudahan naiknya tidak terlalu tinggi, jangan sampai ada lonjakan terlalu tinggi yang tidak perlu dan rasional. Saya kira naiknya ke level Rp 14.000-Rp 17.000 per kg di peternak, kemudian menjelang itu Ramadhan naik jadi Rp 19.000 sehingga di harga konsumennya sekarang naik menjadi Rp 26.000, Rp 27.000 atau Rp 28.000 nanti naiknya di Rp 29.000 sampai Rp 30.000, jadi tidak terlalu loncat," tandasnya.
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengungkapkan, broker atau makelar distribusi perdagangan ayam sangat meresahkan pedagang. Bahkan, ada yang sampai mengintimidasi pedagang ayam. "Ada intimidasi oleh broker kepada pedagang di pasar-pasar, Mereka (pedagang ayam) diteror, akhirnya mereka tidak kuat dan terpaksa membeli," ujar Ketua Komisienor KPPU, Sukarni, di Jakarta, Senin (23/6/2014).
Sukarni menjelaskan, bentuk intimidasi tersebut ditujukan kepada pedagang agar membeli ayam dari para broker yang kebanyakan merupakan pengelola pasar. Selain itu, pedagang juga diwajibkan menjual ayam dengan harga yang sesuai dengan broker. Bentuk intimidasi dan teror yang dilakukan broker kepada pedagang berupa ancaman menggunakan senjata tajam. Sukarni mengatakan, para broker sampai membawa parang untuk mengancam para pedagang ayam.
Tindakan yang dilakuan broker tersebut sulit untuk diatasi oleh Kementerian Perdagangan karena tidak adanya aturan hukum mengenai aksi broker individual tersebut. Oleh karena itu Sukarni mengatakan KPPU akan berperan aktif dalam menindak broker-broker ayam tersebut karena dalam UU No 5 tahun 2009 (KPPU) ada kewenangan yang menyatakan bahwa orang per orang yang terlibat dalam ekonomi termasuk dalam kategori pengelola usaha.
Dia menjelaskan, saat ini sistem distribusi perdagangan ayam sangat panjang. Menurutnya ada delapan tahapan sebelum ayam sampai ke konsumen yaitu dari perternak, industri, broker besar, broker kecil, pengepul, lapak, pedagang dan konsumen. Sistem distribusi tersebut menurut Sukarmi membuat banyaknya aksi spekulan dari para broker dalam menentukan harga jual ayam. Akibatnya, selisih harga jual ayam dari peternak ke konsumen menjadi sangat jauh.
Oleh karena itu, KPPU berniat untuk memotong mata rantai yang merugikan peternak tersebut dengan melakukan kerjasama dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Peternakan. Sudah empat bulan belakangan, peternak mengalami kerugian karena harga daging ayam rendah dipasaran. Oleh karena itu, Kemendag memberikan ruang kepada peternak untuk menaikan harga jual sebelum Ramadhan.
"Itu karena kita inginkan pada lebaran harganya nggak naik melonjak tinggi, jadi peternak diberi ruang dulu naik sekarang sedikit karena peternak selama ni dalam 4 bulan rugi terus, nah kalau dia rugi terus nanti dilebaran karena permintaan meningkat dia akan genjot harga tinggi sekali jadi itu akan merugikan konsumen," ujar Bayu Krisnamukti, Wakil Menteri Perdagangan, di Jakarta, Rabu (26/5/2014).
Bayu menjelaskan, dampak kenaikan harga daging ayam tersebut kepada peternak sudah mulai dirasakan sekarang. Menurutnya, peternak mendapatkan keuntungan dari naiknya harga daging dipasaran. "Sekarang sudah ada rasa sedikit keuntungan jadi tidak ada perlu harus memaksa kenaikan tinggi pada saat lebaran itu langkah yang strtegis," jelasnya. Dengan naiknya harga daging ayam, Bayu memprediksi harga daging ayam pada bulan ramadhan tidak akan naik terlalu tinggi. Kenaikan akan lebih bertahap dan relatif terkontrol oleh pemerintah.
"Harganya turun tidak, tetapi mudahan-mudahan naiknya tidak terlalu tinggi, jangan sampai ada lonjakan terlalu tinggi yang tidak perlu dan rasional. Saya kira naiknya ke level Rp 14.000-Rp 17.000 per kg di peternak, kemudian menjelang itu Ramadhan naik jadi Rp 19.000 sehingga di harga konsumennya sekarang naik menjadi Rp 26.000, Rp 27.000 atau Rp 28.000 nanti naiknya di Rp 29.000 sampai Rp 30.000, jadi tidak terlalu loncat," tandasnya.
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengungkapkan, broker atau makelar distribusi perdagangan ayam sangat meresahkan pedagang. Bahkan, ada yang sampai mengintimidasi pedagang ayam. "Ada intimidasi oleh broker kepada pedagang di pasar-pasar, Mereka (pedagang ayam) diteror, akhirnya mereka tidak kuat dan terpaksa membeli," ujar Ketua Komisienor KPPU, Sukarni, di Jakarta, Senin (23/6/2014).
Sukarni menjelaskan, bentuk intimidasi tersebut ditujukan kepada pedagang agar membeli ayam dari para broker yang kebanyakan merupakan pengelola pasar. Selain itu, pedagang juga diwajibkan menjual ayam dengan harga yang sesuai dengan broker. Bentuk intimidasi dan teror yang dilakukan broker kepada pedagang berupa ancaman menggunakan senjata tajam. Sukarni mengatakan, para broker sampai membawa parang untuk mengancam para pedagang ayam.
