Friday, December 23, 2011

Harga Emas Terus Turun dan Anjlok


Harga emas lanjutkan penurunan pada perdagangan di Comex, New York, Amerika Serikat, Kamis (15/12/2011) waktu setempat, seiring tidak adanya langkah stimulus baru dari Bank Sentral AS (Federal Reserve).

Kontrak emas berjangka untuk pengantaran Februari turun 0,6 persen menjadi 1.557,20 dollar AS per troy ounce (setara dengan 31,1 gram) pukul 01.44 PM, Kamis waktu New York. Harga emas telah turun sebanyak 7,6 persen selama tiga hari belakangan. "Quantitative easing tidak termasuk dalam kartu (rencana) untuk waktu dekat ini," ujar Scott Gardner, Chief Investment Officer Verdmont Capital SA, di Panama, Kamis waktu setempat.

Memang pada 13 Desember lalu, Bank Sentral AS menyatakan akan tetap mempertahankan ekspansinya dan menahan diri untuk mengambil tindakan baru demi mendukung perekonomian negara itu.
Alhasil, harga emas pun terus anjlok, bahkan turun 2,8 persen sepanjang kuartal ini seiring dengan dollar AS yang mengalami rally (kenaikan panjang) 2,2 persen terhadap enam mata uang utama. "Penguatan dollar AS juga merupakan berita negatif bagi emas," ujar Gardner.

Kondisi ini pun diperkirakan semakin memburuk oleh Dave Lutz, Head of Exchange-traded Fund Trading and Strategy Stifel Nicolaus Co, di Baltimore. Lutz menyebutkan, harga emas bisa anjlok hingga 1.400 dollar AS dalam waktu dekat.

Harga emas berjangka jatuh seiring dengan penguatan dollar Amerika Serikat terhadap euro sehingga menggerus permintaan emas sebagai alternatif investasi. Kontrak emas berjangka untuk pengantaran Februari turun 0,1 persen menjadi 1.596,70 per troy ounce (setara dengan 31,1 gram) pada pukul 01.59 PM di Comex, New York, Senin (19/12/2011) waktu setempat.

"Dollar AS telah bergerak positif hari ini sehingga berimbas kepada emas," ujar Scott Gardner, Chief Investment Officer Verdmont Capital SA, di Panama, Senin waktu setempat.

Menguatnya dollar AS tidak lain karena kondisi zona euro masih buruk. Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi mengatakan, risiko yang substansial terhadap ekonomi Eropa masih ada. Euro pun melemah 0,5 persen. "Akan dibutuhkan banyak waktu bagi investor untuk memperoleh kembali kepercayaan dirinya dalam emas sebagai pelindung dari krisis, mengingat besarnya guncangan belakangan ini," tutur Gardner.

Meskipun demikian, Andrey Kryuchenkov, analis VTB Capital di London, Senin waktu setempat, tetap optimistis emas akan tampil baik dalam jangka panjang. "Emas akan menderita dari gejolak baru-baru ini karena likuiditas dollar AS, tetapi dalam jangka panjang emas akan tetap solid," ujar Kryuchenkov.
Menurut dia, kebijakan moneter yang akomodatif di dunia akan terus mengamankan peran emas sebagai pelindung inflasi.


Kontrak emas berjangka anjlok paling banyak selama lebih dari dua minggu setelah Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Mario Draghi memberi sinyal tidak akan membeli obligasi lagi untuk memacu pertumbuhan ekonomi Eropa.

Pernyataan Draghi yang menyebutkan program pembelian obligasi pemerintah bukan untuk selamanya ini juga memberikan sentimen negatif terhadap ekuitas dan mata uang euro. "Sekali lagi pasar sangat bingung terhadap apa yang terjadi di zona euro," ujar Matthew Zeman, strategist Kingsview Financial di Chicago, Kamis (8/12/2011) waktu setempat.

Menurut Zeman, emas telah berlaku sebagai aset yang berisiko. Di mana saat pelaku pasar menghindar risiko, emas pun harus menerima dampaknya, sementara dollar AS dan obligasi  meraup keuntungan dari kondisi itu.

Alhasil, kontrak emas berjangka untuk pengantaran Februari turun 1,8 persen menjadi 1.713,40 per troy ounce (setara dengan 31,1 gram) pada perdagangan Comex, pukul 1:42 PM, Kamis waktu New York. Ini kerugian terbesar untuk sebuah kontrak yang paling aktif sejak 21 November 2011.



No comments:

Post a Comment

Post a Comment