Pages - Menu

Wednesday, March 25, 2015

Hutang PDAM Senilai Rp. 4,8 Triliun Akan Dihapuskan

Sekitar 200 Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) terlilit masalah utang dengan total nilai tunggakan sekitar Rp 4,8 triliun. Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan pemerintah pusat tengah menyiapkan sejumlah opsi untuk membantu krisis finansial ratusan PDAM merugi tersebut, antara lain melalui pemutihan utang.

"Itu sedang diselesaikan. Ada yang sifatnya pemutihan, ada yang sifatnya dipercepat penyelesaian tunggakannya," ujar Bambang di Jakarta, Rabu (25/3). Menurut Bambang, proses penyelesaian utang tersebut sedang berlangsung terutama bagi PDAM yang dianggap mampu membayar. Sementara iu, untuk opsi pemutihan utang pemerintah akan sangat selektif dalam memberikan, hanya bagi PDAM yang memenuhi kriteria.

"Tidak semuanya dilunasi oleh pemerintah, kami akan selektif dan itu ada kriterianya," jelas Bambang tanpa menjelaskan kriteria yang dimaksud. Dia mengatakan pemutihan utang PDAM baru bisa dilakukan setelah keluar hasil audit kinerja dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengungkapkan keprihatinannya akan krisis finansial yang diderita ratusan PDAM. Hal itu berdampak pada buruknya pelayanan ketersediaan air bersih di sejumlah kota di Indonesia. Pemerintahan Joko Widodo tengah mempertimbangkan penghapusan piutang yang dicatatkan sejumlah pemerintah daerah dalam neraca anggaran negara. Salah satu piutang yang akan dihapus menggunakan skema pertukaran utang (debt swap) sebesar Rp 16 miliar, yang merupakan utang dari Pemerintah Provinsi Aceh kepada Pemerintah Pusat.
"Agenda rapat terbatas kita yaitu penghapusan secara bersyarat piutang pemerintah Aceh melalui debt swap," ujar Jokowi kala membuka ratas di Kantor Presiden, Istana Kepresidenan, Rabu (11/3).

Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menjelaskan rapat tersebut merupakan tindak lanjut dari surat permohonan penghapusan utang yang dilayangkan Pemprov Aceh ke Presiden Jokowi pada 27 Januari 2015. Menurutnya, skema penghapusan utang tersebut akan dilakukan sesuai dengan ketentuan dan perundang-undangan.

Sofyan Djalil, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, menilai jumlah utang Pemprov Aceh sebesar Rp 16 miliar tidak terlalu besar untuk bisa dihapuskan. "Tidak banyak, kalau tidak salah Rp 16 miliar," kata dia. Selain itu, kata Sofyan, terdapat pula piutang yang dicatatkan oleh beberapa daerah. Piutang tersebut terbukukan dalam neraca pemerintah pusat terkait dengan pembangunan sejumlah proyek di daerah, seperti untuk mendanai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

"Nah mereka memerlukan sejenis peninjauan, maka beberapa policy diambil oleh pemerintah. Misalnya, oke kalau dihapus ini, tapi (pemerintah daerah) bisa menambahkan anggaran (untuk) kesejahteraan masyarakat," ujar dia.

PT Trakindo Utama Target Penjualan 2.500 Unit Alat Berat Karena Depresiasi Rupiah

Pelemahan nilai tukar rupiah ke level Rp 13 ribu per dolar Amerika Serikat (AS) memberi dampak negatif pada kinerja sejumlah perusahaan. Satu diantaranya PT Trakindo Utama yang diketahui menjadi mitra bisnis Caterpillar Inc dalam memasarkan alat beratnya di Indonesia.

"Sebenarnya yang terdampak itu rekanan kami (Caterpillar) karena hampir semua komponen diimpor. Ada juga pihak lain (yang terdampak) seperti konsumen yang pendapatannya menggunakan rupiah karena penjualan alat berat kami menggunakan dolar. Jadi untuk kami pelemahan rupiah tidak secara langsung dampaknya," ujar Director and Chief Operating Officer Trakindo Ali R. Alhabsyi di Jakarta, Rabu (25/3).

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Ali bilang perusahaan akan memperbesar penjualan alat berat seperti ekskavator di sektor infrastruktur dan perkebunan. Upaya ini sejalan dengan program percepatan pembangunan infrastruktur nasional yang dicanangkan pemerintah. Disamping itu, peningkatan penjualan alat berat di sektor infrastrutur juga bertujuan untuk menyiasati masih lemahnya bisnis pertambangan yang menjadi target utama penjualan alat berat perusahaan.

