"The Avengers" bergabung dengan box office akhir pekan kedua terbaik dalam sejarah Hollywood, dengan mengantongi 103,2 juta dolar AS di Amerika Utara, sehingga pemasukan totalnya selama 10 hari mencapai 373,2 juta dolar AS. Film itu bahkan menggusur "Avatar" dari posisi penghasilan terbesar pada akhir pekan kedua dalam sejarah industri film Hollywood. Film bersutan Marvel Studios tersebut, yang diluncurkan oleh Walt Disney Co., dengan total pemasukan 628,9 juta dolar AS di seluruh dunia, melampaui pagu satu miliar dolar AS pada Ahad (13/5), hanya hari ke-19 setelah peluncuran internasionalnya, demikian perkiraan studio itu yang diperoleh Hollywood.com.
"The Avengers" adalah film pertama Marvel dan kelima Disney yang melampaui pagu global.Pengulas box office di Hollywood.com Paul Dergerabedian mengatakan, "Tak ada film lain dalam sejarah Hollywood yang telah melampaui angka 300 juta dolar AS dalam sembilan hari." Film blockbuster itu --yang menampil pahlawan super buku komik Marvel seperti Iron Man, Hulk, Thor dan Captain America-- mendominasi penjualan tiket domestik dan internasional, demikian laporan Xinhua --yang dipantau ANTARA News di Jakarta, hari ini.
Film tersebut juga membuat "pucat" film lain, termasuk kolaborasi terkenal antara sutradara Tim Burton dan Johnny Depp, salah satu bintang terbesar Hollywood. Film horor-komedi Warner Bros "Dark Shadow", film lain garapan sutradara Tim Burton dan Johnny Depp, tak mampu menaklukkan gabungan pahlawan super Robert Downey Jr., Chris Evans, Scarlett Johansson dan lain-lain. Film itu dibuka di tempat kedua, yang terpaut jauh dengan hasil mengecewakan, yaitu 28,8 dolar AS, jauh di bawah perkiraan distributor film tersebut.
The Avengers" meraup pendapatan terbesar "box office" dalam pemutaran akhir pekan perdananya di Amerika Utara dengan total penjualan tiket yang menembus angka 200,3 juta dolar AS. Rekor sebelumnya dipegang oleh film "Harry Potter and Deathly Hallows: Part2" yang meraup pendapatan 169,2 juta dolar saat pemutaran perdananya tahun lalu. Meskipun "The Avengers" tidak memecahkan rekor pendapatan pemutaran hari pertama film terakhir Harry Potter itu, tapi film bertema "superhero" itu berhasil mendapat penilaian "A+" dari layanan Cinemascan, lapor Xinhua.
Film buatan Marvel Studios yang dirilis oleh Walt Disney Co. itu diperkirakan akan menembus angka penjualan tiket 641 juta dolar di seluruh dunia, menurut prediksi sejumlah studio yang dikumpulkan Hollywood.com.
Analis "box office" dari Hollywood.com, Paul Dergerabedian, mengatakan prestasi "The Avengers" itu merupakan debut dengan pendapatan akhir pekan terbesar sepanjang sejarah "box office" dan menciptakan patokan pendapatan baru bagi film. Film yang disutradarai Joss Whedon itu menghadirkan beberapa tokoh pahlawan super sekaligus yang sebelumnya sukses dalam film sendiri seperti Iron Man, Hulk, Captain America dan Thor. Selain itu, film tersebut juga dibintangi sejumlah aktor kenamaan yaitu Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Mark Ruffalo, Scarlett Johansson, Jeremy Renner dan Samuel L. Jackson.
Disney sebelumnya telah memutar film itu di luar AS, yang juga mencetak rekor pendapatan akhir pekan di Meksiko, Brasil, Argentina, Hongkong, Malaysia, dan Filipina. Setelah dihantam oleh film besar seperti "The Avengers", film lain di "box office" hanya mampu meraup keuntungan pas-pasan akhir pekan ini. "Think Lke A Man" yang sebelumnya bercokol dua pekan di puncak "box office", melorot ke posisi kedua dengan jumlah pendapatan 8 juta dolar dan total pendapatan tiga pekan 73 juta dolar. Film yang juga mengguncang "box office" sebelumnya, "The Hunger Games", masih bertahan untuk menempati posisi ketiga dengan pendapatan 5,7 juta dolar, sehingga secara keseluruhan pendapatan domestiknya mencapai 380,7 juta dolar.
