Tuesday, September 11, 2012

Sukhoi Berharap Negosiasi Pembelian Pesawat Superjet 100 Segera Disepakati

Perusahaan pembuat pesawat terbang Rusia Sukhoi Company berharap negosiasi pembelian pesawat angkut sipil Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) dapat mencapai kesepakatan setelah tragedi kecelakaan di Gunung Salak, Bogor pada Mei lalu.

Konselor Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Sergey Tolchenov, Selasa, mengatakan negaranya menginginkan armada pesawat angkut sipil buatan Sukhoi Company dapat memenuhi tuntutan pasar penerbangan komersial di Indonesia.

"Kami masih mencari kemungkinan adanya kerangka kerja sama dengan sejumlah maskapai penerbangan di Indonesia untuk memasarkan Sukhoi Superjet 100," kata Sergey di kantor Kedubes Rusia di Jakarta, Selasa.

Meskipun proses penyelidikan mengenai penyebab jatuhnya pesawat SSJ-100 di Gunung Salak, Bogor, belum sepenuhnya selesai, ia mengatakan insiden tersebut diharapkan tidak menjadi hambatan bagi rencana kerja sama antara perusahaan Rusia dan Indonesia.

Perusahaan penerbangan sipil Sukhoi saat ini sedang dalam proses untuk mendapatkan sertifikat penerbangan sipil setelah tragedi tersebut, dan diharapkan pada akhir tahun proses sertifikasi itu selesai.

"Semoga pada akhir tahun 2012, sertifikasi Sukhoi Superjet 100 sudah dikeluarkan, sehingga Sukhoi Company dapat melanjutkan negosiasi pembelian armada tersebut dengan maskapai Indonesia yang tertarik membelinya," tambahnya.

Sukhoi Company begitu ingin memasarkan SSJ-100 ke Indonesia karena menurut Sergey bisnis penerbangan sipil dapat menjadi salah satu sektor prospektif bagi kedua negara.

Pada 3 Mei, pesawat SSJ-100, yang ditumpangi puluhan perwakilan perusahaan maskapai penerbangan Indonesia dan sejumlah jurnalis, mengalami kecelakaan di Gunung Salak.

Pesawat yang rencananya akan dibeli oleh PT Sky Aviation itu sedang melakukan demo penerbangan ke arah selatan Pulau Jawa selama 50 menit. Sayangnya, sesaat setelah lepas landas dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, petugas pengatur lalu lintas udara (ATC) kehilangan kontak setelah pilot Aleksandr Yablontsev meminta ijin untuk turun dari ketinggian 3.000 meter ke 1.800 meter.

Seluruh penumpang dan awak pesawat, yang berjumlah 45 orang WNI dan warga negara Rusia, tidak ada yang selamat, sementara tim komisi gabungan hingga saat ini masih melakukan penyelidikan terkait penyebab jatuhnya pesawat angkut sipil pertama milik Rusia itu. 

No comments:

Post a Comment

Post a Comment