"Walau industri pertambangan masih akan lemah namun kami optimistis tahun ini penjualanmachine (alat berat) bisa sampai 2.500 unit. Sementara untuk penjualan unit engine ditargetkan mencapai 1.000 unit dari tahun 2014 di kisaran 900 unit," tuturnya. Saat ini, Trakindo memiliki sedikitnya lima segmen pasar yang terdiri dari sektor pertambangan, konstruksi dan infrastruktur, maritim, perkebunan hingga sektor industri minyak dan gas bumi.

Chief Supply Chain Trakindo Roni Setyawan menambahkan untuk bisa menjaga angka penjualan alat berat, manajemen akan terus menjaga kualitas dan pelayanan kepada konsumen. Diantaranya terkait mekanisme supply chain.

"Pengelolaan supply chain dilakukan melalui integrated planning, sourcing and procurement serta warehousing and distribution. Manajemen supply chain ini memberikan manfaat optimal bagi pelanggan karena cost yang dikeluarkan pun akan lebih efisen dan efektif," katanya.

PT Trakindo Utama, perusahaan penyedia alat berat merek Caterpillar menargetkan angka penjualan tahun ini mencapai 2.500 unit, atau meningkat tipis dibandingkan realisasi 2014. Tahun lalu, Trakindo mampu menjual sekitar 2.200 unit alat berat menyusul anjloknya bisnis pertambangan yang menjadi pasar utama penjualan alat berat di Indonesia.

"Walau industri pertambangan masih akan lemah namun kami optimistis tahun ini penjualan machine (alat berat) bisa sampai 2.500 unit. Sementara untuk penjualan unit engine ditargetkan mencapai 1.000 unit dibandingkan 2014 sekitar 900 unit," ujar Director and Chief Operating Officer Trakindo Ali R. Alhabsyi di Jakarta, Rabu (25/3).

Ali mengungkapkan, keputusan manajemen untuk meningkatkan target penjualan tidak lepas dari program pemerintah yang tengah menggenjot pembangunan infrastruktur. Untuk bisa mengoptimalkan peluang tersebut, manajemen tengah menyiapkan strategi untuk bisa meningkatkan proporsi penjualan alat berat di sektor infrastruktur yang sebelumnya masih berada di bawah 20 persen.

"Penjualan sektor pertambangan memang akan turun dari 60 menjadi 40-45 persen. Namun penjualan untuk sektor infrastruktur dan konstruksi akan berada diatas 20 persen. Lihat saja, dimana-mana sudah banyak crane," tuturnya. Selain infrastruktur, Ali bilang Trakindo juga berharap pada pertumbuhan penjualan alat berat yang banyak digunakan pada industri perkebunan dan kehutanan. Untuk kedua sektor ini, manajemen optimistis memasang target proporsi penjualan mencapai 20 persen.

"Kalau sisanya lagi (20 persen) diisi oleh penjualan di sektor oil and gas dan sektor power system," pungkasnya.

Menteri Susi Temukan Perbudakan Di Industri Perikanan Di Benjina Maluku

Selain mengirimkan ikan secara ilegal karena diduga tidak memiliki dokumen yang sah melalui kapal kargo KM Pulau Nunukan, PT Pusaka Benjina Resouces (PBR) juga disebut melakukan praktik perbudakan terhadap tenaga kerja perikanan di Benjina, Kepualauan Aru, Maluku.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengungkapkan KM Pulau Nunukan yang dimiliki oleh PT Salam Pasific Indonesia, induk perusahaannya merupakan perusahaan asal Thailand yang juga memiliki saham di PBR.

“Hasil investigasi yang dilakukan, PBR itu melakukan slavery atau perbudakan di Benjina dan mereka kemarin melalui KM Pulau Nunukan mencoba membawa hasil ikan hasil illegal fishing," kata Susi saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Rabu (25/3).

Awalnya, Susi menduga perusahaan pemilik kapal KM Pulau Nunukan adalah berasal dari Indonesia. Namun setelah dilakukan pengecekan, ternyata dikuasai oleh perusahaan Thailand. Selain itu, perusahaan Thailand tersebut diketahui memiliki tiga anak usaha dengan sektor bisnis yang sama.

Informasi perbudakan yang dilakukan PBR diketahui Susi setelah membaca laporan investigasi media asing yaitu Associated Press (AP). Dalam laporan yang dimuat oleh laman AP.org dengan judul "AP Investigation: Are slaves catching the fish you buy?" itu menuliskan adanya pemaksaan kerja selama 22 jam per hari tanpa hari libur kepada ABK di kapal milik perusahaan satu grup dengan PBR.

Bahkan, AP juga mengungkapkan para pekerja paksa tersebut sampai harus mengonsumsi air kotor untuk minum. Hasil tangkapan ikan perusahaan tersebut sampai diekspor ke Amerika Serikat dan disalurkan ke toko ritel besar di Amerika Serikat yaitu Wal Mart.