Tindakan yang dilakuan broker tersebut sulit untuk diatasi oleh Kementerian Perdagangan karena tidak adanya aturan hukum mengenai aksi broker individual tersebut. Oleh karena itu Sukarni mengatakan KPPU akan berperan aktif dalam menindak broker-broker ayam tersebut karena dalam UU No 5 tahun 2009 (KPPU) ada kewenangan yang menyatakan bahwa orang per orang yang terlibat dalam ekonomi termasuk dalam kategori pengelola usaha.
KPPU Curigai Ada Permainan Harga Minyak Goreng Antara Produsen Dan Hypermarket
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mencurigai adanya permainan harga antara produsen barang dengan supermarket terkait adanya perbedaan harga di satu supermarket dengan supermarket lain. Hal tersebut terkait harga minyak goreng kemasan yang berbeda-beda.
"Kami sedang meneliti adanya praktik bisnis yang tidak sesuai dengan Undang-undang Persaingan Usaha, mengenai perbedaan harga minyak goreng kemasan di Supermarket yang berbeda-beda," ujar Komisioner KPPU, Muhammad Syarkawi Rauf, di Jakarta, Senin (23/6/2014).
Dia menjelaskan, perbedaan harga antara satu Supermarket dengan Supermarket lainnya banyak terjadi menjelang bulan Ramadhan seperti saat ini. Hal yang membuat KPPU curiga adalah satu produsen memberikan harga yang berbeda kepada Supermarket.
"Menjelang Ramadhan, ada Supermarket yang melakukan promosi membeli minyak goreng ditempat dia lebih murah dari tempat lain, ini tidak sesuai UU Persaingan Usaha," katanya.
Dengan perbedaan harga satu produksi di Supermarket tersebut menurut Syarkawi dapat merugikan konsumen dalam jumlah besar. Oleh karena itu, KPPU akan coba melakukan pendalaman terkait indikasi kesepakatan harga yang melanggar UU Persaingan Usaha tersebut.
"Kami sedang meneliti adanya praktik bisnis yang tidak sesuai dengan Undang-undang Persaingan Usaha, mengenai perbedaan harga minyak goreng kemasan di Supermarket yang berbeda-beda," ujar Komisioner KPPU, Muhammad Syarkawi Rauf, di Jakarta, Senin (23/6/2014).
Dia menjelaskan, perbedaan harga antara satu Supermarket dengan Supermarket lainnya banyak terjadi menjelang bulan Ramadhan seperti saat ini. Hal yang membuat KPPU curiga adalah satu produsen memberikan harga yang berbeda kepada Supermarket.
"Menjelang Ramadhan, ada Supermarket yang melakukan promosi membeli minyak goreng ditempat dia lebih murah dari tempat lain, ini tidak sesuai UU Persaingan Usaha," katanya.
Dengan perbedaan harga satu produksi di Supermarket tersebut menurut Syarkawi dapat merugikan konsumen dalam jumlah besar. Oleh karena itu, KPPU akan coba melakukan pendalaman terkait indikasi kesepakatan harga yang melanggar UU Persaingan Usaha tersebut.
Pacu Penjualan Antam Ekspansi Membuka Butik Emas
PT Antam Tbk (ANTM) terus berusaha memacu penjualan emas, sebagai upaya untuk mengkompensasi kehilangan potensi pendapatan dari ekspor bijih nikel dan bauksit. Salah satu caranya adalah dengan membangun butik emas logam mulia di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Tedy Badrujaman, Direktur Operasi Antam mengatakan, unit penjualan di Banjarmasin ini merupakan butik emas ketiga yang didirikan di 2014. Butik Banjarmasin menjadi unit penjualan emas kesembilan yang dimiliki perusahaan.
Sebelumnya, Antam sudah memiliki butik di beberapa kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Palembang, Semarang dan Balikpapan. "Antam akan terus melakukan pembukaan butik emas baru dan menargetkan untuk membuka 5-10 butik emas logam mulia di tahun 2014," terang Tedy dalam keterangan resmi, Selasa (24/6/2014).
Pembukaan butik baru itu dilakukan guna mendorong penjualan emas. Antam sudah menetapkan target untuk meningkatkan volume penjualan emas 46 persen menjadi 13,6 ton, dibandingkan tahun lalu yang 9,3 ton.
Komoditas emas memang menjadi harapan terbesar Antam untuk mendulang pendapatan, seiring mulai berlakunya larangan ekspor bijih nikel dan bauksit per 12 Januari 2014 lalu. Larangan itu membuat Antam bakal kehilangan potensi pendapatan dari ekspor bijih nikel senilai 350 juta dollar AS-400 juta dollar AS di tahun 2014 ini.
Di kuartal I 2014, emas telah menjadi kontributor utama pendapatan Antam, yakni senilai Rp 1,16 triliun atau setara 50 persen dari total yang Rp 2,3 triliun.
Tedy Badrujaman, Direktur Operasi Antam mengatakan, unit penjualan di Banjarmasin ini merupakan butik emas ketiga yang didirikan di 2014. Butik Banjarmasin menjadi unit penjualan emas kesembilan yang dimiliki perusahaan.
