Pages - Menu

Friday, August 28, 2015

Dolar Kembali Ke Zona Rp. 14.000 ... Badai Masih Belum Berlalu

Baru sebentar menguat, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah ke level Rp 14.000. Rupiah masih akan mengalami tekanan hingga ketidakpastian global berakhir, yaitu soal rencana bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) menaikkan tingkat suku bunganya.

Apakah badai sudah berlalu?

"Belum. Masih akan ada risk on risk off karena yang kita tunggu Fed fund rate akan menaikkan atau tidak, kayaknya nggak naik, kayaknya harus naik, tapi AS mendesak, kalau tidak, mereka terlalu kuat jadi tidak kompetitif," ujar Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo saat ditemui di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Jumat (28/8/2015).

Agus melihat, badai belum berakhir hingga The Fed memberikan kepastian kapan menaikkan tingkat suku bunganya.  "Pemerintah akan mendorong paket kebijakan ekonomi dan pengendalian upaya agar rupiah menjadi stabil, saya menyambut baik," katanya. Agus menjelaskan, pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi di Indonesia, namun menjadi tekanan banyak negara di dunia. Hingga 27 Agustus 2015, rupiah sudah terdepresiasi 12,9%. Angka ini masih lebih baik dibandingkan negara lainnya yang tertekan lebih dalam.

"Rupiah sampai kemarin depresiasi 12,9%. Dulu 1 tahun depresiasinya 1,8%, kondisi ini kalau dibandingkan dengan mata uang lain kita menguat," katanya. Agus membandingkan, mata uang Brasil hingga 27 Agustus 2015 sudah melemah 33%, Turki 24%, Malaysia 21%, Afrika Selatan 13%.

"Jadi kita menguat, tapi kalau dibanding US$, kemarin di akhir hari ada penguatan rupiah di Rp13.990, itu karena ada dinamika pemerintah mau mengeluarkan paket kebijakan," terang dia. Kondisi nilai tukar saat ini, kata Agus, harus dihadapi dengan tenang. Ia meyakini akan ada perbaikan ekonomi ke depan yang juga diikuti penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Jadi mohon kita tetap tenang, ekonomi kita mengarah ke lebih baik, 3 tahun terakhir ekonomi mengalami ketidakpastian, BI akan jaga pasar valas, kita senantiasa merespon bauran kebijakan, yaitu moneter yangprudent, kebijakan makro agar penyaluran kredit lancar," tandasnya.

Harga Sapi Kurban Alami Kenaikan Rp. 3 Juta Per Ekor Di Banding Idul Adha Tahun Lalu

Harga daging sapi segar yang masih mahal di pasar-pasar tradisional mencapai Rp 110.000/Kg di Jakarta, juga terjadi pada harga sapi potong untuk Idul Adha. Harga daging sapi kurban naik berkisar antara Rp 1-3 juta/ekor dibandingkan dengan harga jelang Idul Adha pada tahun lalu.

Suparjo, pedagang sapi kurban di Jalan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur mengungkapkan, kenaikan harga dihitung berdasarkan berat setiap ekor sapi, karena tidak menjual sapi berdasarkan kiloan seperti pedagang pasar.

“Kalau yang sapi beratnya 500 kg ke atas naiknya Rp 3 juta/ekor. Kalau yang 300-400 kg naiknya sekitar Rp 2 juta/ekor, seterusnya sampai di bawah 300 kg kenaikannya sekitar Rp 1 juta/ekor,” ucap Suparjo di lokasi penjualan sapi kurban miliknya,. Sementara untuk harga sapi kurban yang dijualnya, pedagang sapi asal Kabupaten Jepara ini membanderol sapi kecil seberat 250 kg harganya Rp 15 juta/ekor, sapi ukuran sedang seberat 500 kg sebesar Rp 28 juta/ekor, serta sapi paling mahal dengan berat 1,2 ton dengan harga Rp 75 juta/ekor.

Suparjo mengaku, sekalipun ada kenaikan harga sapi kurban seperti saat ini, penjualan sapi kurban masih laris manis sebagaimana tahun lalu. “Tahun lalu bisa jual 250 ekor sapi habis semua, sekarang kita nambah jadi 300 ekor. Yang sudah di-booking sebanyak 30-an ekor, malah tadi ada yang beli langsung 12 ekor, katanya sih mau dijual lagi,” ujarnya.

