Friday, May 6, 2016

Indonesia Peringkat Ketujuh Indeks Kapitalisme Kroni 2016

Indonesia menempati urutan ketujuh dalam indeks Kapitalisme Kroni 2016 versi The Economist, naik satu peringkat dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan lonjakan kekayaan para miliarder yang mempunyai hubungan erat dengan penguasa.

Posisi Indonesia pada tahun ini berada di atas Turki (8), India (9), Taiwan (10), China (11), dan Thailand (12). Sementara di atasnya ada Rusia (1), Malaysia (2), Filipina (3), Singapura (4), Ukraina (5), dan Meksiko (6).

Mengutip The Economist, indeks ini dirancang sejak dua tahun lalu untuk menunjukkan apakah dunia sedang mengalami era baru "baron-baron perampok", seperti yang terjadi di zaman emas pada abad 19 di Amerika Serikat.  Kapitalisme Kroni dapat dimaknai sebagai sistem kapitalisme suatu negara yang dibangun berdasarkan kedekatan para pengusaha dengan penguasa.  "Indeks kapitalisme kroni adalah gagasan bahwa beberapa industri cenderung rente," tulis The Economist seperti dikutip dari situsnya.

Praktik kartel, monopoli dan lobi-lobi bisnis dinilai cara-cara umum yang sering dilakukan pengusaha yang melibatkan aparat negara. Sektor bisnis yang rentan terjadinya kartel antara lain di sektor telekomunikasi, industri berbasis sumber daya alam, real estate, konstruksi dan pertahanan.

Lebih dari dua dekade, jumlah kekayaan para kroni meningkat signifikan sebagai bagian dari kekayaan para miliarder. Namun, saat ini era keemasan kapitalisme kroni mulai meredup menyusul kejatuhan kerjaan bisnis sejumlah taipan dan terungkapnya berbagai skandal di banyak negara. Terlebih baru-baru ini bocoran dokumen Panama Papers mengejutkan para taipan pemilik perusahaan cangkang di seluruh dunia.

Di London, taipan India Vijay Mallya tengah berjuang agar dideportasi kembali ke negara asalnya setelah kerajaan bisnisnya runtuh.

Lalu di Sao Paulo, seorang eksekutif di perusahaan konstruksi terbesar di Brasil, Odebrecht, ditangkap dan diterbangkan ke pengadilan di kota Curitiba, Brasil selatan karena diduga mengendalikan korupsi di perusahaan minyak negara Petrobras. Terbongkarnya skandal korupsi yang melibatkan politisi dari beberapa partai ini turut menyudutkan Presiden Brasil, Dilma Rousseff, yang tengah menghadapi impeachment.

Di Malaysia, lembaga investasi milik negara, 1 Malaysia Development Berhad (1MDB) menjadi subjek penyelidikan kasus suap yang dituduhkan kepada Perdana Menteri Najib Razak.  Sementara di China, bos dari perusahaan-perusahaan swasta dan BUMN saat ini secara rutin diinterogasi sebagai bagian dari aksi bersih-bersih Xi Jinping

Berdasarkan update data yang dilakukan oleh The Economist, terjadi penyusutan kekayaan para miliarder kroni di dunia sekitar 16 persen sejak 2014 menjadi total US$1,75 triliun.

Dalam menyusun indeks ini, The Economist bekerja sama dengan Morgan Stanley Investment Management dan Pusat Penelitian Kebijakan New Delhi. Adapun data yang digunakan antara lain bersumber dari peringkat miliarder dunia yang dirilis oleh Forbes untuk kemudian disisir ulang guna menentukan adanya indikasi kroni atau tidak. Selain itu, The Economist juga membandingkan total kekayaan kroni terhadap PDB negara masing-masing

No comments:

Post a Comment