Sebelumnya, Antam sudah memiliki butik di beberapa kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Palembang, Semarang dan Balikpapan. "Antam akan terus melakukan pembukaan butik emas baru dan menargetkan untuk membuka 5-10 butik emas logam mulia di tahun 2014," terang Tedy dalam keterangan resmi, Selasa (24/6/2014).
Pembukaan butik baru itu dilakukan guna mendorong penjualan emas. Antam sudah menetapkan target untuk meningkatkan volume penjualan emas 46 persen menjadi 13,6 ton, dibandingkan tahun lalu yang 9,3 ton.
Komoditas emas memang menjadi harapan terbesar Antam untuk mendulang pendapatan, seiring mulai berlakunya larangan ekspor bijih nikel dan bauksit per 12 Januari 2014 lalu. Larangan itu membuat Antam bakal kehilangan potensi pendapatan dari ekspor bijih nikel senilai 350 juta dollar AS-400 juta dollar AS di tahun 2014 ini.
Di kuartal I 2014, emas telah menjadi kontributor utama pendapatan Antam, yakni senilai Rp 1,16 triliun atau setara 50 persen dari total yang Rp 2,3 triliun.
Cara Penggelapan Uang Dan Ambisi Bisnis Dari CEO PT Cipaganti Citra Graha
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Kombes (Pol) Martinus Sitompul mengungkapkan modus operandi penggelapan uang yang dilakukan oleh bos besar Cipaganti Travel dan CEO PT Cipaganti Citra Graha, Andianto Setiabudi. Menurut Martinus, sejak tahun 2008 sampai dengan bulan Mei 2014, Andianto menggunakan kegiatan koperasi untuk menghimpun penyertaan modal dari sekitar 8.700 mitra yang telah bergabung dengan hasil mencapai Rp 3,2 triliun. Sistem bagi hasil kepada para mitra sesuai kesepakatan adalah 1,6 persen hingga 1,95 persen per bulan tergantung tenor.
"Dengan kesepakatan, dana itu akan dikelola oleh koperasi untuk kegiatan perumahan, SPBU, transportasi, perhotelan, alat berat, dan tambang," kata Martinus di Bandung, Selasa (24/6/2014). Dari pemeriksaan saksi, dana mitra tersebut diketahui mengalir kepada beberapa perusahaan milik Andianto, yaitu PT CCG sebesar Rp 200 miliar, PT CGT sebesar Rp 500 miliar, dan PT CGP sebesar Rp 885 juta, dengan kesepakatan bagi hasil 1,5 persen hingga 1,75 persen.
"Kenyataannya, sejak Maret 2014, koperasi gagal bayar dan tidak berjalan. Sisa uang mitra tidak jelas penggunaannya dan cenderung tidak dapat dipertanggungjawabkan," ujarnya. Untuk menutupi kesepakatan bagi hasil kepada para mitra yang lebih dulu berinvestasi, Andianto akhirnya menggunakan dana mitra lainnya yang ikut bergabung belakangan alias "gali lubang tutup lubang". Untuk sementara ini, kerugian diperkirakan masih ratusan miliar rupiah.
"Pada saat awal bermitra, dana kerja sama langsung diberikan sebesar 1,5 persen sampai 2 persen kepada freeline marketingyang bisa berhasil menarik pemodal sebagai fee sehingga dana para mitra (yang baru bergabung) tidak semuanya digunakan untuk kegiatan usaha," tuturnya.
Selain Andianto, Polda Jawa Barat juga menahan dua orang lainnya yang diduga terkait kasus penggelapan uang tersebut. Dua orang itu bernama Djulia Sri Redjeki, warga jalan Gatot Subroto, Kelurahan Lingkar Selatan Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dan Yulinda Tjendrawati Setiawan, warga Jalan Cipaganti Kelurahan, Cipaganti Kecamatan Coblong, Kota Bandung.
Sebelum kasus gagal bayar Koperasi Cipaganti meletup, Andianto Setiabudi banyak memberi inspirasi kepada pengusaha mengenai usahanya membangun kerajaan bisnis Grup Cipaganti. Mengawali bisnis jual-beli mobil, Andianto Setiabudi lambat laun merambah sektor-sektor lain seperti transportasi, properti, pertambangan, alat berat. Bahkan terakhir, dia ingin mengembangkan usaha maskapai penerbangan.
Cipaganti akhirnya menjelma menjadi korporasi besar, dengan sektor bisnis yang beragam. Perusahaan ini terus berambisi untuk membesarkan bisnisnya di berbagai ranah. Namun yang perlu dicatat, untuk mengembangkan bisnis tersebut, Andianto melakukan penghimpunan dana masyarakat melalui Koperasi Cipaganti. Modal minimal yang harus diserahkan sebesar Rp 100 juta, dan investor diiming-imingi imbal hasil sebesar 1,4 -1,9 persen per bulan. Bahkan, ada beberapa investor yang ditawari imbal hasil di atas 2 persen per bulan.
Beberapa waktu belakangan, pembayaran imbal hasil tak berjalan mulus, hingga akhirnya investor merasa ditipu oleh pemilik Grup Cipaganti, Andianto Setiabudi. Pengamat pasar modal Yanuar Rizky mengungkapkan, kasus yang terjadi pada Cipaganti sebenarnya terjadi missmatch keuangan, sehingga imbal hasil investor tidak bisa dibayar lancar.