Harga daging sapi di pasar tradisional Jakarta saat ini sudah berangsur turun menjadi Rp 110.000/kg, dari harga beberapa pekan lalu Rp 130.000/kg. Namun sejumlah pedagang daging sapi mengeluh penjualannya justru sepi alias tak banyak laku. “Harga sudah Rp 110.000/kg, tapi yang beli masih sepi kaya pas harganya Rp 130.000/kg. Kurang tahu kenapa, yang beli masih tukang bakso aja dari kemarin,” ucap Yanto, pedagang daging sapi Pasar Klender, Jakarta Timur.

Dalam sepekan terakhir, dirinya hanya bisa menjual 30 kg daging sapi dalam sehari. Sementara, saat harga normal pada kisaran Rp 90.000-100.000/kg, mampu menjual daging sapi sebanyak rata-rata 100 kg dalam sehari. Sebelumnya, Yanto mengira, dengan membaiknya harga daging sapi pasca demo pedagang, pembeli akan kembali ramai seperti sebelum Lebaran. “Kalau sekarang paling banter 30-40 kg. Orang sudah malas beli,” keluhnya.

Yanto mengaku, harga daging sapi di rumah jagal juga belum mengalami kenaikan atau penurunan dalam seminggu terakhir. “Kisaran harga karkas (daging bercampur tulang) kisaran Rp 80.000/kg, kalau dulu pas mahal Rp 90.000/kg,” katanya. Sementara itu, pedagang lainnya Rozak, juga mengalami penurunan omzet penjualan daging sapinya meski harga daging sudah turun.  “Ada turun kira-kira setengahnya kalau bandinginnya sama saat harga masih Rp 100.000/kg,” kata Rozak.

Telur Ayam Mulai Merangkak Naik di Jakarta

Beberapa pangan pokok terpantau stabil di pasar tradisional di Jakarta seperti beras. Namun ada beberapa harga pangan yang mulai naik seperti telur ayam, sedangkan harga daging ayam mulai turun.

"Kalau telur, tepung, minyak dan sembako lain belum ada kenaikan, kalau turun kayanya tidak mungkin," kata Wati, pedagang sembako Pasar Klender, Jakarta Timur, Jumat (28/8/2015).

Wati menyebut, harga gula pasir Rp 12.000/kg, minyak goreng curah saat ini Rp 11.000/liter, minyak goreng kemasan 12.000/liter, dan tepung terigu Rp 6.000/kg. "Yang naik telur dari Rp 21.000/kg sekarang naik Rp 23.000/kg," imbuhnya.

Komoditas pangan pokok lainnya, beras, juga tidak mengalami kenaikan harga. Slamet, pedagang beras Pasar Klender mengungkapkan, belum ada perubahan harga komoditas beras hingga hari ini. Harga masih berkisar antara Rp 8.000-13.000/liter sesuai kualitas.

Sementara itu, seperti halnya daging sapi, harga ayam sendiri sudah mengalami penurunan harga sejak seminggu terakhir. "Harga ayam sekarang Rp 35.000/ekor untuk berat 1,5 kg dari harga Rp 40.000/ekor, kalau yang 1,3 kg harganya Rp 30.000/ekor," kata seorang pedagang ayam bernama Linda.

Thursday, August 27, 2015

Cara Memperkaya Diri dengan Memberdayakan Orang Lain

Sama seperti generasi mudanya, berbisnis dan berkarya di era sekarang banyak berbeda dari era sebelumnya. Strategi baru terus berkembang secara alami di hutan rimba modern yang disebut dunia entrepreneurship. Dan saya paling hobi duduk di tengah keramaiannya, sambil makan pop corn, ngecengin gaya-gaya berkarya baru yang bisa diterapkan dalam dunia passionpreneurship.

Salah satunya yang menarik perhatian adalah trend business model yang semakin lama semakin banyak dan populer. Business model yang seenaknya disebut atau dibalut dengan nama Business Model “Yuk mari mari kita Kaya Bersama”. Sungguh nama sebutan yang ribet karena dasarnya hampir sama yaitu menjadi kaya dengan leverage yaitu tenaga dan waktu orang lain yang sering disebut semut pekerja.

Tapi walau  kerepotan memberi nama pada business modelini, dalam esensinya, bentuk business model ini sebenarnya sederhana. “Membantu orang sebanyak-banyaknya dengan iming iming menjadi kaya, dan Anda akan ikut terbawa menjadi kaya dalam prosesnya tanpa perlu bekerja dan menghabiskan waktu Anda yang sangat berharga untuk bekerja”.