"Orang pikir itu perusahaan Indonesia memang, tetapi beroperasi untuk perusahaan Thailand dengan nama PT dari Indonesia," katanya. Khusus KM Pulau Nunukan, saat ini kapal kargo tersebut sedang diverifikasi sekaligus dilakukan penyidikan oleh tim satgas anti mafia illegal fishing.

"Untuk saat sekarang kita langsung tangkap KM Nunukan, satgas akan bekerja dan berkoordinasi dengan Kepolisian. Kami sudah tegakkan satu hal yang sudah luar biasa hasilnya," kata Susi.

Harga Bawang Merah Melonjak ... Petani Bawang Bayar Satpam Untuk Jaga Ladang

Sorot lampu senter dari sejumlah gubug di tepi sawah membelah pekatnya malam di jalan Desa Pesantunan, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, yang belum dilengkapi lampu penerangan pada Selasa, 24 Maret 2015.

"Kami dibayar Rp 50 ribu per orang untuk berjaga di sini semalam suntuk," kata Yono, saat ditemui Tempo. Bersama tiga rekannya, lelaki 42 tahun itu sesekali berjalan mengitari tumpukan bawang merah basah yang ditutup terpal di sawah yang telah dipanen.

Pematang-pematang di sawah yang tanaman bawang merahnya siap panen dalam hitungan hari juga tidak luput dari sapuan lampu senter Yono. Maklum, bawang merah saat ini sedang menjadi barang mewah di Brebes. Di tingkat petani, harga bawang merah masih berkisar Rp 18-20 ribu per kilogram. Di pasar, harga bawang merah bertengger pada kisaran Rp 23 ribu per kilogram. Sehingga wajar jika bawang merah mendapat "pengamanan" cukup ketat.

"Bukan hanya begal motor, pencuri bawang merah kini juga patut diwaspadai," kata Yono. Saat harganya anjlok, dia berujar, petani hanya mempekerjakan satu atau dua orang untuk menjaga bawang hasil panen yang masih dijemur di sawah.

Sekarang, petani harus mengeluarkan minimal Rp 200 ribu per malam agar bisa tidur tenang sementara sawahnya dijaga empat orang. "Semoga harga bawang tetap stabil sehingga kami punya pekerjaan," ujar Yuli, penjaga bawang merah lain di Desa Pesantunan.

Ketua Kelompok Tani Sumber Pangan di Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Subkhan, tidak menyangkal kabar ihwal maraknya pencurian bawang. "Itu wajar, karena harga bawang sedang mahal," kata Subkhan pada Rabu, 25 Maret.

Asosiasi (Petani) Bawang Merah Indonesia (ABMI) berharap pemerintah tidak tergesa-gesa membuka keran impor bawang merah meski harganya melambung hingga 100 persen sejak awal Maret 2015. "Jangan sampai petani dirugikan lagi," kata Ketua ABMI Juwari di Kabupaten Brebes pada Kamis, 19 Maret 2015.

Juwari mengatakan harga bawang merah di tingkat petani Brebes saat ini Rp 20 ribu per kilogram. Adapun harga pengiriman ke pasar-pasar induk di Pulau Jawa sekitar Rp 22 ribu per kilogram. Di tingkat konsumen, harga bawang merah mencapai Rp 23 ribu sampai Rp 25 ribu per kilogram.

Februari lalu, harga bawang merah dari petani paling tinggi hanya Rp 10 ribu per kilogram. Meski bawang merah termasuk salah satu komoditas pemicu inflasi, Juwari meminta pemerintah bertahan untuk tidak menerapkan patokan referensi harga di tingkat konsumen sebagai dasar rekomendasi impor.

Seperti diketahui, dengan Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Nomor 118 Tahun 2013 tentang penetapan harga referensi produk hortikultura, pemerintah bisa mengimpor bawang merah jika harga di tingkat konsumen lebih dari Rp 25,5 ribu per kilogram. Maret tahun lalu, kebijakan tersebut memicu kemarahan petani di sejumlah sentra bawang merah, termasuk Brebes.

Menurut Juwari, melambungnya harga bawang merah biasa terjadi tiap triwulan pertama. "Sebab, sebagian besar petani beralih menanam padi karena tingginya curah hujan," ujar Juwari. Ditambah produktivitas petani yang masih menanam bawang merah belum optimal.

Dalam kondisi normal, tiap satu hektare lahan di Brebes bisa menghasilkan sepuluh ton bawang merah. Kini, petani hanya memanen tujuh ton bawang merah dari satu hektare lahannya. Walhasil, pasokan bawang merah menurun drastis. Luas panen bawang merah di Brebes saat ini hanya sekitar 100 hektare.

Kendati demikian, harga bawang merah diprediksi kembali normal mulai awal April. Sebab, 1,2 ribu hektare tanaman bawang merah di Brebes saat ini sudah berumur 40 hari atau dua pekan lagi siap dipanen. Sedangkan tanaman bawang berumur satu bulan ada sekitar 1,8 ribu hektare. "Bawang merah siap dipanen kalau sudah berumur 60 hari," kata Juwari.

