Tuesday, April 19, 2011

Pasar Ritel Masih Bergairah, Pengembang Manfaatkan Kemacetan Lalu Lintas Sebagai Peluang Bisnis

Hal itu terungkap dalam paparan hasil riset oleh dua konsultan properti, Procon dan Colliers International, secara terpisah di Jakarta, Selasa (19/4).

Head of Research Procon Herully Suherman mengatakan, penyerapan pasar ritel di Jakarta kuartal I-2011 mencapai 107.000 meter persegi atau naik 18,9 persen. Tingkat hunian naik dari 81 persen menjadi 84 persen.

Sementara itu, harga rata-rata sewa ritel naik 4,4 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Pengembangan bisnis ritel tahun ini diprediksi terus tumbuh dengan dominasi peritel di bidang mode serta makanan minuman.

”Kepadatan traffic dan pola perilaku pengunjung di pusat perbelanjaan menjadi acuan bagi peritel dalam melakukan ekspansi,” ujar Herully.

Tren meningkatnya pasar ritel berlangsung seiring penguatan sektor properti di semua lini selama kuartal I-2011 mencakup sektor perkantoran, pusat perbelanjaan, kondominium, dan kawasan industri.

Konsep bergeser

Meskipun bisnis ritel bertumbuh, ujar Herully, peritel modern cenderung tetap berhati-hati untuk memilih pusat perbelanjaan. Pemilihan ruang ritel memperhitungkan kepadatan lalu lintas pengunjung, konsep pusat perbelanjaan, harga sewa, insentif yang ditawarkan pengembang, serta fleksibilitas pembayaran.

Semakin terbatasnya lahan di Jakarta dan sekitarnya mendorong masyarakat mencari hiburan di pusat perbelanjaan. Maka, konsep pusat perbelanjaan terus bergeser dengan memadukan tempat belanja, bisnis, hiburan, pusat kecantikan, dan gaya hidup sesuai kebutuhan pengunjung.

Mal dengan konsep yang terpadu dan dinamis akan menggiring lebih banyak peritel serta berpeluang menaikkan harga. ”Sebaliknya, mal dengan konsep yang tidak berkembang akan sulit menaikkan harga,” ujarnya.

Associate Director Retail Services Colliers International Steve Sudijanto mengemukakan, keterbatasan lahan mendorong pengembang pusat perbelanjaan di Jakarta menerapkan konsep bangunan campuran (mixed-use), yakni memadukan mal, perkantoran, dan apartemen.

”Konsep mixed-use terutama berlangsung di kawasan pusat bisnis Jakarta,” ujar Steve.

Keterbatasan lahan di Jakarta juga memicu penambahan mal di pinggiran dan luar Jakarta. Pasokan ruang ritel di Jakarta pada kuartal I 2011 seluas 2.663 m, sedangkan total pasokan baru di Jabodetabek seluas 14.030 m.

Suplai ritel di Jabodetabek masih akan didominasi Tangerang. Hingga tahun 2012, proyek baru pusat perbelanjaan di Tangerang akan mencapai 155.000 m. Adapun hingga tahun 2013, penambahan ruang ritel di Jakarta diprediksi 439.355 m

No comments:

Post a Comment