Tuesday, April 29, 2014

Karyawan PT Kertas Leces Menuntut Pembayaran Gaji Yang Tertahan Selama 2 Tahun

Karyawan PT Kertas Leces menuntut kejelasan status kepegawaian mereka. Sekitar 200 pegawai mempertanyakan klaim perusahaan yang menganggap para karyawan mengundurkan diri itu di depan kantor direksi perusahaan pelat merah itu, Selasa, 29 April 2014, di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. “Karyawan tidak merasa mengundurkan diri," kata Sekretaris Serikat Karyawan PT Kertas Leces, Arham, Selasa, 29 April 2014.

Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Jember dan Kementerian Tenaga Kerja masih mencatat hubungan kerja mereka dengan perusahaan. Klaim manajemen dianggap tidak sah. Tapi manajemen berkukuh tidak memperbolehkan karyawan masuk kerja. Arham mengatakan jika dianggap mengundurkan diri, karyawan menuntut pesangon. “Kalau tidak di PHK, kami minta gaji. Itu saja."

Upaya negosiasi wakil karyawan, kata Arham, gagal. Kepala Divisi Sumber Daya Manusia PT Kertas Leces, Kiplani, tidak bisa memberikan jawaban. Arham mengatakan ada 984 karyawan yang statusnya tidak jelas sejak November 2011.

Menurut Arham, fakta yang disampaikan perusahaan ihwal status mengundurkan diri karyawan itu baru diterima karyawan pada Januari 2014. "Hampir dua tahun kemudian dinyatakan berhenti. Sementara pada 2011, kami masih digaji. Selain itu juga masih ada mutasi, rotasi, promosi."

Juru bicara PT Kertas Leces Cilik Sukaryadi mengatakan pada 2011, sekitar 1.100 orang dirumahkan karena kinerja keuangan perusahaan tidak memungkinkan. Mereka mengambil dana pensiun. Meski begitu, karyawan yang dibutuhkan diminta untuk melamar kembali. Sebagian mengirim kembali lamaran, lainnya mengabaikan. "Mereka yang tidak melamar kembali, menimbulkan perselisihan hubungan industrial," kata Cilik.

Mereka yang tidak melamar kembali itu melakukan gerakan-gerakan karena menganggap masih ada hubungan industrial antara mereka dengan perusahaan. Alasannya, masih ada gaji serta tunjangan yang belum terbayar. Puluhan karyawan PT Kertas Leces di Probolinggo, Jawa Timur, turun ke jalan, Selasa (29/4/2014), menuntut gaji mereka yang tak terbayar selama dua tahun terakhir. Aksi diwarnai pembakaran seragam kerja.

"Membakar seragam itu merupakan simbol bahwa mereka masih butuh gaji dan merasa sakit hati karena hak sebagai karyawan tak terpenuhi," ujar Muhammad Arham, koordinator aksi, Selasa. "Kami sedih dan kecewa keluarga di rumah kelaparan. Tolong bayar gaji kami. Kami tidak mau seperti ini. Kami siap mati untuk memperjuangkan hak kami. Ada anak dan istri yang butuh makan," timpal karyawan lain yang ikut dalam aksi itu.

Para karyawan pun mengaku kecewa kepada Menteri BUMN Dahlah Iskan yang pernah berjanji akan menghidupkan kembali perusahaan pembuat kertas ini. Meski unjuk rasa diwarnai pembakaran seragam, aksi tersebut tak sampai berakhir rusuh.

Para karyawan PT Kertas Leces pun mengancam akan datang ke Jakarta, mendatangi Kementerian BUMN serta Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Rencananya, mereka akan berangkat ke Jakarta pada 6 dan 10 Mei 2014.

Sebelumnya, eks karyawan pabrik kertas ini juga sudah mendesak Polres Probolinggo mengusut dugaan penyelewengan jaminan hari tua, upah di bawah standar minimum kabupaten kota (UMK), dan dana Jamsostek perusahaan itu.

No comments:

Post a Comment