Tuesday, December 30, 2014

22 Lembaga Terpilih jadi Penjual SBSN Ritel 2015

Sebanyak 22 lembaga keuangan lulus seleksi pengadaan agen penjual dalam rangka penerbitan dan penjualan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Ritel di Pasar Perdana Dalam Negeri Tahun 2015.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan dalam keterangannya, Senin (29/12/2014) menyebutkan 22 lembaga keuangan itu terdiri dari bank dan perusahaan sekuritas. Calon agen penjual Sukuk Negara atau SBSN Ritel 2015 berupa bank terdiri dari Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Central Asia, Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri, Standard Chartered Bank, Bank Tabungan Negara.

Selain itu, Bank OCBC NISP, Bank ANZ Indonesia, Bank Permata, Bank BRISyariah, The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC), CIMB Niaga, Bank Internasional Indonesia, Bank Mega dan Bank Danamon Indonesia. Sementara itu, perusahaan sekuritas terdiri dari Bahana Securities, Danareksa Sekuritas, Trimegah Securities, Sucorinvest Central Gani dan Reliance Securities.

Mereka dinyatakan lulus setelah melalui proses seleksi yang dilaksanakan oleh Panitia Pengadaan pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang mulai dari pengumuman seleksi, pendaftaran dan pengambilan dokumen seleksi, penjelasan seleksi, pengembalian proposal teknis, evaluasi proposal teknis serta beauty contest dan negosiasi biaya.

PT Mandiri Sekuritas mulai menawarkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) alias sukuk global yang akan terbit semester II tahun ini. Co-manager penerbitan sukuk global ini telah menyambangi investor di berbagai kota besar dunia seperti Kuala Lumpur, Hong Kong, London dan beberapa kota di Timur Tengah.

Road show itu telah dilakukan sejak 18 Agustus lalu hingga 25 Agustus lalu. Direktur Utama Mandiri Sekuritas Abiprayadi Riyanto mengatakan calon investor yang diundang diantaranya fund manager, bank, perusahaan aset manajemen dan dana pensiun. Head of Debt Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menambahkan minat investor asing pada sukuk global cukup tinggi. “Terlihat dari banyaknya investor yang datang,” ujar Handy akhir pekan lalu.

Dalam roadshow ini, Mandiri Sekuritas memaparkan kondisi makro ekonomi Indonesia sehingga investor bisa mengetahui secara garis besar perkembangan ekonomi domestik. Dia mengaku belum ada permintaan investor terkait tenor maupun kupon sukuk global tersebut. “Ini namanya non-deal roadshow. Sehingga belum ada perbincangan ke arah situ,” tambah Handy.

Fitch Ratings telah menyematkan peringkat BBB- untuk instrumen ini. Peringkat tersebut seiring prospek jangka panjang Indonesia dengan outlook stabil. Fitch menyebut, peringkat tersebut mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan volatilitas lebih rendah dibandingkan negara lain dalam satu peers.

Sekadar gambaran, tahun lalu, pemerintah menerbitkan sukuk global senilai 1,5 miliar dollar AS bertenor 5,5 tahun. Surat utang yang akan jatuh tempo pada Maret 2019 ini menetapkan imbal hasil 6,125 persen. Dibandingkan empat penerbitan sebelumnya, yield tahun lalu termasuk tertinggi kedua. Yield paling tinggi diberikan pada sukuk global yang pertama kali terbit, April 2009, yaitu sebesar 8,8 persen. Sejumlah analis memperkirakan, kupon sukuk global tahun ini berkisar 3,7 persen hingga 5,5 persen.

No comments:

Post a Comment