Wednesday, August 6, 2014

Orang Kaya Baru Indonesia Kebanyakan Dihidup Dipedalaman Dengan Area Private Jet Dirumahnya

Pengamat gaya hidup Amelia Masniari ikut buka suara tentang gaya hidup para orang kaya baru (OKB) yang ditulis BBC beberapa waktu lalu. Wanita yang biasa disapa Miss Jinjing ini mengatakan sekarang banyak orang yang mendadak kaya di daerah pedalaman Tanah Air. "Mereka bukan tinggal di Jakarta dan Pulau Jawa. Tetapi mereka tinggal di daerah pedalaman, kabupaten dan kota baru yang ada di Indonesia," kata Miss Jinjing, Rabu, 6 Agustus 2014.

Miss Jinjing menjelaskan, banyak orang kaya baru yang berasal dari daerah pedalaman di Indonesia. "Saya pernah kaget ketika menerima permintaan untuk membeli buku Miss Jinjing sebanyak 2.000 buku. Padahal harga per eksemplarnya Rp 178 ribu. Dikalikan dengan permintaan tersebut, angkanya fantastis. Dan yang bikin fantastis lagi, mereka membayarnya tunai," katanya.

"Yang juga membingungkan, kini pengiriman buku-buku yang aku tulis berasal dari daerah pedalaman alamatnya aneh-aneh: Nunukan, Pulau Rote, Kutai, Luwuk, pokoknya daerah pedalaman yang rata-rata memiliki bisnis batu bara, kayu dan lainnya."

Wanita yang sudah menerbitkan tujuh karya tulisan favorit, yakni Miss Jinjing Belanja sampai Mati, Miss Jinjing Rumpi sampai Pagi, Miss Jinjing Pantang Mati Gaya, Miss Jinjing Belanja sampai Mati di China, Miss Jinjing Siapa Takut Cerai? Takut Banget!,Miss Jinjing belanja sampai Mati di Tokyo, serta Miss Jinjing Girl’s Guide ini mengatakan, kemunculan orang kaya baru banyak tersebar di pedalaman.

"Mereka memiliki mobil mewah Jaguar, Lamborghini, dan lainnya di tempat terpencil. Bahkan ada beberapa rumah yang memiliki area private jet. Semua low profile, bukan macam selebritas atau sosialita yang sering banci tampil, mejeng di media sosial. Mereka enggak perlu eksis karena duitnya mereka yang eksis di mana-mana," katanya.

Miss Jinjing juga menceritakan, betapa banyak OKB asal pedalaman ini yang menenteng tas berisi uang tunai rupiah dan dolar untuk melakukan transaksi apa pun. Tidak terkecuali membayar harga tas bermerek, mobil mewah, perhiasan sekelas berlian, bahkan membeli properti, seperti rumah dan apartemen.

"Dari penuturan komunitas aku, mereka pembeli properti dan tanah di Jakarta, ya, OKB dari pedalaman yang harganya merusak banget. Sebab, mereka berani membayar lebih dan tunai dibanding orang kaya di Jakarta dan Pulau Jawa yang membayar dengan kredit." Kata Miss Jinjing, jika dulu para OKB itu hanya berobat di puskesmas, kini, kalau mendadak batuk sedikit, merekalangsung terbang ke Malaysia, Singapura, Australia, Cina, atau Eropa.

"Yang menarik, banyak toko berlian dunia seperti Frank & Co, Felice, D&C sering mblusukke pedalaman, menyambangi pembeli para OKB ini dan menjual berlian di sana. Jualannya laris manis, seperti menjual kacang goreng, dan pembayarannya tunai dengan rupiah atau dolar. Kehadiran gerai di Jakarta sekadar etalase saja. Tetapi pembeli riilnya, ya, di sana, para OKB yang tinggal di pedalaman," ujar Miss Jinjing.

Dia pun menceritakan beberapa komunitas OKB yang tinggal di pedalaman memiliki mobil Lexus, Land Cruiser, Jaguar dan mobil mewah lain, juga jet pribadi, semata untuk mobilisasi demi kepentingan bisnis. "Bukan buat narsis atau selfie, tapi untuk menunjang bisnis mereka, fungsional sifatnya bukan pamer. Mereka enggak butuh show off atau unjuk diri, karena mereka punya uang dan kekayaan tak berseri."