Indosat Raih Penghargaan International Brand of The Year

Indosat, anggota dari Ooredoo Group, menerima penghargaan sebagai "Brand of The Year" pada World Branding Awards. Ajang ini diselenggarakan oleh World Branding Forum, yang memberikan penghargaan terhadap brand-brand terbaik dan ternama dunia yang diakui berdasarkan hasil karya dan prestasi yang dimiliki.

Mewakili sektor telekomunikasi Indonesia, Indosat adalah salah satu dari tiga brand yang menerima pengakuan tersebut. Pemenang penghargaan dinilai melalui empat kriteria yang meliputi penilaian produk, riset pasar konsumen, jajak pendapat publik online, serta jajak pendapat oleh World Branding Forum Advisory Council, yang diisi oleh nama-nama besar di dalam sektor branding.

Alexander Rusli, President Director dan Chief Executive Officer Indosat mengatakan, bersama dengan induk perusahaan, Ooredoo Group, pihaknya bangga dapat menerima penghargaan internasional ini. Selama satu tahun terakhir, lanjutnya, banyak usaha yang telah didedikasikan untuk membangun Indosat menjadi brand yang mewakili masa depan digital Indonesia.

“Mengedepankan pelanggan kami merupakan tujuan utama. Kami sangat senang menerima pengakuan ini, dan setiap harinya kami akan terus berinovasi dan mencari cara-cara baru untuk memberikan pengalaman konsumen terbaik di seluruh jaringan kami dan untuk masyarakat Indonesia,” jelasnya seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis (26/3).

Dengan penghargaan ini, dan melalui berbagai kerjasama dengan perusahaan-perusahaan Indonesia yang terkemuka di dunia seperti Garuda Indonesia dan Pertamina, Indosat telah lebih jauh meningkatkan reputasi global sebagai brand Indonesia terkemuka.

Sebagai salah satu dari sekian banyak penghargaan internasional yang diraih dalam beberapa tahun terakhir, penghargaan ini merupakan bukti keberhasilan yang dicapai oleh Indosat dan Ooredoo sebagai perusahaan induk, dimana mereka terus menyelaraskan visi dan memperkuat kolaborasi di antara mereka.

Selain mendorong pertumbuhan bakat tanah air kelas dunia melalui Ideabox, inkubator startup, Indosat baru-baru ini meluncurkan serangkaian layanan Smart City melalui solusi M2M, seperti konektivitas M2M, dan Managed Connectivity. Hal itu seiring dengan perkembangan solusi one-stop-shop dengan dukungan koneksi, aplikasi dan perangkat end-to-end ini mendorong pertumbuhan di sektor bisnis, pemerintah dan konsumen.

Tuesday, March 24, 2015

Bank Indonesia: Jaringan Sistem Transfer Pembayaran Antar Bank Sudah Normal

Bank Indonesia menyatakan jaringan sistem pembayaran Bank Indonesia yang sejak Selasa (24/3/2015) kemarin terganggung, saat ini telah kembali normal. “Sehubungan dengan terjadinya gangguan pada jaringan komunikasi data sistem pembayaran Bank Indonesia kemarin, dapat kami informasikan bahwa pada pagi hari ini jaringan komunikasi data tersebut telah kembali berjalan normal,” kata Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ronald Waas dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (25/3/2015).

Ronald mengatakan, pihaknya memutuskan untuk melakukan penelitian lebih lanjut guna mencari penyebab permasalahan tersebut.  "Bank Indonesia akan senantiasa memantau dan memastikan sistem pembayaran nasional tetap berjalan efisien, lancar, dan aman," sebutnya.

Sebagaimana diberitakan, sejak semarin jaringan komunikasi data yang digunakan untuk sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS), Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI), dan Bank Indonesia Scripless Securities Settlement System(BI-SSSS) mengalami gangguan. Akibatnya transaksi transfer dana di beberapa bank mengalami gangguan.

Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi terjadinya masalah pada pengiriman transaksi transfer dana di beberapa bank pada Selasa (24/3/2015) kemarin. Setelah dicek, gangguan tersebut terjadi karena jaringan komunikasi pada sistem jaringan BI mengalami gangguan.

"Telah terjadi gangguan jaringan komunikasi data pada sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS), Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI), dan Bank Indonesia Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS)," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jakarta, Selasa (24/3/2015) malam.

Menurut Tirta, gangguan tersebut terjadi pada sistem jaringan komunikasi data beberapa bank ke BI. Sementara itu, untuk sebagian bank lainnya, koneksi jaringan komunikasi data berjalan normal dengan menggunakan jaringan komunikasi data cadangan (back up).