Business model ini terlihat jelas dalam berbagai bisnis, baik online dan offline, khususnya di dunia di mana terdapat massa dalam jumlah besar. Google memakai model bisnis ini lewat adsense nya dan YouTube ad- nya, yang membagi hingga 55 persen keuntungan iklan untukvideo creator umum, siapapun bisa jadi video creator.

GoJek memakai model bisnis ini lewat aplikasi ojek fenomenalnya, yang membagi hingga 80 persen keuntungan dari tiap penumpang, dan mendadak membuat tukang ojek jadi profesi idaman. Serius. Beberapa manajer resort di puncak dikabarkan resign untuk jadi tukang ojek, karena peluang pendapatan yang lebih besar. Hal ini dapat dicapai karena Model business seperti ini tidak perlu menyediakan iuran pensiun, pesangon bila PHK, tunjangan sakit dan lain lain.

Bahkan perusahaan seperti J&C Cookies, perusahaan kue kering yang berpusat di Bandung, membangun kekuatannya ke seluruh nusantara dengan bisnis model ini. Ini adalah business model yang patut diperhitungkan! Dan dari pengamatan saya, model ini bisa diterapkan dalam membangun usaha berdasarkan passion Anda sendiri!

Kalau Anda ingin mencoba menerapkan business model seperti ini untuk membangun bisnis yang sesuai passion Anda, berikut adalah beberapa point pentingnya:

Satu – Target Anda bukan konsumen langsung, tetapi partner.
Kebanyakan bisnis ini tidak secara langsung menargetkan konsumen, tetapi menargetkan partner, yang akan memakai sistem, bisnis, jaringan, atau menjual jasa dan produk yang Anda sediakan untuk konsumen mereka. Jadi jangan salah, pusatkan perhatian Anda lebih banyak pada partner dan biarkan partner Anda bekerja keras untuk bersaing dan mendapatkan konsumen.

Dua – Ini adalah bisnis ‘manusia dan keluarga’.
Business model ini digerakkan oleh tenaga manusia bebas, yang masing- masingnya digerakkan oleh mimpinya untuk menjadi kaya. Mereka berharap mereka bisa meraih mimpi mereka dengan menjalankan dan bergabung dalam bisnis atau profesi Anda. Nah, mimpi inilah yang Anda harus eksploitasi untuk kepentingan bisnis Anda agar dapat membawa kekayaaan yang berlipat buat Anda Beri perhatian lebih untuk mempromosikan dan memarketingkan benefit untuk partner dan jangan sebutkan benefit untuk Anda. Anggap partner sebagai perpanjangan keluarga besar Anda meskipun sebenarnya mereka hanyalah alat dan mesin bisnis Anda.

Tiga – Awali dari nilai tambah baru.
Untuk bisa memulai usaha dan profesi dengan model ini, Anda harus bisa memberikan presepsi nilai tambah, keuntungan, kemudahan, atau benefit lainnya untuk massa dan industri/ bidang ini. Apa yang Anda buat lebih mudah? Apa yang Anda buat lebih menguntungkan? Apa yang Anda buat lebih menarik?

Empat – Kuasai jalur massa.
Seringkali, business model ini menjadi jembatan antara dua jenis massa yang berbeda. Partner bisa terbantu untuk mendapatkan konsumen, atau memudahkan mereka menjelaskan dan berjualan pada konsumen agar dapat menjual produk Anda lebih banyak dan cepat, dan konsumen pun bisa mendapatkan apa yang mereka butuhkan lewat jasa Anda. Jadi bisnis atau profesi Anda harus bisa menjadi pusat berkumpulnya massa!

Lima – Bangun business model ini di industri yang Anda suka atau kuasai.
Dengan begitu banyaknya variabel dalam membangun business model ini, maka bakal lebih baik bagi Anda untuk membangun profesi dan bisnis Anda di bidang yang membuat Anda antusias, atau Anda kuasai baik. Asal menebak dan asal bergabung dengan industri yang tidak Anda suka atau kuasai bisa membuat dugaan dan tebakan jasa atau pelayanan Anda salah tembak!

Inti dari business model ini adalah pertanyaan, “Bagaimana saya bisa membuat pelaku industri ini lebih diuntungkan dan meraih income? Dan bagaimana saya bisa menjadi kaya?