Beberapa waktu lalu media InggrisBBC menuliskan laporan tentang gaya hidup sosialita dan orang kaya baru di Indonesia. Laporan tersebut menyebutkan bagaimana gaya hidup mereka, para sosialita yang tergabung dalam kelompok-kelompok arisan mahal, memakai tas brandeddan mengendarai mobil mewah. BBC juga menulis tentang kesenjangan di Indonesia. Betapa ironinya harga sewa tas mahal yang dikenakan di acara pesta sosialita bila dibandingkan dengan dua pertiga penduduk Indonesia yang hidup dengan hanya US$ 2 per hari, mendekati garis kemiskinan.

"Ada kesalahan analisis BBC tentang gaya hidup orang kaya baru alias OKB. Sebetulnya, subtansi tulisan BBC ingin memaparkan masalah kesenjangan di Indonesia. Akan tetapi, dia membuat analisis gaya hidup orang kaya dan sosialita dengan salah," kata pengamat gaya hidup, Amelia Masniari, pada Rabu, 6 Agustus 2014.

Wanita yang biasa disapa Miss Jinjing ini mengatakan acara yang diliput BBC merupakan acara buka puasa bersama bertajuk “Jakarta With Love” di salah satu restoran ternama di Senayan City. "Itu event yang biasa didatangi para sosialita yang sebenarnya juga enggak kaya-kayabanget," ujar dia. Miss Jinjing mendefinisikan orang kaya adalah mereka yang tidak lagi bisa menghitung duit atau kekayaannya dan tidak mempedulikan kekayaannya.

"Nah, di tulisan itu BBC menceritakan para tamu yang datang di acara tersebut menyewa tas Hermes lalu membawa pulang dengan sumringah uang hasil kocokan arisan. Sangat aneh, katanya, kaya tapi masih kemaruk uang," kritik Amel.

Wanita yang sudah menerbitkan tujuh buku: Miss Jinjing Belanja sampai Mati, Miss Jinjing Rumpi sampai Pagi, Miss Jinjing Pantang Mati Gaya, Miss Jinjing Belanja sampai Mati di China, Miss Jinjing Siapa Takut Cerai? Takut Banget!, Miss Jinjing belanja Sampai Mati di Tokyo, serta Miss Jinjing Girl’s Guide ini menjelaskan banyak sosialita yang bangga saat menenteng tas Hermes sewaan, mengendarai mobil mewah sewaan, mengenakan pakaian perancang ternama secara sewa, lalu berdandan ke salon terkenal dengan program voucher dan gratisan serta diundang makan dan berkunjung gratis di sebuah kafe atau restoran ternama.

"Yang begini namanya sosialita ala social climber. Semuanya serba numpang, nyewa. Aduh, kasihan, deh. Katanya orang kaya, tetapi segalanya serba sewa. Yang begini yang banyak dan paling eksis unjuk diri alias banci tampil di media sosial dan media gaya hidup," ujarnya. Oleh karena itu, Miss Jinjing merasa tidak setuju dengan tulisan BBC yang menggunakan parameter OKB seperti itu. "Saya enggak sependapat kalau menyamaratakan orang kaya dengan gaya seperti yang ditulis BBC," kata Miss Jinjing.

Dari pengalamannya mendirikan komunitas Miss Jinjing yang beranggotakan orang-orang kaya baru, ia mengetahui bagaimana gaya hidup mereka. "Mereka adalah orang kaya yang memiliki bisnis dan tinggal di daerah-daerah pedalaman, tetapi cash oriented. Kemana-mana mereka belanja atau bayar tunai untuk membeli tas Louis Vuitton, Hermes, bahkan mobil mewah. Membayarnya dengan tunai, bukan pakai kartu kredit seperti kebiasaan para sosialita yang diulas BBC," kata Miss Jinjing.

Ia menceritakan para orang kaya baru dari daerah di pedalaman Indonesia ini ketika ikut tur dan belanja ke beberapa negara tanpa ragu-ragu membawa dan mengeluarkan uang dolar tunai untuk transaksi pembayaran. "Menariknya, mereka bukan banci tampil dan enggak suka mempublikasikan diri. Bahkan, ketika mengincar atau menginginkan sebuah barang branded, mereka minta tolong saya yang membelikan dengan pembayaran tunai," ujar dia.

Miss Jinjing ini menegaskan bila melihat dan mengamati penampilan para OKB ini, mereka terlihat sangat biasa bahkan terkesan culun. "Tetapi jangan khawatir duitnya enggak berseri atau kekayaannya enggak culun," kata Miss Jinjing sambil tergelak.

No comments:

Post a Comment