Dia mengatakan, untuk menindaklanjuti masalah tersebut, BI akan berupaya untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dan memastikan gangguan ini dapat diselesaikan secepat mungkin. "Bagi bank yang belum dapat terhubung, Bank Indonesia menyediakan fasilitas operasional di lokasi kantor Bank Indonesia, Jakarta, sehingga bank dapat melakukan penyelesaian pengiriman transaksi," kata dia.

Selain itu, lanjut Tirta, BI juga akan memperpanjang waktu operasional pelayanan pada hari ini untuk memastikan seluruh transaksi transfer dana dapat diselesaikan. "Apabila diperlukan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi call center Bank Indonesia (BICARA) di nomor 131," ucapnya.

Kasus Transaksi PT Rex Capital Futures Sebabkan Nasbaah Rugi Milyaran Rupiah

Nasabah PT Rex Capital Futures (RCF) berniat menyeret Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) ke meja hijau. Pasalnya, sampai saat ini dana nasabah dengan total Rp 10 miliar belum kembali. Bappebti juga dianggap keliru dengan hanya mencabut izin usaha RCF, tapi tidak mendesak broker tersebut mengembalikan dana nasabah. Apalagi, setelah izin dicabut, RCF tidak bisa digugat ke pengadilan karena entitasnya sudah tidak ada.

Salah satu nasabah RCF, Achmad Amir, mengatakan untuk melindungi nasabah yang mengalami cedera janji di dalam Undang‐Undang Nomor 32 tahun 1997 dan Peraturan Pemerintah Nomor 49 tahun 2014 sudah diterangkan dengan tegas dan jelas perihal Dana Kompensasi.  "Dana Kompensasi ini harus diterima oleh nasabah cedera janji yang sudah melakukan usaha penagihan ke pihak pialang sebesar kerugian yang diderita ditambah biaya‐biaya yang telah dikeluarkan dalam proses penagihan itu," ujarnya , Rabu (25/2/2015).

Ia pun hanya meminta haknya bersama dua nasabah lain, yaitu Rp 5.097.132.500. Pemberian dana kompensasi itu sudah terpampang jelas dalam UU. Dana yang dipakai adalah setoran awal broker Rp 100 juta yang sudah dikumpulkan sejak 1997 jumlahnya mencapai Rp 41 miliar.

Amir mengaku sudah bertemu dengan Kepala Bappebti untuk menanyakan perihal Dana Kompensasi ini sejak November 2014. Namun hingga saat ini SK Kepala Bappebti terkait pemberian kompensasi itu belum keluar. "Kita tidak segan‐segan membawa permasalahan dengan Bappebti ini ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN)," jelasnya.

Ada untung dan ruginya berdagang valuta asing alias foreign exchange (forex) melalui Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Kadang hasilnya untung tapi kadang juga buntung. Namun selama ini rata-rata nasabah forex lebih sering mengalami buntung, apalagi jika pialangnya (broker) nakal, seperti PT Rex Capital Futures (RCF). Broker ini diduga menggelapkan dana sehingga nasabahnya kesulitan tarik dana.

Kerugian nasabah RCF bukan karena nilai valas turun yang membuatnya nilai investasi berkurang, tapi uang nasabah yang bisa diotak-atik oleh si broker. Menurut salah satu nasabah RCF, Achmad Amir, ada empat pelanggaran yang dilakukan oleh RCF tapi selama ini dibiarkan begitu saja oleh otoritas. Tugasnya broker adalah menyampaikan amanat dari nasabah untuk melakukan pembelian atau penjualan valas di BBJ.

"Nah, Rex ini kadang tidak menyampaikan pesanan kita. Begitu order masuk, ditahan oleh mereka. Namanya mereka ambil posisi," ujarnya, Rabu (25/2/2015). Jika misalnya nasabah ingin beli valas, maka posisinya tidak langsung dipesan tapi ditahan dengan harapan harga turun. Kalau harga turun nasabah rugi, dan selisih keuntungannya diambil broker.

Pelanggaran kedua adalah memiliki dua server untuk menerima pesanan. Ada satu server yang real time(terkini) dan terhubung dengan Kliring Berjangka Indonesia (KBI), tapi Rex juga punya satu server lagi untuk menahan posisi order nasabah. Sementara pelanggaran yang ketiga, kata Amir, adalah berani mengotak-atik dana nasabah di rekening terpisah alias segregated account. Rekening terpisah ini adalah kumpulan dana nasabah yang akan bertransaksi forex.

Broker hanya boleh mengambil dan memasukan uang ke rekening ini atas amanat nasabah, yaitu ketika nasabah ingin menyimpan atau menarik uang. Amir mendapat informasi pihak Rex berkali-kali menarik dana dari segregated account. "Saya dapat info kalau ada penarikan dana dari segregated account atas nama pemegang saham Rex. Kalau memang benar kan aneh pemegang saham bisa mengambil uang dari situ," ujarnya.

