Wednesday, February 16, 2011

IPO Garuda Yang Gagal Kini Jadi Bahan Kajian

Mustafa menyampaikan hal tersebut di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (16/2). Menurut dia, sejumlah pertimbangan yang mendorong Kementerian BUMN melakukan evaluasi pasca-penawaran saham perdana (IPO) Garuda Indonesia antara lain mengantisipasi tidak maksimalnya penyerapan saham dalam IPO perusahaan BUMN berikutnya dan mengakomodasi usulan Menteri Keuangan.

”Sejumlah materi evaluasi terkait soal strategi teknis pelaksanaan IPO dan mengkaji keterlibatan ataupun profil para perusahaan penjamin emisi atau underwriter,” kata Mustafa.

Dengan demikian, harapannya para penjamin emisi bisa bekerja lebih cermat dalam memetakan kondisi pasar dan menganalisis perhitungan teknis. Hal ini penting untuk meminimalisasi potensi kerugian yang ditanggung penjamin emisi akibat tidak maksimalnya penyerapan saham.

Secara terpisah, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan, penentuan waktu yang tepat dalam IPO memang tidak mudah dan tidak dapat diprediksi.

Secara retorika, hal itu mudah diucapkan, termasuk penilaian mengenai mahal tidaknya harga saham IPO. Namun, soal waktu pelaksanaan IPO itu sendiri tidak ada patokan pastinya.

”Selalu ada volatilitas di pasar sekunder sehingga kita tidak bisa menentukan waktu yang pasti (untuk IPO),” kata Ito.

Hingga penutupan perdagangan pada Rabu, saham Garuda masih tertekan dengan melemah Rp 30 ke Rp 560 setelah Senin lalu ditutup pada level Rp 590 atau turun Rp 160 dari harga perdana. Volume perdagangan kemarin mencapai 171.634 saham senilai Rp 49,3 miliar dengan 2.020 kali transaksi.

Meskipun pasar sedang terlihat tidak bersahabat saat-saat ini, Ito tetap optimistis tahun ini merupakan waktu terbaik untuk mendapatkan akses permodalan melalui pasar modal sebab kapitalisasi BEI saat ini hanya sedikit tertinggal dibandingkan dengan bursa Singapura.

Sepanjang tahun lalu BEI mencatat pertumbuhan 46 persen yang merupakan tertinggi dan mengalahkan bursa-bursa besar di dunia. Sebagai perbandingan, indeks Straits Times di Singapura hanya mencatat kenaikan sekitar 10,71 persen. Total nilai transaksi saham di BEI hingga 29 Desember 2010 mencapai Rp 1.249,27 triliun.

Ito pun berharap, perusahaan swasta ataupun BUMN dapat memanfaatkan momentum tersebut dengan mencatatkan sahamnya di bursa efek pada tahun ini.

No comments:

Post a Comment