Sunday, April 12, 2015

Profile Bisnis Jenggala Pengrajin Keramik Beromzet Puluhan Miliar

Bagi penggemar keramik, nama Jenggala pasti sudah tidak asing lagi. Setelah malang melintang selama hampir 40 tahun, rencananya merek perabotan keramik asal Bali ini akan membuat suatu lini produk khusus yang harganya lebih terjangkau.

“Rencananya kami ingin bisa suplai ke semua orang. Jadi bukan hanya ke orang yang bisa afford saja tapi mudah-mudahan bisa bikin line yang khusus sehingga semua (orang) bisa punya Jenggala di rumahnya,” tutur Daria Ariani Waworuntu, salah satu pendiri Jenggala, ketika ditemui di gelaran Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2015 di Jakarta Convention Center, Kamis (9/4).

Caranya, lanjut wanita yang akrab disapa Ade ini, melalui lebih banyak kolaborasi dengan desainer lokal dan lebih mendiversifikasi produk perabotan rumah tangga, tidak hanya dari keramik tapi juga kayu dan berbagai material lain. Nama besar Jenggala diharapkan dapat membantu dalam pemasaran produk yang juga ramah lingkungan.

Ade bersama ayahnya, Wija Waworuntu serta Brent Hesselyn, seorang desainer keramik asal Selandia Baru mendirikan Jenggala sejak 1976 di Sanur, Bali. Awalnya, Jenggala hanya berupa gerai keramik kecil yang memproduksi perabotan keramik untuk hotel yang didirikan Wija.

Saat ini reputasi dan nama besar Jenggala sudah terkenal di mata pecinta keramik. Desain elegan Jenggala dipadukan warna-wana tropis khas Indonesia menarik hati tidak hanya peminat lokal tetapi juga internasional. Terbukti dalam gelaran Inacraft tahun ini, gerai Jenggala ramai dipadati pengunjung yang mayoritas berasal dari Jepang.

Koleksi keramik Jenggala mulai dari peralatan makan, seperti mangkuk, piring, gelas, dan poci, sampai hiasan rumah tangga seperti vas dan guci keramik telah melanglang buana hingga ke pasar Jepang, Singapura, Amerika Serikat, Eropa.

“Kami memiliki pasar di Jepang yang bagus soalnya kebudayaan keramik di Jepang memang kuat,” tutur wanita ramah keturunan Inggris ini.

Selain itu, perabotan keramik Jenggala telah banyak menghiasi berbagai hotel bintang lima dan restoran kelas atas di Tanah Air, di antaranya Hotel Grand Hyatt Bali, Hotel Bulgari Bali, dan Hotel Alila Bali.

Kapasitas produksi yang terbatas diakui Ade sebagai kendala dalam memenuhi permintaan. Selanjutnya, setelah memiliki gerai workshop Jimbaran, Bali dan gerai retail di Sanur, Bali dan Kemang, Jakarta, Ade berencana untuk membuka workshop di Bandung, Jawa Barat.

Nama Besar Beromzet Besar
“Kalau kita bisa berkolaborasi dengan pengrajin keramik di sana (Bandung) itu bagus. Kami akan bikin satu rumah keramik di situ,” ujar Ade. Sebagai informasi, setiap bulan Jenggala mampu memproduksi 20 ribu hingga 40 ribu unit aneka jenis keramik yang dipasarkan sebagian untuk ekspor. Omzetnya sendiri ada di kisaran US$ 2 juta–US$ 4 juta per tahun dengan komponen biaya sekitar 75 persen. Tahun lalu omzet penjualan Jenggala menembus angka Rp 32 miliar.

Tahun ini, Ade berharap penjualan Jenggala dapat tumbuh paling tidak 10 persen. Hal itu didukung oleh adanya pemasaran secara online dengan produk yang sudah berlabel Standar Nasional Indonesia (SNI) dan bersertifikat International Organization for Standardization (ISO).

Harga jual perabotan keramik Jenggala memang tergolong tinggi bagi orang Indonesia kebanyakan. Harga produknya berkisar antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah per unitnya. Tingginya harga tersebut memang beralasan, pasalnya hampir 70 hingga 75 persen dari bahan baku keramik masih diimpor dari luar, antara lain dari India, Tiongkok, Thailand dan Australia. Oleh karena itu, melemahnya rupiah terhadap dolar beberapa waktu lalu cukup membebani usaha ini.

“(Depresiasi rupiah) sudah pasti ada pengaruh karena kami kan tidak jual dalam bentuk dolar sementara pasokan bahan baku masih ada yang impor,” ujarnya.

Kendati demikian, Ade menuturkan, ahli keramik di perusahaannya terus berusaha untuk mengembangkan teknologi yang memungkinkan untuk meminimalisir kebutuhan bahan baku impor tersebut.

No comments:

Post a Comment