Thursday, July 23, 2015

Penyebab Harga Emas Anjlok Ke Level Terendah Sepanjang Sejarah

Lupakan saja prediksi lama soal harga emas yang bisa menembus US$ 2.000/troy ounce. Saat ini harga emas sedang masuk tren melemah. Harga emas dunia sudah anjlok lebih dari 40% sejak mencapai titik tertingginya pada 2011 lalu. Bahkan kini harga emas menuju ke US$ 1.000/troy ounce.

Dalam sepuluh hari berturut-turut, harga emas dunia sudah mengalami koreksi. Ini merupakan koreksi terpanjangnya sejak September 1996. Berikut ini tiga alasan harga emas terus turun:

  • Dolar AS Terlalu Perkasa
    Tingginya nilai tukar dolar AS terhadap mata uang dunia lainnya membuat harga pembelian emas makin memberatkan investor. Padahal seharusnya emas menjadi instrumen investasi safe haven saat dolar AS bergejolak. "Emas sudah terkena imbas dari penguatan dolar AS dalam dua pekan terakhir, seperti terhantam badai," kata Bob Alderman, Kepala Manajemen Aset dari Gold Bullion International. Dalam beberapa pekan ke depan, dolar AS diperkirakan masih akan menguat, terutama gara-gara isu naiknya suku bunga The Federal Reserve.
  • China, Iran, dan Yunani
    Tiga negara tersebut sedang menjadi fokus seluruh negara di dunia. Pasalnya, gejolak di tiga negara tersebut bisa mempengaruhi arah ekonomi dunia. Harga emas sempat anjlok US$ 40 per ounce, setelah China mengumumkan jumlah cadangan emasnya yang lebih sedikit ketimbang sebelumnya.  Ketegangan antara Eropa dan Timur Tengah juga memuncak setelah kesepakatan nuklir Irak. Harga minyak dunia yang turun menular ke harga emas. Sementara Yunani, setelah dapat dana bantuan berarti batal ditendang dari Eropa. Hal ini kembali mendorong dolar AS menguat, membuat emas bukan pilihan investasi terbaik.
  • Inflasi Rendah
    Ketika inflasi tinggi, emas akan menjadi instrumen investasi yang menggiurkan. Namun, tingkat inflasi AS dalam beberapa bulan terakhir ini selalu di bawah ekspektasi The Fed. "Selama lebih dari 5.000 tahun emas selalu menjadi bantalan ketika terjadi inflasi. Sekarang ini susah mengharapkan inflasi tinggi," kata George Gero, Direktur RBC Capital Markets.

Akankah Harga Emas Jatuh ke US$ 1.000?

Ini yang diperkirakan terjadi setelah The Fed menaikkan tingkat suku bunganya yang diprediksi akhir tahun ini. Sebab, naiknya bunga akan membuat dolar AS makin perkasa dan menekan harga emas. Terakhir kali emas diperdagangkan di bawah US$ 1.000 itu pada tahun 2009 tak lama setelah krisis finansial global terjadi. Tapi tak semua orang pesimistis, ada beberapa analis yang percaya harga emas bisa rebound.

Senin awal pekan ini, harga emas sempat jatuh 3%, atau penurunan harian terbesar sejak September 2013. Harga spot emas turun 0,8% ke US$ 1.092,4 per ounce, setelah sempat menyentuh level terendah dalam 5 tahun di US$ 1.086,9 per ounce.  Harga kontrak emas untuk pengiriman Agustus turun US$ 12 menjadi US$ 1.091,5 per ounce.

Analis Komoditi PT Millenium Penata Futures Suluh Adil Wicaksono menilai, kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan bagi investor yang memiliki portofolio emas. Penurunan tajam harga emas tersebut di luar ekspektasi para analis. "Sangat mengkhawatirkan untuk investor yang pegang emas. Ini di luar ekspektasi," katanya.

Suluh menjelaskan, penyebab utama penurunan harga emas ini akibat santernya isu kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed). Para analis menangkap sinyal Gubernur The Fed Janet Yellen bahwa suku bunga AS akan dinaikkan pada September 2015

Investor tentu mencari instrumen investasi yang lebih aman dan menguntungkan.  Penurunan tajam harga emas ini pernah terjadi di tahun 2011. Saat itu, kondisinya juga hampir sama, Yunani melakukan bailout. Bedanya, saat itu investor tidak lari meninggalkan emas, karena tidak ada isu naiknya suku bunga The Fed.

"2011 itu ketika Yunani bailout pertama kali, orang malah larinya ke emas, sekarang tidak karena mereka tidak mau ambil risiko pegang emas, jadi memilih dolar AS," sebut dia. Jika suku bunga AS jadi dinaikkan pada September 2015, tidak menutup kemungkinan orang-orang akan berburu dolar AS dan emas semakin ditinggalkan.

"Otomatis orang semakin giat mengoleksi dolar AS," katanya. Kemarin, Suluh menyebutkan, harga emas bergerak di kisaran US$ 1.102-1.109 per troy ounce dan telah menyentuh level support di tahun ini di angka US$ 1.105 per troy ounce. "Jika The Fed jadi naik September ini, ada potensi harga emas ke US$ 998 per troy ounce, ini support baru, angka psikologis baru," terang dia.

Namun demikian, Suluh melihat, masih ada potensi penguatan harga emas jika suku bunga AS tidak jadi dinaikkan tahun ini. Harga emas diperkirakan bisa naik ke level US$ 1.200 per troy ounce. "Bisa rebound di US$ 1.200 per troy ounce, itu paling mentok, best price tahun ini kalau The Fed nggak jadi naik," kata Suluh.

No comments:

Post a Comment