Friday, July 10, 2015

Omzet Pedagang Kue Kering Anjlok Hingga 50 Persen Dibandingkan Tahun Lalu

Perlambatan ekonomi Indonesia saat ini juga dirasakan oleh pelaku usaha kecil. Bahkan momen Lebaran yang biasanya menjadi ajang meraup keuntungan besar justru tahun ini sebaliknya. Hal ini dialami para pedagang kue kering seperti nastar. Penjualan kue ramadhan kali ini jauh lebih sepi dibanding tahun-tahun sebelumnya, dampaknya omzet merosot 40%-50%.

Misalnya Budi, pedagang kue kering di Blok 5, Pasar Senen Jaya, Jakarta Pusat ini mengaku, pendapatan tahun ini merosot tajam.  "Jauh merosot, nggak tahu mungkin karena liburan sekolah, secara ekonomi kita juga lagi lesu, kemampuan membeli menurun karena kan apa-apa mahal, bahan pokok mahal," kata Budi disambangi.

Budi mengatakan, biasanya sebulan sebelum lebaran atau awal memasuki ramadhan, permintaan sudah tinggi. Tahun ini berbeda, hingga seminggu menjelang lebaran, kue yang terjual sangat sedikit. "Kira-kira 30-40% turunnya, dulu sebulan sebelum lebaran saja sudah ramai, sekarang masih sepi. Tahun kemarin kita itu sampai nggak sempet duduk, sekarang malah kebanyakan duduk," jelas dia.

Budi menyebutkan, dirinya menjual berbagai jenis kue kering Seperti nastar, kacang mete, bagelen, sumpia, pilus, kastengel, keripik singkong, dan lain-lain. Harga yang dibanderol pun bervariasi mulai dari Rp 90.000-Rp 100.000 untuk satu paket berisi 6 toples. Ada juga yang dijual kiloan seperti kacang mete, harganya Rp 150.000 per kg. Budi berharap, ekonomi Indonesia bisa segera pulih sehingga daya beli masyarakat naik dan pedagang bisa diuntungkan. "Harapan ekonomi lebih baik secara global, kalau kemampuan beli besar maka akan lebih banyak beli, kita juga dagangnya enak," imbuh Budi.

Hal yang sama dialami Heri Kuswanto, pedagang kue di Blok 1, Pasar Senen, Jakarta Pusat ini juga mengaku, penjualannya merosot tajam.  Namun, penurunan penjualan ini lantaran lokasi yang kurang strategis. Pasalnya, semenjak terjadi kebakaran di Pasar Senen beberapa waktu lalu, para pedagang kue kering yang semula di Blok 3 dipindahkan. Lokasi pemindahan pun disebar sehingga banyak pembeli yang tidak tahu persis lokasi penjual kue kering saat ini.

"Tahun-tahun kemarin lebih enak, di blok 3 lebih enak, setelah kebakaran, renovasi dipindah kesini blok 1 dan 2. Tahun ini kurang ramai, faktor pindah lokasi," katanya. Heri mengatakan, tahun lalu dirinya bisa menjual sedikitnya 1.000 paket kue nastar per hari untuk paketan dan bisa menjual 300 lusin kue nastar.

"Per hari tahun ini 120 lusin, paketan 400. Waktu di blok 3 itu bisa 800-1000 paket per hari, lusinan 300 lusin. Jauh merosotnya," keluh dia. Heri berharap, di tahun-tahun berikutnya, keberuntungan masih berpihak padanya. Penjualan diharapkan bisa lebih baik. "Tahun ke depan harapannya lebih baik, selain dari langganan atau pun pengunjung," kata Heri.

No comments:

Post a Comment