Akan tetapi lebih dari itu, kasus Cipaganti merupakan akibat dari kecenderungan pengusaha untuk selalu ingin berkembang. Sehingga, mereka tidak bisa melihat dengan cermat sektor yang dimasuki masih menguntungkan ataukah tidak. "Seperti Cipaganti, terlanjur menghimpun dana masyarakat dan uangnya diputar ke sektor pertambangan. Cipaganti masuk ke pertambangan saat harga sedang tinggi-tingginya, kemudian harga komoditas batu bara anjlok," ujarnya, Selasa (24/6/2014).
Menurut Yanuar, kasus yang menimpa bos Cipaganti bisa menjadi pelajaran bagi pengusaha, bahwa mendorong bisnis menjadi besar memang diperlukan, akan tetapi ada kalanya harus menahan diri. "Istilahnya, jangan serakah dalam berbisnis. Seperti di kasus Cipaganti, pemilik perusahaan ingin terus menerus menggenjot bisnisnya, dan tidak menyadari bahwa ternyata bisnis yang dimasukinya sedang dalam tren menurun," jelasnya.
"Dengan kesepakatan, dana itu akan dikelola oleh koperasi untuk kegiatan perumahan, SPBU, transportasi, perhotelan, alat berat, dan tambang," kata Martinus di Bandung, Selasa (24/6/2014). Dari pemeriksaan saksi, dana mitra tersebut diketahui mengalir kepada beberapa perusahaan milik Andianto, yaitu PT CCG sebesar Rp 200 miliar, PT CGT sebesar Rp 500 miliar, dan PT CGP sebesar Rp 885 juta, dengan kesepakatan bagi hasil 1,5 persen hingga 1,75 persen.
"Kenyataannya, sejak Maret 2014, koperasi gagal bayar dan tidak berjalan. Sisa uang mitra tidak jelas penggunaannya dan cenderung tidak dapat dipertanggungjawabkan," ujarnya. Untuk menutupi kesepakatan bagi hasil kepada para mitra yang lebih dulu berinvestasi, Andianto akhirnya menggunakan dana mitra lainnya yang ikut bergabung belakangan alias "gali lubang tutup lubang". Untuk sementara ini, kerugian diperkirakan masih ratusan miliar rupiah.
"Pada saat awal bermitra, dana kerja sama langsung diberikan sebesar 1,5 persen sampai 2 persen kepada freeline marketingyang bisa berhasil menarik pemodal sebagai fee sehingga dana para mitra (yang baru bergabung) tidak semuanya digunakan untuk kegiatan usaha," tuturnya.
Selain Andianto, Polda Jawa Barat juga menahan dua orang lainnya yang diduga terkait kasus penggelapan uang tersebut. Dua orang itu bernama Djulia Sri Redjeki, warga jalan Gatot Subroto, Kelurahan Lingkar Selatan Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dan Yulinda Tjendrawati Setiawan, warga Jalan Cipaganti Kelurahan, Cipaganti Kecamatan Coblong, Kota Bandung.
Sebelum kasus gagal bayar Koperasi Cipaganti meletup, Andianto Setiabudi banyak memberi inspirasi kepada pengusaha mengenai usahanya membangun kerajaan bisnis Grup Cipaganti. Mengawali bisnis jual-beli mobil, Andianto Setiabudi lambat laun merambah sektor-sektor lain seperti transportasi, properti, pertambangan, alat berat. Bahkan terakhir, dia ingin mengembangkan usaha maskapai penerbangan.
Cipaganti akhirnya menjelma menjadi korporasi besar, dengan sektor bisnis yang beragam. Perusahaan ini terus berambisi untuk membesarkan bisnisnya di berbagai ranah. Namun yang perlu dicatat, untuk mengembangkan bisnis tersebut, Andianto melakukan penghimpunan dana masyarakat melalui Koperasi Cipaganti. Modal minimal yang harus diserahkan sebesar Rp 100 juta, dan investor diiming-imingi imbal hasil sebesar 1,4 -1,9 persen per bulan. Bahkan, ada beberapa investor yang ditawari imbal hasil di atas 2 persen per bulan.
Beberapa waktu belakangan, pembayaran imbal hasil tak berjalan mulus, hingga akhirnya investor merasa ditipu oleh pemilik Grup Cipaganti, Andianto Setiabudi. Pengamat pasar modal Yanuar Rizky mengungkapkan, kasus yang terjadi pada Cipaganti sebenarnya terjadi missmatch keuangan, sehingga imbal hasil investor tidak bisa dibayar lancar.
Akan tetapi lebih dari itu, kasus Cipaganti merupakan akibat dari kecenderungan pengusaha untuk selalu ingin berkembang. Sehingga, mereka tidak bisa melihat dengan cermat sektor yang dimasuki masih menguntungkan ataukah tidak. "Seperti Cipaganti, terlanjur menghimpun dana masyarakat dan uangnya diputar ke sektor pertambangan. Cipaganti masuk ke pertambangan saat harga sedang tinggi-tingginya, kemudian harga komoditas batu bara anjlok," ujarnya, Selasa (24/6/2014).
Menurut Yanuar, kasus yang menimpa bos Cipaganti bisa menjadi pelajaran bagi pengusaha, bahwa mendorong bisnis menjadi besar memang diperlukan, akan tetapi ada kalanya harus menahan diri. "Istilahnya, jangan serakah dalam berbisnis. Seperti di kasus Cipaganti, pemilik perusahaan ingin terus menerus menggenjot bisnisnya, dan tidak menyadari bahwa ternyata bisnis yang dimasukinya sedang dalam tren menurun," jelasnya.
