Wednesday, July 22, 2015

Utang Luar Negeri Indonesia Capai Rp 3.929 Triliun

Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2015 mencapai 5,9 persen secara tahunan (year on year/yoy). Itu lebih lambat dibandingkan pertumbuhan April 2015 sebesar 7,7 persen.

Dengan pertumbuhan tersebut, posisi ULN Indonesia pada akhir Mei 2015 tercatat sebesar US$ 302,3 miliar, terdiri dari: ULN sektor publik sebesar US$ 133,5 miliar (44,2 persen dari total ULN) dan ULN sektor swasta US$ 168,7 miliar (55,8 persen dari total ULN).

Perlambatan pertumbuhan ini dipengaruhi, baik oleh ULN sektor swasta maupun sektor publik. ULN sektor swasta tumbuh 10,2 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 13,2 persen (yoy).

"Hal ini terutama dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan kepemilikan surat utang swasta oleh asing," demikian keterangan resmi Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (22/7). Sementara itu, untuk ULN sektor publik tumbuh 1,0 persen (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 1,5 persen (yoy). Berdasarkan jangka waktu asal, posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN berjangka panjang (84,9 persen dari total ULN).

ULN berjangka panjang sendiri pada Mei 2015 mencapai US$ 256,7 miliar, tumbuh 7,5 persen (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan bulan April 2015 yang sebesar 8,4 persen (yoy). ULN berjangka panjang tersebut, terdiri dari ULN sektor publik sebesar US$ 130,3 miliar (97,6 persen dari total ULN sektor publik) dan ULN sektor swasta sebesar US$ 126,4 miliar (74,9 persen dari total ULN swasta). Sementara itu, ULN berjangka pendek mengalami kontraksi 2,3 persen (yoy).

ULN swasta pada akhir Mei 2015 terutama terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas & air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 75,9 persen.

BI juga mencatat pertumbuhan tahunan ULN sektor keuangan dan sektor listrik, gas & air bersih tercatat melambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya. Sedangkan pertumbuhan tahunan ULN sektor industri pengolahan mengalami peningkatan.

Di sisi lain, pertumbuhan tahunan ULN sektor pertambangan mengalami kontraksi yang lebih dalam dibanding kontraksi yang terjadi pada bulan sebelumnya. Bank Indonesia memandang perkembangan ULN Mei 2015 masih cukup sehat, namun perlu terus diwaspadai risikonya terhadap perekonomian.

"Ke depan, Bank Indonesia akan tetap memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta. Hal ini dimaksudkan agar ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi," ujar bank sentral.

No comments:

Post a Comment