Insiden Sukhoi Superjet 100 (SSJ 100) di Gunung Salak, Jawa Barat ternyata memberikan pukulan besar bagi industri penerbangan Rusia. Padahal Rusia menaruh harapan besar melalui SSJ 100 yang merupakan cikal bakal dari penerbangan komersil.
SSJ 100 menorehkan sejarah bagi industri penerbangan Rusia di mana Sukhoi berhasil membuat pesawat legendaris yang bersifat komersil. Mengawali penerbangan komersil pertamanya di 2008, Sukhoi diharapkan mampu mengubah haluan Sukhoi dari militer untuk terjun ke komersil.
Namun sungguh ironis, penerbangan pertamanya di Indonesia yang merupakan ajang promosi SSJ 100 ternyata mengalami kecelakaan. Termasuk di dalamnya beberapa tamu undangan dan para investor calon pembeli.
Pemerintah Rusia telah memperjuangkan proyek Superjet hingga US$ 1 miliar dengan merayu perusahaan raksasa Italia, Finmeccanica melalui Italian Aeronautica untuk ikut berpartisipasi dalam produksi SSJ 100. Namun apapun yang terjadi nampaknya pemerintah Rusia tetap terus mendukung Sukhoi akibat insiden ini.
"Kami masih berharap insiden di Jakarta tidak akan mempengaruhi pemesanan Superjet," kata pejabat dari Kementerian Industri dan Perdagangan Rusia seperti dilansir AFP, Kamis (10/5/2012).
SSJ 100 ini memang dimaksudkan sebagai pesawat pengganti Tupolev-134 dimana sebagai pesawat jelajah jarak pendek yang mempunyai rekam jejak buruk. Perusahaan penerbangan seperti Aeroflot di Rusia telah menarik pesawat Tupolev-134 ini.
"Apa yang terjadi pasti akan memperlambat program dan menyebabkan beberapa kerusakan reputasi," kata Direktur Pusat Analisis Strategi dan Teknologi Ruslan Pukhov.
"Tapi program ini tidak akan datang ke berhenti Dan Superjet masih akan dijual baik di pasar domestik dan asing," tambahnya.
Superjet telah beroperasi dan digunakan sebagai pesawat harian oleh maskapai Aeroflot. Aeroflot menggunakannya untuk penerbangan Moskow ke Minsk dan dari Moskow ke Nizhny Novgorod.
SSJ 100 memang lebih dulu digunakan oleh maskapai di Armenia yakni Armavia. Kali ini maskapai RI, Sky Aviation dan Blue Panorama Airlines di Italia yang tertarik dimana telah dilakukan kespakatan.
Naas, insiden di Gunung Salak menyebabkan industri penerbangan Rusia shock. Dimana sang pilot berpengalaman Alexander Tablontsev yang menjadi sang pemimpin perjalanan promosi tersebut.
"Jelas, setiap bencana dengan kerusakan akan membuat reputasi jenis pesawat yang terlibat," kata pengamat pertahanan dan penerbangan Konstantin Makiyenko.
"Apalagi dalam kasus Superjet, kita berbicara tentang pasar baru untuk produk," katanya.
No comments:
Post a Comment