Thursday, July 30, 2015

Nilai Tukar Rupiah Jadi Pembenaran PLN Untuk Rugi Rp 10,53 Triliun

PT PLN (Persero) menelan kerugian sebesar Rp 10,53 triliun sepanjang semester I 2015 dibandingkan dengan perolehan laba bersih Rp 14,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Lemahnya nilai tukar rupiah saat ini dituding manajemen sebagai penyebab kerugian tersebut. “Penurunan laba bersih ini terutama karena adanya rugi selisih kurs yaitu dari laba kurs Rp 4,4 trilliun pada semester I 2014 menjadi rugi selisih kurs Rp 16,9 trilliun pada semester I 2015,” ujar Direktur Utama PLN Sofyan Basir dikutip dari keterangan pers, Rabu (29/7).

Mantan bankir utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk tersebut menjelaskan dengan diberlakukannya Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) 8 mulai 2012, maka sebagian besar transaksi tenaga listrik antara PLN dengan pengembang listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) dicatat seperti transaksi sewa guna usaha.

Kondisi ini menurut Sofyan berdampak pada meningkatnya secara signifikan liabilitas atau utang valuta asing (valas) PLN. Oleh karena itu, torehan laba atau rugi PLN sangat berfluktuasi dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap valas. “Untuk mengurangi beban akibat rupiah terdepresiasi terhadap mata uang asing terutama dolar Amerika Serikat (AS), pada April 2015 PLN telah melakukan transaksi lindung nilai atas sebagian kewajiban dan utang usaha valas yang dimiliki,” kata Sofyan.

Rugi kurs menjadi satu-satunya katalis negatif kinerja PLN sepanjang paruh pertama tahun ini. Pasalnya dari sisi pendapatan penjualan tenaga listrik semester I 2015 mengalami kenaikan sebesar Rp 15,5 triliun. Atau bertambah 18,1 persen menjadi Rp 101,3 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 85,7 triliun.

Pertumbuhan pendapatan ini berasal dari kenaikan volume penjualan kWh menjadi sebesar 99,4 Terra Watt hour (TWh) atau naik 1,8 persen dibanding dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 97,6 TWh, serta adanya kenaikan harga jual rata-rata dari sebesar Rp 878,44 per KWh menjadi Rp 1.018,87 per KWh.

Jumlah pelanggan yang dilayani pada akhir semester I 2015 juga naik 6,82 persen menjadi 59,5 juta pelanggan dari periode yang sama tahun sebelumnya yaitu 55,7 juta pelanggan.  “Bertambahnya jumlah pelanggan ini juga mendorong kenaikan rasio elektrifikasi nasional yaitu dari 80,1 persen pada Juni 2014 menjadi 84,0 persen pada Juni 2015,” ujar Sofyan.

Meskipun volume penjualan meningkat, namun beban usaha perusahaan turun sebesar Rp 10,4 triliun atau 8,8 persen menjadi Rp 107,8 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 118,2 triliun.  Sofyan mengatakan penurunan ini terjadi karena program efisiensi yang terus dilakukan perusahaan antara lain melalui substitusi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dengan penggunaan batubara atau energi primer lain yang lebih murah, serta turunnya harga komoditas energi primer. 

Ia mencatat efisiensi terbesar terlihat dari berkurangnya biaya BBM yaitu sebesar Rp 19,4 triliun atau 50,5 persen sehingga pada semester I 2015 menjadi Rp 18,8 trilliun dari sebelumnya Rp 37,9 trilliun. Biaya pemakaian batubara naik sebesar Rp 2,1 triliun atau 10,2 persen sehingga menjadi Rp 22,4 triliun, dan biaya pemakaian gas naik dari Rp 22,7 trilliun menjadi Rp 23,2 trilliun.

“Kami akan terus melakukan efisiensi dan pengendalian terhadap pengeluaran untuk beban usaha, terutama dengan mengalihkan biaya energi primer dari BBM ke Non-BBM serta efisiensi biaya yang merupakan controllable cost bagi PLN,” kata Sofyan.

No comments:

Post a Comment