Cara Membuat Aroma Cokelat Semakin Semerbak Harum
Indonesia termasuk penghasil biji kakao terbesar kedua setelah Pantai Gading. Namun, angka impor biji kakao terus menanjak. Penyebabnya, biji kakao lokal berasa pahit dan tidak menguarkan aroma cokelat akibat tidak difermentasi terlebih dulu. Padahal, industri olahan cokelat membutuhkan biji kakao penghasil aroma cokelat.
Rendahnya mutu biji kakao lokal menjadi perhatian pemerintah belakangan ini. Kendati terlambat, Yusni Emilia Harapan, Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, mengatakan Kementerian Pertanian telah menerbitkan aturan yang mewajibkan petani untuk memfermentasi biji kakao. Keterlambatan ini disebabkan pemerintah menunggu pernyataan tidak keberatan dari negara anggota organisasi perdagangan dunia (WTO).
Yusni mengatakan Kementerian Pertanian akan memberlakukan standar nasional Indonesia (SNI) untuk biji kakao. "Sudah keluar Peraturan Menteri Pertanian pada 21 Mei 2014 dan akan diwajibkan atau berlaku efektif mulai 2016," katanya di kantornya, Jakarta, Senin, 23 Juni 2014. Peraturan itu mewajibkan petani memfermentasi biji kakao terlebih dulu. Kebiasan mayoritas petani adalah menjual langsung biji kakao. Padahal, petani merupakan pemilik 94 persen perkebunan kakao. Kebiasaan ini disebabkan harga biji kakao non-fermentasi dan fermentasi tidak jauh berbeda.
Agar petani terpacu, pemerintah mengiming-imingi dengan menetapkan harga biji kakao fermentasi lebih mahal Rp 3.800-4.000 ketimbang harga biji non-fermentasi. Harga biji non-fermentasi mencapai Rp 36 ribu per kilogram. Yusni mengatakan sosialisasi standarisasi dan sertifikasi biji kakao domestik sudah dimulai bersamaan dengan Gerakan Nasional (Gernas) Kakao pada 2009. Namun, menurut Direktur Jenderal Perkebunan Gamal Nasir, Gernas baru menjangkau 400 hektare dari total 1,7 hektare perkebunan kakao.
Jumlah ekspor biji kakao menunjukkan tren penurunan, yaitu sebesar 432 ribu ton pada 2010, lalu 210 ribu ton pada 2011, turun lagi menjadi 165 ribu ton pada 2012, dan hanya 180 ribu ton pada 2013. Adapun nilai ekspor kakao olahan meningkat, yakni sebesar US$ 669 juta pada 2012, menjadi US$ 705 juta pada 2013.
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Gamal Nasir mengatakan pemerintah akan mewajibkan petani memfermentasi biji kakao. Menteri Pertanian tengah menyiapan peraturan menteri yang berisi kewajiban memfermentasi tersebut. "Maret ini akan terbit," kata Gamal, Jumat, 28 Februari 2014.
Proses fermentasi adalah memeram dan menjemur biji kakao selama enam hari. Saat digiling, biji fermentasi mengeluarkan aroma cokelat. Adapun biji nonfermentasi hanya menghasilkan rasa pahit dan sepet. Pabrik cokelat yang ada di Indonesia lebih membutuhkan biji fermentasi untuk menghasilkan tepung cokelat.
Zulhefi Sikumbang, Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia, mengatakan 90 persen petani tak memfermentasi biji kakao. Akibatnya, pabrik cokelat tak bisa menyerap seratus persen biji kakao milik petani. Padahal kapasitas pabrik disebut lebih besar ketimbang produksi biji kakao. Untuk memenuhi kebutuhan biji fermentasi, pabrik mengimpor biji kakao dari Pantai Gading dan Ghana. Impor biji kakao mencapai 62 ribu ton pada 2012, terbesar sepanjang sejarah impor kakao. Volume impor tahun lalu, yang masih dihitung, diprediksi lebih besar. Alasannya, hingga Mei 2013, volume impor mencapai 11 ribu ton. Jumlah itu lebih besar ketimbang periode yang sama 2012, yakni 10 ribu ton.
Zulhefi menilai ogahnya petani memfermentasi biji disebabkan harganya tak jauh beda dengan nonfermentasi. Seperti yang dirasakan Lempoi, petani kakao di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Ia mengatakan tengkulak menghargai biji fermentasi Rp 16 ribu per kilogram, adapun biji nonfermentasi dibanderol Rp 14 ribu per kilogram. Lain lagi dengan Muhammad Hasyim, petani kakao di Blitar, Jawa Timur. Ia bisa menjual biji kakao nonfermentasi Rp 24 ribu per kilogram. "Buat apa memfermentasi, toh harga jualnya tak jauh dari nonfermentasi," ujarnya. "Inilah persoalan utama petani kakao Indonesia."
Keluhan Lempoi dan Hasyim diketahui Gamal. Menurut dia, pemerintah akan mengintervensi harga biji fermentasi agar lebih baik. "Idealnya selisih dengan nonfermentasi Rp 4.000 per kilogram," katanya. Gamal mendesak agar peran tengkulak ditekan supaya petani dapat menikmati gurihnya menjual biji kakao. "Akan kami lakukan pendekatan kepada pabrik," katanya.