Melengkapi lima film terpopuler di Amerika Utara akhir pekan ini adalah "The Lucky One" (5,5 juta dolar) dan "Pirates, The Band of Misfits" (5,4 juta dolar). Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, begitulah ungkapan nyekrup untuk memampatkan dan memadatkan salah satu sajian dari studio Walt Disney Pictures bertitel The Avengers. Tujuh personel serba digdaya beraksi di alam raya menunjukkan bahwa jagat imajinasi seluas langit teknologi serba visual. Efeknya, sekedar gubrak...gubrak...gubrak.
Kata kuncinya, ingin serba super, karena balutan demi balutan kisah mengandalkan nafas kepahlawanan dari tujuh punggawa yang bertekad mempertahankan kelanggengan bumi dari kekuatan jahat serba super juga. Bumi gunjang-ganjing, langit kelap-kelip, ujung-ujungnya pertempuran demi pertempuran terjadi di arena alam raya. Diawali aksi kebut-kebutan lantaran berebut sumber energi bernama Tesseract, drama kepahlawanan yang menghimpun tujuh tokoh komik hasil imajinasi seakan mengamini bahwa persatuan melahirkan keselamatan bagi semua bila ingin hidup seribu tahun lagi di jagat semesta. Jangan lagi hamil oleh energi kebencian dan kekerasan.
Tiba-tiba, gubrak...gubrak, seorang perempuan berbalut busana kulit hitam ketat duduk di sebuah bangku diinterogasi oleh sekelompok pria yang punya kuasa. Begitu sang bos ingin menunjukkan syahwat kuasanya dengan mengambil perangkat siksa bagi sang perempuan, tiba-tiba si pesakitan menerima sinyal panggilan ponselnya. Sekelabat dalam hitungan detik, sang perempuan beraksi meninju dan menendang pria musuh-musuhnya. Ujung-ujungnya sang perempuan bernama Black Widow -diperankan oleh Scarlett Johansson- memasuki gelaran drama kepahlawanan dari tujuh tokoh serba super.
Gubrak...ingatan publik diguncang soal tokoh Black Widow yang mirip-mirip tokoh film serial spy Inggris tahun 1960-an, Diana Rigg. Keduanya sama-sama mengenakan busana kulit berwarna hitam ketat berbalut aksi tendang dan pukul secepat kedipan mata. Dengan menumpang kendaraan genre superhero berbalut action yang serba heboh gubrak-gubrak, The Avengers yang disutradarai Joss Whedon disesaki oleh peran ala gladiator dari tujuh tokoh, masing-masing Thor (Chris Hemsworth), Iron Man (Robert Downey Jr.), Captain America (Chris Evans), Hulk (Mark Ruffalo), Hawkeye (Jeremy Renner), Black Widow (Scarlett Johansson) dan Nick Fury (Samuel L. Jackson).
Ketujuh tokoh serba super yang dibaptis sebagai The Avengers itu mengekor kepada tokoh-tokoh komik yang menyuguhkan kekuatan di arena pertarungan. Ketujuhnya seakan mengidentifikasi diri sesuai dengan wilayah pertarungannya masing-masing (champ de forces). Black Widow memerankan tokoh perempuan seksi, cantik, cerdik. Hulk melakonkan pria kuat berwarna hijau yang serba tidak hirau. Ketujuhnya bergumul di arena strategi perang melawan kekuatan monster dari luar bumi.
Mulanya ketujuhnya berseberangan dalam pandangan, karena masing-masing mereka ingin menangguk kemenangan diri. Akhirnya superhero itu bersatu dalam sebuah "rule of the game" bahwa arena pertarungan tidak bisa terlepas dari strategi nan jitu. Nah, setiap arena pertarungan memberlakukan hukum besi bahwa manusia yang s atu menjadi serigala bagi manusia yang lain (Homo homini lupus). Dan taruhannya satu, keselamatan jagat bumi dan alam semesta. Keamanan global sungguh terancam dengan hadirnya kekuatan jahat terhebat yang selama ini belum pernah ada. Ini bersesuaian dengan amanat pesanan dari Direktur S.H.I.E.L.D., Nick Fury yang meminta bantuan tim "The Avengers" untuk mencegah bencana yang mengancam dunia. Mereka bersatu padu melawan kekuatan jahat.