Obral Tax Holiday, Pemerintah Kini Buru Pedagang Kecil Untuk Kompensasi Pajak

Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro tak memperdulikan potensi penerimaan negara yang bakal hilang akibat obral fasilitas keringanan dan pembebasan pajak penghasilan (PPh) bagi pelaku industri pionir.

"Tujuannya kan untuk mendorong investasi masuk ke Indonesia supaya pertumbuhan cepat. Pertumbuhan cepat, maka pajak naik. Jangan bicara loss (kehilangan penerimaan) sekarang," ujar Bambang di kantornya, Kamis (27/8). Kendati demikian, Menkeu mengaku sudah punya hitung-hitungan potensi penerimaan yang tertunda masuk ke kas negara dengan diberikannya fasilitas pembebasan pajak (tax holiday). Namun, Bambang menolak untuk mengungkapkan estimasi potential loss tersebut.

Baca : Aparat Pajak Akan Buru Pedagang Beromzet 400 Juta Per Bulan Untuk Bayar Pajak

Dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 159/PMK.010/2015 tentang Pemberian Fasilitas Pengurangan Pajak Penghasilan Badan disebutkan, kisaran pengurangan PPh badan yang bisa diberikan kepada pelaku industri paling sedikit 10 persen dan paling banyak 100 persen.

Apabila ketentuan sebelumnya hanya terdapat lima bidang usaha yang berhak dapat tax holiday, di PMK yang baru ini diperluas menjadi sembilan bidang usaha. Selain itu, jangka waktu pemberian tax holiday diperpanjang, dari sebelumnya maksimal 10 tahun menjadi paling lama 20 tahun.

Sejauh ini, sudah ada empat perusahaan yang memperoleh fasilitas tax holiday, yakni PT Unilever Oleochemical Indonesia, PT Petrokimia Butadiene Indonesia, PT Energi Sejahtera Mas, dan terakhir PT Oki Pulp and Paper Mills. Mengantri di belakangnya PT Caterpillar Indonesia Batam, PT Feni Haltim, PT Well Harvest Winning Alumina Refinery, dan PT Synthetic Rubber Indonesia, yang sampai saat ini belum mendapat izin Menkeu.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) berharap kebijakan tax holiday yang baru bisa meningkatkan investasi manufaktur yang menjadi sebagai dasar transformasi ekonomi dari berbasis konsumsi menjadi basis produksi. Semakin banyaknya investasi manufaktur, BKPM berharap produksi bertambah dan bisa meningkatkan daya saing industri lokal.

"BKPM menyambut baik pemberlakuan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) atas tax holiday yang baru, karena dapat meningkatkan daya saing investasi khususnya sektor manufaktur. Kami mendorong investasi manufaktur untuk mendukung transformasi menuju ekonomi berbasis produksi sebagaimana diamanatkan oleh Presiden Jokowi," tegas Kepala BKPM Franky Sibarani melalui keterangan pers dikutip Rabu, (26/8).

Franky yakin hal tersebut akan terwujud setelah menerima banyak laporan dari para investor bahwa mereka menunggu pemberlakuan kebijakan tax holiday yang baru ini mengingat cakupan kebijakan ini ditambah ke beberapa sektor. Sebagai informasi, di dalam PMK Nomor 159 tahun 2015 tersebut dijelaskan bahwa industri yang berhak mendapat fasilitas fiskal tersebut akan menjadi sembilan sektor setelah sebelumnya hanya tercatat lima sektor saja.

Sektor yang ditambah tersebut antara lain industri pengolahan berbasis hasil pertanian, industri transportasi kelautan, industri utama di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan infrastruktur lain selain yang diusahakan oleh kerjasama pemerintah dan badan usaha (KPBU). "Dalam beberapa pertemuan one on one meeting, mereka selalu menanyakan terkait kemungkinan untuk mendapat fasilitas tax holiday. Adanya fasilitas tersebut dapat menggairahkan investasi khususnya di sektor manufaktur," tambah Franky.

Mantan Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPPMI)ini juga mengaku sedang menyusun Standard Operating Procedure (SOP) tentang tata cara pengajuan fasilitas tax holiday, sebagai tindak lanjut dari permohonan fasilitas tax holiday yang diajukan kepada Kepala BKPM.  Sebab pada pasal 5 peraturan tersebut menjelaskan bahwa perusahaan harus mengajukan permohonan kepada kepala BKPM jika ingin memperoleh fasilitas tax holiday.