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto heran dengan meningkatnya impor biji kakao karena Indonesia produsen terbesar ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana. "Ini pekerjaan rumah buat Kementerian Pertanian, ada apa dengan kakao kita," katanya, Selasa, 25 Februari 2014. Zulhefi Sikumbang, Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia, punya jawaban untuk Panggah. "Biji kakao kita tak beraroma cokelat, kurang berkualitas," katanya. "Kalau digiling hanya menghasilkan rasa pahit dan sepet."
Menurut Zulhefi, biji kakao pahit akibat tidak difermentasi. Proses fermentasi membutuhkan pemeraman dan penjemuran rata-rata enam hari. Lamanya proses ini yang membuat petani ogah melakukan fermentasi. "Apalagi harganya tak jauh dari biji nonfermentasi," katanya. Hampir 90 persen petani kakao Indonesia tak memfermentasi biji kakao. Akibatnya, 18 pabrik cokelat di Indonesia tak banyak menyerap biji kakao tersebut. Zulhefi menilai mayoritas pabrik membutuhkan biji fermentasi untuk menghasilkan tepung cokelat.
Karena sedikit, biji kakao dalam negeri hanya sebagai campuran. Bahan baku utamanya yaitu kakao fermentasi yang diimpor dari Pantai Gading dan Ghana. "Inilah yang membuat impor biji kakao terus menanjak," katanya. Sindra Wijaya, Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia, punya pendapat lain. Menurut dia, impor biji kakao disebabkan produksi biji kakao rendah, yaitu kurang dari 500 ribu ton, di bawah kapasitas mesin pabrik cokelat yang hampir 700 ribu ton.
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Gamal Nasir membantahnya. Gamal menyebut produksi biji kakao mencapai 712 ribu ton. "Apalagi hitungan dinas di daerah bisa mencapai 800 ribu ton," katanya. Para pecinta buku jelas akan banyak mengisi waktu luang di toko buku. Bagi mereka, menghabiskan waktu di toko buku untuk mendapatkan buku favoritnya akan sangat menyenangkan. Alasannya bisa beragam, mulai dari jenis koleksi buku, kedekatan dengan pemilik toko, keterjangakauan jarak, harga, dan yang terpenting suasana toko.
Tapi bagaimana membuat pelanggan buku betas berada di toko buku? Sebuah penelitian dari Hasselt University Belgia menemukan cara mudah dan murah untuk membuat para pelanggan buku betah berada di toko. Mereka tidak sekedar menghabiskan waktu untuk membaca, tetapi sampai membeli buku tadi.
"Pengecer dapat menggunakan aroma cokelat untuk memperbaiki lingkungan toko, yang menyebabkan konsumen mengeksplorasi took," tulis Lieve Douce, seorang peneliti dari Hasselt University Belgia. Penelitian Lieve telah dimuat dalam Jurnal Psikologi Lingkungan. Penelitian ini dilakukan terhadap 201 orang pelanggan toko buku. Lima dari pelanggan itu mengaku menikmati suasana toko ketika ada aroma cokelat. Bahkan mereka cenderung mengabiskan waktu untuk melihat aneka judul buku atau hanya berbincang dengan penjaga toko.
“Pelanggan akan 2,22 kali lebih mungkin untuk meneliti beberapa buku ketika aroma cokelat hadir di toko, dibandingkan dengan kondisi biasa, " tulis tim Douce. Aroma cokelat akan mudah diidentifikasi. Jurnal tersebut melaporkan penjualan buku meningkat hingga 40 persen ketika aroma cokelat mengudara. Tak dijelaskan berapa besar nilai penjualan buku sebelumnya. Namun ini perlu dicoba dan idealnya aroma yang digunakan harus sesuai dengan jenis toko. Misalnya, bau asin untuk toko surfing.
Rendahnya mutu biji kakao lokal menjadi perhatian pemerintah belakangan ini. Kendati terlambat, Yusni Emilia Harapan, Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, mengatakan Kementerian Pertanian telah menerbitkan aturan yang mewajibkan petani untuk memfermentasi biji kakao. Keterlambatan ini disebabkan pemerintah menunggu pernyataan tidak keberatan dari negara anggota organisasi perdagangan dunia (WTO).
Yusni mengatakan Kementerian Pertanian akan memberlakukan standar nasional Indonesia (SNI) untuk biji kakao. "Sudah keluar Peraturan Menteri Pertanian pada 21 Mei 2014 dan akan diwajibkan atau berlaku efektif mulai 2016," katanya di kantornya, Jakarta, Senin, 23 Juni 2014. Peraturan itu mewajibkan petani memfermentasi biji kakao terlebih dulu. Kebiasan mayoritas petani adalah menjual langsung biji kakao. Padahal, petani merupakan pemilik 94 persen perkebunan kakao. Kebiasaan ini disebabkan harga biji kakao non-fermentasi dan fermentasi tidak jauh berbeda.
Agar petani terpacu, pemerintah mengiming-imingi dengan menetapkan harga biji kakao fermentasi lebih mahal Rp 3.800-4.000 ketimbang harga biji non-fermentasi. Harga biji non-fermentasi mencapai Rp 36 ribu per kilogram. Yusni mengatakan sosialisasi standarisasi dan sertifikasi biji kakao domestik sudah dimulai bersamaan dengan Gerakan Nasional (Gernas) Kakao pada 2009. Namun, menurut Direktur Jenderal Perkebunan Gamal Nasir, Gernas baru menjangkau 400 hektare dari total 1,7 hektare perkebunan kakao.