Rekening terpisah ini padahal dipantau langsung oleh KBI, Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), dan adan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).  Sementara pelanggaran keempat RCF adalah tingkat Modal Bersih Disesuaikan (MKBD) yang tidak memenuhi syarat. Setiap pialang yang akan mengajukan diri sebagai Peserta SPA (Sistem Perdagangan Alternatif) wajib memenuhi beberapa persyaratan permodalan yang mana hal tersebut diatur di dalam Peraturan Kepala Bappebti No. 65/BAPPEBTI/per/1/2009.

Setiap peserta SPA wajib memenuhi kewajibannya seperti modal disetor paling sedikit sebanyak Rp 25 miliar dan mempertahankan saldo modal akhir paling sedikit sebesar Rp 20 miliar. Kemudian bila ingin membuka cabang, wajib menambah modal sebesar Rp 1 miliar.

"Tetapi setelah kami bertanya ke beberapa pialang mengenai tata caranya, ternyata nilai setoran Rp 25 miliar tersebut hanyalah dalam berbentuk bukti setoran saja yang disetorkan ke rekening pialang yang bersangkutan," kata Amir. Dan bukti setoran tersebut kemudian ditunjukan kepada Bappebti Biro Perniagaan Urusan Perizinan, dengan Kepala Biro Pantas Lumban Batu.
"Kalau hanya bukti setoran saja dan setoran uangnya tersebut tidak dipantau oleh Bappebti, BBJ dan KBI jelas saja pialang dapat menarik modal setor tersebut ke kantong mereka. Ternyata sistem di Bappebti dalam perizinan pialang mudah sekali dibobol dong, tidak heran banyak pialang bodong seperti RCF ini menjamur," ujarnya.

Amir pun menyayangkan dana nasabah yang selama ini nyangkut di RCF sebesar Rp 10 miliar tidak bisa ditarik. Padahal, jika modal RCF memenuhi syarat maka dana nasabah yang nyangkut itu bisa segera kembali. Selain itu, sebenarnya ada Dana Kompensasi yang berupa setoran-setoran broker pada saat mulai beroperasi yang bisa digunakan untuk membayar dana nasabah. Mickhael Marthin harus gigit jari karena uang pribadinya sekitar Rp 800 juta raib tanpa kejelasan di tangan pialang foreign exchange (forex) curang, PT Rex Capital Futures. Ia termasuk orang yang tak beruntung dari 37 nasabah PT Rex Capital yang dananya Rp 10,5 miliar belum kembali.

Ada hal ironi yang dialami oleh Mickhael, profesinya yang sehari-hari sebagai debt collector atau jasa penagih utang justru kesulitan mendapatkan uangnya sekitar Rp 800 juta. Hal ini karena pialang PT Rex Capital cedera janji alias curang karena tak bisa mengembalikan dana yang sudah disetor Mickhael . Pria yang berperawakan tinggi besar ini, mengaku mencoba-coba di permainan forex karena berharap bisa untung besar karena rekomendasi temannya.

Uangnya Rp 800 juta yang kini raib, awalnya hanya ia setorkan ke pialang dalam jumlah lebih kecil pada akhir 2013. Namun karena menguntungkan, akhirnya secara perlahan jumlah uang yang ditransaksikan di forex makin membesar. Awalnya modal yang disetorkan hanya Rp 200 juta.

"Sekarang uang saya Rp 800 juta belum balik," kata Mickhael , Rabu (25/2/2015) Berdasarkan dokumen lampiran yang diterima , tentang laporan kerugian para nasabah PT Rex Capital Futures kepada Menteri Perdagangan Rachmat Gobel.

Mickhael memiliki dua account di PT Rex Capital Futures, nilai kerugiannya di account pertama mencapai Rp 817 juta dan di account kedua mencapai Rp 499,064 juta. Ia sempat mengajak sang mertua untuk ikut bertransaksi di forex. Uang Rp 300 juta dari sang mertua pun, ia percayakan kepada sang pialang RTF. Setelah menikmati manisnya untung dari forex yang hanya sesaat, para pialang yang memutar uangnya dan mertuanya ini kini menghilang.

Padahal uang ratusan juta merupakan hasil uang hasil saya kerjanya selama 10 tahun. "Ada uang mertua saya juga, saya ditagih terus kan jadi nggak enak," katanya. Mickhael kini bertekad akan tetap menagih uangnya dengan cara apapun termasuk menekan pihak regulator bursa yaitu Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI), agar segera menerbitkan surat pencairan dana kompensasi yang menjadi haknya.

"Kalau teman saya bilang lebih baik mati ngamuk daripada mati ngantuk, kalau saya punya prinsip saya lebih baik mati sombong," katanya. Sejumlah nasabah PT Rex Capital Futures masih menunggu kejelasan atas uangnya yang nyangkut sekitar Rp 10 miliar lebih. Tim Satgas Tim Satgas Penyelesaian Nasabah RCF baru mengembalikan dana nasabah sekitar Rp 819,5 juta.

