Thursday, April 7, 2011

Industri Kayu Hutan Tanaman Prospektif Untuk Digarap

Pembatasan penebangan kayu alam di tengah permintaan yang terus meningkat membuat industri kayu berbasis hutan tanaman semakin prospektif. Bank Indonesia perlu mendorong perbankan menggenjot penyaluran kredit modal kerja bagi industri kayu berbasis hutan tanaman.

Demikian disampaikan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan seusai meresmikan hutan kota Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) di Jakarta, Kamis (7/4). Hadir dalam cara itu Deputi Gubernur Bank Indonesia Ardayadi Mitro Atmojo, Direktur Jenderal Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial Kemhut Harry Santoso, dan Direktur Utama LPPI Subarjo Joyosumarto.

”Industri kayu berbasis hutan tanaman bukan sunset industry. Tren global, yang menuntut produk kayu lestari, terjawab dengan industri berbasis hutan tanaman sehingga sektor ini layak mendapat dukungan modal kerja dari perbankan karena Indonesia memang punya keunggulan komparatif di sini,” ujarnya.

Pulau Jawa menjadi contoh sukses pertumbuhan industri kayu berbasis hutan tanaman. Berkat budaya menanam yang tinggi, berbagai jenis pohon bernilai ekonomi, seperti sengon dan jabon, mengisi lahan masyarakat.

Industri kayu lapis berbasis hutan tanaman tumbuh subur di Pulau Jawa. Harga kayu sengon atau jabon pun terus naik dan kini mencapai Rp 600.000-Rp 800.000 per meter kubik.

Hutan rakyat memiliki stok tegakan kayu sebanyak 125 juta meter kubik dengan potensi siap panen sedikitnya 20 juta meter kubik per tahun. Volume ini memasok 47 persen kebutuhan kayu nasional yang mencapai 43 juta meter kubik per tahun.

Kini ada sedikitnya 107 unit industri pengolahan kayu rakyat berkapasitas produksi 6,6 juta meter kubik per tahun.

Ardayadi menyambut baik permintaan Menhut. Perbankan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam bekerja.

”Kita memang harus fokus pada industri berbasis sumber daya alam, seperti hutan tanaman dan kelapa sawit. Kami akan mendorong perbankan untuk lebih banyak memberikan kredit di situ karena ada kekuatan komparatif,” ujarnya.

No comments:

Post a Comment