"Saat ini eselon I BKPM sedang berkoordinasi dengan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan untuk mendapatkan masukan tentang mekanisme pengajuan dan persyaratan permohonan tax holiday. BKPM berkomitmen untuk memberikan kepastian persyaratan dan waktu bagi perusahaan yang mengajukantax holiday," ujar Franky.

Sebagai informasi, peraturan tax holiday baru mulai berlaku sejak 18 Agustus lalu dan mengganti peraturantax holiday yang lama yaitu PMK Nomor 130 tahun 2011.  Di samping itu, BKPM menargetkan realisasi investasi sebesar Rp 594,8 triliun atau meningkat 14,49 persen dibanding target realisasi tahun ini yang sebesar Rp 519,5 triliun.

Di dalam angka tersebut, proporsi sektor industri pengolahan ditargetkan sebesar Rp 313,5 triliun (52,7 persen), sektor tersier termasuk infrastruktur sebesar Rp 183,7 Triliun (30,9 persen), serta sektor primer atau komoditas sebesar Rp 97,6 Triliun (16,4 persen).

Sedangkan BKPM sendiri menargetkan kontribusi investasi di sektor manufaktur bisa mencapai 55,5 persen atau Rp 517,81 triliun dari total target investasi yang mencapai Rp 933 triliun pada 2019. Maka dari itu, mulai 2017 BKPM merencanakan lebih dari 50 persen investasi akan ditawarkan ke investor untuk dilakukan di luar Jawa, khususnya di 14 kawasan industri yang dicanangkan Kementerian Perindustrian.

PT Phar Indonesia Akan Bantu Pertamina Optimalkan Bisnis Non Fuel Di SPBU

PT Phar Indonesia, anak usaha dari perusahaan multinasional Phar Group yang fokus di bidang media dan pemasaran dipercaya PT Pertamina (Persero) untuk mengembangkan bisnis non-fuel di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina wilayah Jawa dan Bali.

Sepanjang tahun lalu, Phar Indonesia merancang program pemasaran dan pengelolaan ruang iklan yang ada di SPBU Pertamina yang dikelola swasta maupun individu. Targetnya adalah pelanggan mendapatkan informasi produk yang tengah diiklankan di SPBU Pertamina dan secara bersamaan pemilik SPBU Pertamina bisa memperoleh pendapatan tambahan dari bisnis non-fuel.

Phar dengan keahliannya dalam menghasilkan pendapatan dari bisnis tambahan telah membantu pemilik SPBU Pertamina mengembangkan bisnis non-fuel, sehingga mereka dapat fokus pada pengembangan bisnis inti yakni penjualan bensin.  Melalui kemampuan mengelola ruang advertorial dengan standardisasi media, Phar juga berhasil membenahi estetika sehingga memberikan pengalaman terbaik pelanggan SPBU Pertamina.

“Kami siap membantu pertumbuhan bisnis non-fuel SPBU Pertamina melalui optimalisasi ruang advertorial. Strategi Phar ini dapat membuat pemilik SPBU Pertamina untuk fokus pada bisnis inti yakni penjualan bahan bakar minyak, dan secara keseluruhan ini adalah langkah efektif untuk meningkatkan pendapatan total,” ujar Managing Director of Asia Phar Phartnerships Prem Bhatia dikutip dari keterangan pers, Jumat (28/8).

Bhatia mencatat saat ini terdapat sekitar 6 ribu SPBU Pertamina di seluruh Indonesia. Menjadikannya lokasi yang ideal bagi suatu perusahaan untuk mempromosikan produk atau jasa yang dijualnya.  “Beberapa merek-merek ternama seperti AirAsia, Unilever, Yamaha, Bank BRI, Garnier, Nissan, dan sebagainya telah memanfaatkan ruang advertorial di SPBU yang kami kerjakan,” tambah Bhatia.

Ia menyebut sejumlah penelitian menyatakan bahwa beriklan di SPBU merupakan cara efektif untuk meningkatkan kesadaran akan merek atau brand awareness para pelanggan sehingga berujung pada peningkatan penjualan. Ia mencontohkan penjualan produk Unilever melonjak 754 persen saat program aktivasi selama dua bulan. Melihat bahwa terjadi peningkatan penjualan secara signifikan ditambah dengan fakta bahwa Unilever adalah satu-satunya merek di industri yang beriklan melalui SPBU tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa recall atau kemampuan merek untuk tetap diingat pelanggan jika beriklan di SPBU jauh lebih tinggi dibandingkan dengan beriklan secara tradisional seperti misalnya di pinggir jalan.