Dana tersebut diambil dari dana jaminan RCF sebesar Rp 1 miliar yang disetor kepada Kliring Berjangka Indonesia (KBI) dan dapat dikuasai serta diambil alih oleh Tim Satgas. Padahal, menurut Undang-undang RI Nomor 32 Tahun 1997 Tentang Perdagangan Berjangka Komoditi, Bab VI Tentang Dana Kompensasi, di situ disebutkan Bursa Berjangka wajib menghimpun dana dari Pialang Berjangka untuk Dana Kompensasi.

Dana tersebut nilainya Rp 100 juta dari masing-masing broker yang disetor ke Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) dan diawasi langsung oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Berdasarkan data dari sumber sejak UU itu berlaku pada 1997 sampai sekarang Dana Kompensasi yang terkumpul mencapai Rp 41 miliar. "Dana ini bisa dipakai jika terjadi sesuatu kepada nasabah. Ini jadi watchdog juga sesama broker, jadi kalau ada satu (broker) yang nakal kan yang (broker) lain jadi ikut terpakai uangnya," kata sumber tersebut, Kamis (26/2/2015).

Anehnya dalam kasus Rex Futures ini Dana Kompensasi yang dikumpulkan para broker itu tidak dipakai. Tim Satgas malah memakai dana Rp 1 miliar milik Rex Futures yang disetor ke KBI. Memang ada syarat tertentu supaya nasabah bisa mendapatkan ganti rugi uangnya dari Dana Kompensasi ini, salah satunya adalah sudah melakukan upaya penagihan tapi tidak ada tanggapan dari broker yang bermasalah.

Aturan mengenai tata cara pemberian dana kompensasi ini ada pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 49 Tahun 2014 tentang Penyelenggaran Perdagangan Komoditi Berjangka pasal 105-111. "Semua tata cara pengajuan untuk mendapatkan dana kompensasi sudah saya lakukan baik menurut UU No.32 Tahun 1997, PP No.9 Tahun 1999, dan PP No.49 Tahun 2014," kata salah satu nasabah RCF, Achmad Amir , Rabu kemarin.

Selain itu, tambah Amir, pihaknya sudah mengikuti ketentuan dalam Keputusan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 06/BAPPEBTI/KP/X/1999 dan Keputusan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 33/BAPPEBTI/KP/X/2001.

"Sehingga, sudah sepantasnya dan selayaknya agar segera direalisasikannya keputusan pencairan Dana Kompensasi dan biaya yang dikeluarkan oleh nasabah yang berkaitan dengan proses pengaduan dan penyelidikan tuntutan ganti rugi," katanya. Kendati demikian, Amir menambahkan tanggapan yang diberikan Bappebti hanyalah dengan mencabut Izin Pialang Berjangka RCF tanpa ada tindaklanjutnya demi kepentingan nasabah yang dirugikan.

Menurut Amir, Bappebti juga tidak melakukan prosedur pencairan Dana Kompensasi yang seharusnya digunakan sebagai ganti rugi kepada pihak nasabah sesuai UU dan PP yang berlaku dan selalu besikukuh menggunakan Tata Terbib Bursa Berjangka. "Hal tersebut sangat tidak adil, tidak layak, tidak pantas dan tidak patut bagi kerugian yang diderita nasabah atas akibat Cedera Janji RCF yang seharusnya semua dalam pengawasan Bappebti sebagai otoritas tertinggi dalam Perdagangan Berjangka," jelasnya.

Sebanyak 37 nasabah perdagangan valuta asing alias foreign exchange (forex) masih menanti kepastian dananya yang nyangkut di Pialang PT Rex Capital Futures yang telah cedera janji kepada mereka senilai Rp 10 miliar lebih. Salah satu dari sekian nasabah itu adalah Achmad Amir.

Amir merupakan Direktur Utama Indocamp Edu, yang memberikan program edukasi soal pasar modal di Indonesia. Pengalamannya di pasar modal sudah sejak 1990-an, namun sejak September 2013 Amir mulai 'terjun' ke perdagangan Forex yang sebelumnya menjadi 'zona tabu' baginya. Bahkan dalam setiap memberikan pelatihan, Amir melarang peserta didiknya untuk bermain forex karena berisiko tinggi.

"Saya sih bukan dosen, tapi pengajar biasa memberikan modul-modul soal pasar modal," katanya Rabu (25/2/2015). Ia mengaku kepincut main forex dari teman dekatnya yang sangat sudah dipercaya. Segala bujuk rayu rekannya membuat dirinya awalnya tak mudah percaya, bahkan dirinya sempat melakukan kajian selama berminggu-minggu dengan timnya. Namun rasa percaya terhadap teman yang berjanji akan 'mengamankan' segala transaksinya membuat dirinya membuka hati untuk terjun ke perdagangan forex.