Jumlah ekspor biji kakao menunjukkan tren penurunan, yaitu sebesar 432 ribu ton pada 2010, lalu 210 ribu ton pada 2011, turun lagi menjadi 165 ribu ton pada 2012, dan hanya 180 ribu ton pada 2013. Adapun nilai ekspor kakao olahan meningkat, yakni sebesar US$ 669 juta pada 2012, menjadi US$ 705 juta pada 2013.
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Gamal Nasir mengatakan pemerintah akan mewajibkan petani memfermentasi biji kakao. Menteri Pertanian tengah menyiapan peraturan menteri yang berisi kewajiban memfermentasi tersebut. "Maret ini akan terbit," kata Gamal, Jumat, 28 Februari 2014.
Proses fermentasi adalah memeram dan menjemur biji kakao selama enam hari. Saat digiling, biji fermentasi mengeluarkan aroma cokelat. Adapun biji nonfermentasi hanya menghasilkan rasa pahit dan sepet. Pabrik cokelat yang ada di Indonesia lebih membutuhkan biji fermentasi untuk menghasilkan tepung cokelat.
Zulhefi Sikumbang, Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia, mengatakan 90 persen petani tak memfermentasi biji kakao. Akibatnya, pabrik cokelat tak bisa menyerap seratus persen biji kakao milik petani. Padahal kapasitas pabrik disebut lebih besar ketimbang produksi biji kakao. Untuk memenuhi kebutuhan biji fermentasi, pabrik mengimpor biji kakao dari Pantai Gading dan Ghana. Impor biji kakao mencapai 62 ribu ton pada 2012, terbesar sepanjang sejarah impor kakao. Volume impor tahun lalu, yang masih dihitung, diprediksi lebih besar. Alasannya, hingga Mei 2013, volume impor mencapai 11 ribu ton. Jumlah itu lebih besar ketimbang periode yang sama 2012, yakni 10 ribu ton.
Zulhefi menilai ogahnya petani memfermentasi biji disebabkan harganya tak jauh beda dengan nonfermentasi. Seperti yang dirasakan Lempoi, petani kakao di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Ia mengatakan tengkulak menghargai biji fermentasi Rp 16 ribu per kilogram, adapun biji nonfermentasi dibanderol Rp 14 ribu per kilogram. Lain lagi dengan Muhammad Hasyim, petani kakao di Blitar, Jawa Timur. Ia bisa menjual biji kakao nonfermentasi Rp 24 ribu per kilogram. "Buat apa memfermentasi, toh harga jualnya tak jauh dari nonfermentasi," ujarnya. "Inilah persoalan utama petani kakao Indonesia."
Keluhan Lempoi dan Hasyim diketahui Gamal. Menurut dia, pemerintah akan mengintervensi harga biji fermentasi agar lebih baik. "Idealnya selisih dengan nonfermentasi Rp 4.000 per kilogram," katanya. Gamal mendesak agar peran tengkulak ditekan supaya petani dapat menikmati gurihnya menjual biji kakao. "Akan kami lakukan pendekatan kepada pabrik," katanya.
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto heran dengan meningkatnya impor biji kakao karena Indonesia produsen terbesar ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana. "Ini pekerjaan rumah buat Kementerian Pertanian, ada apa dengan kakao kita," katanya, Selasa, 25 Februari 2014. Zulhefi Sikumbang, Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia, punya jawaban untuk Panggah. "Biji kakao kita tak beraroma cokelat, kurang berkualitas," katanya. "Kalau digiling hanya menghasilkan rasa pahit dan sepet."
Menurut Zulhefi, biji kakao pahit akibat tidak difermentasi. Proses fermentasi membutuhkan pemeraman dan penjemuran rata-rata enam hari. Lamanya proses ini yang membuat petani ogah melakukan fermentasi. "Apalagi harganya tak jauh dari biji nonfermentasi," katanya. Hampir 90 persen petani kakao Indonesia tak memfermentasi biji kakao. Akibatnya, 18 pabrik cokelat di Indonesia tak banyak menyerap biji kakao tersebut. Zulhefi menilai mayoritas pabrik membutuhkan biji fermentasi untuk menghasilkan tepung cokelat.
Karena sedikit, biji kakao dalam negeri hanya sebagai campuran. Bahan baku utamanya yaitu kakao fermentasi yang diimpor dari Pantai Gading dan Ghana. "Inilah yang membuat impor biji kakao terus menanjak," katanya. Sindra Wijaya, Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia, punya pendapat lain. Menurut dia, impor biji kakao disebabkan produksi biji kakao rendah, yaitu kurang dari 500 ribu ton, di bawah kapasitas mesin pabrik cokelat yang hampir 700 ribu ton.
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Gamal Nasir membantahnya. Gamal menyebut produksi biji kakao mencapai 712 ribu ton. "Apalagi hitungan dinas di daerah bisa mencapai 800 ribu ton," katanya. Para pecinta buku jelas akan banyak mengisi waktu luang di toko buku. Bagi mereka, menghabiskan waktu di toko buku untuk mendapatkan buku favoritnya akan sangat menyenangkan. Alasannya bisa beragam, mulai dari jenis koleksi buku, kedekatan dengan pemilik toko, keterjangakauan jarak, harga, dan yang terpenting suasana toko.
