Saturday, February 5, 2011

Krisis Politik Mesir Mempengaruhi Harga Pokok Tekstil Indonesia

Krisis politik di Mesir turut mempengaruhi harga kapas sebagai bahan baku tekstil. Sebab meskipun bukan termasuk produsen utama, kapas Mesir dikenal berkualitas bagus dan memiliki nilai jual tinggi.

Liliek Setiawan, pengusaha tekstil di Surakarta, mengatakan krisis politik di Negeri Piramida turut mendorong harga kapas ke level paling tinggi. ”Sekarang sudah 1,54 dolar per LBS,” ujarnya kepada Tempo, Sabtu (5/2).

Kenaikan harga tidak semata dipengaruhi krisis Mesir. Namun dengan gagalnya panen kapas di negara-negara tradisional penghasil kapas, seperti Australia akibat diterjang banjir, membuat harga kapas dunia ikut terkerek saat krisis Mesir.

”Biasanya menjelang Imlek dan saat Imlek harga turun sekitar 10 persen karena tekstil Cina tak berproduksi dan pasokan banyak. Tapi karena pasokan terbatas, termasuk dari Mesir, sekarang harga cenderung stabil,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah Dewanto Kusumo membenarkan biasanya harga kapas saat Imlek turun. ”Baru kali ini harga kapas stabil. Padahal banyak tekstil Cina yang tidak produksi,” ucapnya.

Tidak turunnya harga kemungkinan disebabkan pasokan terbatas saat terjadi krisis politik di Mesir. Meski bukan produsen utama, Dewanto menyebut cukup banyak pengusaha tekstil yang mencari kapas Mesir.

”Sebab kualitasnya tergolong bagus,” ujar dia. Kapas asal Mesir biasanya lebih berisi dan lebih tahan lama jika dibuat benang. Sehingga tak heran jika pakaian yang benangnya berasal dari kapas Mesir harganya pasti lebih mahal.

”Kapas Mesir biasanya digunakan untuk produk-produk khusus yang harganya cukup tinggi. Dan dengan krisis politik Mesir membuat pengusaha tekstil kesulitan mengimpor kapas Mesir,” pungkasnya.

No comments:

Post a Comment