"Saya nggak tertarik kalau nggak karena teman," katanya. Setelah transaksi awal, semuanya berjalan seakan tanpa masalah. Bahkan beberapa kali penarikan dana (Withdraw/WD) yang dilakukan berjalan mulus dan memberikan keuntungan yang lumayan besar. Namun pada Maret 2014, upaya penarikan dana yang dilakukannya selalu gagal.

Amir akhirnya sadar uang pribadinya sekiitar Rp 1,6 miliar kini nyangkut tak bisa ditarik. Sedangkan teman dekatnya yang sejak awal mengajak bertransaksi di forex sudah menghilang entah ke mana. "Gila lo Mir, udah kena Forex," kata Amir menirukan ejekan teman-temannya sesama pelaku pasar modal.
Pria berkacamata ini sempat putus asa karena hal ini menjadi momen terburuk dalam hidupnya. Uang hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun harus raib di tangan orang lain. Kini, di tengah uangnya yang hilang, ia harus tetap menjalankan perusahaanya dan memberikan gaji kepada belasan karyawannya.

Namun Amir bisa mengambil hikmah dari kasusnya ini, sebagai praktisi bursa dan pengajar pasar modal, pengalamannya ini membuktikan bahwa perdagangan Forex sangat berisiko tinggi (high risk).  Artinya pelaku yang mengerti dengan dunia bursa pun bisa kecele, apalagi orang awam yang buta sama sekali dengan perdagangan Forex.

Ia mengakui, di atas kertas secara regulasi sistem perdagangan berjangka komoditi di Indonesia sudah baik, namun pelaksanaan di lapangan yang kerap menyimpang termasuk praktik curang atau ingkar janji para pialang nakal dan pengawasan yang lemah dari otoritas bursa. "Kalau sistemnya masih seperti saat ini, saya tak merekomendasikan main Forex," tegas Amir.

Seperti diketahui sejumlah nasabah PT Rex Capital Futures masih menunggu kejelasan atas uangnya yang nyangkut sekitar Rp 10 miliar lebih. Tim Satgas Tim Satgas Penyelesaian Nasabah RCF baru mengembalikan dana nasabah sekitar Rp 819,5 juta. Izin pialang PT Rex Capital Futures sudah dicabut sejak 20 November 2014 oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI)

Amir bertekad akan terus berupaya keras agar uangnya yang miliaran rupiah bisa kembali lagi. Ia sudah berupaya ke sana ke mari untuk mendapatkan dananya kembali termasuk mendorong pihak BAPPEBTI untuk memberikan surat keputusan terkait pencairan dana kompensasi yang menjadi haknya.

"Lebih baik saya mati ngamuk daripada mati ngantuk," tegas Amir. Praktik curang di dunia investasi masih banyak terjadi. Kalau tidak benar-benar paham soal investasi, coba simak tips yang satu ini. Banyak tawaran investasi yang sudah jelas cara serta regulasinya. Investor sebaiknya berhati-hati karena risikonya bisa kehilangan uang. Ada beberapa instrumen investasi yang membutuhkan jasa pialang alias broker, salah satunya adalahforeign exchange (forex). Nah, berikut ini tips untuk berinvestasi di instrumen yang membutuhkan jasa broker supaya tidak salah langkah.

Analis Commodity Desk PT Millennium Penata Futures Suluh Adil Wicaksono mengatakan, pertama-tama investor harus mempelajari dahulu secara rinci jenis instrumen investasi yang akan dibidik.  Selain itu, cari tahu bagaimana cara bertransaksinya. Ini akan meminimalisir terjadinya penipuan. Disarankan, investor bertransaksi sendiri tanpa menggunakan bantuan broker atau pialang.

"Pelajari instrumen investasinya, forex itu seperti apa, mekanisme transaksinya terkait margin trading, risiko yang mungkin timbul akibat transaksi. Disarankan transaksi sendiri, jangan ditransaksikan orang lain," katanya. Jika dalam bertransaksi ternyata sudah banyak kehilangan dana, Suluh menyarankan agar investor memberhentikan transaksinya.

"Jadi harus ada stop lost, ada fiturnya, setiap nasabah transaksi forex disarankan menggunakan stop lost," katanya. Yang paling penting, kata dia, perusahaan investasi haruslah yang sudah terdaftar di masing-masing otoritas. Latar belakang perusahaan juga patut dicari tahu. "Jika ada nasabah forex pastikan legalitas di Bappebti dan track record, ini bener nggak sih, terdaftar di Bappebti nggak, dan pernah bermasalah nggak, Bappebti pasti punya informasinya," imbuh Suluh.