Monday, March 27, 2017

Vale Indonesia (INCO) Tidak Bagi Deviden Karena Laba Menurun

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memutuskan untuk tidak membagikan keuntungan (dividen) kepada pemegang saham untuk tahun buku 2016. Pasalnya, keuangan perusahaan memburuk pada periode tersebut. Febriany Eddy, Direktur Keuangan Vale Indonesia menjelaskan, pembagian dividen biasanya diukur oleh berbagai faktor seperti seperti ketersediaan arus kas dan laba bersih.

"Nah kalau dilihat kan laba bersih kami pada 2016 sebesar US$1,9 juta, relatif lebih rendah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya," ungkap Febriany, Senin (27/3). Selain itu, perusahaan juga perlu menyimpan laba bersih yang didapatkan sebagai penambahan kas perusahaan untuk kebutuhan ekspansi. Kemudian, harga nikel yang melemah pada tahun 2016 juga menjadi pertimbangan perusahaan tidak membagi dividen.

"Jadi dengan faktor demikian, sulit bagi kami untuk membayar dividen," imbuhnya.

Asal tahu saja, laba bersih Vale Indonesia sepanjang 2016 tercatat turun signifikan hingga 96,22 persen menjadi US$1,9 juta dari tahun 2015 US$50,5 juta. Hal ini disebabkan penurunan pendapatan sebesar 26,03 persen dari US$789,74 juta menjadi US$584,14 juta. "Tentu karena bisnis kami sangat terpengaruh dengan harga nikel ya, karena sebenarnya biaya produksi kami turun 18 persen. Tapi karena harga nikel turun 19 persen jadi laba bersih kami sekian," papar dia.

Mengacu pada London Metal Exchange (LME), harga tunai nikel pada awal tahun lalu sebesar US$8.515 per ton dan kemudian turun menjadi US$7.700 per ton pada Februari. Namun kemudian, harga nikel mulai pulih ke level US$9.100 per ton pada bulan April dan bertahan di level US$8.500 per ton hingga awal Juni 2016. Selanjutnya, harga nikel naik menjadi US$10.300 pada Juli, dan pada akhir tahun berada di kisaran US$9.900-US$11.600 per ton.

"Jadi, rata-rata harga nikel 2016 US$9.606 per ton, turun 19 persen dari 2015 yang berada di level US$11.807 per ton," jelas dia. Sementara itu, perusahaan juga secara resmi mengganti jajaran dewan komisaris perusahaan. Dalam hal ini, Mike Baril diangkat menjadi komisaris untuk menggantikan Stuart Alan Harshaw. Selain itu, perusahaan juga mengganti komisaris independen menjadi R. Sukhyar, di mana sebelumnya jabatan tersebut diduduki oleh Idrus Paturusi.

Berikut jajaran dewan komisaris yang baru setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST):

  • Presiden Komisaris: Jennifer Anne Maki
  • Wakil Presiden Komisaris: Mark James Travers
  • Komisaris: Andrea Marques de Almeida, Mike Baril, Robert Alan Morris, Nobuhiro Matsumoto, dan Akira Nozaki
  • Komisaris Independen: Irwandy Arif, Mahendra Siregar, dan R. Sukhyar

No comments:

Post a Comment