Sunday, March 27, 2011

Reksadana Adalah Pilihan Investasi Tahun 2011

Perkiraan itu dipaparkan Agus B Yanuar, President Director Samuel Aset Manajemen, dalam acara Independent Financial Planner Expo di Jakarta hari Sabtu (26/3).

Agus memaparkan, dalam satu tahun terakhir, nilai reksa dana campuran tumbuh sekitar 22 persen. Pertumbuhan itu masih di bawah kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan sebesar 46 persen, tetapi di atas emas yang sebesar 22 persen. ”Keunggulan reksa dana adalah nilainya yang variatif,” ujar Agus.

Pemahaman masyarakat mengenai investasi terus berkembang. Produk investasi juga kian diminati masyarakat, seiring kesadaran untuk mengelola dana dengan hasil melampaui inflasi.

Saat ini, kata Agus, produk investasi yang terus berkembang adalah saham, reksa dana, dan emas. ”Kelas menengah yang terus tumbuh juga membuat ragam investasi berkembang. Mereka dalam berinvestasi berpikir, akan beli apa, yang mengalahkan inflasi,” ujar Agus.

Reksa dana sebagai salah satu pilihan investasi dinilai berpotensi berkembang. Dengan dana pihak ketiga sekitar Rp 2.300 triliun, besaran reksa dana di Indonesia baru Rp 140 triliun.

Porsi ini cukup kecil dibandingkan, misalnya, Malaysia, yang pasar reksa dananya sudah mencapai 40 persen dana pihak ketiga. ”Karena itu, menurut saya, reksa dana di Indonesia masih mungkin tumbuh menjadi Rp 240 triliun karena peralihan masyarakat dari produk perbankan ke reksa dana,” kata Agus.

Indria, seorang peserta ekspo hari Sabtu lalu, mengatakan, ia sudah membeli reksa dana sekitar setahun lalu. ”Saya belinya sedikit saja dulu karena tidak mungkin semua uang untuk beli reksa dana,” katanya.

Novita, petugas pemasaran sebuah bank yang hadir di dalam ekspo menuturkan, masih banyak masyarakat yang tertarik menjadi nasabah tabungan perbankan, khususnya tabungan berjangka waktu tertentu.

Emas dan saham

Budi Raharjo, perencana keuangan dari ONE Consulting, dalam ekspo menegaskan, emas merupakan produk investasi yang tumbuh dan memberikan imbal hasil terus meningkat dalam lima tahun ini. Dalam kondisi ketidakpastian, nilai emas akan terus meningkat.

Namun, Budi mengingatkan, agar jangan berinvestasi berlebihan pada emas. Terutama produk turunannya, membutuhkan pengamatan yang lebih jeli.

”Jangan spekulatif. Membeli emas dengan harapan akan segera naik sudah disebut spekulatif,” kata Budi.

Soal saham, Agus B Yanuar mengingatkan kondisi dunia saat ini yang terpengaruh krisis kredit di Eropa, krisis politik di Timur Tengah, dan bencana di Jepang. Jumlah penduduk dunia yang terus membengkak turut menyumbangkan kebutuhan pangan dan energi yang luar biasa.

Oleh karena itu, saham yang akan menarik tahun ini adalah yang berkaitan dengan energi dan sumber daya alam.

No comments:

Post a Comment