The Avengers mencokok perhatian publik akan pemaknaan kata hero. Hero bukan sebatas pahlawan. Istilah "hero" merujuk kepada sosok yang menyelamatkan dan menjadi pujaan hati. Meminjam istilah postmodern, hero adalah pahlawan dengan huruf besar.Bermodal kekuatan serba super, sosok The Avengers mewakili keinginan tampil memeragakan kekuatannya masing-masing. Ketujuhnya ingin pamer kekuatan di tengah ancaman global dari kekuatan jahat. Dengan mengusung karakter serba mitis bahwa yang kuat akan senantiasa menang, sejumlah momen aksi unjuk kebolehan The Avengers lantas mengabdi kepada kedigdayaan dari kisah sekuel kepahlawanan "Transformers". Efek gubrak gubrak dari Avengers juga dibalut teknologi pesawat luar angkasa ultra canggih yang siap melawan kekuatan jahat dari luar bumi. Inti narasinya meniru dogma dari setiap film koboi garapan Hollywood, dar der dor antara penjahat dan penegak hukum.
Kata kuncinya tetap menonjolkan yang serba super. Super hero dan super ego, kata wartawan harian New York Times A. O. Scott ketika meresensi The Avengers. Nalar dari super hero dan super ego dalam The Avengers justru bermuara dari asa khas film koboi Amrik gaya John Wayne yang cenderung memakai istilah "budaya kami". Tujuannya, memamerkan kemudian menularkan kecintaan masyarakat Amerika Serikat akan segala ciri yang serba super kepada khalayak global. Bukankah ada superman, supermarket, super kolosal, super kriminal? The Avengers menonjol-nonjolkan sosok orang berotot dan perempuan berdaya idaman semua wanita dalam balutan efek gubrak gubrak khas Amrik.
Masing-masing mereka punya kekuatan bertempur jempolan. Mereka berasal dari khasanah tokoh jagoan di kartun yang terlibat aksi baku pukul (smackdown). Gubrak, gubrak seraya berteriak-teriak memadatkan energi penguasaan kepada lawan. Efek serba heboh ingin mengalahkan lawan itu dihiasi dengan gambar puing-puing kehancuran gedung jangkung pencakar langit Manhattan dan adanya bentuk bulatan raksasa di langit hasil rekayasa digital. Serba super lantaran ingin menjadi sosok serba super ini seakan mengulang kepercayaan dari filsuf Nietzsche, yakni SuperMan (Ubermensch).
The Avengers menyajikan makna SuperMan, Super hero dan super ego. Dan publik bersorak karena ketujuh super hero mereka beraksi secara gubrak gubrak melawan kawanan penjahat. Publik dihibur dalam sebuah harga bahwa setiap tontonan menuntut ketaatan.Dengan dipandu mantra sains teknologi yang merupakan kekuatan dan ketaatan terselubung, The Avengers diam-diam menyajikan drama tuntutan ketaatan kepada publik global bahwa keselamatan bumi hanya ada dalam sains teknologi. Lantas, siapa yang berada di depan sebagai gladiator di perjuangan mempertahankan hidup ini?
Jawabnya ada dalam adegan demi adegan dari The Avengers yang ingin lepas sensor dari keyakinan masing-masing warga dunia. Kredo ini justru ada dalam kocek sang sutradara Joss Whedon yang boleh jadi ingin merdeka dari kungkungan mitos buku-buku komik. Di satu pihak sang sutradara memilih panggung Hollywood, di lain pihak The Avengers punya misi ingin menyelamatkan seluruh alam semesta dan segala isinya, utamanya seluruh umat manusia. Ada jejak pertentangan di titik akhir kesimpulan sebuah pernyataan (contradictio in terminis).
Kata Nietzsche, sains merupakan kebijaksanaan handal, bahkan sebuah kehati-hatian. Sesuatu yang berguna, yang masih memberi kepada khalayak publik sederetan hak untuk mengemukakan keberatan-keberatannya, apa artinya itu? Nah, drama demokratis ala The Avengers menonjolkan soal hidup yang merangkum kejahatan dan kebaikan. Bukan hanya kejahatan, bukan melulu kebaikan, tetapi kedua-duanya. The Avengers tidak ingin memangkas warna-warni kekayaan hidup, karena The Avengers tidak ingin mengulangi drama dari tokoh Don Quiotte yang menyerang kincir angin karena ia mengira kincir angin itu sebagai sosok raksasa jahat.
Dan Hulk sebagai makhluk raksasa pembela kebenaran mengayunkan tangan untuk menghabisi tokoh Loki seraya menghardik, "Apa itu penguasa jagat raya, siapa itu penguasa?" Gubrak...gubrak!
No comments:
Post a Comment