Bertolak dari hal tersebut, Phar Indonesia akan terus berekspansi melalui kerjasama dengan SPBU Pertamina lainnya untuk membantu memaksimalkan pendapatan dari bisnis non-inti atau bisnis tambahan. Di sisi lain, berbekal pengalaman internasional di bidang media digital, olahraga, musik, dan transportasi, Phar tentunya memiliki sejumlah rencana pengembangan bisnis di Indonesia.

Saat ini, Phar juga telah menjadi agensi eksklusif untuk AirAsia di wilayah Asean untuk media iklan di majalah, pesawat, dan secara digital. Terkait dengan hal tersebut, Phar melalukan investasi di sektor teknologi informasi dengan menghadirkan layanan publisher trading desk.

Melalui publisher trading desk, AirAsia Indonesia mulai bulan depan dapat mampu menjalankan kampanye onlinedengan target pasar pelanggan berdasarkan usia, gender, kebangsaan, dan tujuan bepergian, dari sebanyak total 55 juta penumpang yang terbang bersama AirAsia setiap tahunnya.

Sementara itu, di bidang bisnis transportasi dan infrastruktur lainnya, Phar pada pekan lalu mengumumkan telah berhasil mendapat hak penamaan tiga stasiun di Kuala Lumpur, Malaysia. Ketiga stasiun itu akan diberi nama dari produk yang menanamkan investasinya di masing-masing stasiun, dan ini merupakan skema kerjasama yang baru pertama kali dilakukan di Asia. Prem Bhatia mengatakan,

“Kami melihat potensi yang sama besar di Indonesia seiring dengan program pemerintah yang mencanangkan investasi untuk pembangunan infrastruktur khususnya MRT di Jakarta dan bandara. Kerjasaman ini akan membawa keuntungan bagi para komuter dan membantu Indonesia bertransformasi menjadi negara berkelas dunia,” kata Bhatia.

Klien lain yang telah bekerjasama dengan Phar adalah Light Rail Manila Corp (Filipina), Rapid KL (Malaysia), Bangalore Metro (India) dan Transport for London (Inggris).

Tekan Impor .. Pemerintah Naikan Tarif Bea Masuk

Pemerintah memberlakukan pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) atas barang impor kawat baja batangan (steel wire rod/SWR). Pengenaan BMTP ini berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 155/PMK.010/2015 tentang Pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) yang telah diundangkan pada 11 Agustus 2015 lalu.

Ketua Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) Ernawati mengungkapkan pengenaan BMTP pada SWR dilakukan untuk melindungi industri dalam negeri yang terkena imbas negatif dari lonjakan impor tersebut. Hal ini terlihat dari pangsa pasar dan produksi industri dalam negeri yang menurun, produksi yang menurun, dan keuntungan yang menurun hingga mengalami kerugian.

“KPPI membuktikan terdapat hubungan sebab akibat antara lonjakan volume impor dengan kerugian serius yang dialami oleh industri dalam negeri,” kata Ernawati dikutip dari keterangan resmi, Kamis (27/8). Penyelidikan KPPI membuktikan terjadi lonjakan volume impor secara absolut selama periode 2010-2013 dengan tren peningkatan sebesar 47,6 persen dari 222.876 ton di 2010 menjadi 677.965 ton pada 2013.

“Negara eksportir utamanya yaitu China (79,7 persen), Jepang (8,0 persen), dan Malaysia (5,4 persen) pada 2013,” kata Ernawati. Barang impor SWR yang dikenai BMTP yaitu bernomor Harmonized System (HS) Ex. 7213.91.10.00, 7213.91.20.00, 7213.91.90.00, 7213.99.10.00, 7213.99.20.00, 7213.99.90.00, dan 7227.90.00.00.

Pemerintah dijadwalkan menerapkan pengenaan BMTP menjadi tiga periode. Periode tahun I mulai 17 Agustus 2015-16 Agustus 2016 dikenakan tarif BMTP 14,5 persen. Dilanjutkan periode tahun II mulai 17 Agustus 2016-16 Agustus 2017 dikenakan tarif BMTP 10 persen. Terakhir periode tahun III dari 17 Agustus 2017-16 Agustus 2018 dikenakan tarif BMTP 5,5 persen.