Tapi bagaimana membuat pelanggan buku betas berada di toko buku? Sebuah penelitian dari Hasselt University Belgia menemukan cara mudah dan murah untuk membuat para pelanggan buku betah berada di toko. Mereka tidak sekedar menghabiskan waktu untuk membaca, tetapi sampai membeli buku tadi.
"Pengecer dapat menggunakan aroma cokelat untuk memperbaiki lingkungan toko, yang menyebabkan konsumen mengeksplorasi took," tulis Lieve Douce, seorang peneliti dari Hasselt University Belgia. Penelitian Lieve telah dimuat dalam Jurnal Psikologi Lingkungan. Penelitian ini dilakukan terhadap 201 orang pelanggan toko buku. Lima dari pelanggan itu mengaku menikmati suasana toko ketika ada aroma cokelat. Bahkan mereka cenderung mengabiskan waktu untuk melihat aneka judul buku atau hanya berbincang dengan penjaga toko.
“Pelanggan akan 2,22 kali lebih mungkin untuk meneliti beberapa buku ketika aroma cokelat hadir di toko, dibandingkan dengan kondisi biasa, " tulis tim Douce. Aroma cokelat akan mudah diidentifikasi. Jurnal tersebut melaporkan penjualan buku meningkat hingga 40 persen ketika aroma cokelat mengudara. Tak dijelaskan berapa besar nilai penjualan buku sebelumnya. Namun ini perlu dicoba dan idealnya aroma yang digunakan harus sesuai dengan jenis toko. Misalnya, bau asin untuk toko surfing.
Indonesia Perlu Bangun Kota Berkonsep Aerotropolis dan Bukan Smart City
Director of Center for Air Commerce University of North Carolina, John D. Kasarda, menilai Indonesia perlu membangun kota-kota yang berkonsep aerotropolis. "Konsep aerotropolis bisa menjawab tantangan pertumbuhan ekonomi yang merata dalam cakupan wilayah Indonesia yang sangat luas," katanya saat ditemui di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa, 24 Juni 2014.
John mengatakan bahwa konsep aerotropolis merupakan strategi untuk menghubungkan berbagai macam moda transportasi yang berpusat pada bandara. Tujuannya, menurut dia, adalah meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan yang meletakkan bandara sebagai pusat pertumbuhan dan konektivitas dengan pasar global.
Ia lantas menambahkan bahwa membangun kota berkonsep aerotropolis harus memenuhi tiga syarat utama. "Syarat pertama adalah membangun wilayah sekitar bandara dengan hotel, perkantoran, retail, factory outlet atau pusat bisnis," ujarnya. Dengan begitu, wisatawan atau pengunjung yang singgah di bandara tidak lagi kesulitan untuk mengakses fasilitas-fasilitas perekonomian.
Sedangkan syarat kedua ialah menyediakan transportasi yang beragam dan saling terhubung dengan bandara. "Kereta api, bus pengumpan, jalan tol, dan transportasi publik lainnya mutlak terhubung dengan bandara," ujar John. Sementara faktor ketiga yang mempengaruhi keberhasilan kota merancang aerotropolis ialah menyediakan dan membangun fasilitas pengangkutan logistik di sekitar bandara. "Pengangkutan logistik penting karena hampir semua kebutuhan yang dikonsumsi masyarakat di Indonesia pasti melalui bandara sebagai titik distribusi," tutur John.
Menanggapi tawaran konsep aerotropolis dari John D. Kasarda, Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan, Kuntoro Mangkusubroto menilai hal itu sulit direalisasikan. Ia menyebut dua tantangan mewujudkan aerotropolis di Indonesia. "Pembangunan aerotropolis memerlukan koordinasi lintas kementerian dan lintas pemerintah daerah yang sangat rumit serta pendanaan infrastruktur yang sangat besar," ujarnya.
John mengatakan bahwa konsep aerotropolis merupakan strategi untuk menghubungkan berbagai macam moda transportasi yang berpusat pada bandara. Tujuannya, menurut dia, adalah meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan yang meletakkan bandara sebagai pusat pertumbuhan dan konektivitas dengan pasar global.
Ia lantas menambahkan bahwa membangun kota berkonsep aerotropolis harus memenuhi tiga syarat utama. "Syarat pertama adalah membangun wilayah sekitar bandara dengan hotel, perkantoran, retail, factory outlet atau pusat bisnis," ujarnya. Dengan begitu, wisatawan atau pengunjung yang singgah di bandara tidak lagi kesulitan untuk mengakses fasilitas-fasilitas perekonomian.
Sedangkan syarat kedua ialah menyediakan transportasi yang beragam dan saling terhubung dengan bandara. "Kereta api, bus pengumpan, jalan tol, dan transportasi publik lainnya mutlak terhubung dengan bandara," ujar John. Sementara faktor ketiga yang mempengaruhi keberhasilan kota merancang aerotropolis ialah menyediakan dan membangun fasilitas pengangkutan logistik di sekitar bandara. "Pengangkutan logistik penting karena hampir semua kebutuhan yang dikonsumsi masyarakat di Indonesia pasti melalui bandara sebagai titik distribusi," tutur John.
Menanggapi tawaran konsep aerotropolis dari John D. Kasarda, Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan, Kuntoro Mangkusubroto menilai hal itu sulit direalisasikan. Ia menyebut dua tantangan mewujudkan aerotropolis di Indonesia. "Pembangunan aerotropolis memerlukan koordinasi lintas kementerian dan lintas pemerintah daerah yang sangat rumit serta pendanaan infrastruktur yang sangat besar," ujarnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)