Tuesday, November 3, 2015

Creative Destruction : Bisnis Ojek Online Mulai Matikan Bisnis Taksi

Menjamurnya ojek online membuat sopir taksi merana. Mereka sulit memenuhi target pendapatan setiap hari karena banyak orang yang sebelumnya memakai taksi kini beralih ke ojek online. Suraji seorang sopir taksi dari perusahaan taksi terkenal biasanya kantongi pendapatan sebesar Rp 600.000 setiap hari. Target sebesar itu nantinya masih dipotong untuk setoran dan kewajiban lainnya. Tapi sekarang, menurut Suraji, untuk mengumpulkan Rp 500.000 saja sulit.

"Pendapatan sopir taksi turun. Tanya ke sopir-sopir taksi lain, jawabannya bisa sama semua. Sekarang dapat Rp 500.000 susah sekali," kata Suraji yang ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2015). Suraji bercerita, biasanya setiap pagi mangkal di kawasan Setiabudi mencari penumpang yang mau pergi ke sekitar Sudirman dan Senayan. Biasanya dia bisa mengantongi Rp30 ribu dari jasa mengantar penumpang ke Sudirman dan Senayan dari Setiabudi.

Namun kini dia kesulitan mendapat penumpang dari Setiabudi karena rupanya banyak masyarakat yang lebih memilih naik ojek online ketimbang taksi. "Ada promosi ojek online cuma Rp 10.000, penumpang pindah semua ke sana," tutur Suraji.

Pria asal Pemalang yang sudah beristri dan memiliki seorang anak ini pun pasrah. Tak ada yang bisa dilakukannya. Saat ini Suraji menunggu saja apakah penurunan pendapatan ini terus berlanjut. "Mungkin nanti kalau (ojek online) sudah ‎nggak promo penumpang naik taksi lagi," tutupnya. Order taksi konvensional sepi sejak ojek dan taksi online beredar di Ibukota dan daerah sekitarnya. Aman Jihadi, seorang sopir perusahaan taksi terkenal mengatakan saat ini banyak rekannya yang lebih banyak mangkal daripada menerima order. 

Sopir taksi konvensional sulit mendapat order karena konsumen mereka banyak yang beralih ke ojek atau taksi online. "Sekarang sih lampunya banyak yang nyala (tidak ada penumpang), sekarang di Sudirman banyak yang pada mangkal," ujar Aman.

Aman juga ikut merasakan dampak kehadiran angkutan transportasi berbasis online. Penghasilannya sebagai sopir taksi dari semula berkisar antara Rp600 ribu sampai Rp700 ribu per hari turun menjadi Rp500 ribu sehari. "Sekarang Rp 500 ribu itu berat. Apalagi ada lagi uber, grab car, serangannya banyak," tutur Aman.

Pria yang telah 4 tahun mengemudi taksi itu hanya bisa pasrah dan menjalani rutinitasnya sebagai sopir taksi. Apalagi dia harus menafkahi istri dan seorang anaknya yang tinggal di Bumi Ayu, Jawa Tengah. Banyak orang beralih menjadi pengemudi ojek atau taksi online lantaran penghasilan bulanan yang menggiurkan. Salah satunya adalah mereka yang selama ini mengais rezeki sebagai sopir taksi.

Aman Jihadi, seorang pengemudi dari perusahaan taksi terkenal, mengatakan cukup banyak rekannya menanggalkan seragam sopir taksi konvensional dan beralih menjadi pengemudi ojek online atau taksi online.  "Lagi musim Go-Jek, banyak pengemudi kita masuk ke Go-Jek. Ada yang ke Uber, Grab Car mereka pakai mobil sendiri jadi nggak perlu setoran tinggal bayar komisi aplikasi saja, numpang aplikasi," ujar Aman.

Perusahaan tempat Aman bekerja sempat menyebarkan selebaran ke para pengemudi. Melalui selebaran itu pihak perusahaan meminta sopir tidak beralih ke angkutan umum berbasis online. Namun, niat pengemudi untuk beralih menjadi pengemudi ojek online atau taksi online lebih kuat. Pasalnya, mereka tergiur pendapatan yang lebih sehingga mereka beralih ke ojek online atau taksi online.

Aman sendiri sebenarnya ingin beralih dari sopir taksi dan beralih menjadi pengemudi ojek online atau taksi online. Namun, kata Aman pendaftarannya sudah tutup dan tidak punya koneksi. "Tapi kalau ada yang ngajak, mau," tutur Arman yang telah 4 tahun menjadi sopir taksi.

No comments:

Post a Comment